Jurnal Health Sains (JHS)
Not a member yet
676 research outputs found
Sort by
Uji Daya Hambat Perasan Rimpang Jahe Putih, Kunyit Dan Temulawak Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus Aureus
Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri berbentuk coccus, Gram positif, tidak berspora, termasuk flora normal pada kulit dan mukosa manusia, namun juga dapat menyebabkan infeksi. Seringkali dalam mengobati infeksi yang disebabkan S. aureus diberikan antibiotik. Penggunaan antibiotik jangka panjang dan dosis berlebihan dapat menyebabkan resistensi antibiotik. Oleh sebab itu, diperlukan alternatif pengobatan selain antibiotik dengan memanfaatkan senyawa alami dari tanaman obat jenis rimpang sebagai antimikroba. Tanaman rimpang yang banyak dimanfaatkan sebagai antimikroba yaitu jahe, kunyit dan temulawak. Jahe, kunyit dan temulawak mengandung senyawa metabolit sekunder jenis kurkumin dan minyak atsiri yang berperan sebagai antioksidan dan antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Daya Hambat Perasan Rimpang Jahe Putih (Zingiber officinale var. Amarum), Kunyit (Curcuma domestica Val.) dan Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri S. aureus. Desain penelitian menggunakan Eksperimental Laboratorium dengan teknik cakram difusi metode Kirby-Bauer dengan pengulangan sebanyak 8 kali. Penelitian dilakukan di Laboratorium STIKes Kesetiakawanan Sosial Indonesia, Jakarta Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata zona hambat perasan jahe putih terhadap S. aureus adalah sebesar 11.00 mm, kunyit sebesar 11.5 mm dan temulawak sebesar 14.13 mm. Dari hasil pengujian menunjukkan perasan temulawak memiliki efektifitas daya hambat paling baik terhadap S. aureus dibandingkan kunyit dan jahe putih.Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri berbentuk coccus, Gram positif, tidak berspora, termasuk flora normal pada kulit dan mukosa manusia, namun juga dapat menyebabkan infeksi. Seringkali dalam mengobati infeksi yang disebabkan S. aureus diberikan antibiotik. Penggunaan antibiotik jangka panjang dan dosis berlebihan dapat menyebabkan resistensi antibiotik. Oleh sebab itu, diperlukan alternatif pengobatan selain antibiotik dengan memanfaatkan senyawa alami dari tanaman obat jenis rimpang sebagai antimikroba. Tanaman rimpang yang banyak dimanfaatkan sebagai antimikroba yaitu jahe, kunyit dan temulawak. Jahe, kunyit dan temulawak mengandung senyawa metabolit sekunder jenis kurkumin dan minyak atsiri yang berperan sebagai antioksidan dan antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Daya Hambat Perasan Rimpang Jahe Putih (Zingiber officinale var. Amarum), Kunyit (Curcuma domestica Val.) dan Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri S. aureus. Desain penelitian menggunakan Eksperimental Laboratorium dengan teknik cakram difusi metode Kirby-Bauer dengan pengulangan sebanyak 8 kali. Penelitian dilakukan di Laboratorium STIKes Kesetiakawanan Sosial Indonesia, Jakarta Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata zona hambat perasan jahe putih terhadap S. aureus adalah sebesar 11.00 mm, kunyit sebesar 11.5 mm dan temulawak sebesar 14.13 mm. Dari hasil pengujian menunjukkan perasan temulawak memiliki efektifitas daya hambat paling baik terhadap S. aureus dibandingkan kunyit dan jahe puti
Gambaran Kepatuhan Pasien Dalam Pengobatan Tbc Di Poliklinik Paru Rs. Dustira Cimahi
