Ejournal Institut Agama Kristen Negeri Manado
Not a member yet
812 research outputs found
Sort by
Implementasi Amanat Agung dalam Penginjilan dan Pemuridan terhadap Pertumbuhan Gereja Berdasarkan Matius 28:18-20
The purpose of this study is that everyone is involved in implementing the Great Commission of Jesus Christ so that church growth occurs. The harvest is a lot but the workers are few, this is the Word of our Lord Jesus Christ. To produce a harvest of souls that are won for Christ, the Great Commission in Matthew 28:18-20 must be carried out namely “Go” (Preach) and Make disciples (Discipleship). Evangelism is the first step as a disciple. And being a disciple is an activity that aims to motivate and train spiritually mature believers to devote themselves wholeheartedly to God in order to become disciples. Evangelism and discipleship are one and cannot be separated. Evangelism is the first step as a disciple. If every church and its members carry out this great commission well, it will bring many people to come to Christ and this has an impact on the growth of the church. The book of Matthew was originally addressed to early Christians but God's Word is still relevant in every age, because the essence of the Word always directs everyone to believe Jesus is the savior of mankind. This study uses a qualitative method, by collecting data and information from various library sources such as the Bible, spiritual books and journals which are concluded and used in this research so as to lead everyone to carry out the Great Commission so that the church can grow well
BUDAYA MELUKADE SEBAGAI CARA PASTORAL KONSELING MENJADI CIRI MODERASI BERAGAMA ORANG NUSA UTARA
This research aims to find, analyze and elaborate the ideal idea of melukade culture which is used as a method of pastoral counseling and then becomes a characteristic of the religious moderation of the people of North Nusa. Researchers used descriptive qualitative research methods in carrying out analytical work. From the results of scientific work, the ideal idea was found which resulted in the perception, impact and implementation of melukade culture as a way of pastoral counseling to characterize the religious moderation of the people of North Nusa.
 
Psychological Well-Being Pada Orang Tua Terhadap Anak Penderita Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Penelitian dilatar belakangi oleh orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus salah satunya Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang sering merasa stres oleh apa yang dilakukan anak. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran dimensi-dimensi kesejahteraan psikologis orang tua, faktor-faktor yang mempengaruhi, dan upaya orang tua dalam membangun kesejahteraan psikologis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang melibatkan orang tua dari Sekolah Luar Biasa sebagai informan. Dalam penelitian ini menggunakan data yang diambil melalui beberapa tahap yaitu, observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian berlangsung pada bulan Februari sampai Juni ketika saat orang tua sedang menunggu anak di sekolah, di rumah, dan di gereja. Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran dimensi-dimensi dan faktor-faktor kesejahteraan psikologis orang tua terhadap anak ADHD. Beberapa orang tua sangat baik dalam aspek ini, dan juga mereka bisa membangun hubungan baik dengan tetangga sehingga hal yang paling penting dalam aspek ini ada yaitu, saling percaya dengan orang lain, memiliki hubungan yang hangat, dan juga dalam konsep sesama manusia yang terdapat di dalamnya konsep memberi dan menerima. Orang tua memberi kontribusi untuk tercapainya kesejahteraan psikologis, sehingga orang tua mampu memberikan arti dalam setiap kehidupannya dan mampu menerima keadaan anak. Orang tua bisa mampu memaknai apa yang diberikan Tuhan lewat anak yang dimiliki. Upaya orang tua dalam membangun kesejahteraan psikologis dalam diri mereka berbeda-beda cara
The Decolonial Imagination of Christian Religious Education Based On Higher Order Thinking Skills and Its Contribution Towards the Development Strategy of Literacy-Numeracy Skill in Indonesia
Penelitian ini hendak memaparkan seperti apa dan bagaimana pendidikan agama Kristen yang berbasis keterampilan berpikir taraf tinggi berdasarkan pengakomodasian filsafat eksistensialisme dalam konteks gereja, serta bagaimana kontribusinya terhadap pengembangan keterampilan literasi-numerasi naradidik secara lebih luas yang dimulai dari sekolah dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan memanfaatkan buku teks, artikel atau jurnal ilmiah, dsb sebagai data penelitian. Hasil penelitian menemukan bahwa pemikiran eksistensialisme sangat menekankan pada capaian pembelajaran yang berproses dan berorientasi pada (pencapaian) keterampilan berpikir tingkat tinggi melalui penguatannya terhadap kreativitas naradidik sebagai dasar yang dibutuhkan bagi keterampilan kritis-kreatif menuju berpikir tingkat tinggi (HOTS) yang sangat dibutuhkan dalam memberdayakan dan mengembangkan berbagai sumber daya untuk kesejahteraan bersama. Hal-hal demikian diperlukan dalam konteks pendidikan agama Kristen di era eksistensialis saat ini guna semakin menyeimbangkan penguatan keterampilan moral dan spiritual dengan keterampilan kognitif naradidik sehingga mampu berkontribusi terhadap keterampilan literasi-numerasi naradidik berupa literasi moral-etis yang bermuara pada keterampilan bersolidaritas
Pendidikan Agama Kristen Bagi Anak Pernikahan Beda Agama
