Jurnal Online STIKes Al-Insyirah
Not a member yet
731 research outputs found
Sort by
PEMBERDAYAAN REMAJA: EDUKASI TRIAD KRR UPAYA PENCEGAHAN MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI"
Latar Belakang: Remaja merupakan kelompok usia yang sedang berada dalam fase perkembangan fisik, psikologis, dan sosial yang kompleks. Dalam masa transisi ini, mereka sangat rentan terhadap berbagai permasalahan kesehatan reproduksi, terutama yang dikenal sebagai Triad Kesehatan Reproduksi Remaja (Triad KRR), yaitu seksualitas pranikah, infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS, dan penyalahgunaan Napza. Kurangnya pengetahuan dan sikap yang kurang tepat terhadap isu-isu tersebut dapat meningkatkan risiko perilaku yang membahayakan masa depan remaja. Metode: kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif melalui penyuluhan interaktif, diskusi kelompok terarah. Evaluasi dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap terhadap Triad KRR. Hasil: Sebelum pelaksanaan edukasi, mayoritas remaja masih memiliki tingkat pemahaman yang rendah sebesar 34 responden(41,0%) dan pengetahun baik sebesar 49 (59,0%). Setelah dilakukan edukasi secara interaktif dengan metode yang mudah dipahami, terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan sebesar 77 Responden (92,7%), yang tercermin dari pergeseran kategori pengetahuan ke tingkat yang lebih baik. Kesimpulan: Kegiatan edukasi kesehatan reproduksi dengan pendekatan partisipatif terbukti efektif meningkatkan pengetahuan remaja terhadap Triad KRR. Setelah intervensi, terjadi peningkatan signifikan dalam pemahaman, dari 59,0% menjadi 92,7%. Metode penyuluhan interaktif dan diskusi kelompok terbukti relevan untuk membentuk pengetahuan dan sikap remaja yang lebih positif terhadap isu kesehatan reproduksi.Latar Belakang: Remaja merupakan kelompok usia yang sedang berada dalam fase perkembangan fisik, psikologis, dan sosial yang kompleks. Dalam masa transisi ini, mereka sangat rentan terhadap berbagai permasalahan kesehatan reproduksi, terutama yang dikenal sebagai Triad Kesehatan Reproduksi Remaja (Triad KRR), yaitu seksualitas pranikah, infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS, dan penyalahgunaan Napza. Kurangnya pengetahuan dan sikap yang kurang tepat terhadap isu-isu tersebut dapat meningkatkan risiko perilaku yang membahayakan masa depan remaja. Metode: kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif melalui penyuluhan interaktif, diskusi kelompok terarah. Evaluasi dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap terhadap Triad KRR. Hasil: Sebelum pelaksanaan edukasi, mayoritas remaja masih memiliki tingkat pemahaman yang rendah sebesar 34 responden(41,0%) dan pengetahun baik sebesar 49 (59,0%). Setelah dilakukan edukasi secara interaktif dengan metode yang mudah dipahami, terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan sebesar 77 Responden (92,7%), yang tercermin dari pergeseran kategori pengetahuan ke tingkat yang lebih baik. Kesimpulan: Kegiatan edukasi kesehatan reproduksi dengan pendekatan partisipatif terbukti efektif meningkatkan pengetahuan remaja terhadap Triad KRR. Setelah intervensi, terjadi peningkatan signifikan dalam pemahaman, dari 59,0% menjadi 92,7%. Metode penyuluhan interaktif dan diskusi kelompok terbukti relevan untuk membentuk pengetahuan dan sikap remaja yang lebih positif terhadap isu kesehatan reproduksi
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SKALA NYERI DISMENOREA PADA REMAJA PUTRI DI KOTA SURAKARTA
Menurut data terbaru World Health Organization (WHO) pada tahun 2020 didapatkan bahwa sebanyak 1.769.425 (90%) wanita mengalami dismenorea, wanita yang mengalami dismenorea memproduksi prostaglandin 10 kali lebih banyak dibandingkan wanita yang tidak mengalami dismenorea, prostaglandin mengakibatkan meningkatnya kontraksi pada uterus serta pada kadar prostaglandin yang berlebih akan meningkatkan aktivasi usus besar. Tujuan Penelitian untuk menganalisis faktor – faktor yang mempengaruhi skala nyeri dismenorea pada remaja putri di Kota Surakarta. Metode Penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian observasional Cross Sectional dan besar sampel sebanyak 30 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara 6 variabel faktor – faktor penyebab skala nyeri dismenorea hanya 1 variabel yang terdapat hubungan signifikan yakni IMT (Indeks Massa Tubuh) dengan p value 0.020 (<0.05) sementara untuk variabel usia (0.409), usia menarche (0.515), siklus menstruasi (0.994), lama menstruasi (0.311) dan banyaknya ganti pembalut per hari (0.332).According to the latest