Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia (JPTI)
Not a member yet
184 research outputs found
Sort by
Analisis Pengaruh Refluks dan Jumlah Tray Kolom Distilasi Dalam Proses Purifikasi Green Diesel
Green Diesel merupakan salah satu sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui dan mampu mengurangi ketergantungan energi nasional terhadap energi fosil. Hal ini dikarenakan green diesel dapat diproduksi dari minyak nabati dan limbah seperti minyak jelantah dengan proses hidrogenasi trigliserida menggunakan reaktor hydrotreating. Secara karakteristik minyak jelantah dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan green diesel karena mengandung trigliserida dan asam lemak bebas. Namun dari hasil green diesel yang diproduksi masih banyak mengandung fraksi selain diesel, sehingga masih perlu dilakukan proses pemisahan. Proses pemisahan yang dilakukan yaitu dengan menggunakan kolom distilasi bubble cap tray. Pada penelitian ini dilakukan 2 kali percobaan yaitu distilasi menggunakan refluks dan distilasi tanpa refluks dengan variasi masing-masing jumlah tray (1,2,3, dan 4 tray) menggunakan 1500 ml crude green diesel dengan temperatur boiler 260 , temperatur kondensor dan refluks 10 . Waktu operasi yang digunakan 90 menit pada tiap variasi. Dari hasil penelitian, diperoleh kondisi optimum proses distilasi green diesel yaitu distilasi dengan refluks pada tray 1. Adapun hasil analisa karakteristik distilat berupa green diesel yaitu densitas sebesar 0,815 – 0,830 gr/cm3, viskositas kinematik sebesar sebesar 2,70 – 2,72 mm2/s, titik nyala sebesar 55 – 57,8oC, nilai kalor sebesar 44,95 MJ/kg atau 10736,4051 Cal/gr, dan cetane number sebesar 100,7 CN. Dari hasil analisa tersebut produk green diesel yang dihasilkan telah memenuhi standar Green Diesel European Standards EN15940:2016/A1:2018
Analisis Penggunaan Video sebagai Media Pembelajaran Terpadu terhadap Motivasi Belajar Siswa
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya keberadaan media pembelajaran berbasis teknologi berupa video pembelajaran. Adanya video pembelajaran ini sebagai upaya motivasi belajar siswa dimana dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan siswa tidak merasa bosan selama pembelajaran berlangsung. Karena jarang sekali guru yang dalam kegiatan pembelajarannya menggunakan video. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penggunaan video sebagai media pembelajaran terpadu terhadap motivasi belajar siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas III SDN 1 Paniis yang berjumlah 26 orang. Instrumen yang digunakan adalah angket. Angket untuk mengukur motivasi belajar, respon siswa dan penyajian video dalam pembelajaran terpadu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Penggunaan video dalam pembelajaran terpadu memberikan kontribusi yang baik terhadap motivasi belajar siswa, dilihat dari frekuensi kategori sangat setuju sebesar 67,25%, 2) Siswa memberikan respon yang kurang baik terhadap pembelajaran terpadu menggunakan video pembelajaran, dilihat dari frekuensi kategori sangat setuju sebesar 43,5%, 3) Penyajian video dalam pembelajaran terpadu telah disajikan dengan baik, dilihat dari frekuensi kategori sangat setuju sebesar 63%
Penggunaan Poster Ilustrasi Untuk Memberikan Pemahaman Kepada Siswa SMA Mengenai Hukum Penggunaan Shopee PayLater Dalam Pandangan Islam
