OJS STKIP PGRI Situbondo
Not a member yet
1029 research outputs found
Sort by
FT PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP SISTEM PENDIDIKAN DI SMP
This study aims to analyze the implementation of existentialist values in the educational process at SMP Negeri 8 Purwakarta. Existentialism is a philosophical movement that emphasizes individual freedom, responsibility, authenticity, and the search for meaning in life through conscious choices. In the era of modern education, particularly at the junior secondary school level, these values are highly relevant as students are in a critical phase of identity development. The study employs a qualitative approach with data collection techniques including observation, in-depth interviews, and document analysis. The findings indicate that existentialist values have emerged in several learning activities, although not yet evenly implemented. Freedom is reflected in the provision of choices in learning methods and the freedom to express opinions. Responsibility is evident in teachers’ emphasis on discipline, classroom agreements, and the consequences of each decision. Authenticity develops through teachers’ appreciation of the uniqueness of students’ opinions. Reflective activities conducted by some teachers help students understand the meaning of lessons in real-life contexts. However, the application of existentialist values has not yet become a comprehensive school culture. Some teachers remain focused on academic achievement and have not fully established spaces for intensive dialogue. Therefore, strengthening teacher capacity, implementing school policies that support reflective learning, and integrating existentialist principles into lesson planning are necessary. This study contributes to the development of a humanistic educational paradigm in Indonesia and serves as a reference for schools seeking to develop learning oriented toward the personal meaning of students.Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi nilai-nilai eksistensialisme dalam proses pendidikan di SMP Negeri 8 Purwakarta. Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang menekankan kebebasan individu, tanggung jawab, keaslian diri, serta pencarian makna hidup melalui pilihan yang sadar. Pada era pendidikan modern, terutama di jenjang Sekolah Menengah Pertama, nilai-nilai ini relevan karena siswa berada pada fase perkembangan identitas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai eksistensialisme telah muncul dalam beberapa aktivitas pembelajaran, meskipun belum merata. Kebebasan terlihat dari pemberian pilihan cara belajar dan kebebasan berpendapat. Tanggung jawab terlihat dari penekanan guru terhadap disiplin, kesepakatan kelas, dan konsekuensi dari setiap keputusan. Keaslian diri berkembang melalui apresiasi guru terhadap keunikan pendapat siswa. Kegiatan refleksi yang dilakukan sebagian guru membantu siswa memahami makna pelajaran dalam kehidupan nyata. Namun, penerapan nilai eksistensialisme belum menjadi budaya sekolah secara menyeluruh. Beberapa guru masih terfokus pada pencapaian nilai akademik dan belum membangun ruang dialog yang intensif. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas guru, kebijakan sekolah yang mendukung pembelajaran reflektif, serta integrasi prinsip eksistensialisme dalam perencanaan pembelajaran. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan paradigma pendidikan humanistik di Indonesia dan menjadi rujukan bagi sekolah yang ingin mengembangkan pembelajaran berorientasi pada makna diri siswa
FT ANALISIS RELEVANSI PEMBELAJARAN DI SMPN 3 DARANGDAN DENGAN KEBUTUHAN HIDUP NYATA SISWA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PROGRESSIVISME
Progressivism is an educational philosophy that emphasizes education being centered on students’ experiences in order to produce pragmatic and skilled graduates, rather than focusing on theoretical facts. This descriptive qualitative study aims to measure the relevance of learning at SMPN 3 Darangdan based on this framework. In conclusion, the school seeks to implement Progressivism by having teachers relate subject matter to local contexts and employ student-centered methods such as Project-Based Learning (PjBL) and Problem-Based Learning (PBL) to provide authentic learning experiences. Students perceive learning materials as relevant when they can be applied directly (such as in Crafts and practical Mathematics). However, implementation is constrained by structural