data from the World Health Organization (WHO) in 2020, it was found that as many as 1,769,425 (90%) women experienced dysmenorrhea, women who experience dysmenorrhea produce 10 times more prostaglandins than women who do not experience dysmenorrhea, prostaglandins cause increased contractions in the uterus and at prostaglandin levels which will increase stimulation of the large intestine. The purpose of the study was to analyze the factors that influence the scale of dysmenorrhea pa$in in adolescent girls in Surakarta City. The research method used was quantitative research with a Cross Sectional observational research plan and a sample size of 30 respondents. The results of the study showed that the relationship between 6 variables of factors causing dysmenorrhea pain scale, only 1 variable had a significant relationship, namely BMI (Body Mass Index) with a p value of 0.020 (<0.05) while for the variables age (0.409), age of menarche (0.515), menstrual cycle (0.994), duration of menstruation (0.311) and number of changes of sanitary napkins per day (0.332)
EFEKTIVITAS PELVIC TILT DAN ESENSIAL MINYAK MAWAR TERHADAP NYERI PUNGGUNG BAWAH IBU HAMIL TRIMESTER III
Nyeri punggung bawah merupakan salah satu keluhan umum yang dialami oleh ibu hamil trimester III. Teknik pelvic tilt dan pemberian minyak esensial mawar dinilai sebagai intervensi alternatif yang aman dan efektif dalam mengurangi intensitas nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efektivitas kombinasi teknik pelvic tilt dan esensial minyak mawar terhadap penurunan nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III. Penelitian desain quasi eksperimen dengan pendekatan two group pre-test post-test non-equivalent control group terdiri dari, 30 responden ibu hamil trimester III dengan keluhan nyeri punggung bawah, terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok intervensi 15 dan kelompok kontrol 15. Kelompok Intervensi mendapatkan latihan pelvic tilt selama tiga kali per minggu dengan durasi 3-5 menit/sesi dan aplikasi minyak mawar dua kali sehari selama 1 bulan. Kelompok kontrol hanya diberikan edukasi. Tingkat nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil analisis menunjukkan terdapat penurunan signifikan pada tingkat nyeri punggung bawah di kelompok intervensi dibandingkan dengan kelompok kontrol (p<0,05). Kombinasi teknik pelvic tilt dan minyak mawar mampu meningkatkan fleksibilitas otot punggung, memperbaiki postur tubuh, serta memberikan efek relaksasi dan analgesik alami melalui kandungan aktif minyak mawar seperti geraniol, citronellol, dan flavonoid. Simpulan penelitian ini menyatakan bahwa kombinasi teknik pelvic tilt dan minyak mawar efektif, aman, dan mudah diterapkan sebagai intervensi komplementer dalam menurunkan nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III. Diharapkan tenaga kesehatan dapat mengedukasi ibu hamil untuk melakukan pelvic tilt dan menggunakan minyak mawar sebagai asuhan komplementer dalam mengurangi nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III.Lower back pain is one of the most common complaints experienced by third-trimester pregnant women, with a global prevalence of 50–80% and reaching 60–80% in Indonesia. A preliminary study conducted at BPM Affah Fahmi Surabaya revealed that out of 40 pregnant women, 32 (80%) experienced lower back pain. Non-pharmacological interventions such as pelvic tilt exercises and the application of rose essential oil are considered safe and effective alternatives for pain reduction. This study aimed to examine the effectiveness of combining pelvic tilt techniques and rose oil in reducing lower back pain among third-trimester pregnant women. The research employed a quasi-experimental design with a two-group pre-test post-test non-equivalent control group approach, involving 30 participants divided into two groups: intervention and control. The intervention group 15 received pelvic tilt exercises three times per week (3–5 minutes per session) and topical rose oil application twice daily for one month. The control group 15 received educational counseling only. Pain intensity was measured using the Numeric Rating Scale (NRS) before and after the intervention. The results showed a significant reduction in pain intensity in the intervention group compared to the control group (p<0.05). In conclusion, the combination of pelvic tilt exercises and rose oil is effective, safe, and practical as a complementary midwifery intervention. It is recommended that healthcare providers educate pregnant women to independently apply this intervention to alleviate lower back pain during the third trimester
