Pondok Jurnal
Not a member yet
398 research outputs found
Sort by
The Sosialisasi Peran Pola Asuh Orang Tua Sebagai Upaya Peningkatan Pemahaman Warga Desa Nglaban Melalui Posyandu Balita Desa Nglaban
The role of parenting is an important thing in shaping a child's personality. Every parent has a different parenting style. There are 3 types of parenting styles, namely authoritarian parenting, democratic parenting, and permissive parenting. There needs to be socialization about the role of parenting to increase parents' understanding of child care. Therefore, Unesa KKN-T Group 28 conducted outreach at the Toddler Posyandu in Nglaban Village. The method used is community education through outreach activities at the Toddler Posyandu in Nglaban Village. This socialization activity is expected to increase parents' understanding of supporting children's growth and development as a form of improving the quality of human resources.Peran pola asuh orang tua merupakan suatu hal penting dalam membentuk kepribadian anak. Setiap orang tua memiliki pola asuh yang berbeda. Terdapat 3 jenis pola asuh orang tua, yaitu pola asuh otoriter, pola asuh demokratis, dan pola asuh permisif. Perlu adanya sosialisasi tentang peran pola asuh orang tua sebagai upaya peningkatan pemahaman orang tua terhadap pola asuh anak. Oleh karena itu, KKN-T Unesa Kelompok 28 melakukan sosialisasi di Posyandu Balita Desa Nglaban. Metode yang digunakan yaitu pendidikan masyarakat melalui kegiatan sosialisasi di Posyandu Balita Desa Nglaban. Kegiatan sosialisasi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak sebagai bentuk peningkatan kualitas sumber daya manusia.
 
PENGARUH BUDAYA RELIGIUS TERHADAP KECERDASAN EMOSIONAL SISWA DI MAN 2 LOMBOK TIMUR
Budaya religius sekolah adalah terwujudnya nilai-nilai ajaran agama sebagai tradisi dalam berprilaku dan budaya organisasi yang di ikuti oleh seluruh warga sekolah.Dengan menjadikan agama sebagai tradisi dalam sekolah maka secara sadar maupun tidak ketika warga sekolah mengikuti tradisi yang telah tertanam tersebut sebenarnya warga sekolah sudah melakukan ajaran agama.Kecerdasan Emosional atau Emotional Intelligence (EQ) menurut Rachman menyangkut angka kapasitas mental yang didasari kepekaan emosi penyadaran dan kemampuan mengatur emosi. Anak dengan kapasitas emosi tinggi dapat membedakan emosi negatif dan positif dan tahu cara mengubah emosi negatif menjadi positif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh budaya religius terhadap kecerdasan emosional siswa di Man 2 Lombok Timur untuk Mewujudkan peserta didik yang berprestasi dan berakhlakqul karimah atas dasar iman dan taqwa serta. Agar tujuan penelitian ini tercapai peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriftif dengan pendekatan jenis korelasional. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini mengunakan teknik obsevasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara budaya religius terhadap kecerdasan emosional siswa. Hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien korelasi (rxy) budaya religius dan kecerdasan emosional R = 0,454 dan R SQOARE = 0,06. Hal ini menunjukan bahwa variabel budaya religius memberikan sumbangan efektif sebsar 20,6% terhadap kecerdasan emosional artinya budaya religius memiliki pengaruh terhadap kerdasan emosional. Nilai hitung = 18,395 dengan nilai signifikansi ( < 0,05 ) maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi budaya religious terhadap kecerdasan emosional. Berdasarkan hal tersebut maka penulis simpulkan bahwa ada pengaruh yang positif dan signifikan antara budaya religius terhadap kecerdasan emosional.Dapat dikatakan bahwa semakin tinggi budaya religius maka semakin tinggi juga kecerdasan emosional.Budaya religius sekolah adalah terwujudnya nilai-nilai ajaran agama sebagai tradisi dalam berprilaku dan budaya organisasi yang di ikuti oleh seluruh warga sekolah. Dengan menjadikan agama sebagai tradisi dalam sekolah maka secara sadar maupun tidak ketika warga sekolah mengikuti tradisi yang telah tertanam tersebut sebenarnya warga sekolah sudah melakukan ajaran agama.Kecerdasan Emosional atau Emotional Intelligence (EQ) menurut Rachman menyangkut angka kapasitas mental yang didasari kepekaan emosi penyadaran dan kemampuan mengatur emosi. Anak dengan kapasitas emosi tinggi dapat membedakan emosi negatif dan positif dan tahu cara mengubah emosi negatif menjadi positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh budaya religius terhadap kecerdasan emosional siswa di Man 2 Lombok Timur untuk Mewujudkan peserta didik yang berprestasi dan berakhlakqul karimah atas dasar iman dan taqwa serta. Agar tujuan penelitian ini tercapai peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriftif dengan pendekatan jenis korelasional. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini mengunakan teknik obsevasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara budaya religius terhadap kecerdasan emosional siswa. Hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien korelasi (rxy) budaya religius dan kecerdasan emosional R = 0,454 dan R SQOARE = 0,06. Hal ini menunjukan bahwa variabel budaya religius memberikan sumbangan efektif sebsar 20,6% terhadap kecerdasan emosional artinya budaya religius memiliki pengaruh terhadap kerdasan emosional. Nilai hitung = 18,395 dengan nilai signifikansi (< 0,05) maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi budaya religious terhadap kecerdasan emosional. Berdasarkan hal tersebut maka penulis simpulkan bahwa ada pengaruh yang positif dan signifikan antara budaya religius terhadap kecerdasan emosional.Dapat dikatakan bahwa semakin tinggi budaya religius maka semakin tinggi juga kecerdasan emosional
Peranan Media Animasi Interaktif Untuk Mengenalkan Nilai-Nilai Keagamaan Di Sekolah Dasar
Abstract
The era of technology presents a number of problems, especially for educators and students. The younger generation, namely many students who like social media to surf in the midst of their activities, with technological disruption various foreign cultures can easily enter their search. If Western culture is not filtered properly, it will have fatal consequences for the sense of nationalism in the younger generation and even erode the religious values of students. This article aims to describe the application of interactive animation-based learning media to introduce religious values to students, especially at the elementary school level. The method used is a qualitative method with a descriptive analysis approach. The technique of collecting data is based on a study of the relevant literature. The results of the study show that learning using interactive animation media is effective in learning. Many benefits can be obtained from the use of interactive animation media, including: through interactive animation media, the delivery of material is clearer and not only verbal; interactive animation can also overcome limited sensory power and time. Examples such as the animations Nussa Rara and Riko The Series can be used to instill good religious and moral values in elementary school children, including serving both parents, learning to pray, eating manners, dhikr, and monotheism. The implementation of these character values can be taught by educators to students in learning through habituation. Then educators and parents can provide exemplary character values through activities in everyday life.Abstrak
Era teknologi menghadirkan sejumlah problematika khususnya bagi para pendidik dan peserta didik. Generasi muda yaitu peserta didik banyak yang menyukai sosial media untuk berselancar ditengah-tengah kegiatannya, dengan adanya disrupsi teknologi berbagai budaya asing dapat dengan mudah masuk ke dalam pencarian mereka. Budaya Barat jika tidak disaring dengan baik, akan berakibat fatal pada rasa nasionalisme pada diri generasi muda dan bahkan terkikisnya nilai-nilai keagamaan peserta didik. Artikel ini bertujuan guna mendeskripsikan tentang penerapan media pembelajaran berbasis animasi interaktif untuk mengenalkan nilai-nilai agama pada para peserta didik khususnya pada jenjang sekolah dasar. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Teknik mengumpulkan data berdasarkan studi literatur pustaka yang relevan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan media animasi interaktif efektif dalam pembelajaran. Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan media animasi interaktif, diantaranya: melalui media animasi interaktif, penyampaian materi yang lebih jelas dan tidak bersifat verbal saja;animasi interaktif juga dapat mengatasi terbatasnya daya indra, dan waktu. Contohnya seperti animasi Nussa Rara dan Riko The Series bisa digunakan untuk menanamkan nilai – nilai agama dan moral baik pada anak sekolah dasar, diantaranya berbakti kepada kedua orang tua, belajar sholat, adab makan, berdzikir, dan tauhid. Implementasi nilai karakter tersebut dapat diajarkan oleh pendidik kepada peserta didik di dalam pembelajaran dapat melalui pembiasaan. Kemudian pendidik dan orang tua dapat memberikan keteladanan nilai karakter melalui aktivitas dalam kehidupan sehari-hari
