Integritas - Jurnal Teologi
Not a member yet
    56 research outputs found

    Pancasila Sebagai Landasan Visional bagi Spiritualitas Kehidupan Bangsa Indonesia dalam Menangani Intoleransi

    No full text
    Rezim orde baru dan era reformasi tahun 1998 adalah peristiwa keterpurukan pandangan hidup suatu bangsa sehingga dihapuskannya kebijakan sosialisasi nilai nilai Pancasila dan UUD NRI 1945 sebagai landasan visonal dalam kehidupan sosial politik dan kemasyarakatan, aksi aksi radikalisme dan terorisme oleh kelompok kelompok radikal. Secara psikologis sosial masyarakat dalam posisi dilematis, sudah meninggalkan nilai keyakinan yang lama, tapi nilai tatanan baru belum tersedia. Euforia kebebasan dan reformasi telah mendorong munculnya paham paham baru yang belum tentu sesuai dengan nilai kehidupan berbangsa dan bernegara, salah satunya adalah munculnya kelompok kelompok keagamaan dengan faham radikal yang mendorong tindakan kekerasan ekstrimisme dan terorisme. Berdasarkan deskripsi kondisi ini, maka permasalahan utamanya yaitu belum optimalnya implementasi nilai nilai Pancasila dalam menghadapi radikalisme dan terorisme, sehingga mempengaruhi ketahanan ideologi yang pada akhirnya berdampak terhadap ketahanan nasional. Landasan visional terhadap Pancasila perlu dipahami dengan benar dan tepat.The new order regime and the reformation era in 1998 were the events of the deterioration of the life outlook of a nation so the abolition of the policy of the dissemination ​​of the value of Pancasila and the UUD NRI 1945 Constitution of the Republic as a visual basis in social. Political and social life. Acts of radicalism and terrorism by radical groups. Psychologically the social community in a dilemmatic position has already left the old belief value, but the value of the new order is not yet available. The euphoria of freedom and reform has led to the emergence of new ideologies that are not necessarily in accordance with the values ​​of the life of the nation and state, one of which is the emergence of religious groups with radical ideologies that encourage violent acts of extremism and terrorism. Based on the description of this condition, the main problem is not yet optimal implementation of the values ​​of the Pancasila in dealing with radicalism and terrorism, thus affecting ideological resilience which ultimately impacts on national resilience. The visual foundation for Pancasila needs to be understood correctly

    Tinjauan Pengaruh Omnibus Law Terhadap Penerimaan Negara Dari Perspektif Alkitab

    No full text
    ABSTRAK: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh Omnibus Law terhadap penerimaan negara pajak dan non-pajak serta mempertanyakan tentang sikap Kristen terhadap pemerintah dan pajak. Dalam memfokuskan penelitian tentang pengaruh kebijakan Omnibus Law terhadap penerimaan negara pajak dan non-pajak, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan guna membahas secara panjang dan lebar tentang topik terkait, yaitu Pertama, Bagaimanakah pengaturan tentang pajak dalam peraturan perundang-undangan? Kedua, Bagaimana peraturan baru tentang pajak dalam Omnibus Law mempengaruhi kondisi sosial ekonomi dan kepatuhan hukum masyarakat dalam bidang pajak? Ketiga, Bagaimana pengaruh Omnibus Law secara khusus dalam penerimaan negara pajak dan non pajak? Kempat, Bagaimana sikap Alkitab, khususnya sikap Kristen terhadap pemerintah dan pajak sebagai bagian dari penerimaan negara? Dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian di atas, maka pokok-pokok utama yang akan dibahas adalah, 1) Landasan Teori Pajak dan Konsep Penerimaan Negara, dan 2) Implementasi Omnibus Law terhadap Penerinaan Negara Pajak dan Non-pajak dari Sudut Pandang Alkitab.This research deals with the effort on how far is the influence of Omnibus Law toward state or federal income in line with taxation and non-taxation. The focus of the research are four folds, namely, First, How does the constitution regulate tax within the context of formal law? ; Second, How does the new regulation set in the Omnibus Law influence the economic and social condition and also the obedience to law within the context of tax law?; Third, How does the Omnibus Law specifically effect the country’s tax based and non tax based revenue? ; Fourth, How can a Christian express their attitude from a Biblical standpoint in relation to the government and taxation specifically tax as the main source of revenue for the country?In providing answers to the questions above, the main topics to be discussed in this research includes 1)The Tax Laws Theory and the Concept of State Revenue, and 2)Implementation of Omnibus Law in relation to the State Tax and Non-tax based Revenue from Biblical Vie

