Jurnal Health Sains (JHS)
Not a member yet
    676 research outputs found

    Hubungan Pengetahuan Dengan Keterampilan Perawat Dalam Pelaksanaan Triase Di Rsud Kota Tangerang

    Get PDF
    Dalam pelaksanaan Triase dibutuhkan keterampilan dan pengetahuan dari perawat karena harus bertindak dan mengambil keputusan secara cepat. RSUD Kota Tangerang membuka pelayanan IGD 24jam dengan kapasitas 17TT. Tujuan Penelitian ini adalah diketahuinya hubungan pengetahuan dengan keterampilan perawat dalam pelaksanaan triage di RSUD Kota Tangerang. Penelitian ini menggunakan uji Kendall’s Tau-b. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat RSUD Kota Tangerang dengan jumlah sampel sebanyak 75 responden. Hasil penelitian sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (61,3%),memiliki usia 21-30 tahun (48%), berpendidikan D3 keperawatan (74,7%),dan lama kerja responden adalah 5 – 15 tahun (65,3%). Diperoleh hasil dari 75 responden yang pengetahuannya baik sebanyak 48 orang (64%), dan responden yang keterampilannya sangat terampil berjumlah 33 orang (44%).Hasil analisa bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan keterampilan perawat dalam pelaksanaan Triase dengan nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05.Diharapkan perawat dapat bekerja secara profesional,selalu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan terutama dalam pemberian pelayanan kesehatan bagi masyarakat.Dalam pelaksanaan Triase dibutuhkan keterampilan dan pengetahuan dari perawat karena harus bertindak dan mengambil keputusan secara cepat. RSUD Kota Tangerang membuka pelayanan IGD 24jam dengan kapasitas 17TT. Tujuan Penelitian ini adalah diketahuinya hubungan pengetahuan dengan keterampilan perawat dalam pelaksanaan triage di RSUD Kota Tangerang. Penelitian ini menggunakan uji Kendall’s Tau-b. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat RSUD Kota Tangerang dengan jumlah sampel sebanyak 75 responden. Hasil penelitian sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (61,3%),memiliki usia 21-30 tahun (48%), berpendidikan D3 keperawatan (74,7%),dan lama kerja responden adalah 5 – 15 tahun (65,3%). Diperoleh hasil dari 75 responden yang pengetahuannya baik sebanyak 48 orang (64%), dan responden yang keterampilannya sangat terampil berjumlah 33 orang (44%).Hasil analisa bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan keterampilan perawat dalam pelaksanaan Triase dengan nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05.Diharapkan perawat dapat bekerja secara profesional,selalu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan terutama dalam pemberian pelayanan kesehatan bagi masyaraka

    Intervensi Cogntive Behavioral Therapy Pada Pasien Dengan Gangguan Kepribadian Menghindar (Avoidant)

    Get PDF
    Gangguan kepribadian menghindar adalah salah satu bentuk dari gangguan kepribadian. Penelitian kali ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dari individu dengan gangguan kepribadian menghindar serta melihat efektifitas dari intervensi Cognitive Behavioral Therapy (CBT) pada pasien yang mengalami gangguan menghindar tersebut. Dari hasil intervensi didapat perubahan pada pikiran pasien yang mengalami distorsi kognitif, dimana pasien menyadari adanya pikiran-pikiran negative mengenai dirinya yang mempengaruhi core belief, pasien akhirnya menjadi lebih rasional, dan membiasakan diri untuk menggunakan alternative respon atas pikiran irasional yang muncul. Sebelum intervensi diberikan skor kecemasan pasien berada pada level tinggi dengan skor 36. Setelah intervensi CBT diberikan, skala kecemasan menjadi sedang berada pada skor 22.  Gangguan kepribadian menghindar adalah salah satu bentuk dari gangguan kepribadian. Penelitian kali ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dari individu dengan gangguan kepribadian menghindar serta melihat efektifitas dari intervensi Cognitive Behavioral Therapy (CBT) pada pasien yang mengalami gangguan menghindar tersebut. Dari hasil intervensi didapat perubahan pada pikiran pasien yang mengalami distorsi kognitif, dimana pasien menyadari adanya pikiran-pikiran negative mengenai dirinya yang mempengaruhi core belief, pasien akhirnya menjadi lebih rasional, dan membiasakan diri untuk menggunakan alternative respon atas pikiran irasional yang muncul. Sebelum intervensi diberikan skor kecemasan pasien berada pada level tinggi dengan skor 36. Setelah intervensi CBT diberikan, skala kecemasan menjadi sedang berada pada skor 2

    Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Gangguan Fungsi Paru Pada Petugas Parkir Di Kota Medan

    Get PDF
    Hidup manusia sangat bergantung dari lingkungannya seperti halnya udara buat pernapasan, air bersih buat minum, serta keperluan sehari-hari dan lainnya. Udara salah satu komponen lingkungan, sehingga kualitasnya mesti terjaga, di udara mengandung seluruh besar oksigen merupakan komponen terpenting untuk perkembangan hidup manusia. Makhluk hidup tanpa udara selama dua menit saja tidak akan dapat bertahan hidup.Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi gangguan fungsi paru pada petugas parkir di kota medan. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi penelitan sebanyak 30 orang petugas parkir di kota Medan. Sampel penelitian ini adalah seluruh petugas parkir di Kota Medan. Hasil sebanyak 60% pekerja mengalami gangguan fungsi paru  dan sebanyak 40% tidak mengalami gangguan fungsi paru, berdasarkan analisis menunjukkan ada hubungan antara umur ( p = 0,001), masa kerja  (p = 0,011), dan APD (p = 0,010) dengan gangguan fungsi paru pada petugas parkir di Kota Medan. Kesimpulan umur, masa kerja, dan penggunaan APD dapat menyebabkan gangguan fungsi paru di Kota Medan.Hidup manusia sangat bergantung dari lingkungannya seperti halnya udara buat pernapasan, air bersih buat minum, serta keperluan sehari-hari dan lainnya. Udara salah satu komponen lingkungan, sehingga kualitasnya mesti terjaga, di udara mengandung seluruh besar oksigen merupakan komponen terpenting untuk perkembangan hidup manusia. Makhluk hidup tanpa udara selama dua menit saja tidak akan dapat bertahan hidup.Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi gangguan fungsi paru pada petugas parkir di kota medan. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi penelitan sebanyak 30 orang petugas parkir di kota Medan. Sampel penelitian ini adalah seluruh petugas parkir di Kota Medan. Hasil sebanyak 60% pekerja mengalami gangguan fungsi paru  dan sebanyak 40% tidak mengalami gangguan fungsi paru, berdasarkan analisis menunjukkan ada hubungan antara umur ( p = 0,001), masa kerja  (p = 0,011), dan APD (p = 0,010) dengan gangguan fungsi paru pada petugas parkir di Kota Medan. Kesimpulan umur, masa kerja, dan penggunaan APD dapat menyebabkan gangguan fungsi paru di Kota Meda

