Pondok Jurnal
Not a member yet
398 research outputs found
Sort by
IMPLEMENTASI METODE IQRA’ DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA AL QUR'AN DI TPQ DUSUN LELONGGEK DESA SUNTALANGU
Keterbatasan pengetahuan masyarakat Dusun Lelonggek tentang metode pembelajaran Al Qur’an secara tidak langsung berdampak pada rendahnya kemampuan anak-anak dalam membaca AlQur’an. Permasalahan ini merupakan tantangan dan tanggung jawab kami dalam melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di lingkungan Leleonggek. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi permasalahan tersebut dengan membuat program kegiatan belajar al Qur’an dengan metode Iqra’ di mana peserta kegiatan ini adalah anak-anak di TPQ Dusun Lelonggek sebagai lokasi pengabadian. Hasilnya adalah metode Iqra’ merupakan salah satu dari sekian metode dalam belajar al Qur’an sebagai usaha inovasi metode pembelajaran yang efektif dan signifikan terhadap upaya peningkatan kemampuan membaca al Qur'an pada anak-anak di dusun Lelonggek. Dengan metode Iqra’ anak-anak lebih cepat dalam belajar membaca al Qur’an dan lebih menarik perhatian mereka sehingga mereka merasa senang dan betah belajar
Dialog Islam-Budaya: Merumuskan Sikap Islam Atas Budaya Lokal
This study aims to examine the interaction of Islam and Arab culture; in this case, the response of the Prophet saw with the culture of the Arab community. As uswah hasanah for his ummah, the variety of responses of Rasulullah saw contained in the hadith and historical records will be identified and then lessons will be taken from it. The background of this paper stems from the anthropological fact that society, including the Arab society before the advent of Islam, is not a society empty of culture or sterile from the influence of religion, customs, morals, and rules of life that have existed among them. As soon as Islam came with all the norms that were in it, then Islam interacted with it and became a filter for the culture, customs, and beliefs that already existed among the pre -Islamic Arab society. The question is how did Muhammad saw respond to that tradition? This study is based on a study of historical literature that contains the Prophet's response to the traditions of the Arab community. There are four important findings that can be noted regarding the Prophet's response to the jāhiliyyah tradition. First, the tradition is fully accommodated (total accommodation). Second, traditions that are totally rejected or totally corrected (total refuse or total correction). Third, traditions that are partly adopted but partly rejected (particular accommodation). Fourth, the tradition is in principle preserved with a little modification here and there (synchronization and modification).Penelitian ini bermaksud mengkaji interaksi Islam dan budaya Arab; dalam hal ini respon Rasulullah saw dengan budaya masyarakat Arab. Sebagai uswah hasanah bagi ummatnya ragam respon Rasulullah saw yang termuat dalam hadits dan catatan sejarah akan diidentifikasi kemudian diambil iktibar atasnya. Latar belakang tulisan ini berangkat dari fakta antropologis bahwa Sebuah masyarakat, termasuk masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam, bukanlah masyarakat hampa budaya atau yang steril dari pengaruh agama, adat istiadat, akhlak serta peraturan-peraturan hidup yang telah ada di kalangan mereka. Begitu Islam datang dengan segala norma yang ada di dalamnya, maka Islam berinteraksi dengannya dan menjadi filter bagi budaya, adat istiadat dan keyakinan yang sudah ada di kalangan masyarakat Arab pra Islam tersebut. Pertanyaannya adalah bagaimana respon Muhammad saw terhadap tradisi itu? Kajian ini didasarkan pada penelitian literatur sejarah yang berisi respon Nabi terhadap tradisi masyarakat Arab. Ada empat temuan penting yang bisa dicatat berkenaan dengan respon Nabi terhadap tradisi jāhiliyyah. Pertama, tradisi yang secara utuh diakomodasi (total accomodation). Kedua, tradisi yang secara total ditolak atau total dikoreksi (total refuse or total correction). Ketiga, tradisi yang sebagian diadopsi tetapi sebagian yang lain ditolak (particular accomodation). Keempat, tradisi yang secara prinsip tetap dilestarikan dengan sedikit modifikasi di sana-sini (sincronization and modification)
