Jurnal Health Sains (JHS)
Not a member yet
    676 research outputs found

    Gambaran Tingkat Pengetahuan Swamedikasi Obat Analgesik Pada Mahasiswa-Mahasiswi Universitas Tadulako Di Kota Palu

    Get PDF
    Swamedikasi merupakan usaha seseorang dalam menolong dirinya sendiri berupa mengobati dirinya sendiri. Dalam menjalankannya, swamedikasi bisa menjadi masalah terkait obat (Drug related problem) karena pengetahuan yang terbatas mengenai obat dan penggunaannya. Analgesik merupakan obat yang berkhasiat untuk mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri atau obat-obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit tetapi tidak menghilangkan kesadaran. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana gambaran tingkat pengetahuan swamedikasi obat analgesik pada mahasiswa Kesehatan dan Non Kesehatan Universitas Tadulako di Kota Palu. Penelitian ini menggunakan metode non eksperimental (observasional) dan bersifat cross sectional, dengan metode survei menggunakan kuesioner yang disebar melalui google form dengan jumlah mahasiswa kesehatan 349 responden dan mahasiswa Non kesehatan 396 responden. Teknik dalam pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu purposive sampling. Hasil pengolahan data didapatkan hasil penelitian pengetahuan mahasiswa Kesehatan pada kategori baik sebesar 47,28 %, %, kategori cukup sebesar 49,28 % dan kategori kurang 3,44 %. Sedangkan pengatahuan mahasiswa non Kesehatan masuk kedalam kategori baik sebesar 16,16 %, ketegori cukup sebanyak 72,98 % dan kategori kurang sebanyak 10,86 %. Hasil uji mann-whitney diperoleh nilai signifikansi < 0,05 (0,00 < 0,05) maka hasil tersebut menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat pengetahuan mahasiswa Kesehatan dan Non Kesehatan.  Kesimpulan mahasiswa kesehatan dan non kesehatan universitas tadulako memiliki tingkat pengetahuan yang cukup dan mahasiswa Kesehatan memiliki pengetahuan yang lebih baik dibandingkan mahasiswa non Kesehatan.Swamedikasi merupakan usaha seseorang dalam menolong  dirinya sendiri berupa mengobati dirinya sendiri. Dalam menjalankannya, swamedikasi bisa menjadi masalah terkait obat (Drug related problem) karena pengetahuan yang terbatas mengenai obat dan penggunaannya. Analgesik merupakan obat yang berkhasiat untuk mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri atau obat-obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit tetapi tidak menghilangkan kesadaran. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana gambaran tingkat pengetahuan swamedikasi obat analgesik pada mahasiswa Kesehatan dan Non Kesehatan Universitas Tadulako di Kota Palu. Penelitian ini menggunakan metode non eksperimental (observasional) dan bersifat cross sectional, dengan metode survei menggunakan kuesioner yang disebar melalului google form dengan jumlah mahasiswa kesehatan 349 responden dan mahasiswa Non kesehatan 396 responden. Teknik dalam pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu purposive sampling. Hasil pengolahan data didapatkan hasil penelitian pengetahuan mahasiswa Kesehatan pada kategori baik sebesar 47,28 %, %, kategori cukup sebesar 49,28 %  dan kategori kurang 3,44 %. Sedangkan pengatahuan mahasiswa non Kesehatan masuk kedalam kategori baik sebesar 16,16 %, ketegori cukup sebanyak 72,98 % dan kategori kurang sebanyak 10,86 %. Hasil uji mann-whitney diperoleh nilai signifikansi < 0,05 (0,00 < 0,05) maka hasil tersebut menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat pengetahuan mahasiswa Kesehatan dan Non Kesehatan.  Kesimpulan mahasiswa kesehatan dan non kesehatan universitas tadulako memiliki tingkat pengetahuan yang cukup dan mahasiswa Kesehatan memiliki pengetahuan yang lebih baik dibandingkan mahasiswa non Kesehata