    Manifestasi Kulit Pada Diabetes Melitus

    Get PDF
    Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit endokrin yang umum ditemui dengan beban yang signifikan pada pasien, sistem pelayanan kesehatan dan komunitas. Terdapat beberapa manifestasi kulit yang berhubungan dengan DM dan sedikitnya 30% pasien DM memiliki kelainan kulit selama perjalanan kronis penyakitnya. Tujuan penelitian untuk menambah pengetahuan tentang manifestasi kulit pada DM agar dapat meningkatkan prognosis penyakit melalui diagnosis dan terapi sedini mungkin. Tinjauan literatur ini dilakukan melalui penelusuran elektronik menggunakan PubMed dan Google Scholar. Digunakan kata kunci menggunakan kosakata MeSH (Medical Subject Headings) dan tidak terdapat pembatasan artikel berdasarkan tahun publikasi. Hasil penelitian dari total 46 artikel penelusuran awal, hanya 20 artikel yang memenuhi kriteria. Artikel yang tidak menyediakan informasi yang cukup dan tidak terdapat akses terhadap teks penuh tidak diikutsertakan. Semua artikel ini dipublikasikan dalam jurnal bahasa Inggris. Artikel terdiri dari 11 artikel review, 5 studi prevalensi dan 4 studi observasi. Kesimpulan penelitian Diabetes melitus berhubungan dengan kondisi dermatologis yang luas. Literatur yang ada saat ini untuk menggambarkan perubahan kutaneus yang berhubungan dengan diabetes melitus ini telah kuno sehingga perlu dibutuhkan studi yang lebih besar dengan perangkat analisis yang lebih modern untuk memahami patofisiologinya.Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit endokrin yang umum ditemui dengan beban yang signifikan pada pasien, sistem pelayanan kesehatan dan komunitas. Terdapat beberapa manifestasi kulit yang berhubungan dengan DM dan sedikitnya 30% pasien DM memiliki kelainan kulit selama perjalanan kronis penyakitnya. Bertambahnya pengetahuan tentang manifestasi kulit pada DM diharapkan dapat meningkatkan prognosis penyakit melalui diagnosis dan terapi sedini mungki

    Formulasi Sediaan Obat Kumur Dari Infusa Daun Sereh Wangi (Cymbopogon Winterianus Jowitt Ex Bor)

    Get PDF
    Daun tanaman sereh wangi (Cymbogon winterianus Jowitt ex Bor) mengandung alkaloid, saponin, tanin, polifenol, flavonoid dan minyak atsiri. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk melihat sediaan obat kumur dari infusa daun sereh wangi terhadap bakteri dan jamur penyebab karies gigi yaitu Streptococcus mutans dan jamur Candida albicans. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental. Percobaan terdiri tiga kali pengulangan dengan konsentrasi untuk infusa 20%, 30%, 40%, 50% dan 60%, kemudian konsentrasi infusa daun sereh wangi dijadikan sediaan obat kumur menjadi F0 (Basis) F1 (50%), dan F2 (60%). Evaluasi obat kumur meliputi pemeriksaan organoleptis, pH, stabilitas, dan viskositas. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sifat fisik sediaan obat kumur memberikan hasil yang baik dan memenuhi syarat sediaan obat kumur.  Daun tanaman sereh wangi (Cymbogon winterianus Jowitt ex Bor) mengandung alkaloid, saponin, tanin, polifenol, flavonoid dan minyak atsiri. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk melihat sediaan obat kumur dari infusa daun sereh wangi terhadap bakteri dan jamur penyebab karies gigi yaitu Streptococcus mutans dan jamur Candida albicans. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental. Percobaan terdiri tiga kali pengulangan dengan konsentrasi untuk infusa 20%, 30%, 40%, 50% dan 60%, kemudian konsentrasi infusa daun sereh wangi dijadikan sediaan obat kumur menjadi F0 (Basis) F1 (50%), dan F2 (60%). Evaluasi obat kumur meliputi pemeriksaan organoleptis, pH, stabilitas, dan viskositas. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sifat fisik sediaan obat kumur memberikan hasil yang baik dan memenuhi syarat sediaan obat kumu

