Integritas - Jurnal Teologi
Not a member yet
56 research outputs found
Sort by
Faktor-Faktor Pembentukan Karakter berdasarkan Amsal 13:22 tentang Warisan Harta dan Ajaran Moral
This article describes “the factors of character building based on Proverbs 13:22 on inheritance and moral teachings.” The uniqueness of the book of Proverbs is that besides discussing the importance of the relationship between God and humans, it also shows the importance of Character Building. The analysis of this scientific work uses the research method of Wisdom Hermeneutics, which uses literal, context, structural and figurative analysis. The nature of a righteous person deserves to bequeath property to children / other people to obtain inheritance rights. Robert Williamson provides an interpretation of Proverbs 13:22 by emphasizing the habit of experience as the main factor in character building, while Mark Rathbone finds that the family/community factor is a habit /culture in the interpretation of Proverbs 13:22. But from the other side, this article shows that the Interpretation of Proverbs 13:22 discover 4 factors for character building regarding inheritance and moral teachings, namely: Personality Factors, Life Example, Communication and Financial Literacy. Where these factors are passed from one generation to another.Artikel ini menjelaskan “faktor-faktor pembentukan karakter berdasarkan Amsal 13:22 tentang warisan harta dan Ajaran moral.” Uniknya kitab Amsal selain membahas pentingnya hubungan antara Tuhan dan manusia, namun juga menunjukan pentingnya Pembentukan Karakter. Analisa terhadap karya ilmiah ini menggunakan metode penelitian Hermeneutika Hikmat, yang mana memakai analisa literal, konteks, struktur dan kiasan. Sifat orang benar layak mewariskan harta benda kepada anak-anak/orang lain untuk memperoleh hak waris. Robert Williamson memberikan interpretasi Amsal 13:22 dengan mementingkan kebiasaan pengalaman sebagai faktor utama dalam pembentukan karakter, sedangkan Mark Rathbone menemukan bahwa Faktor komunitas keluaga/masyarakat merupakan kebiasaan/budaya dalam interpretasi Amsal 13:22. Namun dari sisi yang lain, artikel ini menunjukan bahwa Interpretasi dari Amsal 13:22 menemukan 4 faktor pembentukan karakter tentang warisan harta dan ajaran moral, yaitu: Faktor Pembawaan Seseorang, Teladan hidup, Komunikasi dan Literasi Keuangan. Dimana faktor-faktor ini diteruskan dari satu generasi ke generasi yang lain
Hukuman Bagi Pelaku Seks Komersial
The issue of punishment for commercial sex offenders continues to be debated both in social, psychological, and legal aspects. Through this paper, the author presents a conceptual analysis related to the issue. For the writer, the punishment for commercial sex workers is not right. The author proposes a more human approach to refer to Jesus' actions. This coaching is expected to be more inclined to positive personal recovery from a woman or man who is a former commercial sex offender.Isu hukuman bagi pelaku seks komersial terus menjadi perdebatan baik sosial, psikologis, maupun aspek hukum. Melalui tulisan ini, penulis menyajikan sebuah analisis konseptual terkait isu tersebut. Bagi penulis, hukuman bagi pekerja seks komersial tidak tepat. Penulis mengusulkan sebuah pendekatan yang lebih manusiawi mengacu pada tindakan Yesus. Pembinaan ini diharapkan lebih cenderung pada pemulihan pribadi yang positif dari seorang wanita atau pria mantan pelaku seks komersial
Pola Asuh Anak, Kesegaran Jasmani Remaja, Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Agama Kristen
Penelitian ini adalah tentang perilaku pengasuhan dalam meningkatkan kebugaran fisik anak-anak dan implikasinya pada Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan penelitian dilakukan di Universitas Kristen Indonesia. Tujuan melakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku pengasuhan anak dalam meningkatkan kebugaran fisik anak-anak dan implikasinya pada PAK. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan, dimana peneliti adalah instrumen kunci. Dalam mengumpulkan data penelitian, buku, jurnal, artikel dan sumber lain yang berkaitan dengan topik penelitian ini dibaca untuk menjawab pertanyaan dari penelitian. Sumber-sumber ini diambil secara offline dan online. Sumber online berasal langsung dari web google scholar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa jenis pengasuhan terbaik dari semua pola asuh adalah pola asuh otoritatif, yang merupakan kombinasi dari pola asuh otoriter dan pola asuh permisif. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan kebugaran fisik anak-anak, orangtua harus menggunakan pola asuh yang otoritatif, dan ketika kebugaran fisik anak-anak menjadi lebih baik, implikasinya pada pendidikan agama Kristen menjadi lebih baik.This study is about the parenting behaviour on improving the children’s physical fitness and its implication on Christian religion education and it was done at Universitas Kristen Indonesia. The purpose of doing this study is finding out the parenting behaviour on improving the children’s physical fitness and its implication on Christian religion education. The method of the study used was library research, where the researcher is the key instruments, in collecting the data of the research, books, journal, articles and other sources related to the topic of this study were read in order to answer the question of this study. These sources were taken ofline and online. The online sources were derived directly from google scholar web. The result of this study shows that the best parenting types of all is authoritative parenting, which is a combination of authoritarian parenting and permissive parenting. Then it is concluded that in order to improve the children’s physical fitness, parents should use authoritative parenting, and when the children’s physical fitness getting better, the implication on Christian religion education is getting better
Kartelisasi Sitasi Ditinjau Dari Perspektif Kristen
This article discusses the issue of "citation cartelization" which is viewed from a Christian perspective. A review from a Christian point of view is needed in order to give a view to Christian academics, so that they can take a stand regarding the issue. From the results of the analysis, "citation cartelization" is a citation control measure in an effort to increase the number of citations which ultimately has an impact on increasing index rank in indexing and ranking machines on the Sinta page. In addition, "citation cartelization" is a scientific dishonesty, because efforts to increase the number of citations are carried out by encouraging others to cite one's scientific work even though there is no relevance.Artikel ini membahas isu “kartelisasi sitasi” yang ditinjau dari sudut pandang Kristen. Tinjauan dari sudut pandang Kristen diperlukan agar dapat memberi pandangan bagi akademisi Kristen, sehingga dapat mengambil sikap terkait isu tersebut. Dari hasil analisis, “kartelisasi sitasi” merupakan tindakan pengendalian sitasi dalam upaya meningkatkan jumlah sitasi yang akhirnya berdampak pada meningkatnya peringkat indeks di mesin pengindeks maupun peringkat di laman Sinta. Selain itu, “kartelisasi sitasi” merupakan sebuah ketidakjujuran ilmiah, sebab untuk meningkatkan jumlah sitasi dilakukan upaya dengan mendorong orang lain melakukan sitasi pada karya ilmiah seseorang walau tidak terdapat relevansinya
Keselamatan Dalam Konsep Rasul Paulus
Salvation in the concept of the Apostle Paul is very worthy to be studied considering the Apostle Paul wrote the most books in the New Testament. In addition, the concept of salvation is a primary doctrine that becomes a dogmatic grip for the church of God. The author conducted a literature study from several relevant sources to discuss this topic. The author examines the view of salvation in general from the letter of the Apostle Paul and then ends more specifically according to Romans. The general letters written by Paul and especially the Romans indicate the Apostle Paul's concept of salvation is theomorphistic, departing from God, by God and for God. The concept is also in harmony with the contents of the Gospels and other books throughout the BibleKeselamatan dalam konsep Rasul Paulus sangat layak untuk dikaji mengingat Rasul Paulus menulis kitab terbanyak di dalam Perjanjian Baru. Selain itu konsep keselamatan merupakan doktrin primer yang menjadi pegangan dogmatis bagi gereja Tuhan. Penulis melakukan studi pustaka dari beberapa sumber relevan untuk membahas topik ini. Penulis mengkaji pandangan keselamatan secara umum dari surat Rasul Paulus dan kemudian diakhiri dengan lebih spesifik menurut surat Roma. Surat-surat umumnya yang ditulis Paulus dan khususnya surat Roma menunjukkan konsep keselamatan Rasul Paulus bersifat teomorfistis, bertolak dari Allah, oleh Allah dan untuk Allah. Konsep tersebut juga harmonis dengan isi kitab-kitab Injil dan kitab lainnya di seluruh Alkita