    Efektivitas Anti-Ulcer Fukoidan Dari Rumput Laut Coklat Sargassum Polycystum

    Get PDF
    Tujuan penelitian untuk mengetahui efek antiulkus isolat fukoidan dan Sargassum polycystum terhadap tikus putih jantan. Sampel terdiri dari 45 ekor tikus jantan dibagi 9 kelompok yaitu normal, CMC-Na, sukralfat, fukoidan dan   25mg/kgbb, 50mg/kgbb dan 100mg/kgbb. Perlakuan diberi per oral selama 10 hari.  Pada hari ke-10, tikus dipuasakan selama 24 jam dan diberikan induksi etanol P.A. Kemudian tikus dikorbankan dan diambil lambung untuk dilakukan pemeriksaan makroskopik dan mikroskop. Hasil pemeriksaan karakteristik simplisia Sargassum polycystum diperoleh kadar air 9,05%, susut pengeringan 8,74% dan rendemen hasil isolasi fukoidan dan adalah 4,01% dan 6,4%. Hasil identifikasi fukoidan secara spektrofotometri FTIR menunjukkan bentuk spektrum dan kurva serapan identik dengan baku pembanding fukoidan. Persentase jumlah tukak masing-masing dosis fukoidan dan yaitu, dosis 25mg/kgbb (1.04 dan 0,85), dosis 50mg/kgbb (0,84 dan 0,67), dosis 100mg/kgbb (0,21 dan 0,40). Kesimpulan hasil penelitian adalah isolat fukoidan dan memiliki efek gastroprotektif terhadap lambung tikus putih dengan dosis optimum 100mg/kgbb.Tujuan penelitian untuk mengetahui efek antiulkus isolat fukoidan dan  Sargassum polycystum terhadap tikus putih jantan. Sampel terdiri dari 45 ekor tikus jantan dibagi 9 kelompok yaitu normal, CMC-Na, sukralfat, fukoidan dan   25mg/kgbb, 50mg/kgbb dan 100mg/kgbb. Perlakuan diberi per oral selama 10 hari.  Pada hari ke-10, tikus dipuasakan selama 24 jam dan diberikan induksi etanol P.A. Kemudian tikus dikorbankan dan diambil lambung untuk dilakukan pemeriksaan makroskopik dan mikroskop. Hasil pemeriksaan karakteristik simplisia Sargassum polycystum diperoleh kadar air 9,05%, susut pengeringan 8,74% dan rendemen hasil isolasi fukoidan dan  adalah 4,01% dan 6,4%. Hasil identifikasi fukoidan secara spektrofotometri FTIR menunjukkan bentuk spektrum dan kurva serapan identik dengan baku pembanding fukoidan. Persentase jumlah tukak masing-masing dosis fukoidan dan  yaitu, dosis 25mg/kgbb (1.04 dan 0,85), dosis 50mg/kgbb (0,84 dan 0,67), dosis 100mg/kgbb (0,21 dan 0,40). Kesimpulan hasil penelitian adalah isolat fukoidan dan  memiliki efek gastroprotektif terhadap lambung tikus putih dengan dosis optimum 100mg/kgbb

    Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Tumbuh Kembang Balita Di Desa Langke Kecamatan Gentuma Raya Provinsi Gorontalo