    Cyber Parenting In Society 5.0

    No full text
    The family is the first educational environment for children, because in this environment the child first gets education and guidance from both parents. Education in the family does not have the curriculum as usual as in schools in general, the family environment is believed to be a strong foundation for children's education, because children are born and raised in the family environment. Therefore, it is a good time to instill the values ​​of character, character, and good behavior from parents to their children. Thus it is clear that the first and foremost person responsible (parenting) for the survival and education of children is the parent. The family environment must give full role to the development of the family to provide a comprehensive and sustainable education system. Parents (parents) must provide for both biological and psycholytic needs for their children, and educate and guide in religious spiritual life so that children become resilient and can live in the midst of society. There are still parents who only understand part of the responsibility for raising children in the family. Therefore, it is very important for parents to understand and have the principles or the right way to educate and guide and raise children in the family in the middle of the Information Technology Gereration 5.0 community that is "real time access" in electronic transactions that operate with speed and high accuracy

    Peranan Pendidikan Agama Kristen Bagi Pembinaan Anak Tunagrahita

    No full text
    Christian Religious Education has a role in fostering mentally retarded children so that they know God in their daily lives, and apply that education through their actions towards God, self, and others. Looking at the results of a research survey it appears that BEFORE retarded children receive education at C1 level SLB, many parents and even the environment are less accepting of their existence; Shyness and low self-esteem are seen in mentally retarded children; the development of children's abilities in trying to help themselves is still difficult; adaptation to the environment is still difficult; parental responses to educators in implementing PAK are still not emphasizing; the development of thinking, emotions, behavior, speech is still lacking. Seeing the condition of mentally retarded parents and children as above, they really need a Christian educator who can support, direct, educate, and foster them with great love and patience. For this reason a Christian educator needs to understand techniques in teaching, using appropriate teaching methods, getting to know the character of each of his students, even teachers must be able to train and equip them with the teachings of the Word of God so that through this parents can accept the existence of their children, and children can also do something by yourself. Through education given to mentally retarded children they also experience the development of thinking, emotions, behavior, and speaking. Parents also have an important role in developing, educating, training and teaching them with love. Parents can perform their role properly and correctly if he accepts all of their children's existence in learning, and parents must also be a driving force for their lives in learning and playing so that the child's development can continue to be monitored and children can live independently in carrying out their responsibilities as a child students. The purpose of writing this article is firstly, when mentally retarded children receive a Christian Religious Education they can apply the Word of God through their attitudes toward God, such as praying, singing, and listening to the Word. Second, besides praying, singing, they can help each other help, love. Third, based on the education provided they can take care of themselves, pay respect to older people. Fourth, their recognition of the Lord Jesus is clearer and educators must provide examples and examples for them. The discussion in the writing of this article is about the introduction of mentally retarded children; Christian Religious Education for the development of mentally retarded children; the role of parents in handling mental retardation children.Pendidikan Agama Kristen memiliki