Integritas - Jurnal Teologi
Not a member yet
56 research outputs found
Sort by
Serving Others: Keteladanan Pelayanan Yesus Kristus Berdasarkan Yohanes 13
To serve is a terminology that is often found in relation with the tasks and responsibilities that are being carried out. This word is an important word that has recently become a jargon used more often by leaders in Indonesia, especially in the context of leadership implementation. Indeed, this is the core of the call that Jesus Christ had taught. However, this term has been reduced to a kind of ordinary terminology without getting any deep meaning. From a Christian perspective (church), to serve is a popular language to translate and to be implemented especially because Jesus Christ taught his disciples and also to His followers. Therefore, when discussing about church affairs it is closely related to how to serve. In addition, to being taught through the Gospel of John and through Mark's Gospel, we learn about the depth of the meaning of service by placing Jesus Christ as Servant - who humbled Himself in order to serve.Melayani (serving) adalah bahasa yang sering ditemukan dalam hubungannya dengan tugas dan tanggung jawab yang sedang diemban. Kata ini merupakan kata penting yang belakangan ini menjadi bahasa yang sering digunakan oleh para pemimpin di Indonesia khususnya dalam konteks kepemimpinan eksekutif. Sesungguhnya ini adalah core panggilan yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Hanya saja, istilah ini telah direduksi menjadi semacam terminologi biasa tanpa mendapat makna yang mendalam. Dalam perspektif Kristen (gereja), melayani adalah bahasa popular untuk menerjemahkan dan mengimplementasikan apa yang diajarkan oleh Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya; kepada para pengikut-Nya. Artinya, ketika berbicara tentang urusan gerejasangat berkaitan erat dengan bagaimana melayani. Selain yang diajarkan melalui Injil Yohanes, melalui Injil Markus, kita belajar tentang kedalaman makna melayani itu dengan menempatkan Yesus Kristus sebagai Hamba – yang menghambakan diri-Nya untuk melayani
Dead Sea Scrolls dan Reliabilitas Alkitab Dalam Perspektif Injili
This article discusses Dead Sea Scrolls and the reliability of the Bible from an evangelical perspective. This review from an evangelical point of view is needed to give perspective to Christian academics, so that they can take a position related to the above mentioned topic. From the results of a study of the Dead Sea Scroll's contribution in relation to the reliability of the Bible, Dead Sea Scroll is indeed a historical and important finding in the field of archeology, especially in connection with the Bible, but it must be realized that not because of archeological evidence that makes the Bible trusted, the Bible can be trusted so there is evidence.Artikel ini membahas tentang Dead Sea Scrolls dan reliabilitas Alkitab yang ditinjau dari perspektif Injili. Tinjauan dari sudut pandang Injili ini diperlukan untuk memberi pandangan bagi akademisi Kristen, sehingga dapat mengambil sikap terkait dengan topik tersebut di atas. Dari hasil studi tentang kontribusi Dead Sea Scroll dalam kaitan dengan reliabilitas Alkitab, Dead Sea Scroll memang menjadi sebuah temuan yang bersejarah dan penting dalam bidang arkeologi khususnya dalam kaitan dengan Alkitab, namun perlu disadari bahwa bukan karena bukti arkeologi yang membuat Alkitab dipercayai, Alkitab dapat dipercayai maka ada bukti.
 
Meletakan Kedudukan PAK Secara Tepat dan Tepat Sasaran Seperti Ajaran Yesus
Put a Christian Religion Education precisely and right on target as the teachings of Jesus for the sake of faith progress. The principle is build on Biblical and historical fact that Jesus is the coaches are taught good news and therefore his disciples called Him Teacher (John 3:2; Mat. 7:29). Understanding of the Christian Religion Education deeply as taught by Lord Jesus at least bring advantage, which are; growth of faith for individual, build a willingnes to be more initiative, proactive, and innovative in taught of Christianity optimaly, and also bring impact for many people to grow in faith. However, in many class discussion, seminars, and observation both directly and indirectly contain of opinions explain that the role of Christian Religion Education is not yet appropriate to the target and churchess do not equal in applying Christian Religion Education enterestingly and being maximum. Therefore, very important to understand the role of Christian Religion Education which contain of important staples, in from of special values, purposes, history, philosophy, basic biblical theological in order to implement Christian Religion Education in more advance and right on target. Christianity education can be said diferent from education in general since Christian Education was programmed or planned by GOD Himself and bequeathed to those who has been chosen individualy or in community to forward Jesus taught, testify, taugth and preaching the good news from age to age. Called that education Christianity different from education in general are Christianity education can be understood as religious education, spiritual education or education of the faith. To equip believers with knowledge and truth trough the holy spirit works. Meletakkan kedudukan PAK secara tepat dan tepat sasaran seperti ajaran Yesus demi mewujutkan iman bertumbuh. Prinsip ini dibangun berdasarkan ajaran Alkitab dan fakta sejarah bahwa Yesus seorang pengajar yang telah mengajarkan kabar baik dan karena itu murid-murid-Nya menyebut Ia sebagi Guru (Yoh.3:2; Mat.7:29). Pemahaman secara mendalam tentang kedudukan PAK seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus setidaknya membawa keuntungan yakni untuk pertumbuhan iman secara individu, terbangunnya tekat untuk terus berinisiatif, proaktif, dan berinovasi mengajarkan PAK secara maksimal, dan membawa dampak bagi sebanyak mungkin orang untuk bertumbuh dalam iman. Akan tetapi diskusi dalam kelas perkuliahan, seminar, dan observasi