Jurnal Health Sains (JHS)
Not a member yet
    676 research outputs found

    Pengaruh Standing Frame Exercise terhadap Denyut Nadi pada Anak Cerebral Palsy

    Get PDF
    Children with Cerebral Palsy (CP) have abnormalities in vital signs, one of which is an increase in pulse at rest. This increase in pulse rate is associated with an increase in the level of motor disability, which applies to children who cannot walk and is classified as level IV and V Gross Motor Function Classification System (GMFCS). However, the function of the autonomic nervous system in children with CP has not been explored in depth and sufficiently. The autonomic nervous system functions to maintain homeostasis and regulates various automatic functions of the body, including temperature, pulse, blood pressure, and digestive. Standing frame exercise functions to manage Orthostatic Hypotension (OH) and improve the function of the cardiovascular system. This research aims to knowing the effect of standing frame exercise on pulse in children with CP. This type of research is Quasy Experimental using Two Pre-Test and Post-Test with Control Group Design. A sample of 12 respondents was divided equally into two groups of conventional treatments (massages) with standing frame exercise and the control group conventional therapy only. Frequency 3 times a week. The measurement instrument uses a pulse oxymeter. Paired Sample t-Test statistical test results in the treatment group obtained p-value 0.006 and 0.044 in the control group. The conclusion is there is an influence of standing frame exercise on the pulse in children with CP.Anak-anak dengan Cerebral Palsy (CP) memiliki kelainan pada vital signs, salah satunya terjadi peningkatan denyut nadi pada saat istirahat. Peningkatan denyut nadi ini dikaitkan dengan peningkatan tingkat disabilitas motorik, yang berlaku untuk anak-anak yang tidak bisa berjalan dan diklasifikasikan Gross Motor Function Classification System (GMFCS) level IV dan V. Namun, fungsi sistem saraf otonom pada anak-anak CP belum dieksplorasi secara mendalam dan memadai. Sistem saraf otonom berfungsi untuk mempertahankan homeostasis dan mengatur berbagai fungsi otomatis tubuh, termasuk suhu, denyut nadi, tekanan darah, dan pencernaan. Standing frame exercise berfungsi untuk megelola Orthostatic Hypotension (OH) dan meningkatkan fungsi sistem kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh standing frame exercise terhadap denyut nadi pada anak CP GMFCS IV-V. Jenis penelitian Quasy Experimental dengan menggunakan Two Pre-Test and Post-Test with Control Group Design. Sampel berjumlah 12 responden dibagi rata menjadi dua kelompok perlakuan terapi konvensional (berupa massage) dengan standing frame exercise dan kelompok kontrol terapi konvensional saja. Frekuensi 3 kali seminggu. Instrumen pengukuran menggunakan pulse oxymeter. Hasil uji statistik Paired Sample t-Test pada kelompok perlakuan diperoleh p-value 0,006 dan pada kelompok kontrol diperoleh 0,044. Kesimpulannya terdapat pengaruh standing frame exercise terhadap denyut nadi pada anak CP

    Analisis Kebutuhan Tenaga Kerja Berdasarkan Beban Kerja pada Bagian Pendaftaran di Klinik Medika Tanjungsari

    Get PDF
    The registration section is the front line in health service activities in health care facilities. There are many obstacles that occur in the registration section for various reasons. The limited workforce in the registration section is one of the causes of these obstacles. This study aims to analyze the number of workforce needs in the medical record unit at the registration section of the Tanjungsari Medika Clinic based on workload. This research is a descriptive research with observation and interview data collection methods. This study also uses the WISN (Workload Indicators Staffing Needs) method. WISN is a method used to calculate labor requirements based on workload. The data sample in this study was the number of patient visits at the Tanjungsari Medika Clinic for the period July 2020 - June 2021, which amounted to 21619 outpatient visits and 3332 observation patient visits. From the results of the calculations in this study, it can be concluded that it is necessary to add 1 more person in the medical record unit at the Tanjungsari Medika Clinic in order to achieve quality health services with a qualified workforce as wellBagian pendaftaran merupakan garda terdepan dalam kegiatan pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Banyak kendala yang terjadi di bagian pendaftaran dengan berbagai penyebab. Terbatasnya tenaga kerja di bagian pendaftaran menjadi salah satu penyebab terjadinya kendala tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jumlah kebutuhan tenaga kerja di unit rekam medis pada bagian pendaftaran Klinik Medika Tanjungsari dengan berdasarkan beban kerja. Penelitian ini merupakan penelitian deskriftif dengan metode pengumpulan data observasi dan wawancara. Penelitian ini juga menggunakan metode pengerjaan WISN (Workload Indicators Staffing Needs). WISN merupakan metode yang digunakan untuk menghitung kebutuhan tenaga kerja dengan berdasarkan beban kerja. Sampel data pada penelitian ini adalah jumlah kunjungan pasien di Klinik Medika Tanjungsari periode Juli 2020 – Juni 2021 yaitu sebesar 21619 kunjungan rawat jalan dan 3332 kunjungan pasien observasi. Dari hasil perhitungan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa diperlukan penambahan 1 orang lagi di unit rekam medis Klinik Medika Tanjungsari agar tercapainya pelayanan Kesehatan yang berkualitas dengan tenaga kerja yang berkualitas jug

