E-Journal Universitas Dwijendra
Not a member yet
1135 research outputs found
Sort by
PENERAPAN KOMUNIKASI PEMASARAN DALAM MENINGKATKAN JUMLAH PELANGGAN PADA COFFEE SHOP KOPI KENANGAN BATUBULAN GIANYAR
Coffee shop merupakan sebuah lokasi atau tempat yang mana menyediakan aneka macam minuman berbahan dasar kopi yang mana pembuatannya menggunakan teknik yang berbeda satu sama lain sehingga mendapatkan varian kopi. Kopi Kenangan Batubulan merupakan salah satu coffee shop yang berada di wilayah Gianyar, Bali. Coffee shop ini menyediakan berbagai jenis kopi dengan cita rasa yang khas dan unik.Dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat, Kopi Kenangan Batubulan melakukan strategi pemasaran yang efektif untuk meningkatkan jumlah pelanggan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan komunikasi pemasaran dalam meningkatkan jumlah pelanggan pada Coffee Shop Kopi Kenangan Batubulan Gianyar. Pendekatan kualitatif digunakan dengan menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif.Pendekatan penelitian yang berdasarkan pada data yang bersumber dari informasi berupa narasi yang didapatkan melalui informan Data dikumpulkan melalui wawancara dengan pemimpin toko, barista dan pelanggan serta observasi langsung di lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kopi Kenangan menerapkan strategi komunikasi pemasaran yang efektif melalui aspek 4P (Product, Price, Place, Promotion).Kopi Kenangan menonjolkan kualitas biji kopi, berbagai varian minuman kopi, kebijakan harga yang kompetitif, lokasi yang strategis, desain interior yang menarik, serta promosi melalui media sosial dan program loyalitas. Analisis data jumlah pelanggan selama tiga bulan terakhir menunjukkan peningkatan yang stabil, menandakan keberhasilan strategi pemasaran. Penerapan komunikasi pemasaran yang efektif dapat meningkatkan jumlah pelanggan dan mendukung pertumbuhan bisnis Coffee Shop Kopi Kenangan Batubulan Gianya
Language Learning Styles and Strategies of Primary School Students
Language learning at the elementary school level has an important role in the cognitive and communication development of students. Each student has a different way of absorbing and understanding language which is influenced by their respective learning styles. Learning styles in language learning in 5th grade elementary school students. Learning style is an important factor that influences the effectiveness of understanding and retention of information. There are three main learning styles, namely visual, auditory, and kinesthetic. Therefore, this study aims to explore the dominant language learning styles and language learning strategies often used by elementary school students. This research used a mixed-methods approach, combining quantitative and qualitative data to provide a comprehensive analysis. Participants included 31 fifth-grade elementary school students and three Indonesian language teachers. Data collection was conducted using questionnaires, interview guides, and observation sheets. Quantitative data were analyzed descriptively, while qualitative data from interviews were examined thematically to support and enrich the quantitative findings. The results of this study showed that students who had a visual learning style were 11 students (35.48%), auditory 10 students (32.26%), and kinesthetic 10 students (32.26%). While for language learning strategies, teachers used 3 strategies, namely cognitive, metacognitive, and social-affective strategies. Solutions that can be done to improve the effectiveness of language learning, teachers need to apply methods that are appropriate to the various learning styles of students. A combination of visual media, discussions, and direct practice activities can help students understand the material better. In addition, assistance in using metacognitive strategies is also needed so that students can develop more optimal learning skills
Pengembangan Modul Ajar Berdiferensiasi Berbasis Sad Kerti Loka Bali pada Mata Pelajaran IPAS untuk Meningkatkan Kompetensi 4C Siswa Kelas V Gugus II Kecamatan Busungbiu Tahun Pelajaran 2024/2025