peran di dalam membina anak tunagrahita sehingga mereka mengenal Tuhan di dalam kehidupannya sehari-hari, serta menerapkan pendidikan tersebut melalui tindakannya terhadap Tuhan, diri, dan sesamanya. Melihat hasil survei penelitian terlihat bahwa sebelum anak-anak tunagrahita memperoleh pendidikan di SLB tingkat C1 maka banyak orangtua bahkan lingkungannya kurang menerima keberadaan mereka; sikap malu dan rendah diri terlihat pada anak tunagrahita; perkembangan kemampuan anak dalam usaha menolong diri sendiri masih sulit dilakukan; penyesuaian diri terhadap lingkungan masih sulit; tanggapan orangtua terhadap pendidik di dalam menerapkan PAK masih kurang menekankan; perkembangan berpikir, emosi, tingkahlaku, bicara masih sangat kurang. Melihat keadaan orangtua dan anak-anak tunagrahita seperti di atas, maka mereka sangat membutuhkan seorang pendidik Kristen yang dapat mensuport, mengarahkan, mendidik, dan membina mereka dengan penuh cinta kasih dan kesabaran yang sangat mendalam. Untuk itu seorang pendidik Kristen perlu memahami teknik dalam mengajar, memakai metode mengajar yang tepat, mengenal karakter dari setiap anak didiknya, bahkan naradidik pun harus mampu melatih dan melengkapi mereka dengan ajaran Firman Tuhan sehingga melalui ini orangtua  dapat menerima keberadaan anaknya, serta anak pun bisa melakukan sesuatu dengan sendiri. Melalui pendidikan yang diberikan kepada anak-anak tunagrahita mereka pun mengalami perkembangan berpikir, emosi, tingkahlaku, dan bicara. Orangtua pun mempunyai peranan penting di dalam membina, mendidik, melatih, dan mengajar mereka dengan penuh cinta kasih. Orangtua dapat melakukan peranannya dengan baik dan benar apabila ia menerima segala keberadaan anaknya di dalam belajar, dan orangtua pun harus menjadi pendorong bagi kehidupan mereka di dalam belajar maupun bermain sehingga perkembangan anak dapat terus dimonitor dan anak dapat hidup mandiri di dalam melakukan tugas tanggungjawabnya sebagai anak didik. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah pertama, ketika anak tunagrahita menerima Pendidikan Agama Kristen maka mereka dapat menerapkan Firman Tuhan itu melalui sikapnya kepada Tuhan, seperti berdoa, bernyanyi, dan mendengarkan Firman. Kedua, selain berdoa, bernaynyi, mereka pun dapat saling tolong menolong, mengasihi. Ketiga, berdasarkan pendidikan yang diberikan maka mereka dapat merawat diri sendiri, memberi hormat kepada orang yang lebih tua. Keempat, pengenalan mereka kepada Tuhan Yesus semakin jelas dan pendidik pun harus memberikan contoh dan teladan kepada mereka.        Pembahasan dalam tulisan artikel ini adalah berkisar kepada peristilahan luar biasa dan pengertian anak tunagrahita, pengenalan anak tunagrahita; Pendidikan Agama Kristen bagi pembinaan anak tunagrahita; peranan orangtua dalam menanggani anak tunagrahita

    Terang di Tengah Kegelapan: Sebuah Analisis Sastra Rut 1

    No full text
    Terang di Tengah Kegelapan: Sebuah Analisis Sastra Rut 1. Rut 1 adalah episode yang penting dalam keseluruhan bangunan kisah Rut. Pasal ini memperkenalkan latar cerita dan permasalahannya, meningkatkan ketegangan cerita, serta menggerakkan cerita menuju resolusinya. Oleh sebab itu penting sekali untuk mempelajari pasal ini secara utuh dengan mempertimbangkan kesatuan dari unit-unit sastra yang membangun narasinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisis sastra narasi atau sering disebut kritik narasi. Hasil penelitian ditemukan bahwa komitmen setia Rut kepada bangsa Israel, Allah Israel, dan Naomi menerangi kisah dalam pasal 1 yang dipenuhi dengan kegelapan.Light in the Darkness: A Literary Analysis of Ruth 1. Ruth 1 is an important episode in the building-up of Ruth's story. This chapter introduces the setting of the story and the problem, increases the tension of the story, and moves the story towards resolution. Therefore it is very important to study this chapter in its entirety by considering the unity of the literary units that construct the narrative. The method used in this research is a qualitative method with a narrative literary analysis approach or often called narrative criticism. The research found that Ruth's loyal commitment to the nation of Israel, the God of Israel, and Naomi illuminates the story in chapter 1 which is filled with darkness

