EKSIBANK (Ekonomi Syariah dan Bisnis Perbankan - E-Journal)
Not a member yet
250 research outputs found
Sort by
Analisis Jual Beli Manggis Sistem Borongan Sekali Musim Panen Dalam Perspektif Ekonomi Syari’ah Di Desa Wanasari Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta
The purpose of this study is to determine the mangosteen buying and selling system in bulk with the agreement of the mangosteen harvest season agreement is appropriate based on the Shari\u27a contract or there is still a element of gharar in buying and selling mangosteen. The research method used is a qualitative method with a descriptive type case study approach. The technique of data collection is done by triangulation, which is collecting data about the mangosteen trading system in bulk through observation, interviews, and documentation to mangosteen sellers and buyers in the place. Then the results of the study will be analyzed by reducing data, presenting data and drawing conclusions. The results of this study indicate that the sale and purchase of mangosteen in bulk using the contract agreement once the harvest season, done before the mangosteen is feasible to be harvested with the surrender agreement mangosteen submitted when the harvest season arrives on condition that the mangosteen bears fruitful, while the transfer of money is done when the initial contract occurs. If the fruit harvest fails, the buyer\u27s money does not return, but waits for the next bushy mangosteen harvest. Buying and selling mangosteen in bulk in an Islamic economic perspective, including buying and selling gharar or buying and selling supernatural because it does not meet the requirements and the harmony of the sale, there is no clarity in the submission of mangosteen. Advice from the author, buying and selling mangosteen is better done when the mangosteen is harvestable, in order to avoid buying and selling gharar.Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui sistem jual beli manggis secara borongan dengan akad perjanjian sekali musim panen manggis sudah sesuai berdasarkan akad Syari’ah atau masih terdapat unsur gharar dalam jual beli manggis ini.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi, yaitu mengumpulkan data tentang sistem jual beli manggis secara borongan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi kepada penjual dan pembeli manggis di tempat tersebut. Kemudian hasil dari penelitian akan dianalisis dengan cara mereduksi data, melakukan penyajian data dan menarik kesimpulan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa jual beli manggis secara borongan dengan menggunakan akad perjanjian sekali musim panen, dilakukan sebelum manggis layak dipanen dengan perjanjian penyerahan manggis diserahkan ketika musim panen tiba dengan syarat manggis berbuah lebat, sedangkan penyerahan uang dilakukan ketika terjadi awal akad. Apabila gagal panen buah lebat, maka uang pembeli tidak kembali, tetapi menunggu panen manggis lebat berikutnya. Jual beli manggis secara borongan dalam perspektif ekonomi Islam termasuk jual beli gharar atau jual beli ghaib karena tidak memenuhi syarat dan rukun jual beli, tidak ada kejelasan dalam penyerahan manggis.
Saran dari penulis, jual beli manggis lebih baik dilakukan ketika manggis sudah layak dipanen, guna menghindari gharar jual beli
Manajemen Risiko Likuiditas Pada Perbankan Syariah
Manajemen likuiditas yang membahas mengenai posisi uang kas suatu bank dan kemampuannya untuk memenuhi kewajiban (membayar utang) tepat waktu. Manajemen likuiditas merupakan salah satu fungsi terpenting yang dilakukan oleh lembaga perbankan, dan bertujuan untuk mepelajari masalah resiko likuiditas dan harus bisa mengendalikan likuiditas dalam suatu perbankan syariah. Pentingnya penilaian atas likuiditas suatu bank, merupakan salah satu cara untuk bisa menentukan apakah bank tersebut dalam kondisi yang sehat, cukup sehat, kurang sehat, dan tidak sehat. Salah satu penyebab kebangkrutan suatu bank adalah karena ketidak mampuannya dalam memenuhi kebutuhan likuiditasnya
Manajemen Risiko Operasional Pada Perbankan Syariah Di Indonesia
Manajemen risiko operasional merupakan risiko kerugian yang diakibatkan oleh proses internal yang kurang memadai, kegagalan proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian kejadian eksternal yang memengaruhi operasional bank. Manajemen Risiko Operasional untuk meminimalkan kemungkinan dampak negatif dari tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau kejadian-kejadian eksternal. Untuk mencapai tujuan operasinya, bank syariah harus mempertimbangkan risiko operasional yang bisa mempengaruhi kinerja operasinya, termasuk risiko kerugian yang terjadi dari ketidakcukupan atau proses internal yang gagal, SDI, dan sistem dari kejadian eksternal
Manajemen Risiko Kepatuhan pada Perbankan Syariah Di Indonesia
