Jurnal Health Sains (JHS)
Not a member yet
    676 research outputs found

    Nikotin Menyebabkan Osteoporosis

    No full text
    Pada sebagian besar perokok, seringkali ditemukan adanya osteoporosis tulang alveolar. Dari beberapa penelitian telah diketahui terdapat hubungan antara merokok dengan jumlah mineral dan sel sel dalam kandungan tulang. Bahan utama rokok adalah tembakau yang mengandung nikotin. Karena itu untuk mengetahui pengaruh merokok terhadap tulang alveolar, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meneliti nikotin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana nikotin dapat menyebabkan osteoporosis pada tulang alveolar. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan disain post-test control group yang dilakukan pada  16 ekor kelinci New Zealand secara random. Grup 1 (8 ekor), sebagai kelompok kontrol dan grup 2 (8 ekor), sebagai kelompok perlakuan. Pada kelompok perlakukan dilakukan injeksi larutan nikotin selama 1 minggu dengan dosis nikotin sebesar 2,5 mg/kg BW/hari.  Pengamatan dilakukan pada minggu pertama dengan mengukur jumlah sel  osteoklas dan sel osteoblas melalui pemeriksaan  histologi. Dengan analisa statistik ditemukan perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol (p<0,05). Pada kelompok perlakuan, menunjukkan adanya peningkatan jumlah sel osteoklas sementara sel osteoblas menurun. Nikotin dapat menyebabkan osteoporosis tulang alveolar melalui peningkatan jumlah sel osteoklas dan penurunan sel osteoblas.Pada sebagian besar perokok, seringkali ditemukan adanya osteoporosis tulang alveolar. Dari beberapa penelitian telah diketahui terdapat hubungan antara merokok dengan jumlah mineral dan sel sel dalam kandungan tulang. Bahan utama rokok adalah tembakau yang mengandung nikotin. Karena itu untuk mengetahui pengaruh merokok terhadap tulang alveolar, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meneliti nikotin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana nikotin dapat menyebabkan osteoporosis pada tulang alveolar. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan disain post-test control group  yang dilakukan pada  16 ekor kelinci New Zealand secara random. Grup 1 (8 ekor), sebagai kelompok kontrol dan grup 2 (8 ekor), sebagai kelompok perlakuan. Pada kelompok perlakukan dilakukan injeksi larutan nikotin selama 1 minggu dengan dosis nikotin sebesar 2,5 mg/kg BW/hari.  Pengamatan dilakukan pada minggu pertama dengan mengukur jumlah sel  osteoklas dan sel osteoblas melalui pemeriksaan  histologi. Dengan analisa statistik ditemukan perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol (p<0,05). Pada kelompok perlakuan, menunjukkan adanya peningkatan jumlah sel osteoklas sementara sel osteoblas menurun. Nikotin dapat menyebabkan osteoporosis tulang alveolar melalui peningkatan jumlah sel osteoklas dan penurunan sel osteoblas

    Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Sedentari yang Berisiko Obesitas pada Remaja di Kota Medan

