Integritas - Jurnal Teologi
Not a member yet
56 research outputs found
Sort by
Kepemimpinan Pelayan Gereja yang Sesuai dengan Kepemimpinan Gembala Seperti Kepemimpinan Yesus
Prioritizing service for the many in the fulfillment and growth of the many will shape good self-image and get the opportunity to be appreciated as a servant who leads and serves many people around him is a self-image as a type of shepherd with Christ's leadership as a servant or servant who gives the main focus on a service activity and not based on the authority of power alone. The research method is qualitative which describes a structured and planned leadership process that has a visionary serving many people, a servant figure who leads a servant or a slave who serves his master even though he himself is a leader. The results of the study show that in the church, the leader is the same as a servant whose main focus is voluntarily carrying out his vocation to serve many people so that the work of Jesus Christ in the world in proclaiming salvation is spread to the world through the death of Christ, thus giving the conclusion that the call as leadership must be with a voluntary heart. to serve everyone because it is the main core of service in the church so that it can be said as a leader must serve, meaning that he is ready to give himself as a leader in his service to God and not to humans.Mengedepankan pelayanan untuk banyak orang dalam pemenuhan dan pertumbuhan banyak orang akan membentuk citra diri yang baik dan mendapatkan kesempatan untuk dihargai sebagai pelayan yang memimpin serta melayani banyak orang di sekitarnya merupakan citra diri sebagai tipe gembala dengan kepemimpinan Kristus sebagai hamba atau pelayan yang memberikan fokus utama pada suatu aktivitas pelayanan dan bukan berdasarkan otoritas kekuasaan semata. Metode penelitian bersifat kualitatif yang menerangkan proses kepemimpinan yang terstruktur dan terencana memiliki visioner melayani banyak orang merupakan sosok pelayan yang memimpin bagikan seorang hamba atau budak yang melayani tuannya walaupun dia sendiri seorang pemimpin. Hasil penelitian menunjukkan dalam gereja, pemimpin itu sama seperti pelayan yang fokus utamanya dengan sukarela mengerjakan tugas panggilannya untuk melayani banyak orang sehingga karya Yesus Kristus di dunia dalam pemberitaan keselamatan tersebar pada dunia melalui kematian Kristus sehingga memberikan kesimpulan bahwa panggilan sebagai kepemimpinan harus dengan hati yang sukarela untuk melayani semua orang karena itu merupakan inti pokok pelayanan dalam gereja sehingga dapat dikatakan sebagai pemimpin harus melayani, artinya siap memberikan dirinya sebagai pemimpin dalam pengabdiannya pada Allah dan tidak pada manusia
Urgensi Kepemimpinan Multidimensi Gembala dalam Era Digital
Multi dimension shepherd leadership is urgent in the digital age. They move with this model in their vision and insight into the socio-cultural transformation of ordinary people to digital. Shepherd is experiencing mental and emotional health problems. They choose to withdraw from church services because of fatigue, loneliness, and mental disorders. The question what is the meaning of multi-dimension pastoral leadership? What form of multi-dimension leadership is needed? And what strategies can be developed? The purpose of the research is to explain the meaning of multi-dimension pastoral leadership, describe emotional intelligence as an integral part of balanced multi-dimension leadership, and describe the strategies that can be carried out in the development of multidimensional pastoral leadership. The research method used with a qualitative description explores the understanding of multi-dimension leadership in general and its current development. Then the discussion of the shepherd's emotional intelligence continued with the stages and dimensions that can be applied, the description of the multi-dimension leadership service strategy physically and virtually. The result is that multi-dimension leadership relies on the shepherd's emotional intelligence in communication, interaction, innovation, and creativity; Leadership is evolving and is greatly appreciated. Shepherds have multidimensional abilities creating breakthroughs in responding to these challengesKepemimpinan multidimensi gembala