factors (a dense curriculum and a culture focused on exam scores) and technical factors (limited teacher competence in designing authentic projects and inadequate facilities). For sustainability, strong structural support, enhancement of teacher competencies, and innovative leadership are required. This study employs a qualitative approach using a descriptive method, aiming to observe, analyze, and obtain a comprehensive overview of the relevance of learning at SMPN 3 Darangdan, Purwakarta Regency. SMPN 3 Darangdan has demonstrated a clear commitment to implementing relevant and experience-oriented learning in accordance with the principles of Progressivism. Teachers possess a solid philosophical understanding of curriculum relevance and strive to connect learning materials with students’ real-life contexts. Experience-centered learning, through methods such as Project-Based Learning and Problem-Based Learning, provides benefits for the development of academic competencies, social skills, and life skills. Nevertheless, implementation has not yet been fully stable due to structural barriers, limited facilities, and an educational culture that prioritizes exam scores. Continuous support from the school, improved teacher competence, and adequate facilities are needed so that progressive learning can be implemented more deeply and consistently.Progressivisme adalah filosofi pendidikan yang menekankan bahwa edukasi harus berpusat pada pengalaman siswa untuk menghasilkan lulusan yang pragmatis dan terampil, alih-alih berfokus pada fakta teoretis. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan mengukur relevansi pembelajaran di SMPN 3 Darangdan berdasarkan kerangka tersebut. Kesimpulannya, sekolah berupaya menerapkan Progressivisme dengan guru mengaitkan materi pada konteks lokal dan menggunakan metode berpusat pada siswa seperti PjBL dan PBL untuk pengalaman autentik. Siswa menilai materi relevan jika dapat digunakan langsung (Prakarya, Matematika praktis). Namun, implementasi terhambat oleh faktor struktural (kurikulum padat, budaya fokus nilai ujian) dan teknis (kurangnya kompetensi guru dalam proyek autentik, fasilitas terbatas). Untuk keberlanjutan, diperlukan dukungan struktural kuat, peningkatan kompetensi guru, dan kepemimpinan inovatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan Metode Deskriptif, yang bertujuan untuk mengamati, menganalisis, dan mendapatkan gambaran komprehensif mengenai relevansi pembelajaran di SMPN 3 Darangdan, Kabupaten Purwakarta. SMPN 3 Darangdan telah menunjukkan komitmen nyata dalam menerapkan pembelajaran yang relevan dan berorientasi pada pengalaman, sesuai dengan prinsip Progressivisme. Guru memiliki pemahaman filosofis yang baik mengenai relevansi kurikulum dan berusaha mengaitkan materi dengan konteks nyata siswa. Pembelajaran yang berpusat pada pengalaman siswa, melalui metode seperti Project-Based Learning dan Problem-Based Learning, memberikan manfaat dalam pengembangan kompetensi akademik, sosial, dan keterampilan hidup. Meskipun demikian, implementasi belum sepenuhnya stabil karena adanya hambatan struktural, keterbatasan fasilitas, serta fokus budaya pendidikan pada nilai ujian. Dukungan berkelanjutan dari sekolah, peningkatan kompetensi guru, dan fasilitas yang memadai diperlukan agar pembelajaran progresif dapat diterapkan secara lebih mendalam dan konsisten
FT Analisis Arsitektur Enterprise Untuk Pengembangan Smart Village Dan Integrasi Sistem Informasi Desa Bojongminggir
Desa Bojongminggir di Kabupaten Pekalongan telah mencapai status "Desa Mandiri" berdasarkan Indeks Pembangunan Desa (IPK), namun menghadapi tantangan fragmentasi data antara Sistem Keuangan Desa (Siskeudes) dan Sistem Informasi Desa (OpenSID). Masalah utama yang teridentifikasi adalah fragmentasi sistem, di mana desa menggunakan aplikasi Siskeudes untuk pelaporan keuangan ke pemerintah pusat, sementara layanan pos dan administrasi kependudukan menggunakan OpenSID. Penelitian ini merancang arsitektur perusahaan terintegrasi menggunakan kerangka kerja TOGAF ADM 9.2 untuk mendukung konsep Desa Cerdas. Metode penelitian menggunakan pendekatan metode campuran melalui observasi, FGD, dan pengembangan prototipe sistem. Hasil penelitian menghasilkan cetak biru arsitektur yang mengintegrasikan data kependudukan sebagai Sumber Kebenaran Tunggal (Single Source of Truth) dengan implementasi gateway API untuk konektivitas antar sistem. Evaluasi prototipe menunjukkan peningkatan efisiensi waktu