Rumah Ibadah Dan Identitas Keberagamaan: Kontekstualisasi Hadis Penghancuran Masjid Pada Masa Nabi Muhammad SAW
The house of worship is one of the sacred places in the religious community. In addition, the house of worship is also one of the important icons in a religion. In the context of Islam, the Prophet Muhammad once ordered to destroy houses of worship. This is certainly contradictory to the house of worship as a sacred and iconic place. This paper discusses further about the traditions of the destruction of the house of worship. In addition, this paper also contextualizes the universal values of the hadith with the context of religion in Indonesia. The double movement theory initiated by Fazlur Rahman which was further developed by Abdullah Saeed becomes a point of view in analyzing this reality. If we go back to past history, the order to destroy houses of worship at the time of the Prophet was caused by the existence of mosques that did not benefit the Muslim community. On the contrary, the mosque was used to spy on the Muslim community at that time. If you look at the context, then the destruction of mosques in Indonesia by using the hadith as a justification is certainly not appropriate because the context is different.Rumah ibadah merupakan salah satu tempat sakral dalam masyarakat beragama. Selain itu, rumah ibadah juga merupakan salah satu ikon penting dalam suatu agama. Dalam konteks agama Islam, Nabi Muhammad pernah memerintahkan untuk menghancurkan rumah ibadah. Hal ini tentu kontrakdiktif dengan rumah ibadah sebagai tempat yang sakral dan ikonik. Tulisan ini membahas lebih jauh tentang hadis-hadis penghancuran rumah ibadah tersebut. Selain itu, tulisan ini juga mengkontekstualisasi nilai-nilai universal hadis tersebut dengan konteks keberagamaan di Indonesia. Teori double movement yang digagas oleh Fazlur Rahman yang lebih jauh dikembangkan oleh Abdullah Saeed menjadi sudut pandang dalam menganalisis realitas tersebut. Jika kembali kepada sejarah masa lampau, perintah penghancuran rumah ibadah pada masa Nabi disebabkan oleh keberadaan Masjid yang tidak memberikan manfaat kepada masyarakat Muslim. Bahkan justru sebaliknya, Masjid digunakan untuk memata-matai masyarakat Muslim kala itu. Jika melihat konteks itu, maka penghancuran Masjid di Indonesia dengan menggunakan hadis tersebut sebagai justifikasi tentu tidak tepat karena konteksnya yang berbeda
Optimalisasi Pengelolaan Pembelajaran Kelas Alam Pada Masa Pandemi di Dusun Kedatuk Desa Kembang Kerang Daya
Pengabdian ini dilakukan di dusun kedatuk desa kembang kerang daya tepatnya di kelompok belajar kelas alam yang bertujuan untuk mengoptimalkan pengelolaan kelompok belajar tersebut. metode yang digunakkan dalam proses pengabdian adalah 1) Mentoring, 2) Partisipasi aktif dalam pembelajaran, 3) Diskusi, dan 4) Penyediaan referensi tambahan. Melalui metode tersebut kami menemukan bahwa pengelolaan kelas alam secara umum sudah mengikuti prinsip-prinsip manajemen, mulai dari perancanaan, pelaksanaan, kontrol hingga evaluasi, sebagian besar sudah dilaksanakan dalam mengelola kelas alam hanya saja belum maksimal dan tidak terdokumentasi. Atas dasar temuan tersebut kami mengadakan mentoring untuk mengoptimalkan pengelolaan kelas alam tersebut, terutama dalam proses perencanaan dan evaluasinyaPengabdian ini dilakukan di dusun kedatuk desa kembang kerang daya tepatnya di kelompok belajar kelas alam yang bertujuan untuk mengoptimalkan pengelolaan kelompok belajar tersebut. metode yang digunakkan dalam proses pengabdian adalah 1) Mentoring, 2) Partisipasi aktif dalam pembelajaran, 3) Diskusi, dan 4) Penyediaan referensi tambahan. Melalui metode tersebut kami menemukan bahwa pengelolaan kelas alam secara umum sudah mengikuti prinsip-prinsip manajemen, mulai dari perancanaan, pelaksanaan, kontrol hingga evaluasi, sebagian besar sudah dilaksanakan dalam mengelola kelas alam hanya saja belum maksimal dan tidak terdokumentasi. Atas dasar temuan tersebut kami mengadakan mentoring untuk mengoptimalkan pengelolaan kelas alam tersebut, terutama dalam proses perencanaan dan evaluasiny
KONSEP MAKNA UFF DALAM AL-QURAN: Penerapan Teori Semiotika Roland Barthes Terhadap Qs. Al-Isra’ ayat 23
