Jurnal Health Sains (JHS)
Not a member yet
    676 research outputs found

    Analisis Desain Formulir Asesmen Awal Rawat Jalan Terkait SNARS Edisi 1.1 Elemen Penilaian AP 1.2 di RSBSA Bandung

    Get PDF
    The initial assessment was identified for new patients who came for outpatient treatment as basic information to determine the patient's condition and for follow-up care. Based on the results of observations at RSBSA Bandung that the initial outpatient assessment form is still less effective and efficient. So the hospital needs to review the initial outpatient assessment form, so that it can fulfill SNARS Edition 1.1 Assessment Elements of AP 1.2. The purpose of this study was to design an outpatient initial assessment form at RSBSA Bandung form based on SNARS Edition 1.1 Assessment Elements of AP 1.2. This study uses a qualitative case study approach. The subjects of this study included dentists, nurses and heads of medical records. The object of this research is the outpatient initial assessment form. Research data collection techniques by interview and observation. From the physical aspect, the form design uses white with A4 size cardboard, paper weight is 190grams and is rectangular in shape. From the anatomical aspect, there is no edition number and page number heading, no introduction and instructions, no body and no close notes. From the aspect of content, identity data already exists, patient medical data is not suitable for SNARS Edition 1.1 Elements of AP 1.2. Based on the results of research, it is necessary to design an outpatient initial assessment form based on SNARS Edition 1.1 related to AP 1.2 Assessment Elements.Asesmen awal diidentifikasi untuk pasien baru yang datang pengobatan rawat jalan sebagai informasi dasar untuk mengetahui keadaan pasien dan untuk tindak lanjut perawatan. Berdasarkan hasil observasi di RSBSA Bandung bahwa formulir asesmen awal rawat jalan masih kurang efektif dan efisien. Sehingga pihak rumah sakit perlu mengkaji ulang terkait formulir asesmen awal rawat jalan, agar dapat memenuhi SNARS Edisi 1.1 Elemen Penilaian AP 1.2. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis dan mendesain formulir asesmen awal rawat jalan di RSBSA Bandung agar sesuai SNARS Edisi 1.1 Elemen Penilaian AP 1.2. Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian meliputi dokter, perawat dan kepala rekam medis. Objek yang diambil dalam penelitian yaitu formulir asesmen awal rawat jalan. Teknik pengumpulan data penelitian dengan wawancara dan observasi. Dari aspek fisik, desain formulir menggunakan warna putih dengan kertas karton ukuran A4, berat kertas 190gram dan bentuk persegi panjang. Dari aspek anatomi, heading nomor edisi dan nomor halaman belum ada, introduction dan instruction belum ada, body sudah ada dan close catatan belum ada. Dari aspek isi, data identitas sudah ada, data medis pasien belum sesuai untuk SNARS Edisi 1.1 Elemen AP 1.2. Berdasarkan hasil penelitian, maka diperlukan desain formulir asesmen awal rawat jalan berdasarkan SNARS Edisi 1.1 terkait Elemen Penilaian AP 1.2

    Pengaruh Modal Sosial terhadap Fungsi Kognitif pada Pasien Skizofrenia di RSUD dr. Soeselo