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepatuhan pasien dalam pengobatan TBC di Poliklinik Paru RS. Dustira Cimahi. Penelitian ini menggunakan design deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah pasien yang berobat jalan di RS. Dustira. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang datang berobat rawat jalan ke RS. Dustira sebanyak 133 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan teknik accidental sampling dengan sampel sebanyak 57 orang. Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan analisa univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 42,1% memiliki kepatuhan dalam kategori tinggi, 36,8% memiliki kepatuhan dalam kategori sedang dan 21,1% memiliki kepatuhan dalam kategori rendah dalam pengobatan TBC. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan perawat di Poliklinik Paru RS. Dustira untuk dapat mengaplikasikan asuhan keperawatan, disarankan petugas kesehatan untuk lebih banyak memberikan informasi atau penyuluhan kepada pasien, sehingga diharapkan informasi yang diterima lebih mudah untuk dimengerti dan dilaksanakan.Saat ini di dunia ketidakpatuhan pasien terhadap instruksi petugas kesehatan menjadi masalah yang dihadapi oleh tenaga kesehatan profesional. Sebanyak 58,7% pasien gagal dalam meminum obat antibiotik, 37.5% gagal meminum obat anti tuberkulosis, dan bahkan diantara pasien-pasien yang berusaha mematuhi instruksi yang diberikan kepada mereka 25% - 75% meminum obat dengan dosis yang salah dan lebih dari 30% meminum obat salah dan berakibat fatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepatuhan pasien dalam pengobatan TBC di Poliklinik Paru RS. Dustira Cimahi. Penelitian ini menggunakan design deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah pasien yang berobat jalan di RS. Dustira. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang datang berobat rawat jalan ke RS. Dustira sebanyak 133 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan teknik accidental sampling dengan sampel sebanyak 57 orang. Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan analisa univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 42,1% memiliki kepatuhan dalam kategori tinggi, 36,8% memiliki kepatuhan dalam kategori sedang dan 21,1% memiliki kepatuhan dalam kategori rendah dalam pengobatan TBC. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan perawat di Poliklinik Paru RS. Dustira untuk dapat mengaplikasikan asuhan keperawatan, disarankan petugas kesehatan untuk lebih banyak memberikan informasi atau penyuluhan kepada pasien, sehingga diharapkan informasi yang diterima lebih mudah untuk dimengerti dan dilaksanaka
Hubungan Motivasi Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Penderita Tuberkulosis Di Upt Puskesmas Karang Tengah Kota Tangerang Tahun 2020
Motivasi penderita TB akan berdampak pada kepatuhannya dalam melaksanakan program pengobatan. Semakin tinggi motivasi seseorang maka akan semakin tinggi keinginan seseorang utuk mencapai kesembuhannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan motivasi dengan kepatuhan minum obat pada penderita tuberkulosis di UPT Puskesmas Karang Tengah Kota Tangerang. Jenis penelitian ini menggunakan studi deskriptif analitik dengan menggunakan metode cross sectional. Metode penelitian yang digunakan adalah retrospektif dengan total sampling. Jumlah sampel yang diambil adalah 41 orang responden yang menderita penyakit TB. Variabel independen adalah motivasi dan variabel dependen adalah kepatuhan minum obat dimana data diperoleh melaui kuesioner dan kartu berobat pasien. Hasil Penelitian menunjukan adanya hubungan yang signifikan anatara motivasi dengan kepatuhan minum obat dengan hasil uji Chi-Square didapatkan “nilai p” sebesar 0,000 dimana “nilai p” < 0,05. Saran: Berdasarkan analisis hasil penelitian, maka diperlukan adanya komitmen besama untuk melakukan pencegahan dan pengendalian TB baik dari pasien, keluarga dan tenaga kesehatan.Latar Belakang: Motivasi penderita TB akan berdampak pada kepatuhannya dalam melaksanakan program pengobatan. Semakin tinggi motivasi seseorang maka akan semakin tinggi keinginan seseorang utuk mencapai kesembuhannya. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan motivasi dengan kepatuhan minum obat pada penderita tuberkulosisi di UPT Puskesmas Karang Tengah Kota Tangerang, Metode Penelitian: Jenis penelitian ini menggunakan studi deskriptif analitik dengan menggunakan metode cross sectional. Metode penelitian yang digunakan adalah retrospektif dengan total sampling. Jumlah sampel yang diambil adalah 41 orang responden yang menderita penyakit TB. Variabel independen adalah motivasi dan variabel dependen adalah kepatuhan minum obat dimana data diperoleh melaui kuesioner dan kartu berobat pasien. Hasil Penelitian: Hasil menunjukan adanya hubungan yang signifikan anatara motivasi dengan kepatuhan minum obat dengan hasil uji Chi-Square didapatkan “nilai p” sebesar 0,000 dimana “nilai p” < 0,05. Saran: Berdasarkan analisis hasil penelitian, maka diperlukan adanya komitmen besama untuk melakukan pencegahan dan pengendalian TB baik dari pasien, keluarga dan tenaga kesehata
THE DAYA TERIMA DAN KANDUNGAN GIZI COOKIES TEPUNG SAGU KOMBINASI TEPUNG KACANG MERAH DENGAN PENAMBAHAN SARI BUAH MERAH
Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis daya terima dan kandungan gizi cookies tepung sagu kombinasi tepung kacang merah dengan penambahan sari buah merah. Desain penelitian adalah eksperimen murni dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sampel adalah produk cookies dengan 4 variasi yaitu P0 (tanpa penambahan sari buah merah), P1 (penambahan sari buah merah sebanyak 5 g), P2 (penambahan sari buah merah sebanyak 10 g), P3 (penambahan sari buah merah sebanyak 15 g). Variabel independent adalah variasi penambahan sari buah merah pada cookies dan variabel dependent adalah daya terima (rasa, aroma, warna, dan tekstur) dan kandungan gizi (energi, protein, lemak, dan karbohodrat). Penelitian ini menggunakan panelis agak terlatih sebanyak 30 orang. Pengumpulan data menggunakan formulir uji hedonik. Analisis daya terima menggunakan uji ANOVA dan analisis kandungan gizi dengan perhitungan manual berdasarkan data dari TKPI (Tabel Komposisi Pangan Indonesia) dan DKBM (Daftar Komposisi Bahan Makanan). Hasil penelitian menunjukan bahwa daya terima cookies yang paling baik adalah pada sampel cookies P1. Penambahan sari buah merah tidak memberikan pengaruh terhadap rasa, aroma, warna, dan tekstur dari cookies. Kandungan energi, protein, lemak dan karbohidarat terbesar adalah pada cookies sampel P_3 dengan nilai 276.49 kkal, 4.41 gram, 6.07 gram, dan 50 gram. Semakin banyak penambahan sari buah merah maka semakin besar kandungan gizi dari cookies. Perlu adanya penelitian lanjutan tentang daya terima dan nilai gizi cookies tepung sagu kombinasi tepung kacang merah dengan formulasi yang berbeda dan dengan penambahan bahan pangan lokal yang lainnya.Cookies merupakan salah satu produk bakery yang populer di semua kalangan. Cookies pada umumnya terbuat dari tepung terigu yang merupakan komoditas import, olehnya itu untuk mengurangi ketergantungan penggunaan tepung terigu maka dapat disubtitusi dengan bahan lain seperti tepung sagu dan tepung kacang merah. Selain itu, dapat ditambahkan pula sari buah merah. Pemanfaatan tepung sagu, tepung kacang merah dan sari buah merah dalam pembuatan cookies diharapkan dapat meningkatkan kandungan gizi cookies dan mengangkat potensi pangan lokal. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis daya terima dan kandungan gizi cookies tepung sagu kombinasi tepung kacang merah dengan penambahan sari buah merah.
Desain penelitian adalah eksperimen murni dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sampel adalah produk cookies dengan 4 variasi yaitu P0 (tanpa penambahan sari buah merah), P1 (penambahan sari buah merah sebanyak 5 g), P2 (penambahan sari buah merah sebanyak 10 g), P3 (penambahan sari buah merah sebanyak 15 g). Variabel independent adalah variasi penambahan sari buah merah pada cookies dan variabel dependent adalah daya terima (rasa, aroma, warna, dan tekstur) dan kandungan gizi (energi, protein, lemak, dan karbohodrat). Penelitian ini menggunakan panelis agak terlatih sebanyak 30 orang. Pengumpulan data menggunakan formulir uji hedonik. Analisis daya terima menggunakan uji ANOVA dan analisis kandungan gizi dengan perhitungan manual berdasarkan data dari TKPI (Tabel Komposisi Pangan Indonesia) dan DKBM (Daftar Komposisi Bahan Makanan).
