Jurnal Ilmiah Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Jakarta
Not a member yet
220 research outputs found
Sort by
BERBAGI DALAM KASIH DAN SUKACITA DI RUMAH RUTH
Rampant promiscuity of adolescents has resulted in many cases of abortion; based on data, Indonesia ranks 4th in the world. The family plays an essential part in influencing their children's lives spiritually, sexually, socially, and in achievement. Parents should teach their children to read the Bible, pray, and worship early. Parents are also responsible for teaching sexual education and educating children to realize that their body is the temple of God. Teenagers who have already fallen into free sex, causing unwanted pregnancies, need counselling, assistance, and faith strengthening. Rumah RUTH stands to answer the needs of pregnant teenagers out of wedlock, women who experience sexual violence, children who have an abortion, and children who are neglected. The purpose of this research is to share love and joy with the children at Rumah RUTH.Pergaulan bebas remaja yang tidak terkontrol mengakibatkan bayaknya kasus aborsi, berdasarkan data Indonesia menempati urutan ke 4 di dunia. Keluarga memiliki peranan penting dalam mempengaruhi kehidupan anak-anaknya baik itu dalam kerohanian, seksual, sosial, dan prestasi. Orangtua sejak dini harus mengajarkan anak-anaknya untuk membaca Alkitab, berdoa, dan beribadah. Orang tua juga memiliki tanggung jawab yaitu mengajarkan pendidikan seksual dan mendidik anak-anak untuk menyadari bahwa tubuhnya adalah Bait Suci. Remaja yang sudah terlanjur jatuh dalam free sex yang menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan perlu dilakukan konseling, pendampingan, dan penguatan iman. Rumah RUTH berdiri untuk menjawab apa yang dibutuhkan remaja yang hamil di luar nikah, wanita yang mengalami kekerasan seksual, anak yang batal aborsi, dan anak yang terlantar. Tujuan dari penelitian ini untuk membagikan kasih dan sukacita bersama anak-anak di Rumah RUTH
ARGUMENTASI TEOLOGIS TENTANG DAMPAK DOSA TERHADAP PIKIRAN
The mind, which is unique to man, is inseparable from sin after the fall into sin. Empiricists who always take the experience as the measure of human life reject this impact with the view that, although humans are mortal, humans are morally neutral. The impact of sin on the mind is that man cannot find the truth with his reason, but he always fails to do so. The death of the human spirit causes horrors that are incredibly disgusting and grieve the heart of God. However, worldly man does not care about all that but is proud of the sins and injustices he has committed. The discussion on this topic is presented descriptively based on theological arguments according to the views of several experts summarised in a prescriptive presentation. As a result, sin has made all aspects of human life experience terrible things. Three aspects are affected by the sinful mind, namely, "man no longer recognizes his existence as a creature of God (Spiritual Aspect), Man becomes a crisis of goodness and is unlikely to seek God (Moral Aspect), and man is younger to misunderstand, faster to judge and prefers to be alone than to associate with others (social aspect).Pikiran yang merupakan keunikan dari pada manusia itu tidak terlepas dari pada dosa pasca kejatuhan kedalam dosa. Penganut empirisme yang selalu menjadikan pengalaman sebagai tolak ukur atas kehidupan manusia menolak akan dampak tersebut dengan pandangan bahwa, walaupun manusia bersifat fana, manusia bersifat netral secara moral. Dampak dosa terhadap pikiran adalah manusia tidak bisa menemukan kebenaran dengan akal sehatnya melainkan ia selau gagal dalam melakukanya. Kematian Rohani manusia menimbulkan kengerian yang begitu luar biasa menjijikan dan mendukakan hati Tuhan. Namun manusia duniawi tidak mempedulikan semuanya itu, melaikan berbangga atas dosa dan kelaliman yang telah diperbuatnya. Pembahasan mengenai topik ini disajikan secara deskriptif berdasarkan argumentasi secara teologis menurut pandangan beberapa ahli yang dirangkum dalam sebuah paparan secara preskriptif. Sebagai hasil yang didapatkan bahwa, dosa telah membuat seluruh aspek kehidupan manusia mengalami hal yang mengerikan. Ada Tiga aspek yang di pengaruhi oleh pikiran yang berdosa yakni, “manusia tidak lagi mengakui keberadaanya sebagai makhluk ciptaan Tuhan (Aspek Spritual), Manusia menjadi krisis akan kebaikan dan tidak mungkin mencari Allah ( Aspek Moral) dan manusia lebih muda salah mengerti, lebih cepat menghakimi dan lebih memilih untuk menyendiri dari pada bergaul dengan orang lain (aspek sosial)
