Pondok Jurnal
Not a member yet
    398 research outputs found

    Pembacaan tahlil pada aktivitas pagelaran wayang dalam tradisi Tegal Ndeso; Potret di dusun Krangrejo, Pasuruan

    Get PDF
    Abstract - This study is intended to further examine the tradition of reading Tahlil in the Sandingan activity in Karangrejo Hamlet, Gempol District. The main questions to be answered are how the process of adaptation, habitualization and how the recitation of Tahlil in Wayang Performance activities can be integrated into the soul of the people of Karangrejo Hamlet? This study is a field study that is processed using a sociological approach, using the social construction theory of Peter L. Berger and Thomas Lukmann. All data in this study were obtained through observation and interviews. In this case, the data obtained from residents of Karangrejo Hamlet became primary data, while other data included secondary data. This study found that the recitation of Tahlil during Wayang Performance activities is a hereditary tradition. All series of events contain philosophical values. There are several things that have influenced external factors, namely religious leaders and others. If this is traced further based on historical data, then it is found in the tradition at the time of the Prophet. This TegalNdeso tradition was formed due to the emergence of a common taste and common opinion between individuals so that it becomes something that is inseparable or imprinted in the soul of each individual. This study found that the Koran does not only have an informative function, but the Koran also has a performative function. Thus, in practice the Koran is not only commemorated but also lived in the socio-cultural space of society.Abstrak - Kajian ini dimaksudkan untuk menelisik lebih jauh tradisi pembacaan Tahlil dalam aktivitas Sandingan di Dusun karangrejo, Kecamatan Gempol. Pertanyaan utama yang ingin dijawab adalah bagaimana proses adaptasi, habitualisasi dan bagaimana pembacaan Tahlil dalam aktivitas Pagelaran Wayang dapat menyatu dalam jiwa masyarakat Dusun Karangrejo?. Kajian ini merupakan kajian lapangan yang diolah dengan pendekatan sosiologi, menggunakan teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Lukmann. Seluruh data dalam kajian ini diperoleh melalui proses observasi dan wawancara. Dalam hal ini, data yang diperoleh dari warga Dusun Karangrejo menjadi data primer, sedangkan data yang lain termasuk data sekunder. Kajian ini menemukan bahwa pembacaan Tahlil pada aktivitas Pagelaran Wayang merupakan tradisi turun temurun. Seluruh rangkaian acaranya mengandung nilai-nilai filosofis. Terdapat beberapa hal telah dipengaruhi faktor luar yakni Tokoh Agama dan lain-lain. Apabila hal ini dirunut lebih jauh berdasarkan data sejarah, maka ditemukan dalam tradisi pada masa Nabi. Tradisi Tegal Ndeso ini terbentuk karena timbulnya kesamaan rasa dan kesamaan pendapat antar individu hingga menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan atau terpatri dalam jiwa masing-masing individu. Kajian ini menemukan bahwa al-Qur’an tidak hanya memiliki fungsi informatif, namun al-Quran juga memiliki fungsi performatif. Maka, pada praktiknya al-Quran tidak hanya ditafsirkan namun juga hidup dalam ruang sosial-budaya masyarakat

