Jurnal Health Sains (JHS)
Not a member yet
676 research outputs found
Sort by
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Umbi Bit (Beta Vulgaris L.) Dengan Metode Bslt (Brine Shrimp Lethality Test)
Uji toksisitas merupakan suatu uji pendahuluan yang dilakukan untuk mengetahui efek toksik dan ambang batas penggunaan suatu tumbuhan sebagai obat. Umbi bit (Beta vulgaris L.) termasuk famili Chenopodiaceae. Umbi bit diketahui mengandung metabolit sekunder senyawa seperti flavonoid dan fenolik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi toksisitas akut ekstrak etanol umbi bit (Beta vulgaris L.) terhadap larva Artemia salina Leach dengan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) yang ditunjukkan dengan nilai LC50. Penelitian eksperimental ini menggunakan 180 ekor larva Artemia salina Leach yang dibagi menjadi 1 kontrol negatif dan 5 kelompok seri konsentrasi ekstrak, masing-masing terdiri dari 10 ekor larva dengan replikasi 3 kali untuk tiap perlakuan. Konsentrasi ekstrak berturut-turut adalah 1000, 500, 200, 100 dan 50 ppm. Hasil pengamatan adalah terhadap larva yang mati 24 jam setelah pemberian ekstrak. Hasil dari analisis probit menunjukkan nilai LC50 dari ekstrak etanol umbi bit (Beta vulgaris L.) adalah 239.82 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol umbi bit (Beta vulgaris L.) memiliki potensi toksisitas akut terhadap larva Artemia salina Leach menurut metode BSLT yang ditunjukkan dengan nilai LC50 < dari 1000 ppm.Uji toksisitas merupakan suatu uji pendahuluan yang dilakukan untuk mengetahui efek toksik dan ambang batas penggunaan suatu tumbuhan sebagai obat. Umbi bit (Beta vulgaris L.) termasuk famili Chenopodiaceae. Umbi bit diketahui mengandung metabolit sekunder senyawa seperti flavonoid dan fenolik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi toksisitas akut ekstrak etanol umbi bit (Beta vulgaris L.) terhadap larva Artemia salina Leach dengan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) yang ditunjukkan dengan nilai LC50. Penelitian eksperimental ini menggunakan 180 ekor larva Artemia salina Leach yang dibagi menjadi 1 kontrol negatif dan 5 kelompok seri konsentrasi ekstrak, masing-masing terdiri dari 10 ekor larva dengan replikasi 3 kali untuk tiap perlakuan. Konsentrasi ekstrak berturut-turut adalah 1000, 500, 200, 100 dan 50 ppm. Hasil pengamatan adalah terhadap larva yang mati 24 jam setelah pemberian ekstrak. Hasil dari analisis probit menunjukkan nilai LC50 dari ekstrak etanol umbi bit (Beta vulgaris L.) adalah 239.82 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol umbi bit (Beta vulgaris L.) memiliki potensi toksisitas akut terhadap larva Artemia salina Leach menurut metode BSLT yang ditunjukkan dengan nilai LC50 < dari 1000 ppm
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Merokok Di Dalam Rumah Pada Petani Sawah Di Kabupaten Deli Serdang
Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah melalui penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga. Indikatornya adalah anggota keluarga tidak ada yang merokok. Merokok di dalam rumah masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Deli Serdang. Hasil survei pendahuluan yang dilakukan 30 kepala keluarga yang bekerja sebagai petani sawah di Kabupaten Deli Serdang menunjukkan sebanyak 87 persen masih merokok di dalam rumah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan faktor predisposisi (pengetahuan, sikap) dan faktor pendorong (peran tenaga kesehatan dan dukungan istri) dengan perilaku merokok di dalam rumah pada petani sawah. Jenis penelitian adalah survei dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 106 kepala keluarga yang bekerja sebagai petani sawah dengan pengambilan sampel menggunakan sample random sampling. Pengumpulan data diperoleh melalui kuesioner. Analisis data dilakukan dengan menggunakan univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan, sikap, peran tenaga kesehatan dan dukungan istri dengan perilaku merokok di dalam rumah pada petani sawah. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang membuat kebijakan rumah bebas asap rokok dan membuat pojok merokok di tempat-tempat tertentu. Kepada tenaga kesehatan di puskesmas agar melakukan promosi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap petani sawah, memberdayakan istri dalam mencegah tindakan merokok di dalam rumah. Kepada istri diharapkan mengingatkan suaminya yang masih merokok di dalam rumah untuk merokok di luar rumah.Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah melalui penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga. Indikatornya adalah anggota keluarga tidak ada yang merokok. Merokok di dalam rumah masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Deli Serdang. Hasil survei pendahuluan yang dilakukan 30 kepala keluarga yang bekerja sebagai petani sawah di Kabupaten Deli Serdang menunjukkan sebanyak 87 persen masih merokok di dalam rumah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan faktor predisposisi (pengetahuan, sikap) dan faktor pendorong (peran tenaga kesehatan dan dukungan istri) dengan perilaku merokok di dalam rumah pada petani sawah. Jenis penelitian adalah survei dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 106 kepala keluarga yang bekerja sebagai petani sawah dengan pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data diperoleh melalui kuesioner. Analisis data dilakukan dengan menggunakan univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan, sikap, peran tenaga kesehatan dan dukungan istri dengan perilaku merokok di dalam rumah pada petani sawah. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang membuat kebijakan rumah bebas asap rokok dan membuat pojok merokok di tempat-tempat tertentu. Kepada tenaga kesehatan di puskesmas agar melakukan promosi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap petani sawah, memberdayakan istri dalam mencegah tindakan merokok di dalam rumah. Kepada istri diharapkan mengingatkan suaminya yang masih merokok di dalam rumah untuk merokok di luar rumah
Tinjauan Pengetahuan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Mengenai Aturan Penggunaan ICD 10 dalam Menentukan Diagnosa di RS Bhayangkara TK II Sartika Asih Bandung
International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems or abbreviated as ICD is a disease classification system and various types of signs, symptoms, abnormalities, complaints and external causes of a disease. Based on Kepmenkes 377 of 2007 it is explained about the competencies that must be possessed by Medical Recorders and Health Information. The purpose of this research is to find out what knowledge is needed by Medical Recorders and Health Information on the rules contained in ICD-10 and to find out what knowledge is needed by Medical Recorders and Health Information to support the accuracy of the code generated. This research is a quantitative descriptive research. Respondents in this study were Medical Recorders and Health Information at Bhayangkara Hospital TK II Sartika Asih Bandung. Data was collected by questionnaire method. The results showed that the SOP for Disease and Action Codes at Bhayangkara TK II Sartika Asih Hospital in Bandung was running well. The knowledge already possessed by Medical Recorders and Health Information is about how to code with ICD-10 and action codes using ICD-9-CM, understand and understand medical terminology terms, understand and understand punctuation conventions in ICD-10. Knowledge that is not yet possessed is knowledge of supporting examinations, results of laboratory tests, and drug therapy.International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems atau disingkat ICD adalah suatu sistem klasifikasi penyakit dan beragam jenis tanda-tanda, simptoma, kelainan, komplain dan penyebab eksternal dari suatu penyakit. Berdasarkan Kepmenkes 377 tahun 2007 dijelaskan mengenai kompetensi yang harus dimiliki oleh Perekam Medis dan Informasi Kesehatan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengetahuan apa saja yang dibutuhkan oleh Perekam Medis dan Informasi Kesehatan terhadap aturan-aturan yang berada pada ICD-10 dan untuk mengetahui pengetahuan apa yang dibutuhkan oleh Perekam Medis dan Informasi Kesehatan untuk menunjang keakuratan kode yang dihasilkan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Responden dalam penelitian ini adalah Perekam Medis dan Informasi Kesehatan di RS Bhayangkara TK II Sartika Asih Bandung. Data dikumpulkan dengan metode kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SPO Pemberian Kode Penyakit dan Tindakan di RS Bhayangkara TK II Sartika Asih Bandung sudah berjalan dengan baik. Pengetahuan yang sudah dimiliki Perekam Medis dan Informasi Kesehatan yaitu mengenai cara mengkode dengan ICD-10 dan kode tindakan menggunakan ICD-9-CM, mengerti dan memahami istilah-istilah terminologi medis, mengerti dan memahami konvensi tanda baca yang berada di ICD-10. Pengetahuan yang belum dimiliki adalah pengetahuan mengenai pemeriksaan penunjang, hasil pemeriksaan laboratorium, dan terapi obat