EDUKASI MENENUN KEPADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DUSUN BATANG PALLI, DESA SA’DAN TIROALLO
Toraja woven cloth is the work of the Toraja people. The weaving process can be lost if children are not given education about woven fabrics and how to make them. Their knowledge of how to make woven fabrics can inspire love and help the family’s economy. The woven fabrics produced can be sold to the market or people in need. Based on the observations made, some children in Batang Palli hamlet know how to weave, but they do not do the weaving process. Others don’t know how to weave, and they only know it as a parent’s job. This is what encourages education for the children who are there. The method used in writing this article is qualitative with an ethnographic approach. From the education process, it can be seen that the children in Batang Palli hamlet are interested in weaving, only they do not have a good understanding of the cultural and economic values of woven fabrics. This activity is expected to increase the interest of children in the Batang Palli hamlet to preserve woven fabrics.Toraja woven fabrics are work of the Toraja people. The weaving process can be lost if children are not given education about woven fabrics and how to make them. Their knowledge of how to make woven fabrics can arouse love and help the family economy. The woven fabrics produced can be sold to the market or to people in need. Based on the results of observations made, there are some children in Batang Palli Hamlet who know how to weave, but they don’t do the weaving process. Some people really don’t know how to weave, and they only know it as a parent’s job. This is what encourages education to the children who are there
PRINSIP-PRINSIP PAK ANAK: SEBUAH KAJIAN EKSEGESIS ALKITAB DARI ULANGAN 6: 4-9
This article seeks to research principles of Christian Religious Education through exegeting Deuteronomy 6:4-9. This research uses the qualitative-descriptive method. Principles of Christian Religious Education constructed based on Deuteronomy 6:4-9 could generate balanced emphases between academic ability and spiritual formation; both are vital to equip the younger generations to face global challenges. Thus, the purpose of Christian Religious Education for children is to build a younger generation that could contribute to the broader society based on solid Christian principles. Deuteronomy 6:4-9 is guidance for parents to practice Christian Religious Education in the family. Family should be the first place for children to confess that there is only one true God, love God, do His instructions, discuss His law, reflect upon it, and bear witness to the one true God.Artikel ini bertujuan meneliti prinsip Pendidikan Agama Kristen (PAK) anak melalui kajian eksegesis Ulangan 6:4-9. Penelitian ini menggunakan metode deskriftif kualitatif dengan mengambil dari beberapa sumber pustaka. Konstruksi prinsip-prinsip PAK anak berdasarkan Ulangan 6:4-9 dapat membantu untuk menciptakan penekanan yang lebih seimbang antara kemampuan akademis dan formasi spiritual. Keduanya dipandang dapat memperlengkapi generasi penerus untuk menghadapi tantangan global. Dengan demikian, tujuan utama dari PAK anak adalah untuk membangun suatu generasi penerus yang dapat berkontribusi kepada masyarakat luas dengan prinsip-prinsip iman Kristen yang kokoh. Ulangan 6:4-9 memberikan pedoman kepada orang tua dalam mempraktikkan pendidikan agama Kristen dalam keluarga. Keluarga perlu menjadi tempat pertama anak mengakui hanya ada Tuhan yang Esa, mengasihi Tuhan yang Esa, melakukan perintah Tuhan yang Esa, membicarakan perintah Tuhan yang Esa, merenungkan perintah yang Esa dan menjadi saksi Tuhan yang Esa
KEADILAN DI TEMPAT ASING: TEOLOGI GĒR DALAM KITAB ULANGAN DAN RELEVANSINYA BAGI KEHIDUPAN BERMASYARAKAT