Perkembangan zaman pada saat ini akan menjadikan kebutuhan dan gaya kehidupan individu berkembang. Tetapi, seiring dengan perkembangan teknologi saat ini, banyak di antara masyarakat terutama dikalangan siswa SMA yang memiliki perilaku konsumtif, sehingga banyak diantara mereka yang selalu berbelanja di e-commerce shopee menggunakan fitur Shopee PayLater. Namun saat ini masih banyak siswa yang belum mengetahui hukum dari penggunaan Shopee PayLater itu seperti apa. Sementara itu, sebagai seorang muslim tentu kita harus mengetahui hukum dari penggunaan Shopee PayLater menurut Islam. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan penggunaan dari produk poster ilustrasi dalam memberikan pemahaman mengenai hukum penggunaan Shopee PayLater dalam Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan model penelitian Design and Development (D&D). Hasil data uji coba poster ilustrasi di lapangan yang melibatkan 37 siswa dari 7 indikator menunjukan rerata skor 93,34%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan Poster Ilustrasi untuk memberikan pemahaman tentang Shopee PayLater menurut tanggapan pengguna dinilai “Sangat Baik”
Analisis Perbandingan Metode Certainty Factor, Dempster Shafer dan Teorema Bayes dalam Deteksi Dini Gangguan Kesehatan Mental
Kesehatan adalah hal yang sangat penting, karena tanpa kesehatan yang cukup, maka setiap individu akan sulit dalam melaksanakan aktivitasnya kesehariannya, baik berupa kesehatan fisik maupun mental. Dewasa ini, kesehatan mental masih menjadi hal yang sering diabaikan oleh sebagian masyarakat. Padahal gangguan kesehatan mental ini dapat menyebabkan komplikasi serius, baik pada fisik, emosi, maupun perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan diagnosis awal terhadap gangguan kesehatan mental, sehingga dapat diminimalisir dampak yang dapat ditimbulkannya. Diagnosis awal yang dihasilkan merupakan hasil analisis berdasarkan gejala yang ditimbulkan dengan menggunakan tiga buah metode yaitu Certainty Factor, Dempster-Shafer, dan Teorema Bayes. Ketiga metode ini melakukan analisis masing-masing dengan cara mengukur tingkat keyakinan pakar dengan nilai probabilitas berdasarkan gejala yang ada. untuk dapat mengukur nilai kemungkinan seseorang menderita gangguan Kesehatan Mental, sehingga dapat mengetahui metode mana yang paling tepat digunakan. Berdasarkan hasil analisis tersebut penelitian ini menunjukan bahwa metode Certainty Factor memiliki nilai probabilitas sebesar 99,4%, metode Dempster-Shafer dengan nilai probabilitas sebesar 94% dan Teorema Bayes dengan nilai probabilitas sebesar 81.65%. Sehingga metode Certainty Factor merupakan metode yang paling tepat digunakan untuk melakukan diagnosasi penyakit ini. Pada pengujian Usability yang dilakukan website Sistem Pakar hasil implementasi ketiga metode ini diperoleh hasil sebesar 80.68%, sehingga juga dapat disimpulkan bahwa hasil pengguna cukup puas dengan sistem pakar tersebut
Pengaruh pH Fermentasi dan Putaran Pengadukan pada Fermentasi Molasses terhadap Produksi Bioetanol
Bioetanol merupakan bahan kimia yang dapat digunakan sebagai pelarut, antiseptik dan juga bahan bakar alternatif. Salah satu bahan baku yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan bioetanol adalah molase atau tetes tebu yang merupakan sisa pembuatan gula tebu namun masih mengandung glukosa yang tinggi. Komposisi yang penting dalam molase adalah TSAI (Total Sugar as Inverti) yaitu gabungan dari sukrosa dan gula reduksi. Molases memiliki kadar TSAI antara 50 – 65 %. Konversi molase menjadi bioetanol dilakukan dengan cara fermentasi didalam fermentor. Fermentor berpengaduk merupakan salah satu tipe fermentor yang banyak digunakan. Pengadukan berfungsi untuk meratakan kontak sel dan substrat, menjaga agar mikroorganisme tidak mengendap dibawah bagian bioreaktor. Kualitas dan kuantitas hasil