    Misi Gereja Yang Visioner Dan Misioner Di Tengah Dunia Yang Berubah

    No full text
    The topic surrounding the visionary and missionary nature of the church is an ongoing discussion, which in turn could help churches in general to articulate the importance, responsibility, and role of the church. The entire dimension of being a Church have to be understood in order to give meaning for its presence on earth. When Jesus Christ said, “they (the Church) are being in the world, …..they (the Church) are being for the world (John 17:11b; 16b), He was referring to the complete substance of the Church. This reality underlies the fact that “the church have a heavenly body, but the church is also in the world therefore it has to be down to earth. Having a comprehensive understanding of this matter is important, to where this will enable the church to position itself accordingly in its respective context. With this knowledge and perspective, the Church can prove that it has “a visionary and missionary nature” to mark its presence as an instrument of God’s grace for the world with the right attitude and self positioning within the appropriate context with today’s condition.Pokok kajian tentang Gereja yang visioner dan misioner adalah penting, yang menolong gereja untuk merumuskan substansi, tanggung jawab serta perannya secara jelas. Disadari atau tidak, gereja sesungguhnya memiliki dimensi utuh dan kompleks. Dimensi Gereja ini harus dipahami, guna memberikan makna bagi kehadirannya di bumi. Tatkala Yesus Kristus mengatakan bahwa “mereka (Gereja) masih ada di dalam dunia,..... mereka (Gereja) bukan dari dunia” (Yohanes 17:11b, 16a), maka Ia sedang mengungkapkan dimensi utuh dari Gereja. Kebenaran ini menjelaskan bahwa “gereja memiliki diri yang sorgawi, tetapi gereja juga berada di dunia yang olehnya gereja harus membumi”. Pemahaman diri Gereja seperti ini adalah penting, yang menolong Gereja untuk menempatkan diri ini secara tepat di dalam setiap konteks. Dengan pemahaman dan pemaknaan diri seperti ini, maka Gereja sedang membuktikan bahwa “gereja adalah visioner dan misioner”. Pemahaman Gereja yang visioner dan misoner menolong Gereja menandakan kehadirannya sebagai instrumen anugerah Allah bagi dunia dengan sikap serta penempatan dirinya secara patut dalam konteks serta kondisi kekinian

    Pemanfaatan Nilai Siri’ Na Pacce sebagai Sarana Mengomunikasikan Identitas Serta Tujuan Sekolah Kristen Di Makassar

    No full text
    This paper is motivated by anxiety about the challenges faced around the implementation of education in the city of Makassar. In that context Christian schools have major challenges in the social context of Makassar which is experiencing global developments. One of the challenges is how Christian schools are still able to dialogue about identity and purpose by utilizing cultural values ​​or local wisdom. The local wisdom in question is to raise the siri 'na pacce value. Siri 'na pacce is a virtue in the social community of Bugis-Makassar to maintain the integrity and purpose of their lives. The value of the siri’ na pacce is then dialogue with the value of integrity and purpose in biblical teaching that characterizes education in Christian schools. It was found that the value of the siri’ na pacce could be appointed as part of the establishment of the value of integrity to maintain the identity and purpose of education. With the implementation of the siri’ na pacce values, it is expected that Christian schools do not run away in their characteristics and objectives and are not trapped in exclusivity that results in alienation.Tulisan ini dilatarbelakangi oleh kegelisahan terhadap tantangan yang dihadapi seputar penyelenggaraan pendidikan di kota Makassar. Dalam konteks itu sekolah-sekolah Kristen memiliki tantangan besar dalam konteks sosial Makassar yang sedang mengalami perkembangan global. Salah satu tantangannya adalah bagimana sekolah-sekolah Kristen tetap mampu mendialogkan identitas dan tujuannya dengan memanfaatkan nilai kultural atau kearifan lokal. Kearifan lokal yang dimaksud adalah dengan mengangkat nilai  siri’ na pacce. Siri’ na pacce adalahnilai keutamaan dalam masyarakat sosial Bugis–Makassar untuk mempertahankan integritas dan tujuan hidupnya. Nilai siri na pacce tersebut kemudian didialogkan dengan nilai integritas dan tujuan dalam pengajaran alkitab yang mewarnai pendidikan di sekolah-sekolah Kristen. Ternyata ditemukan bahwa nilai siri na pacce dapat diangkat sebagai bagian dari pembentukan nilai integritas untuk mempertahanan identitas dan tujuan pendidikan. Dengan pengamalan nilai siri na pacce tersebut diharapkan sekolah-sekolah Kristen tidak kabur dalam ciri dan tujuannya dan tidak terjebak dalam eksklusivitas yang berdampak alienasi