This paper wants to show that the ethics toward strangers, shown in the Book of Deuteronomy, is relevant to use as a guide in living together and is an antithesis to the phenomenon of racism that still occurs today. Racism is a phenomenon of injustice against certain races or groups that are considered different, foreign, and weak. The phenomenon of racism can lead to more significant problems in life, such as conflicts and human tragedies. In contrast, the law in Deuteronomy expressly denies oppression of the "strangers." Thus, understanding can be a basis for living a harmonious life together and far from injustice, including racism. Therefore, this paper offers an approach from a biblical point of view in the Book of Deuteronomy in recognizing whom a stranger (gēr) is while simultaneously demonstrating ethics in behaving towards them. This understanding guides building a harmonious life together in the present context.Tulisan ini ingin menunjukkan bahwa etika terhadap orang asing yang ditampilkan dalam Kitab Ulangan relevan untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan bersama sekaligus menjadi sebuah antitesis bagi fenomena rasisme yang masih terjadi dewasa ini. Rasisme merupakan suatu fenomena diskriminasi terhadap ras atau kelompok tertentu yang dianggap berbeda, asing, dan lemah. Fenomena rasisme dapat mengakibatkan masalah yang lebih besar dalam kehidupan, seperti konflik dan tragedi kemanusiaan. Kontras dengan hal tersebut, hukum yang tertulis dalam Kitab Ulangan secara tegas menolak penindasan terhadap mereka yang “asing.” Dengan demikian, pemahaman tersebut relevan untuk dijadikan sebuah dasar dalam menjalani kehidupan bersama yang harmonis dan jauh dari ketidakadilan, termasuk rasisme. Oleh karena itu, tulisan ini menawarkan sebuah pendekatan dari sudut pandang biblis dalam Kitab Ulangan dalam mengenal siapa itu orang asing (gēr) sekaligus memperlihatkan etika dalam berperilaku terhadap mereka. Pemahaman tersebut kemudian dijadikan pedoman dalam usaha untuk membangun kehidupan bersama yang harmonis pada konteks masa kini
REVITALIZING HARVEST THEOLOGY FOR AN EFFECTIVE MISSION TODAY
There is a decline in the population of Christians in the world from 2010 to 2020, and the primary cause is the slowing down of mission and evangelization efforts. Christians no longer see the urgent need of reaping the harvest of souls. Therefore, there is a need for Harvest Theology based on a solid biblical foundation to revitalize today’s mission. This paper uses exploratory and explanatory research methods to come up with a conclusion that churches need to develop Harvest Theology that creates effective strategies as well as focuses resources to reach receptive people; especially among the unreached people group. Harvest Theology is a counter to search theology that emphasizes finding the lost and multiplication of churches. Harvest Theology is very important to be revitalized because of the declining percentage of Christians in the period 2010 to 2020. Through exploratory and explanatory research methods, the author tries to convince readers that Harvest Theology is based on a solid biblical foundation and is vital to revitalizing today's mission. In revitalizing Harvest Theology, we need to develop mission strategies that focus on receptive people, which will give a great harvest in today's mission
PENINGKATAN KESADARAN POLA HIDUP MASYARAKAT BERSIH DALAM KONTEKS MODERASI BERAGAMA DI DESA MAEN
Environmental cleanliness is not only focused on activities to minimize waste. However, it also talks about how people have the awareness to implement a healthy lifestyle. The community should try to see the condition or condition of the environment/region of the Maen village community themselves. The Maen village community is the driving force in implementing and achieving this lifestyle, with creative ideas and innovations needed to encourage each other in the success of environmental hygiene. With this Research Community Service program, implementing environmental hygiene encourages the formation of solidarity in religious moderation, in the sense of realizing cooperation