    Get PDF
    Sedentary behavior is called sedentary physical activity or physical inactivity. At this time, teenagers are adopting a lot of temporary behavior, especially when the COVID-19 pandemic is currently happening, thus limiting the activities and activities of teenagers. Sedentary behavior can put you at risk of obesity. This study aims to see the relationship between adolescent knowledge and sedentary behavior. This type of research is a quantitative study using a cross sectional design. The number of respondents in this study consisted of 267 people. Data obtained through the results of questionnaires which were conducted online using google form. The results showed that 192 adolescents had good knowledge (71.9%), 73 people (27.3%) had sufficient knowledge, and 2 (0.7%) had poor knowledge. that there is no relationship between knowledge and attitudes towards behavior while in adolescents. To see the relationship between knowledge and behavior, a statistical test was carried out using chi square, and the p value was obtained = 0.113 (> α = 0.05). So it can be concluded that there is no relationship between knowledge and sedentary behavior at risk of obesity in adolescents in Medan.Perilaku sedentari disebut aktivitas fisik yang kurang bergerak atau ketidakaktifan fisik. Pada saat ini remaja banyak mengadopsi perilaku sedentari, terlebih lagi pada saat ini sedang terjadi pandemi COVID-19 sehingga membatasi aktivitas dan kegiatan remaja. Perilaku sedentari dapat menyebebakan risiko obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan pengetahuan remaja terhadap perilaku sedentari. Jenis penelitian merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain cross sectional. Jumlah responden penelitian ini terdiri dari 267 orang. Data diperoleh melalui hasil lembar kuisioner yang dilakukan secara online menggunakan google form. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja memiliki pengetahuan yang baik berjumlah 192 orang (71,9%), memiliki pengetahuan yang cukup berjumlah 73 orang (27,3%), dan memiliki pengetahuan yang kurang baik berjumlah 2 orang (0,7%), dan tidak terdapat hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku sedentari pada remaja. Untuk melihat hubungan pengetahuan terhadap perilaku sedentari dilakukan uji statistik menggunakan chi square, dan diperoleh nilai p = 0,113 (> α = 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan pengetahuan dengan perilaku sedentari yang berisiko obesitas pada remaja di kota Medan

    Kolaborasi Penanganan Stunting

    Get PDF
    Stunting is a very bad health condition for a child and his family. Stunting has a major impact on future health status, there are even predictions of economic decline due to stunting conditions. In the midst of a pandemic, the challenges of changing paradigms, reformulating service systems, and modifying innovations are aimed at ensuring prime health services, according to the principles of a health code of ethics. Experimental research and literature study with a focus on stunted children. This research is a collaborative study between nurses, doctors, and health cadres who provide strengthening services to 28 cases of stunting during 2019-2020 in a pandemic. The results showed a significant increase in maternal body weight and knowledge. Collaboration strengthening is carried out in an integrated and significant manner, which is very good for communication, its role, and cooperation. However, the factor of being for Mothers, and children who are always at home during a pandemic, intensive supervision by health cadres is an easy access factor to provide integrated reinforcement.Stunting merupakan kondisi kesehatan yang sangat buruk bagi seorang anak dan keluarganya. Stunting berdampak besar pada status kesehatan di masa depan, bahkan ada prediksi penurunan ekonomi akibat kondisi stunting. Di tengah pandemi, tantangan perubahan paradigma, reformulasi sistem pelayanan, dan modifikasi inovasi ditujukan untuk memastikan pelayanan kesehatan yang prima, sesuai dengan prinsip kode etik kesehatan. Penelitian kuantitatif dengan kuasi eksperimental dan studi literatur dengan tujuan mengetahui pengaruh penguatan pengetahuan perawatan Ibu terhadap anak dengan stunting di masa pandemi. Penelitian ini merupakan studi kolaboratif antara perawat, dokter, dan kader kesehatan yang memberikan layanan penguatan kognisi stunting terhadap 28 kasus stunting selama pandemi 2019-2020. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan berat badan pada anak dengan stunting serta pengetahuan ibu yang signifikan. Penguatan kolaborasi dilakukan secara terintegrasi dan signifikan, yang sangat baik untuk komunikasi, peran, dan kerjasama. Dan, faktor keberadaan bagi Ibu, dan anak yang selalu berada di rumah saat terjadi pandemi, pengawasan intensif oleh kader kesehatan merupakan faktor akses yang mudah untuk memberikan penguatan yang terintegrasi

    Perbandingan Latihan Otot Inti dengan Latihan Pergelangan Kaki dalam Meningkatkan Kelincahan Pemain Sepak Bola