    Get PDF
    This study wanted to look at the relationship and influence of social capital on cognitive function in schizophrenic patients. Social capital is a concept that arises from the results of interaction in society with a long process and is believed to be one of the main components in driving togetherness, mobility of ideas, mutual trust and mutual benefit to achieve mutual progress. Interactions that form networks in togetherness in social capital contain norms, values and mutual understanding that facilitate cooperation in a group. Social capital is generally associated with health and is considered an important etiology in schizophrenia where in the early stages of schizophrenia there are significant cognitive symptoms making it very difficult for people with the disorder to work, study or work in social life. This research method uses the design of latitude cut study, conducted in dr. hospital. soeselo and using MMSE instruments. The results of the study found a link between social capital and cognitive symptoms in schizophrenic patients where in individuals with good social capital was shown to better adjust to cognitive function. Conclusions on individuals with good social capital can adjust better because individuals have had better coping, perception and adjustment about themselves and their environment, individuals already have the ability to maintain their communication and interaction in public life.Penelitian ini ingin melihat hubungan dan pengaruh modal sosial terhadap fungsi kognitif pada pasien skizofrenia. Modal sosial merupakan suatu konsep yang muncul dari hasil interaksi di dalam masyarakat dengan proses yang lama dan diyakini sebagai salah satu komponen utama dalam menggerakkan kebersamaan, mobilitas ide, saling kepercayaan dan saling menguntungkan untuk mencapai kemajuan bersama. Interaksi yang membentuk jaringan dalam kebersamaan pada modal sosial berisi norma, nilai dan pemahaman bersama yang memfasilitasi kerjasama didalam sebuah kelompok. Modal sosial secara umum dikaitkan dengan kesehatan dan dianggap sebagai etiologi penting dalam skizofrenia dimana pada fase awal skizofrenia terdapat gejala kognitif yang signifikan sehingga sangat sulit bagi orang-orang dengan gangguan tersebut untuk bekerja, belajar atau mejalani kehidupan sosial. Metode penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang, dilaksanakan di RS dr. Soeselo dan menggunakan instrument MMSE. Hasil penelitian terdapat hubungan antara modal sosial dan gejala kognitif pada pasien skizofrenia dimana pada individu dengan modal sosial yang baik terbukti dapat menyesuaikan diri lebih baik dalam fungsi kognitif. Kesimpulan pada individu dengan modal sosial yang baik dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik karena individu telah memiliki koping, persepsi dan penyesuaian yang lebih baik tentang diri dan lingkungannya, individu telah memiliki kemampuan untuk menjaga komunikasi dan interaksinya di dalam kehidupan bermasyaraka

    Rapid Assesmen Manajemen Instalasi Gawat Darurat RSUT pada Pandemi Covid-19

    Get PDF
    Covid-19 caused changes in services related to procedures, facilities, procedures and safety of patients and officers in work. RSU Tangerang Regency (RSUT) is one of the government-owned hospitals appointed to provide services for Covid-19 patients throughout its service scope. RSUT has made changes in the management of IGD services, especially in patient triage to adjust for changes in current disease patterns. The purpose of this study is to find out the rapid assessment of emergency department management management in the covid-19 pandemic. This paper is the result of a rapid assessment of service observations at IGD RSUT in June 2020, accompanied by interviews to igd management teams and hospitals. This study is a case study by conducting rapid assessment of services at the Emergency Department of RSU Tangerang Regency during June 2021. The results of the observations showed that IGD RSUT had made changes in accordance with the ministry's guidelines on hospital services during the covid-19 pandemic, only adding thoracic radiological examinations as part of screening.Covid-19 menyebabkan perubahan layanan terkait prosedur, fasilitas, tata laksana serta keselamatan pasien dan petugas dalam bekerja. RSU Kabupaten Tangerang (RSUT) merupakan salah satu rumah sakit milik pemerintah yang ditunjuk untuk menyelenggarakan layanan bagi pasien Covid-19 di seluruh lingkup layanannya. RSUT telah melakukan perubahan dalam manajemen pelayanan IGD, terutama pada triase pasien untuk menyesuaikan perubahan pola penyakit yang ada saat ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rapid assesmen manajemen instalasi gawat darurat rsut pada pandemi covid-19.  Tulisan ini merupakan hasil penilaian cepat (rapid assesment) atas pengamatan pelayanan di IGD RSUT pada bulan Juni 2020, disertai wawancara kepada tim manajemen IGD dan rumah sakit. Penelitian ini merupakan studi kasus dengan melakukan rapid asesmen atas pelayanan di Instalasi Gawat Darurat RSU Kabupaten Tangerang selama bulan Juni 2021. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa IGD RSUT telah melakukan perubahan sesuai dengan panduan kemenkes tentang pelayanan rumah sakit di masa pandemi covid-19, hanya menambahkan pemeriksaan radiologi thoraks sebagai bagian dari skrining

    Pengaruh Jenis Karagenan terhadap Karakteristik Fisik Gel Anti Jerawat.