layanan dari 15 menit per layanan menjadi mendekati waktu nyata sekitar 3 menit per layanan, ketersediaan sistem meningkat dari 85% menjadi 99,2%, dan staf administrasi memberikan skor SUS rata-rata 82,0. Arsitektur ini selaras dengan Peraturan Bupati Pekalongan Nomor 33 Tahun 2018 dan menyediakan peta jalan yang terukur untuk transformasi digital desa.Desa Bojongminggir di Kabupaten Pekalongan telah mencapai status "Desa Mandiri" berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM), namun menghadapi tantangan fragmentasi data antara Sistem Keuangan Desa (Siskeudes) dan Sistem Informasi Desa (OpenSID). Permasalahan utama yang teridentifikasi adalah fragmentasi sistem dimana desa menggunakan aplikasi Siskeudes untuk pelaporan keuangan ke pemerintah pusat, sementara pelayanan surat-menyurat dan kependudukan menggunakan OpenSID. Penelitian ini merancang arsitektur enterprise terintegrasi menggunakan framework TOGAF ADM 9.2 untuk mendukung konsep Smart Village . Metode penelitian menggunakan pendekatan mixed-method melalui observasi, FGD, dan pengembangan prototype sistem. Hasil penelitian menghasilkan cetak biru arsitektur yang mengintegrasikan data kependudukan sebagai Single Source of Truth dengan implementasi API gateway untuk konektivitas antar sistem. Evaluasi prototype menunjukkan peningkatan efisiensi waktu pelayanan dari 15 menit tiap layanan menjadi realtime sekitar 3 menit setiap layanan, ketersediaan sistem meningkat dari 85% menjadi 99.2%, dan Staf administrator memberikan skor SUS rata rata 82.0. Arsitektur ini selaras dengan Peraturan Bupati Pekalongan Nomor 33 Tahun 2018 dan menyediakan roadmap transformasi desa digital yang terukur
KEGIATAN PELATIHAN MEMBACA DAN MENULIS AL-QUR’AN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN SANTRI TPQ AT TAQWA DESA PENJARINGAN, KECAMATAN RUNGKUT SURABAYA
The ability to read and write the Qur'an is a basic competency that students must have from an early age as a foundation for developing religious character. However, many students at the Al-Qur'an Education Park (TPQ) still experience difficulties in reading the Qur'an according to the rules of tajwid and writing the hijaiyah letters correctly. This community service activity aims to improve the reading and writing skills of the Qur'an of students at the At-Taqwa TPQ in Penjaringan Village, Rungkut District, through a structured and interactive training program. The method used is the Asset Based Community Development (ABCD) approach by utilizing local potential, involving students, TPQ teachers, students, and community support. The training was carried out for two days, including observation, material delivery, direct practice, and intensive mentoring. The results of the activity showed an increase in the students' ability to read the Qur'an with more precise makharijul huruf and tajwid as well as better ability to write the hijaiyah letters. The percentage of students who experienced difficulties in reading and writing the Qur'an decreased from around 60% to 30% after the training. In addition to improving skills, this activity also increases students' motivation to learn and parental involvement in Quranic education. This program is expected to serve as a model for the sustainable development of Quranic learning at TPQ (Islamic boarding schools) to strengthen Quranic literacy and Islamic values in the communit
FT PENERAPAN NILAI-NILAI HUMANISTIK DALAM PEMBELAJARAN TATANEN DI BALE ATIKAN UNTUK PENGUATAN KARAKTER ANAK DI KELAS 5 SDN 2 TANJUNGSARI
Education at the elementary school level plays a strategic role in shaping students’ character as a foundation for future personality development. At the elementary school age, children are in a stage of moral and social development that is strongly influenced by the learning environment, daily interactions, and concrete experiences they encounter at school. Therefore, character education in elementary schools needs to be designed not only through cognitive instruction but also through meaningful, contextual learning experiences that engage students’ affective and psychomotor domains. Humanistic values represent a set of values that place human beings at the center of the educational process. The research methodology used in this study is qualitative research with a case study design. This approach is employed to gain an in-depth understanding of how humanistic values are implemented in Tatanén learning activities at Balé Atikan and how these values contribute