    Get PDF
    Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, namun keduanya saling berkaitan sehingga sulit untuk dipisahkan. Stimulasi dalam tumbuh kembang pada balita merupakan hal yang penting untuk diperhatikan terutama oleh ibu sebagai orang terdekat dengan balita. Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang balita di desa Langke Kecamatan Gentuma Raya pada tingkat baik, cukup, dan kurang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif, teknik pengambilan sampel dengan total sampling dengan jumlah sampel 35 responden, lokasi dan waktu penelitian di desa Langke Kecamatan Gentuma Raya pada bulan Juni-Juli 2020, instrument penelitian menggunakan kuesioner. Hasil penelitian dari 35 responden diperoleh hasil responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 8 responden (22%), cukup sebanyak 23 responden (65,7%), kurang sebanyak 4 responden (11,4%). Berdasarkan pekerjaan hampir semua responden adalah Ibu Rumah Tangga (IRT) 29 responden (82,9%), mayoritas pendidikan terakhir SMA 18 responden (51,4%), dengan usia 17-23 dan 24-29 tahun. Berdasarkan hasil penelitian pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang balita di Desa Langke Kecamatan Gentuma Raya masih di rentang cukup (65,7%), disarankan kepada ibu agar dapat mengikuti program di fasilitas kesehatan yang ada karena pengetahuan ibu akan menjadi penentu terhadap sikap dan perilaku dalam memberikan nutrisi, kasih sayang, dan frekuensi stimulasi yang diberikan kepada balita.Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, namun keduanya saling berkaitan sehingga sulit untuk dipisahkan. Stimulasi dalam tumbuh kembang pada balita merupakan hal yang penting untuk diperhatikan terutama oleh ibu sebagai orang terdekat dengan balita. Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang balita di desa Langke Kecamatan Gentuma Raya pada tingkat baik, cukup, dan kurang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif, teknik pengambilan sampel dengan total sampling dengan jumlah sampel 35 responden, lokasi dan waktu penelitian di desa Langke Kecamatan Gentuma Raya pada bulan Juni-Juli 2020, instrument penelitian menggunakan kuesioner. Hasil penelitian dari 35 responden diperoleh hasil responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 8 responden (22%), cukup sebanyak 23 responden (65,7%), kurang sebanyak 4 responden (11,4%). Berdasarkan pekerjaan hampir semua responden adalah Ibu Rumah Tangga (IRT) 29 responden (82,9%), mayoritas pendidikan terakhir SMA 18 responden (51,4%), dengan usia 17-23 dan 24-29 tahun. Berdasarkan hasil penelitian pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang balita di Desa Langke Kecamatan Gentuma Raya masih di rentang cukup (65,7%), disarankan kepada ibu agar dapat mengikuti program di fasilitas kesehatan yang ada karena pengetahuan ibu akan menjadi penentu terhadap sikap dan perilaku dalam memberikan nutrisi, kasih sayang, dan frekuensi stimulasi yang diberikan kepada balita

    Hubungan Pajanan Pestisida Dengan Efek Neurobehavioral Pada Petani Cabai Merah Di Kecamatan Beringin

    Get PDF
    Salah satu kegiatan dalam meningkatkan kualitas hasil pertanian tidak terlepas dari penggunaan pestisida. Penggunaan pestisida di Indonesia masih didominasi pestisida berbahan kimia. Usaha pertanian khususnya cabai merah masih menggunakan pestisida dari golongan organofosfat. Berbagai studi epideomiologi menunjukkan bahwa individu yang terpapar organofosfat secara akut dan kronik akan mengalami gangguan neurologis jangka panjang yang disebut efek neurobehavioral. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pajanan pestisida dengan efek neurobehavioral pada petani cabai merah di Kecamatan Beringin. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi penelitan adalah seluruh petani cabai merah yang tergabung dalam kelompok Juli Tani desa Sidodadi Ramunia. Sampel adalah 46 petani cabai merah. Pengumpulan data menggunakan kuisioner Q18 Versi Jerman yang dilajutkan dengan uji performa neurobehavioral menggunakan instrument digit symbol, digist span, pursuit aiming dan trail making. Hasil sebanyak 60,9% petani mengalami efek neurobehavioral tidak normal dan 39,1% petani mengalami efek neurobehavioral normal, berdasarkan analisis menunjukkan ada hubungan antara usia ( p = 0,003), masa kerja  (p = 0,000), dan jenis pestisida (p = 0,013) dengan efek neurobehavioral pada petani cabai merah di Kecamatan Beringin. Kesimpulan usia, masa kerja petani, dan jenis pestisida dapat menyebabkan efek neurobehavioral tidak normal pada petani cabai merah di Kecamatan Beringin.Salah satu kegiatan dalam meningkatkan kualitas hasil pertanian tidak terlepas dari penggunaan pestisida. Penggunaan pestisida di Indonesia masih didominasi pestisida berbahan kimia. Usaha pertanian khususnya cabai merah masih menggunakan pestisida dari golongan organofosfat. Berbagai studi epideomiologi menunjukkan bahwa individu yang terpapar organofosfat secara akut dan kronik akan mengalami gangguan neurologis jangka panjang yang disebut efek neurobehavioral. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pajanan pestisida dengan efek neurobehavioral pada petani cabai merah di Kecamatan Beringin. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi penelitan adalah seluruh petani cabai merah yang tergabung dalam kelompok Juli Tani desa Sidodadi Ramunia. Sampel adalah 46 petani cabai merah. Pengumpulan data menggunakan kuisioner Q18 Versi Jerman yang dilajutkan dengan uji performa neurobehavioral menggunakan instrument digit symbol, digist span, pursuit aiming dan trail making. Hasil sebanyak 60,9% petani mengalami efek neurobehavioral tidak normal dan 39,1% petani mengalami efek neurobehavioral normal, berdasarkan analisis menunjukkan ada hubungan antara usia ( p = 0,003), masa kerja  (p = 0,000), dan jenis pestisida (p = 0,013) dengan efek neurobehavioral pada petani cabai merah di Kecamatan Beringin. Kesimpulan usia, masa kerja petani, dan jenis pestisida dapat menyebabkan efek neurobehavioral tidak normal pada petani cabai merah di Kecamatan Beringi

