Jurnal Online STIKes Al-Insyirah
Not a member yet
    731 research outputs found

    IMPLEMENTASI TERAPI MUSIK INSTRUMENTAL TERHADAP PENURUNAN KECEMASAN POST OPERASI PADA PASIEN TONSILEKTOMI DENGAN GENERAL ANESTESI

    No full text
    Tonsilektomi dengan general anestesi merupakan prosedur pembedahan yang berisiko menimbulkan kecemasan pascaoperasi akibat nyeri, keterbatasan aktivitas, dan ketidakpastian kondisi pasien. Kecemasan yang tidak ditangani secara adekuat dapat memperlambat proses pemulihan, meningkatkan persepsi nyeri, serta menambah beban perawatan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi non-farmakologis yang aman, mudah diterapkan, dan efektif untuk mengatasi kecemasan pascaoperasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh terapi musik instrumental sebagai intervensi non-farmakologis terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pasca tonsilektomi. Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimen dengan pendekatan one-group pretest–posttest. Penelitian dilaksanakan di RS Wijayakusuma Purwokerto pada Juni–Juli 2025 dengan jumlah responden sebanyak 30 pasien pasca operasi tonsilektomi berusia ≥17 tahun, tanpa komplikasi, kooperatif, dan bersedia berpartisipasi. Tingkat kecemasan diukur menggunakan State Anxiety Inventory (STAI-S) sebelum dan sesudah pemberian terapi musik instrumental selama 15 menit. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi sebagian besar responden mengalami kecemasan sedang (96,7%) dan berat (3,3%), sedangkan setelah intervensi mayoritas mengalami kecemasan ringan (96,7%) dan sedang (3,3%). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang menandakan adanya perbedaan tingkat kecemasan yang signifikan sebelum dan sesudah intervensi. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa terapi musik instrumental efektif menurunkan kecemasan pada pasien pasca tonsilektomi dan direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis pendukung dalam praktik keperawatan perioperatif.Tonsillectomy under general anesthesia is a surgical procedure that may lead to postoperative anxiety due to pain, limited activity, and uncertainty regarding patient outcomes. Anxiety that is not adequately managed can delay recovery, increase pain perception, and add to the burden of care. Therefore, safe, practical, and effective non-pharmacological interventions are needed to address postoperative anxiety. This study aimed to analyze the effect of instrumental music therapy as a non-pharmacological intervention on reducing anxiety levels in post-tonsillectomy patients. This study employed a quasi-experimental design with a one-group pretest–posttest approach. The study was conducted at Wijayakusuma Hospital Purwokerto from June to July 2025, involving 30 post-tonsillectomy patients aged ≥17 years who met the inclusion criteria of having no complications, being cooperative, and willing to participate. Anxiety levels were measured using the State Anxiety Inventory (STAI-S) before and after a 15-minute instrumental music therapy intervention. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test. The results showed that before the intervention, most respondents experienced moderate anxiety (96.7%) and severe anxiety (3.3%), whereas after the intervention, the majority experienced mild anxiety (96.7%) and moderate anxiety (3.3%). The Wilcoxon test revealed a p-value of 0.000 (p < 0.05), indicating a statistically significant difference in anxiety levels before and after the intervention. In conclusion, instrumental music therapy is effective in reducing anxiety among post-tonsillectomy patients and is recommended as a supportive non-pharmacological intervention in perioperative nursing practice

    PENGARUH KOMBINASI TERAPI PIJAT REFLEKSI KAKI DAN SEDUHAN KAYU MANIS TERHADAP KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI POLI UMUM PUSKESMAS GLUGUR KOTA

