Portal Journals of Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR)
Not a member yet
1414 research outputs found
Sort by
Overview of treatment success with short, long, and BPaL/M regimens in patients with drug resistant tuberculosis
Background: Drug-resistant tuberculosis (DR-TB) remains a major challenge in global TB control efforts, particularly in middle-income countries such as Indonesia. Long-term regimens lasting 18–24 months have been associated with low treatment success rates due to their prolonged duration and high incidence of adverse drug reactions. More recent developments, namely the bedaquiline–pretomanid–linezolid regimen with or without moxifloxacin (BPaL/M), have demonstrated treatment success rates of up to 89–90% in international clinical trials.
Purpose: To describe the treatment success of short-term, long-term, and BPaL/M regimens among patients with drug-resistant tuberculosis.
Method: A retrospective descriptive study was conducted using medical record data of DR-TB patients who received long-term, short-term, or BPaL/M regimens during 2023–2024. Treatment outcome classification followed the WHO 2022 guidelines. The variables collected included patient characteristics, type of regimen, and treatment outcomes based on WHO standards: cured, treatment completed, treatment failed, lost to follow-up, and died.
Results: Of the 148 DR-TB patients who met the inclusion criteria, 98 patients (66.2%) received long-term regimens, 17 patients (11.5%) received short-term regimens, and 33 patients (22.3%) were treated with the BPaL/M regimen. The treatment success rate (cured + treatment completed) for the short-term regimen was 76.5%, which was lower compared to the long-term regimen at 83.7%. The BPaL/M regimen demonstrated the highest treatment success rate at 87.9%.
Conclusion: The treatment success rates for DR-TB patients at Dr. H. Abdul Moeloek Hospital indicate that the BPaL/M regimen provides the most favorable outcomes compared to long-term and short-term regimens.
Keywords: BPaL/M Regimen; Drug-Resistant Tuberculosis; Long-Term Regimen; Short-Term Regimen; Treatment Success.
Hubungan antara status gizi dengan tekanan darah pada pelajar
Background: High blood pressure or hypertension can be dangerous because it can damage the heart and blood vessels in the long term. One of the causes of hypertension is excessive nutritional status or obesity, which is often the result of a poor diet asnd lack of physical activity, thereby increasing the risk of hypertension in adolescents.
Purpose: To determine the relationship between nutritional status and blood pressure among students.
Method: This quantitative study used a cross-sectional approach. The population studied was all students of State Senior High School 2 Tondano. A sample of 88 respondents was selected using a total sampling technique. The instruments used were respondent identity sheets, a SECA microtoise for height measurement, a SECA digital scale for weight measurement, a GEA digital sphygmomanometer for blood pressure measurement, and batteries.
Results: The majority of respondents' blood pressure was in the normal category (64.8%), while abnormal blood pressure included pre-hypertension (18.2%), stage 1 hypertension (9.1%), and stage 2 hypertension (7.9%). The majority of respondents had normal nutritional status 57 respondents (64.8%), while 13 respondents (14.8%) were overweight and 15.9% were obese. The bivariate analysis yielded a p-value of 0.004 (p<0.05), indicating a relationship between nutritional status and blood pressure in students.
Conclusion: There is a significant relationship between nutritional status and blood pressure, with a p-value of 0.004 (p<0.05).
Suggestion: Students with normal nutritional status and normal blood pressure should maintain a healthy lifestyle by consuming nutritious foods. Furthermore, they are encouraged to consume a balanced diet, exercise regularly, and regularly check their weight and blood pressure, followed by consultation with a healthcare professional.
Keywords: Adolescents; Blood Pressure; Nutritional Status.
Pendahuluan: Tekanan darah yang terlalu tinggi atau hipertensi, dapat berbahaya karena mampu merusak jantung dan pembuluh darah dalam jangka panjang. Salah satu penyebab hipertensi adalah status gizi yang lebih atau obesitas, hal tersebut sering kali merupakan hasil dari pola makan yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik, sehingga dapat meningkatkan risiko hipertensi pada remaja.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan tekanan darah pada pelajar.
Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi yang diteliti adalah seluruh pelajar SMA Negeri 2 Tondano. Sampel yang digunakan sebanyak 88 responden yang dipilih melalui teknik total sampling. Instrumen yang digunakan yaitu lembar identitas responden, microtoise merek SECA untuk pengukuran tinggi badan, timbangan digital merek SECA untuk pengukuran berat badan, tensimeter digital merek GEA untuk pengukuran tekanan darah, dan baterai.