    Get PDF
    Sport is a needs for human being, sport that early introduced in a young people giving a good effect for physical condition, psychology, and social. Along the growth and development of young soccer player, makes some transformation to their physical condition and to have an impact to their body proportional and decreasing of coordination and agility. To support dribbling skill, a soccer player need to have a good agility. The stability of your core muscle and your ankle affected the agility. The objective of this research is to explain the effect of core muscle stability exercise and ankle stability exercise for dribbling agility, and to compare both of exercises for dribbling agility on soccer player age 14-17 years old. This research used quasi-experimental methods. Subject divided into 2 group, that is Group 1 with core stability exercise intervention and Group 2 with ankle stability exercise intervention. The research will be done in 6 weeks, and 3 times a week. The dribbling agility measurement in this study used Dribbling Agility Test (DAT). From 14 subject, was obtained the difference average of dribbling agility value from the group with core muscle stability exercise was 1.8 ± 1.3 second (p-value=0.010, p<0.05), and the difference average of dribbling agility value from the group with ankle stability exercise was 2.29 ± 1.37 second (p-value=0.005, p<0.5). There is no difference between the group in increasing dribbling agility with p-value=0.477 (p>0.05). Both exercises shown improvement in each group in increasing dribbling agility with no difference between the group.Olahraga merupakan suatu kebutuhan bagi manusia, Pengenalan dan pelatihan keolahragaan yang dimulai sejak usia dini memberikan pengalaman yang dapat menjadi kebiasaan baik bagi anak-anak, baik dari perkembangan kondisi fisik, psikologi, dan sosial. Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan pada pemain sepak bola usia muda, mengakibatkan adanya perubahan pada kondisi fisik, proporsi tubuh, dan penurunan koordinasi dan kelincahan. Untuk mendukung kemampuan menggiring bola, seorang pemain sepak bola harus memiliki kelincahan yang baik. Stabilitas otot inti dan pergelangan kaki berpengaruh terhadap kelincahan gerak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh latihan stabilitas otot inti dan latihan stabilitas pergelagan kaki terhadap kelincahan menggiring bola, dan membandingkan keduanya terhadap kelincahan menggiring bola pada pemain sepak bola usia 14-17 tahun. Penelitian ini menggunakan metode kuasi-eksperimental. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu Kelompok 1 dengan latihan stabilitas otot inti dan Kelompok 2 dengan latihan stabilitas pergelangan kaki. Penelitian ini dilakukan selama 6 minggu, dan 3 kali seminggu. Pengukuran kelincahan menggiring bola menggunakan Dribbling Agility Test (DAT). Dari 14 subjek didapatkan selisih rata-rata kelincahan menggiring bola Kelompok 1 adalah 1,8±1,3 detik (p=0,010), dan pada Kelompok 2 adalah 2,29±1,37 detik (p=0,005). Tidak ada perbedaan perbandingan antara kedua kelompok terhadap peningkatan kelincahan menggiring bola dengan nilai p=0,477. Kedua latihan menunjukkan adanya peningkatan pada setiap kelompok, dengan tidak adanya perbedaan yang bermakna peningkatan kelincahan menggiring bola antara kedua kelompok

    Pengaruh Program Self Diabetes Management Education (SDME) dengan Metoda Kelompok terhadap Dukungan Keluarga dan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Mellitus