    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Komplikasi Ketuban Pecah Dini (Kpd) Di Rsud Dr Mm Dunda Limboto

    Get PDF
    Ketuban pecah dini sangat berbahaya bagi ibu hamil maupun bayinya. Bahaya dari ketuban pecah dini adalah infeksi terjadi pada ibu dan bayi. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini (KPD). Metode penelitian yaitu analitik korelasional dengan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil di RSUD MM Dunda Limboto Kabupaten Gorontalo yaitu 181 populasi. Sampel dalam penelitian ini yaitu 38 orang dengan menggunakan tehnik penarikan sampel pusposive sampling. Diketahui nilai chi square hitung >chi square tabel (4.071 > 3.841) atau p=0.044 << α 0.05, maka H0 ditolak, jadi dapat simpulkan bahwa ada hubungan pekerjaan responden dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) dan OR: 4.167 artinya ibu yang bekerja selama kehamilan memiliki 4 kali beresiko untuk mengalami ketuban pecah dini. Diketahui nilai chi square pada Kelainan Letak Janin p=0.746>> 0.05, BB Janin p=0.555 >> α 0.05, Gemeli p=0.721 >> α 0.05 yang artinya H0 diterima, jadi dapat simpulkan bahwa tidak ada hubungan Kelainan Letak Janin, BB janin, Gemeli dengan Ketuban Pecah Dini (KPD). Kesimpulan Faktor yang mempengaruhi KPD yaitu pekerjaan dan yang tidak mempengaruhi KPD yaitu Kelainan Letak Janin, BB janin, Gemeli.Ketuban pecah dini sangat berbahaya bagi ibu hamil maupun bayinya. Bahaya dari ketuban pecah dini adalah infeksi terjadi pada ibu dan bayi. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini (KPD). Metode penelitian yaitu analitik korelasional dengan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil di RSUD MM Dunda Limboto Kabupaten Gorontalo yaitu 181 populasi. Sampel dalam penelitian ini yaitu 38 orang dengan menggunakan tehnik penarikan sampel pusposive sampling. Diketahui nilai chi square hitung >chi square tabel (4.071 > 3.841) atau p=0.044 << α 0.05, maka H0 ditolak, jadi dapat simpulkan bahwa ada hubungan pekerjaan responden dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) dan OR : 4.167  artinya ibu yang bekerja selama kehamilan memiliki 4 kali beresiko untuk mengalami ketuban pecah dini. Diketahui nilai chi square pada Kelainan Letak Janin p=0.746>> 0.05, BB Janin p=0.555 >> α 0.05, Gemeli p=0.721 >> α 0.05 yang artinya H0 diterima, jadi dapat simpulkan bahwa tidak ada hubungan Kelainan Letak Janin, BB janin, Gemeli dengan Ketuban Pecah Dini (KPD). Kesimpulan Faktor yang mempengaruhi KPD yaitu pekerjaan dan yang tidak mempengaruhi KPD yaitu Kelainan Letak Janin, BB janin, Gemeli