Hasil: Sebagian besar tekanan darah responden dalam kategori normal sebanyak 64.8% dan tekanan darah tidak normal yang termasuk didalamnya yaitu, pre-hipertensi sebanyak 18.2%, hipertensi tingkat 1 sebanyak 9.1%, dan hipertensi tingkat 2 sebanyak 7.9%. Status gizi mayoritas normal sebanyak 57 responden (64.8%), sedangkan untuk status gizi lebih sebanyak 13 responden (14.8%) dan obesitas sebanyak 15.9%. Hasil analisis bivariat diperoleh p-value sebesar 0.004 (p<0.05), hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara status gizi dengan tekanan darah pada pelajar.
Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan tekanan darah pada dengan hasil p-value sebesar 0.004 (p<0.05).
Saran: Bagi pelajar dengan kategori status gizi tidak lebih dan kategori tekanan darah normal dapat mempertahankan gaya hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi. Selain itu, diharapkan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, berolahraga secara rutin, mengecek berat badan, dan tekanan darah secara berkala kemudian dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Kata Kunci: Remaja; Status Gizi; Tekanan Darah
Optimalisasi fungsi actuating kepala ruangan dalam supervisi dokumentasi asuhan keperawatan di rumah sakit
Background: Electronic Medical Records (EMR) plays a crucial role in nursing care, serving as legal evidence, a means of interprofessional communication, and a benchmark for service quality. Ward heads, as first-line managers, hold a crucial responsibility in ensuring documentation is carried out according to standards.
Purpose: To optimize the ward head's driving function in overseeing nursing care documentation in hospitals.
Method: This study used a case study approach conducted in the Intermediate Ward of Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Hospital. Data were collected through observation, interviews with ward heads and nurses, and questionnaires distributed to 30 nurses. The analysis was based on Marquis & Huston's 2021 management function theory and Kurt Lewin's theory of change. Problems were analyzed using the fishbone method and Priority Setting Guidelines (PSG) assessment to determine priority interventions.
Results: Nurses' compliance with EMR documentation standards improved after socialization. Furthermore, ward heads' understanding of the importance of reflection-based clinical supervision also improved. 28.9% of respondents stated that ward heads always supervise nursing care documentation, 27.7% stated that supervision is frequent, 20.5% stated that supervision is rare, and 22.9% stated that ward heads never supervise documentation.
Conclusion: Interventions through educational and reflective supervision have proven effective in improving the quality of EMR-based nursing documentation.
Suggestion: Ongoing training for ward heads and integration of supervision forms into the hospital's digital system are needed to ensure the sustainability of the intervention.
Keywords: Driving Function; Hospital; Nursing Care Documentation; Supervision; Ward Head.
Pendahuluan: Dokumentasi asuhan keperawatan elektronik/ Electronic Medical Record (EMR) memiliki peran krusial dalam pelayanan keperawatan, baik sebagai bukti legal, media komunikasi antarprofesi, maupun tolak ukur mutu layanan. Kepala ruangan sebagai manajer lini pertama memegang tanggung jawab penting dalam memastikan dokumentasi dilakukan sesuai standar.
Tujuan: Untuk mengoptimalisasi fungsi actuating kepala ruangan dalam supervisi dokumentasi asuhan keperawatan di rumah sakit.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan case study yang dilaksanakan di ruang Intermediate Ward Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara kepala ruangan, dan perawat, serta penyebaran kuesioner kepada 30 perawat pelaksana. Analisis dilakukan berdasarkan teori fungsi manajemen Marquis & Huston tahun 2021 dan teori perubahan Kurt Lewin. Masalah dianalisis menggunakan metode fishbone dan scoring Priority Setting Guideline (PSG) untuk menentukan intervensi prioritas.
Hasil: Terdapat peningkatan kepatuhan perawat terhadap standar dokumentasi EMR setelah sosialisasi dilaksanakan. Selain itu, pemahaman kepala ruangan terhadap pentingnya supervisi klinis berbasis refleksi juga meningkat. Didapatkan 28.9% responden menyatakan bahwa kepala ruangan selalu melakukan supervisi dokumentasi asuhan keperawatan, 27.7% menyatakan bahwa supervisi dilakukan sering, 20.5% menyatakan bahwa supervisi hanya jarang dilakukan, dan 22.9% menyatakan bahwa kepala ruangan tidak pernah melakukan supervisi dokumentasi
Simpulan: Intervensi melalui supervisi edukatif dan reflektif terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas dokumentasi keperawatan berbasis EMR.