Analisis Prosedur Klaim Asuransi Jaminan Kesehatan Nasional Pasien Rawat Inap RSUD Lembang
Implementation of the National Health Insurance Claim Procedure at the Lembang Hospital in the Implementation of the National Health Insurance Claim Procedure is guided by the cooperation agreement between Lembang Hospital and the Cimahi branch of BPJS. Based on the results of interviews, officers still found obstacles including incomplete medical support data, administrative requirements that were still lacking, such as patients who did not carry ID cards, family cards, resulting in incomplete filling of patient identity files, inactive BPJS cards, and loss of letters. Referral causes the claim procedure to be hampered. The purpose of this study was to determine the Procedure for Claiming National Health Insurance for Inpatients at Lembang Hospital. The method used is using the interview and observation methods. The type of research used in this study uses a descriptive method with a qualitative approach. Assembling, coding and data entry officers for INA CBGs act as subjects, while the object of this research is the JKN Claim Procedure for inpatients at Lembang Hospital. the process of collecting data using interviews and observation. The data processing technique used in this research is colleting, editing, and presenting data.Pelaksanaan Prosedur Klaim Asuransi Jaminan Kesehatan Nasional RSUD Lembang dalam Pelaksanaannya Prosedur Klaim Jaminan Kesehatan Nasional berpedoman pada surat perjanjian kerja sama antara RSUD Lembang dengan BPJS cabang Cimahi. Berdasarkan hasil wawancara petugas masih menemukan kendala meliputi, tidak lengkapnya data penunjang medik, persyaratan administrasi yang masih kurang, seperti pasien yang tidak membawa ktp, kartu keluarga, mengakibatkan pengisian berkas identitas pasien tidak diisi dengan lengkap, kartu bpjs yg tidak aktif, serta hilangnya surat rujukan menyebabkan prosedur klaim terhambat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Prosedur Klaim Asuransi Jaminan Kesehatan Nasional Pasien Rawat Inap di RSUD Lembang. Metode yang digunakan yaitu menggunakan metode wawancara dan observasi. Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Petugas bagian assembling, koding dan juga bagian entry data INA CBGs berperan sebagai subjek, sedangkan obyek penelitian ini yakni mengenai Prosedur Klaim JKN pasien rawat inap di RSUD Lembang. Proses pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Teknik pengolahan data yang digunakan pada penelitian ini menggunakan colleting, editing, penyajian data
Frekuensi Penggunaan Obat Antifungal untuk Dermatofitosis pada Kucing di Klinik Hewan Starvet Bogor Tahun 2017 dan 2018
Dermatofitosis is a superficial fungal infection of the skin that is often found attacking pets such as cats. The disease is easy to occur in an atmosphere with high temperatures and humidity. Administration of antifungal drugs is usually done to treat and prevent cases of dermatofitosis. The purpose of this study is to describe the frequency of use of antifungal drugs in handling cases of dermatofitosis in veterinary clinics of research objects. The research was conducted descriptively using 39 medical record data from patients infected with dermatofita. The results showed antifungal drugs used for cases of dermatofitosis as much as twice the use of ketoconazole, 25 times the use of itraconazole, 11 times the use of blended ointments, and one use of griseofulvin. Based on the results of the study, itraconazole is the most widely used antifungal drug to handle cases of dermatofitosis in veterinary clinicsDermatofitosis merupakan infeksi kapang superfisial pada kulit yang sering ditemukan menyerang hewan peliharaan seperti kucing. Penyakit ini mudah terjadi dalam suasana dengan suhu dan kelembaban yang tinggi. Pemberian obat antifungal biasa dilakukan untuk menangani maupun mencegah kasus dermatofitosis. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan frekuensi penggunaan obat antifungal terbanyak dalam menangani kasus dermatofitosis di klinik hewan objek penelitian. Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan 39 data rekam medis dari pasien yang terinfeksi dermatofita. Hasil penelitian menunjukkan obat antifungal yang digunakan untuk kasus dermatofitosis sebanyak dua kali penggunaan ketoconazole, 25 kali penggunaan itraconazole, 11 kali penggunaan salep racikan, dan satu kali penggunaan griseofulvin. Berdasar hasil penelitian, itraconazole merupakan obat antifungal yang paling banyak digunakan untuk menangani kasus dermatofitosis di klinik hewan tersebu
Analisis Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi dalam Pelaksanaan Surveilans Hai’s di Rumah Sakit Bhayangkara TK II Sartika Asih Bandung
Hospital is an institution engaged in health by optimizing health services in an effort to improve the degree of health for the community. This study focuses on the analysis of infection control and prevention programs in the implementation of HAI's surveillance, the aim is to see the main problems in hospital infections, namely referring to the hospital's ability to prevent or minimize the rate of increase in infection, The method used is descriptive qualitative research method, where research data are described in data collection through observation using phenomenological research methods. Data from observations are selected and then categorized from the most relevant data. After doing the research, the results obtained from this research are the PPI program regarding HAI's surveillance at Bhayangkara TK II Sartika Asih Hospital Bandung includes reporting of nosocomial infections such as Phlebitis, Decubitus, UTI (urinary tract infection), VAP (ventilator associated pneumonia) and IDO (operation area infection). And this hospital has reported HAI's surveillance incidents by the IPCN Committee.Rumah sakit merupakan suatu institusi yang bergerak dibidang kesehatan dengan mengoptimalkan jasa pelayanan kesehatan sebagai upaya meningkatkan derajat kesehatan bagi masyarakat. Penelitian ini berfokus pada analisa program pengendalian dan pencegahan infeksi dalam pelaksanaan surveilans HAI’s, tujuanya untuk melihat Permasalahan utama dalam infeksi rumah sakit yaitu mengacu pada kemampuan rumah sakit tersebut dalam mencegah atau meminimalkan terjadinya laju peningkatan infeksi. Metode Yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif, dimana data hasil penelitian dideskripsikan dalam pengumpulan data melalui observasi dengan menggunakan metode phenomenological research, Data hasil dari observasi dipilih untuk kemudian dikategorikan dari data yang paling relevan. Setelah dilakukan penelitian, Maka Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu program PPI mengenai surveilans HAI’s di Rumah Sakit Bhayangkara TK II Sartika Asih Bandung ini meliputi pelaporan infeksi nosokomial seperti Phlebitis, Dekubitus, ISK (infeksi saluran kemih), VAP (ventilator associated pneumonia) dan IDO (infeksi daerah operasi). Dan rumah sakit ini sudah melakukan pelaporan kejadian surveilans HAI’s oleh Komite IPCN
Analisa Kebutuhan Tenaga Rekam Medis Berdasarkan Beban Kerja dengan Metode ABK-Kes di Bagian Case Mix Rumah Sakit X Palembang Tahun 2021
The role of coders is important for hospitals. The available coders to achieve harmony in a job. As a process to get the number of hours of work needed to complete the workload in a certain time an analysis of the workload is needed.This study was conducted to calculate the number of PMIK personnel needed at Hospital X Palembang according to workload analysis. This was a descriptive study with qualitative approach. Data collection is using observation and interview to the Coder employee at X Hospital Palembang.The education qualification of Coder employees at X Hospital Palembang are 4 (four) PMIK with Associate’s Degree of Medical Records. Human Resources SDM of SIK’s calculation (Case Mix) uses the medical workload analysis (ABK-Kes) method are 4 (four) PMIK and at X Hospital Palembang there are 4 (four) PMIK, so that the amount is still relatively safe to complete tasks according to the existing workload. The conclusion of this study is the number of PMIK coders in Hospital X Palembang there are 4 (four) PMIK coders. Calculation of HRK needs in the SIK (Case Mix) section using the Health Workload Analysis (ABK-Kes) method of 4 (four) PMIK and in X Palembang Hospital there are 4 (four) PMIK so that the number of officers is still relatively safe to complete tasks according to existing workloads.Peranan tenaga coder sangatlah penting bagi Rumah Sakit. Tenaga coder yang tersedia harus diimbangi dengan beban kerja yang akan dijalankan, agar tercapai keselarasan dalam suatu pekerjaan. Sebagai proses mendapatkan jumlah jam kerja dalam menyelesaikan beban kerja dalam waktu tertentu dibutuhkan suatu analisis beban kerja. Penelitian ini dilakukan untuk menghitung jumlah kebutuhan tenaga PMIK yang dibutuhkan di Rumah Sakit X Palembang sesuai beban kerja dengan menggunakan metode Analisa Beban Kerja Kesehatan. Jenis penelitian ini jenis deskriptif menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara terhadap PMIK Coder di Rumah Sakit X Palembang. Kualifikasi pendidikan PMIK Coder di Rumah Sakit X Palembang yaitu 4 (empat) PMIK D3 Rekam Medis. Perhitungan kebutuhan PMIK di Bagian SIK (Case Mix) menggunakan metode Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK-Kes) petugas sebanyak 4 (empat) PMIK dan di Rumah Sakit X Palembang sudah terdapat 4 (empat) PMIK sehingga jumlah petugas tersebut masih relatif aman untuk menyelesaikan tugas sesuai beban kerja yang ada. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu jumlah PMIK coder di Rumah Sakit X Palembang terdapat 4 (empat) PMIK coder. Perhitungan kebutuhan SDMK di bagian SIK (Case Mix) menggunakan metode Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK-Kes) sebanyak 4 (empat) PMIK dan di Rumah Sakit X Palembang terdapat 4 (empat) PMIK sehingga jumlah petugas tersebut masih relatif aman untuk menyelesaikan tugas sesuai beban kerja yang ada
Sistem Pelaksanaan Penyimpanan Rekam Medis di Kilinik Pratama Bakti Timah Pangkalbalam
The medical record contains records and documents about the patient’s identity,examination,treatment,action,and other service that have been provided o the patient. Implementation of retrieval the patients medical record in clinic Pratama Bakti Timah pangkalbalam not using Tracer using KIB(patient identity card)causes medical record difficult to find and not neat become medical record was not found (missfile). Objective to xamine how imlementation filing systems for medical record in Clinic Pratama Bakti Timah Pangkalabalam. The research was conducted using a descriptive is a method that is carried out by descriptive an situation objective. Implementation of the retrieval and filling system of medical record was not using tracer.based on location of medical record filling was using a centralization system and filling system of medical record was was unit numbering system.haven’t procedureof the implementation of falling system.There are one officers responsible for the filling of medical record.Medical record folder in Klinik Pratama Bakti Timah Pangkalbalam has not found a place to write a column for the last visit of examination or treatment. Medical record folder are also easy to ripped and form of medical record folder does not help officers looking for medical record. Filing of medical record shaped like a sorting rack. So, in this case, does not same with the shape of the medical record filing generally. There are several barrier in the implementation of family folder system of medical records of filing system include looking for old medical record, duplicate medical record number, medical record file is not found, and less of filing shelvesRekam medis ialah berisikan catatan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Pelaksanaan pengambilan berkas rekam medis pasien di Klinik Pratama Bakti Timah Pangkalbalam tidak menggunakan tracer melainkan menggunakan KIB (Kartu Identitas Berobat) mengakibatkan berkas rekam medis sulit ditemukan sehingga sering terjadi berkas yang tidak ditemukan (missfile). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sistem pelaksanaan penyimpanan rekam medis di Klinik Pratama Bakti Timah Pangkalbalam. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yaitu metode yang dilakukan dengan cara menggambarkan tentang suatu keadaan yang objektif. Pengambilan data dengan wawancara, observasi dan metode kepustakaan. Subyek penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah petugas rekam medis di Klinik Pratama Bakti Timah Pangkalbalam. Pengambilan dan pengembalian rekam medis tidak menggunakan tracer, lokasi penyimpanan rekam medis tersentralisasi dengan sistem penyimpanan mengunakan sistem penomoran. Belum terdapat prosedur tetap yang mengatur pelaksanaan sistem penyimpanan. Terdapat satu orang petugas penyimpanan rekam medis. Map belum terdapat kolom untuk tempat menuliskan tahun kunjungan terakhir pasien melakukan pemeriksaan atau berobat untuk mempermudah petugas dalam pencarian berkas rekam medis. Rak penyimpanan rekam medis di Klinik Pratama Bakti Timah Pangkalbalam berbentuk seperti rak sortir, sehingga dalam hal ini tidak sesuai dengan bentuk rak penyimpanan rekam medis pada umumnya. Hambatan yang ditemukan diantaranya pencarian rekam medis lama, nomor rekam medis ganda, berkas rekam medis tidak ditemukan, dan kurangnya rak penyimpana
Analisa Pandemi Covid-19 terhadap Gangguan Psikosomatis pada Masyarakat yang Bertempat Tinggal Berdekatan dengan Fasilitas Kesehatan
This Covid-19 pandemic problem began to enter our country around 2020. At that time, all Indonesian people were in confusion The Indonesian people and even the state don't really understand what Covid-19 is because the case was originally in Wuahn China. But over time the virus will also spread everywhere, even in Indonesia. With the entry of the virus in Indonesia, all aspects of Indonesia began to die and weaken, for example, the economy, tourism, food sector, etc., all began to have problems. In addition to fields related to humans, it is also very influential on humans themselves, such as feeling afraid, feeling uncomfortable and also feeling stressed and some are even depressed about this covid case. This happens because of the many deadly cases of this covid. With this, researchers are interested in knowing how the psychological condition of the people who live around health services. This psychosomatic disorder affects the mental health of the community as well as the physical health of the community, especially those who live around the health service area. This research method uses descriptive analysis. Where with this analysis we will find out what are the impacts of the COVID-19 pandemic. Based on the results of the study, it was found that the mean value was 1.2667 and the median value was 1.00 with a standard deviation of 4.4978 with a 2.00 percentile for psychosomatic disorders, this indicates that there is indeed an influence between psychosomatics and covid -19. Based on the results of the study, it was found that the mean value was 1.2667 and the median value was 1.00 with a standard deviation of 4.4978 with a 2.00 percentile for psychosomatic disorders, this indicates that there is indeed an influence between psychosomatics and covid -19. Thus it can be concluded that every time the community hears the word covid and also the increasing number of covid this will cause many people to experience psychosomatic disorders such as experiencing anxiety and also leading to depression.Masalah pandemi covid-19 ini mulai memasuki negara kita sekitar tahun 2020. Pada saat itu membuat kalang kabut seluruh masyarakat indonesia. Rakyat Indonsia bahkan negara juga belum begitu memahami apa itu covid-19 karena kasus itu semula ada di Wuhan Cina. Tetapi yang namanya virus lama kelamaan juga akan menyebar kemana mana, bahkan sampai di Indonesia. Dengan masuknya virus tersebut di Indonesia menyebabkan seluruh aspek di Indonesia mulai mati dan melemah, sebut saja bidang ekonomi, pariwisata, bidang pangan dll semua mulai bermasalah. Selain bidang bidang yang berhubungan dengan manusia hal itu juga sangat berpenagruh terhadap manusianya sendiri seperti merasa takut, merasa tidak nyaman dan juga merasa stress dan bahkan ada juga yang depresi dengan kasus covid ini. Hal ini terjadi karena banyaknya kasus mematikan dari covid ini. Dengan adanya hal ini maka peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana kondisi psikologis masyarakat yang bertempat tinggal disekitar pelayanan kesehatan. Gangguan psikosomatis ini mempengaruhi sekali kesehatan mental masyarakat dan juga kesehatan fisik masyarakat apalagi yang bertempat tinggal disekitar kawasan pelayanan kesehatan. Metode penelitian ini menggunakan analisi deskriptif. Dimna dengan analisis ini kita kan mengetahui apa saja dampak dari pandemi covid-19. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa nilai mean 1,2667 dan nilai mediannya 1,00 dengan standart deviasi 4,4978 dengan percentil 2,00 untuk gangguan psikosomatis dengan hal ini menandakan bahwa memang ada pengaruh antara psikosomatis dengan covid -19. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa Dimana setiap kali masyarakat itu mendengar kata covid dan juga bertambahnya jumlah covid hal ini akan menyebabkan masyarakat langsung banyak yang mengalami ganggua psikosomatis seperti misanya mengalami kecemasan dan juga sampai ke arah depres
Pengalaman Perawat Merawat Pasien ODGJ dengan Covid-19 di RSJ Sambang Lihum
COVID-19 is an infectious disease so special treatment is needed especially in ODGJ patients with COVID-19. The study aims to explore the experience of nurses in treating ODGJ patients with COVID-19. This study aims to explore and get an overview of the experience of nurses in caring for ODGJ patients with COVID-19 at Sambang Lihum Hospital. The method used is qualitative phenomenology with purposive sampling sample selection, with a sample count of 5 participants. The results of the study found 5 main themes, namely the psychological response of nurses in caring for ODGJ patients with COVID-19, the physical response of nurses in using APD level 3, the process of nurse adaptation in caring for ODGJ patients with COVID-19, the behavior of ODGJ patients with COVID-19 when treatment and how to treat ODGJ patients with COVID-19.The results concluded that nurses can adapt in treating ODGJ patients with COVID-19 through coping mechanisms and efforts to maintain immunity. Spiritual strengthening is one of the copings that becomes a counterweight to the physical and psychological health of nurses so that the nurse's experience becomes adaptive. Research advice is to set work patterns so that nurses are not exhausted while working using APD level 3, providing training in using APD level 3 and support facilities and infrastructure to support occupational safety and health from nurses in providing safe services for ODGJ patients with COVID-19.COVID-19 merupakan penyakit menular sehingga diperlukan perawatan khusus terlebih pada pasien ODGJ dengan COVID-19. Penelitian bertujuan mengekplorasi pengalaman perawat dalam merawat pasien ODGJ dengan COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mendapatkan gambaran pengalaman perawat dalam merawat pasien ODGJ dengan COVID-19 di RSJ Sambang Lihum. Metode yang digunakan adalah kualitatif fenomenologi dengan pemilihan sampel secara purposive sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 5 partisipan. Hasil penelitian menemukan 5 tema utama yaitu respon psikologis perawat dalam merawat pasien ODGJ dengan COVID-19, respon fisik perawat dalam menggunakan APD level 3, proses adaptasi perawat dalam merawat pasien ODGJ dengan COVID-19, perilaku pasien ODGJ dengan COVID-19 saat dilakukan perawatan dan cara merawat pasien ODGJ dengan COVID-19. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa perawat dapat beradaptasi dalam merawat pasien ODGJ dengan COVID-19 melalui mekanisme koping dan upaya mempertahankan imunitas. Penguatan spiritual merupakan salah satu koping yang menjadi penyeimbang kesehatan fisik dan psikis perawat sehingga pengalaman perawat menjadi adaptif. Saran penelitian yaitu pengaturan pola kerja agar perawat tidak kelelahan saat bekerja dengan menggunakan APD level 3, pemberian pelatihan dalam menggunakan APD level 3 dan dukungan sarana dan prasarana untuk mendukung keselamatan dan kesehatan kerja dari perawat dalam memberikan pelayanan yang aman bagi pasien ODGJ dengan COVID-19