BIAYA RAWAT JALAN DAN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT PADA PASIEN DIABETES MELITUS
Diabetes mellitus impacts the quality of human resources and significantly increases healthcare costs. This study aimed to determine the costs of outpatient and inpatient care in hospitals for diabetes mellitus patients. This study used BPJS Kesehatan sample data from 2015 to 2023, followed by univariate analysis. The total cost required for outpatient care for diabetes mellitus patients in hospitals is <1,000,000, while for inpatient care for diabetes mellitus patients in hospitals is between 1,000,000 and 5,000,000Diabetes mellitus will impact the quality of human resources and increase significant health costs. In the Philippines, outpatient costs for patients with poor control range from US2463, while for those with reasonable control, the costs are US1520. The purpose of this study was to determine the costs of outpatient and inpatient care for patients with diabetes mellitus in hospitals. This study utilized a sample of 23,804 BPJS Kesehatan data from 2015 to 2023, comprising 21,423 Advanced Outpatient data and 2,381 Advanced Inpatient data. The analysis is univariate. The amount of costs required for outpatient services for diabetes mellitus patients in hospitals is 100,000-250,000 by 87.1%, while for inpatient services for diabetes mellitus patients in hospitals, the amount is 1,000,000-5,000,000 by 62.3%. This cost description provides an overview for patients with diabetes mellitus in Indonesia regarding the minimum costs required for outpatient and inpatient care at the hospital
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA REMAJA PUTRI
Keputihan merupakan masalah kesehatan reproduksi yang umum pada remaja putri dan sering kali berkaitan erat dengan praktik kebersihan diri atau personal hygiene. Meskipun pengetahuan dianggap sebagai fondasi perilaku sehat, masih terdapat kesenjangan antara pemahaman teoritis dengan kejadian keputihan di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan personal hygiene dengan kejadian keputihan pada remaja putri di SMP Negeri 1 Sleman. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain korelasi menggunakan pendekatan cross-sectional. 5Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Sleman pada 23-27 Juni 2025. Sampel penelitian berjumlah 84 siswi kelas VII dan VIII yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang terdiri dari 10 butir pertanyaan pengetahuan personal hygiene dan 5 butir pertanyaan kejadian keputihan, yang telah dinyatakan valid dan reliabel. Analisis data dilakukan dengan uji statistik Spearman Rank (α<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden (100%) memiliki tingkat pengetahuan personal hygiene yang baik. Namun, ditemukan sebanyak 4,8% siswi tetap mengalami keputihan patologis, sementara mayoritas lainnya mengalami keputihan fisiologis. Hasil uji Spearman Rank memperoleh nilai p-value 0,001 dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,353. Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara tingkat pengetahuan personal hygiene dengan kejadian keputihan pada remaja putri. Semakin baik pengetahuan, maka semakin rendah risiko kejadian keputihan. Meskipun pengetahuan responden sudah baik, adanya kasus keputihan patologis menunjukkan perlunya intervensi yang lebih fokus pada penerapan praktik kebersihan secara konsisten.Vaginal discharge is a common reproductive health issue among female adolescents, often linked to personal hygiene practices. While knowledge is a foundation for healthy behavior, there is still a gap between theoretical understanding and the actual incidence of vaginal discharge. This study aims to analyze the relationship between the level of personal hygiene knowledge and the incidence of vaginal discharge among female adolescents at SMP Negeri 1 Sleman. This quantitative study employed a correlational design with a cross-sectional approach. The research was conducted at SMP Negeri 1 Sleman from June 23 to 27, 2025. A sample of 84 female students from grades VII and VIII was selected using the stratified random sampling technique. The research instrument was a questionnaire consisting of 10 items for personal hygiene knowledge and 5 items for vaginal discharge incidence, which were tested for validity and reliability. Data were analyzed using the Spearman Rank statistical test (α<0.05). The results showed that all respondents (100%) had a good level of personal hygiene knowledge. However, 4.8% of students still experienced pathological discharge, while the majority experienced physiological discharge. The Spearman Rank test yielded a p-value of 0.001 with a correlation coefficient (r) of 0.353. There is a significant negative correlation between the level of personal hygiene knowledge and the incidence of vaginal discharge among female adolescents. Higher knowledge is associated with a lower risk of vaginal discharge. Despite the high level of knowledge, the presence of pathological cases highlights the need for interventions focused on the consistent application of hygiene practices