Saran: Diperlukan pelatihan berkelanjutan bagi kepala ruangan dan integrasi formulir supervisi ke dalam sistem digital rumah sakit untuk menjamin keberlanjutan intervensi.
Kata Kunci: Dokumentasi Asuhan Keperawatan; Fungsi Actuating; Kepala Ruangan; Rumah Sakit; Supervisi
Analisis faktor sanitasi, maternal, dan kontrasepsi sebagai penentu risiko stunting pada bayi di bawah dua tahun
Background: Stunting remains a significant public health problem in Indonesia, particularly in children under two years of age. Various factors, such as sanitation, maternal health, and contraceptive use, are known to increase the risk of stunting.
Purpose: To analyze sanitation, maternal health, and contraceptive use as determinants of risk in infants under two years of age.
Method: This quantitative study used a cross-sectional design involving 174 respondents selected through stratified proportional random sampling. Data were collected using a questionnaire, with the dependent variables being sanitation, maternal health, and contraceptive use. The independent variable was stunting status, assessed based on standard anthropometric indicators. Statistical analysis used the Chi-Square test and Binary Logistic Regression.
Results: There was a significant association between sanitation (p < 0.05), maternal health (p < 0.05), and contraceptive use (p < 0.05) and risk. Poor sanitation, high-risk maternal health, and not using contraceptives increased the likelihood of stunting in children under two years of age.
Conclusion: Sanitation, maternal factors, and contraceptive use are significantly associated with the risk of stunting. Children exposed to poor sanitation, maternal risk factors, and those not using contraceptives are at higher risk of stunting.
Keywords: Contraception; Infants Under Two Years; Maternal; Sanitation; Stunting.
Pendahuluan: Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, khususnya pada anak di bawah usia dua tahun. Berbagai faktor, seperti sanitasi, kondisi maternal, dan penggunaan kontrasepsi diketahui berperan dalam meningkatkan risiko stunting.
Tujuan: Untuk menganalisis faktor sanitasi, maternal, dan kontrasepsi sebagai penentu risiko stunting pada bayi di bawah dua tahun.
Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain potong lintang dengan melibatkan 174 responden yang dipilih melalui proportional stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan pembagian variabel dependen adalah sanitasi, faktor maternal, dan penggunaan kontrasepsi, sedangkan variabel independen adalah status stunting dinilai berdasarkan indikator antropometri standar. Analisis statistik menggunakan uji Chi-Square dan Regresi Logistik Biner.
Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara sanitasi (p < 0.05), faktor maternal (p < 0.05), dan penggunaan kontrasepsi (p < 0.05) dengan risiko stunting. Sanitasi yang buruk, kondisi maternal berisiko tinggi, dan tidak menggunakan kontrasepsi meningkatkan kemungkinan terjadinya stunting pada anak di bawah dua tahun.
Simpulan: Sanitasi, faktor maternal, dan penggunaan kontrasepsi berhubungan signifikan dengan risiko stunting. Anak yang terpapar sanitasi buruk, kondisi maternal berisiko, serta tidak menggunakan kontrasepsi memiliki peluang lebih tinggi mengalami stunting.
Kata Kunci: Bayi di Bawah Dua Tahun; Kontrasepsi; Maternal; Sanitasi; Stunting
Efektivitas terapi musik dan posisi sujud terhadap pengurangan serangan nyeri kepala pada wanita menopause hipertensi
Background: Menopause is characterized by a decrease in estrogen, which can lead to impaired vascular function. This decrease in estrogen inhibits vasodilation, narrowing blood vessels, which results in increased blood pressure. Hypertension can trigger a series of symptoms, including headaches caused by increased intracranial pressure, dizziness due to reduced tissue blood flow/perfusion, and ischemia caused by vasoconstriction. As a non-pharmacological solution, listening to music has been shown to help achieve a relaxed state. Furthermore, the prostration position has been proposed as an intervention because it utilizes the force of gravity; the lower the body position, the greater the potential for relaxation and blood pressure reduction.