    Get PDF
    Acne (acne vulgaris) is a disease characterized by inflammation of the skin that can cause skin infections. The purpose of this study was to find out the effect of karagenan types (kappa, iota and lamda) on the physical characteristics of anti-acne gels. The research method used is qualitative method. In this study conducted the manufacture of gel preparations with gelling agent karagenan. The types of karagenan used are kappa, iota and lamda.  The concentration used is the same as 1%. Based on the test results obtained that the gel that has the best characteristics that are easy to flatten, clear, soft and good viscosity means not too diluted and not too viscosic is formula 2 with gelling agent iota karagenan. The results of formula 1 with gelling agent kappa karagenan obtained a gel that is stiff, less clear and difficult to flatten. While in formula 3 with gelling agent lamda karagenan obtained a clear but diluted gel. Based on the results of the stability test of the three formulas are stable with the centrifuge method with a speed of 3000 rpm for 5 hours.Jerawat (acne vulgaris) merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan peradangan pada kulit yang dapat menyebabkan infeksi kulit. Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui pengaruh jenis karagenan (kappa, iota dan lamda) terhadap karakteristik fisik gel anti jerawat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan sediaan gel dengan gelling agent karagenan. Jenis karagenan yang digunakan yaitu kappa, iota dan lamda.  Konsentrasi yang digunakan sama yaitu 1%. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan bahwa gel yang memiliki karakteristik yang paling baik yaitu mudah merata, jernih, lembut dan viskositas yang baik artinya tidak terlalu encer dan tidak terlalu viskus adalah formula 2 dengan gelling agent iota karagenan. Hasil formula 1 dengan gelling agent kappa karagenan didapatkan gel yang kaku, kurang jernih dan sulit diratakan. Sedangkan pada formula 3 dengan gelling agent lamda karagenan didapatkan gel yang jernih namun encer. Berdasarkan hasil uji stabilitas dari ketiga formula tersebut stabil dengan metode sentrifugsi dengan kecepatan 3000 rpm selama 5 jam

    Astaxantin Topikal Sebagai Terapi Adjuvan terhadap Kadar Serum Interleukin 8 pada Akne Vulgaris

    Get PDF
    Acne vulgaris (AV) is a chronic inflammatory disease of the pilosebasea unit associated with the sebum glands. Reactive oxygen species play a role in av pathophysiology. Astaxantin has an anti-inflammatory effect so administration of this topical ASX is expected to cause improvement of lesions in AV. The purpose of the study was to find out that topical astaxantin can lower serum levels of interleukin-1(. This study is a clinical experimental study using the pre and post control design group design double-blind randomized controlled trial with 2 groups, namely the treatment group given standard AV therapy drugs in the form of gel containing tretinoin 0.025% + clindamycin phosphate 1.2% and astaxantin gel 5% and control group given the same standard AV therapy drug and placebo gel. Acne vulgaris (AV) is a chronic inflammatory disease of the pilosebasea unit associated with the sebum glands. Reactive oxygen species play a role in av pathophysiology. Astaxantin has an anti-inflammatory effect so administration of this topical ASX is expected to cause improvement of lesions in AV. The purpose of the study was to find out that topical astaxantin can lower serum levels of interleukin-1(. This study is a clinical experimental study using the pre and post control design group design double-blind randomized controlled trial with 2 groups, namely the treatment group given standard AV therapy drugs in the form of gel containing tretinoin 0.025% + clindamycin phosphate 1.2% and astaxantin gel 5% and control group given the same standard AV therapy drug and placebo gel. Serum IL-8 levels were assessed at weeks 0 and VIII as an in vitro study. The paired difference between the serum IL-8 pretest and postest levels in the treatment group was p=0.751 and the control group was p=0.837. The unpaired test of il-8 level examination between the treatment group and the control group on the pretest was p=0.607 and the posttest was p=0.297 showed no significant difference. The addition of topical astaxantin as an AV supplemental therapy has not been shown to lower serum IL-8 levels.Akne vulgaris (AV) merupakan suatu penyakit inflamasi kronik dari unit pilosebasea yang berhubungan dengan kelenjar sebum. Reactive oxygen species berperan dalam patofisiologi AV. Astaxantin memiliki efek antiinflamasi sehingga pemberian ASX topikal ini diharapkan dapat menyebabkan perbaikan lesi pada AV. Tujuan penelitian untuk mengetahui bahwa astaxantin topikal dapat menurunkan kadar serum interleukin-1. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental klinis dengan menggunakan rancangan pre and post control grup design double-blind randomized controlled trial dengan menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan yang diberikan obat terapi standar AV berbentuk gel berisi tretinoin 0,025% + klindamisin fosfat 1,2% dan gel astaxantin 5% serta kelompok kontrol yang diberikan obat terapi standar AV yang sama dan gel plasebo. Penilaian kadar serum IL-8 dilakukan pada minggu ke-0 dan ke VIII sebagai penelitian in vitro. Uji beda berpasangan antara pemeriksaan kadar serum IL-8 pretest dan postest pada kelompok perlakuan adalah p=0,751 dan kelompok kontrol adalah p=0,837. Uji beda tidak berpasangan pemeriksaan kadar IL-8 antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol pada pretest adalah p=0,607 dan pada posttest adalah p=0,297 tidak menunjukan perbedaan yang signifikan. Kesimpulan dari penelitian ini Penambahan astaxantin topikal sebagai terapi tambahan AV tidak terbukti menurunkan kadar serum IL-8