    Turats fi Tafsir al Qur’an : Makna, Sejarah Perkembangan Dan Manhaj Para Ulama

    Get PDF
    Various methods and results of interpretation have emerged (according to the times and needs) that can be accessed by the public in understanding the meaning and content of the Qur'an itself. From the aspect of the text, the Qur'an has not changed since it was first revealed until now, but what has changed is the interpretation of the text in accordance with human space and time. Al-Qur'an is always open to analysis, and interpretation with various tools, methods and approaches. Various variants of the Ulama's manhaj regarding interpretation have emerged as a way to explore the meaning of the content contained in the Qur'an itself. on the other hand, the problem of interpretation arises in line with the complexity of human problems. Therefore, this article will focus on the meaning of interpretation, the history of the development of interpretation which is focused on the classical and medieval eras of interpretation and the variants of the manhaj of the scholars. This paper was prepared based on a review of literature or documents using a qualitative approach, type of content analysis method, Klaus Krippendorf (2004). The primary source used is the literature by "Husayn 'Alawl Mehr" An Introduction to the History of Tafsir and Commentators of the Qur'an (2012), and several other references. Secondary sources are taken from several articles related to the themes studied.Berbagai ragam metode dan hasil tafsir bermunculan (sesuai zaman dan kebutuhan) yang bisa diakses oleh masyarakat dalam memahami makna dan isi kandungan al-qur’an itu sendiri. Dari aspek teks al-qur’an tidak berubah sejak diturunkan pertama kali sampai sekarang, tetapi yang mengalami perubahan adalah penafsiran teks sesuai dengan ruang dan waktu manusia. al-Qur’an selalu terbuka untuk dianalisis, diinterpretasikan dengan berbagai alat, metode dan pendekatan. Berbagai varian manhaj ulama tentang tafsir telah bermunculan sebagai jalan untuk mendalami makna content yang terkadung dalam al-qur’an itu sendiri. di sisi lain, persoalan tafsir bermunculan sejalan dengan kompleksitas persoalan umat manusia. Oleh karena itu, artikel ini akan difokus pada makna tafsir, sejarah perkembangan tafsir yang difokuskan pada era tafsir klasik dan pertengahan dan varian manhaj para ulama. Makalah ini disusun berdasarkan kajian literature atau dokumen yang menggunakan pendekatan kualitatif jenis metode content analysis Klaus Krippendorf (2004). Sumber primer yang digunakan adalah literatur karya “Husayn ‘Alawl Mehr “An Introduction to the History of Tafsir and Commentators of the Qur’an (2012), dan beberapa referensi lainnya. Sumber sekunder diambil dari beberapa artikel yang terkait dengan tema yang dikaji

    Kepemimpinan Pendidikan Di Sekolah

    Get PDF
    Unit satuan pendidikan merupakan salah satu organisasi yang memiliki fungsi pengorganisasian dalam satu struktur, dan tingkat struktur tertinggi adalah Kepala sekolah.  Sebagai seorang pemimpin kepala sekolah harus memikul tanggung jawab keseluruhan organisasi. Selanjutnya, kepemimpinan harus dipahami lebih sebagai layanan untuk organisasi dan anggotanya. Melalui kajian literatur penelitian ini mencoba mengkaji lebih mendalam terkait kepemimpinan pendidikan di sekolah. Metode penelitian artikel ini adalah deskriptif kualitatif dimana data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan tehnik studi dokumentasi dengan membaca, menguraikan, dan mengumpulkan berbagai artikel hasil penelitian dan kajian serta berbagai literatur yang berhubungan dengan kepemimpinan. Hasil analisis berbagai literatur, peneliti setidaknya mendapat dua kesimpulan: 1) Kepemimpinan adalah seorang yang mempunyai kemampuan, kekuatan seni untuk mempengaruhi, memberikan aspirasi, dan mengarahkan perilaku seseorang atau organisasi di dalam kerjanya dengan cara kepatuhan, kepercayaan, kehormatan, dan kerja sama yang bersemangat dalam mencapai tujuan pendidikan bersama. 2) Agar dapat mencapai tujuan pendidikan secara optimal, efektif, dan efisien, maka dibutuhkan kepemimpinan kepala sekolah yang bertanggung jawab dan memahami tugas pokok serta fungsinya. Fungsi kepemimpinan pendidikan; (1) Educator ; (2) Manager; (3) Administrator; (4) Supervisor; (5) Leader; (6) Innovator; dan (7) Motivator, disingkat EMASLIM.Unit satuan pendidikan merupakan salah satu organisasi yang memiliki fungsi pengorganisasian dalam satu struktur, dan tingkat struktur tertinggi adalah Kepala sekolah.  Sebagai seorang pemimpin kepala sekolah harus memikul tanggung jawab keseluruhan organisasi. Selanjutnya, kepemimpinan harus dipahami lebih sebagai layanan untuk organisasi dan anggotanya. Melalui kajian literatur penelitian ini mencoba mengkaji lebih mendalam terkait kepemimpinan pendidikan di sekolah. Metode penelitian artikel ini adalah deskriptif kualitatif dimana data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan tehnik studi dokumentasi dengan membaca, menguraikan, dan mengumpulkan berbagai artikel hasil penelitian dan kajian serta berbagai literatur yang berhubungan dengan kepemimpinan. Hasil analisis berbagai literatur, peneliti setidaknya mendapat dua kesimpulan: 1) Kepemimpinan adalah seorang yang mempunyai kemampuan, kekuatan seni untuk mempengaruhi, memberikan aspirasi, dan mengarahkan perilaku seseorang atau organisasi di dalam kerjanya dengan cara kepatuhan, kepercayaan, kehormatan, dan kerja sama yang bersemangat dalam mencapai tujuan pendidikan bersama. 2) Agar dapat mencapai tujuan pendidikan secara optimal, efektif, dan efisien, maka dibutuhkan kepemimpinan kepala sekolah yang bertanggung jawab dan memahami tugas pokok serta fungsinya. Fungsi kepemimpinan pendidikan; (1) Educator ; (2) Manager; (3) Administrator; (4) Supervisor; (5) Leader; (6) Innovator; dan (7) Motivator, disingkat EMASLI

