Jurnal Studi Inovasi
Not a member yet
85 research outputs found
Sort by
Strategi Pengembangan Pembangunan Aek Biru Sebagai Destinasi Wisata Desa Cit, Kecamatan Riausilip, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih mendalam mengenai strategi pengembangan pembangunan Aek Biru sebagai destinasi wisata Desa Cit, Kecamatan Riausilip, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Kajian ini penting dilakukan supaya melihat bagaimana hasil dari upaya yang telah direncanakan oleh para pengelola kawasan Aek Biru supaya dalam proses pengembangannya berjalan dengan optimal serta berkelanjutan agar dapat menguntungkan masyarakat. Objek wisata Aek Biru yang berada di Desa Cit Kecamatan, Riausilip, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung yang dimana masih pada tahap proses pengembangan pembangunannya dikelola oleh BUMDES serta aparat desa bersama kelompok karang taruna dan masyarakat dibantu juga oleh Mahasiswa KKN UBB pada tahu 2019. Dalam proses pengembangannya tentu tidak terlepas dari faktor yang mendukung guna menunjang agar pembangunannya dapat berkembang dan berjalan dengan baik serta dapat menimbulkan manfaat terutama bagi masyarakat agar dapat mensejahterakan terutama dari segi perekonomiannya dengan adanya destinasi wisata di Desa Cit, serta tidak terlepas pula dari faktor yang akan menghambat dalam proses pengembanganya. Untuk itu harus melakukan berbagai upaya agar kegiatan pengembangan pembangunannya berjalan sesuai yang diharapkan.Metode yang digunakan dalam kajian ini yaitu menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi penghambat dan pendukung dalam proses pengembangan pembangunan Aek Biru sebagai destinasi wisata serta beberapa upaya atau Strategi yang telah di persiapkan supaya proses pengembangannya berjalan sesuai dengan harapan dan supaya bisa mensejahterakan masyarakat Desa Cit pasca tambang timah tidak beroprasi lagi
Indonesia: Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengelolaan dan pengembangan destinasi objek Kampoeng Reklamasi di Desa Riding Panjang, dan mendeskripsikan dampak sosial ekonomi Kampoeng Reklamasi PT. TIMAH dalam menunjang pengembangan sektor pariwisata di Desa Riding Panjang, Kabupaten Bangka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan dari lapangan bahwa Pengelolaan dan pengembangan objek wisata Kampoeng Reklamasi PT. TIMAH di Desa Riding Panjang Kecamatan Merawang meliputi menanam tumbuhan seperti tanaman fast growing dan tanaman lokal salah satunya, yaitu pohon pelawan, dan juga pemanfaatan kolong bekas galian tambang timah, Pelawan Zone, Foodcourt Zone I, Foodcourt Zone II, Cottage (pondok), Flying fox, Ketapang dan Sengon Zone, Mini Zoo (PPS), Nursery Zone, Farm Zone, Camping Ground, Flowers Garden, Research Zone, Kolong, Parking Zone I, Parking Zone II, Souvenir Shop, Exclusive Villa, Custom Home, Musholla, Biofloc dan Hidroponik, Guard House, Fruit Zone, serta Main Office dan Resto. Sejumlah program seperti Program Pertanian dan Perkebunan atau Desa Agrowisata, Program Peternakan, Program Perikanan, Program Nursery atau Greenhouse, Program PPS (Pusat Penyelamatan Satwa). Pengelolaan dan pengembangan objek wisata kampoeng reklamasi pihak PT. Timah melibatkan masyarakat Desa Riding Panjang serta stakeholder baik dari komunitas penggiat lingkungan dan pihak swasta di Bangka Belitung salah satunya yaitu Animal Lovers Bangka Island (ALOBI) dan Yayasan O2 Pelawan. Sementara dampak sosial terhadap tingkat keamanan yang dirasakan masyarakat. Meingkatkan rasa kepedulian masyarakat terhadap lingkungan di desa mereka, memberikan dampak positif yaitu tingginya rasa solidaritas sosial. Dampak ekonomi dari pembangunan Kampoeng Reklamasi yakni memberikan peluang bagi masyarakat dalam memberikan mata pencarian atau lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan atau penghasilan masyarakat.