to strengthening students’ character. Overall, the findings indicate that Tatanén learning at Bale Atikan in SDN 2 Tanjungsari has effectively served as a medium for implementing humanistic values. Through activities such as farming, caring for the environment, working in groups, engaging in reflection, and making meaning of each process involved, students gain authentic learning experiences that reinforce values of empathy, responsibility, independence, care, cooperation, and respect for life.Pendidikan pada jenjang sekolah dasar memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik sebagai fondasi bagi perkembangan kepribadian di masa depan. Pada tahap usia sekolah dasar, anak berada pada fase perkembangan moral dan sosial yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan pembelajaran, interaksi sehari-hari, serta pengalaman konkret yang mereka alami di sekolah. Karena itu, pendidikan karakter di sekolah dasar perlu dirancang tidak hanya melalui pengajaran kognitif, tetapi juga pengalaman belajar yang bermakna, kontekstual, dan menyentuh aspek afektif serta psikomotor peserta didik. Nilai humanistik merupakan seperangkat nilai yang menempatkan manusia sebagai pusat dari proses pendidikan. Metodologi penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah metodologi penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Pendekatan ini digunakan untuk memahami secara mendalam bagaimana nilai-nilai humanistik diterapkan dalam kegiatan pembelajaran Tatanén di Balé Atikan serta bagaimana nilai-nilai tersebut berkontribusi terhadap penguatan karakter peserta didik. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Tatanén di Bale Atikan di SDN 2 Tanjungsari telah mampu menjadi media efektif dalam menerapkan nilai-nilai humanistik. Melalui kegiatan bercocok tanam, merawat lingkungan, bekerja kelompok, melakukan refleksi, hingga memaknai setiap proses yang terjadi, anak mendapatkan pengalaman belajar autentik yang memperkuat nilai empati, tanggung jawab, kemandirian, kepedulian, kerja sama, serta penghargaan terhadap kehidupan
FT PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN DALAM PERSPEKTIF KI HAJAR DEWANTARA DAN IMPLIKASINYA BAGI PENDIDIKAN SMP
This study is grounded in the thought of Ki Hajar Dewantara, who viewed education as an effort to liberate human beings—that is, to shape learners so that they can develop in accordance with their natural potential, possess noble character, and become independent individuals without losing their human values. This study aims to: (1) describe the concept of liberating education according to Ki Hajar Dewantara; (2) analyze the relevance of this concept to the needs of 21st-century education; and (3) examine the implications of Ki Hajar Dewantara’s ideas for the education system at the junior high school level, including aspects of curriculum, learning, school management, and institutional culture. The method employed is library research using a descriptive qualitative approach. Data sources include the original works of Ki Hajar Dewantara, academic studies on character education and humanistic education, as well as national education policy documents such as the Merdeka Curriculum and the Pancasila Student Profile. The data were analyzed through data reduction, categorization, interpretation, and thematic conclusion drawing. The findings indicate that Ki Hajar Dewantara’s concept of liberating education emphasizes three main principles: (1) exemplary leadership (ing ngarso sung tulodo), (2) empowerment and motivation (ing madya mangun karso), and (3) encouragement of independence (tut wuri handayani). These three principles have strong implications for the junior high school education system. In terms of curriculum, there is a need to strengthen flexibility, learning differentiation, and character development. In the learning process, teachers need to act as mentors who guide students through dialogical, reflective, and experiential approaches. In terms of school management, a democratic and participatory school culture is required, positioning students as active subjects of learning. This study concludes that the implementation of liberating education at the junior high school level can strengthen a humanistic educational ecosystem that is relevant to the developmental needs of learners.