    Peran Pembinaan Warga Jemaat Dalam Menghadapi Fenomena Kekerasan Dalam Pacaran Pada Remaja

    No full text
    Violence in courtship is a problem that requires handling from various parties, both partially and structured. The author uses a literature study approach to examine this issue. In this study emphasizes that there is a role for the church in providing guidance to adolescents to reduce the occurrence of violence in courtship. The church needs to provide a forum within the framework of fostering members of the congregation to minimize the occurrence of dating violence.Kekerasan dalam pacaran adalah masalah yang memerlukan penanganan dari berbagai pihak, baik secara parsial mapun terstruktur. Penulis menggunakan pendekatan studi pustaka untuk meneliti isu ini. Dalam penelitian ini menekankan bahwa ada peran gereja dalam melakukan pembinaan pada remaja guna menekan terjadinya kekerasan dalam pacaran. Gereja perlu menyediakan wadah dalam kerangka pembinaan warga jemaat guna meminimalkan terjadinya kekerasan dalam pacaran

    Strategi Pelibatan Anggota Jemaat Mewujudkan Misi Gereja yang Sehat

    No full text
    Strategi pelibatan anggota jemaat mewujudkan misi pertumbuhan gereja yang sehat. Perkembangan dan kemajuan teknologi dunia saat ini luar biasa pesatnya, sehingga gereja Tuhan di seluruh dunia dan secara khusus di Indonesia dituntut untuk terus menerus memperbaharui strategi pelayanannya supaya tetap relevan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan studi terhadap literatur atau sumber-sumber pustaka dengan analisis deskriptif secara tematis. Pokok kajian yang ditemukan pentingnya strategi pelibatan anggota jemaat dalam mewujudkan pertumbuhan gereja yang sehat. Diperlukan panggilan dan peran tanggung jawab gereja yang sehat dan menghadirkan keterlibatan dalam memenangkan jiwa melalui pemuridan dalam kelompok sel. Dengan melihat perkembangan teknologi yang begitu cepat berubah dan yang juga langsung berdampak atau berpengaruh terhadap kebudayaan manusia di era ini, maka gereja harus mampu mengantisipasi perubahan ini dengan terus mengembangkan serta memperbaharui strategi pelayanan pembinaan terhadap anggota jemaat, strategi penginjilan, metode-metode yang relevan, dan mampu memanfaatkan seluruh potensi sumber daya jemaat, sarana prasarana yang ada demi mewujudkan misi pertumbuhan gereja yang sehat terkait dengan pelayanan ke atas, pelayanan ke dalam maupun pelayanan ke luar. Untuk mewujudkan misi pertumbuhan gereja yang sehat, dibutuhkan kerja keras dan kemauan gereja yang sehat untuk mau melayani dan bertumbuh dalam iman sehingga menjadi dewasa dalam Tuhan. Apabila gereja terlibat secara sengaja dan melibatkan semua anggotanya dalam penginjilan, maka gereja akan bertumbuh secara sehat serta siap untuk melaksanakan misi shalom dari Allah, kapan, dimana, dalam kondisi apapun tetap teguh.Strategi pelibatan anggota jemaat mewujudkan misi pertumbuhan gereja yang sehat. Perkembangan dan kemajuan teknologi dunia saat ini luar biasa pesatnya, sehingga gereja Tuhan di seluruh dunia dan secara khusus di Indonesia dituntut untuk terus menerus memperbaharui strategi pelayanannya supaya tetap relevan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan studi terhadap literatur atau sumber-sumber pustaka dengan analisis deskriptif secara tematis. Pokok kajian yang ditemukan pentingnya strategi pelibatan anggota jemaat dalam mewujudkan pertumbuhan gereja yang sehat. Diperlukan panggilan dan peran tanggung jawab gereja yang sehat dan menghadirkan keterlibatan dalam memenangkan jiwa melalui pemuridan dalam kelompok sel. Dengan melihat perkembangan teknologi yang begitu cepat berubah dan yang juga langsung berdampak atau berpengaruh terhadap kebudayaan manusia di era ini, maka gereja harus mampu mengantisipasi perubahan ini dengan terus mengembangkan serta memperbaharui strategi pelayanan pembinaan terhadap anggota jemaat, strategi penginjilan, metode-metode yang relevan, dan mampu memanfaatkan seluruh potensi sumber daya jemaat, sarana prasarana yang ada demi mewujudkan misi pertumbuhan gereja yang sehat terkait dengan pelayanan ke atas, pelayanan ke dalam maupun pelayanan ke luar. Untuk mewujudkan misi pertumbuhan gereja yang sehat, dibutuhkan kerja keras dan kemauan gereja yang sehat untuk mau melayani dan bertumbuh dalam iman sehingga menjadi dewasa dalam Tuhan. Apabila gereja terlibat secara sengaja dan melibatkan semua anggotanya dalam penginjilan, maka gereja akan bertumbuh secara sehat serta siap untuk melaksanakan misi shalom dari Allah, kapan, dimana, dalam kondisi apapun tetap teguh