PENERAPAN SUCTION DALAM ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TBC DENGAN BERSIHAN NAPAS TIDAK EFEKTIF DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT (ICU) RSUD KARDINAH TEGAL
Tuberkulosis (TBC) paru merupakan penyakit infeksi yang hingga kini menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Salah satu komplikasi yang sering muncul pada pasien TBC di ruang ICU adalah bersihan jalan napas tidak efektif akibat penumpukan sekret. Studi kasus ini bertujuan untuk menggambarkan proses asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien Tn. N dengan diagnosis medis TBC dan masalah keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif. Penelitian dilaksanakan pada 1–3 September 2025 menggunakan metode studi kasus yang mencakup pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Intervensi utama yang diberikan adalah suction secara teratur melalui ETT, disertai terapi oksigen, posisi semi-Fowler, dan kolaborasi pemberian obat. Hasil evaluasi menunjukkan adanya perbaikan bertahap selama tiga hari, ditandai dengan penurunan jumlah sekret, peningkatan efektivitas ventilasi, perbaikan pola napas, dan peningkatan saturasi oksigen hingga 100%. Temuan ini menunjukkan bahwa tindakan suction efektif dalam mengatasi bersihan jalan napas tidak efektif pada pasien TBC kritis dan dapat dijadikan evidence-based practice dalam tata laksana keperawatan pasien dengan gangguan pernapasan di ruang intensif.Pulmonary tuberculosis (TB) remains a significant public health problem in Indonesia, with high morbidity and mortality rates. One of the most common complications experienced by TB patients in the ICU is ineffective airway clearance caused by excessive and thick secretions. This case study aims to describe the nursing care process provided to Mr. N, who was diagnosed with pulmonary TB and presented with ineffective airway clearance. Conducted from September 1–3, 2025, this study utilized a case study approach encompassing assessment, nursing diagnosis, interventions, implementation, and evaluation. The primary intervention was regular suctioning through an endotracheal tube, supported by oxygen therapy, semi-Fowler positioning, and collaborative pharmacological treatment. The results indicated progressive improvement over the three-day period, demonstrated by reduced sputum production, enhanced ventilation, improved respiratory patterns, and increased oxygen saturation up to 100%. These findings confirm that suctioning is effective in managing ineffective airway clearance among critically ill TB patients and can serve as an evidence-based practice in respiratory nursing care in intensive care settings
EDUKASI BREAST CARE (PERAWATAN PAYUDARA) PADA IBU MENYUSUI DI DESA KULIM JL. BUDI LUHUR RT 01 RW 18
Perawatan payudara, atau breast care, merupakan aspek penting dalam mendukung keberhasilan menyusui. Ibu menyusui sering menghadapi berbagai masalah seperti bengkak, puting lecet, dan mastitis yang dapat mengganggu proses menyusui. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% ibu menyusui mengalami masalah payudara dalam enam minggu pertama setelah melahirkan (Kumar et al., 2020). Oleh karena itu, penyuluhan tentang breast care bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu menyusui dalam merawat payudara mereka. Metode penyuluhan yang digunakan meliputi edukasi kelompok, demonstrasi langsung, dan diskusi interaktif. Hasil dari penyuluhan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan ibu menyusui mengenai perawatan payudara. Kesimpulannya, edukasi yang tepat dapat membantu mencegah masalah payudara dan mendukung keberhasilan menyusui.Perawatan payudara, atau breast care, merupakan aspek penting dalam mendukung keberhasilan menyusui. Ibu menyusui sering menghadapi berbagai masalah seperti bengkak, puting lecet, dan mastitis yang dapat mengganggu proses menyusui. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% ibu menyusui mengalami masalah payudara dalam enam minggu pertama setelah melahirkan (Kumar et al., 2020). Oleh karena itu, penyuluhan tentang breast care bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu menyusui dalam merawat payudara mereka. Metode penyuluhan yang digunakan meliputi edukasi kelompok, demonstrasi langsung, dan diskusi interaktif. Hasil dari penyuluhan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan ibu menyusui mengenai perawatan payudara. Kesimpulannya, edukasi yang tepat dapat membantu mencegah masalah payudara dan mendukung keberhasilan menyusui