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemikiran Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai upaya memerdekakan manusia, yaitu membentuk peserta didik agar mampu berkembang sesuai kodratnya, memiliki budi pekerti, serta mampu berdiri sendiri tanpa kehilangan nilai kemanusiaannya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan konsep pendidikan yang memerdekakan menurut Ki Hajar Dewantara; (2) menganalisis relevansi konsep tersebut dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21; dan (3) mengkaji implikasi pemikiran Ki Hajar Dewantara terhadap sistem pendidikan di SMP, baik pada aspek kurikulum, pembelajaran, manajemen sekolah, maupun budaya satuan pendidikan. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data meliputi karya asli Ki Hajar Dewantara, kajian akademik tentang pendidikan karakter dan pendidikan humanistik, serta dokumen kebijakan pendidikan nasional seperti Kurikulum Merdeka dan Profil Pelajar Pancasila. Data dianalisis melalui teknik reduksi data, kategorisasi, interpretasi, serta penarikan kesimpulan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pendidikan yang memerdekakan menurut Ki Hajar Dewantara menekankan tiga prinsip utama: (1) keteladanan (ing ngarso sung tulodo), (2) pemberdayaan dan motivasi (ing madya mangun karso), dan (3) dorongan kemandirian (tut wuri handayani). Ketiga prinsip tersebut memiliki implikasi yang kuat bagi sistem pendidikan di SMP. Pada aspek kurikulum, diperlukan penguatan fleksibilitas, diferensiasi pembelajaran, dan pengembangan karakter. Pada aspek pembelajaran, guru perlu berperan sebagai pamong yang membimbing peserta didik melalui pendekatan dialogis, reflektif, dan berbasis pengalaman. Pada aspek manajemen sekolah, diperlukan budaya sekolah yang demokratis, partisipatif, serta menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan pendidikan yang memerdekakan di SMP dapat memperkuat ekosistem pendidikan yang humanis dan relevan dengan tuntutan perkembangan peserta didik
FT PENERAPAN PRINSIP FILSAFAT PROGRESIVISME DALAM PEMBELAJARAN KOLABORATIF PAI DI SMP: ANALISIS KESENJANGAN FILOSOFIS DAN KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL
Twenty-first-century education demands a paradigm shift from conventional, teacher-centered learning to student-centered learning. This demand aligns with the Kurikulum Merdeka, which emphasizes critical, creative, and collaborative competencies. The philosophy of progressivism (John Dewey) offers a theoretical foundation through the principles of learning by doing and cooperative learning. This study aims to gain an in-depth understanding of the implementation of progressivist principles in collaborative learning in Islamic Religious Education (PAI) at SMP Negeri 6 Darangdan. Employing a qualitative approach with a case study method, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation analysis. The findings indicate that the implementation of progressivism remains administrative rather than philosophical in nature. There is a significant gap between planning documents (lesson plans/teaching modules) that include progressive labels such as Problem-Based Learning and actual classroom practices, in which teachers’ roles as facilitators have not been optimally realized. Furthermore, although school managerial support is strong at the policy level, weaknesses were identified in the area of instructional leadership, as supervision focuses primarily on administrative completeness rather than on pedagogical coaching for teachers. This study concludes that progressive PAI learning requires strong integration between teachers’ pedagogical commitment and capacity-based managerial support.Pendidikan abad ke-21 menuntut pergeseran paradigma dari pembelajaran konvensional (teacher-centered) menjadi student-centered. Tuntutan ini sejalan dengan Kurikulum Merdeka yang menekankan kompetensi kritis, kreatif, dan kolaboratif. Filsafat progresivisme (John Dewey) menawarkan landasan teoretis melalui prinsip learning by doing dan pembelajaran kooperatif. Penelitian ini bertujuan memperoleh pemahaman mendalam mengenai penerapan prinsip progresivisme dalam pembelajaran kolaboratif Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP Negeri 6 Darangdan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi progresivisme masih bersifat administratif, bukan filosofis. Terjadi kesenjangan signifikan antara perencanaan (RPP/Modul Ajar) yang mencantumkan label progresif (Problem-Based Learning) dengan praktik di kelas, di mana peran guru belum optimal sebagai fasilitator. Lebih lanjut, meskipun dukungan manajerial sekolah kuat pada aspek kebijakan, ditemukan kelemahan pada aspek Kepemimpinan Instruksional (instructional leadership) karena supervisi hanya fokus pada kelengkapan administrasi, bukan pada coaching pedagogis guru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran PAI yang progresif memerlukan integrasi yang kuat antara komitmen pedagogis guru dengan dukungan manajerial berbasis kapasitas
