Ejournal Institut Agama Kristen Negeri Manado
Not a member yet
812 research outputs found
Sort by
MAKNA FALSAFAH (BATAK): SALA MANDASOR SEGA LUHUTAN DAN IMPLIKASINYA BAGI PELAYANAN PENDETA KEPADA ANAK SEKOLAH MINGGU DI HKI
Ada banyak suku di Indonesia, setiap suku itu mempunyai keunikannya masing-masing. Namun keunikan itu tentu mempunyai nilai yang dianggap penting bagi setiap pengikutnya. Nilai keunikan dari masing-masing suku tersebut mempengaruhi berragam aspek yang ada dalam kehidupan individu-individu yang terdapat pada suku tersebut. Dalam tulisan ini, Suku Batak diangkat untuk melihat keunikan yang ada di dalamnya. Di mana, keunikan suku Batak salah satunya adalah tentang falsafah, dan sangat dipegang teguh oleh para orang Batak. Dari banyak falsafah yang ada di tengah-tengah suku Batak, salah satunya adalah SALA MANDASOR SEGA LUHUTAN, yang artinya: “ketika salah di dasar, maka tahapan keseluruhannya juga akan salah”. Pemahaman akan falsafah, bukan hanya berlaku pada satu hal saja, namun nampaknya juga bisa diletakkan dalam konteks pelayanan Sekolah Minggu, khususnya dalam tulisan ini ditujukan kepada gereja Huria Kristen Indonesia (HKI). Di mana, gereja HKI merupakan salah satu dari sekian banyak gereja yang dikenal di tengah-tengah suku Batak. Sehubungan dengan itu, Pendeta juga mempunyai peran penting untuk mewujudkan falsafah Sala Mandasor Sega Luhutan ini dalam pelayanannya kepada Anak Sekolah Minggu, dikarenakan mereka merupakan dasar yang benar-benar harus
dibimbing, khususnya oleh Pendeta dalam pemaknaan tugas yang diterimanya.
Tulisan ini bertujuan untuk menghasilkan beberapa metode yang dikombinasikan terhadap pemahaman SMSL
terhadap pelayanan Pendeta di HKI secara khusus, dan para pendeta di gereja Batak pada umumnya.
Gereja HKI Sosunggulon menjadi tempat wawancara dari tulisan ini. Hermeneutic kualitatif menjadi metode yang
dipilih dalam tulisan ini. Di samping itu, metode wawancara dengan para aktor yang berperan di dalamnya
Kepemimpinan Yesus Sebagai Model Bagi Pemimpin Kristen Di Sekolah Tinggi Teologi
Dalam sekolah tinggi teologi terdapat seorang pemimpin yang akan memimpin jalannya system Pendidikan sekolah tersebut. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak para pemimpin Kristen yang masih menggunakan kepemimpinan otoriter yang tidak mengacu pada kepemimpinan yang Alkitabiah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang model kepemimpinan Yesus dan implikasinya bagai pemimpin Kristen di sekolah teologi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dimana peneliti mengkaji tentang bagaimana kepemimpinan Yesus, pemimpin Kristen, kepemimpinan Yesus dapat menjadi model bagi pemimpin Kristen khususnya di sekolah teologi. Adapun hasil penelitian yaitu pemimpin Kristen di sekolah teologi layaknya menerapkan model kepemimpinan Yesus untuk rekan-rekan sekerjanya guna tercipta hubungan yang harmonis dan dapat bersama memajukan institusi. Adapun kepemimpinan Yesus meliputi: kepemimpinan sebagai pelayanan, kepemimpinan berlandaskan kasih. Artinya bahwa kepemimpinan bukanlah ajalah kesombongan, mencari nama atau ke-akuan, namun kepemimpinan Kristen adalah sebuah pelayanan untuk Dia, oleh Dia dan Bagi Dia yang diimplementasikan dalam sebuah organisasi, institusi, gereja
Efektivitas Unit Pembantu Pelayanan Musik Gereja Dalam Membangun Ibadah Jemaat GSJA Temasion Rote Barat Laut
Penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas peran UPP Musik Gereja dalam pelayanan ibadah minggu di jemaat GSJA Temasion Rote Barat Laut. Metode yang digunakan yaitu kualitatif, dengan data yang dihimpun dengan pola FGD (Focus Grou Discution) dari 13 orang informan yang terdiri dari gembala jemaat GSJA, pemimpin dan pemain musik, dan anggota jemaat. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis dan direduksi yang memaparkan hasil penelitian bahwa: Pertama, UPP Musik Gerejawi di jemaat Temasion Rote Barat Laut memainkan peran positif dalam pengelolaan layanan musik dan dapat diamati sejak dalam persiapan hingga berlangsungnya ibadah jemaat, karena melibatkan orang-orang yang dengan kemampuan memadai musik gerejawi. Kedua, jemaat memiliki antusiasme yang tinggi dalam mengikuti ibadah karena dimotivasi oleh pelayan musik gerejawi yang relevan dan sesuai dengan dengan kebutuhan penyembahan pada Tuhan untuk peningkatan kerohanian jemaat
Etika Kristen dalam Pengelolaan Media Sosial Berbasis Information and Technology di Kalangan Remaja
