Jurnal Ilmiah Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Jakarta
Not a member yet
    220 research outputs found

    "GENDER STRUCTURE" (BIBLICAL PERSPECTIVE ON GENDER EQUALITY)

    Full text link
    The issue of Gender does not yet have a common ground. Women are always considered weak and helpless human beings. However, in some ethnic groups in Indonesia, the opposite is true. Men are deemed to have no value to women. This study aims to examine the concept of gender equality from a biblical perspective. As the primary source of teaching authority, the Bible provides a solid picture of gender equality. The research method used is exploratory qualitative. The results of the study state that the Bible consistently discusses the principle of gender equality. Because gender equality is essential, many activists voice this principle in the struggle for human rights. Therefore, viewing humans as the noblest created beings is the basis for this struggle for gender equality. Thus, opportunities and responsibilities in all aspects of life own by all humans and created by God.Permasalah mengenai Gender belum memiliki titik temu. Wanita selalu dianggap sebagai manusia yang lemah dan tidak berdaya. Namun dibeberapa suku di Indonesia, berlaku sebaliknya. Laki-laki dianggap tidak memiliki harga dibanding dengan wanita. Karena pentingnya prinsip kesetaraan gender, banyak aktivis-aktivis menyuarakan prinsip ini sebagai perjuangan Hak Asasi Manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep kesetaraan gender dari perspektif Alkitab. Sebagai sumber utama dalam otoritas mengajar, Alkitab memberikan gambaran yang solid terkait kesetaraan gender. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif eksploratif. Hasil penelitian menyatakan bahwa prinsip kesetaraan gender secara konsisten dibahas oleh Alkitab. Oleh karena itu, memandang manusia sebagai makhluk ciptaan yang paling mulia menjadi dasar untuk perjuangan kesetaraan gender ini. Dengan demikian, kesempatan dan tanggungjawab dalam seluruh aspek kehidupan dimiliki oleh semua manusia yang diciptakan oleh Tuhan

    LITERASI KEBANGSAAN DAN MODERASI BERAGAMA DI NEGERI LISABATA, NUNIALI, DAN WAKOLO

    Full text link
    Religious, cultural and ethnic diversity in the face of Indonesian people's life. Behind this diversity, there are positive and negative potentials. The positive potential is that Indonesia has people from various backgrounds, so social interactions occur. The community upholds cooperation, mutual respect, and tolerance. These inclusive values ​​are then practised in social life at all levels, including the people of the Taniwel sub-district, West Seram Regency, Maluku Province. Meanwhile, the negative potential is that the diversity that exists also saves space for societal barriers when easily provoked by irresponsible elements, such as violent conflicts in the name of religion that occurred in several parts of Indonesia and hit the Taniwel sub-district. A conflict then changes the way people view diversity in people's lives. As a result, religious harmony is threatened, disintegrating within the community itself. Therefore, this community service activity was carried out considering the lack of understanding among the community about the importance of national literacy and religious moderation. The attitude of religious moderation through strengthening inclusiveness values ​​needs to be built into the community. This is an acknowledgement of the other party's existence and an attitude of respect for differences. This difference then becomes the reason not to hurt each other, suspect, and judge one another. On the contrary, it strengthens and unites each other.Keragaman agama, budaya, dan etnis adalah wajah kehidupan masyarakat Indonesia. Di balik keragaman tersebut tersimpan potensi positif dan negatif. Potensi positifnya adalah masyarakat dengan latar belakang yang beragam menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang majemuk dan dinamis yang terbentuk dengan interaksi sosial masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kegotong-royongan, saling menghormati, serta toleransi. Nilai-nilai inklusifitas ini kemudian dipraktekan dalam kehidupan bermasyarakat di segala lapisan termasuk masyarakat kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Sementara itu potensi negatifnya adalah keragaman yang ada juga menyimpan ruang sekat-sekat di dalam masyarakat ketika terprovokasi dengan mudah oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, seperti kejadian konflik kekerasan atas nama agama yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia dan juga melanda kecamatan Taniwel. Konflik kemudian mengubah cara pandang masyarakat melihat keragaman di dalam kehidupan masyarakat. Akibatnya kerukunan umat beragama menjadi terancam sehingga terjadi disintegrasi di dalam masyarakat itu sendiri. Oleh sebab itu, kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan mengingat kurangnya pemahaman di kalangan masyarakat tentang pentingnya literasi kebangsaan dan moderadi beragama. Maka sikap moderasi beragama dengan penguatan nilai-nilai inklusifitas perlu dibangun kepada masyarakat sebagai suatu pengakuan atas keberadaan pihak lain dan sebagai sikap menghormati adanya berbagai macam perbedaan. Perbedaan ini yang kemudian menjadi alasan penting untuk tidak saling menyakiti, mencurigai, serta menghakimi antara satu dengan yang lain, sebaliknya justeru saling menguatkan dan mempersatukan

