Jurnal Health Sains (JHS)
Not a member yet
676 research outputs found
Sort by
Manfaat Ekstrak Buah Delima (Punica Granatum L.) Sebagai Zat Aktif dalam Formulasi Sediaan Kosmetika
Pomegranate or often known as pomegranate (Punica granatum L) is a fruit belonging to the Punicaceae family which contains anthocyanins. Pomegranates generally have a red color produced by anthocyanin flavonoid compounds or natural color pigments which are usually safe to use as a substitute for synthetic dyes. In Indonesia, there are three types of pomegranate that grow in Indonesia, namely red, white and black pomegranates. The methanol extract in pomegranate plays a role in antioxidant activity while the color pigment in pomegranate can be used as a natural dye in the manufacture of various cosmetics. In this study, the identification of the benefits of pomegranate as a natural ingredient in the manufacture of cosmetics, samples using various journals and articles were reviewed and summarized into a single unit and summarized into a complete journal review.Buah delima atau sering dikenal sebagai pomegranate (Punica granatum L) merupakan buah yang termasuk dalam famili Punicaceae yang mengandung antosianin. Buah delima umumnya memiliki warna merah yang dihasilkan oleh senyawa flavonoid antosianin atau pigmen warna alami yang biasanya aman digunakan sebagai pengganti pewarna sintetis. Di Indonesia buah delima yang tumbuh beragam sekiranya ada tiga kurva jenis delima yang tumbuh di Indonesia yaitu buah delima merah, putih, dan hitam. Ekstrak metanol dalam buah delima berperan dalam aktivitas antioksidan sedangkan pigmen warna dalam buah delima dapat digunakan sebagai pewarna alami dalam pembuatan berbagai kosmetika. Dalam penelitian ini dilakukan identifikasi manfaat buah delima sebagai bahan alami dalam pembuatan kosmetika, sampel menggunakan berbagai jurnal dan artikel yang dikaji dan dirangkum menjadi kesatuan dan dirangkum menjadi sebuah review jurnal yang utuh
Impact of The Covid-19 Pandemic on The Psychology of Health Workers
Corona virus severe acute respiratory syndrome was first released on December 31, 2019 the corona virus spread to many countries around the world. The COVID-19 pandemic has put healthcare workers around the world on the front lines, putting healthcare workers under pressure. The purpose of this study is to review articles regarding the impact of the COVID-19 pandemic on the psychology of health workers.
The scoping review obtained data from Pubmed, Sciencedirect and Wiley with Appraisal studies and using Critical Appraisal Hawker, using the PEOs framework.
nine articles discuss the impact of psychology on health workers. Anxiety and depression are felt due to fatigue, busy working hours make work results poor and health workers receive less pandemic training. Risk factors for anxiety are fear of infection, community stigma so that health workers feel a lack of social support and no access to mental health services such as psychiatrists.
The results of 9 articles that have been reviewed by researchers have the impact of COVID 19 on health workers and risk factors for anxiety during the COVID 19 period. The impact of covid on health workers is anxiety and depression, negative work results and training in handling COVID. The risk factors for anxiety are being a health worker, community stigma and limited access to mental health services
PPI Program For Treating Antimicrobial Resistance
The problem of antimicrobial resistance is a big thing in health services both in hospitals and in the community. The purpose of organizing the PPI program is to be able to find findings and reduce the possibility of infections that occur in groups of patients, employees, medical and non-medical personnel, permanent staff, part-time staff and volunteers, students and other hospital consumer
The Effect of Educational Intervention of Infant Massage Through Android Application on The Growth and Development of Infants Aged 6 to 12 Months at Anny Rahardjo Main Clinic in 2022