Kemampuan 4C yang rendah pada siswa kelas lima akibat kurangnya pembelajaran kontekstual memerlukan dukungan pembelajaran dari berbagai aspek, termasuk modul pembelajaran yang digunakan guru dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan desain modul pembelajaran dengan Pembelajaran Berdiferensiasi berdasarkan mata pelajaran Sad Kerthi Loka Bali IPAS; (2) menganalisis kelayakan modul pembelajaran dengan Pembelajaran Berdiferensiasi berdasarkan mata pelajaran Sad Kerthi Loka Bali IPAS; (3) menganalisis kelayakan modul pembelajaran dengan Pembelajaran Berdiferensiasi berdasarkan mata pelajaran Sad Kerthi Loka Bali IPAS; dan (4) menentukan efektivitas modul pembelajaran dengan Pembelajaran Berdiferensiasi berdasarkan mata pelajaran Sad Kerthi Loka Bali IPAS dalam meningkatkan kompetensi 4C siswa kelas V di Gugus II Kec. Busungbiu pada Tahun Ajaran 2024/2025. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian dan Pengembangan (R&D) melalui model ADDIE. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner kompetensi 4C. Teknik analisis penelitian ini menerapkan analisis data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) desain modul pembelajaran terdiri dari 3 bab yang mencakup konsep Wana Kerthi, Danu Kerthi, dan Jaga Kerthi, dan disusun berdasarkan komponen modul pembelajaran dalam kurikulum mandiri; (2) Modul pembelajaran telah memenuhi aspek validitas konten, media, dan bahasa dengan kategori baik dan valid; (3) Praktisitas guru dalam menggunakan modul pembelajaran IPAS ini mencapai 85% dengan kriteria sangat praktis; (4) Uji efektivitas penggunaan modul pembelajaran telah meningkatkan kompetensi 4C siswa kelas V dengan Sig. (dua ekor) 0,000 < 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran IPAS yang dibedakan berdasarkan kebijaksanaan lokal Sad Kerthi Loka Bali telah dinyatakan valid, praktis, dan efektif untuk meningkatkan kompetensi 4C siswa kelas V di SD Gugus II Busungbiu pada tahun ajaran 2024/2025
Wujud Elemen Pembentuk Karang Bengang di Desa Tegallalang Gianyar Bali
Penelitian ini merupakan penggalan hasil penelitian tahun 2018 mengenai pemanfaatan karang bengang di Desa Tegallalang, Gianyar, Bali. Karang bengang adalah area terbuka di luar wewengkon desa adat namun masih dalam cakupan wewidangan desa adat tersebut dan berbatasan langsung dengan desa adat lain. Area ini memiliki nilai sakral dan berfungsi sebagai lahan pertanian serta perkebunan yang dikelola oleh subak. Seiring alih fungsi lahan menjadi permukiman, muncul konflik kewenangan pengelolaan akibat ketiadaan serah-terima tata kelola dari subak ke desa adat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami konsep karang bengang dan elemen pembentuknya. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, studi literatur, dan studi instansional dengan narasumber seperti bendesa adat, prajuru, pekaseh, dan pemilik lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen pembentuk karang bengang meliputi aspek parahyangan, pawongan, dan palemahan berdasarkan konsep Tri Hita Karana. Elemen-elemen ini mencakup Pura Ulun Suiw/Bedugul sebagai tempat pemujaan, organisasi subak dengan bale timbang dan telabah sebagai fasilitas pertanian, serta tangluk sebagai penanda batas wilayah yang bernilai sakral. Pemahaman konsep karang bengang dan elemen pembentuknya diharapkan dapat menghindari konflik antar desa adat serta menjadi dasar penetapan batas wilayah desa adat secara lebih jelas. Penelitian ini berkontribusi pada pelestarian kearifan lokal dan harmonisasi sosial dalam tata ruang tradisional Bali
POTENSI EKONOMI PENJUALAN PARSLEY (PETROSELINUM CRISPUM) SEBAGAI TANAMAN HORTIKULTURA EKSKLUSIF DI BALI