for all Maen village communities regardless of religious background. Therefore, it is essential to implement the ABCD (Asset Based Community-driven Development) approach to develop an asset or what strength exists in the community. Strive to change the community's mindset so that they have awareness in responding to existing assets or strengths. Thus, KKN Research and the village government, and even religious leaders are trying to keep the environment free from waste problems.Kebersihan lingkungan bukan hanya terfokus pada kegiatan meminimalisir sampah. Akan tetapi, berbicara juga bagaimana masyarakat memiliki kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat. Hal ini merupakan kewajiban masyarakat agar dapat berupaya melihat kondisi atau keadaan lingkungan/wilayah dari masyarakat desa Maen sendiri. Masyarakat desa Maen merupakan penggerak dalam pelaksanaan dan pencapaian pola hidup ini dengan sangat diperlukan ide dan inovasi yang kreatif untuk dapat saling mendorong satu dengan yang lain dalam keberhasilan kebersihan lingkungan. Dengan adanya program KKN Riset ini, penyelenggaraan kebersihan lingkungan mendorong terbentuknya solidaritas dalam moderasi beragama, dalam artian terwujudnya kerja sama akan semua masyarakat desa Maen tanpa melihat latar belakang agama. Oleh karena itu sangat penting untuk mengimplementasikan pendekatan ABCD (Asset Based Community-driven Development) guna mengembangkan suatu aset atau kekuatan apa yang ada pada masyarakat. Berupaya mengubah pola pikir masyarakat agar memiliki kesadaran dalam menyikapi aset atau kekuatan yang ada. Dengan demikian, KKN Riset bersama pemerintah desa bahkan tokoh-tokoh agama berupaya menjaga lingkungan agar terbebas dari masalah sampah
PENDAMPINGAN HAMBA TUHAN MEMBANGUN KESADARAN WARGA GEREJA MENANGANI LIMBAH TERNAK BABI DI DUSUN MEKAR, DESA BENTENG, KECAMATAN BURAU, KABUPATEN LUWU TIMUR
Beternak babi selain dapat memberi prospek yang baik, juga memberi dampak yang buruk bagi lingkungan. Pencemaran lingkungan yang ditimbulkan berupa pencemaran air, darat, dan udara. Bau kotoran dan sisa pakan sangat mengganggu, kualitas lingkungan sehingga tidak berfungsi sesuai dengan kegunaanya. Selain itu, berpotensi menimbulkan konflik sosial masyarakat, di mana masyarakat dengan berbagai latar belakang tinggal di sekitar tempat pemeliharaan babi oleh warga gereja. Limbah babi harus ditangani secara baik dan benar. Agar tujuan tersebut dapat tercapai, penulis melakukan pendampingan untuk menumbuhkan kesadaran warga gereja. Warga gereja yang memelihara babi diharapkan dapat bertanggung jawab memerhatikan fungsi lingkungan, etika lingkungan hidup sebagai bentuk menghormati sesama dengan cara membuat kandang dan bak penampungan kotoran serta sisa pakan sesuai dengan jumlah ternak babi yang dipelihara. Bahkan, apabila limbah kotoran dan sisa pakan dapat dikola dengan baik, akan menjadi bahan pembuatan pupuk organik dan dapat menciptakan sumber energi yang dapat diperbarui.
Beternak babi selain dapat memberi prospek yang baik, juga memberi dampak yang buruk bagi lingkungan. Pencemaran lingkungan yang ditimbulkan berupa pencemaran air, darat, dan udara. Bau kotoran dan sisa pakan sangat mengganggu, kualitas lingkungan turun sehingga tidak berfungsi sesuai dengan kegunaanya. Limbah ternak babi harus ditangani secara baik dan benar. Agar tujuan tersebut dapat tercapai, hamba Tuhan melakukan pendampingan untuk menumbuhkan kesadaran warga gereja. Warga gereja yang memelihara babi membuat kandang dan bak penampungan sesuai dengan jumlah babi yang ada
WEBINAR EDUKASI PENINGKATAN PENGETAHUAN DISKURSUS PENTAKOSTA BAGI KOMUNITAS ASPENKRIS