    No full text
    Penderita diabetes melitus perlu menjaga agar kadar gula darah (KGD) tetap terkontrol untuk mencegah komplikasi. Penatalaksanaan KGD dapat dilakukan secara nonfarmakologi yaitu mengombinasikan terapi pijat refleksi kaki dan seduhan kayu manis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kombinasi terapi pijat refleksi kaki dan seduhan kayu manis terhadap kadar gula darah pada pasien diabetes melitus. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh kombinasi terapi pijat refleksi kaki dan seduhan kayu manis terhadap kadar gula darah pada pasien diabetes melitus di Poli Umum Puskesmas Glugur Kota. Penelitian ini adalah penelitian Pre Experimental dengan model pretest-posttest pada satu kelompok (the one group pretest posttest). Penelitian dilakukan di Poli Umum Puskesmas Glugur Kota. Populasi penelitian sebanyak 30 orang, dan seluruhnya dijadikan sampel. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Paired Sample T-Test pada tingkat kepercayaan 95% (a=0,05). Hasil penelitian menunjukkan sebelum pemberian kombinasi terapi pijat refleksi kaki dan seduhan kayu manis, kadar gula darah rata- rata pasien diabetes melitus sebesar 213,67±36,360. Setelah terapi, kadar gula darah rata-rata menurun menjadi 138,93±27,109. Kombinasi terapi ini berpengaruh signifikan terhadap penurunan kadar gula darah dengan p- value = 0,000 (<0,05). Kadar gula darah dapat menurun setelah diberikan kombinasi terapi pijat refleksi kaki dan seduhan kayu manis. Disarankan perawat menerapkan kombinasi terapi ini dalam pendekatan perawatan pasien diabetes melitus sebagai alternatif non-farmakologis efektif dalam menurunkan kadar gula darah.People with diabetes mellitus need to keep their blood sugar levels (BGC) under control to prevent complications. BGC management can be done non-pharmacologically by combining foot reflexology massage therapy and cinnamon infusion. The purpose of this study was to determine the effect of a combination of foot reflexology massage therapy and cinnamon infusion on blood sugar levels in patients with diabetes mellitus. This study is a Pre Experimental study with a pretest-posttest model in one group (the one group pretest posttest). The study was conducted at the General Polyclinic of Glugur City Health Center. The study population was 30 people, and all of them were used as samples. Data analysis was carried out univariately and bivariately using the Paired Sample T-Test at a 95% confidence level ( = 0.05). The results showed that before the administration of a combination of foot reflexology massage therapy and cinnamon infusion, the average blood sugar level of patients with diabetes mellitus was 213.67 ± 36.360. After therapy, the average blood sugar level decreased to 138.93±27.109. This combination of therapies had a significant effect on decreasing blood sugar levels with a p-value = 0.000 (<0.05). Blood sugar levels can decrease after being given a combination of foot reflexology massage therapy and cinnamon infusion. It is recommended that nurses apply this combination of therapies in the approach to caring for diabetes mellitus patients as an effective non-pharmacological alternative in lowering blood sugar levels