Kata kunci : Sosial, Ekonomi, Reklamasi, Pariwisat
Politik Identitas : Strategi Negosiasi Marga dalam Pernikahan Amalgamasi pada Etnis Batak dan Melayu
Politik identitas merupakan alat politik suatu kelompok seperti etnis, suku, budaya, agama atau lainya. Dengan tujuan tertentu misalnya, sebagai alat untuk menunjukkan jati diri atau identitas dari suatu kelompok tersebut. Oleh karena itu setiap dalam pernikahan amalgamasi pada etnis Batak terhadap etnis Melayu, negosiasi marga menjadi penentuan dalam identitasnya dikarenakan marga adalah menjadi identitas utama seorang suku Batak dan jati diri yang dibawah sejak lahir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan politik identitas negosiasi marga dalam pernikahan amalgamasi pada etnis Batak dan etnis Melayu di Kota Pangkalpinang serta faktor-faktor yang mempengaruhi negosiasi marga dalam pernikahan pada etnis Batak dan Melayu di Kota Pangkalpinang.
Penelitiaan ini menggunakan teori dari Castells yang dikaji dari 3 model yaitu legitimasi identitas, resistensi identitas, dan proyek identitas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian ini menggunakan snowball sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan dokumentasi. Sumber data yang digunakan dalam penelitian berasal dari data primer dan sekunder.
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan dari lapangan bahwa pendekatan komunikasi, pengangkatan marga, dan mangaen boru atau mangaen anak adalah menjadi pola utama dalam politik identitas negosiasi marga dalam pernikahan amalgamasi pada etnis Batak dan Melayu di Pangkalpinang. Adapun faktor yang mempengaruhi negosiasi marga dalam pernikahan pada etnis Batak dan Melayu yaitu, faktor cinta dan faktor relasi kuasa. Oleh sebab itu berdasarkan hasil temuan dilapangan dapat disampaikan bahwa dalam pernikahan amalgamasi ini yang dominan memiliki relasi kekuasaan adalah Etnis Batak
Mekanisme Survival Nelayan pada Masa Pandemi Covid-19 di Lingkungan Nelayan II Kabupaten Bangka
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi kehidupan nelayan dan untuk mendeskripsikan mekanisme survival yang digunakan oleh Nelayan di Lingkungan Nelayan II Kabupaten Bangka pada masa Pandemi Covid-19. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus (case study). Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh Informan penelitian sejumlah15 orang. Digunakan teknik pengumpulan data wawancara, observasi dan dokumentasi. Digunakan sumber data baik dari data primer dan sekunder. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kondisi masyarakat nelayan sebelum dan sesudah adanya pandemi covid-19 sangat berbeda jauh dimana sebelum adanya pandemi covid-19 masyarakat nelayan dapat menjual ikannya dengan harga yang tinggi dan mampu memenuhi atau mencukupi kebutuhan mereka. Tetapi setelah adanya pandemi covid-19 nelayan mulai kesulitan ditambah hutang yang menumpuk membuat nelayan harus membayar hutang mereka terlebih dahulu dengan hasil penjualan ikan yang mereka dapat agar tidak terkena masalah.Kondisi yang menyebabkan masyarakat lingkungan Nelayan II melakukan mekanisme survival di tengah masa pandemi Covid-19 mencakup faktor internal seperti pinjaman atau kredit serta tidak adanya keahlian khusus, sementara faktor eksternal mencakup perubahan Iklim/cuaca serta adanya pandemi covid-19.Mekanisme survival nelayan lingkungan Nelayan II dalam mengahadapi Pandemi Covid-19 yakni nelayan mengurangi pengeluaran untuk pangan dengan jalan makan hanya sekali sehari dan beralih ke makanan yang mutunya lebih rendah, menggunakan alternatif subsistem yaitu swadaya yang mencakupkegiatan seperti berjualan kecil-kecilan, bekerja sebagai tukang, sebagai buruh lepas mencari pekerjaan dan meminta bantuan dari jaringan sosial seperti sanak saudara, kawan-kawan sedesa, atau memanfaatkan hubungan dengan pelindungnnya (patron)
Inovasi Teknologi dalam Perubahan Pelayanan Publik Perkotaan