FT PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP IMPLEMENTASI PENDIDIKAN DI SMP
The changes brought about by digital technology have had a significant impact on the process of identity formation among adolescents, particularly junior high school students who are in a transitional phase toward adulthood. In the environment of SMPN 2 Babakan Cikao Purwakarta, the use of social media and intense digital interaction has given rise to various issues, such as a tendency toward self-comparison, a decline in the authenticity of expression, anxiety over social judgment, and experiences of alienation from the real environment. This situation indicates the need for an educational approach that is able to address the personal dimension and the meaning of students’ lives. This study examines the relevance of existentialist thought, particularly the ideas of Sartre, Kierkegaard, and Frankl, as a foundation for guiding adolescents to understand themselves more holistically amid the flow of digitalization. The study is conducted using a descriptive qualitative research method based on a literature review, examining various relevant academic sources. The results show that adolescents face challenges such as undirected freedom, pressure to conform, the need for digital recognition, and a sense of meaninglessness. Through education grounded in existential values, teachers can act as facilitators who help students develop responsibility, moral courage, reflective thinking, healthy human relationships, and deeper ethical awareness. The findings of this study emphasize the importance of integrating an existential perspective into the learning process so that students are able to build a more mature identity and discover an authentic direction in life.Perubahan yang dibawa oleh teknologi digital memberikan dampak besar bagi proses pencarian identitas pada remaja, terutama siswa SMP yang sedang berada pada fase peralihan menuju kedewasaan. Di lingkungan SMPN 2 Babakan Cikao Purwakarta, penggunaan media sosial dan interaksi digital yang intens memunculkan berbagai persoalan seperti kecenderungan membandingkan diri, menurunnya keaslian ekspresi, rasa cemas terhadap penilaian sosial, serta pengalaman terasing dari lingkungan nyata. Situasi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan pendidikan yang mampu menyentuh dimensi pribadi dan makna hidup siswa. Penelitian ini mengkaji relevansi pemikiran eksistensialisme, khususnya gagasan Sartre, Kierkegaard, dan Frankl, sebagai dasar dalam membimbing remaja untuk memahami dirinya secara lebih utuh di tengah arus digitalisasi. Kajian dilakukan melalui metode penelitian kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka dengan menelaah berbagai literatur akademik yang relevan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa remaja menghadapi tantangan kebebasan yang tidak terarah, tekanan untuk menyesuaikan diri, kebutuhan pengakuan digital, serta kekosongan makna. Melalui pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai eksistensial, guru dapat berperan sebagai pendamping yang membantu siswa menumbuhkan tanggung jawab, keberanian bersikap, pemikiran reflektif, relasi kemanusiaan yang sehat, dan kesadaran etis yang lebih dalam. Temuan penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi perspektif eksistensial dalam proses pembelajaran agar siswa mampu membangun identitas yang lebih matang dan menemukan arah hidup secara autentik
FT PEMIKIRAN PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI TINGKAT SMP