    Mengkaji Pengaruh Pemberian Lemon Tehadap Emesis Gravidarum

    Get PDF
    Selama masa kehamilan, berbagai perubahan terjadi baik perubahan fisik maupun psikis yang memungkinkan timbulnya masalah pada kehamilan, terutama kehamilan trimester pertama. Metode literatur mancanegara ditelusuri melalui sarana media elektronik dengan penuntun kata kunci. Artikel terseleksi sejumlah 8, yang masing masing mewakili satu pengaruh lemon terhadap penurunan mual muntah pada ibu hamil dan memberi informasi yang bervariatif. Hasilnya menunjukan adanya perbedaan mual muntah pada responden sebelum dan sesudah dilakukan pemberian perlakuan dengan aromaterapi lemon. Cara mengatasi mual muntah pada saat hamil dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dapat melalui tindakan farmakologis dan non farmakologis. Tindakan non farmakologis biasanya dianjurkan oleh petugas kesehatan seperti mendorong ibu hamil untuk melakukan aromaterapi. Salah satu aromaterapi yang dapat digunakan untuk mengurangi mual muntah saat hamil yaitu aromaterapi lemon karena lemon memiliki bahan yang dapat membunuh bakteri meningokokus (meningococcus), bakteri tifus, memiliki efek antijamur dan efektif untuk menetralkan bau tidak sedap, serta menghasilkan anticemas, antidepresi, anti stres, serta untuk mengangkat dan memfokuskan pikiran. Kesimpulan penelitian yaitu berdasarkan analisa yang telah dilakukan, penggunaan aromaterapi lemon efektif untuk mengurangi mual muntah pada ibu hamil.Pendahuluan selama masa kehamilan, berbagai perubahan terjadi baik perubahan fisik maupun psikis yang memungkinkan timbulnya masalah pada kehamilan, terutama kehamilan trimester pertama. Salah satu masalah yang muncul adalah mual dan muntah yang biasa disebut morning sickness yang biasa terjadi. 60-80% wanita hamil pernah mengalami mual muntah (NVP). Salah satu alternatif untuk mengatasi mual dan muntah pada kehamilan non farmakologis adalah dengan menggunakan aromaterapi. Salah satu aromaterapi yang dapat digunakan yaitu dengan menggunakan lemon. Metode literatur mancanegara ditelusuri melalui sarana media elektronik dengan penuntun kata kunci. Artikel terseleksi sejumlah 8, yang masing masing mewakili satu pengaruh lemon terhadap penurunan mual muntah pada ibu hamil dan memberi informasi yang bervariatif. Hasil: Adanya perbedaan mual muntah pada responden sebelum dan sesudah dilakukan pemberian perlakuan dengan aromaterapi lemon. Pembahasan cara mengatasi mual muntah pada saat hamil dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dapat melalui tindakan farmakologis dan non farmakologis. Tindakan non farmakologis biasanya dianjurkan oleh petugas kesehatan seperti mendorong ibu hamil untuk melakukan aromaterapi. Salah satu aromaterapi yang dapat digunakan untuk mengurangi mual muntah saat hamil yaitu aromaterapi lemon karena lemon memiliki bahan yang dapat membunuh bakteri meningokokus (meningococcus), bakteri tifus, memiliki efek antijamur dan efektif untuk menetralkan bau tidak sedap, serta menghasilkan anticemas, antidepresi, anti stres, serta untuk mengangkat dan memfokuskan pikiran. Kesimpulan berdasarkan analisa yang telah dilakukan, penggunaan aromaterapi lemon efektif untuk mengurangi mual muntah pada ibu hamil

