Open Journal System of STKIP Muhammadiyah Barru
Not a member yet
255 research outputs found
Sort by
REDUKSI KEHAMPAAN ANAK FATHERLESS MELALUI PERAN KONSELOR
Tulisan ini dilatarbelakangi oleh kesadaran akan pentingnya pendampingan orang tua terhadap anak. Namun bagi anak yatim atau piatu yang diberada di panti asuhan, hal tersebut tidak dapat lagi diterima dari kedua orang tua kandungnya. Kondisi yang membuat seorang anak menjadi yatim atau piatu kadangkala menjadikan seorang anak yatim atau piatu sulit menerima kondisi tersebut bahkan menimbulkan krisis karena adanya kehampaan dalam diri seorang anak. Cukup banyak anak-anak yatim piatu menjalani kehidupan dan dibesarkan di panti asuhan dengan berbagai alasan yang berbeda-beda. Ada beberapa hal positif dari panti asuhan, antara lain panti asuhan merupakan tempat bernaung bagi anak-anak yang terlantar di mana mereka mendapatkan bimbingan dalam bidang pendidikan agama dan pekerjaan maupun dalam pembentukan karakter dan penyesuaian diri di masyarakat, dan merupakan suatu lingkungan theurapeutic bagi anak-anak serta remaja yang membutuhkan. Sebagai pendamping, seorang konselor di panti asuhan dituntut untuk memberikan pendampingan kepada seorang anak untuk menghindari krisis yang disebabkan oleh kehampaan dalam diri seorang anak karena kehilangan figur orang tua dalam kehidupannya. Oleh karena itu, penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan bagaimana seorang konselor di panti asuhan mereduksi kehampaan dalam diri seorang anak yatim di Panti Asuhan Kristen Tangmentoe, Toraja Utara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif melalui penelitian lapangan dan studi kepustakaan sehingga data penelitian didapatkan melalui wawancara dan melalui sumber tertulis. Hasilnya memperlihatkan bahwa fatherless di Panti Asuhan Kristen Tangmentoe, Toraja Utara banyak dirasakan oleh anak yatim atau piatu. Namun, pihak panti asuhan belum memberikan pelayanan konseling secara maksimal sehingga anak yang mengalami fatherless tidak dapat keluar dari masalahnya dan hanya membagikan cerita kepada teman terdekatnya. Karena itu, pihak panti asuhan diharapkan memprogramkan layanan konseling kepada anak yang mengalami fatherless sehingga anak dituntun untuk keluar dari masalahnya dan bertumbuh ke arah yang lebih baik
STIGMA NEGATIF PESERTA DIDIK TERHADAP GURU BIMBINGAN KONSELING
Bimbingan Konseling sendiri memiliki makna suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh ahli (konselor atau guru BK) kepada klien (konseli atau peserta didik) yang bertujuam membantu menyelesaikan dan mencari jalan keluar suatu permasalahan yang dialami oleh konseli baik masalah pribadi, karir, maupun sosial. Tujuan umum bimbingan dan konseling yaitu membantu individu mengembangkan diri secara optimal sesuai potensi didalam dirinya. Peran guru BK yang sesungguhnya ialah menjadi sahabat peserta didik. Sahabat yang dapat diartikan teman bercerita keluh kesah dari peserta didik atau konseli yang memiliki beban permasalahan dalam hidupnya. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi lapangan dengan subjek dan objek penelitian di MA Abadiyah Kuryokalangan Gabus, Pati. Hasil penelitian menyatakan peserta didik mayoritas memiliki stigma negatif terhadap guru BK dikarenakan kurangnya sosialiasi tentang peran guru BK yang sesungguhnya. 