baik secara langsung maupun tidak langgsung masih diwarnai dengan pendapat yang menjelaskan bahwa peran dan kedudukan PAK belum tepat sasaran dan gereja belum merata mewujudkan peran PAK secara menarik dan maksimal. Untuk itu, sangat perlu memahami kedudukan PAK yang berisikan pokok penting yaitu berupa nilai-nilai khas, isi/tujuan, sejarah, dasar filosofi/filsafat, landasan teologis/alkitabiah agar implementasi PAK makin maju dan tepat sasaran. PAK dapat dikatakan berbeda dengan pendidikan pada umumnya karena PAK adalah pendidikan yang diprogramkan atau direncanakan oleh Allah sendiri yang telah ada, sedang, dan terus diwariskan kepada orang-orang yang dipilih-Nya secara pribadi maupun kepada kelompok atau komunitas tertentu untuk meneruskan ajaran Tuhan Yesus, bersaksi, mengajarkan, dan memberitakan kabar baik dari zaman ke zaman. Disebut bahwa PAK berbeda dengan pendidikan pada umumnya ialah karena PAK dapat dipahami sebagai “pendidikan religius, pendidikan rohani, atau pendidikan iman” dan juga sebagai “ilmu.” Untuk memperlengkapi orang percaya dengan pengetahuan dan kebenaran melalui karya Roh Kudu
Peran Gereja Mewujudkan Tanggung Jawab Sipil Pembangunan Karakter Bangsa
The Church as the People of the LORD God have integral responsibility. This integral responsibility has holistic natures related to various aspects in life. Civil responsibility is one of the responsibility of the church. All of the church civil responsibility is closely related to the total development of the society and the nation to the larger extent. The foundation of church civil responsibility is developing the feeling of being one nation as part of character development being held in the community development. The specific focus of developing the feeling of being one nation in essence is to strengthen nation identity. The character development is tightly related to national education as a tool to achieve such noble end. This research is based on the ideal to help the church in cooperation with the nation wide societies to be involved in the national development of character building ot its community.Gereja sebagai Umat TUHAN Allah memiliki tanggung jawab yang integral. Tanggung jawab integral gereja ini bersifat holistik yang menyentuh segala bidang hidup. Salah satu tanggung jawab dimaksud adalah peranan sipil. Peranan sipil gereja berhubungan erat dengan tanggung jawab berkehidupan berbangsa dan bermasyarakat dalam semua bidang kehidupan. Dalam kaitan ini, peranan mendasar dari tanggung jawab sipil gereja ini adalah pembentukan karakter bangsa. Pembentukan karakter bangsa secara khusus berhubungan erat dengan peneguhan jati diri bangsa. Pembentukan karakter bangsa ini berhubungan erat dengan pendidikan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan mulia ini. Dari sudut pandang inilah kajian ini dikembangkan untuk memberikan acuan bagaimana gereja terlibat dalam membangun bangsa bersama-sama dengan seluruh komponen masyarakat
Peran Komunikator Kristen Dalam Strategi Pekabaran Injil Di Era Revolusi Industri 4.0
oai::article/3Artikel ini membahas tentang peran komunikator dalam strategi penginjilan di era revolusi industri 4.0. Perkembangan teknologi di era revolusi industri telah menimbulkan kegelisahan akan dampak negatifnya, tetapi setiap perkembangan teknologi memberi manfaat yang positif pula. Pembahasan dalam artikel ini menekankan bagaimana peran komunikator dapat melewati disrupsi teknologi yang terjadi di era revolusi industri 4.0. Di era revolusi industri 4.0, para komunikator dapat berperan dalam strategi penginjilan dengan menjadi inovator strategi penginjilan, menjadi kontributor materi, dan menjadi model komunikator yang baik dalam bermedia digital.This article discusses the role of communicators in evangelistic strategies in the era of industrial revolution 4.0. The development of technology in the era of industrial revolution has caused anxiety about its negative impact, but every technological development has positive benefits as well. The discussion in this article emphasizes how the role of communicators can pass through technological disruption that occurred in the era of industrial revolution 4.0. In the era of industrial revolution 4.0, communicators can play a role in the strategy of evangelism by becoming innovators of evangelistic strategies, becoming contributors to material, and becoming models of good communicators in digital media
Internalisasi Makna Kata “Di Bumi Seperti Di Surga” Dalam Matius 6:10c Dan Praktik Konkritnya
This article discusses the internalization of the meaning of the word "on earth as in heaven" in Matthew 6: 10c and its concrete practices. The author conducted a study of the text of Matthew 6: 10c and elaborated it with various relevant library sources. From the analysis of the text of Matthew 6: 10c, the church has a goal of bringing the message of Christ and the love of God, making it interesting and understandable, for all groups of people, especially those who are powerless and cannot voice their interests. The church also needs to be involved in the development of a society that is in accordance with God's will, so that it can bring shalom in the midst of society. Therefore, the church needs to be actively involved in contributing to building the community.Artikel ini membahas tentang internalisasi makna kata “di bumi seperti di surga” dalam Matius 6:10c dan praktik konkritnya. Penulis melakukan studi terhadap teks Matius 6:10c dan mengelaborasinya dengan berbagai sumber pustaka yang relevan. Dari analisis terhadap teks Matius 6:10c, maka gereja mempunyai sebuah tujuan yaitu membawa pesan Kristus dan kasih Allah, membuatnya menarik dan dapat dipahami, bagi semua kelompok manusia, khususnya mereka yang tidak berdaya dan tidak bisa menyuarakan kepentingannya. Gereja juga perlu terlibat dalam pembangunan masyarakat yang sesuai dengan kehendak Allah, sehingga dapat menghadirkan shalom di tengah-tengah masyarakat. Oleh sebab itu, gereja perlu terlibat aktif memberi sumbangan dalam membangun masyarakat