    SEKOLAH ALAM SEBAGAI ALTERNATIF PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR ANAK-ANAK DI DUSUN BURNE DESA BEBIDAS KECAMATAN WANASABA

    Get PDF
    Sekolah alam merupakan salah satu pendidikan alternatif yang menggunakan alam sebagai media belajar. Pembelajaran di sekolah alam menggunakan metode action learning atau peserta didik mengalami pembelajaran secara langsung. Melalui program sekolah alam, anak didik tidak hanya mengeksplor potensi yang dimiliki tetapi juga membina nilai-nilai moral pada setiap kegiatan sekolah alam. Sebagaimana bunyi Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan tidak hanya membentuk manusia Indonesia yang cerdas, namun juga memiliki kepribadian atau berkarakter, sehingga akan melahirkan generasi bangsa yang berkarakter sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila dan ajaran agama. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memaparkan dan mengetahui (1) sekolah alam sebagai media meningkatkan minat belajar anak di Dusun Burne , (2) materi sekolah alam sebagai pendidikan alternatif dalam pembinaan potensi yang di miliki oleh anak-anak di Dusun Burne, (3) muatan nilai-nilai moral pada materi sekolah alam sebagai pendidikan alternatif dalam pembinaan moral di dusun Burne

    Kebijakan dan kepemimpinan pendidikan islam di indonesia pada masa orde reformasi

    Get PDF
    The purpose of this study is to analyze the policies and leadership of Islamic education in Indonesia during the Reformation Order. Research in this paper uses literature study, namely research whose subject is in the form of literature. The results of this study say that the government at that time had different policies in national education and religious education, including Islam. In this study, there were five presidential terms, namely those of Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, SBY and Jokowi. With different leadership and policies by each president, the author analyzes national education policies and Islamic education during his reign. The results of the analysis are that first Habibie made the campus free from NKK intervention and review and changed PTN status to BHMN, Second Abdurrahman Wahid issued regional financial balancing laws, Third Megawati Soekarnoputri raised the degree of religious subjects or courses which became number one in education, equalizing between education under the auspices of the Ministry of Education and Culture and KEMENAG, both in terms of institutions, teachers and lecturers and students who are involved in it, Fourth SBY emphasized the administration of institutions and the prosperity of teachers, Fifth Jokowi the most famous breakthrough was the implementation of online learning due to the impact of Covid-19Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kebijakan dan kepemimpinan pendidikan Islam di Indonesia pada masa Orde Reformasi. Penelitian dalam tulisan ini menggunakan studi kepustakaan, yaitu penelitian yang subjeknya berupa kepustakaan. Hasil penelitian ini mengatakan bahwa pemerintah pada saat itu memiliki kebijakan yang berbeda dalam pendidikan nasional dan pendidikan agama, termasuk Islam. Dalam penelitian ini terdapat lima masa jabatan presiden yaitu Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, SBY dan Jokowi. Dengan kepemimpinan dan kebijakan yang berbeda dari masing-masing presiden, penulis menganalisis kebijakan pendidikan nasional dan pendidikan Islam pada masa pemerintahannya. Hasil analisis yaitu pertama Habibie membuat kampus bebas dari intervensi dan review NKK serta merubah status PTN menjadi BHMN, Kedua Abdurrahman Wahid mengeluarkan undang-undang perimbangan keuangan daerah, Ketiga Megawati Soekarnoputri menaikkan derajat mata kuliah atau mata kuliah keagamaan yang menjadi nomor satu di pendidikan, pemerataan antara pendidikan di bawah naungan Kemdikbud dan KEMENAG, baik dari segi kelembagaan, guru dan dosen serta mahasiswa yang terlibat di dalamnya, SBY Keempat menekankan penyelenggaraan lembaga dan kesejahteraan guru, Kelima Jokowi terobosan yang paling terkenal adalah penerapan pembelajaran daring akibat dampak Covid-19