Optimal growth and development is the result of the interaction of various interrelated factors, namely genetic, environmental and behavioral factors, as well as useful stimuli. One of stimulations that can be done is baby massage. Baby massage provides many benefits if it is done regularly and directed, so it is better for parents - who is always close to the baby, to do baby massage. In order for parents to be able to do baby massage properly, education is needed. Along with technological developments, the use of Android can be used as a medium for health educational information. Several studies show that the use of technology based on mobile applications and the internet has proven to be effective in increasing people's knowledge and behavior. This research was conducted by taking data on postpartum mothers who visited the Anny Rahardjo Main Clinic who were given baby massage education through an android-based application for the intervention group and the control group through baby massage guidelines. The design of this study used a Quasi Experimental Group with Pretest-Posttest Control Design. In the specified time period, the intervention group was given treatment. After the treatment was completed, measurements were made for both groups. The number of respondents was 60 people, consisting of 30 control groups and 30 intervention groups. The conclusion of this research using the baby massage android application showed positive results, with a guide that can be accessed whenever and wherever it makes parents do baby massage regularly and directed, so that there was a significant increase in the average of baby weight and baby development, and there was an influence of Baby Massage Educational Interventions through android applications on baby development.Pertumbuhan dan perkembangan yang optimal merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling berkaitan yaitu faktor genetik, lingkungan dan perilaku, serta rangsangan atau stimulasi yang berguna. Salah satu bentuk stimulasi yang dapat dilakukan dengan pijat bayi. Pijat bayi memberikan banyak manfaat jika dilakukan secara teratur dan terarah, sehingga pijat bayi ini lebih baik dilakukan oleh orang tua yang senantiasa dekat dengan bayi. Agar orangtua mampu melakukan pijat bayi dengan benar diperlukan pemberian edukasi. Seiring dengan perkembangan teknologi, pemanfaatan penggunaan Android bisa digunakan sebagai media informasi edukatif kesehatan. Beberapa studi menunjukan bahwa pemanfaatan teknologi berbasis aplikasi mobile dan internet terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data Ibu Nifas yang melakukan kunjungan di Klinik Utama Anny Rahardjo yang diberikan edukasi pijat bayi melalui aplikasi berbasis android untuk kelompok Intervensi dan kelompok kontrol melalui pedoman pijat bayi. Rancangan penelitian ini menggunakan Quasi Experimental Group dengan Pretest-Pottest Control Design. Pada kurun waktu yang telah ditentukan kelompok intervensi tersebut diberikan perlakuan. Setelah perlakuan selesai, dilakukan pengukuran terhadap kedua kelompok. Jumlah responden 60 orang, yang terdiri dari 30 kelompok Kontrol dan 30 Kelompok Intervensi. Kesimpulan penelitian penggunaan aplikasi android pijat bayi ini menunjukkan hasil yang positif, dengan adanya panduan yang dapat di akses kapanpun dan dimanapun membuat orang tua melakukan pijat bayi secara teratur dan terarah, sehingga terdapat peningkatan yang signifikan rerata berat badan bayi dan perkembangan bayi, serta terdapat pengaruh Intervensi Edukasi Pijat Bayi melalui aplikasi android terhadap perkembangan bayi
A Systematic Scoping Review Of Malaria Prevention Programs In Pregnancy
There are few guidelines for health workers to follow when providing and managing malaria prevention therapy during pregnancy, but due to a lack of effective treatment options, malaria management during pregnancy has become non-standard in many countries. This study aims to assess the malaria prevention program in pregnancy, including its advantages, challenges, and obstacles. It was carried out using a systematic scoping review of the literature to identify publications that addressed the prevention program. A structured search was conducted on different databases using predefined eligibility criteria for the 17 selected articles. Malaria prevention programs in pregnancy are effective, but they must be integrated and involve the community. Various countries are having difficulty implementing WHO-recommended strategies, such as Long-Lasting Insecticide Nets (LLINs), antimalarial drugs, and Rapid Diagnostic Tests. Therefore it is necessary to develop an integrated program to prevent and treat malaria in pregnancy.Ada beberapa pedoman bagi petugas kesehatan untuk mengikuti ketika memberikan dan mengelola terapi pencegahan malaria selama kehamilan, tetapi karena kurangnya pilihan pengobatan yang efektif, manajemen malaria selama kehamilan menjadi tidak standar di banyak negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji program pencegahan malaria pada kehamilan, termasuk kelebihan, tantangan, dan hambatannya. Itu dilakukan dengan menggunakan tinjauan literatur yang sistematis untuk mengidentifikasi publikasi yang membahas program pencegahan. Pencarian terstruktur dilakukan pada database yang berbeda menggunakan kriteria kelayakan yang telah ditentukan untuk 17 artikel terpilih. Program pencegahan malaria pada kehamilan efektif, tetapi harus terpadu dan melibatkan masyarakat. Berbagai negara kesulitan menerapkan strategi yang direkomendasikan WHO, seperti Jaring Insektisida Tahan Lama (LLINs), obat antimalaria, dan Tes Diagnostik Cepat. Oleh karena itu perlu dikembangkan program terpadu untuk pencegahan dan pengobatan malaria pada kehamilan
