Jurnal Ilmiah Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Jakarta
Not a member yet
220 research outputs found
Sort by
Simply Jesus: Kesederhanaan Hidup Yesus Kristus dan Transformasi Gereja Kontemporer
Amid globalization and digitalization, many contemporary churches are shifting from Gospel-centered values toward consumerism and digital image culture. Worship services are often turned into visual and emotional entertainment, neglecting the core substance of faith. This trend raises concerns about spiritual degradation and a crisis of identity within the church as a prophetic community. This study explores the theological meaning of Jesus Christ’s simplicity and its relevance for modern church transformation. Using a library research method and thematic exegesis of biblical texts and recent theological literature, the study finds that Jesus’ simplicity is not merely a moral lifestyle but a theological act of kenosis—a rejection of worldly power, luxury, and status. The theology of simplicity offers a constructive response to the erosion of church values through reflective liturgical renewal, ministry-centered leadership reform, and recalibrated digital strategies that emphasize spiritual depth and social witness. The study recommends that churches intentionally embrace the paradigm of Jesus’ simplicity as a framework for cultivating an authentic, transformative, and contextually relevant spiritual community amid the challenges of the modern era.Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, banyak gereja kontemporer mengalami pergeseran orientasi dari nilai-nilai Injil menuju budaya konsumerisme dan pencitraan digital. Pelayanan gereja kerap berubah menjadi hiburan visual dan emosional, sehingga mengabaikan substansi iman yang otentik. Fenomena ini menimbulkan persoalan serius: degradasi kerohanian jemaat dan krisis identitas gereja sebagai komunitas profetik. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi konsep teologis kesederhanaan hidup Yesus Kristus serta implikasinya bagi transformasi gereja masa kini. Melalui metode studi kepustakaan dan pendekatan eksegesis tematik terhadap teks-teks Alkitab dan literatur teologi mutakhir, kajian ini menemukan bahwa kesederhanaan Yesus bukan sekadar gaya hidup moral, melainkan ekspresi teologis dari kenosis—penyangkalan terhadap kuasa duniawi, kemewahan, dan status sosial. Teologi kesederhanaan berpotensi menjadi jawaban atas degradasi nilai gereja melalui pembaruan liturgi yang reflektif, reformasi kepemimpinan berbasis pelayanan, dan reposisi strategi digital yang menekankan kedalaman rohani dan kesaksian sosial. Penelitian ini merekomendasikan agar gereja secara sistemik mengadopsi paradigma kesederhanaan Kristus untuk membentuk komunitas rohani yang otentik, transformatif, dan relevan dalam menghadapi tantangan zaman modern
Misi Dan Keteladanan Perempuan dalam Kisah Para Rasul 16:13-40: Perspektif Gereja Masa Kini
This study examines the mission and role model of women in Acts 16:13–40, with a particular focus on the figure of Lydia and her relevance to the contemporary Church. Lydia’s role as a follower of Christ and a leader of the Christian community in Philippi illustrates that women have made significant contributions to the spread of the Gospel and the development of the early Church. The aim of this research is to explore how Lydia’s missional values and exemplary leadership can be applied within the context of women’s ministry and leadership in the modern Church. This study employs a descriptive qualitative methodology, incorporating narrative analysis of biblical texts alongside a review of contemporary theological literature. The findings indicate that women’s involvement in mission is vital to the growth of the Church, both historically and in the present day. The discussion highlights the challenges and opportunities faced by women in Church ministry, as well as strategies for empowering them in mission and leadership roles. This research offers a fresh perspective on the role of women in contemporary Church missions.Penelitian ini mengkaji misi dan keteladanan perempuan dalam Kisah Para Rasul 16:13-40, dengan fokus pada sosok Lydia, serta relevansinya bagi gereja masa kini. Peran Lydia sebagai pengikut Kristus dan pemimpin komunitas Kristen di Filipi menunjukkan bahwa perempuan memiliki kontribusi signifikan dalam penyebaran Injil dan pengembangan gereja mula-mula. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai misi dan keteladanan Lydia dapat diterapkan dalam konteks pelayanan dan kepemimpinan perempuan di gereja modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan analisis naratif teks Alkitab dan tinjauan pustaka teologi kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam misi sangat penting bagi perkembangan gereja, baik di masa lalu maupun saat ini. Pembahasan menyoroti tantangan dan peluang bagi perempuan dalam pelayanan gereja, serta strategi memberdayakan mereka dalam misi dan kepemimpinan gerejawi. Penelitian ini menawarkan perspektif baru tentang peran perempuan dalam misi gereja modern
Percakapan Konseling dengan Masyarakat Akar Rumput (Termarjinalkan) di Kota Manado
Marginalised communities in Manado often face multifaceted challenges—economic, social, cultural, and spiritual—that restrict their access to basic rights and hinder personal development. Counselling conversations are introduced as a holistic intervention, addressing not only material needs but also emotional and spiritual dimensions. This approach aims to enhance critical awareness, build individual resilience, and foster spaces for healing and empowerment. Combining participatory and contextual methods, it involves the community actively in the counselling process while adapting interventions to their specific realities. Techniques include in-depth interviews, group discussions, and collaborative reflection to identify issues and co-create solutions. Findings show marked improvements in participants’ self-confidence, critical thinking, and capacity to initiate social change. Enhanced interpersonal relationships and a renewed sense of meaning in life further support their journey out of marginalisation. Counselling thus emerges as both a spiritual support mechanism and a transformative tool for inclusive community empowerment.Kelompok masyarakat di Kota Manado yang termarjinalkan kerap menghadapi berbagai tantangan yang kompleks, meliputi aspek ekonomi, sosial, budaya, hingga spiritual. Keadaan ini menghambat mereka dalam mengakses hak-hak dasar serta mengembangkan potensi diri secara maksimal. Dalam konteks ini, percakapan konseling hadir sebagai upaya memberikan dukungan menyeluruh yang tidak hanya berfokus pada kebutuhan material, tetapi juga mencakup dimensi spiritual dan emosional. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran kritis, memperkuat daya tahan individu, serta menciptakan ruang bagi proses pemulihan dan pemberdayaan. Pelaksanaannya menggabungkan metodologi partisipatif dan kontekstual. Pendekatan partisipatif memberi kesempatan kepada masyarakat termarjinalkan untuk berperan aktif dalam proses pendampingan, sementara pendekatan kontekstual memastikan kegiatan tersebut sesuai dengan kondisi dan tantangan spesifik yang mereka hadapi. Metode yang diterapkan meliputi wawancara mendalam, diskusi kelompok, dan refleksi bersama yang berfokus pada identifikasi masalah serta solusi berbasis komunitas. Hasil kegiatan ini menunjukkan adanya perubahan yang signifikan dalam hal kepercayaan diri, kemampuan refleksi kritis, serta inisiatif untuk mendorong perubahan sosial di lingkungan mereka. Para peserta juga melaporkan perbaikan dalam hubungan interpersonal dan makna hidup, yang menjadi landasan penting untuk keluar dari situasi termarjinalkan. Dengan demikian, percakapan konseling berperan tidak hanya sebagai sarana penguatan spiritual, tetapi juga sebagai alat pemberdayaan masyarakat yang menyeluruh dan transformatif
Merawat Ciptaan, Meruntuhkan Kuasa: Kritik Teologis terhadap Ekologi Kolonial melalui Spiritualitas Dayak