This paper discusses the concept of birrul walidain in the Qur’an, especially in Qs. Al-Isra 'verse 23 which seems to be ignored nowadays, of course, Birrul Walidain here is related to actions, especially words to parents. In the study of semiotics, the word uff is a symbol in the delivery of speech that must be interpreted. One of the semiotic theories developed by scholars is Roland Barthes' semiotics because Barthes uses structural analysis in textual criticism. In his theory, Barthes offers two stages of theory. First, it is referred to as a linguistic system or commonly known as denotative meaning. Second, it is called a mythological system commonly known as connotative meaning. More details. The linguistic system is textual reading and the mythological system is contextual reading. It is certain that the concept of birrul walidain in the Qur'an is very relevant to Barthes' theory, even to other contemporary problems today. Then, the author will apply Barthes' semiotic theory to understand the concept of birrul walidain in the Koran. The results of the application of the theory in Q.S al-Isra verse 23, namely: the linguistic system in the word uff which is not only interpreted as "ah" but also a prohibition not to speak harshly to parents. While the mythological system is that a child is required to serve his parents by loving them both. The ideology contained in this verse is related to morals, not only to parents, but also to older peopleTulisan ini membahas tentang konsep birrul walidain dalam al-Quran khususnya pada Qs. Al-Isra’ ayat 23 yang agaknya dizaman sekarang cenderung diabaikan, tentu birrul walidain disini berkaitan dengan tindakan terutama ucapan kepada kedua orang tua. Dalam kajian semiotika, kata uff merupakan sebuah simbol dalam penyampaian ucapan yang harus diinterpretasikan. Salah satu teori semiotika yang dikembangkan oleh para cendikiawan adalah semiotika Roland Barthes karena yang digunakan Barthes adalah analisis struktural dalam kritik teks. Dalam teorinya, barthes menawarkan dua tahapan teori. Pertama, disebut sebagai sistem linguistik atau biasa dikenal dengan makna denotasi. Kedua, disebut sebagai sistem mitologi biasa dikenal dengan makna konotasi. Lebih detailnya. Pada sistem linguistik adalah pembacaan secara tekstual dan sistem mitologi adalah pembacaan secara kontekstual. Sudah dapat dipastikan, konsep birrrul walidain dalam al-Quran sangat relevan dengan teori Barthes, bahkan dengan permasalahan-permasalahan kontemporer lainnya saat ini. Kemudian, penulis akan mengaplikasikan teori semiotika Barthes untuk memahami konsep birrul walidain dalam al-Quran. Hasil dari pengaplikasian teori tersebut dalam Q.S al- Isra ayat 23, yaitu: sistem linguistik pada kata uff yang tidak hanya diartikan “ah” melainkan juga larangan untuk tidak berkata kasar kepada orang tua. Sedangkan sistem mitologinya adalah seorang anak diharuskan untuk berbakti kepada orang tua dengan menyayagi keduanya. Adapun ideologi yang terkandung dalam ayat ini adalah berkaitan dengan akhlak, tidak hanya kepada kedua orang tua, namun juga kepada orang yang lebih tu
Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru Di Mi Nw 02 Kembang Kerang Kecamatan Aikmel Lombok Timur
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru di MI NW 02 Kembang Kerang serta faktor pendukung dan penghambat kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru di MI NW 02 Kembang Kerang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dilakukan untuk mengungkapkan berbagai gejala yang muncul dari berbagai pola kepemimpinan kepala madrasah terhadap kinerja guru di MI NW 02 Kembang Kerang. Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data antara lain; metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi. Setelah data terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan metode analisis data deskriptif dengan proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan tentang kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru di MI NW 02 Kembang Kerang, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1) Kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru di MI NW 02 Kembang Kerang telah melakukan beberapa upaya, antara lain; a. menanamkan sikap disiplin, b. pembinaan dan supervisi, c. meningkatkan sumber daya dan profesionalisme guru, d. memberikan motivasi, dan e. menyediakan fasilitas yang memadai bagi guru. 2) Faktor pendukung kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru di MI NW 02 Kembang Kerang, meliputi; a. hubungan yang harmonis antara kepal madrasah dan guru, b. adanya motivasi yang kuat dari guru, dan c. tingkat pendidikan yang memadai. Sedangkan yang menjadi faktor penghambat bagi kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru di MI NW 02 Kembang Kerang meliputi; a. kurangnya sarana dan prasarana belajar, dan b. tempat tinggal guru dan siswa yang jauh dari madrasahPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru di MI NW 02 Kembang Kerang serta faktor pendukung dan penghambat kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru di MI NW 02 Kembang Kerang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dilakukan untuk mengungkapkan berbagai gejala yang muncul dari berbagai pola kepemimpinan kepala madrasah terhadap kinerja guru di MI NW 02 Kembang Kerang. Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data antara lain; metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi. Setelah data terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan metode analisis data deskriptif dengan proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan tentang kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru di MI NW 02 Kembang Kerang, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1) Kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru di MI NW 02 Kembang Kerang telah melakukan beberapa upaya, antara lain; a. menanamkan sikap disiplin, b. pembinaan dan supervisi, c. meningkatkan sumber daya dan profesionalisme guru, d. memberikan motivasi, dan e. menyediakan fasilitas yang memadai bagi guru. 2) Faktor pendukung kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru di MI NW 02 Kembang Kerang, meliputi; a. hubungan yang harmonis antara kepal madrasah dan guru, b. adanya motivasi yang kuat dari guru, dan c. tingkat pendidikan yang memadai. Sedangkan yang menjadi faktor penghambat bagi kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru di MI NW 02 Kembang Kerang meliputi; a. kurangnya sarana dan prasarana belajar, dan b. tempat tinggal guru dan siswa yang jauh dari madrasah
OPTIMALISASI GERAKAN LITERASI PADA SANTRI DI PONDOK PESANTREN ITTIHADUL UMMAH
Currently, the awareness of the importance of literacy among young people is very low. Whereas literacy is the ability to read and write. All knowledge can be known and even obtained by literacy. Literacy is a process of interaction or an ability within a person. Various readings that are now easy to access such as books, PDFs, journals, online libraries, and various other media are not able to arouse interest in reading, one of which is in Islamic boarding schools. The lack of available facilities is a major problem for all students at the Ittihadul Ummah Islamic Boarding School, especially among senior students. And in the end it causes enthusiasm or interest in reading students to decrease. This service activity with the Ulya santri literacy movement program at the Ittihadul Ummah Islamic Boarding School was carried out with the aim that all Ulya students were enthusiastic in literacy and could create works that could be seen by the general public. The approach method used is ABCD, which is an approach model by finding and utilizing the assets owned by the main target of the work program, namely Pondok Pesantren Ittihadul Ummah. The implementation of the work plan or program at the Ittihadul Ummah Islamic Boarding School, Banyudono Ponorogo was carried out well and smoothly according to the method used.Saat ini kesadaran akan pentingnya berliterasi dikalangan anak muda terbilang sangat rendah. Padahal literasi merupakan sebuah kemampuan dalam membaca dan menulis. Semua ilmu pengetahuan dapat diketahui bahkan diperoleh dengan berliterasi. Literasi menjadikan suatu proses interaksi atau suatu kemampuan dalam diri seseorang. Berbagai bacaan yang sekarang mudah untuk diakses seperti buku, PDF, jurnal, perpustakaan online, maupun berbagai media lainnya tidak mampu menggugah selera minat baca, salah satunya di pondok Pesantren. Minimnya sarana yang tersedia menjadi problem utama bagi semua santri di Pondok Pesantren Ittihadul Ummah terutama kalangan santri ulya. Dan pada akhirnya menimbulkan semangat atau minat membaca santri menurun. Kegiatan pengabdian dengan program gerakan literasi santri ulya di Pondok Pesantren Ittihadul Ummah ini dilakukan bertujuan agar semua santri ulya semangat dalam berliterasi dan bisa menciptakan karya yang dapat dilihat oleh khalayak umum. Metode pendekatan yang digunakan adalah ABCD yaitu suatu model pendekatan dengan menemukan dan memanfaatkan terhadap aset yang dimiliki oleh sasaran utama program kerja, yaitu Pondok Pesantren Ittihadul Ummah. Pelaksanaan rencana atau program kerja di Pondok Pesantren Ittihadul Ummah Jarakan Banyudono Ponorogo terselenggara dengan baik dan lancar sesuai dengan metode yang digunakan