STRATEGI REGULASI EMOSI ORANG DEWASA AWAL KORBAN GHOSTING IMPLIKASINYA TERHADAP LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengalaman ghosting dan regulasi emosi pada individu dewasa awal. Ghosting adalah penghentian komunikasi secara sepihak tanpa penjelasan, merupakan fenomena umum di kalangan dewasa awal. Responden penelitian berjumlah 30 individu dengan rentang usia 19-22 tahun yang mengalami atau pernah mengalami ghosting. Metode penelitian mixed method digunakan untuk mengeksplorasi pengalaman ghosting dan regulasi emosi. Hasil menunjukkan mayoritas individu mengalami ghosting dalam tingkat sedang. Dampak ghosting meliputi overthinking, keraguan diri, dan keengganan untuk memulai hubungan baru. Regulasi emosi, terutama strategi cognitive reappraisal, ditemukan membantu individu dalam mengelola emosi negatif. Penelitian ini juga mengungkapkan layanan bimbingan dan konseling yang cocok untuk diberikan kepada korban ghosting untuk mampu bangkit dari emosi negatif dan meningkatkan regulasi emosi individu
PENGARUH KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK CBT TERHADAP KECEMASAN SOSIAL SISWA SMP
Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) merupakan pendekatan psikoterapi yang efektif dan berbasis bukti dalam menangani berbagai gangguan psikologis, termasuk kecemasan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas konseling kelompok berbasis CBT dalam mengurangi kecemasan sosial pada berbagai konteks populasi. CBT berfokus pada identifikasi dan modifikasi pola pikir negatif serta perilaku yang tidak adaptif yang berkontribusi terhadap gangguan kecemasan. Melalui pendekatan yang sistematis dan terstruktur, individu diajarkan untuk mengenali dan mengubah distorsi kognitif serta mengembangkan strategi coping yang lebih adaptif. Dalam konseling kelompok berbasis CBT, partisipan dapat berbagi pengalaman dan tantangan mereka, mendapatkan dukungan sosial, serta mempraktikkan keterampilan sosial dalam lingkungan yang aman dan suportif. Penelitian ini mengkaji berbagai studi empiris yang menunjukkan bahwa konseling kelompok berbasis CBT dapat secara signifikan mengurangi tingkat kecemasan sosial, meningkatkan kualitas hidup, serta memperbaiki fungsi sosial individu. Hasil penelitian ini menyoroti bahwa CBT tidak hanya efektif dalam setting individual, tetapi juga dalam setting kelompok, yang memungkinkan partisipan untuk saling mendukung dan belajar dari pengalaman satu sama lain. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan pentingnya implementasi CBT sebagai intervensi utama dalam menangani kecemasan sosial dan mendorong lebih banyak penelitian untuk mengembangkan metode dan teknik yang dapat meningkatkan efektivitas terapi ini di berbagai populasi dan konteks budaya. Dengan pendekatan yang tepat, CBT dapat membantu individu mencapai perubahan positif yang berkelanjutan dalam pikiran, emosi, dan perilaku mereka, sehingga meningkatkan kesejahteraan psikologis secara keseluruhan
The Effectiveness of Merdeka Mengajar Platform towards the Learning of English Reading Comprehension as the Implementation of Independent Curriculum at UPTD SMPN 19 Barru
This research aims to find out students' reading comprehension abilities before and after being taught using the Merdeka Menagajar Platform. This study used a one-group pretest-posttest design. There isn't any control group. Researchers give pre-tests to students, and then researchers give students treatment of reading comprehension using the Merdeka Mengajar Platform. The sample of this research was seventh-grade students of UPTD SMPN 19 Barru, a total of 21 students. The results show that the average pre-test score of seventh-grade students at UPTD SMPN 19 Barru experienced a significant increase in the post-test after being taught using the Merdeka Mengajar Platform on treatment. The average student score in reading comprehension on the pre-test was 55.00 and on the post-test was 84.29. So there is an increase in students' reading comprehension. This study shows the value of the t-test is higher than t-table values (14,496 >2.09302). The results of the t-test calculation of student learning before and after being taught using the Merdeka Mengajar platform are greater than the t-table. Can it be concluded that the null hypothesis (H0) is rejected and the alternative hypothesis (H1) is accepted? Researchers concluded that the use of the Merdeka Mengajar platform is a learning method that can improve reading comprehension ability in learning English
Foreign Language Anxiety in Education
Foreign Language Anxiety (FLA) poses a pervasive challenge for language learners venturing into the acquisition of a new language. Manifesting as heightened fear and anxiety, it significantly impacts the learning process. This comprehensive review aims to explore the origins, consequences, and aftermath of FLA, encompassing both traditional in-person learning and the virtual realm of online education, i.e., within the context of modern educational approaches, including distance and online learning. The narrative navigates the intricate interplay between anxiety and language acquisition, underscoring the pressing need for additional empirical evidence. The study emphasizes elucidating the origins and consequences of FLA and its impact on language learners in diverse educational settings. Highlighting the urgent requirement for empirical evidence, the review provides essential guidance for the development of holistic methods to nurture and support language learners as they progress toward linguistic proficiency. Finally, the review concludes by offering recommendations for future research endeavors pertaining to FLA