Purpose: To determine the effectiveness of music therapy and prostration positions in reducing the frequency of headache attacks in menopausal women with hypertension.
Method: This study used a quasi-experimental design using a pre- and post-test approach with a control group design. Conducted in the Garuda Community Health Center work area in September-October 2023. Sampling used purposive sampling technique and required a sample size of 60 participants, with 30 participants for each group. Data analysis used the Wilcoxon test because the data distribution was not normal.
Results: The mean reduction in pain frequency in the intervention group was 0.3 higher than the control group, the mean reduction in pain intensity in the intervention group was 0.8 higher than the control group, and the mean reduction in diastolic blood pressure in the intervention group was 3.6 higher than the control group. There was a significant difference in pain frequency scores before and after in the intervention group with a p-value <0.001 and in the control group with a p-value = 0.010. There was a significant difference in pain intensity scores before and after in both the intervention and control groups with a p-value <0.001. There was a significant difference in diastolic blood pressure scores before and after in the intervention group with a p-value = 0.001 and in the control group with a p-value = 0.010. There was a significant difference in pain frequency reduction scores between the two groups (p=0.011). There was a significant difference in pain intensity reduction scores between the two groups (p=0.004). There was no significant difference in diastolic pressure scores between the two groups (p=0.222).
Conclusion: Music therapy and the prostration position were effective in reducing pain frequency, pain intensity, and diastolic pressure.
Keywords: Headache Reduction; Hypertension; Menopausal Women; Music Therapy; Prostration Position.
Pendahuluan: Menopause ditandai dengan berkurangnya hormon estrogen yang dapat menyebabkan gangguan fungsi vaskular. Penurunan hormon estrogen ini menghambat vasodilatasi, sehingga pembuluh darah menyempit, yang berakibat pada meningkatnya tekanan darah. Hipertensi dapat memicu serangkaian gejala, diantaranya sakit kepala yang disebabkan oleh meningkatnya tekanan intracranial, pusing yang diakibat kurangnya aliran darah ke jaringan/perfusi, dan iskemia yang disebabkan karena vasokonstriksi. Sebagai solusi non-farmakologis, mendengarkan musik terbukti membantu mencapai kondisi rileks. Selain itu, posisi sujud juga diusulkan sebagai intervensi karena memanfaatkan gaya gravitasi, semakin rendah posisi tubuh, semakin besar potensi relaksasi dan penurunan tekanan darah.
Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas terapi musik dan posisi sujud terhadap pengurangan frekuensi serangan nyeri kepala pada wanita menopause hipertensi.
Metode: Penelitian dengan design quasy experiment menggunakan pendekatan pre and post-test with control group design. Dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Garuda pada bulan September-Oktober 2023. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan besar sampel yang diperlukan adalah 60 partisipan, dengan pembagian 30 partisipan untuk masing-masing kelompok, Analisis data yang digunakan adalah uji Wilcoxon karena distribusi data tidak normal.
Hasil: Rerata penurunan frekuensi nyeri pada kelompok intervensi lebih tinggi 0.3 dibandingkan kelompok kontrol, rerata penurunan intensitas nyeri pada kelompok intervensi lebih tinggi 0.8 dibandingkan kelompok kontrol, dan rerata penurunan diastole pada kelompok intervensi lebih tinggi 3.6 dibandingkan kelompok kontrol. Terdapat perbedaan yang signifikan skor frekuensi nyeri sebelum dan sesudah pada kelompok intervensi dengan nilai p< 0.001 dan pada kelompok kontrol dengan nilai p=0.010. Terdapat perbedaan yang signifikan skor intensitas nyeri sebelum dan sesudah baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol dengan dengan nilai p< 0.001. Terdapat perbedaan yang signifikan skor diastole sebelum dan sesudah pada kelompok intervensi dengan nilai p=0.001 dan pada kelompok kontrol dengan nilai p=0.010. Terdapat perbedaan yang signifikan skor penurunan frekuensi nyeri pada kedua kelompok dengan nilai p=0.011. Terdapat perbedaan yang signifikan skor penurunan intensitas nyeri pada kedua kelompok dengan nilai p=0.004, Tidak terdapat perbedaan yang sifnifikan skor diastole pada kedua kelompok dengan nilai p=0.222.