    Pengaruh Pemberian Gentamisin pada Dosis Terapi Terhadap Ginjal Tikus Putih (Rattus Norvegicus)

    Get PDF
    Gentamicin is an aminoglycoside antibiotic often used as bactericide by clinicians when treating patients due to its effectiveness in curing infections. Gentamicin is a broad-spectrum antibiotic, effective in acting against a wire-range of gram-negative bacteria (Pseudomonas, Proteus dan Klebsiella), and is affordably priced. Moreover, there is evidently low tendency for bacteria to develop resistance to Gentamicin. The purpose of this study is to scientifically describe the effect of therapeutic dosage of gentamicin on renal function in white white rats (Rattus norvegicus). The subjects of this experiment were 24 healthy white rats, age 3-5 months and weigh 110-120 grams, which were organized into three different groups based on the dosage of gentamicin injected: control group, the treatment group 1 was given gentamicin at a dose of 4 mg / kg / day and 2 treatment groups were administreted by gentamicin 8 mg / kg / day in 7 days. The data found in this study were analyzed by Kruskal Wallis statistical test. This study showed that there was a significant effect of therapeutic dosage of gentamicin on renal function in white rats as shown by the p-value = 0.000 (<0.05). The average value of renal necrosis is highest in the treatment group 2 that is equal to 11.951% and the lowest renal necrosis in the control group that is equal to 0.581%.Gentamisin merupakan suatu antibiotik golongan aminoglikosida yang digunakan oleh klinisi kepada pasien karena sifatnya yang dapat membunuh kuman (bakterisid), efektif untuk pengobatan infeksi, memiliki spektrum luas terhadap bakteri gram negatif (Pseudomonas, Proteus dan Klebsiella), kecenderungan untuk terjadi resistensi rendah, dan harga yang terjangkau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian gentamisin pada dosis terapi terhadap ginjal tikus putih (Rattus norvegicus).Unit eksperimen pada penelitian ini adalah tikus putih (Rattus norvegicus), berumur 3-5 bulan dengan berat 110-120 gram dan dalam keadaan sehat dengan besar replikasi yang diambil sebanyak 24 ekor yang dibagi dalam 3 kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompok perlakuan 1 yang diberikan gentamisin dengan dosis 4 mg/kgbb/hari dan kelompok perlakuan 2 dengan pemberian gentamisin 8 mg/kgbb/hari selama 7 hari. Analisis data penelitian ini menggunakan pengolahan data dengan Uji Statistik Kruskal Wallis. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh pemberian gentamisin pada dosis terapi terhadap ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) terbukti dengan nilai p-value = 0,000 (<0,05). Rata-rata nilai nekrosis ginjal tertinggi ada pada kelompok perlakuan 2 yaitu sebesar 11,951% dan nilai nekrosis ginjal terendah pada kelompok kontrol yaitu sebesar 0,581%