Hasil penelitian menunjukan bahwa daya terima cookies yang paling baik adalah pada sampel cookies P1. Penambahan sari buah merah tidak memberikan pengaruh terhadap rasa, aroma, warna, dan tekstur dari cookies. Kandungan energi, protein, lemak dan karbohidarat terbesar adalah pada cookies sampel P_3 dengan nilai 276.49 kkal, 4.41 gram, 6.07 gram, dan 50 gram. Semakin banyak penambahan sari buah merah maka semakin besar kandungan gizi dari cookies. Perlu adanya penelitian lanjutan tentang daya terima dan nilai gizi cookies tepung sagu kombinasi tepung kacang merah dengan formulasi yang berbeda dan dengan penambahan bahan pangan lokal yang lainnya
Pengaruh Intervensi Rafiq Al Wilada Terhadap Kecemasan Saat Proses Bersalin Pada Ibu Primigravida Di Rsia Asri Purwakarta
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan tingkat kecemasan sebelum dan setelah intervensi rafiq al wilada saat kehamilan trimester tiga sampai setelah proses bersalin pada ibu primigravida di RSIA Asri Purwakarta. Metode yang di gunakan Pre-Experimental dengan one group pretest and posttest design. Subjek penelitian adalah ibu hamil trimester tiga hingga setelah proses bersalin, sedangkan subjek intervensi adalah seluruh subjek penelitian dan suami. Teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling. Jumlah sampel 25 (n=25). Pengambilan data dilakukan bulan Juni hingga Agustus 2019. Pengukuran kecemasan dengan menggunakan kuisioner HRS-A yang telah dikembangkan oleh Hawari untuk kecemasan ibu hamil. Hasil uji validitas p<0,05 dan reliabilitas 0,06. Analisa data, menggunakan Wilcoxon. Hasil menunjukkan bahwa tingkat kecemasan sebelum intervensi sebagian besar mengalami kecemasan berat sebanyak 20 orang (80%) dengan skor nilai 28-41 sedangkan setelah dilakukan intervensi sebagian besar mengalami kecemasan sedang sebanyak 11 orang (44%) dengan skor 21-27 dan kecemasan ringan 10 orang (40%) dengan skor 14-20. Rata-rata skor kecemasan sebelum intervensi 33,08 (SD 5,992) dan setelah intervensi 22.76 (SD 4,737), menunjukan adanya penurunan skor kecemasan sebesar 10,2 (95% IK 8–12). Terdapat perbedaan signifikan rerata tingkat kecemasan sebelum dan setelah intervensi dengan nilai p value 0,001. Oleh karena itu intervensi rafiq al wilada dapat dijadikan sebagai alternatif intervensi untuk mencegah dan mengatasi kecemasan pada ibu hamil hingga setelah proses bersalin. Kesimpulan Terdapat pengaruh signifikan intervensi rafiq al wilada terhadap penurunan kecemasan saat proses bersalin pada ibu primigravida dengan nilai p value 0,001. Saran intervensi rafiq al wilada dapat dijadikan sebagai alternatif intervensi untuk mencegah dan mengatasi kecemasan pada ibu hamil hingga saat proses bersalin.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan tingkat kecemasan sebelum dan setelah intervensi rafiq al wilada saat kehamilan trimester tiga sampai setelah proses bersalin pada ibu primigravida di RSIA Asri Purwakarta. Metode yang di gunakan Pre-Experimental dengan one group pretest and posttest design. Subjek penelitian adalah ibu hamil trimester tiga hingga setelah proses bersalin, sedangkan subjek intervensi adalah seluruh subjek penelitian dan suami. Teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling. Jumlah sampel 25 (n=25). Pengambilan data dilakukan bulan Juni hingga Agustus 2019. Pengukuran kecemasan dengan menggunakan kuisioner HRS-A yang telah dikembangkan oleh Hawari untuk kecemasan ibu hamil. Hasil uji validitas p<0,05 dan reliabilitas 0,06. Analisa data, menggunakan Wilcoxon. Hasil menunjukkan bahwa tingkat kecemasan sebelum intervensi sebagian besar mengalami kecemasan berat sebanyak 20 orang (80%) dengan skor nilai 28-41 sedangkan setelah dilakukan intervensi sebagian besar mengalami kecemasan sedang