Strategi Guru dalam Meningkatkan Keterampilan Berbicara Melalui Media Gambar Dua Dimensi
Speaking skills are the ability to express articulation sounds or words to express thoughts in the form of ideas, opinions, desires or feelings to the interlocutor. Two-dimensional image media is basically a visual media that has length and width. Two-dimensional media is media that is often used in teaching and learning activities because of its simple shape, economical price, and easy-to-obtain materials. This study focuses on research, namely 1) How is the teacher's strategy in improving the personality, characteristics and temperament, and intelligence of students through two-dimensional images of SDI Al Barokah Jember students. The results showed that the teacher's strategy in improving the personality of SDI Al Barokah Jember students greatly improved and the results were very satisfying. The teacher's strategy in improving the characteristics and temperament of students through two-dimensional images for SDI Al Barokah Jember students is also very good. The teacher's strategy in increasing student intelligence through two-dimensional images for SDI Al Barokah Jember students greatly increased.Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan pikiran berupa ide, pendapat, keinginan atau perasaan kepada mitra bicara. Media gambar dua dimensi pada dasarnya merupakan media visul yang memiliki ukuran panjang dan lebar. Media dua dimensi merupakan media yang sering dipergunakanan dalam kegiatan proses belajar mengajar karenabentuknya sederhana, harganya ekonomis, bahan mudah diperoleh. Penelitian ini memfokuskan penelitian yaitu 1) Bagaimana strategi guru dalam meningkatkan kepribadian, karakteristik dan temperamental, dan intelegensi peserta didik melalui gambar dua dimensi pada peserta didik SDI Al Barokah Jember. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi guru dalam meningkatkan kepribadian siswa-siswi SDI Al Barokah Jember sangat meningkat dan hasil sangat memuaskan. Strategi guru dalam meningkatkan karakteristik dan temperamental siswa melalui gambar dua dimensi pada peserta didik SDI Al Barokah Jember juga sangat bagus. Strategi guru dalam meningkatkan intelegensi siswa melalui gambar dua dimensi pada peserta didik SDI Al Barokah Jember sangat meningkat
Pengumbaran Aib di Media Sosial Perspektif Qur’an:: Kajian Double Movement Fazlur Rahman
Al-Qur'an is a holy book that is always needed to answer life's problems, from the past to the end of time. Contemporary applications aimed at information, communication and showcasing skills. However, the problems they face are increasingly complex and experiencing developments, such as the problem of venting (indulgence of disgrace) on social media. Therefore, a new method is needed in understanding the Al-Quran so that it can be contextualized and can provide the best solution. This study examines the verses of vent (indulgence of disgrace), the author uses the understanding method offered by Fazlur Rahman's Double Movement theory as an analytical knife which is considered capable of answering contemporary problems, by looking at the socio-historical problem as a way to find a moral idea. Al-Quran verses so that they can be understood and applied to the present context. This research uses a type of library research (library research), is qualitative in nature with the presentation of data in a descriptive-analytical manner. The results of the analysis show that venting is dishonorable on social media, firstly the value of moral ideas in QS. ar- Ra'ad verse 10, QS. An-Nur verse 19 explains the prohibition of indulgence and talking about one's own disgrace. Second, QS. An-Nisa- verse 148 QS.al-Hujurat verse 12 and QS. An-Nisa verse 34 indulges in other people's disgrace. Third, An-Nahl verse 43, that venting (indulgence of disgrace) is permissible in the sense that an effort to solve a problem is included in the obligation, provided that with intention, it is conveyed to get a solution (intention, finding a solution) and delivered to someone who can provide a solution ( experts), as the moral ideals of the Qur'an that are relevant to the context of today's contemporary society.Dalam kehidupan, permasalahan permasalahan yang dihadapi semakin lama semakin kompleks, seperti permasalahan curhat (pengumbaran aib) di media sosial. Oleh karena itu, Studi ini mengkaji ayat-ayat curhat (pengumbaran aib), penulis menggunakan metode Double Movement sebagai pisau analisis yang dianggap mampu menjawab permasalahan-permasalahan