Academic Genre Instruction and Its Influence on University Writing Proficiency
The ongoing debate in language education revolves around the effectiveness of pedagogical approaches in teaching writing skills, particularly the merits of Genre-Based Pedagogy versus Isolated Skill-Focused Conventional Methods, which focus on practicing individual writing skills separately. This study investigated the impact of Genre-Based Pedagogy on 16 purposively selected fourth-semester students from the English Education Department at Harapan Bangsa University. Using an experimental design, participants were divided into experimental (8 students from class A) and control (8 students from class B) groups, with pre-test and post-test assessments over eight weeks. Results showed a significant improvement in the experimental group's writing skills, with a mean post-test score of 78.75 compared to 62.25 in the control group (t = 8.12). These findings suggest that Genre-Based Pedagogy, emphasizing contextualized learning and immersion in diverse text genres, significantly enhances writing proficiency compared to conventional methods, enabling students to effectively integrate grammar, vocabulary, content development, and organizational skills tailored to specific genres
Flashforward Language Style Analysis in Bugis Song Lyrics by Selfie Yamma
The objective of this research is to examine the "flashforward" language style of Bugis music lyrics performed by Selfie Yamma, with a focus on cultural, linguistic, and musical backgrounds. Information was gathered from the lyrics of the songs collected from relevant sources. The process of data analysis included organizing the data, simplifying the data, presenting the data, and summarizing the data. The analysis findings indicate that the "flashforward" language style plays a crucial role in forming a distinct and exclusive ambiance in Bugis song lyrics. Utilizing flashforward language style in song lyrics enhances the understanding and expression of the message, providing a new perspective for interpretation. Language in Bugis culture is not only a means of communication in song lyrics; it also represents the traditional values, beliefs, and historical experiences of the Bugis people. The use of "flashforward" language in song lyrics enhances emotional and cognitive engagement with the audience by adding a dynamic and imaginative element to the interpretation
Analysis of Teacher’s Problems in the Teaching and Learning Process at MA Al-Mustaqim Parepare
This research aims to identify the problems faced by teachers in the teaching and learning process at MA Al-Mustaqim Parepare and the methods used to address these issues. The problems encountered include a lack of facilities, low student motivation, and a high workload for teachers. The research method used is descriptive qualitative with data collected through observations, interviews, and documentation. Data analysis was conducted by organizing, interpreting, and concluding the findings based on relevant educational theories. The results show that the main problems faced by teachers are the lack of supporting facilitied, low student participation, and administrative pressures. Teachers use strategies such as personal approaches, creative teaching methods, and enhanced communication with parents to address these issues
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA DI DESA KEBONSARI KECAMATAN ROWOSARI
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya remaja yang melakukan perilaku menyimpang di desa Kebonsari kecamatan Rowosari. Perilaku menyimpang yang terjadi yaitu perilaku merokok pada remaja. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang paling dominan yang menyebabkan perilaku merokok pada remaja. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa perilaku merokok remaja dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor kepribadian dan pergaulan/teman sebaya. Faktor kepribadian merujuk pada karakteristik perilaku yang melekat pada seorang individu dari dalam dirinya, dan berasal dari pengalaman. Sedangkan, faktor pergaulan/teman sebaya menjadi hal yang mendasari perilaku remaja setelah faktor kepribadian, karena pada usia remaja, mereka cenderung lebih mudah terpengaruh oleh ajakan teman. Penjelasan yang sama berlaku pada hampir seluruh aspek perilaku sosial remaja. Kesimpulan dari kedua faktor tersebut adalah bahwa kepribadian memiliki pengaruh besar terhadap individu, terkait dengan dorongan yang sulit untuk ditekan. Selain itu, dukungan sosial dari masyarakat seharusnya berperan dalam membentuk karakter individu dalam lingkungan tersebut, namun realitanya masyarakat cenderung acuh terhadap remaja yang merokok, sehingga remaja memiliki banyak kesempatan untuk merokok di lingkungan tersebut