    Pengaruh Latihan Pernapasan terhadap Pemulihan Pasien Covid-19

    Get PDF
    Corona virus disease 2019 (Covid-19) is a new disease has never been previously identified in humans. Covid-19 can be transmitted from human to human, including through coughing/sneezing (droplets). The purpose of this study was to determine the effect ofbreathing exercises for the recovery of covid-19 patients. Research method is quantitative with pre-test and post-test experimental. The sampling technique probability sampling using random sampling. Data analysis uses the SPSS with t-test statistics, kai squared with the limit of significance () used in this study is 0.1. The results of the characteristics control group as 40 respondents with a pre-test of 2.25 (SD = 0.809) and a post-test of 2.00 (SD=,816). while the characteristics control group of 40 respondents with a pre-test were 2.12 (SD = .686), after breathing exercises were 1.05 (SD = .221). The Paired Samples Test results is that mean value is different between the average before and after being given early mobilization, the statistical value is p = 0.000 (p <0.1), there is an effect of breathing exercises for the recovery of covid-19 patientsCorona virus diasease 2019 (Covid-19) merupakan penyakit jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Covid-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui percikan batuk/bersin (droplet), orang paling berisiko tertular adalah kontak erat, termasuk yang merawat pasien Covid-19, (Kemenkes RI, 2020). Tujuan penelitian mengetahui Pengaruh Latihan Pernapasan Terhadap Pemulihan Pasien Covid-19. Metode penelitian Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan penelitian eksperimental yaitu penelitian eksperimental pre-tes dan pasca-tes. Teknik sampel pengambilan sampel penelitian adalah Probability Sampling dengan Random sampling. Analisa data menggunakan sistem SPSS dengan ujian statistik t-test, kai kuadrat dengan batas kemaknaan () yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0.1. Hasil karakteristik responden sebanyak 40 responden menunjukan responden dengan pre-test sebanyak 2.12 (SD=.686) dan pasca-tes sebanyak 1.05 (SD=.221). Hasil uji Paired Samples Test diperoleh nilai mean berbeda antara sebelum dan sesudah intervensi latihan pernapasan, nilai statistik didapatkan p=0.000 (p<0,1), menunjukkan adanya Pengaruh Latihan Pernapasan Terhadap Pemulihan Pasien Covid-1

    Hubungan Waktu Tunggu Pendaftaran Dengan Kepuasan Pasien Di Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Jalan Di Puskesmas Kedaung Barat Kabupaten Tangerang Tahun 2020