Manuskrip Al-Qur’an di Masjid Agung Jamik Singaraja Bali: Kajian Filologi al-Qur’an
The tradition of writing manuscripts began during the development of Islam that occurred in various regions of the archipelago since 5 centuries ago. The distribution of this manuscript writing occurred evenly throughout the archipelago, from Aceh, Kalimantan, Sulawesi, Java, Maluku, to Bali and Lombok. The study of the Qur'an manuscript in one area in Bali uses a philological approach. Philology is a scientific discipline that examines handwritten manuscripts or manuscripts (manuscripts), both their physical existence and their contents that provide various information about the culture of a society that made them according to their era. The purpose of this study is to understand the characteristics of the Qur'anic manuscripts and aspects of the Qur'anic manuscripts at the Jami' Singaraja Mosque. With a qualitative research method of philological and codicological approaches that examines seven manuscripts, it is concluded that there are various variations in the shape and condition of the manuscripts, the type of paper used, the thickness of the manuscripts, calligraphy/khat, illumination and so on related to the manuscripts being studied. Of the seven manuscripts of the Qur'an, some are equipped with prayers, both prayers found at the beginning of Surah at-Taubah, or prayers for completing the Qur'an. However, in this prayer category, not all of them are in the mushaf. The prayer writings at the beginning of Surah at-Taubah are only manuscripts A, manuscripts D, and manuscripts G. While the prayer for completing the Qur'an is only found in manuscripts C and manuscripts F. In addition, there are several aspects found, namely aspects of Rasm, Aspects of Waqf, Aspects of Tajweed, and Aspects of the division of texts (Hizb). First, in terms of the use of rasm, almost all of the manuscripts use rasm imla'i, it's just that there are some words in these manuscripts which are generally written in the Ottoman rasm, for example the word az-zaka>ta, all the manuscripts use the Ottoman rasm. In terms of the use of waqf punctuation marks, it only shows some signs, as stated in manuscripts A and B, which only contain mutlaq and jaiz waqaf marks for manuscript A and the addition of waqaf tam for manuscript B. As for the end sign of a verse using a circle that varies. In terms of text distribution, it includes juz', rubu', nis}f, s^mumun, and maqra'Tradisi penulisan mushaf dimulai pada masa perkembangan Islam yang terjadi di berbagai wilayah Nusantara semenjak 5 abad yang lalu. Sebaran penulisan mushaf ini terjadi secara merata di seluruh wilayah kepulauan Nusantara, mulai dari Aceh, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Maluku, hingga Bali dan Lombok. Kajian manuscript Al Qur’an di salah satu daerah di Bali menggunakan pendekatan filologi. Filologi merupakan suatu disiplin ilmu yang meneliti naskah atau pernaskahan tulisan tangan (manuskrip), baik keberadaan fisiknya maupun kandungan isinya yang memberikan berbagai informasi tentang kebudayaan suatu masyarakat pembuatnya sesuai zamannya. Tujuan studi ini adalah untuk memahami karakteristik manuskrip Al-Qur’an dan aspek-aspek manuskrip Al-Qur’an di Masjid Jami’ Singaraja. Dengan metode penelitian kualitatif pendekatan filologis dan kodikologis yang mengkaji tujuh mushaf maka ditemukan kesimpulan bahwa adanya beragam variasi bentuk dan kondisi mushaf, jenis kertas yang digunakan, ketebalan mushaf, kalighrafi/khat, iluminasi dan lain sebagainya yang berkaitan dengan mushaf yang dikaji. Dari ketujuh manuskrip al-Qur’an ini ada yang dilengkapi dengan do’a-do’a, baik do’a yang terdapat pada awal Surah at-Taubah, ataupun do’a khatam al-Qur’an. Akan tetapi, dalam kategori do’a