    Efektivitas Wrist Stretching, Tendon and Nerve Gliding Exercise dalam Menurunkan Nyeri dan Meningkatkan Fungsional Wrist pada Kasus Carpal Tunnel Syndrome

    Get PDF
    Carpal Tunnel Syndrome (CTS) is a medianus nerve clamp due to entrapment neuropathy when going through the carpal tunnel in the wrist precisely under the flexor retinaculum. The goal of this study is to find out the effectiveness of wrist stretching, tendon and nerve gliding exercise in reducing pain and improving functional wrist in people with Carpal Tunnel Syndrome. To find out the effectiveness of wrist stretching, tendon and nerve in reducing pain and improving functional wrist in cases of Carpal Tunnel Syndrome. A 58-year-old woman with a job before the doughnut seller pandemic. Patients complain of pain in the wrist spreading and feel tingling / numbness in the fingers 1-3, the fingers feel stiff and difficult to shake. Patients therapy for 2x / week in 3 weeks, one patient therapy followed for 20-30 minutes.  Patients are given therapy in the form of wrist stretching, tendon and nerve gliding exercise. Pain was measured using numeric rating scale (NRS) and Boston Carpal Tunnel Questionair (BCTQ) for the severity of CTS. After therapy was given the result of a decrease in press pain and motion pain by 1 point, and there was a slight improvement in the functional ability of the wrist measured using BCTQ. The provision of therapy in the form of wrist stretching, tendon and nerve gliding exercise can reduce pain and improve the functional ability of the wrist.Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah penjepitan saraf medianus akibat entrapment neuropathy saat melalui terowongan karpal di pergelangan tangan tepatnya di bawah fleksor retinaculum. Tujuan dari studi ini untuk mengetahui efektifitas pemberian wrist stretching, tendon and nerve gliding exercise dalam menurunkan nyeri dan meningkatkan fungsional wrist pada pada Penderita Carpal Tunnel Syndrome. Untuk mengetahui efektivitas pemberian Wrist stretching, Tendon and Nerve dalam menurunkan nyeri dan meningkatkan fungsional wrist pada kasus Carpal Tunnel Syndrome. Seorang wanita berusia 58 tahun dengan pekerjaan sebelum pandemi penjual donat. Pasien mengeluhkan nyeri di pergelangan tangan menjalar dan terasa kesemutan/mati rasa pada jari-jari 1-3, jari-jari terasa kaku dan sulit menggengam. Pasien terapi selama 2x/minggu dalam 3 minggu, satu kali terapi pasien mengikuti selama 20-30 menit. Pasien diberikan terapi berupa wrist stretching, tendon and nerve gliding exercise. Nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dan Boston Carpal Tunnel Questionair (BCTQ) untuk derajat keparahan CTS. Setelah diberikan terapi didapatkan hasil adanya penurunan nyeri tekan dan nyeri gerak sebanyak 1 poin, dan terdapat sedikit peningkatan pada kemampuan fungsional wrist yang diukur menggunakan BCTQ. Pemberian terapi berupa wrist stretching, tendon and nerve gliding exercise dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan kemampuan fungsional wris

    Profil Penggunaan Antibiotik pada Pasien Klinik Anak di Rumah Sakit MM Indramayu Periode Januari-Maret 2021