    CARA MEMPERTAHANKAN NILAI KEISLAMAN DI PONDOK PESANTREN AL-AZIZ POLAMAN MANISRENGGO PADA MASA COVID-19

    Get PDF
    Pendidikan pesantren sejak awal kehadirannya telah memiliki ciri khas tersendiri dengan sistem nilai yang berbeda dengan pendidikan-pendidikan diluar pesantren. Sistem yang mengakar di pesantren adalah keikhlasan, kemandirian, keteladanan, keserdehanaan, serta spritualitas yang terus berjalan mengikuti perkembangan dan kemjuan zaman, tetapi pesantren tetap mempertahankan nilai-nilai keislaman , nilai yang diajarkan dipesantren adalah nilai-nilai yang menitik beratkan pada sifat-sifat ilahiyah, bukan pada materi,Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan terkenal dengan kebudayaan yang khas, baik dari pola hidup yang bersahaja dan asketik, hingga tradisi pendidikan yang berkarakter. tradisi pesantren ini selalu dijaga dengan hati-hati, bahkan dari awal berdirinya sampai hari ini. Seiring perputaran zaman, sistem yang dulu masih menjadi sebuah yang kontemporer, sekarang telah menjelma menjadi sesuatu yang konvensional, dari yang paling modern menjadi tradisional dan ortodoks

    Sejarah Madzhab Qira’at Ashim Riwayat Hafs Di Nusantara; Tinjauan Historis Kritis

    Get PDF
    Various readings (qira'at) of the Qur'an have existed since it was revealed to the Prophet Muhammad in Mecca. However, this recitation began to be used when the Prophet was in Medina. When delivering the revelations he had received, the prophet always used readings that suited the abilities of the companions present at that time. So that the companion's ability in reciting the Qur'an also varies, depending on how many types of recitation (qira'at) he has received from the Messenger of Allah. As a result, the variety of qira'at that developed in each region experienced differences. After the death of the Prophet, the companions became more and more active in spreading the Qur'an by establishing madrasahs around where they lived. So, it is not surprising when after a generation of companions, qira'at experts appeared among tabi'in, one of them: Madzhab qira'at Ashim's narration of Hafsh which is qira'at or reading used to read the Qur'an in the archipelago.Ragam bacaan (qira’at) al-Qur’an sudah ada sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad di Mekkah. Akan tetapi qira’at ini mulai dipergunakan saat nabi sudah berada di Madinah. Saat menyampaikan wahyu yang telah diterimanya, nabi selalu menggunakan bacaan yang sesuai dengan kemampuan para sahabat yang hadir pada saat itu. Sehingga kemampuan sahabat dalam membaca al-Qur’an juga bervariasi, tergantung berapa macam bacaan (qira’at) yang telah ia dapatkan dari Rasulullah. Akibatnya, ragam qira’at yang berkembang di setiap daerah mengalami perbedaan. Sesudah Rasulullah wafat, para sahabat semakin giat menyebarluaskan al-Qur’an dengan mendirikan madrasah-madrasah di sekitar tempat mereka bermukim. Sehingga, tidak mengherankan apabila setelah generasi sahabat, muncul para ahli qira’at di kalangan tabi’in, salah satunya: Madzhab qira’at Ashim riwayat Hafsh yang merupakan qira’at atau bacaan yang di gunakan untuk membaca al-Qur’an di Nusantar

    Upaya Meningkatkan Daya Serap Belajar Siswa Pada Kompetensi Memahami Ketentuan Hukum Bacaan Mad ‘Iwad Melalui Metode Diskusi Di Kelas VIII-B MTs NW Karang Baru