ini, tidak semua ada pada mushaf. Tulisan do’a di awal Surah at-Taubah hanya mushaf A, mushaf D, dan Mushaf G. Sedangkan do’a khatam Qur’an hanya terdapat pada mushaf C dan mushaf F. Selain itu, ada beberapa aspek yang ditemukan yaitu aspek Rasm, Aspek Waqaf, Aspek Tajwid, dan dan Aspek pembagian teks (Hizb). Pertama, dari segi penggunakan rasm hampir secara keseluruhan mushaf menggunakan rasm imla’i, hanya saja terdapat beberapa kata dalam mushaf-mushaf tersebut yang secara umum ditulis dengan rasm utsmani, misalnya kata az-zaka>ta, semua mushaf menggunakan rasm utsmani. Dari segi penggunaan tanda baca waqaf hanya menampakkan sebagian tanda saja, sebagaimana yang tercantum dalam mushaf A, dan B, yang hanya memuat tanda waqaf mutlaq dan jaiz untuk mushaf A serta penambahan waqaf tam untuk mushaf B. Sedangkan untuk tanda akhir sebuah ayat menggunakan lingkaran yang bervariasi. Dari segi pembagian teks, meliputi juz’, rubu‘, nis}f, s^umun,dan maqra’
Rasionalitas Perintah Ayat Poligami: Kajian Pemikiran Tafsir Muhammad Abduh
Al-Qur’an membicarakan asal mula penciptaan manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam penciptaannya, Allah SWT telah melengkapi manusia dengan nafsu syahwat, yaitu keinginan untuk menyalurkan keinginan bioligis. Dalam rangka itu, Allah SWT menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini dengan berpasang-pasangan, ada siang ada malam, ada besar ada kecil, ada langit ada bumi, ada surga ada neraka, dan ada laki-laki ada perempuan. Semua itu diciptakan untuk menjadikan ketenteraman hati terhadap manusia. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk menjawab dua rumusan masalah, yaitu bagaimana bentuk rasionalitas penafsiran Muhammad Abduh dan bagaimana penafsiran Muhammad Abduh dalam memahami perintah ayat poligami. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research), menggunakan metode pendekatan hermeneutika, yaitu pendekatan untuk memahami teks dengan cara mengungkapkan pemikiran melalui kata-kata sebagai medium penyampaian, menerjemahkan, dan bertindak sebagai penafsir. Berdasarkan penelitian ini, bentuk rasioanalitas Muhammad Abduh dapat dilihat dari caranya menafsirkan ayat poligami, dia mampu mempersempit ruang gerak poligami dengan menafsirkan kata adil. Menurutnya tidak ada seorang suami yang bisa berbuat adil terhadap istri-istrinya dalam segala hal, termasuk hal lahiriyah dan bathiniyah. Firman Allah menyatakan bahwa manusia tidak akan mampu berlaku adil di antara istri-itrinya meskipun ia sangat menginginkannya. Jika dihubungkan antara surah an-Nisa ayat 3 dengan ayat 129, maka pesan sesungguhnya yang ingin disampaikan al-Qur’an adalah bukan tentang kebolehan berpoligami sebagai aturan yang berlaku umum, melainkan bahwa poligami merupakan kebolehan yang sangat terbatas.Al-Qur’an membicarakan asal mula penciptaan manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam penciptaannya, Allah SWT telah melengkapi manusia dengan nafsu syahwat, yaitu keinginan untuk menyalurkan keinginan bioligis. Dalam rangka itu, Allah SWT menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini dengan berpasang-pasangan, ada siang ada malam, ada besar ada kecil, ada langit ada bumi, ada surga ada neraka, dan ada laki-laki ada perempuan. Semua itu diciptakan untuk menjadikan ketenteraman hati terhadap manusia. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk menjawab dua rumusan masalah, yaitu bagaimana bentuk rasionalitas penafsiran Muhammad Abduh dan bagaimana penafsiran Muhammad Abduh dalam memahami perintah ayat poligami. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research), menggunakan metode pendekatan hermeneutika, yaitu pendekatan untuk memahami teks dengan cara mengungkapkan pemikiran melalui kata-kata sebagai medium penyampaian, menerjemahkan, dan bertindak sebagai penafsir. Berdasarkan penelitian ini, bentuk rasioanalitas Muhammad Abduh dapat dilihat dari caranya menafsirkan ayat poligami, dia mampu mempersempit ruang gerak poligami dengan menafsirkan kata adil. Menurutnya tidak ada seorang suami yang bisa berbuat adil terhadap istri-istrinya dalam segala hal, termasuk hal lahiriyah dan bathiniyah. Firman Allah menyatakan bahwa manusia tidak akan mampu berlaku adil di antara istri-itrinya meskipun ia sangat menginginkannya. Jika dihubungkan antara surah an-Nisa ayat 3 dengan ayat 129, maka pesan sesungguhnya yang ingin disampaikan al-Qur’an adalah bukan tentang kebolehan berpoligami sebagai aturan yang berlaku umum, melainkan bahwa poligami merupakan kebolehan yang sangat terbatas