Simpulan: Terapi musik dan posisi sujud efektif terhadap pengurangan frekuensi nyeri, intensitas nyeri dan tekanan diastole.
Kata Kunci: Hipertensi; Pengurangan Serangan Nyeri Kepala; Posisi Sujud; Terapi Musik; Wanita Menopause
Pengaruh ekstrak daun kelor (moringa oleifera) terhadap perbaikan kadar hemoglobin pada mahasiswa kebidanan dengan anemia
Background: Adolescence is the second period of rapid growth and development after infancy and toddlerhood. Anemia is one of the nutritional problems in the world. Adolescent girls are at risk of iron deficiency anemia due to insufficient iron intake in the body. The efficacy of Moringa Oleifera leaf extract as a complementary therapy in increasing hematocrit levels and erythrocyte count
Purpose: To determine the effect of moringa leaf extract (Moringa oleifera) on improving hemoglobin levels in students with anemia
Method: A quasi-experimental study using a pre-posttest control with group design was conducted in October 2025 at the Midwifery Study Program, Kadiri University. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 50 participants divided into an intervention group and a control group. The independent variable in this study was moringa leaf extract, while the dependent variable was hemoglobin levels. Data analysis used univariate analysis in the form of frequency distribution and bivariate analysis using the independent t-test.
Results: Giving 1 gram of moringa leaf extract (Moringa Oleifera) for 14 days was shown to significantly increase hemoglobin levels (p-value=0.013; p<0.05) in the group that received moringa leaf extract and iron tablets.
Conclusion: Giving Moringa Oleifera leaf extract as a complementary therapy influenced the increase in hemoglobin levels in the intervention group.
Keywords: Adolescents; Anemia; Hemoglobin; Moringa Oleifera.
Pendahuluan: Masa remaja adalah periode kedua pertumbuhan dan perkembangan yang cepat setelah bayi dan balita. Anemia adalah salah satu masalah gizi di dunia. Remaja putri memiliki risiko anemia zat besi akibat kurangnya asupan zat besi dalam tubuh. Khasiat ekstrak daun kelor (Moringa Oleifera) sebagai terapi komplementer dalam meningkatkan kadar hematokrit dan jumlah eritrosit
Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) terhadap perbaikan kadar hemoglobin pada mahasiswa yang mengalami anemia
Metode: Penelitian quasy experimental dengan metode pre-posttest control with groulp delsign, dilaksanakan bulan Oktober 2025 di Program Studi Kebidanan Universitas Kadiri. Teknik pengambilan sampel menggunakan puposive sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 50 partisipan yang terbagi kedalam kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Variabel independent dalam penelitian ini adalah ekstrak daun kelor, sedangkan variabel depeden ialah kadar hemoglobin. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariate menggunakan uji indepdendet t-test.
Hasil: Pemberian ekstrak daun kelor (Moringa Oleifera) dosis 1 gram selama 14 hari terbukti meningkatkan kadar hemoglobin secara signifikan (p-value=0.013; p<0.05) pada kelompok yang menerima ekstrak daun kelor dan tablet Fe.
Simpulan: Pemberian ekstrak daun kelor (Moringa Oleifera) sebagai terapi komplementer memengaruhi peningkatan kadar hemoglobin pada kelompok intervensi.
Kata Kunci: Anemia; Hemoglobin; Daun Kelor (Moringa Oleifera); Remaja
Promosi kesehatan holistik ibu hamil dan postpartum melalui penguatan kader Posyandu
Background: Maternal and postpartum health is a crucial indicator of health development, yet the prevalence of postpartum mental disorders in Indonesia remains high, reaching 20–40%. In Cileunyi Kulon Village, efforts to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) are hampered by limited family understanding and the strong influence of traditional practices on medical and psychological care. Although the family plays a crucial role in successful recovery, the competence of the 27 Posyandu (Integrated Service Post) cadres, the frontline health education providers in this area, is not yet optimal in providing evidence-based health promotion. Therefore, this community service program focuses on strengthening the capacity of cadres through comprehensive family mentoring and education. This strategy aims to improve health literacy and family involvement in maintaining maternal physical and mental well-being, while simultaneously supporting the achievement of SDG point three, related to a healthy and prosperous life.
Purpose: To provide technical knowledge regarding perineal wound care and breast care to cadres in an effort to optimize their capacity to become effective facilitators in maintaining maternal physical and mental well-being.