    Get PDF
    Proses pembelajaran Al qur’an Hadits guru dituntut untuk lebih kreatif dalam menggunakan metode, model dan strategi pembelajaran, sehingga akan diikuti dengan peningkatan daya serap belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dengan penerapan Metode diskusi dapat meningkatkan daya serap belajar siswa Kelas VIII B MTs NW Karang Baru Tahun Pelajaran 2021-2022 pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadist Pada Kompetensi Memahami Ketentuan Hukum Bacaan Mad ‘Iwad. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII B MTs NW Karang Baru Tahun Pelajaran 2021-2022  dengan jumlah 22 siswa perempuan. Berdasarkan data dari hasil post test pada siklus I, terdapat siswa yang mencapai ketuntasan terdapat 17 siswa dengan persentase 77,3%, sedangkan siswa hasil belajarnya belum tuntas mencapai 5 siswa dengan persentase 22,7%, sedangkan hasil pretes siswa, terdapat siswa yang mencapai ketuntasan terdapat 10 siswa dengan persentase 44,45%, sedangkan siswa yang tidak tuntas mencapai 12 siswa dengan persentase 54,54%, dengan demikian, penerapan diskusi pada siklus I daya serap belajar siswa terdapat peningkatan dari sebelum pelaksanaan, yaitu: siswa yang mencapai ketuntasan pada hasil pretes mencapai 44,45%, dan ketuntasan pada hasil postest siklus I mencapai 77,2% terhadap peningkatan 32,85%, sedangkan siswa yang belum mencapai ketuntasan menurun 31,84%. Pada siklus II daya serap belajar siswa terdapat peningkatan sebelum pelaksanaan, yaitu siswa mencapai ketuntasan dari hasil pretest mencapai 77,7%, dan ketuntasan dari hasil post test siklus II mencapai 95,45% terdapat peningkatan 18,15%, sedangkan siswa ya belum mencapai ketuntasan pada hasil pre test 22,7%, dan siswa yang belum mencapai ketuntasan pada hasil post test siklus II mencapai 4,54 % terdapat siswa yang belum mencapai ketuntasan menurun sebesar 18,16%. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan metode diskusi dapat meningkatkan daya serap siswa untuk belajar bersama dan meningkatkan hasil belajarProses pembelajaran Al qur’an Hadits guru dituntut untuk lebih kreatif dalam menggunakan metode, model dan strategi pembelajaran, sehingga akan diikuti dengan peningkatan daya serap belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dengan penerapan Metode diskusi dapat meningkatkan daya serap belajar siswa Kelas VIII B MTs NW Karang Baru Tahun Pelajaran 2021-2022 pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadist Pada Kompetensi Memahami Ketentuan Hukum Bacaan Mad ‘Iwad. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII B MTs NW Karang Baru Tahun Pelajaran 2021-2022  dengan jumlah 22 siswa perempuan. Berdasarkan data dari hasil post test pada siklus I, terdapat siswa yang mencapai ketuntasan terdapat 17 siswa dengan persentase 77,3%, sedangkan siswa hasil belajarnya belum tuntas mencapai 5 siswa dengan persentase 22,7%, sedangkan hasil pretes siswa, terdapat siswa yang mencapai ketuntasan terdapat 10 siswa dengan persentase 44,45%, sedangkan siswa yang tidak tuntas mencapai 12 siswa dengan persentase 54,54%, dengan demikian, penerapan diskusi pada siklus I daya serap belajar siswa terdapat peningkatan dari sebelum pelaksanaan, yaitu: siswa yang mencapai ketuntasan pada hasil pretes mencapai 44,45%, dan ketuntasan pada hasil postest siklus I mencapai 77,2% terhadap peningkatan 32,85%, sedangkan siswa yang belum mencapai ketuntasan menurun 31,84%. Pada siklus II daya serap belajar siswa terdapat peningkatan sebelum pelaksanaan, yaitu siswa mencapai ketuntasan dari hasil pretest mencapai 77,7%, dan ketuntasan dari hasil post test siklus II mencapai 95,45% terdapat peningkatan 18,15%, sedangkan siswa ya belum mencapai ketuntasan pada hasil pre test 22,7%, dan siswa yang belum mencapai ketuntasan pada hasil post test siklus II mencapai 4,54 % terdapat siswa yang belum mencapai ketuntasan menurun sebesar 18,16%. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan metode diskusi dapat meningkatkan daya serap siswa untuk belajar bersama dan meningkatkan hasil belajar

    PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER DI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

    Get PDF
    Karakter sering disamaankan dengan ahlak, yaitu cara berpikir atau Prilaku seseorang sebagai ciri khas dalam diri pribadi. Dengan karakter orang akan menampakan keaslian seseorang. Peran orang tua sangat penting sekali dalam hal pendidikan, karena orang tua merupakan guru sekaligus contoh bagi anak-anak. Tiga hal yang perlu ditanamkan kepada peserta didik yaitu pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral. Jika ketiga hal tersebut tertanam dalam diri peserta didik maka akan terbentuk karakter baik. karakter yang baik terdiri dari mengetahui hal yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik, kebiasaan dalam cara berpikir, kebiasaan dalam hati, dan kebiasaan dalam tindakan. Adapun dalam lingkungan pendidikan formal (sekolah) Ada beberapa hal yang menjadi penyebab penyimpangan karakter, Metode pembelajaran menitik beratkan kepada nilai­-nilai kognitif, sedangkan nilai­-nilai afektif diabaikan, menghafal lebih diutamakan dibandingkan memahami serbuan budaya asing yang begitu dahsyat sehingga mampu menghancurkan benteng moral dan agama para generasi kita sehingga perlu ada pengontrolan kepada budaya asing yang masuk dilingkungan peserta didik.Karakter sering disamaankan dengan ahlak, yaitu cara berpikir atau Prilaku seseorang sebagai ciri khas dalam diri pribadi. Dengan karakter orang akan menampakan keaslian seseorang. Peran orang tua sangat penting sekali dalam hal pendidikan, karena orang tua merupakan guru sekaligus contoh bagi anak-anak. Tiga hal yang perlu ditanamkan kepada peserta didik yaitu pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral. Jika ketiga hal tersebut tertanam dalam diri peserta didik maka akan terbentuk karakter baik. karakter yang baik terdiri dari mengetahui hal yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik, kebiasaan dalam cara berpikir, kebiasaan dalam hati, dan kebiasaan dalam tindakan. Adapun dalam lingkungan pendidikan formal (sekolah) Ada beberapa hal yang menjadi penyebab penyimpangan karakter, Metode pembelajaran menitik beratkan kepada nilai­-nilai kognitif, sedangkan nilai­-nilai afektif diabaikan, menghafal lebih diutamakan dibandingkan memahami serbuan budaya asing yang begitu dahsyat sehingga mampu menghancurkan benteng moral dan agama para generasi kita sehingga perlu ada pengontrolan kepada budaya asing yang masuk dilingkungan peserta didik

    MEMBANGUN MINAT BELAJAR SISWA SD DAN SMP DI DUSUN LELONGGEK MELALUI TAMAN LITERASI

    Get PDF
    keterbatasan pengetahuan masyarakat di dusun Lelonggek desa Suntalangu kecamatan suela akan pentingnya ilmu pengetahuan, secara tidak langsung berdampak pada rendahnya minat belajar anak-anak di dusun lelonggek untuk menempuh pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Permasalahan ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kami sebagai bentuk pengabdian masyarakat di lingkungan dusun lelonggek. Penelitian ini bertujuan untuk membangun minat belajar anak-anak  di dusun lelonggek dengan cara menghadirkan program taman literasi, dengan objek mulai dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP. Metode yang kami gunakan dalam penelitian kali ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif metode ini merupakan metode yang paling tepat dalam mengolah data yang didapatkan untuk dikembangkan. Hasil dari penelitian ini adalah setelah kami mengadakan taman literasi kecendurungan minat belajar anak-anak sudah mulai terbangun, yang sebelumnya  hanya bisa bermain smartphone  dan game online sekarang sudah mulai berkurang lebih berminat untuk belajar sambil bermain di taman literasi

    328

    full texts

    398

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Pondok Jurnal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