    CEGAH STUNTING SEJAK DINI: EDUKASI PENCEGAHAN KEK PADA IBU HAMIL

    No full text
    Latar Belakang: Ibu hamil merupakan kelompok yang rentan terhadap masalah gizi, khususnya Kekurangan Energi Kronis (KEK). Pada tahun 2020 tercatat ibu hamil yang mengalami KEK sebanyak 1.200 orang, kemudian menurun menjadi 1.000 orang pada tahun 2021 dan turun lagi menjadi 800 orang pada tahun 2022. Penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan dalam pelayanan kesehatan bagi ibu hamil di wilayah tersebut. Namun demikian, prevalensi KEK di wilayah kerja Puskesmas Atu Lintang masih tergolong tinggi. Metode: Peralatan utama yang digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini antara lain leaflet untuk memberikan edukasi kepada ibu hamil terkait Kekurangan Energi Kronik. Kegiatan pengabdian ini difokuskan pada pencegahan KEK yang dapat berdampak  Stunting Pada Anak di Wilayah Kerja Puskesmas Atu Lintang, Aceh. Hasil: Sebelum pelaksanaan edukasi, mayoritas ibu hamil masih memiliki tingkat pemahaman yang rendah sebesar 31 responden(56,7%) serta kesadaran yang minim terhadap pentingnya pemantauan status gizi selama masa kehamilan. Namun, setelah dilakukan penyuluhan secara interaktif dengan metode yang mudah dipahami, terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan sebesar 41 Responden (68,3%), yang tercermin dari pergeseran kategori pengetahuan ke tingkat yang lebih baik. Kesimpulan: Kegiatan ini menegaskan pentingnya intervensi promotif dan preventif di wilayah yang rentan terhadap masalah gizi. Pelaksanaan edukasi secara langsung dan partisipatif dengan melibatkan kader dan tenaga kesehatan terbukti efektif dalam menumbuhkan kesadaran serta membentuk perilaku hidup sehat pada ibu hamil. Oleh karena itu, program edukasi serupa perlu dijalankan secara berkelanjutan untuk menurunkan angka KEK dan mencegah stunting sejak masa kehamilan.  Latar Belakang: Ibu hamil merupakan kelompok yang rentan terhadap masalah gizi, khususnya Kekurangan Energi Kronis (KEK). Pada tahun 2020 tercatat ibu hamil yang mengalami KEK sebanyak 1.200 orang, kemudian menurun menjadi 1.000 orang pada tahun 2021 dan turun lagi menjadi 800 orang pada tahun 2022. Penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan dalam pelayanan kesehatan bagi ibu hamil di wilayah tersebut. Namun demikian, prevalensi KEK di wilayah kerja Puskesmas Atu Lintang masih tergolong tinggi. Metode: Peralatan utama yang digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini antara lain leaflet untuk memberikan edukasi kepada ibu hamil terkait Kekurangan Energi Kronik. Kegiatan pengabdian ini difokuskan pada pencegahan KEK yang dapat berdampak  Stunting Pada Anak di Wilayah Kerja Puskesmas Atu Lintang, Aceh. Hasil: Sebelum pelaksanaan edukasi, mayoritas ibu hamil masih memiliki tingkat pemahaman yang rendah sebesar 31 responden(56,7%) serta kesadaran yang minim terhadap pentingnya pemantauan status gizi selama masa kehamilan. Namun, setelah dilakukan penyuluhan secara interaktif dengan metode yang mudah dipahami, terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan sebesar 41 Responden (68,3%), yang tercermin dari pergeseran kategori pengetahuan ke tingkat yang lebih baik. Kesimpulan: Kegiatan ini menegaskan pentingnya intervensi promotif dan preventif di wilayah yang rentan terhadap masalah gizi. Pelaksanaan edukasi secara langsung dan partisipatif dengan melibatkan kader dan tenaga kesehatan terbukti efektif dalam menumbuhkan kesadaran serta membentuk perilaku hidup sehat pada ibu hamil. Oleh karena itu, program edukasi serupa perlu dijalankan secara berkelanjutan untuk menurunkan angka KEK dan mencegah stunting sejak masa kehamilan.

    STUDI REKOMENDASI PENGHAPUSAN ALAT KESEHATAN DENGAN  MENGGUNAKAN METODE ANALISIS BIAYA DI RSUD ARIFIN  AHMAD KOTA PEKANBARU

    No full text
    Penumpukan alat kesehatan yang sudah tidak layak pakai lagi menjadi suatu permasalahan di rumah sakit karena bisa memenuhi ruangan gudang dan jika tidak dihapuskan maka akan terjadi penambahan ruangan untuk alat kesehatan yang sudah rusak serta bisa mengakibatkan pencemaran lingkungan. Penelitian ini untuk studi rekomendasi penghapusan alat kesehatan dengan metode analisi biaya kota pekanbaru di harapkan penelitian ini bisa membantu teknisi dan rumah sakit dalam melakukan penghapusan alat kesehatan, jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat 2 jenis kendala dalam penghapusan alat kesehatan di RSUD Arifin Ahmad yaitu kendala dari pihak luar maupun dari dalam. Untuk kendala dari pihak luar seperti KPKNL (kantor pelayanan kekayaan Negara dan lelang), pihak KPKNL dengan sumber daya manusia yang terbatas menjadi kendala dalam hal lelang dikarenakan pihak KPKNL memiliki jadwal yang sangat padat jadi RSUD harus menunggu jadwalnya fungsi dari KPKNL yaitu menetapkan harga alat kesehatan yang akan dilelang, Sedangkan kendala didalam RSUD sulitnya mengurus surat penghapusan ke gubernur serta izin surat dari BPOM, BAPETEN dan sebagainya serta terkendala dalam sumber daya manusia di bagian logistik sebab alat kesehatan yang rusak RSUD sebanyak 1000 lebih sehingga harus membentuk tim yang besar dalam penghapusan alat sebanyak ini, jadi solusinya memperbaiki sistem dari masing-masing pihak dengan menambah sumber daya manusia mengadakan pelatihan keterampilan, memberikan edukasi, mengadakan pembinaan dikarenakan untuk melakukan penghapusan dengan jumlah alat yang sampai ribuan memerlukan tim yang sangat besar dengan konsekuensi menambah biaya pengeluaran dan menggunakan metode lelang atau penjualan ke perusahaan yang akan menguntungkan pihak rumah sakit.