Pembangunan pertanian merupakan suatu aktivitas manusia yang dikembangkan sehingga menuju ke kondisi pertanian yang lebih baik lagi. Sektor pertanian yang didalamnya termasuk dalam sektor hortikultura berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi ekonomi penjualan parsley ( Petroselinum Crispum) sebagai Tanaman Hortokultura di Provinsi Bali. Parsley merupakan salah satu tanaman daun yang berasal dari negara Eropa yang digunakan sebagai bahan makanan utama atau sebagai hiasan pemanis di beberapa makanan. Tanaman parsley di Provinsi Bali banyak di temui di daerah Bedugul dan Tabanan. Pada umumnya hasil parsley di dataran tinggi seperti di Bedugul Bali cukup baik. Luas lahan yang diguanakan adalah 1 hektare dengan frekuensi panen 3-4 kali dalam satu musim tanam sekitar 4-5 bulan.Rata-rata hasil panen 25-40 kg / musim/ 0,1 ha. Harga jual parsley biasanya Rp 40.000,- Rp 70.000,-/kg. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa kekuatan tanaman parsley terletak pada nilai ekonomisnya yang tinggi dengan permintaan yang stabil yang biasanya berasal dari sektor perhotelan dan restoran yang ada di Bali. Peluang pengembangan parsley juga bisa dilakukan melalui diversifikasi produk agar menaikkan nilai tambah dari parsley. Terdapat beberapa tantangan antara lain terbatasnya pengetahuan budidaya parsley oleh para petani lokal, persaingan dengan beberapa produk impor dan ketergantungan akan sektor pariwisata. Kesimpulan yang diambil bahwa parsley memiliki prospek cerah sebagai komoditas hortikultura eksklusif dengan potensi ekonomi yang besar dan menjanjikan di Provinsi Bali dengan dukungan dari pemerintah setempat. Saran penelitian ini perlu adanya campur tangan pemerintah dan sektor swasta dalam pengembangan agribisnis tanaman parsley berkelanjutan di daerah pariwisata
TINJAUAN YURIDIS PRAPENUNTUTAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA
Pre-prosecution (prapenuntutan) is a critical stage in the criminal justice system, during which prosecutors monitor the progress of investigations following formal notification from the police. This paper aims to examine the role and challenges of pre-prosecution proceedings, and to advocate for reforms to ensure the process becomes more effective, efficient, and guarantees fair legal certainty. Pursuant to Article 14(b) of the Indonesian Criminal Procedure Code (KUHAP) and Article 30(1)(a) of the Law on the Prosecutor's Office, prosecutors are authorized to review case files and provide instructions to investigators to complete the investigation. However, the absence of time limits in the KUHAP creates legal uncertainty for suspects, particularly concerning their right to a prompt examination as stipulated in Article 50 KUHAP. In practice, pre-prosecution is often hindered by repeated returns of case files (P-19), sectoral egos, and lack of coordination between investigators and prosecutors. These issues result in delays, increased litigation costs, and potential violations of human rights as guaranteed by the 1945 Constitution. Based on data from the Indonesian Prosecutor's Case Management System (CMS) in 2022, 36,283 cases were not proceeded to trial, reflecting the ineffectiveness of the pre-prosecution stage. Although the Prosecutor's Office has issued Guideline No. 24 of 2021 concerning time limits for case resolution, implementation challenges persist. In conclusion, while pre-prosecution is intended to ensure the completeness of case files and legal certainty, it continues to face systemic and procedural obstacles that must be addressed to enhance justice and accountability
Strategies to Achieve Food Sovereignty (Rice): Lesson from Agricultural Development in Bali Province, Indonesia
In Indonesia and several developing countries, the agricultural sector plays a very significant role in economic development. Food (rice) in Indonesia is the most basic need because it is the main staple food. Currently, Indonesia's food security has been achieved but is still determined by rice imports from several countries. Therefore, the development strategy is directed at realizing food sovereignty. Various problems and challenges to increase the productivity and quality of rice in Indonesia due to the influence of climate change. degradation of forest function as a buffer for irrigation water, pest and disease attacks, and also the conversion of rice fields.