fermentasi dapat dipengaruhi oleh derajat keasaman, pH yang terlalu rendah (asam) atau terlalu tinggi (basa) dapat memicu tingkat kematian sel mikroba. Selain itu, kecepatan pengadukan juga berpengaruh terhadap kontak substrat dalam fermentor untuk mengonversi molase. Artikel ini membahas tentang kengaruh pH fermentasi (4, 4,5, 5, 5,5, dan 6) dan kecepatan pengadukan (15, 35, 55, 75, 95rpm) terhadap kualitas dan kuantitas produksi bioetanol menggunakan fermentor berpangaduk. Dari penelitian ini didapatkan Ph optimal termentasi mulai dari pH fermentasi 5,5 sampai dengan 6 dan kecepatan pengadukan optimum pada penelitian ini adalah 95 rp
Biopelet dari Eceng Gondok, Sekam, Dedak, Serbuk Gergaji dan Tongkol Jagung Ditinjau dari Komposisi Terhadap Kualitas Biopelet
Sebagian besar kebutuhan bahan bakar dipenuhi dari bahan bakar fosil dengan berbagai kegunaan untuk mendukung kegiatan masyarakat. Namun, ketersediaan bahan bakar saat ini semakin berkurang, terutama bahan bakar fosil. Biopellet merupakan bahan bakar biomassa padat dengan kerapatan dan keseragaman ukuran yang lebih baik daripada biomassa. Variabel yang mempengaruhi kesempurnaan pembakaran, ukuran partikel, dan karakteristik material. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan bio pellet yang memenuhi standar SNI 8021-2014. Hasil penelitian untuk komposisi campuran eceng gondok, serbuk gergaji, dan tongkol jagung dapat diketahui bahwa kualitas pellet terbaik terdapat pada komposisi campuran eceng gondok 50% : 50% serbuk gergaji dan diameter 8 mm. pellet dengan kadar air 2,41%, kadar abu 2,02 %, zat terbang 63,98%, kadar karbon 31,59%, dan nilai kalor 5148,334 (kal/gr). Untuk campuran sekam padi dan dedak, komposisi 60% sekam padi: dedak 40% dan pellet diameter 9 mm dengan nilai kalor 5517,0128 (cal/gr), kadar air 8,81%, karbon tetap 9,10%, zat mudah menguap 78 0,77%, dan kadar abu 3,32%. Serta untuk komposisi campuran 70% tongkol jagung : hasil torefikasi tongkol jagung 30% dengan diameter pellet 8 mm, nilai kalor 5.271.7799 (cal/gr), kadar air 5,99%, abu kandungan 3,13%, kandungan volatile matter 72,06%, dan kandungan karbon terikat 18,83%. Dimana pellet tersebut telah mencapai Standar Nasional Indonesia 8021-2014
Gangguan Belajar (Diskalkulia) : Definisi dan Model Intervensi
Gangguan belajar secara negatif dapat mempengaruhi kemampuan anak untuk berkomunikasi dan menghadapi proses pembelajaran. Adapun gangguan belajar umum melibatkan gangguan membaca (disleksia), aritmatika (diskalkulia), dan ekspresi tertulis (disgrafia). Diskalkulia menggambarkan anak-anak dengan kekurangan kemampuan aritmatika seperti mengalami masalah pemahaman istilah matematika dasar atau operasi hitung. Artikel ini merupakan kajian literatur untuk mengkaji mengenai diskalkulia meliputi definisi, asesmen serta model intervensi. Diskalkulia disebut sebagai mathematic disorder atau developmental arithmatic disorder dan biasanya terjadi bersamaan dengan beberapa neurodevelopmental disorder seperti disfungsi akademik secara umum, kemampuan membaca, gangguan bahasa, gangguan perhatian dan fungsi eksekutif, disfungsi visuopersepsi atau visuospasial dan nonverbal learning disability. Sebelum dilakukan intervensi perlu dilakukan asesmen terlebih dahulu yang meliputi asesmen terhadap kemampuan matematika, riwayat, asesmen psikososial dan pemeriksaan klinis. Model intervensi yang dapat dilakukan terhadap anak dengan diskalkulia adalah model psikoedukasi, model kognitif, model medis, model neuropsikologis dan model kognitif. Program pembelajaran individual dan tutor sebaya serta berbagai media pembelajaran dapat membantu proses pembelajaran anak dengan diskalkulia