    PENDAMPINGAN KAUM MUDA GEREJA DALAM PENCARIAN PASANGAN HIDUP

    Full text link
    Finding a life partner is often considered a private matter that does not need to be discussed publicly. In contrast, the process of choosing a life partner is a crucial stage before arriving at marriage. Mistakes in choosing a life partner will be borne for life. The church needs to take preventive action by educating young congregations to understand the basic Christian principles in choosing a life partner. This Community Service activity aims to strengthen partners' understanding regarding choosing a life partner, especially among church youth. This activity was carried out in two forms: seminars on the basic principles of choosing a life partner in Christian theology and the psychological perspective, and group assistance to hear partners' problems regarding choosing a life partner. The results showed that the participants understood the seminar material well, while the results of group assistance revealed that the main obstacle for participants was the relationship between different religious statuses. According to God's word, the solution offered by the service team was that participants need to consider the various harmful effects that were more likely to arise from an unbalanced relationship.Topik pencarian pasangan hidup sering kali dianggap sebagai urusan pribadi yang tidak perlu dibahas secara umum. Padahal proses memilih pasangan hidup merupakan tahap yang krusial sebelum sampai pada pernikahan. Kesalahan dalam memilih pasangan hidup akan ditanggung seumur hidup. Gereja perlu melakukan tindakan preventif dengan mengedukasi jemaat muda untuk memahami prinsip dasar kristen dalam memilih pasangan hidup. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk menguatkan pemahaman mitra terkait topik pemilihan pasangan hidup, khususnya di kalangan kaum muda gereja. Kegiatan ini dilaksanakan dalam 2 bentuk yaitu seminar terkait prinsip dasar memilih pasangan hidup dalam perspektif teologi Kristen dan perspektif Psikologi; dan pendampingan secara kelompok untuk mendengar kendala mitra terkait memilih pasangan hidup. Hasilnya menunjukkan bahwa materi seminar dipahami dengan baik oleh peserta; sedangkan hasil pendampingan kelompok diperoleh keterangan bahwa kendala utama peserta adalah hubungan berstatus beda agama. Solusi yang ditawarkan oleh tim pengabdi adalah peserta perlu mempertimbangkan berbagai dampak buruk yang lebih banyak timbul akibat hubungan yang tidak seimbang menurut firman Tuhan