    Get PDF
    Mutu pelayanan kesehatan di puskesmas dan di rumah sakit sangat dipengaruhi oleh kualitas sarana fisik, jenis tenaga yang tersedia, obat dan alat kesehatan, serta proses pemberian pelayanan. Pelayanan dibentuk berdasarkan pada prinsip Service Quality yaitu kecepatan yang dimulai dari waktu tunggu pendaftaran. Menurut Kemenkes RI tahun 2016, bahwa waktu tunggu di rawat jalan kurang dari 60 menit dapat meningkatkan kepuasan pelanggan/pasien diatas 90%. Tujuan mengetahui hubungan waktu tunggu pendaftaran dengan kepuasan pasien di tempat pendaftaran pasien rawat jalan di Puskesmas Kedaung Barat Kabupaten Tangerang Tahun 2020. Desain penelitian termasuk survey analitik dengan pendekatan cross sectional.  Sampel diambil dengan menggunakan rumus Stanley Lameshow dengan proporsi yang tidak diketahui diperoleh jumlah sampel sebanyak 196 responden. Pengambilan sampel menggunakan tehnik accidental sampling. Penelitian ini menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi Square. Hasil: berdasarkan analisis univariat dari 196 orang mayoritas waktu tunggu pendaftaran cepat sebesar 79,6%, pasien merasa puas sebesar 69,9%. Hasil analisis bivariat dengan uji chi square didapat ada hubungan antara waktu tunggu pendaftaran dengan kepuasan pasien (p value 0,000) dan nilai keeratan 2 varibel OR = 29,693. Kesimpulan : dari adanya hubungan antara waktu tunggu dengan kepuasan diketahui bahwa waktu tunggu yang cepat mempunyai peluang 30 kali membuat pasien merasa puas. Saran: bagi tenaga kesehatan diharapkan memiliki komitmen dan kedisiplinan waktu dalam memberikan pelayanan yang sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, pedoman dan kompotensi yang dimiliki secara konsisten dan terstrukturThe quality of health services in health centers and hospitals is strongly influenced by the quality of physical facilities, the types of personnel available, medicines and medical devices, and the process of service delivery. Services are formed based on the principle of Service Quality, namely speed starting from the registration waiting time. According to the 2016 Ministry of Health, the outpatient waiting time of less than 60 minutes can increase customer / patient satisfaction above 90%. Objective  to determine the relationship between registration waiting time and patient satisfaction at the outpatient registration site at the Kedaung Barat Public Health Center, Tangerang Regency, 2020. Research design: included an analytical survey with a cross sectional approach. Samples were taken using the Stanley Lameshow formula with unknown proportions, and the total sample size was 196 respondents. Sampling using accidental sampling technique. This study used univariate and bivariate analysis with Chi Square test. Results based on univariate analysis of 196 people, the majority of the waiting time for fast registration was 79.6%, the patients were satisfied by 69.9%. The results of the bivariate analysis with the chi square test found that there was a relationship between registration waiting time and patient satisfaction (p value 0.000) and the closeness value of 2 variables OR = 29.693. Conclusion: from the relationship between waiting time and satisfaction, it is known that fast waiting times have a 30 times chance of making patients feel satisfied. Suggestion  for health workers are expected to have commitment and time discipline in providing services according to a predetermined schedule, guidelines and competencies that are owned consistently and in a structured manne

    Hubungan Pengetahuan Perawat Dengan Pelaksanaan Prosedur Pasien Risiko Jatuh Di Rumah Sakit Dustira

    Get PDF
    Penerapan prosedur pasien jatuh merupakan langkah penting yang harus dilakukan oleh petugas rumah sakit khususnya perawat untuk menjamin keselamatan pasien (patient safety) selama rawat inap, jadi perlu lengkap evaluasi dampak pengetahuan perawat dalam mencegah pasien jatuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antar level pengetahuan perawat dengan pelaksanaan prosedur pembedahan pada pasien risiko jatuh di RSUD Dusila Jawa Barat yang ditentukan dengan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasi untuk analisis kuantitatif. Hasil penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan perawat dengan penerapan prosedur untuk menurunkan risiko pasien (p value> 0,05). Kesimpulan yang dapat diambil Menurut penelitian ini, tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan perawat dengan pelaksanaan prosedur medik pasien gugur di RSUD Dusila Jawa Barat. Saran yang dapat diajukan adalah pelaksanaan program risiko jatuh pasien harus selalu ditingkatkan dan menjadi kegiatan rutin perawat dalam mengevaluasi pasien di bangsal rumah sakit.Efforts to implement procedures for patients with the risk of falling are important things that must be done by hospital staff, especially nurses in an effort to ensure patient safety (patient safety) while in the hospital, for this reason there is a need for an assessment related to the influence of the level of knowledge of nurses with the prevention of patient risk of falling. The purpose of this study was to identify the relationship between the level of knowledge of nurses and the implementation of procedures for patients who are at risk of falling at Dustira Hospital, West Java which was determined by purposive sampling. This research is quantitative using descriptive correlation method. The results showed that there was no significant relationship (p value> 0.05) between the level of knowledge of nurses and the implementation of the procedure for patients with risk of falling. The conclusion that can be drawn from this study is that there is no relationship between the level of knowledge of nurses and the implementation of the procedure for falling patients at Dustira Hospital, West Java. The suggestion that can be given is that the implementation of the patient's fall risk procedure must always be improved and become a routine activity for nurses in conducting assessments to patients in the hospital war