sebanyak 11 orang (44%) dengan skor 21-27 dan kecemasan ringan 10 orang (40%) dengan skor 14-20. Rata-rata skor kecemasan sebelum intervensi 33,08 (SD 5,992) dan setelah intervensi 22.76 (SD 4,737), menunjukan adanya penurunan skor kecemasan sebesar 10,2 (95% IK 8–12). Terdapat perbedaan signifikan rerata tingkat kecemasan sebelum dan setelah intervensi dengan nilai p value 0,001. Oleh karena itu intervensi rafiq al wilada dapat dijadikan sebagai alternatif intervensi untuk mencegah dan mengatasi kecemasan pada ibu hamil hingga setelah proses bersalin. Kesimpulan Terdapat pengaruh signifikan intervensi rafiq al wilada terhadap penurunan kecemasan saat proses bersalin pada ibu primigravida dengan nilai p value 0,001. Saran intervensi rafiq al wilada dapat dijadikan sebagai alternatif intervensi untuk mencegah dan mengatasi kecemasan pada ibu hamil hingga saat proses bersalin
Studi Literatur Determinan Perilaku Pencegahan Pelecehan Seksual Pada Remaja
Pencarian jurnal atau artikel menggunakan database Scopus, Sciencedirect, CINAHL. The Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal dan CRAAP test (Currency, Relevance, Authority, Accuracy and Purpose) digunakan dalam penilaian kualitas artikel. Kriteria inklusi dan eksklusi dalam studi literatur ini menggunakan format PICOS framework. Kriteria inklusi dalam studi literature ini antara lain remaja dengan usia 10 – 18 tahun, faktor pengetahuan, sikap, nilai, pendidikan seksual, keluarga, teman sebaya dan guru menggunakan desain studi randomized controlled trial, cross-sectional study, mixed-method design, grounded-theory design, school-based survey, retrospective study, qualitative study, quasi-experimental design dengan artikel berbahasa inggris dan tahun terbit 2016 – 2020. Jumlah artikel yang didapatkan berdasarkan kelayakan terhadap kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 14 artikel. Hasil: Faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan pelecehan seksual pada remaja di negara maju dan berkembang yaitu pengetahuan dan sikap, pemberian pendidikan seksual, peran petugas kesehatan, faktor keluarga, dukungan guru, staff sekolah dan teman sebaya. Upaya pencegahan pelecehan seksual pada remaja telah banyak dilakukan, namun diperlukan adanya keterlibatan dan arahan yang jelas bagi petugas kesehatan serta perlu adanya perlindungan hukum secara jelas bagi para pelaku pelecehan seksual agar tidak semakin merajalela dan dianggap hal yang biasa bagi masyarakat.Pencarian jurnal atau artikel menggunakan database Scopus, Sciencedirect, CINAHL. The Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal dan CRAAP test (Currency, Relevance, Authority, Accuracy and Purpose) digunakan dalam penilaian kualitas artikel. Kriteria inklusi dan eksklusi dalam studi literatur ini menggunakan format PICOS framework. Kriteria inklusi dalam studi literature ini antara lain remaja dengan usia 10 – 18 tahun, faktor pengetahuan, sikap, nilai, pendidikan seksual, keluarga, teman sebaya dan guru menggunakan desain studi randomized controlled trial, cross-sectional study, mixed-method design, grounded-theory design, school-based survey, retrospective study, qualitative study, quasi-experimental design dengan artikel berbahasa inggris dan tahun terbit 2016 – 2020. Jumlah artikel yang didapatkan berdasarkan kelayakan terhadap kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 14 artikel. Hasil: Faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan pelecehan seksual pada remaja di negara maju dan berkembang yaitu pengetahuan dan sikap, pemberian pendidikan seksual, peran petugas kesehatan, faktor keluarga, dukungan guru, staff sekolah dan teman sebaya. Upaya pencegahan pelecehan seksual pada remaja telah banyak dilakukan, namun diperlukan adanya keterlibatan dan arahan yang jelas bagi petugas kesehatan serta perlu adanya perlindungan hukum secara jelas bagi para pelaku pelecehan seksual agar tidak semakin merajalela dan dianggap hal yang biasa bagi masyaraka