    Get PDF
    Diabetes mellitus can become serious and cause chronic conditions that are dangerous if left untreated. According to the World Health Organization (WHO) in 2011, diabetics are at risk of microvascular damage such as retinopathy, nephropathy, and neuropathy. This has an effect on the quality of life of DM sufferers.. The quality of life of DM patients can be improved in many ways. One of the methods that has been used to improve the quality of life of DM sufferers is the Self Diabetes Management Education (SDME) method with group methods. Self Diabetes Management Education (SDME) is an ongoing process to facilitate the knowledge, skills and abilities necessary for the self-care of Diabetes Mellitus patients. SDME provides decision making information, self-care behavior, problem solving and active cooperation with health teams and to improve clinical outcomes, health status and quality of life.. This study aims to find out the influence of Self Diabetes Management Education (SDME) with group methods on family support and quality of life of DM sufferers in the working area of Puskesmas Ragunan Village, South Jakarta. This study used Quasi Experiment design with DM patients in Ragunan Village Health Center Pasar Minggu as a sample.Diabetes mellitus dapat menjadi serius dan menyebabkan kondisi kronik yang membahayakan apabila tidak diobati. Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2011, penderita diabetes berisiko mengalami kerusakan mikrovaskuler seperti retinopati, nefropati, dan neuropati. Hal tersebut memberikan efek terhadap kualitas hidup penderita DM. Kualitas hidup pasien DM dapat ditingkatkan dengan banyak cara. Salah satu metode yang sudah digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita DM adalah Metode Self Diabetes Management Education (SDME) dengan metode kelompok. Self Diabetes Management Education (SDME) merupakan suatu proses berkelanjutan untuk memfasilitasi pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang diperlukan untuk perawatan diri pasien Diabetes Mellitus. SDME memberikan dukungan informasi pengambilan keputusan, perilaku perawatan diri, pemecahan masalah dan kerjasama aktif dengan tim kesehatan dan untuk meningkatkan hasil klinis, status kesehatan dan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Self Diabetes Management Education (SDME) dengan Metode kelompok terhadap dukungan keluarga dan kualitas hidup penderita DM di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Ragunan Jakarta Selatan. Penelitian ini menggunakan desain Quasi Experiment dengan pasien DM di Puskesmas Kelurahan Ragunan Pasar Minggu sebagai sampel

    Perancangan Sistem Informasi Retensi Rekam Medis Pasien Rawat Inap Menggunakan Visual Studio 2010 di Rumah Sakit Jasa Kartini Tasikmalaya

    Get PDF
    The hospital is a place to organize health efforts, namely every activity to maintain and improve health and aims to realize optimal levels of health for the community. This study aims to design an information system for inpatient medical record retention using Microsoft Visual Studio 2010 at the Jasa Kartini Hospital, Tasikmalaya. The research method used is a qualitative method with a descriptive approach. Data collection techniques are using observation, interviews and literature studies related to the subject matter of the research. As for the software development method using the waterfall. Based on the research conducted, various problems were found, including the medical record files that had been retained were not well organized at the time of storage so that they were not sequentially according to the medical record number, the lack of storage racks so that the medical records were not well organized and the retention process was slow. Therefore, it is necessary to design a medical record retention information system in the form of an application. The system design method uses Flowmap, DFD (Data Flow Diagram) and ERD (Entity Relation Diagram) and is implemented with Microsoft Visual Studio 2010 programming language with Microsoft Access database. Testing is done using the black box with the results of each successful form according to the design procedure.Rumah sakit merupakan tempat menyelenggarakan upaya kesehatan yaitu setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem informasi retensi rekam medis pasien rawat inap menggunakan microsoft Visual Studio 2010 di Rumah Sakit Jasa Kartini Tasikmalaya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu dengan cara observasi, wawancara dan studi pustaka yang terkait dengan pokok permasalahan penelitian. Sedangkan untuk metode pengembangan perangkat lunak menggunakan waterfall. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, ditemukan berbagai masalah diantaranya berkas rekam medis yang telah diretensi tidak tertata baik pada saat penyimpanannya sehingga tidak berurutan sesuai nomor rekam medisnya, kurangnya rak penyimpanan sehingga rekam medis tidak tertata baik dan lambatnya proses retensi. Oleh karena itu perlu konsep perancangan sistem informasi retensi rekam medis dalam bentuk aplikasi. Metode perancangan sistem menggunakan Flowmap, DFD (Data Flow Diagram) dan ERD (Entity Relation Diagram) serta diimplementasikan dengan bahasa pemrograman Microsoft Visual Studio 2010 dengan database Microsoft Access. Pengujian dilakukan dengan menggunakan blackbox dengan hasil setiap form sukses sesuai prosedur perancangan

    Analisis Pengetahuan, Dukungan Keluarga terhadap Praktik Kader Posbindu PTM dalam Melakukan Kie Sadari di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Bogor Bara