    Prevalensi Dermatitis Seboroik Di Poli Kulit Dan Kelamin Rsud Meuraxa Kota Banda Aceh Periode Tahun 2016-2019

    Get PDF
    Dermatitis seboroik adalah kelainan kulit papuloskuamosa. dengan predileksi di daerah kaya kelenjar sebasea, sklap, wajah dan badan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif, yang dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data sekunder yang di peroleh dari catatan rekam medis lengkap pasien dermatitis seboroik yang datang berobat ke Poli Kulit dan Kelamin RSUD Meuraxa kota Banda Aceh Periode tahun 2016 - 2019. Berdasarkan analisis data didapatkan pasien pada tahun 2016 pada jenis kelamin laki-laki berjumlah 61 (46.9%) dan perempuan 69 (53.1%) pasien, pada tahun 2017 didapatkan hasil pasien berjenis kelamin laki-laki berjumlah 72 (49.7) dan perempuan 73 (50.3%) pasien, pada tahun 2018 didapatkan hasil pasien berjenis kelamin laki-laki berjumlah 85 (64.4%) pasien dan perempuan 47 (35.6%), serta pada tahun 2019 didapatkan pasien berjenis kelamin laki-laki berjumlah 48 (77.4%) dan perempuan 14 (22.6%). Prevalensi dermatitis seboroik pasien pada tahun 2016 terbanyak berumur masa dewasa akhir (36-45 tahun) 45 (34.6%) pasien, pada tahun 2017 terbanyak berumur masa balita 36 (24.8%) dan masa dewasa akhir 36 (24.8%) pasien, Prevalensi dermatitis seboroik pada tahun 2018 terbanyak berumur masa dewasa akhir (36-45 tahun) 41 (31.1%) pasien dan pada tahun 2019 terbanyak berumur masa balita (0-5 tahun) 19 (30.6%).  Dermatitis seboroik adalah kelainan kulit papuloskuamosa. dengan predileksi di daerah kaya kelenjar sebasea, sklap, wajah dan badan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif, yang dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data sekunder yang di peroleh dari catatan rekam medis lengkap pasien dermatitis seboroik yang datang berobat ke Poli Kulit dan Kelamin RSUD Meuraxa kota Banda Aceh Periode tahun 2016 - 2019. Berdasarkan analisis data didapatkan pasien pada tahun 2016 pada jenis kelamin laki-laki berjumlah 61 (46.9%) dan perempuan 69 (53.1%) pasien, pada tahun 2017 didapatkan hasil pasien berjenis kelamin laki-laki berjumlah 72 (49.7) dan perempuan 73 (50.3%) pasien, pada tahun 2018 didapatkan hasil pasien berjenis kelamin laki-laki berjumlah 85 (64.4%) pasien dan perempuan 47 (35.6%), serta pada tahun 2019 didapatkan pasien berjenis kelamin laki-laki berjumlah 48 (77.4%) dan perempuan 14 (22.6%). Prevalensi dermatitis seboroik pasien pada tahun 2016 terbanyak berumur masa dewasa akhir (36-45 tahun) 45 (34.6%) pasien, pada tahun 2017 terbanyak berumur masa balita 36 (24.8%) dan masa dewasa akhir 36 (24.8%) pasien, Prevalensi dermatitis seboroik pada tahun 2018 terbanyak berumur masa dewasa akhir (36-45 tahun) 41 (31.1%) pasien dan pada tahun 2019 terbanyak berumur masa balita (0-5 tahun) 19 (30.6%)

    Tingkat Pengetahuan Ibu Menyusui Terhadap Asi Eksklusif Di Puskesmas Jeulingke Banda Aceh