kotemporer, dengan melihat sosio historis dari sebuah permasalahan sebagai cara untuk menemukan idea moral suatu ayat Al-Quran agar dapat dipahami dan diterapkan untuk konteks sekarang. Adapun hasil analisis yang menunjukkan bahwa curhat mengumbar aib di media sosial, pertama nilai idea moral dalam QS. ar- Ra’ad ayat 10, QS. An-Nur ayat 19 menjelaskan larangan mengumbar dan membicarakan aib sendiri. Kedua, QS. An-Nisa- ayat 148 QS.al-Hujurat ayat 12 dan QS. An-Nisa ayat 34 mengumbar aib orang lain. Ketiga, An-Nahl ayat 43, bahwa curhat (pengumbaran aib) diperbolehakan dalam arti usaha untuk menyelesaikan suatu permasalahan masuk dalam kewajiban, dengan syarat dengan niat, disampaikan untk mendapatkan solusi (niat, mencari solusi)
‘Iddah Persepektif Al-Qur’an dan Implementasinya dalam Kompilasi Hukum Islam
This research discusses 'iddah in the view of the Qur'an and its implementation in the Compilation of Islamic Law. The purpose of this study is to provide an understanding of 'iddah taken from the verses of the Qur'an and to explore sources of law from the Qur'an regarding the rules of 'iddah in the Compilation of Islamic Law. This is a literature study using primary and secondary data. The results of the study, first, the 'iddah period has the meaning of the waiting period to remarry, especially for post-divorced women, whether divorced lives or dies. Second, there are several discussions about 'iddah in the Qur'an, third, the regulations regarding 'iddah in the Qur'an are implemented in the Compilation of Islamic Law which takes the main source of the 'iddah regulations from the verses of the Qur’an.Penelitian membahas ‘iddah dalam pandangan al-Qur’an dan implementasinya dalam Kompilasi Hukum Islam. Tujuan penelitian ini untuk memberikan pemahaman tentang ‘iddah diambil dari ayat-ayat al-Qur’an dan menggali sumber hukum dari al-Qur’an tentang peraturan ‘iddah dalam Kompilasi Hukum Islam ini merupakan penelitian pustaka dengan menggunakan data primer dan sekunder. Hasil penelitian, pertama, masa ‘iddah mempunyai pengertian masa menunggu untuk menikah lagi, khususnya bagi wanita pascacerai, baik cerai hidup atau mati. Kedua, terdapat beberapa pembahasan tentang ‘iddah dalam al-Qur’an, ketiga, peraturan tentang ‘iddah dalam al-Qur’an diimplementasikan dalam Kompilasi Hukum Islam yang mengambil sumber utama peraturan ‘iddah dari ayat-ayat al-Qur’an
Penerapan Meteode Card Sort Untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa Kelas V Pada Pelajaran Al-Qur’an Hadits
Abstract
This study aims to increase student activity in the learning process. This research was designed using Classroom Action Research. The research instruments used in this research were observation sheets and field notes used to obtain data or information relating to class situations that were not listed in the observation sheets. In this study field notes were used to observe things that happened in the classroom during the application of the card learning method. sort. The results showed that in the first cycle the average student activity was in the inactive category with a value of 46.66%. Furthermore, in cycle II, the average student activity has shown the quite active category with a value of 60%, but in this cycle, improvements still need to be made so that researchers use cycle III. In cycle III, the average student activity has shown an active category of 80%. Thus, the Card Sort learning method can be recommended to teachers in carrying out learning.Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Instrumen penelitian yang dipakai dalam penelian ini adalah lembar observasi dan catatan lapangan digunakan untuk memperoleh data atauinformasi yang berkaitan dengan situasi kelas yang tidak tercantum dalam lembar observasi.Dalam penelitian ini catatan lapangan digunakan untuk mengamati hal-hal yang terjadi didalam kelas selam penerapan metode pembelajaran card sort. Hasil penelitian menunjukkanbahwa pada siklus I rata-rata keaktifan siswa sudah menunjukkan kategori tidak aktif dengan nilai 46,66% . Selanjutnya pada siklus II rata-rata keaktifan siswa sudah menunjukkan kategori cukup aktif dengan nilai 60%, akan tetapi pada siklus ini masih perlu dilakukan perbaikan sehingga peneliti menggunakan siklus III, Pada siklus III rata-rata keatifan siswa sudah menunjukkan angka 80% kategori aktif. Dengan demikian, metode pembelajaran Card Sort dapat direkomendasikan kepada guru dalam melaksanakan pembelajaran
Manajemen Perpustakaan Dalam Meningkatkan Minat Baca Peserta Didik Di SMA Negeri 1 Wanasaba Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur NTB