Kepatuhan sudah menjadi suatu keharusan dalam bisnis perbankan. Bahkan dapat menjadi sebuah isu global saat ini atupun dimasa yang akan datang maka dari itu bank harus memenejemen dengan baik karena manajemen risiko ini merupakan upaya penting yang harus dilakukan oleh setiap lembaga keuangan atau bank, sebagai upaya meminimalisir kerugian akibat risiko yang terjadi. Upaya yang harus dilakukan oleh bank Islam dalam menyalurkan pembiayaan tersebut adalah manajemen risiko. Manajemen risiko merupakan upaya yang dilakukan oleh orang atau lembaga dalam mengantisipasi permasalahan-permasalahan yang bisa saja timbul dalam suatu pekerjaan atau bisnis. Manajemen risiko di bank syariah telah diatur oleh bank Indonesia dalam rangka menjaga eksistensi dan meningkatkan kualitas bank syariah. Strategi SWOT yang dapat ditempuh adalah dengan memperkuat regulasi internal bank, merekrut karyawan yang kompeten, revitalisasi yang maksimal dan ketat, membangun sistem manajemen risiko yag handal, mengutamakan pembiayaan di sektor UMKM/SME, melakukan emosional servis, meningkatkan kemampuan FRM, penerapan office channeling, memperkuat klausul perjanjian
Profitability Analysis PT. BRI Syariah Bank Period 2009-2018 (Judging From The Effect Of Financing To Deposit Ratio And Non Performing Financing Against Return On Assets)
The world Bank states that the global economy slow down to 2,9% in 2018. Bank profitability growth in Indonesia slowed as identified through Return On Asset printed by ten large banks until Q3 2018. The aims of this research are to analyze the influence financing to deposit ratio and non performing finance into return on asset. The independent variables in this research are financing to deposit ratio and non performing finance, and the dependent variable is return on asset. The approach of this research was a descriptive quantitative. The data used are secondary data, obtained from published financial statements of BRI Syariah Bank between 2009 – 2018. The technique to analyze the data is multiple linier regression. Based on the result of the analysis showed that financing to deposit ratio variabel has negative influence into return on asset. Based on the result of the analysis showed that non performing finance variable has negative influence into return on asset.Bank Dunia (World Bank) menyatakan perekonomian global melambat ke angka 2,9% di tahun 2018. Pertumbuhan profitabilitas bank di Indonesia melambat yang teridentifikasi melalui Return On Asset (ROA) yang dicetak sepuluh bank besar sampai kuartal 3 2018. Penelitian ini berujuan untuk mengetahui pengaruh financing to deposit ratio (FDR) dan non performing financing (NPF) terhadap return on asset (ROA). Variabel independen dalam penelitian ini adalah FDR dan NPF, sedangkan variabel dependennya adalah ROA. Pendekatan penelitian ini ialah deskriptif kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder. Teknik pengambilan data yaitu dengan mengutip laporan keuangan publikasi bank BRI Syariah periode 2009 – 2018. Metode analisis data yang digunakan adalah metode regresi linier berganda. Berdasarkan hasil analisis menunjukan bahwa variabel FDR mempunyai pengaruh negatif terhadap ROA. Variabel NPF mempunyai pengaruh negatif terhadap ROA
Multi Akad (Hybrid Contract) Inovasi Produk Lembaga Keuangan Syariah
One of the parameters to assess whether a product meets sharia principles or not is to pay attention to the contracts and the various conditions used in the product. Products in Islamic finance activities, if against them are carried out by al-takyif al-fiqhi, some or even the majority of them contain several contracts. For example, in sharia credit card transactions there are ijarah, qardh and kafalah contracts, Islamic bonds contain at least mudharabah (or ijarah) and wakalah agreements, and sometimes with kafalah or wa\u27d, Islamic Swap contains several times the bargruq contract, bai \u27, wakalah, sharf and sometimes or always accompanied wa\u27ad. In every transaction, the contracts are carried out simultaneously or at least every contract contained in a product cannot be abandoned, because all of them are one entity. Such transactions are termed the multi contract (hybrid contract) which is now in the terminology of contemporary muamalat fiqh (fiqh al-mu\u27amalat al-maliyah al-mu\u27ashirah) called al-\u27uqud al-murakkabah
Analisis Tingkat Kualitas Pelayanan Nasabah Pegadaian Syariah Cabang Veteran Purwakarta
Based on the results of the research and discussion on the Level of Quality Analysis of the Syariah Pawnshop Customer Service at the Veteran Purwakarta Branch, some conclusions can be drawn as follows: (1) From the physical evidence at the Pegadaian Syariah Branch Veterans Purwakarta the community considers that the condition of the building owned and the way employees are in look good enough, and the promotion carried out by the pawnshop can attract the public to transact at pawnshops; (2) The reliability of sharia pawnshops in conducting services on time is considered to be good enough, some customers are satisfied. In addition, sharia entrepreneurs also never break promises, and always try to help solve problems faced by their customers at the time of the transaction, and always be careful in recording data; (3) The responsiveness of sharia pawnshops is a willingness to assist and provide prompt and appropriate services to customers, with clear information delivery and willingness to welcome customers to be assessed by the Veteran Purwakarta Branch of Pawnshop customers as considered to be the most important and have the most dominant