    Get PDF
    ASI eksklusif ialah pemberian ASI kepada bayi tanpa disertai tambahan cairan ataupun makanan lain kecuali obat, vitamin, dan mineral sampai bayi berusia 6 bulan. Sementara itu, ASI dapat diberikan kepada bayi hingga berusia 2 tahun bahkan lebih dari 2 tahun. Pemberian ASI eksklusif pada bayi meliputi tindakan ASI eksklusif diberikan setelah bayi dilahirkan dengan segera yaitu dalam waktu ½ jam – 1 jam (memberikan kolostrum ASI). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional dengan menggunakan kuisioner. Cara pengambilan data penelitian menggunakan metode accidental sampling dengan memberikan kuisioner pada 35 responden Ibu menyusui. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan Ibu menyusui terhadap pengertian ASI Eksklusif sebagian besar dalam kategori baik yaitu sebesar 91,4%, tingkat pengetahuan Ibu menyusui terhadap komposisi ASI sebagian besar dalam kategori kurang baik yaitu sebesar 88,6%, tingkat pengetahuan Ibu menyusui terhadap manfaat ASI dalam kategori baik yaitu sebesar 100,0%, tingkat pengetahuan Ibu menyusui terhadap beragam jenis ASI dalam kategori baik yaitu sebesar 100,0%, dan tingkat pengetahuan Ibu menyusui terhadap cara pemberian ASI dalam kategori baik yaitu sebesar 100,0%.ASI eksklusif ialah pemberian ASI kepada bayi tanpa disertai tambahan cairan ataupun makanan lain kecuali obat, vitamin, dan mineral sampai bayi berusia 6 bulan. Sementara itu, ASI dapat diberikan kepada bayi hingga berusia 2 tahun bahkan lebih dari 2 tahun. Pemberian ASI eksklusif pada bayi meliputi tindakan ASI eksklusif diberikan setelah bayi dilahirkan dengan segera yaitu dalam waktu ½ jam – 1 jam (memberikan kolostrum ASI). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional dengan menggunakan kuisioner. Cara pengambilan data penelitian menggunakan metode accidental sampling dengan memberikan kuisioner pada 35 responden Ibu menyusui. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan Ibu menyusui terhadap pengertian ASI Eksklusif sebagian besar dalam kategori baik yaitu sebesar 91,4%, tingkat pengetahuan Ibu menyusui terhadap komposisi ASI sebagian besar dalam kategori kurang baik yaitu sebesar 88,6%, tingkat pengetahuan Ibu menyusui terhadap manfaat ASI dalam kategori baik yaitu sebesar 100,0%, tingkat pengetahuan Ibu menyusui terhadap beragam jenis ASI dalam kategori baik yaitu sebesar 100,0%, dan tingkat pengetahuan Ibu menyusui terhadap cara pemberian ASI dalam kategori baik yaitu sebesar 100,0%