    Get PDF
    One of the health problems in Indonesia is cancer. Among all types of cancer, cervical cancer and breast cancer are the most common types of cancer suffered by women in the world. The purpose of this study is to find out the relationship of knowledge, family support with the practice of KIE SADAR in the working area of west Bogor sub-district health center. This research is descriptive research with a quantitative approach and cross sectional research design that aims to find out the picture of knowledge and support of the family of PTM posbindu cadres in the working area of west Bogor sub-district health center. Research subjects as many as 92 ptm posbindu cadres divided into 5 working areas of West Bogor sub-district health center. The results of the chi square test obtained a value of p = 0.008 then it can be concluded that there is a significant relationship between knowledge and the practice of KIE SADAR obtained value OR = 3.46 means that good knowledge cadres have the opportunity to practice KIE SADAR 3.4 times compared to low knowledge cadres. There is a significant relationship between family support and KIE SADAR Practice with a value of p = 0.017 with an OR value = 4,248 means that cadres who get family support have the opportunity to do KIE SADAR Practice 4.2 times compared to cadres not getting family support.Masalah kesehatan di Indonesia salah satu diantaranya adalah penyakit kanker. Diantara semua jenis kanker yang ada, kanker serviks dan kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak di derita oleh wanita di dunia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan, dukungan keluarga dengan praktik KIE SADARI di wilayah kerja puskesmas kecamatan Bogor Barat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan desain penelitian cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan dukungan keluarga kader posbindu PTM diwilayah kerja puskesmas kecamatan Bogor Barat. Subjek penelitian sebanyak 92 kader posbindu PTM yang terbagi dalam 5 wilayah kerja puskesmas kecamatan Bogor Barat. Hasil uji chi square diperoleh nilai p=0,008 maka dapat disimpulkan ada hubungan signifikan antara pengetahuan dengan praktik KIE SADARI yang diperoleh nilai OR = 3,46 artinya kader pengetahuan baik mempunyai peluang untuk melakukan Praktik KIE SADARI 3,4 kali dibanding kader pengetahuan rendah. Adanya hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan Praktik KIE SADARI dengan nilai p=0.017 dengan nilai OR =4,248 artinya kader yang mendapatkan dukungan keluarga mempunyai peluang untuk melakukan Praktik KIE SADARI 4,2 kali dibanding kader tidak mendapatkan dukungan keluarga

    Gambaran Hasil Pemeriksaan HBSAG pada Pendonor di Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia Kabupaten Kudus