    DAMPAK KEHADIRAN JEMAAT GLORYA TUATUKA BAGI MASYARAKAT SEKITARNYA

    Full text link
    This research aims to know the context of the GMIT Glorya Tuatuka Congregation and its presence from 1941 to 2021. The method used in this research is a qualitative method with a historical approach. From this research, the following results were obtained: GMIT Glorya Tuatuka congregation, in its history, has reached the age of 80 years on 19 September 2021. This congregation is located in Tuatuka Village, East Kupang, Kupang Regency, East Nusa Tenggara. From the context of the Tuatuka Village, it became a place where members of the GMIT Glorya Tuatuka Congregation grew and developed. The GMIT Glorya Tuatuka congregation has been around for 80 years. This congregation was founded on 19 September 2021. At that time, Rev. H. Haning baptized 25 members of the Tuatuka congregation. This congregation initially worshipped at Babau, then to Mukeana (Kefetoran Am Abi Oefeto), to Gunoedale/Tuatuka Lama, and established a new fellowship in Tuatuka (Laku). Since its founding in the 1970s – today, this congregation has been served by eight Pastors. Thus, for 80 years, members of the GMIT Glorya Tuatuaka Congregation have been served by 16 pastors. Members of this congregation started with 37 family heads, and now there are 224 family heads. Its presence has an impact on the fields of ecclesiastical spirituality, socio-economics, politics, education, customs, and culture.ABSTRAK Jemaat GMIT Glorya Tuatuka dalam perjalanan sejarahnya telah menempuh usianya yang ke-80 tahun pada 19 September 2021. Jemaat ini berada di Kelurahan Tuatuka, Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dari konteks Kelurahan Tuatuka menjadi tempat di mana anggota Jemaat GMIT Glorya Tuatuka bertumbuh dan berkembang. Persekutuan anggota Jemaat GMIT Glorya Tuatuka sudah ada sejak 80 tahun yang lalu. Jemaat ini berdiri pada 19 September tahun 1941. Saat itu, Pdt. H. Haning membaptis 25 orang anggota jemaat Tuatuka. Ia tinggal di Babau dan hanya memimpin sakramen, sementara ibadah lainnya dipimpin oleh Penanggung Jawab, karena terbatasnya tenaga pelayan, dan wilayah pelayanan sangat luas.  Jemaat ini semula beribadah di Babau, meudian ke Mukeana (Kefetoran Am Abi Oefeto), ke Gunoedale/Tuatuka Lama, dan berdiri sebagai suatu persekutuan baru di Tuatuka (Laku). Selanjutnya, pelayanan sakramen dilayani secara bergantian oleh para pendeta: P. Huandao (1927-1931), H. Haning (1931-1945), M.P. Haba (1946-1948), D.E. Liman (1949-1950), E.P. Amtiran (1954-1957), Markus Manafe (1957-1958), Guru Jumat Elias Hautias, dan Guru Jemaat S.P. Eluama. Sejak pemandiriannya pada tahun 1970-an – sekarang, jemaat ini dilayani oleh delapan orang Pendeta.  Dengan demikian, selama 80 tahun, anggota Jemaat GMIT Glorya Tuatuaka telah dilayani oleh 16 orang pendeta. Anggota jemaat ini bermula dengan 37 Kepala Keluarga, dan sekarang berjumlah 224 kepala keluarga. Kehadirannya berdampak pada bidang kerohanian/kegerejaan, sosial-ekonomi, politik, pendidikan, adat-istiadat dan kebudayaan. Kata Kunci: Dampak Kehadiran, Kehadiran Jemaat, Gereja dan Masyarakat   &nbsp

    THE URGENCY OF TEXTUAL CRITICISM OF THE NEW TESTAMENT INERRANCY

    Full text link
    Textual criticism has long existed as part of the hermeneutic discipline. However, many communities reject this approach. Even scientifically, textual criticism provides a new understanding of the scriptures, especially the New Testament. The many variants of the Greek New Testament make textual criticism present to reconstruct the original text of the Greek New Testament. Nevertheless, on the other hand, this scientific development deals with the doctrine of the inerrancy of the Bible. This study attempts to present the logical foundations of the urgency of textual criticism related to the doctrine of the inerrancy of the Bible. This study examines the importance of textual criticism of the inerrancy of the Bible. The approach used is exploratory qualitative. The results showed that the hermeneutic method of textual criticism did not weaken the truth of the Bible. The inerrancy of the Bible is maintained when an interpreter uses this method. The meaning of the text is more understandable and far from error because of the approach to the highlighted New Testament Greek.Kritik tekstual sudah lama hadir sebagai bagian dari disiplin hermeneutik. Namun, banyak komunitas menolak pendekatan ini. Padahal secara keilmuan kritik tekstual banyak memberikan pemahaman baru akan kitab suci terlebih khusus Perjanjian Baru. Banyaknya varian Yunani perjanjian baru membuat kritik tekstual hadir untuk merekonstruksi teks aslinya Yunani Perjanjian Baru. Namun di sisi lain, perkembangan keilmuan ini berhadapan dengan doktrin ineransi Alkitab. Penelitian ini berupaya untuk mengemukakan dasar-dasar logis mengenai urgensi kritik tekstual terkait doktrin ineransi Alkitab. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kepentingan kritik teks terhadap ketidakbersalahan Alkitab. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif eksploratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode hermeneutic kritik teks tidak melemahkan kebenaran Alkitab. Ineransi Alkitab tetap terjaga ketika seorang penafsir menggunakan metode ini. Justru makna teks semakin dapat dimengerti dan jauh dari kesalahan karena pendekatan kepada bahasa Yunani Perjanjian Baru yang ditonjolkan