    Faktor – Faktor Determinan Kejadian Servisitis Di Dki Jakarta Tahun 2017-2019

    Get PDF
    Tujuan untuk mengetahui besarnya masalah servisitis dan determinan kejadian servisitis pada peserta Female Cancer programme (FcP) di DKI Jakarta. Metode desain potong lintang dan data sekunder bersumber dari data pemeriksaan IVA Female Cancer programme (FcP) di DKI Jakarta tahun 2017-2019. Jumlah sampel  3378 orang, Variabel-variabel yang diteliti adalah servisitis (dependen), dan sebagai variabel independennya adalah,  metode penggunaan kontrasepsi, paritas, usia, indeks massa tubuh, usia pertama kontak seksual, status merokok, frekuensi menikah responden, frekuensi menikah suami responden, tingkat pendidikan responden, riwayat keguguran. Analisis univariat mendeskripsikan frekuensi dan distribusi dari variabel yang diteliti, analisis bivariat dan multivariat yang digunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi servisitis 11,13% dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian servisitis adalah faktor metode penggunaan kontrasepsi dan faktor usia. Dibandingkan dengan kelompok yang tidak menggunakan alat kontrasepsi, kelompok yang menggunakan metode kontrasepsi hormonal mempunyai prevalen odds kejadian sevisitis 1,593 kali lebih tinggi (POR 1,593; 95% CI 1,244-2,040), sementara pada kelompok yang menggunakan metode kontrasepsi non-hormonal mempunyai prevalen odds kejadian servisitis yang tidak berbeda dengan kelompok yang tidak menggunakan alat kontrasepsi (POR 0,832; 95% CI 0,616-1,22). Dibandingkan dengan kelompok umur >51 tahun, kelompok usia 30-39 mempunyai prevalen odds kejadian servisitis 2,107 kali lebih tinggi (POR 2,017; 95% CI 1,312-3,383), kelompok usia 40-50 tahun mempunyai prevalen odds kejadian servisitis 2,203 kali lebih tinggi (POR 2,203; 95% CI 1,379-3,518). Sementara itu tidak ada perbedaan prevalen odds kejadian servisitis pada kelompok usia <30 dan kelompok usia > 51 tahun. Kesimpulan: Prevalensi servisitis 11,13% dan faktor-faktor determinan terjadinya servistis pada pemeriksaan IVA FcP di DKI Jakarta tahun 2017-2019 adalah faktor metode kontrasepsi hormonal dan faktor usia.Tujuan untuk mengetahui besarnya masalah servisitis dan determinan kejadian servisitis pada peserta Female Cancer programme (FcP) di DKI Jakarta. Metode desain potong lintang dan data sekunder bersumber dari data pemeriksaan IVA Female Cancer programme (FcP) di DKI Jakarta tahun 2017-2019. Jumlah sampel  3378 orang, Variabel-variabel yang diteliti adalah servisitis (dependen), dan sebagai variabel independennya adalah,  metode penggunaan kontrasepsi, paritas, usia, indeks massa tubuh, usia pertama kontak seksual, status merokok, frekuensi menikah responden, frekuensi menikah suami responden, tingkat pendidikan responden, riwayat keguguran. Analisis univariat mendeskripsikan frekuensi dan distribusi dari variabel yang diteliti, analisis bivariat dan multivariat yang digunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi servisitis 11,13% dan  faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian servisitis adalah faktor metode penggunaan kontrasepsi  dan faktor usia. Dibandingkan dengan kelompok yang tidak menggunakan alat kontrasepsi, kelompok yang menggunakan metode kontrasepsi hormonal mempunyai prevalen odds kejadian sevisitis 1,593 kali lebih tinggi (POR 1,593; 95% CI 1,244-2,040), sementara pada kelompok yang menggunakan metode kontrasepsi non-hormonal mempunyai prevalen odds kejadian servisitis yang tidak berbeda dengan kelompok yang tidak menggunakan alat kontrasepsi (POR 0,832; 95% CI 0,616-1,22). Dibandingkan dengan kelompok umur >51 tahun, kelompok usia 30-39 mempunyai prevalen odds kejadian servisitis 2,107 kali lebih tinggi (POR 2,017; 95% CI 1,312-3,383), kelompok usia 40-50 tahun mempunyai prevalen odds kejadian servisitis 2,203 kali lebih tinggi (POR 2,203; 95% CI 1,379-3,518). Sementara itu tidak ada perbedaan prevalen odds kejadian servisitis pada kelompok usia <30 dan kelompok usia > 51 tahun. Kesimpulan: Prevalensi servisitis 11,13% dan faktor-faktor determinan terjadinya servistis pada pemeriksaan IVA FcP di DKI Jakarta tahun 2017-2019 adalah faktor metode  kontrasepsi hormonal dan faktor usi