influence to increase customer satisfaction; (4) Guarantees and certainty given by the branch of Veterans Purwakarta sharia pawnshop, namely the trustworthy nature of employees, adequate knowledge of the problem of sharia pawnshop products, as well as the polite attitude of sharia pawnshop employees towards customers who wish to transact which the community values are good; (5) Attention given by the Veteran Purwakarta branch pawnshop to sharia pawnshop customers get a good response. The customer considers that the pawnshop is able to provide convenience in conducting transactions, can understand the needs of its customers, and provide personal attention to its customers. Of the five service dimensions it is known that the dimensions of service that are considered the best according to respondents\u27 perceptions are the Tangible dimension (physical evidence) which is 79%. While the assessment is low according to the respondent\u27s perception that is in the dimensions of Reliability (reliability) that is equal to 76.5%
Teori Rasionalitas Menurut Ekonomi Islam
Pandangan tentang konsep rasionalitas memiliki konsekuensi terhadap perilaku manusiadalam melakukan tindakan ekonomi dan tujuan-tujuan hidupnya. Rasionalitas ekonomi yangdibangun oleh konsepsi homo economicus sebagaimana dikembangkan dalam ekonomi kapitalisdan sosialis berbeda dengan rasionalitas ekonomi yang dibangun oleh konsepsi homo islamicussebagaimana dikembangkan dalam ekonomi islam.Dalam kapitalisme, homo economicus telah diposisikan sebagai entitas ekonomi yangmengokohkan individualitas dan eksploitasi apa saja yang dianggap penting dari motif-motif dasarmanusia, hasrat dan self-interest, dan untuk dapat memproduksi standar kehidupan yang lebihtinggi. Homo economicus merepresentasikan manusia rasional yang diformalkan dalam modelmodelekomomi tertentu yang mengaktualisasikan pemuasan self-interest sebagai cara untukmeraih tujuan-tujuan ekonomi. Adapun dalam komunisme, homo economicus digambarkansebagai hubungan antara kondisi material dan kehidupan manusia yang esensial, yakni bahwabukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, akan tetapi sebaliknya keberadaansosial itulah yang menentukan kesadarannya.Banyak ekonom muslim yang tidak puas dengan konsep homo economicus sebagai modaldasar perilaku ekonomi manusia. Karena itulah, ekonom muslim pun menggantinya dengankonsepi homo islamicus sebagai model dasar perilaku ekonomi yang sesuai dengan fitrah hakikimanusia. Istilah homo islamicus mengacu kepada perilaku individu yang dibimbing oleh nilainilaiIslam. Rasonalitas yang dibangun oleh konsepsi homo islamicus berpandangan bahwasegenap tindakan ekonomi tidak hanya menuruti hasrat-hasrat alamiah manusia tetapi harusdidasarkan kepada kebenaran dan kebajikan. Jalan untuk mencapai rasionalitas ini tidak lainadalah mensubordinatkan motif, pikiran, orientasi, kehendak dan perilau ekonomi kepada aturandan moralitas yang ditentukan oleh syariat Islam
Talent Management Dalam Meningkatkan Kinerja Lembaga KSPPS BMT Mitra Sadaya Cabang Purwakarta
Adaptation companies to pass talent management need at global era in view of information current and fast change and then continuous.Human resources with new talent for organization is need to achieve organization success/performance. Organization must time increase and energy to repair performance from new talent. Talent will compete do the best for organization when organization will appreciate the job
Partisipasi Anggota Dan Kemampuan Manajerial Pengurus Implikasinya Terhadap Pengembangan Usaha Koperasi Berbasis Syariah
The number of cooperative corporations that experienced business failure, in 2014 as many as 72,230 cooperatives or about 35% of the total 260 thousand cooperatives went bankrupt. A different phenomenon emerged in Sharia-based financial institutions, since it was first introduced in 1990, there are only a few dozen units, and at present the number in Indonesia is over 5,500. According to Ropke \u27the success of a Cooperative is influenced by internal factors (Managers (Managers and managers), Service, Member Participation, and Capital) and external factors (Business climate (competition) and Government policy and technological developments). This research is conducted to know the extent of implication or influence of member participation and managerial capability of management toward syariah based business development. The method are used is descriptive analytic with Quantitative approach, The type of data in this study is the primary data sourced from the Board and Members of Sharia cooperatives in Purwakarta district. Data collection techniques conducted are interviews to administrators and observation data cooperatives development in terms of Capital, the number of Members, turnover, the rest of the business results (earnings) from the year 2010-2016. The results showed that member participation has a positive effect on the development of Sharia-based cooperatives with a significance level of 74.6%, While Managerial Ability has positive effect to Cooperative development equal to 56,3%. Simultaneously Member participation, and managerial ability have positive effect on Cooperative development equal to 57,67%