    GOD AS CREATOR: KONSEP PENCIPTAAN ALAM SEMESTA BERDASARKAN KITAB KEJADIAN PASAL 1-2

    No full text
    God said that the creation of the universe must be complete, as stated in Genesis 1-2. This article is the result of thought and analysis of the creation of the universe. Atheists who do not know God believe that the universe's existence had no beginning. However, Christians believe that the universe exists because of the Creator. The article's purpose is to explain the concept of the creation of the universe based on the Book of Genesis and answer questions about the Creator of the earth. The universe exists because there is a Creator. In this case, Allah states that the world was created in six days. The reality of God's activity and the Word of God cannot be denied as the glory of God who created the universe, namely the heavens and the earth, ex nihilo. Creationism is the foundation of Christianity, as evidenced by the powerful authority of God's Word. Genesis 1-2 describes arguments against and refutation of Science's claims and philosophical views that contradict the validity of the Bible. Thus the existence of the world is because of the Creator. This article shows that God is the Creator of the universe, so the universe exists.Pernyataan Alkitab mengenai penciptaan alam semesta sebenarnya telah tuntas sebagaimana di kemukakan dalam Kejadian 1-2. Jenis artikel konsep adalah hasil dari pemikiran atau analisis fenomena yang muncul. Kaum ateis mempercayai bahwa keberadaan alam semesta tidak memiliki awal. Namun orang Kristen mempercayai bahwa alam semesta ini ada karena ada penciptanya. Berdasarkan hal tersebut, artikel ini akan memaparkan konsep penciptaan alam semesta berdasarkan kitab Kejadian untuk menjawab pertanyaan mengenai pencipta alam semesta. Alam semesta ada karena ada penciptanya. Firman Tuhan menyatakan bahwa pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari lamanya Yang merupakan suatu fakta Alkitab yang tak terbantahkan sebagai tindakan Allah yang mahakuasa dan keagungan Allah yang menciptakan alam semesta dari yang tidak ada menjadi ada dengan firman-Nya atau creatio ex nihilo. Doktrin penciptaan merupakan landasan iman Kristen yang diuji dalam otoritas Firman Allah yang berkuasa. Pernyataan di dalam Kejadian pasal 1-2 merupakan sanggahan terhadap berbagai teori ilmu pengetahuan dan pandangan filsafat manusia yang bertentangan dengan kebenaran Alkitab. Jadi, dunia ada karena ada penciptanya dan artikel ini menunjukkan bahwa Allah adalah pencipta alam semesta