    Reaksi Hipersensitivitas Pada Pemeriksaan Kedokteran Nuklir

    Get PDF
    Reaksi hipersensitivitas adalah reaksi imun, umumnya dipicu oleh limfosit. Reaksi hipersensitivitas terhadap radiofarmaka secara komparatif jumlahnya sangat sedikit. Sebagian besar menyebutkan insiden 1-6 reaksi per 100.000 pemberian. Penyebab utama bersumber dari farmaka  dan bahan kimia yang ada dalam kit, bukan dari sumber radiasi itu sendiri. penyebab rendahnya prevalensi dan kurangnya pelaporan ini dikarenakan  fakta bahwa penggunaan bahan dalam jumlah kecil (trace) pada pembuatan radioframaka dan diberikan dalam jumlah yang kecil  sebagai mikro-dosis menyebabkan reaksi yang ringan dan sementara, yang membutuhkan sedikit atau tanpa terapi selanjutnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui reaksi hipersensitivitas pada pemeriksaan kedokteran nuklir. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode studi kepustakaan atau literature review. Kesimpulan penelitian ini yaitu tindakan profilaksis, pada orang alergi, dengan premedikasi dapat diberikan sebelum diberikan kepada pasien. Dokumentasi dan melaporkan kejadian reaksi merugikan ini pada pihak berwenang dan pabrik pembuat penting untuk farmakovigilansi dan kesadaran akan kemungkinan terjadinya reaksi alergi terhadap permberian radioafarmaka tersebut.Reaksi hipersensitivitas adalah reaksi imun, umumnya dipicu oleh limfosit. Reaksi hipersensitivitas terhadap radiofarmaka secara komparatif jumlahnya sangat sedikit. Sebagian besar menyebutkan insiden 1-6 reaksi per 100.000 pemberian. Penyebab utama bersumber dari farmaka dan bahan kimia yang ada dalam kit, bukan dari sumber radiasi itu sendiri. penyebab rendahnya prevalensi dan kurangnya pelaporan ini dikarenakan  fakta bahwa penggunaan bahan dalam jumlah kecil (trace) pada pembuatan radioframaka dan diberikan dalam jumlah yang kecil  sebagai mikro-dosis menyebabkan reaksi yang ringan dan sementara, yang membutuhkan sedikit atau tanpa terapi selanjutnya. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui reaksi hipersensitivitas pada pemeriksaan kedokteran nuklir. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode studi kepustakaan atau literature review. Kesimpulan penelitian yaitu protokol pengobatan untuk penatalakasanan reaksi alergi harus diletakkan ditempat untuk mengurangi morbiditas dan kemungkinan terjadi keadaan yang bersifat mengancam nyawa. Tindakan profilaksis, pada orang alergi, dengan premedikasi dapat diberikan sebelum diberikan kepada pasien. Dokumentasi dan melaporkan kejadian reaksi merugikan ini pada pihak berwenang dan pabrik pembuat penting untuk farmakovigilansi dan kesadaran akan kemungkinan terjadinya reaksi alergi terhadap permberian radioafarmaka tersebut

    Mini Fluid Challenge dan Pendekatan Focus sebagai Panduan Resusitasi

    Get PDF
    Fluid resuscitation plays a crucial role in the management of patients who experience acute circulatory failure in the intensive care unit. Adequate fluid resuscitation is an important issue because excessive fluid resuscitation can cause electrolyte disturbances and coagulation disorders, but improper volume restrictions can lead to low cardiac output or improper use of vasopressor or inotropic drugs. The purpose of focus examination is to provide timely and repeatable diagnostic information at the time a question arises. The methods carried out from this study are mini fluid challenge case study methods and focus approaches as a resuscitation guide. In an observational study conducted by Husain et al in 220 patients in intensive care units, use of FoCUS by handheld ultrasound devices was found to be associated with much lower fluid prescriptions (49 vs. 66 mL/kg, p = 0.01) and more use of dobuttamine (22 vs. 12%, p = 0.01) than the standardly managed historical control group. The correct Fluid Chalengee technique can maximize positive and negative predictive values by using two main components: the amount of fluid given and the duration of administration where the recommended optimal volume is 4ml/KgBB.Resusitasi cairan memegang peranan krusial dalam penatalaksanaan pasien yang mengalami kegagalan sirkulasi akut pada unit perawatan intensif. Resusitasi cairan yang adekuat menjadi isu penting karena resusitasi cairan yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan elektrolit maupun gangguan koagulasi, namun demikian restriksi volume yang tidak tepat dapat menyebabkan cardiac output yang rendah ataupun penggunaan obat-obatan vasopressor ataupun inotropik yang tidak tepat. Tujuan pemeriksaan FoCUS adalah untuk memberikan informasi diagnostik yang tepat waktu dan dapat diulang pada saat pertanyaan muncul. Metode yang dilakukan dari penelitian ini adalah metode studi kasus mini fluid challenge dan pendekatan focus sebagai panduan resusitasi. Dalam sebuah studi observasional yang dilakukan Husain dkk pada 220 pasien di unit perawatan intensif, penggunaan FoCUS oleh perangkat ultrasound genggam ditemukan terkait dengan resep cairan yang jauh lebih rendah (49 vs 66 mL/kg, p = 0,01) dan lebih banyak penggunaan dobutamin (22 vs 12%, p = 0.01) dibandingkan kelompok kontrol historis yang dikelola dengan cara standar. Teknik Fluid Chalengee yang benar dapat memaksimalkan nilai prediksi positif dan negatif dengan menggunakan dua komponen utama yaitu jumlah cairan yang diberikan dan durasi pemberiannya dimana volume optimal yang direkomendasikan 4ml/KgBB

    637

    full texts

    676

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Health Sains (JHS)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