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran orang tuan dalam pendidikan agama kristen bagi anak dalam pernikahan beda agama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa orang tua dan gereja sangat berperan penting dalam memberikan pendidikan agama kristen bagi anak dalam pernikahan beda agama. Hasil akhir dari artikel ini adalah untuk memperlihatkan bagaiaman peran orang tua dalam pendidikan agama kristen bagi anak dalam pernikahan agama dan hal-hal apa saja yang dapat digunakan oleh orang tua di dalam memberikan pendidikan agama kristen bagi anak-anak yang lahir dalam pernikahan beda agama
ANALISIS MATIUS 7:28-29; 15:21-28 TENTANG PROFIL YESUS SEBAGAI GURU SERTA RELEVANSINYA DENGAN TUGAS PROFESI KEGURUAN
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan Matius 7:28-29; 15:21-28 tentang profil Yesus sebagai guru serta kaitannya dengan tugas profesi keguruan. Menggunakan kajian pustaka dan biblis untuk memperlihatkan adanya landasan kuat mengapa guru zaman sekarang patut belajar dari Yesus Tuhan dan Guru Agung (Yoh. 13:13; Mat. 11:28-30; UU Guru & Dosen 2005; PP Guru 74/2008). Melalui penelitian ini ditemukan bahwa Yesus memiliki kompetensi kepribadian, pedagogik, sosial, profesional dan spritualitas yang dapat dijadikan sebagai teladan. Teori-teori belajar kognitif, sosial, behaviorisme, kecerdasan berganda, gaya belajar akan lebih menarik bila menyimak dari teladan Yesus Guru Agung. Melalui penelitian ini direkomendasikan bahwa mengkaji profil Yesus Guru Agung dari keempat kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes), khususnya Matius 7:28-29 dan 15:21-28 adalah hal yang sangat signifikan dan mendesak
Membangun Resiliensi Anak Sekolah Minggu Melalui Permainan
Artikel ini bertujuan untuk membangun resiliensi anak sekolah Minggu melalui permainan. Metode penelitian pustaka digunakan dalam penulisan artikel ini, yaitu dengan cara mengumpulkan, menelaah, dan menganalisis sumber-sumber informasi berupa literatur atau tulisan yang relevan dengan topik yang diteliti. Artikel ini menunjukkan bahwa permainan yang dapat membangun resiliensi anak sekolah Minggu adalah permainan kolaboratif, strategi, imajinatif, dan melibatkan kompetensi sehat, serta permainan yang melibatkan eksplorasi lingkungan. Implikasi praktis dari artikel ini adalah bahwa permainan dapat digunakan sebagai sarana untuk membangun resiliensi anak sekolah Minggu. Artikel ini dapat dijadikan acuan bagi para guru sekolah Minggu dan orangtua dalam membangun resiliensi anak
Peran dan Fungsi Kurikulum Tersembunyi Terhadap Pembentukan Karakter Siswa Berbasis Nilai-Nilai Kristiani Dalam Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji fungsi dan peran kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) di dalam pembentukan karakter siswa berbasis nilai-nilai Kristiani dalam Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa hidden curriculum dapat digunakan dalam pembentukan karakter peserta didik. Hidden curriculum bukan untuk menghilangkan written curriculum, melainkan untuk melengkapi dan menyempurnakannya. Hasil akhir dari artikel ini adalah untuk memperlihatkan peran dan fungsi hidden curriculum yang dilakukan dalam pembentukan karakter siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti. Keberhasilan dalam hal pembentukan karakter siswa hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan kurikulum, guru, sekolah, dan keterlibatan peserta didik di dalamnya
POLITIK KEWARGAAN SEBAGAI PERWUJUDAN DARI PANCASILA UNTUK MENGATASI PERSOALAN KEADILAN DALAM INDONESIA SEBAGAI NEGARA YANG PLURAL
Politik bukanlah sesuatu yang buruk untuk dilakukan oleh suatu negara. Bahkan setiap lembaga ataupun negara memerlukan gerakan politik untuk memastikan kelangsungan dan kesejahteraannya. Indonesia yang memiliki Pancasila sebagai dasar negara juga tidak lepas dari gerakan-gerakan politik. Pancasila sendiri hadir selain menjadi dasar negara merupakan nilai-nilai hidup bagi masyarakat Indonesia yang bersifat plural. Banyak upaya-upaya ketidaksetujuan terhadap apa yang ditawarkan oleh Pancasila sehingga muncul berbagai gerakan politik yang mengakibatkan rusaknya keadilan dalam pelaksanaan tugas kepemerintahan di tengah-tengah negara Indonesia. Mayoritas menjadi prioritas dan minoritas diberantas, menjadi gambaran umum dalam praktik yang ada di Indonesia. Walaupun demikian, politik kewargaan jusru dapat menjadi perwujudan dari Pancasila dengan melihat semua warga negara memiliki kedudukan yang sama dan memiliki hak yang sama untuk meneriman keadilan
Pembinaan Iman Kristen Pada Pedagang Kaki Lima Yang Berlokasi di Pasar Segar Taman Kopo Indah II Bandung
Pedagang kaki lima seringkali menghadapi berbagai tantangan, termasuk terbatasnya akses terhadap sumber daya, kurangnya pengakuan hukum, dan stigma sosial. Tantangan-tantangan ini dapat mempersulit pedagang kaki lima dalam mencari nafkah dan menafkahi keluarganya. Pembinaan iman Kristen dapat membantu mengatasi tantangan rohani ini dengan menyediakan alat dan sumber daya yang dibutuhkan para pedagang kaki lima untuk memperdalam iman dan bertumbuh dalam hubungan mereka dengan Tuhan. Pasar Segar Taman Kopo Indah merupakan lokasi penelitian yang dipilih. Ini adalah pasar ramai yang berfungsi sebagai pusat pedagang kaki lima. Metode penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mengumpulkan data melalui wawancara semi terstruktur, diskusi kelompok terfokus, dan observasi, serta analisis data menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola dan tema dalam data. Melalui pembinaan iman Kristen bagi pedagang kaki lima di Pasar Segar Taman Kopo Indah Bandung sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan civitas akademis program Pasca Sarjana Teologi STT Kharisma Bandung telah berhasil membentuk komunitas ‘Care Group’ dengan kegiatan pendalaman Alkitab dan doa, pendampingan, dan penatalayanan