The existence of information technology has become an important thing where as a tool that helps work in an organization, company, or institution. At this time, ethics in the world of information technology where Internet crime appears in general is a criminal act by hacking internet sites for personal purposes, while deviant behavior in internet use is such as cybersex and cyberaffair, sexting and pornography, cyberstalking and cyberbullying on the internet and also addicted to the internet. The method used in this research is qualitative research with a case study approach or often referred to as field research where qualitative research with a case study approach. The subjects in this study were teenagers. The subjects in this study were teenagers. Data collection was carried out by means of a literature study based on problems with the stages of collecting materials, reading materials, making notes, and managing notes obtained. According to the Christian ethical view, the human ability to study technology and information does not matter because technology can be used by humans in completing daily work, but on the other hand, technology and information become tools for humans to make mistakes in their lives. God to humans is intended so that humans build awareness from within themselves about the goodness and wisdom of God in every creation and innovation in technology and information, with this awareness humans will be able to use technological knowledge and information in a directed manner according to God's wishes and with Christian ethics
POLA DOA ORANG PERCAYA BERDASARKAN MATIUS 6:9-13 dan LUKAS 11:2-4
Praying is the obligation of every believer because it is commanded by God himself. God hears, and this assures believers not to give up praying. This paper uses a qualitative descriptive method by exploring the prayer taught by the Lord Jesus in Matthew 6:9-13 and Luke 11:1-4. As a result, there is the concept of a believer's prayer, which states the relationship between God and man. There is a prayer pattern in the prayer taught by the Lord Jesus, namely a balance of requests for the needs of God and His honor and requests for the physical, psychological, and spiritual needs of humans. Ended by acknowledging the glory of the Lord God, Amen
IMPLEMENTASI PENDEKATAN PENDAMPINGAN PRAPERNIKAHAN DALAM PROSES MANGANTAR : STUDI KASUS PADA MASYARKAT SUKU LAUJE
This study aims to examine the origins and meaning of Mangantar from the perspective of multicultural counseling and pastoral culture, examine the implementation of the Mangantar process from the perspective of pastoral and premarital counseling and develop the concept and practice of Mangantar into culturally based media and premarital counseling for the Lauje people.
In this research method that will be used is descriptive analytical research, with data collection techniques in the form of interviews and observations. In the interview technique, the author's key informants were the Head of the Lauje Tribe and the Traditional Head, while the supporting informants were people who had carried out the Mangantar tradition. The theory used in this research is multicultural counseling, cultural pastoral and premarital counseling. From the results of the study, it was found that the philosophical foundation and spiritual values of Mangantar, namely sacrifice, responsibility, cooperation, commitment and definition of family, which in the next process will be used as premarital counseling assistance
Pembelajaran Seni Musik Berbasis Audio - Visual di SMA Negeri 7 Manado
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses Pembelajaran Seni Musik berbasis Audio Visual. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan Deskriptif yang dilakukan di SMAN 7 Manado pada Tahun 2022.
Data dikumpulkan melalui teknik Dokumentasi, Observasi dan Wawancara. Dari hasil analisis dan interpretasi data diperoleh indikasi bahwa: (1) Audio Visual sebagai media pembelajaran sangat membantu guru dalam mempersiapkan hingga mengolah materi yang ada. (2) Audio Visual sebagai media pembelajaran mampu menstimulus proses belajar mengajar di dalam kelas menjadi lebih aktif dan variatif. (3) Pembelajaran Seni Musik berbasis Audio Visual dapat terlaksana dengan baik jika ditunjang dengan sarana prasarana dan kompetensi guru yang memadai sesuai kebutuhan pembelajaran
Musik Bambu Entel: Teknik Permainan dan Metode Pelatihan di Sanggar Musik Tradisional Kabupaten Kepulauan Talaud