The global ecological crisis is not merely an environmental issue but reflects a theological rupture in the relationship between humanity, creation, and the power structures that sustain them. This study offers a theological critique of colonial ecologies by exploring the spiritual-ecological practices of the Dayak communities in Kalimantan, particularly the conservation of simpukng and the agrarian ritual of nyelapat taun. It employs a qualitative approach grounded in conceptual-reflective literature analysis, utilizing a postcolonial deconstructive methodology within ecotheology to interpret indigenous practices as theological-hermeneutical fields. The study reinterprets these traditional ecological knowledge (TEK) practices in light of the Christian doctrine of Imago Dei, which has often been framed within anthropocentric paradigms. The findings reveal that Dayak spirituality not only supports biodiversity conservation and ecosystem regeneration but also embodies a relational paradigm between humans and nature, rooted in the community’s spiritual laws. Through this approach, the article argues that caring for creation is not merely an ecological obligation but a theological vocation that requires dismantling exploitative power structures. The integration of local wisdom and Christian theology thus opens a decolonial path toward an ecological future that is holistic, just, and spiritually grounded.Krisis ekologi global bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan cerminan dari keretakan relasi teologis antara manusia, ciptaan, dan struktur kuasa yang menopangnya. Kajian ini mengajukan kritik teologis terhadap ekologi kolonial dengan mengeksplorasi praktik spiritual-ekologis masyarakat Dayak di Kalimantan, khususnya konservasi simpukng dan ritual agraris nyelapat taun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur konseptual-reflektif, dengan metode dekonstruksi pascakolonial dalam kerangka ekoteologi untuk menafsirkan praktik adat sebagai medan hermeneutis teologis. Praktik-praktik pengetahuan ekologis tradisional (TEK) ini ditafsirkan ulang dalam terang doktrin Imago Dei, yang selama ini kerap dimaknai dalam kerangka antroposentris. Hasil kajian menunjukkan bahwa spiritualitas Dayak tidak hanya mendukung pelestarian keanekaragaman hayati dan regenerasi ekosistem, tetapi juga mewujudkan paradigma relasional antara manusia dan alam yang berakar pada hukum-hukum spiritual komunitas. Melalui pendekatan ini, artikel ini menegaskan bahwa merawat ciptaan bukan hanya kewajiban ekologis, melainkan panggilan teologis yang menuntut pembongkaran struktur kuasa yang eksploitatif. Integrasi antara kearifan lokal dan teologi Kristen membuka jalan dekolonial menuju masa depan ekologis yang holistik, adil, dan berakar secara spiritual
Distopia Yohanes 12: Narasi Katarsis Rasul Yohanes dalam Periode Konflik
This study begins by addressing compositional gaps in John 12 and its dynamic relationship with the Synoptic Gospels through an initial exegetical exploration. The findings are then developed into a narrative-historical analysis and interpreted using philosophical hermeneutics and catharsis theory to examine the internal condition of the Gospel’s author. The results indicate that John’s emotional state and underlying motives significantly influenced the structure and emphasis of chapter 12. His inner conflict as a disciple closely linked to both John the Baptist and Jesus underlies the unique features of this chapter when compared to the Synoptic parallels. Through cathartic contemplation, John is able to reimagine and narrate painful events with theological and pastoral depth. He recognises the necessity of recording these events faithfully so that his readers might perceive their profound meaning. Ultimately, the narrative conveys a striking message: the world is no longer a safe or ideal place for the followers of Christ. Rather, it has become a dystopian reality, underscoring the cost of discipleship and the enduring relevance of John's Gospel for a suffering community.