    Get PDF
    Hepatitis B is an infectious disease that attacks the liver which can be acute and chronic. Blood transfusion is one of the most common horizontal HBV transmission routes. In donors who suffer from hepatitis B disease or become carriers of hepatitis B, the blood containing the hepatitis B virus can be transmitted to recipients through blood transfusions. Several measures are taken to prevent the transmission of hepatitis, namely by checking for HBsAg. If HBsAg is positive, the donor is not allowed to donate. The purpose of this study was to find out an overview of the results of HBsAg examination on donors at the Indonesian Red Cross Blood Donor Unit, Kudus Regency during 2020. Donors at the Kudus Regency Blood Transfusion Unit during 2020. The study was carried out in January 2021 at the Kudus Regency Blood Transfusion Unit. . Diagnostic tests are performed using the Frequency Distribution. The results showed that the number of reactive donors was 96 (0.60%) of the total 16,081 donors. The number of reactive donors was more in males, namely 78 (81.25%) of the total reactive donors, while 18 (18.75%). Reactive HBsAg cases with the most donors were in February 2020 and the lowest cases were in November 2020. Hepatitis B affects men more than women. This is because men are generally more active than women, while hepatitis is transmitted through bodily fluids, which may occur due to activity, for example, through wounds received at work or while shaving.Hepatitis B merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyerang hati dapat bersifat akut dan kronik. Transfusi darah merupakan salah satu jalur penularan VHB secara horizontal yang sering terjadi. Pada pendonor yang menderita penyakit hepatitis B atau menjadi karier hepatitits B, maka darah yang mengandung virus hepatitis B tersebut dapat ditularkan kepada resipien melalui transfusi darah. Beberapa tindakan yang dilakukan untuk mencegah penularan hepatitis yaitu dengan adanya pemeriksaan HBsAg. Apabila HBsAg positif maka pendonor tidak diperbolehkan untuk mendonor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran gambaran hasil pemeriksaan HBsAg pada pendonor di Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia Kabupaten Kudus selama Tahun 2020. Pendonor di Unit Transfusi Darah Kabupaten Kudus selama Tahun 2020. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2021 bertempat di Unit Transfusi Darah Kabupaten Kudus. Uji diagnostik dilakukan dengan menggunakan Distribusi Frekuensi. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa jumlah pendonor reaktif sebanyak 96 (0.60%) pendonor dari jumlah total 16.081 pendonor. Jumlah pendonor reaktif lebih banyak pada laki yaitu 78 (81.25%) dari total pendonor yang reaktif, sedangkan pada perempuan 18 (18.75%). Kasus HbsAg reaktif dengan pendonor terbanyak yaitu pada bulan februari 2020 dan kasus terendah pada bulan november 2020. Hpatitis B lebih banyak mengenai laki-laki daripada perempuan. Hal ini disebabkan oleh karena laki-laki umumnya lebih aktif dari pada perempuan sedangkan penularan hepatitis adalah melalui transmisi cairan tubuh yang mungkin bisa terjadi karena aktivitas, misalnya melalui luka yang didapat sewaktu bekerja atau saat bercukur

    The Relationship of Depression with Sleep Quality in Psychology Students of Unika Atma Jaya University During the Covid-19 Pandemic

    Get PDF
    Exotropia sensory is unilateral divergence as a sequel to vision loss or long-standing poor vision. Characterized by large angles, comitant strabismic, increased gradually. Surgical characteristic treatment success are final deviation less than 10 prism diopters at distance in the primary position. Large deviation requires operating on three or four horizontal muscle and operating only for poor vision. This research aims to report the exotropia sensory patients and the result of surgical treatment for sensory exotropia by examiningthe outcomes of the surgical treatment. This is a prospective descriptive study conducted from January 2018 to December 2020 at Dr.M.Djamil hospital, Padang. A total of 12 patients included in this study. Detailed history regarding the complaint, developmental history was taken. Patients were thoroughly evaluated for visual acuity, through anterior segment evaluation using slit lamp, and fundus examination, and finding the deviation of the eye by doing hisberg test and prisma krimsky near and distance test. The result of surgical treatment evaluated by examine Hirsberg test and prisma krimsky test. A total of 12 patient were included, of whom   6 cases (50%) are man and woman 6 cases (50%), and the patients are 21-30 age year old about 33,33%.  From the etiology, retinal abnormalities are the most causes of the exotropia with 4 cases (33,33%). The patient are management by surgical and with monocular reses-resect hang back surgery. From 6-month follow up, the patient was satisfactory cosmetic result with orthotropia 85,71%. The patient exotropia sensory are 21-30 years old. The most common cause of sensory strabismus was retinal abnormalities, and the long-term outcome of surgery for sensory exotropia was satisfactory.Exotropia sensory is unilateral divergence as a sequel to vision loss or long-standing poor vision. Characterized by large angles, comitant strabismic, increased gradually. Surgical characteristic treatment success are final deviation less than 10 prism diopters at distance in the primary position. Large deviation requires operating on three or four horizontal muscle and operating only for poor vision. This research aims to report the exotropia sensory patients and the result of surgical treatment for sensory exotropia by examiningthe outcomes of the surgical treatment. This is a prospective descriptive study conducted from January 2018 to December 2020 at Dr.M.Djamil hospital, Padang. A total of 12 patients included in this study. Detailed history regarding the complaint, developmental history was taken. Patients were thoroughly evaluated for visual acuity, through anterior segment evaluation using slit lamp, and fundus examination, and finding the deviation of the eye by doing hisberg test and prisma krimsky near and distance test. The result of surgical treatment evaluated by examine Hirsberg test and prisma krimsky test. A total of 12 patient were included, of whom   6 cases (50%) are man and woman 6 cases (50%), and the patients are 21-30 age year old about 33,33%.  From the etiology, retinal abnormalities are the most causes of the exotropia with 4 cases (33,33%). The patient are management by surgical and with monocular reses-resect hang back surgery. From 6-month follow up, the patient was satisfactory cosmetic result with orthotropia 85,71%. The patient exotropia sensory are 21-30 years old. The most common cause of sensory strabismus was retinal abnormalities, and the long-term outcome of surgery for sensory exotropia was satisfactory