EDUKASI TERAPI RELAKSASI BENSON TERHADAP NYERI DISMINORE PADA REMA JA DI SMP 48 PEKANBARU
Dismenore merupakan salah satu keluhan ginekologis yang paling sering dialami perempuan di seluruh dunia, dengan prevalensi lebih dari 50% dan dapat mencapai 90% pada beberapa negara. Di Indonesia, sekitar 55% perempuan mengalami dismenore, Salah satu penanganan non-farmakologi yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri haid adalah terapi relaksasi Benson. Relaksasi Benson adalah teknik relaksasi pernapasan yang dipadukan dengan pengulangan kata-kata keyakinan sehingga mampu menciptakan ketenangan, menurunkan kecemasan, dan memicu respons relaksasi yang lebih mendalam. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswi SMP 48 Pekanbaru mengenai penanganan nyeri dismenore melalui metode nonfarmakologi, khususnya terapi relaksasi Benson. Kegiatan dilaksanakan melalui sosialisasi edukatif, diskusi interaktif, demonstrasi, serta praktik langsung teknik relaksasi Benson. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pemahaman siswi mengenai penyebab, gejala, dan penatalaksanaan dismenore tanpa obat. Partisipasi peserta sangat aktif, ditandai dengan antusiasme dalam bertanya, mencoba teknik relaksasi, serta keinginan untuk mempraktikkannya secara mandiri. Kegiatan ini juga memperoleh dukungan dari guru pendamping dan menghasilkan usulan pembentukan kegiatan relaksasi berkelanjutan di sekolah. Secara keseluruhan, program ini efektif dalam meningkatkan kemampuan siswi mengelola nyeri haid secara mandiri melalui teknik relaksasi Benson.Dismenore merupakan salah satu keluhan ginekologis yang paling sering dialami perempuan di seluruh dunia, dengan prevalensi lebih dari 50% dan dapat mencapai 90% pada beberapa negara. Di Indonesia, sekitar 55% perempuan mengalami dismenore, Salah satu penanganan non-farmakologi yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri haid adalah terapi relaksasi Benson. Relaksasi Benson adalah teknik relaksasi pernapasan yang dipadukan dengan pengulangan kata-kata keyakinan sehingga mampu menciptakan ketenangan, menurunkan kecemasan, dan memicu respons relaksasi yang lebih mendalam. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswi SMP 48 Pekanbaru mengenai penanganan nyeri dismenore melalui metode nonfarmakologi, khususnya terapi relaksasi Benson. Kegiatan dilaksanakan melalui sosialisasi edukatif, diskusi interaktif, demonstrasi, serta praktik langsung teknik relaksasi Benson. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pemahaman siswi mengenai penyebab, gejala, dan penatalaksanaan dismenore tanpa obat. Partisipasi peserta sangat aktif, ditandai dengan antusiasme dalam bertanya, mencoba teknik relaksasi, serta keinginan untuk mempraktikkannya secara mandiri. Kegiatan ini juga memperoleh dukungan dari guru pendamping dan menghasilkan usulan pembentukan kegiatan relaksasi berkelanjutan di sekolah. Secara keseluruhan, program ini efektif dalam meningkatkan kemampuan siswi mengelola nyeri haid secara mandiri melalui teknik relaksasi Benson
FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP AKTIVITAS FISIK PADA REMAJA DI MAN 2 KABUPATEN MOJOKERTO
Aktivitas fisik yang tidak dilakukan secara rutin dapat meningkatkan berbagai risiko penyakit tidak menular, salah satunya yaitu penyakit jantung, stroke, hipertensi, obesitas, dan diabetes mellitus. World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 80% populasi remaja di dunia kurang aktivitas secara fisik dan di Indonesia proporsi aktivitas fisik kurang yaitu 35,5% pada usia ≥10 tahun. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor yang mempengaruhi aktivitas fisik pada remaja di MAN 2 Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional, dengan teknik proportionate stratified random sampling yang jumlah sampelnya 126 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner yang dibuat oleh peneliti dan diisi oleh responden. Data yang terkumpul diolah dengan menggunakan uji statistik untuk dianalisa dengan uji chi square dengan α 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 64,3%, sebagian besar responden dengan motivasi negatif sebanyak 52,4%, sebagian besar responden dengan dukungan teman positif sebanyak 51,6%, sedangkan hampir setengahnya responden dengan aktivitas fisik ringan sebanyak 36,5%. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa ada pengaruh jenis kelamin dengan aktivitas fisik (p value 0,000), ada pengaruh motivasi dengan aktivitas fisik (p value 0,000), dan ada pengaruh dukungan teman dengan aktivitas fisik (p value 0,000). Jenis kelamin, motivasi, dan dukungan teman berpengaruh dengan aktivitas fisik.Adolescents who do not engage in regular physical activity can develop various non-communicable diseases, one of which is heart disease, stroke, hypertension, obesity and diabetes mellitus. The World Health Organization (WHO) estimates that more than 80% of teenagers in the world lack physical activity and in Indonesia that is 35.5%. The aim of this research was to analyze the factors that influence the physical activity of teenagers in MAN 2 Mojokerto Regency. The type of research was cross sectional with a proportionate stratified random sampling technique with a sample size of 126 respondents. Data was collected by filling out a questionnaire then processed and analyzed using the chi-square test with α 0.05. The results of the analysis showed that the majority of respondents were female, 64.3%, the majority of respondents with negative motivation, 52.4%, the majority of respondents with positive friend support, 51.6%, while almost half of the respondents had light physical activity. as much as 36.5%. The bivariate analysis test shows that gender, motivation, friend support influence physical activity with p value=0.000, p value=0.000 and p value=0.000. So it is hoped that support from schools and health workers will increase physical activity behavior in adolescen
STUDI MULTISENTER PERBANDINGAN ASUHAN KEBIDANAN ESENSIAL: MADENG TRADISIONAL VERSUS KESEHATAN MODERN PASCA PERSALINAN
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas dan keamanan antara praktik asuhan kebidanan tradisional Madeng dan metode kesehatan modern pasca persalinan di Puskesmas Blang Mangat. Madeng, sebagai tradisi perawatan pasca persalinan yang telah mengakar dalam budaya masyarakat Aceh, melibatkan penggunaan ramuan herbal, teknik pijat, diet khusus, serta perawatan tubuh dengan metode pemanasan. Sementara itu, perawatan kesehatan modern lebih berfokus pada pendekatan berbasis bukti ilmiah yang melibatkan intervensi medis standar untuk pemulihan fisik ibu dan bayi baru lahir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua metode memiliki keunggulan masing-masing. Praktik Madeng dianggap efektif dalam memberikan dukungan sosial dan emosional, serta memiliki nilai budaya yang kuat, tetapi beberapa tekniknya memerlukan perhatian lebih dalam hal keamanan dan validasi ilmiah. Di sisi lain, perawatan kesehatan modern menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dalam mencegah komplikasi dan memastikan pemulihan fisik yang cepat, meskipun kadang kurang memperhatikan aspek emosional dan social. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua metode memiliki keunggulan masing-masing. Praktik Madeng dianggap efektif dalam memberikan dukungan sosial dan emosional, serta memiliki nilai budaya yang kuat, tetapi beberapa tekniknya memerlukan perhatian lebih dalam hal keamanan dan validasi ilmiah. Di sisi lain, perawatan kesehatan modern menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dalam mencegah komplikasi dan memastikan pemulihan fisik yang cepat, meskipun kasang kurang memperhatikan aspek emosional dan sosialThis study aims to compare the effectiveness and safety of traditional Madeng midwifery care and modern postpartum healthcare methods at Puskesmas Blang Mangat. Madeng, as a deeply rooted postpartum care tradition in Acehnese culture, involves the use of herbal remedies, massage techniques, a special diet, and body care through heating methods. Meanwhile, modern healthcare focuses more on an evidence-based approach, involving standard medical interventions for the physical recovery of mothers and newborns. The study results indicate that both methods have their respective advantages. Madeng practice is considered effective in providing social and emotional support and holds strong cultural value. However, some of its techniques require further attention regarding safety and scientific validation. On the other hand, modern healthcare demonstrates higher effectiveness in preventing complications and ensuring a faster physical recovery, although it sometimes lacks emphasis on emotional and social aspects