    PENGARUH PIJAT ENDORPHIN TERHADAP INTENSITAS NYERI IBU BERSALIN KALA I FASE AKTIF

    No full text
    Nyeri merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan saat persalinan. Untuk mengatasi nyeri, pijat endorphine adalah metode yang efektif. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan pengaruh pijat endorphine terhadap intensitas nyeri ibu bersalin pada kala I fase aktif yang dilakukan di Ruang Bersalin RSU Bali Royal. Jenis penelitian  quasy experiment dengan  pretest-posttest nonequivalent control group design, teknik purposive sampling. Pengumpulan data  dengan data primer menggunakan shapiro wilk. Data analisis menggunakan Paired T-Test  setiap kelompok. Besar sampel 20 orang kelompok intervensi maupun kelompok kontrol. Hasil didapat kelompok eksperimen yaitu mean 3.9 dengan standar deviasi 0.967 dan p-value sebesar 0.000 artinya pemberian pijat endorphin berpengaruh terhadap intensitas nyeri ibu bersalin kala I fase aktif. Analisis data kelompok kontrol mendapatkan  mean 6.5, standar deviasi 0.998 dengan p-value  0.000 diartikan relaksasi nafas dalam tidak berpengaruh terhadap intensitas nyeri bersalin kala I fase aktif. Perbandingan intensitas nyeri ibu bersalin kala I fase aktif antara kelompok eksperimen dan kontrol dianalisis dengan uji parametrik Independent Sampel T-Test dan hasil p-value 0,000 < 0,05 ini menunjukan pengaruh pemberian pijat endorphine terhadap penurunan nyeri ibu bersalin kala I Pijat endorphine  menghasilkan impuls yang memblokir serabut saraf mengirimkan pesan nyeri ke otak. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperbaiki keterbatasan yaitu durasi pemberian pijat endorphine.Labor pain is an unpleasant experience during childbirth. To alleviate this pain, endorphin massage is an effective method. The purpose of this study is to demonstrate the influence of endorphin massage on the intensity of labor pain in the active phase of the first stage conducted at the Delivery Room of Bali Royal Hospital. The study employed a quasi-experimental design with pretest-posttest nonequivalent control group design and purposive sampling technique. Data were collected using Shapiro-Wilk test for primary data. Data analysis utilized Paired T Test for each group. The sample size was 20 individuals in both the intervention and control groups. The results showed that in the experimental group, the mean was 3.9 with a standard deviation of 0.967 and a p-value of 0.000, indicating that endorphin massage significantly influenced the intensity of labor pain in the active phase of the first stage. Conversely, in the control group, the analysis revealed a mean of 6.5, a standard deviation of 0.998, and a p-value of 0.000, indicating that breathing relaxation alone did not affect the intensity of labor pain in the active phase of the first stage. A comparison of labor pain intensity in the active phase of the first stage between the experimental and control groups was analyzed using Independent Samples T-Test, yielding a p-value of 0.000 < 0.05, demonstrating the influence of endorphin massage in reducing labor pain in the first stage. Endorphin massage produces impulses that block nerve fibers from transmitting pain messages to the brain.

    PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG MENSTRUAL HYGIENE DENGAN MEDIA INDEX CARD MATCH (ICM) TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI DI SMP IT AL MADINAH NOGOSARI

    No full text
    Kebersihan vulva yang buruk berkontribusi terhadap prevalensi gangguan reproduksi di kalangan wanita. Sebanyak 5,2 juta remaja putri menderita gejala pascamenstruasi akibat tidak menjaga kebersihan vulva selama menstruasi. Peningkatan ini dikaitkan dengan kurangnya pemahaman remaja putri tentang kebersihan vulva. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat apakah pendidikan kesehatan tentang kebersihan menstruasi menggunakan media ICM dapat meningkatkan pengetahuan remaja putri di SMP IT Al Madinah Nogosari. Penelitian ini dirancang dengan eksperimen semu, desain kelompok kontrol non-ekuivalen pada tes awal dan tes akhir. Kelompok eksperimen mendapat penyuluhan kesehatan tentang kebersihan menstruasi menggunakan media ICM, sedangkan kelompok kontrol mendapat penyuluhan dengan ceramah. Subjek penelitian ini adalah siswi SMP IT Al Madinah Nogosari yang terdiri dari 9 kelas dan jumlah siswi 247 orang. Dengan menggunakan teknik proporsional stratified sampling, dipilih 39 remaja putri untuk setiap kelompok (total 78 orang). Tingkat pengetahuan remaja putri dinilai dengan menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan-pernyataan tentang kebersihan menstruasi. Pendekatan Mann Whitney nonparametrik digunakan untuk mengevaluasi data. Temuan penelitian menunjukkan bahwa, pendidikan kesehatan tentang kebersihan menstruasi menggunakan media ICM pada tingkat pengetahuan remaja putri kelompok eksperimen terdapat dampak yang signifikan (p = 0,000) dibandingkan dengan pemberian pendidikan kesehatan dengan ceramah pada kelompok kontrol. Poor vulvar hygiene contributes to the prevalence of reproductive disorders among women. As many as 5.2 million adolescent girls suffer from postmenstrual symptoms due to not maintaining vulvar hygiene during menstruation. This increase is associated with a lack of understanding of adolescent girls about vulvar hygiene. The purpose of this study was to see whether health education about menstrual hygiene using ICM media can improve the knowledge of adolescent girls at SMP IT Al Madinah Nogosari. This study was designed with a quasi-experimental, non-equivalent control group design in the pre-test and post-test. The experimental group received health education about menstrual hygiene using ICM media, while the control group received education through lectures. The subjects of this study were female students at SMP IT Al Madinah Nogosari consisting of 9 classes and a total of 247 students. Using a proportional stratified sampling technique, 39 female adolescents were selected for each group (a total of 78 people). The level of knowledge of adolescent girls was assessed using a questionnaire containing statements about menstrual hygiene. The nonparametric Mann Whitney approach was used to evaluate the data. The research findings show that health education on menstrual hygiene using ICM media on the level of knowledge of female adolescents in the experimental group had a significant impact (p = 0.000) compared to providing health education through lectures in the control group

    EKSPLORASI SENTIMEN DIGITAL DAN PENGETAHUAN INDIVIDU SEBAGAI PREDIKTOR KEPUTUSAN VAKSINASI TB BERBASIS MEDIA SOSIAL DAN SURVEI