    Pengaruh Senam Diabetik terhadap Sensitivitas Kaki (Ulkus) dan Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Melitus Tipe II

    Get PDF
    In Indonesia the incidence of diabetes mellitus continues to increase. Complications of diabetes occur in all organs of the body with a 50% cause of death due to coronary heart disease and 30% due to kidney failure. Besides death, diabetes also causes disability. As many as 30% of diabetics overcome the complications of retinopathy and 10% overcome foot amputations due to diabetic ulcers. Diabetes mellitus is a disease characterized by evolution caused by differences in insulin production or impaired insulin performance or because of both. Management of diabetes mellitus through the five main pillars, one of which is diabetic exercise. Diabetic gymnastics is a form of aerobic physical exercise for diabetics with movements that have been deliberately chosen to follow the rhythm of the chosen music that requires the provision of rhythmic, continuity and a certain duration to achieve the expected goals. This gymnastics suggests 3-5 times / week. The aim is to determine the sensitivity of the feet of people with diabetes mellitus, the difference in blood sugar levels before and after formulation in patients with Type II DM. This search article is based on data such as Google Scholar. The key words are "diabetes exercise", "foot sensitivity", "blood glucose levels", "type II diabetes patients" and the authors found 5 relevant articles from 2014-2020. This article is expected to be an additional information to keep scheduling diabetic gymnastics regularly and continuouslyDi Indonesia angka kejadian penderita diabetes mellitus terus meningkat. Komplikasi diabetes terjadi pada semua organ tubuh dengan penyebab kematian 50% akibat penyakit jantung koroner dan 30% akibat gagal ginjal. Selain kematian, diabetes juga menyebabkan kecacatan. Sebanyak 30% penderita diabetes mengalami kebutaan akibat komplikasi retinopati dan 10% menjalani amputasi tungkai kaki karena ulkus diabetik. Diabetes Melitus merupakan suatu penyakit gangguan metabolisme yang ditandai dengan meningkatnya glukosa dalam darah sebagai akibat dari adanya gangguan produksi insulin atau gangguan kinerja insulin atau karena kedua-duanya. Penatalaksanaan diabetes mellitus melalui cara lima pilar utama, salah satunya senam diabetik. Senam diabetik adalah bentuk latihan fisik aerobik bagi penderita diabetes dengan serangkaian gerakan yang telah dipilih secara sengaja mengikuti irama musik pilihan sehingga melahirkan ketentuan ritmis, kontinuitas dan durasi tertentu untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Senam ini direkomendasikan 3-5 kali/minggu. Tujuannya yaitu untuk mengetahui sensitivitas kondisi pada kaki penderita diabetes mellitus, perbedaan kadar gula darah sebelum dan sesudah melaksanakan senam diabetik pada pasien DM Tipe II. Pencarian artikel ini dilakukan berbasis data seperti google scholar. Kata kuncinya adalah “senam diabetic”, “sensitivitas kaki”, “kadar glukosa darah”, “pasien diabetes tipe II” dan penulis menemukan 5 artikel yang relevan dari 2014-2020. Artikel ini diharapkan menjadi tambahan informasi untuk tetap menjadwalkan senam diabetic secara rutin dan berkelanjuta

    637

    full texts

    676

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Health Sains (JHS)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