Optimalisasi Pendekatan Kooperatif Model Explicit Instruction Pada Pembelajaran PAI Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMAN I Dukupuntang
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020. Dengan tujuan 1) Ingin mengetahui peningkatan aktivitas siswa melalui pendekatan model explicit instruction pada pembelajaran PAI. 2) Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa melalui pendekatan model explicit instruction pada pembelajaran PAI. Subjek penerima tindakan adalah siswa kelas X yang berjumlah 35 orang dengan rincian 16 orang siswa laki-laki dan 19 orang siswa perempuan. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah berupa teknik hasil tes (uji kompetensi) dan teknik hasil observasi langsung dengan mengamati kinerja guru maupun siswa, serta dari hasil angket pendapat siswa mengenai proses pembelajaran yang telah berlangsung pada setiap siklus, dengan maksud untuk mengetahui respons siswa terhadap proses pembelajaran tersebut mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan sampai pada tahap akhir pembelajaran, dengan aspek yang diamati berupa : aktivitas, kerja sama dan hasil belajar siswa. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah, Melalui evaluasi/tes baik memberikan nilai rata-rata pada siklus I sebesar (62,43). Sedangkan pada siklus 2 mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata sebesar (76,85). Pada akhir siklus rata-rata sebesar (84,14). Terjadi peningkatan secara signifikan pada tiap siklusnya. Pendekatan model explicit instruction berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Terlihat pada siklus I persentase masing-masing untuk aspek (SS) sebesar (59%), (S) sebesar (100%), (CS) sebesar (84%), dan (KS) sebesar (88%). Pada siklus 2 untuk aspek (SS) sebesar (75%), (S) sebesar (82%), (CS) sebesar (59%), dan (KS) sebesar (25%). Sehingga pembelajaran kooperatif model explicit instruction dapat digunakan pada pembelajaran PAI sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dikelas X SMAN I Dukupuntang Kabupaten Cirebon.
Subjek penerima tindakan adalah siswa kelas X yang berjumlah 35 orang dengan rincian 16 orang siswa laki-laki dan 19 orang siswa perempuan. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah berupa teknik hasil tes (uji kompetensi) dan teknik hasil observasi langsung dengan mengamati kinerja guru maupun siswa, serta dari hasil angket pendapat siswa mengenai proses pembelajaran yang telah berlangsung pada setiap siklus, dengan maksud untuk mengetahui respons siswa terhadap proses pembelajaran tersebut mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan sampai pada tahap akhir pembelajaran, dengan aspek yang diamati berupa : aktivitas, kerja sama dan hasil belajar siswa.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah, Melalui evaluasi/tes baik memberikan nilai rata-rata pada siklus I sebesar (62,43). Sedangkan pada siklus 2 mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata sebesar (76,85). Pada akhir siklus rata-rata sebesar (84,14). Terjadi peningkatan secara sigbifikan pada tiap siklusnya, yang berarti siswa telah mampu beradaptasi dengan model explicit instruction dalam belajar PAI. Pendekatan model explicit instruction berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa ke arah lebih baik. Dari angket siswa pada siklus I persentase masing-masing untuk aspek (SS) sebesar (59%), (S) sebesar (100%), (CS) sebesar (84%), dan (KS) sebesar (88%). Pada siklus 2 untuk aspek (SS) sebesar (75%), (S) sebesar (82%), (CS) sebesar (59%), dan (KS) sebesar (25%).