Peran Tenaga Teknis Kefarmasian dalam Pelayanan Kefarmasian (Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Farmasi Klinik)
Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) are health workers who have the authority and competence in assisting the pharmacist profession in providing clinical pharmacy services at pharmacies. Pharmacists in performing clinical pharmacy services have limited authority. The services provided by TTK are under the supervision and responsibility of the pharmacist. This study aims to figure the role of TTK in providing pharmaceutical services in pharmacies. Data analysis was carried out descriptively and presented in the form of tables and narratives. This research is non-experimental descriptive research. Samples were taken as many as 42 pharmacies from 72 pharmacies in the Tegal City based on a random sampling method with simple random sampling. Data were collected through questionnaires filled out by respondents. The results showed that the role of TTK in pharmaceutical preparations’ management activities in Tegal City pharmacies had not been implemented optimally, especially on planning indicators, the average role of TTK in the management of pharmaceutical preparation was 59.1%. The role of TTK in clinical pharmacy services has been carried out well. The average role of TTK in clinical pharmacy services is 86.9%. Evaluation of pharmaceutical services is still less than ideal, indicated by 16.6% of pharmacies that already have standard operating proceduresTenaga teknis kefarmasian (TTK) merupakan tenaga kesehatan yang memiliki kewenangan dan kompetensi dalam membantu profesi apoteker dalam menyelenggarakan pelayanan farmasi di apotek. TTK dalam melakukan pelayanan farmasi memiliki kewenangan yang terbatas. Pelayanan yang dilakukan oleh TTK dibawah supervisi dan tanggung jawab apoteker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran TTK dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian di apotek. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non-experimental. Sampel yang diambil sebanyak 42 apotek dari 72 apotek yang berada di Kota Tegal berdasarkan metode random sampling dengan pengambilan secara simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuisioner yang diisi oleh responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran TTK dalam aktivitas penggelolaan sediaan farmasi di apotek Kota Tegal belum dilaksanakan secara optimal terutama pada indikator perencanaan, rerata peran TTK dalam pengelolaan sediaan farmasi sebesar 59,1%. Peran TTK dalam pelayanan farmasi klinik sudah dilaksanakan dengan baik, Rerata peran TTK dalam pelayanan farmasi klinik sebesar 86,9%. Evaluasi pelayanan kefarmasian masih kurang optimal dilakukan, ditandai dengan 16,6% apotek yang telah memiliki standar operasional prosedur
Kombinasi Insulin Basal Dengan GLP-1 RA Dalam FRC (IGLARLIXI) Terhadap Pencapaian Target DM Tipe 2
Management of diabetes melitus in Indonesia still needs to be improved, the presence of inertia at the time of initiation and intensification of insulin makes the HbA1c target not achieved (<7%). The use of basal insulin often does’nt give satisfactory results, seen from providing HbA1c, the risk of hypoglycemia, and weight gain. The purpose of this literature is to discuss the combination of basal insulin with GLP-1RA (iGlarLixi). Methods The writing of this literature uses a narrative review. Based on a review that has been reviewed, the use of iGlarLixi is superior to insulin alone in the treatment of DM. iGlarLixi provides HbA1c targets <7% more achieved, the risk of hypoglycemia that often occurs with basal insulin use, weight gain also didn’t occur and conversely iGlarLixi can provide a weight loss effect. iGlarLixi can be the first choice in patients with type 2 diabetes who are not controlled with insulinPengelolaan diabetes melitus di Indonesia masih perlu ditingkatkan, adanya inersia pada saat inisiasi dan intensifikasi insulin membuat tidak tercapainya target HbA1c (<7%). Adapun penggunaan insulin basal seringkali tidak memberikan hasil yang memuaskan, dilihat dari pencapaian HbA1c, resiko hipoglikemia, dan peningkatan berat badan. Tujuan tinjauan pustaka ini adalah untuk membahas mengenai kombinasi insulin basal dengan GLP-1RA (iGlarLixi). Metode penulisan tinjauan pustaka ini menggunakan narrative review. Berdasarkan review yang telah ditelaah, penggunaan iGlarLixi lebih superior dibandingkan hanya insulin dalam terapi DM. iGlarLixi memberikan target HbA1c <7% lebih banyak dicapai, resiko hipoglikemia yang seringkali dikhawatirkan pada penggunaan insulin basal, juga lebih jarang terjadi dan peningkatan berat badan juga tidak terjadi, dan sebaliknya iGlarLixi dapat memberikan efek penurunan berat badan. iGlarLixi dapat menjadi pilihan utama pada pasien DM tipe 2 yang tidak terkontrol dengan insuli