This study aims to conduct an in-depth analysis of Ki Hajar Dewantara’s ideas on emancipatory education and to identify their implications for the education system at the junior secondary level (Sekolah Menengah Pertama). Amid the implementation of the Kurikulum Merdeka and the various challenges of twenty-first-century education, Ki Hajar Dewantara’s educational philosophy has regained relevance as a foundation for transforming learning practices. This study employs a library research method with a qualitative–narrative approach. The primary data are derived from the works of Ki Hajar Dewantara, while secondary data come from books, academic journals, and policy documents related to national education and the Kurikulum Merdeka. The findings indicate that emancipatory education according to Ki Hajar Dewantara is a process of “guiding” all of a child’s innate potentials through the among system, which is grounded in the principles of asih (care), asah (intellectual development), and asuh (nurturing). Education is directed toward enabling learners to attain the highest possible levels of safety and happiness as individuals and as members of society, emphasizing a balanced development of cipta (thought), rasa (feeling), karsa (will), and pekerti (character). In the context of junior secondary schools, these ideas call for a paradigm shift from teacher-centered and exam-oriented learning toward student-centered, contextual, and differentiated learning that integrates character strengthening. Teachers assume the role of pamong by applying the educational trilogy Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, and Tut Wuri Handayani. The practical implications are reflected in curriculum design, pedagogical practices, and holistic assessment oriented toward the development of the Profil Pelajar Pancasila.Penelitian ini bertujuan menganalisis secara mendalam pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang memerdekakan dan mengidentifikasi implikasinya terhadap sistem pendidikan pada jenjang SMP (Sekolah Menengah Pertama). di tengah implementasi Kurikulum Merdeka dan aneka macam tantangan pendidikan abad ke-21, filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara kembali relevan menjadi landasan transformasi praktik pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif-naratif. Data utama bersumber dari karya-karya Ki Hajar Dewantara, sedangkan data sekunder dari asal buku, jurnal, dan dokumen kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan nasional dan Kurikulum Merdeka. hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan yang memerdekakan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan proses “menuntun” segala kekuatan kodrat anak melalui sistem among yang berlandaskan asih, asah, dan asuh. Pendidikan diarahkan agar peserta didik mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai individu dan anggota masyarakat, dengan menekankan keseimbangan cipta, rasa, karsa, serta pekerti. pada konteks Sekolah Menengah Pertama, pemikiran tersebut menuntut pergeseran paradigma dari pembelajaran yang bersifat teacher-centered serta exam-oriented menuju pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, bersifat kontekstual, diferensiatif, dan mengintegrasikan penguatan karakter. guru berperan sebagai pamong yg menerapkan trilogi pendidikan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani. implikasi praktisnya tampak di desain kurikulum, praktik pedagogi, dan asesmen yang keseluruhan dan berorientasi pada pengembangan Profil Pelajar Pancasila
PEMBINAAN SANTRI DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN PEMAHAMAN ILMU TAJWID DI RTQ BIDAYATUN NASYIIN WARU SIDOARJO
Santri development in Qur’anic learning, particularly in mastering tajwid, is essential to ensure accurate and proper recitation in accordance with the principles of tartil. However, many santri are able to read the Qur’an fluently without having sufficient understanding of tajwid rules. This Community Service Program (Pengabdian kepada Masyarakat/PKM) aimed to improve santri’s knowledge and understanding of tajwid at Rumah Tahfidz Al-Qur’an (RTQ) Bidayatun Nasyi’in, Waru, Sidoarjo. The program employed the Participatory Action Research (PAR) approach, which involved planning, action, and evaluation stages conducted collaboratively. The activities were carried out for 14 days, from December 9 to December 22, 2025, through strengthening tajwid theory, practicing Qur’anic recitation with tartil, direct mentoring by teachers, and routine evaluations. The results indicated an improvement in santri’s understanding of makharijul huruf and recitation rules, as well as their ability to apply tajwid principles correctly in reading the Qur’an. Furthermore, the program enhanced active participation, learning discipline, and reinforced social and religious values within the RTQ environment. Therefore, santri development based on the PAR approach proved to be effective and transformative in improving the quality of Qur’anic recitation and tajwid comprehension in a sustainable manner