Musik Bambu Entel adalah salah satu musik tradisional yang tumbuh dan berkembang di daerah Talaud. Musik Bambu Entel merupakan kumpulan bambu yang di potong berbagai ukuran agar mengeluarkan bunyi. Tujuan dari penelitian ini mendeskripsikan metode pelatihan musik bambu entel di Sanggar Musik Tradisional Kabupaten Kepulauan Talaud. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif-deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Sanggar Musik Tradisional, di kabupaten Kepulauan Talaud. Data dikumpulkan dengan observasi, wawancara dan studi dokumen. Berdasarkan hasil analisa dan interpretasi data diperoleh indikasi bahwa teknik permainan musik bambu entel dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal yaitu, posisi pemain bisa dalam posisi duduk dan posisi berdiri. posisi tangan kiri dan tangan kanan pemain, cara memegang musik bambu entel, dan cara menghentakkan musik bambu entel. Metode pelatihan musik bambu entel menggunakan metode pelatihan/pembelajaran praktik dengan beberapa prosedur yakni, penyampaian tujuan, penjelasan materi dan pendemonstrasian cara kerja menggunakan kombinasi antara metode ceramah dan metode demonstrasi, dalam proses latihan (praktik simulasi) juga menggunakan metode imitasi dan metode drill atau latihan berulang-ulang, serta metode penugasan mandiri
Pelatihan Etika Komunikasi Media Sosial Bagi Remaja dan Pemuda di GMPU Manado
Pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat melalui kegiatan Pelatihan Etika Komunikasi Media Sosial Bagi Remaja dan Pemuda di GMPU Manado dilaksanakan oleh Program Studi Misiologi dan Komunikasi Kristen sebagai tindak lanjut Kerjasama antara Fakultas Teologi IAKN Manado dengan Sinode Gereja Masehi Protestan Umum (GMPU). Melihat analisis situasi yang terjadi bahwa remaja dan pemuda di GMPU sebagai generasi muda gereja dan bangsa membutuhkan pemahaman dan pengetahuan yang tepat terkait penggunaan media sosial. Pelatihan ini ditujukan untuk menambah pengetahuan etika komunikasi media sosial dan meningkatkan keterampilan pemuda dan remaja GMPU dalam mengelolah dan memanfaatkan media sosial untuk hal-hal yang positif di tengah masyarakat dan gereja. Metode pelaksanaan kegiatan dalam bentuk ceramah, diskusi dan praktek penyusunan konten positif berlandaskan nilai-nilai Kristiani. Peserta pelatihan adalah remaja dan pemuda GMPU Wilayah Manado, Minahasa Utara dan Bitung. Pokok materi yang dijelaskan kepada peserta pelatihan mencakup 1) Pemahaman dasar komunikasi dan media sosial, (2) Jejak digital, (3) Dampak media sosial, (4) Self image dan media sosial, (5) Media sosial dan kebutuhan manusia, (6) Etika dan Etiket dalam ber-Media Sosial, (7) Menyeleksi berita hoax, (8) Sebelum berbagi konten di media sosial, (9) Penggunaan media sosial untuk hal-hal positif. Evaluasi pelaksanaan kegiatan ini dilakukan melalui lembar evaluasi yang berisi kesan-kesan peserta pelatihan, rapat dan diskusi dengan pimpinan remaja dan pemuda GMPU dan melalui pemantauan yang dilakukan di media sosial selama satu bulan. Keberhasilan kegiatan diukur dari adanya peningkatan pemahaman jemaat mengenai kegunaan beserta dampak negatif dan positif media sosial, bertambahnya pemahaman jemaat mengenai etika komunikasi dalam menggunakan media sosial. Selain itu, dilihat dari peningkatan kreatifitas remaja dan pemuda dalam menghasilkan konten yang bermanfaat dan positif.
Kata Kunci: pelatihan, etika, komunikasi, media sosia
LENSA INTERFAITH SPACE: MENAKAR DILEMA PERKAWINAN LINTAS AGAMA DARI SASTRA INDONESIA
Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis keputusan perkawinan lintas agama dalam novel Keluarga Permana dalam ruang interfaith space dan mengkaji konteks dari novel tersebut menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Novel ini ditulis pada tahun 1978 dalam konteks pelarangan perkawinan lintas agama dan disahkannya UU No. 1 Tahun 1974 mengenai Perkawinan. Di samping itu, alur dan karakter dalam novel tersebut menunjukkan adanya sebuah ruang lintas iman (Interfaith Space) dalam menghadapi problematika perkawinan lintas agama di Indonesia. Untuk itu, dalam tulisan ini, metode yang digunakan adalah metode penelitian sastra dialektik. Metode ini bukan hanya menganalisis intrinsik dari sebuah novel tapi juga mengkaji ekstrinsik (konteks) dimana novel itu ditulis sehingga ada keterhubungan baik intrinsik dan ekstrinsik novel tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Interfaith Space yang dikembangkan oleh seorang American Studies, Erika Seamon. Interfaith Space adalah ruang peleburan antara perbedaan latar belakang agama dalam perkawinan lintas agama. Lebih lanjut, dalam penelitian ini juga menggunakan pendekatan sosiologi sastra dari Alan Swingewood. Bagi Swingewood, sastra merupakan cermin dari masyarakat sehingga terjadi keterhubungan dari dunia rekaan dan konteks dimana novel itu ditulis . Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan lintas agama perlu dilihat dalam bingkai gejala politik pada tahun 1970-an serta mengkaji kembali ajaran agama mengenai perkawinan lintas agama dalam interfaith space