    Hubungan Faktor Pemungkin Ketersediaan Sarana Dan Guru Dalam Perilaku Pencegahan Penyalahgunaan Bahaya Narkoba Pada Sman/Swasta Di Kabupaten Asahan

    No full text
    Perilaku pencegahan berperan penting untuk menangkal dan meningkatkan kesadaran seseorang dalam memelihara kesehatannya. Hasil riset yang dilakukan united Nations on drugs and crime (UNODC) tahun 2017 menyatakan bahwa sekitar 271 juta (5,5%) penduduk dunia berusia 15-64 tahun merupakan pengguna narkoba. Siswa usia sekolah adalah kelompok usia yang rentan terhadap peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Upaya Program Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) adalah program pemerintah dalam mengurangi jumlah penyalahgunaan narkoba. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara ketersediaan sarana dan dukungan guru dalam perilaku mencegah penyalahgunaan bahaya narkoba. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan analitik yang menggunakan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data melalui kuesioner dengan google form. Metode analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwaperilaku pencegahan penyalahgunaan bahaya narkoba lebih dominan pada usia 15 tahun (78,4%) dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 120 orang (60,3%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara ketersediaan sarana dengan nilai p=0,373 (p>0,05) dan faktor penguat guru dengan nilai p=0,038 (p<0,05) dalam perilaku pencegahan penyalahgunaan bahaya narkoba.Tidak ada hubungan antara faktor ketersediaan sarana dan faktor penguat guru dalam pencegahan penyalahgunaan bahaya narkoba.Perilaku pencegahan berperan penting untuk menangkal dan meningkatkan kesadaran seseorang dalam memelihara kesehatannya. Hasil riset yang dilakukan united Nations on drugs and crime (UNODC) tahun 2017 menyatakan bahwa sekitar 271 juta (5,5%) penduduk dunia berusia 15-64 tahun merupakan pengguna narkoba. Siswa usia sekolah adalah kelompok usia yang rentan terhadap peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Upaya Program Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) adalah program pemerintah dalam mengurangi jumlah penyalahgunaan narkoba. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara ketersediaan sarana dan dukungan guru dalam perilaku mencegah penyalahgunaan bahaya narkoba. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan analitik yang menggunakan pendekatan cross sectional, Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 3104 siswa, jumlah sampel sebanyak 199 siswa, diperoleh dengan menggunakan Cluster sampling. Sebelum melakukan analisis data dilakukan uji validitas dan reliabilitas, setelah itu dipereloh data yang valid dan reliabel kemudian dilanjutkan dengan Analisis data. Pengumpulan data melalui kuesioner dengan google form. Metode analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa perilaku pencegahan penyalahgunaan bahaya narkoba lebih dominan pada usia 15 tahun (78,4%) dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 120 orang (60,3%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara ketersediaan sarana dengan nilai p=0,373 (p>0,05) dan faktor penguat guru dengan nilai p=0,038 (p<0,05) dalam perilaku pencegahan penyalahgunaan bahaya narkoba. Tidak Ada hubungan antara faktor ketersediaan sarana dan faktor penguat guru dalam pencegahan penyalahgunaan bahaya narkob

    Pengaruh Sikap terhadap Kepatuhan Perawat pada Penerapan Budaya Keselamatan Pasien di RS Mitra Sejati