Kepemimpinan Para Rasul dan Relevansinya Bagi Pemimpin Gereja di Era Revolusi Industri 4.0
The article “Leadership of the Apostles and Their Relevance for Church Leaders in the Industrial Revolution Era 4.0,” aims to explain the characteristics of the leadership of the Apostles based on Acts, and their relevance to church leaders today. Precisely how the values of the leaders of the Apostles were integrated into the era of the industrial revolution 4.0. Thus, the situation of the industrial revolution era 4.0 was influenced by servant, spiritual, and transformative leadership. This leadership is reflected in the life of Jesus. This leadership continued to the apostles and disciples of Christ.Artikel “Kepemimpinan Para Rasul dan Relevansinya Bagi Pemimpin Gereja di Era Revolusi Industri 4.0,” bertujuan untuk menjelaskan karakteristik kepemimpinan para Rasul berdasarkan Kisah Para Rasul, dan relevansinya bagi pemimpin gereja masa kini. Lebih khususkan bagaimana nilai-nilai karakter pemimpin para Rasul dintegrasikan ke dalam era revolusi industri 4.0. Dengan demikian situasi era revolusi industri 4.0 dipengaruhi oleh kepemimpinan hamba, spiritual, dan transformatif. Kepemimpinan ini tercermin dalam kehidupan Yesus. Kepemimpinan ini berlanjut kepada para rasul dan murid-murid Kristus
Prinsip Pertumbuhan Gereja Mula-Mula Ditinjau Dari Kisah Para Rasul 2:1-47 Dan Aplikasinya Bagi Gereja Masa Kini
Church growth is an important study in church history. The Bible has important principles in church growth, therefore these principles need to be analyzed so that they can contribute to the study of church growth. The Acts of the Apostles is a book that has a history and principles of church growth, therefore the author conducted research on church growth based on Acts 2: 1-47. The author uses a qualitative approach to literature study to find the principles of church growth based on Acts 2: 1-47. The results showed that there were three principles for the growth of the early church. The first principle based on the fourth verse is to depend on the Holy Spirit, the second principle based on verses 14-36, 42 is to preach the Word of God, the third principle based on verses 42-46 is to live in fellowship. For the growth of the church today the church must depend on the power of the Holy Spirit, teaching based on the word of God, and the church lives in fellowship.Pertumbuhan gereja merupakan sebuah kajian penting dalam sejarah gereja. Alkitab memiliki prinsip-prinsip penting dalam pertumbuhan gereja, oleh sebab itu prinsip-prinsip tersebut perlu dianalisis sehingga dapat memberikan kontribusi dalam kajian pertumbuhan gereja. Kisah Para Rasul merupakan sebuah kitab yang memiliki sejarah dan prinsip-prinsip pertumbuhan gereja, oleh sebab itu penulis melakukan penelitian tentang pertumbuhan gereja berdasarkan Kisah Para Rasul 2:1-47. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif studi pustaka untuk menemukan prinsip pertumbuhan gereja berdasarkan Kisah Para Rasul 2:1-47. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga prinsip pertumbuhan gereja mula-mula. Prinsip pertama berdasarkan ayat keempat yaitu bergantung pada Roh Kudus, prinsip kedua berdasarkan ayat 14-36, 42 adalah memberitakan Firman Tuhan, prinsip ketiga berdasarkan ayat 42-46 adalah hidup di dalam persekutuan. Bagi pertumbuhan gereja masa kini gereja harus bergantung pada kuasa Roh Kudus, pengajaran berlandaskan firman Tuhan, dan gereja hidup di dalam persekutuan
Kepemimpinan Blusukan: Model Kepemimpinan Kristen Yang Membumi
Leadership is generally full of rhetoric, while the life of ministry requires leadership that touches the real needs of the person being led. Therefore, the authors conducted a library research to discuss this topic. From the results of the analysis and synthesis of several literary sources by the author, the leadership that touches the real needs of the people being led is grounded leadership. The real form of leadership that is down to earth is leadership that really touches the needs of followers or subordinates through the approach of character and commendable traits where there is sincerity to serve and sacrifice for the benefit of all those who are led fairly. The grounded leadership is inherent in leaders who do not