    Get PDF
    Drugs are substances or combinations of substances, including biological products, which are used to influence or investigate physiological systems. Antibiotics are chemical substances produced by microorganisms that have the ability in aqueous solutions to inhibit the growth or kill microorganisms. This study uses non-experimental methods. The data collection was carried out retrospectively and presented in the form of a table. In this study, in the form of prescriptions for outpatient pediatric patients who used antibiotics at the MM Indramayu Hospital in the period January to March 2021, totaling 257 prescriptions. Based on data taken from outpatient pediatric patient prescriptions based on inclusion criteria. Patient criteria are patients who use antibiotics aged 0-11 years. The criteria for antibiotics included in the study were Rifampicin, Isoniazid, Pyrazinamide, Metronidazole, Cefadroxil, Cotrimoxazol, Cefixim. The strength of the antibiotics used are 100mg-450mg, 226mg, 70mg-300mg, 200mg-500mg, 30 mg, 100 mg, 125mg, 250mg, 500mg, 240mg, 125mg. The rules for using antibiotics are 1 x 1 powder, 2 x 1 ml, 2 x 1 cth, 2 x 1 tablet, 3 x 1 cth, 3 x 1 tablet. The dosage form of antibiotics used is powder, syrup and tablets. The results obtained include: the use of the most types of antibiotics, which is Rifampicin and Isoniazid antibiotics as many as 88 prescriptions (34.24%), the highest dosage strength is indicated by the use of Isoniazid strength 70mg-150 mg as many as 57 prescriptions (22.17%), the use of based on the rules of use, namely once a day, one dosage of pulveres rifampicin 450 mg by 88 prescriptions (34.24%), and the most antibiotic dosage forms used were pulveres/puyer preparations with 206 prescriptions (80.15%)Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi, yang digunakan untuk memepengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi. Antibiotik merupakan zat kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang mempunyai kemampuan dalam larutan encer untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme. Penelitian ini menggunakan metode non eksperimental. Adapun pengambilan data dilakukan secara retrospektif dan disajikan dalam bentuk tabel. Dalam penelitian ini berupa resep pasien anak rawat jalan yang menggunakan antibiotik di Rumah Sakit MM Indramayu di periode Januari hingga Maret Tahun 2021 yang berjumlah 257 resep. Berdasarkan Data yang diambil dari resep pasien anak rawat jalan berdasarkan kriteria inklusi. Kriteria Pasien yaitu pasien yang menggunakan antibiotik berumur 0-11 tahun. Kriteria antibiotik yang termasuk dalam penelitian yaitu Rifampicin, Isoniazid, Pyrazinamid, Metronidazol, Cefadroxil, Cotrimoxazol, Cefixim. Kekuatan antibiotik yang digunakan yaitu 100mg-450mg, 226mg, 70mg-300mg, 200mg-500mg, 30 mg, 100 mg, 125mg, 250mg, 500mg, 240mg, 125mg. Aturan pakai antibiotik yang digunakan yaitu 1 x 1 Puyer, 2 x 1 ml, 2 x 1 cth, 2 x 1 Tablet, 3 x 1 cth, 3 x 1 tablet. Bentuk Sediaan antibiotik yang digunakan puyer, syrup dan tablet. Hasil penelitian yang diperoleh antara lain: penggunaan jenis antibiotik terbanyak yaitu jenis antibiotik Rifampisin dan Isoniazid sebanyak 88 resep (34,24%), kekuatan sediaan terbanyak ditujukan oleh penggunaan Isoniazid kekuatan 70mg-150 mg sebanyak 57 resep (22,17%), penggunaan berdasarkan aturan pakai yaitu sehari satu kali satu sediaan pulveres/puyer rifampisin 450mg sebesar 88 resep (34,24%), dan bentuk sediaan antibiotik terbanyak yang digunakan adalah sediaan pulveres/puyer sebanyak 206 resep (80,15%)

    Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Prolanis di Klinik Putra Gemilang Cikampek