    Get PDF
    The application of a patient safety culture such as reporting and recording patient safety incidents at Mitra Sejati Hospital has not been implemented well since most of its nurses do not comply with the rules such as they do not report the incidence since they think that it is not serious enough and they are afraid of reporting it to the management. The objective of the research was to analyze in the influence of individual characteristics and leadership style on nurses’ compliance with patient safety at Mitra Sejati Hospital. The research used explanatory method with cross sectional design. The population was 132 patients, and 57 of them were used as the samples. The data were gathered by using questionnaires and by using multiple linear regression tests at the significance level of 95%. The results showed that there were 64.9% of nurses who were less obedient in implementing a patient safety culture, while those who were obedient were 15.8%. Individual characteristic variables include attitude (p = 0.041) and leadership style variables (p = 0.029) have an effect on nurses' compliance with the application of patient safety culture. The dominant variable that has the most influence is leadership style with a coefficient value of β = 0.350, meaning that if the head of the room applies a leadership style it will result in an increase in nurse compliance with the application of patient safety culture by 0.350. The nurse's assessment of the headroom's leadership style that is most preferred is the participatory leadership style. It is recommended that the hospital provide training on patient safety to improve the attitude of nurses in realizing potential events or injuries that are more dangerous to patients, so that each head of the room can be a role model for implementing nurses to comply with a patient safety incident reporting culture.Penerapan budaya keselamatan pasien seperti melaporkan dan mencatat insiden keselamatan pasien di RS Mitra Sejati masih belum terlaksana dengan baik, dilihat dari kepatuhan perawat yang kurang sadar bahwa insiden yang terjadi tidak perlu dilaporkan karena tidak menimbulkan cedera yang fatal bagi pasien dan adanya rasa takut disalahkan apabila melaporkan insiden keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik individu dan gaya kepemimpinan terhadap kepatuhan perawat pada budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit Mitra Sejati. Jenis penelitian ini adalah cross sectional dengan pendekatan eksplanatori. Populasi adalah seluruh perawat inap sebanyak 132 orang dengan sampel 57 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi linier berganda pada batas kemaknaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan perawat yang kurang patuh menerapkan budaya keselamatan pasien sebanyak 64,9%, sedangkan yang patuh sebesar 15,8%. Variabel karakteristik individu meliputi sikap (p=0,041) dan variabel gaya kepemimpinan (p=0,029) berpengaruh terhadap kepatuhan perawat pada penerapan budaya keselamatan pasien. Variabel dominan yang paling berpengaruh adalah gaya kepemimpinan dengan nilai koefisien β=0,350, artinya jika kepala ruang menerapkan gaya kepemimpinan akan mengakibatkan peningkatan kepatuhan perawat pada penerapan budaya keselamatan pasien sebesar 0,350. Penilaian perawat terhadap gaya kepemimpinan kepala ruang yang paling disukai adalah gaya kepemimpnan partisipatif. Disarankan agar rumah sakit memberikan pelatihan tentang keselamatan pasien untuk meningkatkan sikap perawat dalam menyadari potensi kejadian atau cedera yang lebih berbahaya bagi pasien, menerapkan agar setiap kepala ruangan dapat menjadi contoh teladan bagi perawat pelaksana agar patuh menerapkan budaya pelaporan insiden keselamatan pasie

    Prilaku Homoseksual Komunitas Mua Banjarmasin dan Komunikasi Persuasif sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Menular Seksual Melalui Penyuluhan Kesehatan