Menteri Agama Dalam Bingkai Media Di Masa Pandemi Covid-19: Analisis Framing Robert Entman Mengenai Wacana Menteri Agama dalam Penanganan Covid-19 Pada Kompas.Com dan Detik.Com
This study aims to see the framing carried out by the online media Kompas.com and Detik.com against the Minister of Religion of the Republic of Indonesia, Yaqut Cholil. This study uses a qualitative research approach. Thus, this study looks at the meaning of individual or group problems in human life. This study uses Robert Entman's analytical model to identify Kompas.com and Detik.com framing. data collection is done by making observations via the internet. The researcher saw news about the Minister of Religion in the period of June and July. After making observations, the researchers collected and documented the data from the observations. The researcher then selected news relevant to the Minister of Religion and the handling of the Covid-19 virus in Indonesia. The next researcher analyzed the relevant news using Robert Entman's framing analysis model. The results of this study indicate that Kompas.com frames the Minister of Religion as a person who has the capacity to invite all religious leaders and major mass organizations to participate in preventing the transmission of COVID-19. The Minister of Religion is also framed as a person who has the power to make relevant regulations to prevent the spread of the virus. Meanwhile, Detik.com frames the Minister of Religion to be more concerned with technical matters, such as meat distribution and slaughtering sacrificial meat. It does not appear that the Minister of Religion has the power to make substantial policies. The power of the Minister of Religion is shown to be limited to technical prohibitions. The analysis of Entman's model is not sufficient to explain the reality of media holistically. Not all news provides moral judgment and problem solving. This limitation makes this study need other analytical tools to explain the phenomenon, although it is not very well established. Further in-depth research with other analytical tools is needed to get a more comprehensive picture of framing.Penelitian ini bertujuan untuk melihat framing yang dilakukan oleh media online Kompas.com dan Detik.com terhadap Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Dengan demikian, penelitian ini melihat makna dari permasalahan individua tau kelompok dalam kehidupan manusia. Penelitian ini menggunakan model analisis Robert Entman untuk mengenalisis framing Kompas.com dan Detik.com. pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi melalui internet. Peneliti melihat berita tentang Menteri agama pada periode Juni dan Juli. Setelah melakukan observasi, peneliti mengumpulkan dan mendokumentasikan data hasil observasi. Peneliti kemudian memilih berita yang relevan dengan Menteri agama dan penanganan virus Covid-19 di Indonesia. Peneliti selanjutnya menganalisis berita-berita yang relevan tersebut menggunakan model analisis framing Robert Entman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kompas.com memframing Menag sebagai sosok yang memiliki kapasistas untuk mengajak semua tokoh agama dan ormas besar untuk berpartisipasi mencegah penularan covid-19. Menag juga dibingkai sebagai sosok yang memiliki kuasa untuk membuat regulasi yang relevan untuk mencegah penyebaran virus. Sementara itu, Detik.com memframing Menag lebih pada sosok yang mengurusi hal teknis sperti pembagian daging dan pemotongan daging kurban. Tidak terlihat bahwa Menag memiliki kuasa dalam membuat kebijakan substansial. Kuasa Menag ditunjukkan hanya sebatas pada larangan-larangan yang sifatnya teknis. Analisis model Entman tidak cukup untuk menjelaskan realitas media secara holistic. Tidak semua berita memberikan keputusan moral dan penyelesaian masalah. Keterbatasan ini menjadikan penelitian ini membutuhkan alat analisis lain untuk mejelaskan fenomenanya, meskipun tidak terlalu mapan. Dibutuhkan penelitian lanjutan yang lebih mendalam dengan alat analisis lain untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh terkait framing