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pengetahuan Penggunaan Sunscreen Pada Mahasiswa Universitas Tadulako
Senyawa sunscreen merupakan suatu bahan yang digunakan untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari terutama ultraviolet (UV). Senyawa ini merupakan salah satu bahan kimia dalam lotion cair yang berpenetrasi ke dalam kulit dan akan menyerap radiasi UV sebelum mencapai lapisan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Tadulako tentang penggunaan produk sunscreen dan faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan produk tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental (observasional) menggunakan pendekatan cross sectional (potong lintang) dengan jumlah responden 430 orang dimana 396 memenuhi kriteria dan 34 tidak memenuhi kriteria pada penelitian ini. Teknik pengambilan sampel yaitu secara purposive sampling menggunakan kuesioner. Hasil pengolahan data menunjukkan tingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Tadulako, berdasarkan rata-rata persentase jawaban benar, dikategorikan baik yaitu 82,2% dan berdasarkan usia, jenis kelamin dan angkatan dikategorikan cukup yaitu 74,2%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan sunscreen adalah jenis kelamin dengan nilai p-value 0,008 < 0,05 yang berarti ada hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan.Senyawa sunscreen merupakan suatu bahan yang digunakan untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari terutama ultraviolet (UV). Senyawa ini merupakan salah satu bahan kimia dalam lotion cair yang berpenetrasi ke dalam kulit dan akan menyerap radiasi UV sebelum mencapai lapisan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Tadulako tentang penggunaan produk sunscreen dan faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan produk tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental (observasional) menggunakan pendekatan cross sectional dengan jumlah responden 396 orang. Teknik pengambilan sampel yaitu secara purposive sampling menggunakan kuesioner. Hasil pengolahan data menunjukkan tingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Tadulako, berdasarkan rata-rata persentase jawaban benar, dikategorikan baik yaitu 82,2% dan berdasarkan usia, jenis kelamin dan angkatan dikategorikan cukup. Faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan sunscreen adalah jenis kelamin dengan nilai p-value 0,008 < 0,05 yang berarti ada hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat pengetahua
Tingkat Pengetahuan Pandemi Covid-19 Kader Posyandu Di Wilayah Kerja Puskesmas Jakarta Timur
Pandemi COVID-19 ialah tantangan dalam upaya peningkatan derajat kesehatan serta pembangunan Indonesia. Salah satu akibat dari keadaan tersebut ialah terganggunya penerapan pelayanan kesehatan publik yaitu penutupan ataupun penundaan layanan di posyandu yang ialah sarana pelayanan kesehatan primer serta merupakan kekuatan utama dalam peningkatan derajat kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan kader posyandu terkait pandemi COVID-19 di Jakarta Timur. Penelitian dilakukan secara deskriptif menggunakan kuesioner. Subjek penelitian sebanyak 382 kader posyandu yang terbagi dalam 10 Wilayah Puskesmas Kecamatan di Jakarta Timur. Pengetahuan kader posyandu mengenai pandemi COVID-19 secara umum baik. Namun terdapat beberapa pertanyaan dengan jawaban benar terendah. Sebanyak 53,14% kader posyandu tidak mengetahui bagaimana upaya untuk menjaga diri terhindar dari COVID-19 di rumah, 43,46% tidak mengetahui suhu