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen perpustakaan di SMA Negeri 1 Wanasaba Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur NTB, serta faktor penghambat dan penunjang manajemen perpustakaan dalam meningkatkan minat baca peserta didik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dilakukan untuk mengungkapkan berbagai gejala yang muncul dari berbagai manajemen perpustakaan terhadap minat baca peserta didik. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data antara lain: Metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi. Setelah data yang diproleh dilapangan sudah terkumpul selanjutnya di analisis menggunakan metode analisis data deskriptif dengan proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang manajemen perpustakaan di SMA Negeri 1 Wanasaba, maka dapat diambil kesimpulannya sebagai berikut: 1) dilihat dari aspek gedung/ruang perpustakaan yang masih belum memenuhi standar dengan jumlah peserta didik yang ada di sekolah, 2) dilihat dari aspek sumber daya manusia atau pustakawan perpustakaan, yang masih kurang yang hanya 1 orang pustakawan, dan 3) dilihat dari aspek koleksi bahan bacaan perpustakaan, koleksi buku-buku yang ada di perpustakaan lebih banyak buku-buku pelajaran akan tetapi masih kurang dalam penyediaan buku-buku referensi lainnya seperti buku novel, buku motivasi dan lain sebagainya. 4) Faktor penunjang dalam manajemen perpustakaan untuk meningkatkan minat baca peserta didik, adanya dukungan dari semua pihak yang terlibat disekolah, adanya program bedah buku yang diadakan oleh pihak perpustakaan sekolah, kelengkapan buku-buku dari masing-masing mata pelajaran yang ada. Faktor penghambat dalam manajemen perpustakaan untuk meningkatkan minat baca peserta didik, meliputi: a. kurang tersedianya dana yang khusus untuk bagian perpustakaan, b. kurangnya sarana dan prasarana yang ada di ruang perpustakaan, c. terlalu banyaknya tugas pokok yang harus dikerjakana oleh tenaga atau pegawai perpustakaan yang ada tanpa melihat berapa jumlah tenaga perpustakaan yang hanya ada 2 orang tapi hanya satu orang yang selalu melayani siswa atau guru yang menyebabkan kurang maksimalnya di dalam penerapan dan pelaksanaan manajemen perpustakaan di sekolah tersebutPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen perpustakaan di SMA Negeri 1 Wanasaba Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur NTB, serta faktor penghambat dan penunjang manajemen perpustakaan dalam meningkatkan minat baca peserta didik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dilakukan untuk mengungkapkan berbagai gejala yang muncul dari berbagai manajemen perpustakaan terhadap minat baca peserta didik. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data antara lain: Metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi. Setelah data yang diproleh dilapangan sudah terkumpul selanjutnya di analisis menggunakan metode analisis data deskriptif dengan proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang manajemen perpustakaan di SMA Negeri 1 Wanasaba, maka dapat diambil kesimpulannya sebagai berikut: 1) dilihat dari aspek gedung/ruang perpustakaan yang masih belum memenuhi standar dengan jumlah peserta didik yang ada di sekolah, 2) dilihat dari aspek sumber daya manusia atau pustakawan perpustakaan, yang masih kurang yang hanya 1 orang pustakawan, dan 3) dilihat dari aspek koleksi bahan bacaan perpustakaan, koleksi buku-buku yang ada di perpustakaan lebih banyak buku-buku pelajaran akan tetapi masih kurang dalam penyediaan buku-buku referensi lainnya seperti buku novel, buku motivasi dan lain sebagainya. 4) Faktor penunjang dalam manajemen perpustakaan untuk meningkatkan minat baca peserta didik, adanya dukungan dari semua pihak yang terlibat disekolah, adanya program bedah buku yang diadakan oleh pihak perpustakaan sekolah, kelengkapan buku-buku dari masing-masing mata pelajaran yang ada. Faktor penghambat dalam manajemen perpustakaan untuk meningkatkan minat baca peserta didik, meliputi: a. kurang tersedianya dana yang khusus untuk bagian perpustakaan, b. kurangnya sarana dan prasarana yang ada di ruang perpustakaan, c. terlalu banyaknya tugas pokok yang harus dikerjakana oleh tenaga atau pegawai perpustakaan yang ada tanpa melihat berapa jumlah tenaga perpustakaan yang hanya ada 2 orang tapi hanya satu orang yang selalu melayani siswa atau guru yang menyebabkan kurang maksimalnya di dalam penerapan dan pelaksanaan manajemen perpustakaan di sekolah tersebu