    Hubungan Antara Merokok Dengan Diabetes Mellitus Berdasarkan Indeks Massa Tubuh (Analisis Data Ifls 5)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada perbedaan risiko merokok terhadap diabetes mellitus berdasarkan indeks massa tubuh pada penduduk ≥ 15 tahun di Indonesia. Desain studi menggunakan cross-sectional dengan data sekunder Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia Tahun 2014 atau the Indonesia Family Life Survey Wave 5 (IFLS5) yang dilaksanakan oleh RAND dan Survey Meter di 13 provinsi pada tahun 2014-2015, dengan total sampling sebesar 6.302 responden. Variabel yang diteliti adalah diabetes mellitus sebagai variabel dependen dan status merokok yang distratifikasi berdasarkan indeks massa tubuh sebagai variabel independen. Sementara itu, variabel kovariat terdiri dari umur, jenis kelamin, status pernikahan, status hipertensi, jumlah batang rokok yang dihisap perhari, dan lama merokok. Analisis menggunakan regresi logistik dengan 95% CI. Prevalensi diabetes mellitus (undiagnozed diabetes mellitus/UDDM) dalam penelitian ini adalah sebesar 6,6%. Sementara itu, prevalensi merokok adalah 5,2% mantan perokok dan 29,6% perokok aktif. Pada responden dengan IMT kurus, risiko DM pada perokok aktif (OR = 2,22; 95% CI 0,45-10,97) berbeda dengan risiko DM pada mantan perokok (OR = 0,50; 95% CI 0,04-6,00), tetapi keduanya tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Sementara itu, pada responden yang obesitas, risiko DM antara mantan perokok (OR = 2,04; 95% CI 0,95-4,37) dengan perokok aktif (OR = 1,94; 95% CI 1,01-3,72) hampir sama, dimana keduanya menunjukkan hubungan yang positif. Sementara itu, pada responden dengan IMT normal dan IMT kegemukan, risiko DM pada perokok aktif dan mantan perokok tidak berbeda dengan bukan perokok. Ketika distratifikasi berdasarkan IMT, risiko DM pada perokok aktif dan mantan perokok terlihat berbeda. Namun, hasil ini mungkin dipengaruhi dengan kurangnya informasi terhadap potential confounding lainnya, terutama pada variabel yang diketahui berkaitan dengan diabetes mellitus, seperti lemak sentral.  Penelitian ini bertujuan untuk menilai risiko merokok terhadap diabetes mellitus berdasarkan indeks massa tubuh pada penduduk ≥ 15 tahun di Indonesia. Desain studi menggunakan cross-sectional dengan data sekunder Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia Tahun 2014 atau the Indonesia Family Life Survey Wave 5 (IFLS5) di 13 provinsi pada tahun 2014-2015, dengan total sampling sebesar 6.302 responden. Variabel yang diteliti adalah diabetes mellitus sebagai variabel dependen dan status merokok sebagai variabel independen. Sementara itu, variabel kovariat terdiri dari umur, jenis kelamin, status pernikahan, status hipertensi, jumlah batang rokok yang dihisap perhari, dan lama merokok. Analisis menggunakan regresi logistik dengan 95% CI. Prevalensi DM dalam penelitian ini adalah sebesar 6,6%. Sementara itu, prevalensi perokok aktif adalah 29,6%. Pada responden kurus dengan IMT < 18,5 kg/m2, risiko DM pada perokok aktif (OR = 2,22; 95% CI 0,45-10,97) berbeda dengan risiko DM pada mantan perokok (OR = 0,50; 95% CI 0,04-6,00) jika dibandingkan dengan bukan perokok, tetapi keduanya tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Sementara itu, pada responden yang obesitas, risiko DM antara mantan perokok (OR = 2,04; 95% CI 0,95-4,37) dengan perokok aktif (OR = 1,94; 95% CI 1,01-3,72) hampir sama, dimana keduanya menunjukkan hubungan yang positif. Sementara itu, pada responden dengan IMT normal dan IMT kegemukan, risiko DM pada perokok aktif dan mantan perokok tidak berbeda dengan bukan perokok. Penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan risiko DM yang signifikan pada perokok aktif maupun mantan perokok jika dikategorikan berdasarkan status IMT

    Hubungan Tingkat Kepatuhan dengan Tingkat Kekambuhan Gangguan Jiwa Puskesmas Sepatan dan Kedaung Tangerang Tahun 2020