    Strategi Optimalisasi Kinerja Kepemimpinan Gereja Lokal

    No full text
    Artikel ini membahas isu tentang strategi optimalisasi kinerja kepemimpinan pelayanan gereja lokal. Kepemimpinan merupakan suatu objek yang menarik, yang sudah lama diteliti oleh para ilmuwan maupun praktisi organisasi.  Hal ini didasarkan pada fenomena bahwa kepemimpinan merupakan bagian dari kehidupan umat manusia disegala tempat dan masa. Pemimpin merupakan katalisator untuk memastikan berhasil atau tidaknya suatu organisasi.  Peran seorang pemimpin dalam proses kepemimpinan menyentuh fungsi-fungsi kepemimpinan, manajemen, dan administrasi dalam seluruh kerangka kerja dari struktur organisasi.  Gereja sedang diperhadapkan dengan arus perubahan yang begitu cepat. Menyikapi realita ini,  para pemimpin gereja dituntut untuk dapat melakukan perubahan paradigma sehingga mampu mengadakan pembaruan dalam berbagai bidang pelayanan untuk menghadapi tuntutan dan pergumulan pelayanan yang ada.  Oleh sebab itu, artikel ini mengemukakan prinsip-prinsip penting guna mengoptimalkan peran strategis pemimpin guna meningkatkan kinerja kepemimpinan gereja lokal dalam melaksanakan tanggung jawab pelayanannya di tengah dunia.This article discusses the issue of strategies for optimizing the performance of local church ministry leadership. Leadership is an interesting object, which has long been studied by scientists and practitioners of the organization. This is based on the phenomenon that leadership is a part of human life in all places and times. The leader is a catalyst to ensure the success or failure of an organization. The role of a leader in the leadership process touches the functions of leadership, management, and administration in the entire framework of the organizational structure. The church is being faced with a current of rapid change. Responding to this reality, church leaders are required to be able to change paradigms so that they are able to hold reforms in various fields of service to deal with the demands and struggles of existing services. Therefore, this article presents important principles for optimizing the strategic role of leaders to improve the leadership performance of local churches in carrying out their ministry responsibilities in the world

    0

    full texts

    56

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Integritas - Jurnal Teologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