Inovasi dipandang sebagai kebutuhan karena dapat mengatasi masalah patologi birokrasi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, memaksimalkan potensi aparatur, serta mengembalikan kepercayaan publik. Inovasi juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi yang pesat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis inovasi yang dilakukan oleh Kota Bekasi dan Kabupaten Gresik yang memiliki tujuan untuk mewujudkan suatu ide atau pemikiran kreatif, yang berkaitan dengan teknologi sebagai terobosan untuk mempermudah kinerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui lebih mendalam fakta-fakta mengenai inovasi. Populasi dalam penelitian ini adalah kota yang pernah melakukan inovasi yang berkaitan dengan pelayanan publik, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah inovasi yang dilakukan oleh Kota Bekasi dan Kabupaten Gresik. Penelitian ini menunjukkan bahwa Kota Bekasi dan Kabupaten Gresik berhasil untuk menciptakan inovasi pada bidang pelayanan publik, dimana pada kedua kota ini telah menciptakan suatu ide atau pemikiran kreatif, yang berkaitan dengan teknologi sebagai terobosan untuk mempermudah kinerja. Hasil dari adanya inovasi Layanan SIAP PPDB Online di Kota Bekasi, yaitu diantaranya Tanpa Instalasi & Berbasis Cloud, Multi Platform & Multi Akses, Responsive Design, Multi Model Alur Pendaftaran, Multi Jalur Seleksi, Real Time Process, sehingga dapat mengelola data calon siswa secara otomatis dan langsung setiap waktu mulai dari proses pendaftaran, seleksi hingga pengumuman hasil. Sedangkan, hasil dari adanya Aplikasi e-Planning di Kabupaten Gresik mempunyai tujuan untuk menerapkan perencanaan menggunakan teknologi informasi berbasis Web yang terintegrasi dan user friendly, menyelaraskan/ mengintegrasikan perencanaan strategis jangka menengah ke dalam perencanaan tahunan, memetakan usulan program dan kegiatan dari DPRD, Unsur Pimpinan dan dokumen perencanaan yang telah ditetapkan, menyusun rencana kerja anggaran dengan cepat dan tepat, serta mengintegrasikan perencanaan, pelaksanaan anggaran, sampai dengan monitoring dan evaluasi.Innovation is seen as a necessity because it can solve the problem of bureaucratic pathology, improve the quality of public services, maximize the potential of the apparatus, and restore public trust. Innovation is also influenced by the rapid development of information technology. This study aims to analyze the innovations carried out by Kota Bekasi and Kabupaten Gresik which have a purposeto realize an idea or creative thinking, which is related to technology as a breakthrough to facilitate performance. This study uses a qualitative approach with a descriptive type of research that aims to find out more deeply the facts about innovation.The population in this study are cities that have made innovations related to public services, while the samples in this study are innovations made by Bekasi City and Gresik City. This research shows that Kota Bekasi and Kabupaten Gresik succeeded in creating in innovations in the field of public services, where in these two cities have created an idea or creative thinking, which is related to technology as a breakthrough to facilitate performance. The results of the innovation of the SIAP PPDB Online Service in Bekasi City, including Without Installation & Cloud-Based, Multi Platform & Multi Access, Responsive Design, Multi Registration Flow Model, Multi Line Selection, Real Time Process, so it can manage prospective student data automatically. and immediately every time starting from the registration process, selection to announcement of results. Meanwhile, the results of the e-Planning Application in Gresik Regency have the objective of implementing planning using Web-based information technology that is integrated and user friendly, aligning / integrating medium-term strategic planning into annual planning, mapping program proposals and activities from DPRD, Leadership Elements. and planning documents that have been determined, compiling a budget work plan quickly and accurately, and integrating planning, budget execution, through to monitoring and evaluation