    PERUBAHAN KEBIJAKAN JABATAN PENGAJAR DI GMIT: DARI JABATAN PENUH WAKTU, KE JABATAN PERIODIK

    Full text link
    The Evangelical Christian Church in Timor (GMIT) has had a policy regarding full-time teaching positions since 1999. However, in 2010 a new policy was born on teaching positions that are periodically elected. The purpose of this research is to find out 1). The rationale behind the GMIT Synod's decision on the periodically elected church teaching position. 2). The relevance of teaching positions at GMIT and Calvin's views on teaching positions and teaching ministry. With a qualitative approach, the research results found regarding the rationale for the birth of the new policy are as follows: 1). Teaching positions are not only for those who have a PAK or Theology background because service positions in GMIT refer to the ecclesiology principle of institutional principles, namely the principle of priesthood and believers and ecclesia reformata semper reformanda 2). GMIT is faced with minimal financing capacity, so the absorption capacity of the little church is limited. 3). Many teaching staff with a Christian religious education background prefer to be teachers in schools (PNS), so they have not given themselves entirely to become teachers in churches, 4). The GMIT congregations are generally not financially able to finance a pastor and a teacher. According to the author, GMIT's policy regarding recruiting teaching staff who serve as teachers periodically is irrelevant to Calvin's view.Gereja Masehi Injili Di Timor (GMIT) sudah memiliki kebijakan tentang jabatan pengajar penuh waktu sejak tahun 1999, namun kemudian tahun 2010 lahir kebijakan baru tentang jabatan pengajar yang dipilih secara periodik. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mencari tahu 1). Latar belakang pemikiran penetapan keputusan Sinode GMIT tentang jabatan pengajar jemaat yang dipilih secara periodik. 2). Relevansi antara  jabatan pengajar di GMIT dengan pendapat  Calvin tentang jabatan pengajar dan pelayanan pengajaran. Dengan pendekatan kualitatif maka hasil penelitian yang ditemukan tentang latar belakang pemikiran lahirnya kebijakan baru tersebut sebagai berikut: 1). Jabatan pengajar tidak saja bagi mereka yang memiliki latar belakang PAK atau Teologi saja karena jabatan pelayanan dalam GMIT mengacu pada pokok eklesiologi tentang prinsip kelembagaan yakni prinsip imamat am orang percaya dan ecclesia reformata semper reformanda  2).GMIT diperhadapkan dengan kemampuan pembiayaan yang minim sehingga daya serap dari gereja terbatas. 3). Banyak tenaga Pengajar yang berlatarbelakang Pendidikan Agama Kristen lebih memilih menjadi guru di sekolah (PNS) sehingga belum memberi diri sepenuhnya untuk menjadi pengajar di gereja, 4). Jemaat-jemaat GMIT pada umumnya secara finansial belum mampu membiayai seorang pendeta sekaligus dengan seorang pengajar. Kebijakan GMIT tentang rekruitmen tenaga pengajar yang menjabat sebagai pengajar secara periodik menurut penulis  tidak relevan dengan pandangan Calvin

    The MENDORONG EFEKTIVITAS PELAYANAN JEMAAT DI GEREJA BETHEL (PENTAKOSTA) JEMAAT SION KEMIRI-SENTANI

    No full text
    This perpetuation activity aims to help the congregation of God at Bethel Church (Pentecostal Church) Kecapi Sion, Kemiri-Sentani, resolve the causes of the worship vacuum that is often experienced. The method used in carrying out activities is divided into several parts: observation, IDI (In-depth Interview), core activities, and documentation/publication. The results of this community service activity show two causes of the worship vacuum experienced by the church, namely (1) natural conditions and (2) the inconsistency of the pastor. The alternative ways applied to prevent a worship vacuum are (1) The team made a banquet table that doubles to entertain church guests according to Papuan customs and to prevent stagnant water in the church hakam (2) The team will help the congregation by building connections and cooperation in providing services to this church.Kegiatan pengabadian ini bertujuan untuk membantu jemaat Tuhan di Gereja Bethel (Gereja Pentakosta) Kecapi Sion, Kemiri-Sentani dalam menyelesaikan penyebab kevakuman ibadah yang sering dialami. Metode yang digunakan dalam melakukan kegiatan yang kemudian dibagi dalam beberapa bagian yaitu observasi, dan IDI (Interview mendalam), kegiatan inti, dan dokumentasi/publikasi. Hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa ada 2 penyebab terjadinya kevakuman beribadah yang dialami gereja yaitu (1) keadaan alam dan (2) ketidakkonsistenan gembala. Cara altrnatif yang diterapkan untuk mencegah kevakuman beribadah adalah (1) Tim membuat meja jamuan yang berfungsi ganda untuk menjamu tamu gereja sesuai dengan kebiasaan Papua dan untuk pencegah genangan air di hakam gereja (2) Tim akan membantu jemaat dengan cara membangun koneksi dan kerjasama dalam memberikan pelayanan ke gereje ini