sangat mendesak dalam era digital. Model ini dibutuhkan untuk bergerak dengan visi dan wawasan transformasi sosiokultural masyarakat awam menuju digital. Gembala mengalami permasalahan kesehatan mental dan emosi. Mereka memilih untuk mundur dari pelayanan gereja karena mengalami masalah kelelahan, kesepian dan mental psikologi terganggu. Pertanyaannya adalah apakah pengertian kepemimpinan multidimensi gembala yang dimaksud? Bagaimanakah bentuk kepemimpinan multidimensi yang dibutuhkan? Serta strategi seperti apakah yang dapat menumbuh-kembangkannya? Tujuan penelitian adalah untuk menjelaskan pengertian kepemimpinan multidimensi gembala, menggambarkan kecerdasan emosi sebagai bagian integral dari kepemimpinan multidimensi gembala yang seimbang, dan mendeskripsikan strategi strategi yang dapat dilakukan dalam pengembangan kepemimpinan multidimensi gembala. Metode penelitan yang digunakan dengan deskrispsi kualitatif, menggali pengertian kepemimpinan multidimensi secara umum dan perkembangannya kekinian. Lalu pembahasan kecerdasan emosi gembala, dilanjutkan tahapan dan dimensi yang dapat di terapkan, penjabaran strategi pelayanan kepemimpinan multi dimensi secara fisik maupun virtual. Hasilnya kepemimpinan multidimensi bergantung kepada kecerdasan emosi gembala dalam komunikasi, interaksi, inovasi, dan kreativitas; kepemimpian selalu mengalami perkembangan dan sangat diapreasiasi. Gembala memiliki kemampuan multidimensi dalam menciptakan terobosan baru dalam menjawab tantangan tersebut
Penginjilan Terhadap Suku Meree – Di Kabupaten Kaimana Melalui Gereja Kemah Injil Papua
This study shows that there are cultural values and worldview concepts of the Meree people who are "relatively close", namely belief in occult knowledge and still thick with local wisdom culture, and myths of warasee and expectations of ideal future persons in myths of belief and loyalty to Meree. so that it can be "meeted" with the values of the Bible through the change of function. The writing method used in the field of contestual evangelism theology with descriptive analysis. The result found is that the church is never separated from the people, thus advancing the ministry. The Meree people have the belief that every people has the right to Salvation for Christ and understands the Scriptures.Studi ini memperlihatkan adanya nilai-nilai budaya dan konsep worldview masyarakat Meree yang “relatif dekat”, yaitu kepercayaan kepada ilmu gaib dan masih kental dengan budaya kearifan lokal. Mitos warasee serta pengharapan oknum ideal masa depan dalam mitos kepercayaan serta sikap loyalitas kepada Meree, sehingga dapat “dipertemukan” dengan nilai-nilai Injil melalui pergantian fungsi. Metode penulisan yang digunakan dalam bidang teologi penginjilan kontestual dengan analisis deskriptif. Hasil yang ditemukan adalah gereja tidak pernah lepas dari umat, maka memajukan pelayanan umat suku Meree memiliki keyakinan bahwa setiap umat memiliki hak keselamatan bagi Kristus dan memahami Kitab Suci
Tinjaun terhadap Food Waste berdasarkan Teori Bioregionalisme Richard Evanoff dan Segitiga Steiner-Evanoff-UKDW
Consumptive behavior is often only based on desires, not based on needs. One form of excessive consumptive behavior is throwing away food which then causes leftovers. This article focuses on consumptive behavior in the form of food waste that occurs in Indonesia and causes ecological damage and inequality in food consumption. This study aims to provide an overview of the importance of awareness of food waste which is studied using Richard Evanoff's bioregionalism theory and the Steiner-Evanoff-UKDW Triangle. The method used in this study is a qualitative method. The author will make a dialectic between the data obtained from the problems he is struggling with and sources of knowledge in the form of literature in the form of journals and websites. Based on the research it was found that cases of food waste and hunger in Indonesia must be overcome in order to achieve ecological sustainability, social justice, and human welfare. The church also has a role in mitigating and tackling the problem of food waste and in order to help other humans who also experience a shortage of food that is suitable for consumption so that God's grace is always maintained and voiced.Perilaku konsumtif seringkali hanya didasarkan pada keinginan semata bukan berdasarkan kepada kebutuhan. Salah satu bentuk perilaku konsumtif berlebih yaitu membuang makanan yang kemudian menyebabkan food waste. Artikel ini menitikberatkan kepada perilaku konsumtif berupa food waste yang terjadi di Indonesia dan mengakibatkan kerusakan ekologi dan ketimpangan dalam konsumsi makanan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran akan pentingnya kesadaran terhadap food waste yang dikaji menggunakan teori bioregionalisme Richard Evanoff dan Segitiga Steiner-Evanoff-UKDW. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif. Penulis akan mendialektikakan antara data yang diperoleh dari masalah yang digumuli dan sumber pengetahuan berupa literatur berupa jurnal dan website. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa kasus food waste dan kelaparan di Indonesia harus diatasi agar terjadi keberlanjutan ekologis, keadilan sosial, dan kesejahteraan manusia. Gereja juga memiliki peran dalam menyuarakan dan menanggulangi masalah food waste dan dalam rangka membantu manusia lain yang juga mengalami kekurangan makanan yang layak untuk dikonsumsi sehingga rahmat Tuhan senantiasa dipelihara dan disuarakan
Hipokrit Pemuka Agama (Matius 23:1-12)
Tindakan Penguasa Agama (Matius 23:1-12). Matius 23 terkenal sebagai teks kontroversial, dimana pasal ini merupakan antitesis khotbah Yesus di bukit (pasal 5-7). Yesus mengakui otoritas ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, namun mereka menentang eksistensi-Nya sebagai Mesias. Keberadaan Yesus baik dari aspek popularitas pelayanan maupun pada masa depan membuat kecemasan bagi para pemuka agama di Yudea. Metodologi yang digunakan adalah prinsip hermeneutik dengan menggunakan historis kritis, struktur teks dan analisis sosial komunitas Matius. Dengan demikian Matius 23 menggambarkan perilaku pelayanan pemuka agama di Yudea sebagai dasar untuk memahami maksud kritik Yesus terhadap penguasa agama yang duduk di kursi Musa. Tanpa meniadakan otoritas pemuka agama itu, Yesus dalam injil Matius menekankan ajaran penatalayanan transformatif kepada orang banyak dan murid-murid-Nya (komunitas Matius) untuk lebih menerapkan solidaritas persaudaraan dan empati sosial sebagai keutamaan.The Acts of Religious Ruler (Matthew 23: 1-12). Matthew 23 is known as a controversial text, where this chapter is the antithesis of Jesus' Sermon on the Mount (chapters 5-7). Jesus recognized the authority of the scribes and Pharisees, but they strongly opposed His existence as the Messiah. The existence of Jesus both in terms of the popularity of the ministry at that time and in the future made the religious leaders in Judea even more anxious. The methodology used is hermeneutic principle by using critical history, text structure and social analysis of Matthew's community. Thus Matthew 23 describes the service behaviour of the religious leaders in Judea as a basis for understanding the meaning of Jesus' criticism of those who sat in the chair of Moses. Without negating the authority of these religious leaders, Jesus in Matthew's gospel emphasizes the teachings of transformative stewardship to the multitude and his disciples (Matthew's community) to further apply fraternal solidarity and social empathy as virtues
Menuju Prinsip Teologi Keseimbangan Di Era Digital: Refleksi Gereja dalam Transisi Pandemi Covid-19
Pandemi Covid-19 telah menantang gereja untuk bermigrasi ke ruang virtual. Hal ini tentu mempengaruhi spiritualitas gereja dalam ruang ganda. Melalui artikel ini akan dikaji 1) Bagaimana gereja dapat menghubungkan spiritualitas dengan teknologi tanpa tersesat dalam pusaran kehampaan teknologi modern itu sendiri, 2) Bagaimana gereja dapat menavigasi lanskap baru ini tanpa kehilangan fokus pada misi yang diberikan Tuhan? Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Tulisan ini bertujuan untuk membingkai paradigma baru bagi gereja menuju prinsip keseimbangan antara kehidupan material dan spiritualitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem teologi dalam agama Kristen merupakan kerangka konseptual transformasional yang selalu segar, fleksibel dan seimbang dari berbagai dimensi kehidupan dan konteks. Situasi yang berubah membutuhkan perspektif dan praktik transformatif agar gereja tidak kehilangan spiritualitas dan misi Tuhan dalam konteks bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.The Covid-19 pandemic has challenged churches to migrate to virtual spaces. This certainly affects the spirituality of the church in a double space. Through this article will be examined 1) How can the church connect spirituality with technology without getting lost in the maelstrom of the void of modern technology itself, 2) How can the church navigate this new landscape without losing focus on its God-given mission? This research is a descriptive research, using a qualitative approach. The aim of this paper is to frame a new paradigm for the church towards the principle of equilibrium between material life and spirituality. The results of this study indicate that the theological system in Christianity is a transformational conceptual framework that is always fresh, flexible and balanced from various dimensions of life and context. The changing situation requires transformative perspectives and practices for the church not to lose its spirituality and God's mission in the context of society, nation and state
The Impact of Transformational and Servant Leadership Models on Perceived Organizational Support, Job Satisfaction, and Life Satisfaction in the Ministry of Clergies of Synod of Gereja Kristus During The Covid-19 Pandemic in Indonesia
The pandemic presents various struggles, including among church leaders and the clergy who serve specifically within the Synod of Gereja Kristus. The research conducted on the clergy looked at the two sides of leadership, i.e. transformational and servant leadership, where both leaders were associated with perceived organizational support, job satisfaction and life satisfaction factors for personal calling in serving as clergy. The results showed a positive and significant effect of transformational leadership on perceived organizational support and life satisfaction. Job satisfaction as a mediating variable also has a significant and positive effect on life satisfaction.Masa pandemi menghadirkan berbagai macam pergumulan termasuk di dalam diri para pemimpin gereja dan dalam hal ini adalah para rohaniwan yang melayani secara khusus dilingkup Sinode Gereja Kristus. Penelitian yang dilakukan terhadap para rohaniwan ini melihat dari dua sisi kepemimpinan yaitu transformational dan servant leadership dimana kedua kepemimpinan ini dikaitkan dengan faktor perceived organizational support, job satisfaction dan life satisfaction terhadap panggilan pribadi dalam melayani sebagai rohaniwan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan dari transformational leadership terhadap perceived organizational support dan life satisfaction. Job satisfaction sebagai variabel mediasi juga memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap life satisfaction
Pastors and Treasurers: A Case Study of Financial Management in Christian Organization
Prior research has suggested that pastors have difficulty in managing church finances. On the other hand, the involvement of the congregation with knowledge that tends to be pragmatic exposes the pastor to start rubbing against the values contained in this pragmatic understanding, including matters of financial management. In terms of finance, actually the provisions of the Bible are sufficient as guidance, in the form of main values, only requiring an understanding in accordance with the context and the current relevance of the challenges of the church and its congregation. This paper seeks to tell the experience of one of the important actors (informants), a pastor who acts as a ministerial servant of God in pastoral care as well as treasurer in the Indonesian Church Association (PGI). These sources are in the vortex of the tug of interest between idealism as a servant of God and pragmatism, a solution must be sought as soon as possible regarding the sustainability of the church fellowship institution. At the end loyalty, integrity and openness with good intentions to collaborate with various groups (partnering) are the key characters between the roles of pastor and treasurer. This character is preserved in an expression of faith and relying on God. The financial leadership model of a pastor as well as a treasurer with a narrative study approach is described in this article.
Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa pendeta mengalami kesulitan dengan pengelolaan keuangan gereja. Di sisi lain, keterlibatan jemaat dengan pengetahuan yang cenderung pragmatik menghadapkan pendeta untuk mulai bergesekan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam paham pragmatik tersebut, termasuk soal pengelolaan keuangan. Dalam hal keuangan, sebenarnya ketentuan Alkitab telah cukup dijadikan sebagai petunjuk, berupa nilai-nilai utama, hanya memerlukan pemahaman sesuai dengan konteks dan relevansi terkini tantangan gereja dan jemaatnya. Tulisan ini berusaha menceritakan pengalaman salah satu aktor penting (informan), seorang pendeta yang berperan sebagai hamba Tuhan dalam penggembalaan sekaligus bendahara di Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI). Bagaimana narasumber tersebut berada dalam pusaran tarikan kepentingan antara idealisme sebagai hamba Tuhan dan pragmatisme yang harus dicarikan solusi secepatnya terkait keberlanjutan lembaga persekutuan gereja. Pada akhirnya, kesetiaan, integritas, dan terbuka dengan niat baik untuk bekerjasama dengan berbagai kalangan (partnering) menjadi kunci karakter antara peran pendeta dan bendahara. Karakter ini dijaga dalam ungkapan iman, bersandar pada Tuhan. Model kepemimpinan keuangan seorang pendeta dan juga bendahara dengan pendekatan studi naratif digambarkan dalam tulisan ini.
Keywords: pengelolaan keuangan, stewardship (penatalayanan), integritas, kesetiaan, partnering
Inkarnasi Yesus: Pendekatan Analogis Penginjilan Bagi Kaum Hinduisme, Buddhisme dan Masyarakat di Era Postmodernisme
Keragaman kebudayaan manusia dengan serangkaian wawasan dunia di dalamnya memberikan gambaran bahwa model pendekatan misi Injil tidak selalu seragam dan efektif dengan satu bentuk metode tertentu. Metode analogi inkarnasi Kristus menjadi salah satu pola pendekatan yang masih sangat relevan bagi penginjilan di era postmodern saat ini. Penelitian ini mengkaji mengenai pola inkarnasi kristus sebagai pendekatan penginjilan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan studi literatur. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa model inkarnasi Kristus dapat digunakan sebagai sarana penginjilan yang efektif bagi keyakian Hinduisme dan Buddhisme, dan masyarakat di era postmodernisme.The diversity of human cultures with a worldview in them illustrates that the gospel mission model is not always uniform and effective with one particular form of method. The method of analogy with the incarnation of Christ is one of the most relevant approaches to evangelism in the postmodern era today. This study examines the pattern of Christ's incarnation as an evangelistic approach. The method used is qualitative with literature studies. The results of this study show that the model of Christ's incarnation can be used as an effective evangelistic tool for Hinduism and Buddhism beliefs, and society in the era of postmodernism
Model Desain Kurikulum Pewartaan Injil untuk Anak Usia Dini di Sekolah Minggu Rumah
Preaching of the gospel through Sunday schools for early childhood in schools is hampered by the pandemic situation. Therefore, it is necessary to design evangelism curriculum for these children while studying Sunday school at home. The purpose of this study is to propose a curriculum design model for evangelism to early childhood at home Sunday school. This research uses literature study method with descriptive qualitative approach. The result of this research is a curriculum design for evangelism that includes aspects of the objectives, content, curriculum organization, curriculum implementation, and evaluation. These aspects are explained in a simple example so that implementation is easy. This is also related to the readiness of parents in economic aspects, time and skills in teaching, as well as their understanding of the Bible. The contribution of this research is a contribution in the field of the Sunday school curriculum.ABSTRAK:
Pewartaan injil melalui sekolah minggu untuk anak usia dini di sekolah terhambat oleh situasi pandemi. Oleh karena itu perlu adanya desain kurikulum pewartaan injil bagi anak-anak tersebut selama belajar sekolah minggu di rumah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggagas sebuah model desain kurikulum pewartaan injil kepada anak usia dini pada sekolah minggu rumah. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian adalah sebuah desain kurikulum pewartaan Injil mencakup aspek tujuan, konten, organisasi kurikulum, implementasi kurikulum, dan evaluasi. Aspek-aspek tersebut dijelaskan dalam sebuah contoh sederhana supaya dalam pelaksanaannya mudah. Hal ini juga terkait dengan kesiapan orang tua dalam aspek ekonomi, waktu serta skill dalam mengajar, serta pemahaman mereka tentang Alkitab. Kontribusi penelitian ini sebagai sumbangsih dalam bidang kurikulum sekolah minggu