Inovasi Pendidikan : Upaya Penyelesaian Masalah Reproduksi Kelas Sosial pada Sistem Pendidikan di SMA Santo Yosef Pangkalpinang
Penelitian ini mengkaji tentang inovasi di bidang pendidikan dalam upaya penyelesaian masalah reproduksi kelas sosial pada sistem pendidikan di SMA Santo Yosef Pangkalpinang. Fokus penelitian ini membahas tentang bagaimana proses terjadinya reproduksi kelas sosial pada sistem pendidikan di SMA Santo Yosef Pangkalpinang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui observasi, wawancara dengan 30 informan dan dokumentasi. Teori yang digunakan untuk menganalisis penelitian adalah teori Praktik Sosial oleh Pierre Bourdieu yang memuat tiga konsep kunci yaitu habitus, ranah dan modal. Habitus disekolah mempengaruhi siswa dalam berkontestasi di dalam ranah yakni sekolah dengan mengeluarkan seluruh modal yang mereka punya, baik itu modal ekonomi, sosial, budaya, maupun simbolik agar dapat memperjuangkan kelas sosial mereka didalam ranah/arena. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat berbagai kebijakan sekolah yang termuat dalam proses pendidikan disekolah mencerminkan adanya proses reproduksi kelas sosial yang terjadi disekolah. Proses reproduksi kelas sosial tersebut terwujud dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), dan hasil lulusan sekola
Makna Simbolik dalam Tradisi Pawai Hantu di Desa Nibung Kecamatan Puding Besar Kabupaten Bangka
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa makna simbolik tradisi pawai hantu terdapat pada nama dan warna dari hantu tersebut. Pertama Makna yang dijelaskan pada nama hantu yakni hantu bukit. Bukit sendiri berarti dataran yang tinggi yang berwarna hitam yang dimaknai dengan kelamyang ditandai dengan penolakan marabahaya atas penyembahan Allah yang dulunya mereka menyembah hantu tersebut dan hidup mereka kelam selalu tertimpa kesialan. Maka atas penyembahan kepada Allah dipercaya tidak adanya marabahaya yang datang. Kedua makna dari nama hantu rimbak dan warna hijau,rimbak sendiri berarti hutan yang luas dan sangat jarang di huni oleh masyarakat. Dalam tradisi ini rimbak diambil kata luas untuk dimaknai dalam tradisi pawai hantu. Luas dalam tradisi ini berarti, luasnya hati seorang manusia untuk menerima ketetapan yang telah diberikan oleh Allah. Sedangkan dari tardisi ini menggunakan daun keterek ayam yang berwarna hijau, yang memiliki arti tersediri bagi masyarakat yakni sebuah kepercayaan bahwasanya daun tersebut bersifat lembut seperi hati manusia. Ada salah satu perimbom atau kata-kata yang tergamabar dalam makna tradisi pawai hantu ini yakni: “terang gerantang laut sibarullah” yang berarti “terangberkilauan seperti laut yang telah di ciptakan oleh Allah” Dalam tradisi ini meskipun di sangkut paukan dalam hal mistis yang terlihat dalam namanya tradisi pawai hantu, tetapi dalam tradisi ini tidak ada saupun prosesi dalam melakukan tradisi ini yang menyimpang kaidah agama
Strategi Penanganan Konflik dengan Inovasi Sosial (Studi pada Konflik Perebutan Lahan di Desa Mempaya, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur)
Konflik yang terjadi mempermasalahkan isu lingkungan yang melibatkan beberapa pihak dengan fokus sektornya masing-masing. Konflik ini berawal dari tahun 2003 yang dimana masuknya PT. SCHG ditengah-tengah masyarakat sudah banyak menimbulkan polemik dimasyarakat sekitar, pada tahun 2009 pihak PT. SCHG melaporkan salah satu masyarakat yang mernambang dilahan tersebut kepada pihak polisi, maka dari itu konflik pun semakin memuncak dimana para masyarakat Desa Mempaya tidak terima dengan tindakan yang dilakukan oleh pihak PT. SCHG tersebut para masyarakat Desa Mempaya melakukan demontrasi terhadap PT. SCHG dikarenakan masyarakat tidak terima akan tindakan PT. SCHG yang melaporkan masyarakat menambang dilahan milik PT. Timah. Yang dimana mulanya konflik ini hanya terjadi antara Pihak PT. Timah dan pihak PT. SCHG, akan tetapi didalam masyarakat Desa Mempaya memiliki kelompok masyarakat yaitu kelompok masyarakat penambang dan kelompok