    No full text
    Tuberculosis (TB) remains a major communicable disease in Indonesia with consistently high incidence rates, making vaccination a key preventive strategy. However, resistance toward the TB vaccine persists due to limited public knowledge and the influence of negative sentiments circulating on social media. This study aimed to examine the relationship between individual knowledge and vaccination decisions, while also analyzing public sentiment toward the TB vaccine on social media as an early indicator for designing epidemiological interventions. A mixed-methods approach was applied, combining a cross-sectional survey involving 100 respondents—which assessed TB knowledge, exposure to vaccine-related social media content, and BCG vaccination status—with sentiment analysis using the Naive Bayes algorithm on 26 social media posts from Twitter, TikTok, and Instagram. Logistic regression results indicated that higher knowledge about TB (OR = 1.76, 95% CI: 1.17–2.67) and increased exposure to social media content (OR = 1.46) were significantly associated with positive vaccine decision-making. Among the analyzed posts, 53.8% conveyed positive sentiment, 26.9% were neutral, and 19.2% expressed negative views, with positive sentiments predominantly found in educational content shared by healthcare professionals. These findings highlight the alignment between individual knowledge and digital public sentiment in influencing vaccination decisions, underscoring the importance of integrating health education and digital data monitoring in TB prevention effort.The high incidence of Tuberculosis (TB) in Indonesia makes vaccination a vital preventive strategy. However, resistance to TB vaccination remains substantial, driven by limited public knowledge and the spread of negative sentiments on social media. This study explore the relationship between individual knowledge and digital sentiment in influencing TB vaccination decisions. A mixed-method approach was employed, combining sentiment analysis of 26 social media posts using the Naive Bayes and an online survey of 100 respondents who actively engaged with these posts. Logistic regression revealed that higher TB knowledge (OR = 4.16; CI: 1.38–12.53) and positive vaccine perceptions (OR = 0.48; CI: 0.31–0.76) significantly increased the likelihood of vaccine acceptance. Conversely, higher education levels were associated with lower willingness to vaccinate (OR = 0.16; CI: 0.06–0.45). Sentiment analysis showed that 53.8% of posts carried positive tones, primarily educational content shared by healthcare professionals. The study concludes that integrating individual knowledge with digital sentiment analysis offers a promising approach to understanding and enhancing vaccine acceptance. It is recommended that public health communication strategies focus on evidence-based education via trusted digital channels and include vaccine literacy training for healthcare professionals and digital influencers to combat misinformation Publi

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU IBU DALAM PEMBERIAN IMUNISASI DASAR LENGKAP (IDL)PADA BALITA DI PUSKESMAS KOTO GASIB KABUPATEN SIAK

    No full text
    Basic immunization is a form of effort to prevent infectious diseases to improve the quality of life. There are many factors that cause mothers to be unwilling to immunize their babies, namely internal factors such as lack of information, knowledge and maternal attitudes. Apart from internal factors, external factors also influence the provision of immunizations to toddlers, such as family support, access to services, the role of officers, culture and others. This study aims to determine the factors related to maternal behavior in providing complete basic immunization (IDL) to toddlers. This type of research is quantitative with a cross sectional research design. The population is 472 mothers with toddlers and a sample of 98 people. The sampling technique is cluster sampling. This type of data collection uses primary data, where this activity is carried out directly by distributing questionnaires and primary data. Data analysis is carried out univariately and bivariately using the Chi Square test. There is a relationship between knowledge, attitudes, information media, family support, access to services and the role of officers with providing complete basic immunization to toddlers (p.value <0,05). It is hoped that the Community Health Center will provide information in the form of counseling to mothers of toddlers about immunization with the aim of increasing the complete basic immunization coverage program for toddlers.Basic immunization is an effort to prevent infectious diseases to improve quality of life. There are still many mothers who do not give immunizations to their babies, negative attitudes of mothers think that immunizations do not always have to be given because babies are also healthy if they are not given immunizations and there is still a lack of family support in providing immunizations. The aim of this research is to determine the factors related to maternal behavior in providing complete basic immunization (IDL) to toddlers. This research uses a quantitative type of research with a cross sectional research design. The population is 472 mothers with toddlers and a sample of 98 people. The sampling technique is cluster sampling. This research uses primary data by distributing questionnaires. Univariate and bivariate data analysis using the Chi Square test. There is a relationship between knowledge, attitudes, information media, family support, access to services and the role of officers with providing complete basic immunization to toddlers (p.value < 0.05). It is hoped that the Community Health Center will provide information in the form of counseling to mothers of toddlers about immunization with the aim of achieving a complete basic immunization coverage program for toddlers