The Pentecostal academic community is responsible for echoing Pentecostal theology and spirituality for the local congregation. However, the courage and ability to carry out this responsibility must continue to be improved through training and mentoring. This activity aims to increase the inventory of Pentecostalism discourse for Pentecostal and Ecumenical scholars through the implementation of a dissertation seminar in the Pentatalk program by the Association of Indonesian Pentecostal/Charismatic Scholars (Aspenkris). Dissertation studies from Pentecostal academics will strengthen their identity as Pentecostalists for teachers. The implementation method is an educational webinar through the Zoom meeting platform. The activity results show that, firstly, providing a broad discourse and discourse on pentecostalism both in Indonesia and abroad must be carried out immediately. Second, this activity can reduce the stigma and understanding of Pentecostalism, which is dwells on the Holy Spirit alone. Third, this activity establishes and increases the dialogue between Pentecostalism and ecumenicalism, which is still minimal among theologians and ecclesiastical practitioners.Komunitas akademis pentakosta memiliki tanggungjawab untuk menggemakan teologi dan spiritualitas pentakosta bagi jemaat lokal. Namun, keberanian dan kemampuan melaksanakan tanggungjawab ini harus terus ditingkatkan melalui pelatihan dan pendampingan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan inventaris diskursus pentakostalisme bagi sarjana pentakosta dan oikumene melalui pelaksanaan seminar disertasi dalam program Pentatalk oleh Asosiasi Sarjana Pentakostal/Karismatik Indonesia (Aspenkris). Dengan melakukan kajian disertasi para akademisi pentakosta, maka para pengajar pentakosta semakin menguatkan jati dirinya sebagai seorang pentakostalisme. Metode pelaksanaan yang dilakukan adalah webinar edukasi melalui platform zoom meeting. Dari kegiatan yang dilakukan ini ada beberapa hal yang telah dan sedang dicapai: Pertama memberikan wacana dan diskursus yang luas dari pentakostalitas baik itu dalam konteks Indonesia maupun luar negeri. Kedua, kegiatan ini mampu mereduksi stigma dan pengertian terhadap pentakostalisme yang hanya sekedar ‘ngeroh’ atau berkutat kepada Roh Kudus semata. Ketiga, melalui kegiatan ini menjalin serta meningkatkan dialog antara pentakostalisme dan oikumenis yang masih minim di kalangan teolog dan praktisi gerejawi
PERINTISAN KOMUNITAS SEL DI WILAYAH RANCAEKEK DAN SOREANG KABUPATEN BANDUNG
Cell community planting is urgently needed, especially in areas where the gospel has not yet been reached. The data shows that the Rancaekek and Soreang areas are two areas the gospel has not reached. Therefore, the author makes pioneering efforts with the hope that one day there will be churches in Rancaekek and Soreang, starting with cell communities in these two areas. The method used in this research is study cases. The author conducts community worship services as the forerunner of the birth of a church of God. So far, the cell community services that have been held have received a positive response from the Christian families served. Those who still need a community to grow in faith in the area where they live show enthusiasm when their house is used as a place to carry out cell community worship. Cell community is carried out not only on-site but also online. This is an alternative response to the ongoing conditions (pandemic). If conditions improve in the future, an online cell community will likely be carried out on-site.Perintisan komunitas sel adalah hal yang begitu diperlukan, khususnya di daerah-daerah yang belum terjangkau oleh Injil. Data menunjukkan bahwa daerah Rancaekek dan Soreang adalah dua daerah yang belum dijangkau oleh Injil, maka dari itu penulis melakukan upaya perintisan dengan harapan bahwa suatu hari kelak akan ada gereja-gereja yang berdiri di Rancaekek dan Soreang, dimulai dari adanya komunitas sel di kedua wilayah ini. Metode yang digunakan adalah studi kasus. Penulis melakukan ibadah komunitas sel sebagai cikal bakal dari lahirnya sebuah gereja Tuhan. Sejauh ini, ibadah komunitas sel yang dilaksanakan mendapat respons positif dari keluarga-keluarga Kristen yang dilayani. Mereka yang notabene belum memiliki komunitas untuk bertumbuh dalam iman di daerah tempat tinggalnya, menunjukkan antusiasme ketika rumah mereka dijadikan tempat untuk melaksanakan ibadah komunitas sel. Komunitas sel dilakukan tidak hanya secara on-site tetapi juga secara online. Hal ini dilakukan sebagai tindakan alternatif dalam menyikapi kondisi yang sedang berlangsung (pandemi). Jika kedepannya kondisi telah membaik, sangat mungkin bahwa komsel online akan dilakukan secara on-site