Tinjauan Sistem Informasi Ena Di Puskesmas Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara
The Penjaringan sub-district health center, North Jakarta, has implemented the ENA information system for all forms of data recording, medical records, and other health services. Problems that have often occurred in the ENA information system since 2017 are the system update process and the validation process. This study aimed to determine the application or function and Standard Operating Procedures of the ENA information system. The method used is qualitative with the type of descriptive research. Informants in this study were puskesmas officers with more than two years of service. The results showed that the ENA information system was good enough because it complied with the established Standard Operating Procedures. Some services on the ENA information system, such as the validation of the BPJS (P-Care) system, are not optimal because the validation process depends on the internet network provided. Internal training on the ENA information system needs to be carried out due to changes or developments in system features. Antivirus and network security need to be improved again for data security and reducing the risk of software damage that affects computer performancePuskesmas kecamatan Penjaringan Jakarta Utara telah menerapkan sistem informasi ENA untuk segala bentuk kegiatan pencatatan data, rekam medis, dan layanan kesehatan lainnya. Permasalahan yang sering terjadi pada sistem informasi ENA sejak tahun 2017 adalah proses update sistem, dan proses validasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan atau proses, dan Standar Prosedur Operasional sistem informasi ENA. Metode yang digunakan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Informan pada penelitian ini adalah petugas puskesmas dengan masa kerja lebih dari dua tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem informasi ENA sudah cukup baik karena sesuai dengan Standar Prosedur Operasional yang telah ditetapkan. Beberapa layanan pada sistem informasi ENA, seperti validasi sistem BPJS (P-Care) kurang maksimal karena proses validasi tergantung pada jaringan internet yang di sediakan. Pelatihan secara internal terhadap penggunaan sistem informasi ENA perlu dilakukan, karena adanya perubahan atau perkembangan fitur-fitur sistem. Antivirus dan keamanan jaringan menjadi hal yang perlu di tingkatkan lagi untuk keamanan data dan mengurangi resiko kerusakan perangkat lunak yang mempengaruhi kinerja komputer
Pengujian Beban Kerja Sebagai Variabel Intervening dalam Hubungan Ambiguitas Peran dan Budaya Organisasi Terhadap Stres Kerja pada Tenaga Kesehatan Di Rumah Sakit Angkatan Darat X
Human resources are the most important asset in the organization because of the role of employees in maintaining and improving performance. Job stress is a situation related to work factors that can cause changes to a person's psychological or physiological condition. The purpose of this study was to analyze the effect of role ambiguity and organizational culture on work stress with workload as an intervening variable on health workers at Army Hospital X. The method in this study was quantitative associative using a questionnaire given to health workers at Army Hospital X. Statistical analysis using Pearson correlation test followed by multiple linear regression test with and without workload variables. Pearson correlation test analysis shows the correlation coefficient between variables is greater than 0.60 (significance level <0.001) so that there is a relationship between the variables tested. The results of multiple linear regression test with a workload variable determination coefficient of 0.611, while without a workload variable of 0.603. There is a significant influence between variables in this study. Role ambiguity, workload, and organizational culture have an effect on work stress together. However, the role of the