    ANALISIS DETERMINAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN

    No full text
    Dampak buruk stunting yakni kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. Banyak hal yang berhubungan dengan kejadian stunting di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor - faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita usia 24-59 bulan yang berjumlah 1623 balita dengan sampel 94 balita di wilayah kerja Puskesmas Mandiangin Kota Bukittinggi dengan teknik Purposive Sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner ECLS-B Father Self-Administered Questionnaire untuk melihat dukungan ayah dan kuesioner Nilai Budaya dan Gaya Hidup oleh Cahyani et. al. untuk variabel Sosial Budaya terkait pemenuhan nutrisi Balita. Analisis bivariat data yang digunakan adalah dengan uji chi-square Test (a = < 0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan usia ibu saat hamil (p = 0,044), ada hubungan dukungan ayah (p = 0,012), dan sosial budaya (p = 0,002), tidak ada hubungan jumlah anak (p = 0,796) dan pendapatan keluarga (p = 0,654) dengan kejadian stunting. Dapat disimpulkan usia ibu saat hamil, dukungan ayah dan sosial budaya pemenuhan nutrisi merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita. Sementara jumlah anak dan pendapatan keluarga bukanlah faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita. Diharapkan perawat dan nakes dapat meningkatkan penyuluhan tentang stunting dan yang mempengaruhinya pada ibu di wilayah kerja Puskesmas Mandiangin.The detrimental effects of Stuntinghinder optimal physical and cognitive development. This study seeks to identify the factors linked to the prevalence of Stuntingin toddlers aged 24 to 59 months. This study employs quantitative research utilizing observational analytical approaches through a cross-sectional methodology. The study population comprised mothers of toddlers aged 24-59 months, totaling 1,623 toddlers, with a sample size of 94 drawn from the Mandiangin Community Health Center in Bukittinggi, utilizing the Purposive Sampling approach. The research utilized the ECLS-B Father Self-Administered Questionnaire from the National Center for Education Statistics and the Indonesian Ministry of Health to assess paternal support, alongside the Cultural Values and Lifestyle questionnaire by Cahyani et al. to gather data on socio-cultural variables pertinent to toddler nutrition. The chi-square test was employed for the bivariate analysis of the data. The findings of this study indicate association between maternal age at pregnancy (p = 0.044), paternal support (p = 0.012), and social culture (p = 0.002); however, no association exists between the number of children (p = 0.796) and family income (p = 0.654) with the prevalence of stunting. The mother\u27s age during pregnancy, father\u27s support, and socio-cultural nutritional requirements are factors associated with the prevalence of Stuntingin toddlers. Simultaneously, the quantity of children and family income are not variables associated with the prevalence of Stuntingin toddlers. Nurses and health professionals are encouraged to enhance the dissemination of health information regarding Stuntingand its implications for mothers within the Mandiangin Community Health Center work area

    PERAN TENAGA BIDAN DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN IMUNISASI BAYI DI UPT PUSKESMAS MESKOM KABUPATEN BENGKALIS

    No full text
    Imunisasi dasar lengkap merupakan upaya preventif penting dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Tenaga kesehatan, khususnya bidan, memiiliki peran strategis  dalam mendukung pencapaian cakupan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh peran bidan dalam meningkatkan cakupan imunisasi bayi di UPT Puskesmas Meskom Kabupaten Bengkalis. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ni berjumlah 74 orang ibuu yang memiliki bayi usia 0-12 bulan yang dipilih dengan teknik Simpel Random Sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tentang peran bidan dan checklist kelengkapan imunisasi bayi. Analisis data di lakukan dengan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai peran bidan dalam kategori baik sebesar (74,3%), sedangkan cakupan imunisasi dasar lengkap tercapai sebesar (60,8%) bayi. Hasil uji bivariat menunjukkan nilai P value 0,000 < 0,05. Ini menunjukkan bahwa peran bidan berpengaruh signifikan terhadap pencapaian cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi.Complete basic immunization is an important preventive effort in reducing infant morbidity and mortality due to diseases that can be prevented by immunization. Health workers, especially midwives, have a strategic role in supporting the achievement of infant coverage. This study aims to determine the effect of the role of midwives in increasing infant immunization coverage at the UPT Meskom Health Center, Bengkalis Regency. This study used a descriptive analytical design with a cross-sectional approach. The sample of this study was 165 mothers who had infants aged 0-12 months who were selected using the Simple Random Sampling technique. Data were collected using a questionnaire about the role of midwives and a checklist for complete infant immunization. Data analysis was carried out using the Chi Square test. The results showed that most respondents assessed the role of midwives in the good category of (77%), while complete basic immunization coverage was achieved by (64.8%) infants. The results of the bivariate test showed a P value of 0.002<0.05. This shows that the role of midwives has a significant effect on achieving complete basic immunization coverage in infants

    0

    full texts

    731

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online STIKes Al-Insyirah
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