PERAN KEPALA SEKOLAH SEBAGAI INOVATOR DALAM PENGEMBANGAN PROGRAM KEWIRAUSAHAAN DI SMP N 2 JETIS PONOROGO
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam peran kepala sekolah sebagai inovator dalam pengembangan program kewirausahaan di SMP N 2 Jetis Ponorogo. Penelitian dilakukan pada November – Desember 2022 di SMP N 2 Jetis Ponorogo. Data pada penelitian ini dikumpulkan melalui teknik wawancara dan observasi. Berdasarkan hasil wawancara kepada sekolah, didapatkan hasil bahwa kepala sekolah telah menjalankan peran sebagai inovator pada pengembangan program kewirausahaan. Hal ini tercermin pada kemampuan kepala sekolah dalam melahirkan inovasi baru dan kemampuan kepala sekolah dalam melihat peluang yaitu dengan peluncuran program Sekolah Istana Buah yang dilatar belakangi oleh subur dan masih luasnya lahan Sekolah. Sementara kemampuan kepala sekolah dalam melihat peluang diwujudkan pada pengembangan program ekstrakurikuler batik yang pada awalnya hanya memiliki ekstrakurikuler batik shibori, kemudian dikembangkan dengan menambah pembuatan batik Lukis. Pembuatan batik Lukis dilatar belakangi kesuksesan program ekstrakurikuler batik shibori yang sudah menjadi produk unggulan SMP N 2 Jetis Ponorogo.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam peran kepala sekolah sebagai inovator dalam pengembangan program kewirausahaan di SMP N 2 Jetis Ponorogo. Penelitian dilakukan pada November – Desember 2022 di SMP N 2 Jetis Ponorogo. Data pada penelitian ini dikumpulkan melalui teknik wawancara dan observasi. Berdasarkan hasil wawancara kepada sekolah, didapatkan hasil bahwa kepala sekolah telah menjalankan peran sebagai inovator pada pengembangan program kewirausahaan. Hal ini tercermin pada kemampuan kepala sekolah dalam melahirkan inovasi baru dan kemampuan kepala sekolah dalam melihat peluang yaitu dengan peluncuran program Sekolah Istana Buah yang dilatar belakangi oleh subur dan masih luasnya lahan Sekolah. Sementara kemampuan kepala sekolah dalam melihat peluang diwujudkan pada pengembangan program ekstrakurikuler batik yang pada awalnya hanya memiliki ekstrakurikuler batik shibori, kemudian dikembangkan dengan menambah pembuatan batik Lukis. Pembuatan batik Lukis dilatar belakangi kesuksesan program ekstrakurikuler batik shibori yang sudah menjadi produk unggulan SMP N 2 Jetis Ponorogo
KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari lebih dalam tentang sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin yang baik agar pemimpin dapat melakukan tugasnya secara efektif dan program pendidikan dapat berjalan dengan lancar. Penelitian ini menggunakan teknik studi literatur dengan menganalisis berbagai jurnal dan buku kepemimpinan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa setelah ciri-ciri seorang pemimpin yang ideal telah diidentifikasi, mereka harus diadaptasi agar sesuai dengan model kepemimpinan yang dipilih. Hasil analisis berbagai literatur, peneliti setidaknya mendapat dua kesimpulan: 1) Kepemimpinan adalah seorang yang mempunyai kemampuan, kekuatan seni untuk mempengaruhi, memberikan aspirasi, dan mengarahkan perilaku seseorang atau organisasi di dalam kerjanya dengan cara kepatuhan, kepercayaan, kehormatan, dan kerja sama yang bersemangat dalam mencapai tujuan pendidikan bersama. 2) Agar dapat mencapai tujuan pendidikan secara optimal, efektif, dan efisien, maka dibutuhkan kepemimpinan kepala sekolah yang bertanggung jawab dan memahami tugas pokok serta fungsinyaTujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari lebih dalam tentang sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin yang baik agar pemimpin dapat melakukan tugasnya secara efektif dan program pendidikan dapat berjalan dengan lancar. Penelitian ini menggunakan teknik studi literatur dengan menganalisis berbagai jurnal dan buku kepemimpinan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa setelah ciri-ciri seorang pemimpin yang ideal telah diidentifikasi, mereka harus diadaptasi agar sesuai dengan model kepemimpinan yang dipilih. Hasil analisis berbagai literatur, peneliti setidaknya mendapat dua kesimpulan: 1) Kepemimpinan adalah seorang yang mempunyai kemampuan, kekuatan seni untuk mempengaruhi, memberikan aspirasi, dan mengarahkan perilaku seseorang atau organisasi di dalam kerjanya dengan cara kepatuhan, kepercayaan, kehormatan, dan kerja sama yang bersemangat dalam mencapai tujuan pendidikan bersama. 2) Agar dapat mencapai tujuan pendidikan secara optimal, efektif, dan efisien, maka dibutuhkan kepemimpinan kepala sekolah yang bertanggung jawab dan memahami tugas pokok serta fungsiny