masyarakat buruh sawit, yang dimana di kelompok masyarakat ini memiliki kepentingan satu sama lain seperti masyarakat penambang lebih pro kepada PT. Timah karena ketika lahannya jatuh kepada PT. Timah maka masyarakat penambang dengan leluasa menambang dilahan tersebut. dan sebaliknya pun begitu, kelompok masyarakat buruh sawit lebih pro kepada PT. SCHG karena ketika lahannya jatuh kepada PT. SCHG maka masyarakat buruh sawit tidak akan khawatir akan hilangnya pekerjaan. Maka dari itu, dari adanya konflik perebutan lahan ini banyak aktor-aktor yang dilibatkan antara lain pihak PT. Timah, pihak PT. SCHG, kelompok masyarakat penambang dan kelompok masyarakat buruh sawit. Kecendrungan perebutan lahan yang terjadi antara PT. Timah dengan PT. SCHG diawali dengan adanya penanaman bibit sawit oleh PT. SCHG seluas 1.950 Hektar serta mengklaim lahan tersebut sudah menjadi hak mereka. Kasus perebutan tersebut telah berlangsung dari tahun 2003-2011 yang pada akhirnya dimenangkan oleh PT Timah. Jika ditinjau secara hukum, lahan tersebut merupakan kepemilikan PT Timah yang sudah diatur dalam regulasi. Artinya, bisa dipahami dalam hal ini terdapat tumpang tindih akses lahan yang dilakukan PT. SCHG terhadap lahan yang seharusnya menjadi kepemilikan PT Timah. Maka muncul perselisihan yang mengarah kepada konflik perebutan lahan antara kedua belah pihak yakni PT Timah dengan PT. SCHG. Konflik perebutan lahan yang berlangsung lama tersebut banyak memunculkan polemik di masyarakat hingga pada akhirnya pihak-pihak yang terlibat membentuk suatu kesepakatan bersama untuk menyelesaikan konflik melalui kompensasi berupa sejulmah uang yang diberikan PT. Tmah kepada PT. SCHG. Penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Hasil dari penelitian ini lahan yang menjadi konflik antara perusahaan kami dengan PT. Timah itu, kedua belah pihak kami sudah selesai membuat kesepakatan satu sama lain, yang dimana isinya tentang lahan yang sudah ditinggalkan dari perusahaan kami agar tidak ada lagi bentuk berkelanjutan ini dari sisi perusahaan kami, sedangkan dari sisi PT. Timah lahan yang di konflikkan telah berhenti produksinya.
Peningkatan Layanan Kesehatan dalam Upaya Menekan Angka Kematian Melalui Program Inovasi pada Masyarakat Kabupaten Bangka, Kabupaten Gresik, dan Kabupaten Garut
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yaitu setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan, mempertahankan, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Kewajiban yang disebutkan diatas, pelaksanaannya meliputi upaya kesehatan perseorangan, upaya kesehatan masyarakat, dan pembangunan berwawasan kesehatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis inovasi yang dilakukan pada ketiga daerah tersebut dalam upaya masyarakat memajukan meningkatkan kualitas daerah dalam hal fasilitas kesehatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualititatif. Populasi pada penelitian ini adalah daerah yang telah melakukan inovasi dalam bidang kesehatan. Sedangkan subjek penelitiannya yaitu pada Kabupaten Bangka, Kabupaten Gresik, dan Kabupaten Garut. Dimana, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis inovasi yang dilakukan pada ketiga daerah tersebut dalam upaya masyarakat memajukan meningkatkan kualitas daerah dalam hal fasilitas kesehatan. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan banyaknya inovasi yang dilakukan oleh berbagai daerah menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan sudah tercipta. Hal yang selanjutnya harus dilakukan adalah dengan mempertahankan budaya inovasi ini untuk terus berkembang agar kehidupan masyarakat khususnya dalam bidang kesehatan dapat lebih berkualitas. Dimana,hasil inovasi yang dilakukan oleh Kabupaten Bangka salah satunya adalah berhasil menurunkan Angka Kematian Ibu sebanyak 50 % dari jumlah kasus 12 ibu pada tahun 2015 menjadi 6 ibu pada tahun 2016. Kemudian, hasil novasi yang dilakukan pada Kabupaten Gresik salah satunya adalah Pelayanan Pasien TB Resisten Obat yaitu penatalaksanaan TB MDR yang komprehensif dan mudahnya akses dan kenyamanan pelayanan. Tak hanya pada dua Kabupaten tersebut, inovasi yang dilakukan oleh Kabupaten Garut pun memperoleh hasil, dimana salah satunya adalah adanya penyuluhan di Sekolah yg dilaksanakan pemeriksaan Hb Remat