    Get PDF
    Homosexual is a taboo word that is spoken by many people. This deviant behavior due to environmental factors. Homosexual behavior is also closely related to HI-Aids. The authors feeling need t take a personal approach to find out more about the lives of homosexuals in Banjarmasin and the sexually transmitted diseases that overshadow them in order to prevent the spread of deviant sexual behavior. This study aims to determine the causes of deviant sexual behavior in the MUA Banjarmasin community and forms of prevention with health education about the dangers of deviant sexual behavior. This type of research is descriptive with a qualitative approach. The research respondents were the MUA community in Banjarmasin city and carrier out in June 2021. The result showed that same-sex deviant sexual behavior had occurred in the MUA Banjarmasin community. They are very aware of the diseases risk faced when having sex with the same-sex. But they think the diseases comes from themselves as long as they can take care of themselves so they can reduce the transmission risk. Researchers conclude that several factors trigger the formation of same-sex sexual behavior due to environmental factors, errors in parenting patterns, excessive same-sex interactions, and stress due to work pressure. To raise awareness of the deviant behavior of members Banjarmasin MUA community, it is necessary to carry out health education as a form of communication. The extension model that can be implemented is two-way communication such as question and answer of discussion.Homoseksual termasuk kata yang tabu diucapkan namun banyak dilakoni sebagian masyarakat. Banyak yang terjerumus dengan prilaku menyimpang tersebut dikarenakan faktor lingkungan sekitar. Perilaku homoseksual juga sangat erat kaitannya dengan HI-Aids. Penulis merasa perlu melakukan pendekatan secara personal untuk mengetahui lebih jauh tentang kehidupan kaum homoseksual yang ada di Banjarmasin dan penyakit menular seksual yang membayangi mereka dengan tujuan agar tidak berkembangluasnya perilaku seksual menyimpang tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui penyebab terjadinya prilaku seks menyimpang pada komunitas MUA Banjarmasin dan bentuk pencegahan dengan penyuluhan kesehatan tentang bahaya prilaku seks meyimpang. Jenis penelitian ini deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan memang sudah terjadi perilaku seks menyimpang sesama jenis pada komunitas MUA Banjarmasin. Mereka sangat mengetahui resiko penyakit yang dihadapi ketika berhubungan sesama jenis, namun mereka beranggapan penyakit datangnya dari diri sendiri selama bisa menjaga diri maka bisa mengurangi resiko penularan. Kesimpulannya beberapa faktor pemicu terbentuknya perilaku seks sesama jenis karena faktor lingkungan, kesalahan dalam pola asuh orang tua, interaksi berlebihan sesama jenis, dan stress akibat tekanan kerja. Untuk menyadarkan perilaku menyimpang anggota komunitas MUA Banjarmasin perlu dilaksankan penyuluhan kesehatan sebagai bentuk komunikasi. Model penyuluhan yang bisa dilaksanakan adalah komunikasi dua arah seperti tanya jawab atau diskusi

    Pengaruh Pengetahuan, Sikap dan Motivasi Perawat Terhadap Pelaksanaan Keselamatan Pasien pada Unit Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Sekayu

    Get PDF
    Patient safety concerns within healthcare organizations have come to the attention of the world and the health world responded with great efforts to address the problem. The level of knowledge of health workers about Patient Safety, motivation and attitude are internal factors that are very influential. To be able to realize the application of patient safety in hospitals is strongly influenced by the role of human resources service providers. Human Resources has the largest population in hospitals compared to other personnel and has the longest time of direct contact with patients is nurses. Therefore, the researchers conducted this study with the aim to analyze the Influence of Knowledge, Attitudes and Motivation of Nurse Work on the Implementation of Patient Safety in Inpatient Installation of Sekayu Regional General Hospital on 105 nurses in hospitals using multiple linear regression analysis. Data collection techniques use primary data questionnaire using 5 scales or likert scales. The results of the study obtained: (1) knowledge, attitudes and motivations have a simultaneous effect on the implementation of patient safety; (2) knowledge has a significant effect on the implementation of patient safety and has a positive influence; (3) attitudes have a significant effect on the implementation of patient safety and have a positive influence; (4) motivation has no significant effect on the implementation of patient safety. Attitudes are variables that have the most influence on the implementation of patient safety. This indicates that nurse foster care needs to be given more attention to the implementation of patient safety in hospital Sekayu, while knowledge and motivation become supporting variables for the variable attitude of foster care nurses in carrying out patient safety efforts.Masalah keselamatan pasien dalam organisasi layanan kesehatan telah menjadi perhatian dunia dan dunia kesehatan menanggapi nya dengan usaha keras untuk mengatasi masalah tersebut. Tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang Keselamatan Pasien, motivasi dan sikap merupakan faktor-faktor internal yang sangat berpengaruh. Untuk dapat mewujudkan penerapan keselamatan pasien di rumah sakit sangat dipengaruhi peran Sumber Daya Manusia pemberi pelayanan. Sumber Daya Manusia yang mempunyai populasi terbesar di rumah sakit dibandingkan dengan tenaga lainnya dan memiliki waktu paling lama kontak langsung dengan pasien adalah perawat. Untuk itu peneliti melakukan penelitian ini dengan tujuan untuk menganalisa Pengaruh Pengetahuan, Sikap dan Motivasi Kerja Perawat terhadap Pelaksanaan Keselamatan Pasien di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Sekayu pada 105 perawat di rumah sakit dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Teknik pengumpulan data mengunakan data primer kuesioner dengan menggunakan 5 skala atau skala likert. Hasil penelitian diperoleh pengetahuan, sikap dan motivasi berpengaruh simultan terhadap pelaksanaan keselamatan pasien, pengetahuan berpengaruh signifikan terhadap pelaksanaan keselamatan pasien dan memiliki pengaruh yang positif, sikap berpengaruh signifikan terhadap pelaksanaan keselamatan pasien dan memiliki pengaruh yang positif, motivasi tidak berpengaruh signifikan terhadap pelaksanaan keselamatan pasien. Sikap merupakan variabel yang memiliki pengaruh paling besar terhadap pelaksanaan keselamatan pasien. Hal ini menunjukkan bahwa sikap asuh perawat perlu diberikan perhatian yang lebih untuk pelaksanaan keselamatan pasien di rawat inap RSUD Sekayu, sementara pengetahuan dan motivasi menjadi variabel pendukung bagi variabel sikap asuh perawat dalam melaksanakan upaya keselamatan pasien