workload variable becomes small or even disappears because the influence of the role ambiguity variable and organizational culture on work stress is very large. The beta coefficient of organizational culture is the largest (0.311) among the other two variables so that organizational culture is the variable that has the most influence on the emergence of work stress. Role ambiguity and organizational culture have a significant effect on work stress, while workload is not an intervening variable for health workers at Army Hospital XSumber daya manusia adalah aset terpenting di dalam organisasi karena adanya peranan karyawan dalam menjaga dan meningkatkan kinerja. Stres kerja adalah situasi berhubungan dengan faktor pekerjaan yang dapat menimbulkan perubahan kepada kondisi psikologis atau fisiologis seseorang. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh ambiguitas peran dan budaya organisasi terhadap stres kerja dengan beban kerja sebagai variabel intervening pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit Angkatan Darat X. Metode pada penelitian ini adalah kuantitatif asosiatif menggunakan kuesioner yang diberikan kepada tenaga kesehatan di RS Angkatan Darat X. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Pearson dilanjutkan dengan uji regresi linear berganda dengan dan tanpa variabel beban kerja. Analisis uji korelasi Pearson menunjukkan koefisien korelasi antar variabel lebih besar dari 0.60 (taraf signifikansi <0.001) sehingga terdapat hubungan antar variabel yang diuji. Hasil uji regresi linear berganda dengan koefisien determinasi variabel beban kerja sebesar 0.611, sedangkan tanpa variabel beban kerja sebesar 0.603. Terdapat pengaruh signifikan antar variabel pada penelitian ini. Ambiguitas peran, beban kerja, dan budaya organisasi memiliki pengaruh terhadap stres kerja secara bersama-sama. Namun, peran variabel beban kerja menjadi kecil atau bahkan hilang karena pengaruh variabel ambiguitas peran dan budaya organisasi terhadap stres kerja sangat besar. Besar koefisien beta budaya organisasi paling besar (0.311) di antara dua variabel lainnya sehingga budaya organisasi adalah variabel yang paling berpengaruh terhadap timbulnya stres kerja. Ambiguitas peran dan budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap stres kerja, sedangkan beban kerja bukan sebagai variabel intervening pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit Angkatan Darat
Penerapan Metode TAM (Technology Acceptance Model) dalam Aktualisasi Sistem Informasi Rumah Sakit (SIMRS)
In recent years, information technology has become part of the power to run business activities. However, very few studies have examined the influence of the use of information technology SIMRS (Hospital Information System) in carrying out service operations in hospitals. The purpose of this research is to empirically examine the perceptions that influence the use of the SIMRS application for service operations at UKI Hospital Jakarta. The perceptions studied were: perceptions of benefits, perceptions of ease of use, and perceptions of user behavior. The model used to test technology acceptance is the Technology Acceptance Model (TAM). This study uses a quantitative approach using an ordinal scale in the form of a Likert scale 1-4. This type of research is an analytic study with a cross sectional design that was tested using SEM. The results show that perceived usefulness and perceived ease of use affect the actual use of the system. While the perception of user behavior has no significant effectBeberapa tahun terakhir, teknologi informasi telah menjadi bagian kekuatan untuk menjalankan kegiatan bisnis. Namun, sedikit sekali penelitian yang menguji sejauh mana pengaruh pemanfaatan teknologi informasi SIMRS (Sistem Informasi Rumah Sakit) dalam menjalankan operasional layanan di rumah sakit. Tujuan penelitian adalah menguji secara empiris mengenai persepsi yang memengaruhi pemanfaatan aplikasi SIMRS bagi operasional layanan di RS UKI Jakarta. Persepsi yang diteliti adalah: persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan, dan persepsi perilaku pengguna. Model yang digunakan untuk menguji penerimaan teknologi adalah Technology Acceptance Model (TAM). Penelitian ini menggunakan Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memakai skala ordinal berupa skala Likert 1-4. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan rancangan cross sectional yang diuji menggunakan SEM. Hasilnya menunjukkan bahwa persepsi manfaat dan persepsi kemudahan penggunaan berpengaruh pada penggunaan aktual sistem. Sedangkan persepsi perilaku pengguna tidak berpengaruh secara signifika