Diawali dengan beberapa gap dari masalah penyusunan Yohanes 12, dan terdapat dinamika dengan Injil Sinoptik maka peneliti mencoba menggalinya secara eksegesis terlebih dahulu. Fakta-fakta hasil eksegesis kemudian dielaborasi dan dibentuk menjadi satu kajian naratif-historis. Kemudian hasilnya digali dengan pendekatan hermeneutik filosofis dan teori katarsis untuk memahami kondisi internal Yohanes sebagai penulis. Hasil dari penerapan metode ini memperlihatkan motif dan kondisi emosional Yohanes berpengaruh terhadap penyusunan narasi pasal 12. Konflik batin sebagai murid yang dekat dengan dua gurunya Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus menjadi dasar dari kekhasan pasal ini dibanding dengan catatan yang sama di Injil Sinoptik. Yohanes harus melalui kontemplasi katarsis untuk dapat mengimajinasikan kembali kejadian-kejadian yang menyayat hatinya. Yohanes mengetahui kepentingan yang lebih besar bahwa setiap kejadian ini harus dicatat dengan baik sehingga para muridnya dapat memahami dengan baik kedalaman makna dari peristiwa-peristiwa pilu yang harus dialami Yohanes. Ia juga menyatakan bahwa dunia ini bukan lagi tempat yang ideal bagi murid Yesus. Dunia sudah berubah menjadi distopia bagi para pengikut Kristus
Harmonisasi Kasih Karunia dan Taurat: Relevansi Teologis dalam Kehidupan Kristen Kontemporer
This study examines the theological discourse surrounding grace and the Torah, a subject that has generated considerable debate among contemporary Christian communities. A prevalent view asserts that the grace made available through the death of Jesus Christ renders the Torah obsolete, thereby releasing Christians from its observance. In contrast, another perspective upholds the continued relevance of the Torah, particularly the Ten Commandments, as a moral and spiritual foundation. This ongoing debate underscores the need for a more nuanced understanding of the relationship between grace and the Torah in the context of Christian life today. Accordingly, the objective of this research is to investigate the potential harmonisation between grace and the Torah within contemporary Christian practice. Employing a descriptive qualitative approach, this study utilises a literature review method, drawing primarily on biblical texts and supplemented by relevant peer-reviewed scholarly sources. The findings suggest that grace and the Torah need not be viewed in opposition, but rather as complementary aspects of Christian ethics and spirituality. From both philosophical and moral perspectives, the study affirms that Christians—whether they emphasise divine grace or Torah observance—are equally called to embody a life of moral integrity and ethical responsibility.Penelitian mengenai kasih karunia dan Taurat ini dilatarbelakangi oleh perdebatan yang cenderung kontraproduktif di kalangan umat Kristen kontemporer. Sebagian kalangan berpendapat bahwa kasih karunia yang diberikan melalui kematian Yesus Kristus secara otomatis membatalkan keberlakuan Taurat, sehingga orang Kristen tidak lagi wajib melaksanakannya. Namun, terdapat pula pandangan lain yang meyakini bahwa Taurat tetap relevan dan berlaku, khususnya Sepuluh Perintah Allah. Perdebatan mengenai hubungan antara kasih karunia dan Taurat masih berlangsung hingga saat ini. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kemungkinan harmonisasi antara kasih karunia dan Taurat dalam kehidupan Kristen kontemporer. Penelitian ini merupakan studi kualitatif deskriptif dengan menggunakan metode kajian pustaka, di mana Alkitab dijadikan sebagai sumber utama, disertai dengan berbagai artikel ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat potensi harmonisasi antara kasih karunia dan Taurat dalam kehidupan umat Kristen masa kini, jika ditinjau dari perspektif filosofis dan moral. Baik mereka yang mengedepankan kasih karunia maupun yang berpegang pada Taurat, sama-sama dituntut untuk menjalani kehidupan dengan standar moralitas yang tinggi
Making Disciples of All Nations: Membangun Pemuridan Lintas Negara dalam Era Global
Abstract