Method: Community service was conducted from November 25–28, 2025, in Cileunyi Kulon Village, Cileunyi District, Bandung Regency, involving 42 cadres from 27 Integrated Health Posts (Posyandu) as respondents. Information provided covered perineal wound care, breast care, stress management, and family support. Data were presented descriptively. This community service activity was implemented using a community education and mentoring approach.
Results: Based on the results before the educational activity (pre-test), the majority of cadres had poor knowledge, namely 24 people (57.1%), while after the educational activity (post-test), results showed that the knowledge category increased to 15 people (35.7%), and the knowledge category became dominant with 19 people (45.2%).
Conclusion: The Posyandu cadre capacity building program in Cileunyi Village significantly improved their understanding of physical and mental health care for pregnant and postpartum women. The increased number of cadres with knowledge after the intervention demonstrates that family health promotion methods effectively equip cadres to be at the forefront of improving maternal well-being in the community.
Suggestion: Posyandu cadres are expected to apply the knowledge they have gained in routine service activities, particularly in educating families of pregnant women to create a strong support system at the household level.
Keywords: Cadres; Family support; Health promotion; Physical and mental health
Pendahuluan: Kesehatan ibu hamil dan pasca persalinan merupakan indikator krusial pembangunan kesehatan, namun prevalensi gangguan mental postpartum di Indonesia masih tinggi mencapai 20–40%. Di Desa Cileunyi Kulon, upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) masih terkendala oleh terbatasnya pemahaman keluarga serta kuatnya pengaruh adat dalam perawatan medis dan psikologis. Meskipun peran keluarga sangat menentukan keberhasilan pemulihan, kompetensi 27 unit kader Posyandu sebagai garda terdepan edukasi kesehatan di wilayah ini belum optimal dalam memberikan promosi kesehatan berbasis bukti. Oleh karena itu, program pengabdian masyarakat ini berfokus pada penguatan kapasitas kader melalui pendampingan dan edukasi keluarga yang komprehensif. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan serta keterlibatan keluarga dalam menjaga kesejahteraan fisik dan mental ibu, sekaligus mendukung pencapaian SDGs poin ketiga terkait kehidupan sehat dan sejahtera.
Tujuan: Memberikan pengetahuan teknis mengenai perawatan luka perineum dan perawatan payudara pada kader sebagai upaya mengoptimalkan kapasitas kader menjadi fasilitator yang efektif dalam menjaga kesejahteraan fisik dan mental ibu.
Metode: Pengabdian masyarakat dilaksanakan pada tanggal 25–28 November 2025 di di desa Cileunyi Kulon Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung dengan melibatkan 42 kader dari 27 Posyandu untuk menjadi responden. Informasi yang diberikan adalah perawatan luka perineum, perawatan payudara, manajemen stres dan dukungan keluarga. Akumulasi data disampaikan secara deskriptif. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan pendekatan pendidikan masyarakat (community education) dan pendampingan.
Hasil: Berdasarkan hasil sebelum kegiatan edukasi (pre-test), mayoritas kader memiliki pengetahuan dalam kategori kurang, yaitu sebanyak 24 orang (57.1%), sedangkan setelah kegiatan edukasi (post-test) mendapatkan hasil dengan kategori pengetahuan baik meningkat menjadi 15 orang (35.7%) dan kategori cukup menjadi dominan dengan 19 orang (45.2%).
Simpulan: Program penguatan kapasitas kader Posyandu di Desa Cileunyi secara signifikan meningkatkan pemahaman kader mengenai perawatan fisik dan kesehatan mental ibu hamil serta postpartum. Meningkatnya jumlah kader yang memiliki pengetahuan sesudah intervensi membuktikan bahwa metode promosi kesehatan keluarga efektif membekali kader sebagai garda terdepan dalam meningkatkan kesejahteraan ibu di masyarakat.
Saran: Para kader Posyandu diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang telah mereka peroleh pada kegiatan pelayanan rutin, khususnya dalam mendidik keluarga ibu hamil untuk menciptakan sistem dukungan yang kuat di tingkat rumah tangga
The effectiveness of a mindfulness intervention in reducing anxiety levels among vocational high school students
Background: Anxiety is one of the most frequently reported psychological problems among adolescents, particularly among Vocational High School students who are required to meet both academic and career readiness demands. Mindfulness has been widely recognized for its effectiveness in reducing anxiety across various populations; however, empirical studies focusing on Indonesian vocational education settings remain limited.