Analisis Interaksionisme Simbolik Tradisi Sam Sip Pu pada Perayaan Imlek di Pulau Bangka
Sam Sip Pu is a tradition to welcome Chinese New Year by praying either at home or at worship places. In the process of selecting the offerings and equipment that will be provided at the time of prayer, all are based on the results of interpretation of each family towards the offerings or the tools that will be used. The background of this Sam Sip Pu tradition research is the symbols used in offerings and equipment as well as the meaning of offerings and equipment in the celebration of the Sam Sip Pu tradition on Bangka Island.The research design uses qualitative research, using a verstehen approach. The data source used is primary data which taken from interviews with the religious leaders and the Chinese community who carry out the Sam Sip Pu Tradition on Bangka Island. While secondary data obtained through research journals, previous research, books, or documents. The symbols in the Sam Sip Pu tradition are equipment for food such as fruits, cakes, Sam Sang, tea, wine, candles, rakes, Kim Ci, and NyunCi. The intepretations of equipment such as candles and Garu symbolizes the medium of conveying prayer, Kim Ci symbolizes money to gods, NyunCi symbolizes money to ancestors, duplicate items (clothes, money, etc.) symbolize respect, delivery boxes (hun be) symbolize delivery. According to Blumer's symbolic interactionism interaction, firstly, the symbols in the Sam Sip Pu tradition are used continuously and have meaning, secondly, knowledge of these meanings is not only owned by one or two groups, but the knowledge is owned by the Chinese community, third, it can be seen from how the Chinese community looks for alternatives when carrying out the Sam Sip Pu tradition such as the use of symbols and meanings embedded in offerings, for example tofu.Sam Sip Pu merupakan tradisi dalam menyambut Imlek dengan melaks anakan sembahyang baik itu di rumah ataupun di tempat ibadah. Dalam proses pemilihan persembahan dan perlengkapan yang akan disediakan pada saat sembah yang semua berdasarkan hasil pemaknaan dari masing-masing keluarga terhadap persembahan ataupun alat-alat yang akan digunakan. Latar belakang penelitian tradisi Sam Sip Pu ini adalah simbol-simbol yang digunakan dalam persembahan dan perlengkapan serta pemaknaan terhadap persembahan dan perlengkapan dalam perayaan tradisi Sam Sip Pu di Pulau Bangka. Desain penelitian menggunakan penelitian kualitatif, dengan menggunakan pendekatan verstehen. Sumber data yang digunakan adalah data primer yang berasal dari wawancara terhadap tokoh agama dan masyarakat Tionghoa yang melakukan Tradisi Sam Sip Pu di Pulau Bangka. Sedangkan data sekunder didapat melalui jurnal penelitian, penelitian terdahulu, buku, atau dokumen. Simbol-simbol yang ada pada tradisi Sam Sip Pu itu berupa perlengkapan untuk makanan seperti buah-buahan, kue, Sam Sang, teh, arak, lilin, garu, Kim Ci, dan NyunCi. Pemaknaan perlengkapan seperti Lilin dan Garu melambangkan media menyampaikan doa, Kim Ci melambangkan uang kepada dewa, Nyun Ci melambangkan uang kepada leluhur, barang-barang duplikat (pakaian, uang, dan lain-lain) melambangkan penghormatan, kotak pengantar (hun be) melambangkan pengiriman. Menurut interaksi interaksionisme simbolik Blumer, pertama simbol-simbol yang ada pada tradisi Sam Sip Pu digunakan secara terus-menerus dan memiliki makna, kedua, pengetahuan terhadap makna tersebut bukan hanya dimiliki oleh satu atau dua kelompok saja, tapi pengetahuan tersebut dimiliki oleh masyarakat Tionghoa, ketiga, bisa dilihat dari bagaimana masyarakat Tionghoa mencari alternatif pada saat melaksanakan tradisi Sam Sip Pu seperti penggunaan simbol dan makna yang disematkan pada persembahan, contohnya tahu