    SOSIALISASI PENANGANAN ANAK KECANDUAN SMARTPHONE DI GPIN BUKIT ZAITUN PANJANG

    Full text link
    The condition of children addicted to smartphones in this digital era is alarming. The same condition also occurs among the children and youth of GPIN Bukit Zaitun. This condition exacerbates the absence of the role of parents and Sunday school teachers in educating children in this digital era. Therefore, through this research, two things will be answered: first, how is the influence of parents and Sunday school teachers on the use of smartphones by children and adolescents? Second, how are the efforts of parents and Sunday school teachers in dealing with smartphone addiction children? This study uses quantitative methods with data collection techniques using questionnaires distributed to parents and Sunday school teachers at GPIN Bukit Zaitun, as well as providing socialization to understand the efforts that parents and Sunday school teachers can make. The data obtained found that parents and Sunday school teachers significantly influenced disciplining and approaching children and adolescents. From the socialization, it is also known that the solution that can increase the role of parents and Sunday school teachers is by counselling them with self-management methods and disciplining them.Kondisi anak yang kecanduan smartphone di era digital ini sudah sangat meresahkan. Kondisi yang sama terjadi pula di kalangan anak dan remaja GPIN Bukit Zaitun. Kondisi ini diperparah dengan keabsenan peran orang tua dan guru sekolah minggu dalam mendidik anak di era digital ini. Karena itu melalui penelitian ini dua hal yang akan dijawab adalah pertama, bagaimana pengaruh orang tua dan guru sekolah minggu terhadap penggunaan smartphone oleh anak dan remaja. Kedua, bagaimana upaya orang tua dan guru sekolah minggu dalam menangani anak kecanduan smartphone. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner yang disebar kepada para orang tua dan guru sekolah minggu di GPIN Bukit Zaitun sekaligus memberikan sosialisasi untuk memahami upaya yang dapat dilakukan oleh orang tua dan guru sekolah minggu. Dari data yang diperoleh ditemukan orang tua dan guru sekolah minggu mempunyai pengaruh yang signifikan untuk pendisiplinan dan pendekatan kepada anak dan remaja. Dari sosialisasi juga diketahui bahwa solusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan peran orang tua dan guru sekolah minggu adalah dengan mengkonseling mereka dengan metode self-management dan mendisiplinkan mereka

    KESETIAAN NABI YESAYA DAN RELEVANSINYA BAGI PENGABDIAN HAMBA TUHAN MASA KINI

    Full text link
    The problem studied in this article is to answer the importance of God's servants remaining faithful in serving the work of God entrusted to them. Loyalty in serving God's work is a servant character that is required from God from the start of serving until reaching the finish line. The method used in this article is a literature study method. The result shows that the faithfulness of a servant of God reflects his personal character. He is a man who holds strong commitments before God as shown by the prophet Isaiah. Despite rejection from the leaders and people of Judah, Isaiah remained faithful in prophesying until the end of his life. This model of a servant of God is needed in today's ecclesiastical ministry to serve the congregation so that they remain faithful in their faith even though they are faced with current turmoil and challenges.Problem yang dikaji dalam artikel ini untuk menjawab pentingnya para hamba Tuhan tetap setia melayani pekerjaan Allah yang dipercayakan kepadanya. Kesetiaan dalam melayani pekerjaan Allah merupakan karakter pelayan yang dituntut dari Allah sejak awal mengabdi hingga mencapai garis finis. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode studi literatur. Hasilnya, memperlihatkan bahwa kesetiaan seorang hamba Tuhan mencerminkan karakter pribadinya. Ia seorang yang memegang kuat komitmennya di hadapan Allah sebagaimana diperlihatkan Nabi Yesaya. Sekalipun mendapat penolakan dari para pemimpin dan masyarakat Yehuda, Yesaya tetap setia bernubuat sampai akhir hayatnya. Model hamba Tuhan seperti ini dibutuhkan dalam pelayanan gerejawi masa kini untuk melayani jemaat agar tetap setia dalam imannya sekalipun berhadapan dengan gejolak dan tantangan pada masa kini

    192

    full texts

    220

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Jakarta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