tubuh yang bisa diindikasikan sedang terjangkit penyakit termasuk COVID-19, dan 39,01% tidak mengetahui etika batuk/bersin yang benar.Pandemi COVID-19 ialah tantangan dalam upaya peningkatan derajat kesehatan serta pembangunan Indonesia. Salah satu akibat dari keadaan tersebut ialah terganggunya penerapan pelayanan kesehatan publik yaitu penutupan ataupun penundaan layanan di posyandu yang ialah sarana pelayanan kesehatan primer serta merupakan kekuatan utama dalam peningkatan derajat kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan kader posyandu terkait pandemi COVID-19 di Jakarta Timur. Penelitian dilakukan secara deskriptif menggunakan kuesioner. Subjek penelitian sebanyak 382 kader posyandu yang terbagi dalam 10 Wilayah Puskesmas Kecamatan di Jakarta Timur. Pengetahuan kader posyandu mengenai pandemi COVID-19 secara umum baik. Namun terdapat beberapa pertanyaan dengan jawaban benar terendah. Sebanyak 53,14% kader posyandu tidak mengetahui bagaimana upaya untuk menjaga diri terhindar dari COVID-19 di rumah, 43,46% tidak mengetahui suhu tubuh yang bisa diindikasikan sedang terjangkit penyakit termasuk COVID-19, dan 39,01% tidak mengetahui etika batuk/bersin yang benar
Hubungan Kebiasaan Konsumsi Fast Food Dan Stres Terhadap Siklus Menstruasi Pada Remaja Putri Sman 12 Kota Bekasi
Masa remaja merupakan masa di mana perkembangan hormon akan naik turun dan dapat menyebabkan terjadinya menstruasi pada wanita. faktor yang mempengaruhi siklus menstruasi yaitu pola makan yang tidak sehat, kandungan gizi pada fast food tidak seimbang yaitu tinggi kalori, tinggi lemak, tinggi gula dan rendah serat. Kandungan asam lemak didalam makanan cepat saji mempengaruhi metabolisme progesteron pada fase luteal dari siklus menstruasi. Selain itu tingkat stres mempengaruhi siklus menstruasi, saat stres menghasilkan hormon kortisol, Hormon kortisol menyebabkan ketidakseimbangan pada hormon reproduksi, salah satu akibatnya gangguan siklus menstruasi. Penelitian ini bertujan untuk menganalisis hubungan konsumsi fast food dan stres terhadap siklus menstruasi pada siswi SMAN 12 Kota Bekasi. Metode penelitian yang di gunakan kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian adalah siswi SMAN 12 Kota Bekasi menggunakan Teknik simple random sampling. Data di kumpulkan menggunakan kuisioner siklus menstruasi, PSS-10, dan food frequency questionare (FFQ). Hasil penelitian dari hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi-square menunjukan bahwa Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi fastfood dan siklus menstruasi pada siswi SMAN 12 Kota Bekasi dengan p-value 0,003 dan OR 5.0. Dan juga terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada siswi SMAN 12 Kota Bekasi dengan p-value 0,005 dan OR 6,4.Masa remaja merupakan masa di mana perkembangan hormon akan naik turun dan dapat menyebabkan terjadinya menstruasi pada wanita. faktor yang mempengaruhi siklus menstruasi yaitu pola makan yang tidak sehat, kandungan gizi pada fast food tidak seimbang yaitu tinggi kalori, tinggi lemak, tinggi gula dan rendah serat. Kandungan asam lemak didalam makanan cepat saji mempengaruhi metabolisme progesteron pada fase luteal dari siklus menstruasi. Selain itu tingkat stres mempengaruhi siklus menstruasi, saat stres memghasilkan hormon kortisol, Hormon kortisol menyebabkan ketidakseimbangan pada hormon reproduksi, salah satu akibatnya gangguan siklus menstruasi. Penelitian ini bertujan untuk menganalisis hubungan konsumsi fast food dan stres terhadap siklus menstruasi pada siswi SMAN 12 Kota Bekasi. Metode penelitian yang di gunakan kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian adalah siswi SMAN 12 Kota Bekasi menggunakan Teknik simple random sampling. Data di kumpulkan menggunakan kuisioner siklus menstruasi, PSS-10, dan food frequency questionare (FFQ). Hasil penelitian dari hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi-square menunjukan bahwa Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi fastfood dan siklus menstruasi pada siswi SMAN 12 Kota Bekasi dengan p-value 0,003 dan OR 5.0. Dan juga terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada siswi SMAN 12 Kota Bekasi dengan p-value 0,005 dan OR 6,4
Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Seksual Pranikah Remaja Wanita Dan Pria Di Indonesia
Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional (potong lintang). Analisis yang digunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku hubungan seksual pranikah adalah usia responden 18 – 19 tahun berpeluang 2,787 kali (OR 2,787: 95% CI 1,665 – 4,665) untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja dengan usia 15 – 17 tahun, remaja pria berpeluang 0,510 kali (OR 0,510: 95% CI 0,341 – 0,764) untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan dengan remaja wanita, remaja dengan pengaruh teman sebaya berpeluang 38,616 kali (OR 38,616: 95% CI 22,516 – 66,228). Kesimpulan dari hasil penelitian ini diketahui bahwa faktor-faktor yang secara signifikan berhubungan dengan perilaku hubungan seksual pranikah pada remaja pria dan wanita usia 15 – 19 tahun di Indonesia adalah usia responden, jenis kelamin, pengaruh teman sebaya, konsumsi alkohol, sikap remaja terhadap pentingnya menjaga keperawanan, usia pubertas dan perilaku berisiko. Terdapat interaksi antara riwayat konsumsi alkohol dengan usia responden, konsumsi alkohol dengan jenis kelamin dan pengaruh teman sebaya terhadap usia responden.Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional (potong lintang). Analisis yang digunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku hubungan seksual pranikah adalah usia responden 18 – 19 tahun berpeluang 2,787 kali (OR 2,787: 95% CI 1,665 – 4,665) untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja dengan usia 15 – 17 tahun, remaja pria berpeluang 0,510 kali (OR 0,510: 95% CI 0,341 – 0,764) untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan dengan remaja wanita, remaja dengan pengaruh teman sebaya berpeluang 38,616 kali (OR 38,616: 95% CI 22,516 – 66,228) untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja yang tidak terpengaruh teman sebayanya, remaja dengan riwayat konsumsi alkohol 2,586 kali (OR 2,586: 95% CI 2,586 – 1,359) untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan dengan remaja yang tidak memiliki riwayat konsumsi alkohol, sikap negatif remaja terhadap pentingnya menjaga keperawanan berpeluang 7,02 kali (OR 7,020 : 95% CI 4,437 – 11,106) untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan dengan remaja yang memiliki sikap positif terhadap pentingnya menjaga keperawanan, usia pubertas < 15 tahun berpeluang 0,721 kali (OR 0,721: 95% CI 0,585 – 0,888) untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja dengan usia pubertas > 15 tahun dan remaja dengan perilaku berisiko berpeluang 17,734 kali (OR 17,734 : 95% CI 8,330 – 37,751) untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja yang tidak memiliki perilaku berisiko. Kesimpulan Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa faktor-faktor yang secara signifikan berhubungan dengan perilaku hubungan seksual pranikah pada remaja pria dan wanita usia 15 – 19 tahun di Indonesia adalah usia responden, jenis kelamin, pengaruh teman sebaya, konsumsi alkohol, sikap remaja terhadap pentingnya menjaga keperawanan, usia pubertas dan perilaku berisiko. Terdapat interaksi antara riwayat konsumsi alkohol dengan usia responden, konsumsi alkohol dengan jenis kelamin dan pengaruh teman sebaya terhadap usia responden