Purpose: To evaluate the effect of mindfulness intervention on anxiety levels among students and to identify variations in effectiveness based on gender and baseline anxiety levels.
Method: A quasi-experimental pre-test–post-test design with a control group was employed. Participants were selected through purposive sampling, and anxiety levels were measured using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Statistical analysis was conducted using the Wilcoxon test and Two-Way ANOVA.
Results: A significant decrease in anxiety levels was found in the intervention group (p < 0.001), whereas no significant change occurred in the control group. Effectiveness varied according to gender and initial anxiety level.
Conclusion: Mindfulness intervention is effective in reducing anxiety among students and may yield greater benefits when tailored to individual characteristics.
Keywords: Adolescents; Anxiety; Mental Health; Mindfulness; Vocational Education
Penyuluhan interaktif melalui literasi kesehatan dan bijak menggunakan media sosial pada generasi-Z
Background: The development of digital media has made it easier to access health information, but it also presents challenges due to the prevalence of misinformation and a lack of digital literacy among adolescents and Generation-Z. This situation impacts how students receive, understand, and share health information on social media.
Purpose: To increase awareness of digital health literacy through interactive and wise social media education for Generation-Z.
Method: The activity was carried out on November 5, 2025 at SMKN 1 Peusangan, Bireuen Regency. This activity involved 50 students who are young adults (generation-Z) who actively use social media. The implementation of this activity uses a participatory interactive approach in the form of lectures, group discussions, and question and answer sessions. The presentation of the material uses audio-visual media in the form of educational videos and slide shows. Measurement of the level of awareness of students in using social media with an instrument in the form of a questionnaire given before educational activities (pre-test) and after educational activities (post-test). As an evaluation of the level of awareness of students, namely by providing an assessment on the questionnaire and comparing the results of the scores between the pre-test and post-test.
Results: Data obtained showed that the majority of students (30 students) used Instagram. Most students (21 students) used social media applications for 1-2 hours per day, with 21 students (42.0%). Only 18 students (36.0%) consistently verified health information on social media for hoaxes, while 15 students (30.0%) never verified health information on social media for hoaxes. Meanwhile, the average score for students' awareness of health literacy and wise use of social media before the educational activity (pre-test) was 69 points and the average score after the educational activity (post-test) was 82 points.
Conclusion: This community service activity identified Instagram as the dominant platform frequently accessed. Consistent provision of health information on the Instagram platform is necessary to positively contribute to health literacy among followers.
Suggestion: Competent institutions are expected to provide support by providing verified health information on social media so that social media users can be more informed in accepting the benefits of each health information. Educational institutions that continuously support adolescents are also expected to provide massive educational interventions about limiting the duration of daily social media use.
Keywords: Generation Z; Health Literacy; Interactive Counseling; Social Media
Pendahuluan: Perkembangan media digital memberikan kemudahan dalam mengakses informasi kesehatan, namun sekaligus menimbulkan tantangan akibat maraknya informasi palsu dan kurangnya literasi digital di kalangan remaja ataupun generasi-Z. Kondisi ini berdampak pada cara siswa menerima, memahami, dan membagikan informasi kesehatan di media sosial.
Tujuan: Untuk meningkatkan kesadaran dalam literasi kesehatan digital melalui penyuluhan interaktif dan bijak menggunakan media sosial pada generasi-Z.
Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 05 November 2025 di SMKN 1 Peusangan, Kabupaten Bireuen. Kegiatan ini melibatkan 50 siswa/siswi yang merupakan remaja dewasa (generasi Z) yang aktif menggunakan sosial media. Pelaksanaan kegiatan ini menggunakan pendekatan interaktif partisipatif berupa ceramah, diskusi kelompok, dan sesi tanya-jawab. Pemaparan materi menggunakan media audio visual berupa video edukatif dan slide show. Pengukuran tingkat kesadaran siswa/siswi dalam menggunakan media sosial dengan instrumen berupa kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan setelah kegiatan edukasi (post-test). Sebagai evaluasi tingkat kesadaran siswa/siswi yaitu dengan memberikan penilaian pada kuesioner dan membandingkan hasil skor antara pre-test dan post-test.