The results of study pointed out that some of the problems and challenges faced by farmers related to achieving rice sovereignty are related to: (i) degradation of natural resources; (ii) Limited access to agricultural inputs and tools/machines; (iii) Limited access to knowledge and skills related to agribusiness. Several strategies need to be carried out by farmers, the government, and other stakeholders to achieve food sovereignty. Some of them are: Ensuring the availability of irrigation water; controlling the conversion of rice fields; smart farming: increasing productivity and product quality; improving the quality of human resources; Inclusive agricultural business; and developing an agribusiness system, farmer protection and empowerment, and food diversification. In the future, integration and synergy efforts between sectors are needed to build a strong agricultural ecosystem from upstream to downstream so that food sovereignty can be achieved more easily and quickly
KOMUNIKASI NON VERBAL DALAM PERMAINAN DOLANAN SEBAGAI BENTUK PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL
Komunikasi non-verbal mempunyai pengaruh terhadap efektifitas pembicaraan. Keberadaan komunikasi non-verbal akan dapat diamati ketika melakukan komunikasi secara verbal, maupun pada saat bahasa verbal tidak digunakan. Atau dengan kata lain, komunikasi non-verbal akan selalu muncul dalam setiap tindakan komunikasi.Kategori komunikasi non-verbal yang dimaksud dalam permainan/dolanan ini adalah beragam cara yang digunakan anak-anak untuk berkomunikasi secara non-verbal, yaitu vocalics atau paralanguage, kinesics yang menyangkut gerakan tubuh, lengan, kaki, ekspresi wajah, perilaku mata, lingkungan yang menyangkut obyek benda dan artifak. Sehingga dengan memahami komunikasi non-verbal tersebut anak-anak dapat dengan leluasa melakukan permainan tersebut.Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan teknik pengambilan data menggunakan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian dan analisa diatas maka kesimpulan yang diambil dalam penelitian ini yaitu komunikasi non-verbal yang dimaksud dalam permainan/dolanan Medalu Jempiyitan sebagai wujud pelestarian nilai kearifan lokal adalah beragam cara yang digunakan anak-anak/pemain untuk berkomunikasi secara non-verbal yaitu vocalics atau paralanguage, kinesics yang menyangkut gerakan tubuh, lengan, kaki, ekspresi waja
PENERAPAN KOMUNIKASI BISNIS PRODUK FASHION YANG EFEKTIF PADA E-COMMERCE UNTUK MENARIK MINAT PELANGGAN
Komunikasi bisnis yang efektif memainkan peran penting dalam menarik minat pelanggan pada industri fashion melalui platform e-commerce. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan konsep 7C (Clarity, Conciseness, Completeness,Correctness, Courtesy, Consideration dan Concretness) serta cakupan/aspek-aspek komunikasi bisnis pada tiga toko online: Lilo Official, Gurlbucket, dan 99kOutlet. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap toko online dimaksud dan studi kepustakaan. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menemukan bahwa toko pakaianonline 99kOutlet, Lilo Offical, dan Gurlbucket telah mengikuti prinsip 7C dalamkomunikasi bisnis. Pelaksanaan 7C dari masing-masing toko pun sudah baik, yang ditunjukan dengan penjabaran informasi dari masing-masing toko yang sangat informatif dan menyampaikan setiap pesan kepada pelanggan sesuai ciri khas masing-masing toko, penyampaian pesan maupun balasan terhadap tanggapan pelanggan disampaikan dengan jelas dan didukung dengan pengunaan bahasa yang sopan yang pada akhirnya dapat membangun kepercayaan bagi para pelanggannya. Terlebih lagi jika dilihat dari masing-masing toko, 99kOutlet memberikan respon dengan cepat meskipun sekedar tanggapan/review dengan fakta-fakta produk yang mendukung, sedangkan Lilo Offical sangat mengedepankan kualitas produk dalam melakukan promosi, dan Gurlbucket menjadi toko yang jeli melihat peluang sehingga mampu menghadirkan produk sesuai dengan keinginan pasar
Percentage Attacks of Plutella xylostella and Parasitization of the Parasitoid Diadegma semiclausum on Cabbage in Kintamani District
Cabbage plants are one of the horticultural commodities that many farmers cultivate in Indonesia because they have economic value, because apart from being able to meet domestic needs, cabbage also has the opportunity to become an export commodity. This study aims to determine the percentage of attacks by the cabbage leaf caterpillar Plutella xylostella and the level of parasitization of the parasitoid Diadegma semiclausum in Kintamani District. This research was carried out in Sekaan Village and Kedisan Village. The research method uses a survey method. Sampling of cabbage plants in the field was carried out diagonally so that 5 sample points were obtained, 10 plants were observed at each sample point. The research results showed that the percentage of P. xylostella pest attacks in Sekaan Village and Kedisan Village ranged from 12% to 28%. The average population of P. xylostella larvae in Sekaan Village ranges from 0.98 individuals/plant to 1.82 individuals/plant and the highest average population of P. xylostella larvae in Kedisan Village ranges from 0.7 individuals/plant to 1.66 individuals/plant. The level of parasitization of the parasitoid D. semiclausum in Sekaan Village ranges from 32% to 56% and the level of parasitization of the parasitoid D. semiclausum in Kedisan Village ranges from 24% to 48%. The highest peak of parasitization was found in the fourth observation (4 WAP)