The Community Service activity titled "Making Disciples of All Nations" will take place from October 22 to 27, 2024, in Singapore. This event aims to equip participants from 14 countries with the skills needed for cross-national discipleship missions. With approximately 100 attendees, the program will cover the principles of Discipling Nations (DN), Making Disciples of All Nations (MDN), and Preparing My People for End Times (PET). Participants will engage in presentations, discussions, practical skills training, and the development of follow-up action plans. This comprehensive approach will help them understand how to embody Christian values within a global context. As a result, participants will be able to comprehend and devise discipleship strategies tailored to their national contexts. They will also be prepared to become effective Gospel messengers and tackle end-times challenges. This program not only enhances participants' discipleship capabilities but also guides them in contributing to national transformation and building congregations that are ready to adapt to changing circumstances.Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Making Disciples of All Nations yang diselenggarakan pada 22-27 Oktober 2024 di Singapura bertujuan untuk memperlengkapi para peserta dari 14 negara dalam menjalankan misi pemuridan lintas negara. Dengan sekitar 100 peserta, program ini mengajarkan prinsip-prinsip Discipling Nations (DN), Making Disciples of All Nations (MDN), dan Prepare My People for End Times (PET). Melalui metode presentasi, diskusi, pelatihan keterampilan praktis, dan penyusunan rencana tindak lanjut, peserta memperoleh pemahaman komprehensif tentang cara membawa nilai-nilai Kristiani di tengah masyarakat global. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mampu memahami dan merencanakan pendekatan pemuridan yang sesuai dengan konteks negara masing-masing, serta siap untuk menjadi pemberita Injil yang berdampak positif dan persiapan menghadapi tantangan zaman akhir. PKM ini tidak hanya meningkatkan kemampuan pemuridan peserta, tetapi juga mengarahkan mereka untuk berkontribusi dalam transformasi bangsa dan membangun jemaat yang siap menghadapi perubahan zaman
Kajian Teologi Keluarga bagi Pemimpin Kristen dalam Kisah Abraham: Menelusuri Pola Inti Menuju Periferi
The concept of Christian leadership often emphasises the character and competence of prominent biblical figures, while overlooking the foundational structures of sacred institutions from a Christian theological perspective. Furthermore, it frequently neglects essential supporting elements beyond these central individuals. This study explores the theology of the family as a lens through which to understand God's purposes for believers, while acknowledging that God's authority is manifested in every individual whom He appoints as a leader. Although leadership remains a central theme, this research focuses on the family narrative of Abraham which, when viewed from a New Testament Christian perspective, may not represent the ideal family model. Nevertheless, within Abraham’s story, the family emerges as the primary context through which God blesses His people and shapes leaders. The findings of this study suggest that Abraham’s family plays a pivotal role in forming his leadership and continues to offer valuable insights for the contemporary Church.Konsep kepemimpinan Kristen banyak memperhatikan kepada karakter dan kompetensi dari banyak tokoh Alkitab, sehingga melupakan sistem inti dari sebuah institusi yang sakral dari perspektif Kristen. Selain itu belum komprehensif melihat suplemen penting diluar figur yang disekitarnya. Penelitian ini menggali teologi keluarga sebagai untuk memahami rencana Allah bagi orang percaya dengan tidak mengabaikan bahwa otoritas Allah selalu nyata dalam setiap individu yang sudah ditetapkannya menjadi seorang pemimpin. Sekalipun penting tapi dalam penelitian fokus kepada kisah keluarga Abraham ini menceritakan bagaimana keluarganya bisa dinilai tidak menjadi keluarga yang ideal dari perspektif Kristen Perjanjian Baru. Namun demikian dalam narasi Abraham keluarga menjadi tempat utama bagi Allah memberkati umatnya dan membentuk pemimpin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keluarga Abraham memberikan signifikansi bagi pembentukan kepemimpinan Abraham yang masih menarik untuk dikaji gereja masa kini
Pengajaran Etika Kristen dalam Pembentukkan Karakter dan Moral Siswa di SMTK Setia Mamuju
Character and moral education is an important element in shaping students' personalities, especially in Christian-based schools such as SMTK Setia Mamuju. This research aims to explore how the teaching of Christian ethics can be applied effectively in shaping students' character and morals. The research uses a qualitative method with a descriptive approach, where data is collected through interviews, observations and document analysis. The results of the study show that the teaching of Christian ethics not only focuses on teaching biblical doctrine but also on the application of values such as love, responsibility, honesty and discipline in students' daily lives. Christian Religious Education Teachers (PAK) play an important role as role models and facilitators in the process of shaping students' character. The strategies used include integrating Christian values into the curriculum, Bible-based interactive learning, and character development through extracurricular activities. In conclusion, the teaching of Christian ethics at SMTK Setia Mamuju has proven to be effective in building students' character and morals, but continuous efforts are still needed to ensure consistency in its implementation. This study provides recommendations for educators to strengthen a holistic and contextual teaching approach in character education based on Christian ethics.Pendidikan karakter dan moral merupakan elemen penting dalam pembentukkan kepribadian siswa, terutama di sekolah berbasis Kristen seperti SMTK Setia Mamuju. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana pengajaran etika Kristen dapat diterapkan secara efektif dalam membentuk karakter dan moral siswa. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dimana data dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajaran etika Kristen tidak hanya berfokus pada pengajaran doktrin Alkitab tetapi juga pada penerapan nilai-nilai seperti kasih, tanggung jawab, kejujuran dan disiplin dalam kehidupan sehari-hari siswa. Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) memainkan peran penting sebagai model teladan dan fasilitator dalam proses pembentukkan karakter siswa. Strategi yang digunakan meliputi pengintegrasian nilai-nilai Kristen dalam kurikulum, pembelajaran interaktif berbasis Alkitab, serta pembinaan karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kesimpulannya, pengajaran etika Kristen di SMTK Setia Mamuju terbukti efektif dalam membangun karakter dan moral siswa, namun masih diperlukan upaya berkelanjutan untuk memastikan konsistensi dalam implementasinya. Penelitian ini memberikan rekomendasi bagi para pendidik untuk memperkuat pendekatan pengajaran yang holistik dan kontekstual dalam pendidikan karakter berbasis etika Kristen
Pendekatan Metode Bermain dalam Meningkatkan Kecerdasan Kognitif Anak Usia Dini di PAUD Arastamar Kids
This research aims to improve the cognitive intelligence of early childhood at Arastamar Kids PAUD using a play method approach. Considering that children tend to spend much time playing from an early age and their cognitive abilities are still weak, it is important to apply the right approach to educating them. Early childhood education plays an important role in children’s mental, emotional and social development, especially in the 0-8-year phase. The play method was chosen as the main strategy in learning because it is considered capable of providing a fun and effective experience for children’s intellectual development. This service program is carried out at PAUD Arastamar Kids in Pekanbaru by involving teachers and students in a series of play activities designed to stimulate children’s critical thinking and problem-solving skills. This activity is held every Monday to Saturday from 08.00 to 11.00 WIB, with play sessions held before and after formal learning. The evaluation results show a significant increase in students’ cognitive intelligence, demonstrated through increased academic grades and ability to complete creative tasks. The play method approach has proven to be effective in creating a fun and interactive learning environment, as well as contributing positively to children’s cognitive development.Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan kognitif anak usia dini di PAUD Arastamar Kids dengan pendekatan metode bermain. Mengingat anak-anak cenderung menghabiskan banyak waktu untuk bermain sejak dini serta kemampuan kognitif yang masih lemah, penting untuk menerapkan pendekatan yang tepat dalam mendidik mereka. Pendidikan anak usia dini memegang peran penting dalam perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak, terutama dalam fase usia 0-8 tahun. Metode bermain dipilih sebagai strategi utama dalam pembelajaran karena dianggap mampu memberikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus efektif bagi perkembangan intelektual anak. Program pengabdian ini dilakukan di PAUD Arastamar Kids di Pekanbaru dengan melibatkan guru dan peserta didik dalam serangkaian kegiatan bermain yang dirancang untuk merangsang kemampuan berpikir kritis dan keterampilan problem solving anak. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Senin hingga Sabtu dari pukul 08.00 hingga 11.:00 WIB, dengan sesi bermain dilakukan sebelum dan sesudah pembelajaran formal. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kecerdasan kognitif peserta didik, yang ditunjukkan melalui peningkatan nilai akademik dan kemampuan dalam menyelesaikan tugas-tugas kreatif. Pendekatan metode bermain terbukti efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan interaktif, serta berkontribusi positif terhadap perkembangan kognitif anak