Hasil: Mendapatkan data bahwa sebagian besar siswa/siswi menggunakan aplikasi instagram yaitu sebanyak 30 orang (60.0%), sebagian besar siswa/siswi menggunakan aplikasi sosial media dengan durasi 1-2 jam setiap hari yaitu sebanyak 21 orang (42.0%) dan hanya sebanyak 18 orang (36.0%) yang selalu melakukan verifikasi informasi kesehatan di media sosial dari hoax, sedangkan sebanyak 15 orang (30.0%) tidak pernah melakukan verifikasi informasi kesehatan di media sosial dari hoax. Sedangkan skor rata-rata tingkat kesadaran siswa/siswi tentang literasi kesehatan dan bijak menggunakan sosial media sebelum kegiatan edukasi (pre-test) adalah sebesar 69 poin dan skor rata-rata sesudah kegiatan edukasi (post-test) menjadi sebesar 82 poin.
Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini memberikan hasil identifikasi bahwa aplikasi instagram sebagai platform dominan yang sering di akses. Perlunya memberikan dan menyediakan informasi yang konsisten tentang kesehatan pada platform instagram agar dapat memberikan kontribusi positif tentang literasi kesehatan pada pengikutnya.
Saran: Diharapkan kepada lembaga yang berkompeten untuk melakukan dukungan dengan menyediakan informasi tentang kesehatan yang terverifikasi di media sosial sehingga pengguna media sosial menjadi lebih bijak dalam menerima manfaat dari setiap informasi kesehatan. Diharapkan juga kepada lembaga pendidikan yang selalu mendampingi remaja untuk secara masif memberikan intervensi pengetahuan tentang pembatasan durasi penggunaan sosial media per harinya.
Pengaruh edukasi menggunakan media video terhadap perubahan pengetahuan sikap dan perilaku masyarakat dalam pengendalian jentik nyamuk
Background: Dengue is a mosquito-borne infectious disease that remains a serious health problem and threat worldwide. Mosquito nest control (PSN) is the process of eradicating the eggs, larvae, and pupae of dengue-transmitting mosquitoes in their breeding sites.
Purpose: To determine the impact of educational videos on changes in public knowledge, attitudes, and behavior in mosquito larvae control efforts.
Method: This quantitative study used an experimental design with a one-group pretest-posttest. The study was conducted in Sepang Jaya Village, within the Labuhan Ratu Community Health Center (Puskesmas) working area, with a population of 12,046. The sample size was 35 respondents, using purposive sampling. Data analysis used univariate and bivariate analyses. The Wilcoxon test was used for bivariate analysis.
Results: There was a significant effect before and after the video exposure on knowledge, attitudes, and behavior (p-value <0.05).
Conclusion: Video education has an impact on changes in public knowledge, attitudes, and behavior regarding mosquito larvae control.
Keywords: Dengue Fever; Video Education; Mosquito Larva Control; Knowledge; Behavior; Attitude.
Pendahuluan: Dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi yang ditularkan melalui nyamuk dan masih menjadi masalah kesehatan yang serius serta ancaman di dunia hingga saat ini. Pengendalian sarang nyamuk atau PSN adalah kegiatan memberantas telur, jentik dan kepompong nyamuk penular demam berdarah dengue di tempat - tempat perkembangan biakannya.
Tujuan: Untuk mengetahui edukasi yang menggunakan media video edukasi terhadap perubahan pengetahuan sikap dan perilaku masyarakat dalam upaya pengendalian jentik nyamuk.
Metode: Jenis penelitian kuantitatif melalui desain eksperimental dengan rancangan one group pretest-posttest. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Sepang Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ratu dengan populasi sebanyak 12.046 orang. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 35 responden dengan menggunakan purposive sampling. Analisis data yang digunakan Adalah analisis univariat dan bivariat. Analisis bivariat menggunakan uji Wilcoxon.
Hasil: Adanya pengaruh yang signifikan sebelum dan sesudah diberikan video terhadap pengetahuan sikap dan perilaku (p-value < 0.05).
Simpulan: Terdapat pengaruh edukasi menggunakan video terhadap perubahan pengetahuan sikap dan perilaku masyarakat dalam pengendalian jentik nyamuk.
Kata Kunci: DBD; Edukasi Video; Pengendalian Jentik Nyamuk; Pengetahuan; Perilaku; Sikap