    Get PDF
    In patients with mental disorders, almost all patients experience recurrence repeatedly. Data from medical records at the Sepatan Health Center, the presentation of recurrence of mental illness patients at the Sepatan Health Center in 2019 was 26.8%. The same was true for the Kedaung Barat Puskesmas at 22%. To determine the relationship between the level of control adherence and the recurrence rate of mental disorders clients at the Sepatan Public Health Center and the Kedaung Barat Tangerang Public Health Center in 2020. Including an analytical survey with a cross sectional approach. The population in this study were all schizophenia patients at the Sepatan Health Center and the Kedaung Barat Health Center, Tangerang Regency in 2020, as many as 109 people. Samples were taken based on the slovin as many as 109 respondents. This study used univariate and bivariate analysis with the Chi Square test. Based on univariate analysis of 109 people, the majority with mental disorders clients who did not relapse were 58 people (53.2%), and the adherence level of adherent controls was 61 people (56%). The results of the bivariate analysis with the chi square test found that there was a relationship between control compliance (p-value 0.000), with mental disorders client recurrence. There is a relationship between the level of control adherence with the recurrence rate of mental disorders clients, with a possible rate of 29,871. It is hoped that it can provide information and be able to provide education on nursing services, especially for the client's family of mental disorders to motivate clients with mental disorders to comply with control.Pada pasien gangguan jiwa, hampir semua pasien mengalami kekambuhan berulang kali. Data dari catatan medik di Puskesmas Sepatan presentasi kekambuhan pasien gangguan jiwa di Puskesmas Sepatan tahun 2019 sebesar 26,8%. Begitu pula di Puskesmas Kedaung Barat sebesar 22 %. Tujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kepatuhan kontrol dengan tingkat kekambuhan klien gangguan jiwa di Puskesmas Sepatan dan Puskesmas Kedaung Barat Tangerang tahun 2020. Termasuk survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien skizofenia di Puskesmas Sepatan dan Puskesmas Kedaung Barat Kabupaten Tangerang tahun 2020, yaitu sebanyak 110 orang. Sampel diambil berdasarkan rumus slovin yaitu sebanyak 109 responden. Penelitian ini menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi Square. Berdasarkan analisis univariat dari 109 orang, mayoritas dengan klien gangguan jiwa yang tidak kambuh sebanyak 58 orang (53,2%), dan tingkat kepatuhan kontrol yang patuh sebanyak 61 orang (56%). Hasil analisis bivariat dengan uji chi square didapat ada hubungan antara kepatuhan kontrol (p-value 0,000), dengan kekambuhan klien gangguan jiwa. Kesimpulan penelitian ada hubungan antara tingkat kepatuhan kontrol dengan tingkat kekambuhan klien gangguan jiwa, dengan tingka tkemungkin terjadi sebesar 29,871. Diharapkan dapat memberikan informasi dan dapat memberikan edukasi pelayanan keperawatan khususnya pada keluarga klien gangguan jiwa untuk memotivasi klien gangguan jiwa untuk patuh kontrol

    Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid pada Tanaman

    Get PDF
    Isolation of flavonoid compounds can be done in various stages. In this study, a literature study was done to determine the procedure for the Isolation and Identification of Flavonoid Compounds. The procedure usually begins with a phytochemical test (screening) first. Flavonoid phytochemical tests can be done with various types of tests, Bate Smith-Matcalfe test, 10% NaOH test, and Wilstatter test. It can be done with all of the tests or just one of them. The first step is extraction with a suitable solvent. The suitable solvents for the isolation of flavonoid compounds are polar and semi-polar solvents. Extraction of plant compounds for isolated flavonoid compounds used the maceration method. Maceration carried out for 72 hours while stirring every 24 hours. After that the extract was concentrated with a rotary vacuum evaporator. The next step is fractionation. For the fractionation of isolated flavonoid compounds, it can be done by the methods of Liquid-Liquid Extraction, Vacuum Liquid Chromatography, Column Chromatography, and Thin Layer Chromatography. Solvents that can be used in this step vary, depending on the method. Then, isolate be monitored to determine the type of flavonoid contained in the isolate. The methods that can be used in this step are UV-Vis Spectrophotometer, HNMR, and FTIR spectrophotometer. You can use one method or two methods.Isolasi dan identifikasi senyawa flavonoid dilakukan dalam berbagai tahap. Pada penelitian kali ini, dilakukan studi literatur untuk mengetahui bagaimana prosedur Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid. Prosedur biasanya diawali dengan uji fitokimia (skrining) dahulu. Uji fitokimia flavonoid dapat dilakukan dengan berbagai jenis uji, uji Bate Smith-Matcalfe, uji dengan NaOH 10%, dan uji Wilstatter. Bisa dilakukan ketiganya atau hanya salah satunya. Tahap pertama adalah ekstraksi dengan pelarut sesuai. Pelarut yang sesuai untuk isolasi senyawa flavonoid adalah pelarut polar dan semi-polar. Ekstraksi senyawa tanaman untuk isolasi flavonoid digunakan metode maserasi. Maserasi dilakukan selama 72 jam sambil dilakukan pengadukan setiap 24 jam. Setelah itu ekstrak dipekatkan dengan alat rotary vacum evaporator. Tahap selanjutnya yaitu fraksinasi. Untuk fraksinasi dalam isolasi senyawa flavonoid, dapat dilakukan dengan metode Ekstraksi Cair-Cair, Kromatografi Cair Vakum, Kromatografi Kolom, dan Kromatografi Lapis Tipis. Pelarut yang dapat digunakan dalam tahap ini bermacam-macam, tergantung dari metode yang digunakan. Selanjutnya dilakukan identifikasi isolat untuk mengetahui jenis flavonoid yang terdapat pada isolat. Metode yang dapat digunakan dalam tahap ini adalah Spektrofotometer UV-Vis, H-NMR, dan spektrofotometer FTIR. Bisa dengan satu metode ataupun dua metode

    Isolasi Senyawa Alkaloid Bahan Alam

    Get PDF
    This study aims to isolate and identify alkaloid group compounds from some plant samples used. Alkaloid compounds are the most common organic compounds found in nature. This method of review literature study comes from library reviews and other studies by collecting a variety of relevant literature. Almost all alkaloids are native to plants and are widespread in various types of plants. Examination of plants containing alkaloids there are several stages, namely drying, extraction, fractionation, and isolation. Isolation of alkaloid compounds can be done using several methods. In the extraction process used 3x24 hours maceration method, then the fractionation process using Vacuum Liquid Chromatography (KCV) with the silent phase of silica gel and n-hexan motion phase: ethyl acetate and fractions are isolated again using Gravitational Column Chromatography (KKG) with a silent phase of silica gel and nheksan motion phase: ethyl acetate. The fraction is analyzed for purity using Thin Layer Chromatography (KLT) with a still phase of silica gel254.Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa golongan alkaloid dari beberapa sampel tumbuhan yang dipakai. Metode studi literatur review ini berasal dari tinjauan pustaka dan studi lainnya dengan mengumpulkan berbagai literatur yang relevan. Senyawa alkaloid merupakan senyawa organik terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Pemeriksaan pada tanaman yang mengandung alkaloid terdapat beberapa tahapan, yaitu pengeringan, ekstraksi, fraksinasi, dan isolasi. Isolasi senyawa alkaloid dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode. Dalam proses ekstraksi digunakan metode maserasi 3x24 jam, selanjutnya proses fraksinasi menggunakan Kromatografi Cair Vakum (KCV) dengan fase diam silika gel dan fase gerak n-heksan: etil asetat dan fraksi tersebut diisolasi lagi menggunakan Kromatografi Kolom Gravitasi (KKG) dengan fase diam silika gel dan fase gerak nheksan: etil asetat. Fraksi tersebut dianalisis kemurniannya menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dengan fase diam silika gel254

    637

    full texts

    676

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Health Sains (JHS)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