    Get PDF
    Hypertension is an increase in blood presure from the arteries that is systematic, aka it lasts continuously for a long period of time. Hypertension does not occur seddenly, but through a long process. Uncontrolled high blod pressur for a certain period will cause permanent high blood pressure caled hypertasion. The purpose of this study was determine the characteritics of prolanis patients at the Putra Gemilang Clinic Ckampek. And to determine the percentage of use of antihypertensive drugs in prolanis patients at the Putra Gemilang Clinic Cikampek. This study uses descriptive, quantitative. The data collected in medical records during the study were processed and analyzed descriptive. Furthermore, the required data is recorded and recorded ina worksheet. The population in this study were 67 prolanis patients with a diagnosis of hypertension. The result showed that more famele prolanis patients were diagnosed with hypertansion with a percentage of 46 (68,66%) while 21 (31,34%) men were diagnosed with hypertansion. With age > 60 years as many 44 (65,67%)Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah dari arteri yang bersifat sistemik alias berlangsung terus-menerus untuk jangka waktu lama. Hipertensi tidak terjadi tiba-tiba, melainkan melalui proses yang cukup lama. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol untuk periode tertentu akan menyebabkan tekanan darah tinggi permanen yang disebut hipertesi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pasien prolanis di Klinik Putra Gemilang Cikampek. Serta untuk mengetahui persentase penggunaan obat antihipertensi pada pasien prolanis di Klinik Putra Gemilang Cikampek. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, kuantitatif. Data yang terkumpul dalam rekam  medis selama penelitian  diolah dan dianalisis secara deskriptif. Selanjutnya data yang dibutuhkan dicatat dan direkap dalam lembar kerja. Populasi pada penelitian ini adalah 67 pasien prolanis dengan diagnosa hipertensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa lebih banyak pasien prolanis perempuan yang didiagnosi hipertensi dengan persentase 46 (68,66%)  sedangkan laki – laki sebanyak 21 (31,34%). Dengan usia >60 tahun sebanyak 44 (65,67%

    Pengaruh Nesting Terhadap Perubahan Fisiologi Dan Perilakubayi Prematur Di Ruang Perinatologi Rsud Kabupaten Tangerang Tahun 2020

    Get PDF
    Bayi premature dapat diartikan bayi yang lahir yang tidak memperhitungkan berat badan lahir dengan usia kelahiran atau usia gestasi 37 minggu. Berdasarkan data Prevalensi premature untuk kasus kematian bayi baru lahir diperkirakan 15 % dari angka 1000 kelahiran didunia dan negara dengan sosio-ekonomi rendah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh nesting terhadap perubahan fisiologis (frekuensi napas, frekuensi nadi, saturasi oksigen) dan perilaku bayi prematur. Rancangan penelitian ini adalah menggunakan quai eksperimental dengan desaign one group pretest posttest yang melibatkan satu kelompok subjek. Sampel penelitian sebanyak 45 bayi premtur yang dirawat di Pernatologi Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang dan dipilih denga teknik purposive sampling. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan paired t-test dan wilcoxon test. Hasil analisis menunjukan ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan nesting terhadap perilaku bayi prematur (p= 0,000) dan terhadap peningkatan saturasi oksigen bayi prematur, frekwensi napas dan frekwensi nadi yaitu dengan nilai (p=0,000). Penggunaan nesting sebagai bentuk developmental care dapat memfasilitasi pencapaian istirahat yang lebih baik (yang ditandai dengan keteraturan fungsi fisiologis dan  pencapaian perilaku tidur tenang), sehingga perlu diimplementasikan dalam perawatan bayi prematur di ruang perinatologi.Bayi premature dapat diartikan bayi yang lahir yang tidak memperhitungkan berat badan lahir dengan usia kelahiran atau usia gestasi 37 minggu. Berdasarkan data Prevalensi premature untuk kasus kematian bayi baru lahir diperkirakan 15 % dari angka 1000 kelahiran didunia dan negara dengan sosio-ekonomi rendah.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh nesting terhadap perubahan fisiologis (frekuensi napas, frekuensi nadi, saturasi oksigen) dan perilaku bayi prematur. Rancangan penelitian ini adalah menggunakan quai eksperimental dengan desaign one group pretest posttest yang melibatkan satu kelompok subjek. Sampel penelitian sebanyak 45 bayi premtur yang dirawat di Pernatologi Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang dan dipilih denga teknik purposive sampling. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan paired t-test dan wilcoxon test. Hasil analisis menunjukan ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan nesting terhadap perilaku bayi prematur (p= 0,000) dan terhadap peningkatan saturasi oksigen bayi prematur, frekwensi napas dan frekwensi nadi yaitu dengan nilai (p=0,000). Penggunaan nesting sebagai bentuk developmental care dapat memfasilitasi pencapaian istirahat yang lebih baik (yang ditandai dengan keteraturan fungsi fisiologis dan  pencapaian perilaku tidur tenang), sehingga perlu diimplementasikan dalam perawatan bayi prematur di ruang perinatolo

    637

    full texts

    676

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Health Sains (JHS)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