see themselves as rulers or governments that rule over people who are led arbitrarily, but servant-hearted leaders where they carry out their duties on the principle of serving and not to be served.Kepemimpinan umumnya penuh dengan retorika, sementara kehidupan pelayanan membutuhkan kepemimpinan yang menyentuh kebutuhan nyata orang yang dipimpin. Oleh sebab itu, penulis melakukan penelitian pustaka untuk membahas topik ini. Dari hasil analisis dan sintesis beberapa sumber pustaka yang penulis teliti, maka kepemimpinan yang menyentuh kebutuhan nyata orang yang dipimpin adalah kepemimpinan yang membumi. Wujud nyata kepemimpinan yang membumi adalah kepemimpinan yang benar-benar menyentuh kebutuhan para pengikut atau bawahan melalui pendekatan karakter dan sifat-sifat yang terpuji di mana ada ketulusan hati untuk melayani dan berkorban untuk kepentingan semua orang yang dipimpin secara adil. Kepemimpinan yang membumi melekat pada pemimpin yang tidak melihat dirinya sebagai penguasa atau pemerintah yang memerintah atas orang-orang yang dipimpin dengan semena-mena, tetapi pemimpin yang berhati pelayan di mana ia melaksanakan tugasnya dengan prinsip melayani dan bukan untuk dilayani
Kepemimpinan Multi Staf Dalam Gereja Lokal
Salah satu faktor yang memengaruhi pelayanan dalam gereja lokal adalah kepemimpinan. Kepemimpinan yang efektif dan efisien sangat mendukung pelayanan di gereja lokal. Kenyataan yang ada saat ini pelayanan penggembalaan dalam gereja lokal masih memerlukan pembenahan dan penanganan yang lebih baik demi meningkatkan pertumbuhan gereja yang maksimal, baik segi kuantitas, kualitas, lokasi dan struktural. Metode penelitian dalam penyusunan artikel ini adalah study literatur. Kepemimpinan multi staf melibatkan banyak orang untuk bersama-sama menjalankan tugas pelayanan, baik pelayanan dalam jemaat itu sendiri maupun pelayanan keluar, untuk menjangkau orang-orang lain yang belum terlayani oleh gereja. Sebab itu, kepemimpinan multi staf sangat relevan dalam pelayanan gereja agar gereja dapat mencapai pertumbuhan secara maksimal.One of factors which influences in the church’s ministry is leadership. Efective leadership is very important to support the church’s ministry. However, some church does not grow because of the mistake in the leadership. They do not call the members of the church to lead the ministry. The reseach mothodology in this article use the literature research. The multi staff leadership calls some people to support the ministry in the church, so that the ministry is able to reach the church’s members and the other people. The multi staf leadership is very relevan in the church’s ministry for growing the local church
Implementasi Teologia Anak Untuk Mewujudkan Gereja Ramah Anak
Artikel ini membahas tentang implementasi teologia anak dalam upaya mewujudkan gereja yang ramah anak. Dalam penulisan artikel ini, penulis melakukan studi pustaka yang terkait dengan teologi pendidikan anak. Pendidikan anak tidak lepas dari rencana Allah yang telah menciptakan manusia termasuk anak. Secara teologis, Allah sendiri memelihara, memperdulikan, melindungi dan membela anak. Kemudian gereja sebagai representasi kehadiran Allah di dunia seharusnya memberi teladan pelaksanaan kehendak Allah terhadap anak, sehingga gereja seharusnya menjadi gereja yang ramah anak. Gereja yang ramah kepada anak adalah gereja yang memberi pemenuhan kebutuhan anak. Implementasi teologia anak adalah melalui menjadi gereja yang ramah anak, yang dilaksanakan untuk memenuhi aspek rohani, fisik, psikis, dan sosial.This article discusses the implementation of children's theology in an effort to realize a child-friendly church. In writing this article, the author conducted a literature study related to children's educational theology. Children's education cannot be separated from God's plan that has created humans including children. Theologically, God himself cares for, cares for, protects and defends children. Then the church as a representation of God's presence in the world should provide an example of implementing God's will for children, so the church should be a child-friendly church. A church that is child-friendly is a church that provides fulfillment of children's needs. The implementation of children's theology is through becoming a child-friendly church, which is carried out to fulfill the spiritual, physical, psychological, and social aspects