Sehingga dapat direkomendasikan bahwa pembelajaran kooperatif model explicit instruction dapat digunakan pada pembelajaran PAI sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dikelas X SMAN I Dukupuntang Kabupaten Cirebon
Metode Team Game Tournament untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Materi Metabolisme Kelas XII MIPA SMA Negeri 1 Waled
Dalam pembelajar sudah seharusnya guru melakukan berbagai inovasi agar siswa tidak mengalami kejenuhan dalam pembelajaran di kelas, satu diantaranya adalah penggunaan metode pembelajaran. Banyak guru yang masih menggunakan metode ceramah yang membuat siswa kurang motivasi dalam belajar karena penyampaian materi yang hanya satu arah. Dalam penelitian ini akan menggunakan metode Team Game Tournament dalam pembelajaran di kelas. Metode pembelajaran Team Game Tournament merupakan sebuah metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam melakukan evaluasi hasil belajar siswa diakhir pembelajaran dengan membagi siswa menjadi kelompok kecil dengan anggota 3 sampai 5 siswa yang berbeda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakangnya, kemudian siswa akan diarahkan untuk bekerja sama dalam kelompoknya. Dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan dan hasil belajar pada materi metabolisme dengan menggunakan Metode Team Game Tournament di SMA Negeri 1 Waled. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dengan menggunakan observasi dan tes secara tertulis serta permainan dalam Team Game Tournament sebagai metode pengumpulan data. Dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan dua siklus dengan tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi di tiap siklusnya. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas XII MIPA 5 SMA Negeri 1 Waled yang berjumlah 31 orang, terdiri dari 7 orang siswa laki-laki dan 24 orang siswa perempuan. Setelah data terkumpul, selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis menunjukkan tingkat keberhasilan dalam penggunaan metode Team Game Tournament pada siklus I dengan nilai rata-rata sebesar 75 dengan peresntase ketuntasan 51,6%; dan pada siklus II dengan nilai rata-rata sebesar 84 dengan presentase ketuntasan 90%
Pengembangan Video Animasi Pembelajaran PAI dalam Meningkatkan Pendidikan Karakter Anak di Sekolah Dasar Melalui Zepenter
Pendidikan Karakter adalah proses penerapan nilai-nilai moral dan agama kepada peserta didik melalui ilmu pengetahuan dan nilai-nilai tersebut diterapkan pada diri sendiri, keluarga, sahabat, pendidik,dan orang- orang disekitarnya,atau kepada Tuhan. Pertumbuhan sosial anak SD telah dilakukan sejak dini seperti menghormati orang tua dan beribadah. Namun kenyataannya pada hal pendidikan karakter masih banyak siswa sekolah dasar masih kurang menerapkan. Maka dari itu kami melakukan penelitian kepada kelas IV SD dengan mengambil materi Nilai-nilai dalam Pendidikan karakter. Tujuan dari Penelitian ini yaitu untuk mengetahui seberapa banyak anak yang menanamkan nilai karakter pada dirinya dan untuk menguji coba sebuah produk berupa video animasi yang ditunjukan kepada siswa sekolah dasar kelas IV. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Design and Development. Berdasarkan hasil datanya, menunjukan bahwa dari 29 siswa yang mengisi angket tersebut terdapat 3 orang siswa atau kurang dari 10% tidak paham mengenai arti dari pendidikan nilai karakter, 7 orang siswa atau sekitar 6 % siswa merasa tidak ikhlas saat kehilangan sesuatu, 1 orang siswa atau kurang lebih dari 3 % siswa merasa belum mempunyai rasa tanggung jawab, perkerja keras, dan berkata jujur kepada orang tua. Selebihnya semua siswa mengisi atau menjawab “YA”. Berdasarkan dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa rata-rata peserta didik dapat termotivasi dan tertarik dengan hasil produk yang telah dibuat dan semua peserta didik dikelas IV SDN Pakuwon II tersebut paham dan mengerti mengenai Nilai-nilai dalam Pendidikan karakter karena semua peserta didik tersebut telah menunjukan dan melaksakan sikap karakter yang terpuji