    Faktor Predisposisi, Pencegahan dan Perilaku Sembuh Pasien Tuberkulosis Paru

    Get PDF
    Based on data, Ministry of Health (Dinkes) Tangerang Regency, from January to March 2019 IR (insident rate) 252 for 100,000 inhabitants, the number of patients with TUBERCULOSIS reaches 6,500 people. The number of sufferers, up compared to 2018 who reached 3,838 people. This Literature review aims to view and review related articles on predisposition factors, prevention and behavior of healthy lung TB patients. This research is a method of study of libraries or literature review. Search for articles using search engine Google search engines (Google scholar, repository), Pubmed/Medline and Researchgate with PRISMA search strategy. Search articles by publication year 2015 to 2019. Results: of 15 Articles of Analytanisi derived that the dominant predisposition factor is knowledge, smoking attitude, economic status that affects the status of nutrition or nutritional intake and support of the family. In variable prevention found that prevention is done by throwing phlegm/spit in the toilet, familiarize the behavior of clean and healthy life (PHBS) in the household, regular exercise, not smoking as well as the practice of closing the mouth and nose when coughing and sneezing. In addition, opening the window for the house to get sunlight and fresh air and drying the sleeping mat so as not to be moist should be done. Meanwhile, in the behavior of recovering patients compliance with medication and prevention carried out will affect lung patients cure.Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, sejak Januari sampai Maret 2019 IR (insident rate) 252 per 100.000 penduduk, jumlah penderita TBC mencapai 6.500 orang. Jumlah penderita itu, naik dibanding tahun 2018 yang mencapai 3.838 orang. Literature review ini bertujuan melihat dan meninjau artikel terkait Faktor predisposisi, pencegahan dan perilaku sehat pasien TB paru. Penelitian ini merupakan metode studi kepustakaaan atau literature review. Pencarian artikel menggunakan mesin pencarian Google search engine (Google scholar, repository), Pubmed/Medline dan Researchgate dengan strategi pencarian PRISMA. Artikel pencarian berdasarkan tahun publikasi 2015 hingga 2019. Hasil dari 15 artikel hasil analisa didapatkan bahwa faktor predisposisi yang dominan adalah pengetahuan, sikap merokok, status ekonomi yang mempengaruhi status gizi atau asupan nutrisi serta dukungan keluarga. Pada variable pencegahan ditemukan bahwa pencegahan yang dilakukan adalah dengan cara membuang dahak/meludah di toilet, membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di rumah tangga, olahraga teratur, tidak merokok serta praktek menutup mulut dan hidung ketika batuk dan bersin. Selain itu membuka jendela agar rumah mendapatkan sinar matahari dan udara segar serta menjemur alas tidur agar tidak lembab harus dilakukan. Sedangkan pada perilaku sembuh pasien kepatuhan meminum obat serta pencegahan yang dilakukan akan berpengaruh terhadap kesembuhan pasien TB paru

    637

    full texts

    676

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Health Sains (JHS)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