Jurnal Ilmiah Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Jakarta
Not a member yet
    220 research outputs found

    PELATIHAN PENGGUNAAN MICROSOFTT OFFICE WORD, POWERPOINT, EXCEL 2010 DAN GMAIL DI SMA ARASTAMAR AIR UPAS

    Full text link
    SMA Arastamar is the only high school currently in the Air Upas area, Air Upas District, Ketapang Regency, West Kalimantan. In this area SMA Arastamar was founded by the Servant of God. This high school is under the SABAS Foundation. The presence of this school is to improve human resources in the region. Based on the results of observations made to class XII science and social studies students, there were students who were less active in carrying out their duties. This happened because the learning process transmigrated into distance learning or better known as PJJ as a result of Covid-19. Covid-19 and forcing students to be able to use computer technology properly and correctly. Making assignments that had to be made in Office Word, PowerPoint and Excel did not go well, due to the lack of understanding of children in operating these devices, and not only that, students also had to be able to use Gmail to send assignments that were There is. With the existing observations, the authors are encouraged to conduct community service training for class XII students majoring in Science and Social Studies at Arastamar High School in order to improve the quality of students in information technology-based education.SMA Arastamar merupakan satu-satunya SMA yang ada saat ini di wilayah Air Upas, Kecamatan Air Upas, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.  Kehadiran sekolah ini adalah untuk meningkatkan sumber daya manusia di wilayah tersebut. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan kepada siswa-siswi kelas XII IPA dan IPS terdapat siswa siswi yang kurang aktif dalam mengerjakan tugasnya. Hal ini terjadi karena proses pembelajaran yang bertransmigrasi menjadi pembelajaran jarak jauh atau lebih dikenal dengan PJJ akibat dari covid-19. Covid-19 dan memaksa siswa harus bisa menggunakan Teknologi Komputer dengan baik dan benar. Pembuatan tugas-tugas yang harus dibuat dalam Office word, Power Point dan Excel itu tidak berjalan dengan baik, dikarenakan kurangnya pemahaman anak-anak dalam mengoperasikan perangkat tersebut, dan bukan hanya itu siswa-siswi juga harus bisa menggunakan gmail guna pengiriman tugas-tugas yang ada. Dengan observasi yang ada maka penulis terdorong untuk melakukan pengabdian pelatihan kepada siswa-siswi kelas XII jurusan IPA dan IPS SMA Arastamar guna meningkatkan mutu siswa-siswa dalam pendidikan berbasis teknologi informasi. Hasil pengabdian akan dilaporkan dalam bentuk artikel dengan menggunakan metode kualitatif

    SOSIALISASI TENTANG PENTINGNYA KESADARAN DALAM MEMBERIKAN PERSEMBAHAN KEPADA TUHAN DI JEMAAT GKSI PELITA HARAPAN LEMBOKODI

    Full text link
    Based on observational research, many GKSI Pelita Harapan Lembokodi congregation members do not give offerings properly due to economic factors. The problems prompted a service activity to the congregation at the GKSI Pelita Harapan Lembokodi church to increase the congregation's awareness of Lembokodi. Even so, there are shortcomings that need to be evaluated by the church because the congregation's appreciation of God's blessings is not balanced with their knowledge about giving offerings. The church must evaluate such conditions. The methods used in writing this research article are interviews with congregants and literature studies to support valid data. This socialisation activity requires 2 (two) stages to get better results. The results obtained after this activity was carried out showed that there was a change in the attitude of the congregation's awareness of giving offerings to God. This activity aims to answer the importance of awareness and lead to the congregation's situation by expanding knowledge and discussing ways to help the congregation improve their spirituality to grow and be rooted in the knowledge of Jesus Christ.Berdasarkan penelitian observasi yang dilakukan, masih banyak anggota jemaat GKSI Pelita Harapan Lembokodi yang tidak memberikan persembahan secara benar karena faktor ekonomi. Permasalahan yang dihadapi ini yang mendorong dilakukan kegiatan pengabdian terhadap jemaat di gereja GKSI Pelita Harapan Lembokodi sebagai upaya meningkatkan kesadaran jemaat yang berada di lembokodi. Walaupun seperti itu, masih terdapat kekurangan yang perlu menjadi bahan evaluasi gereja, karena tampak bahwa penghayatan jemaat terhadap berkat Allah yang kurang seimbang dengan pengetahuan mereka tentang memberikan persembahan. Kondisi yang demikian harus menjadi bahan evaluasi bagi gereja. Metode yang digunakan dalam menulis artikel penelitian ini adalah wawancara kepada jemaat dan studi kepustakaan untuk mendukung data secara valid. Pada kegiatan sosialisasi ini membutuhkan 2 (dua) tahapan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Hasil yang diperoleh setelah kegiatan ini dilakukan, menunjukkan bahwa adanya perubahan sikap kesadaran jemaat dalam memberikan persembahan kepada Tuhan. Tujuan dari kegiatan ini adalah menjawab tentang pentingnya kesadaran serta mengarah pada keadaan jemaat di sana, dengan memperluas pengetahuan, serta membicarakan tentang cara yang bisa menolong jemaat untuk meningkatkan kerohaniannya agar bertumbuh dan berakar di dalam pengenalan akan Yesus Kristus

    DAMPAK TEKNOLOGI DIGITAL TERHADAP PEWARTAAN INJIL DALAM KONTEKS MENGGEREJA

    Full text link
    The development of digital technology has provided new opportunities and challenges in efforts to proclaim the Gospel. Through social media, websites, and other online platforms, evangelizers can reach a wider audience and communicate directly with individuals or groups. However, not all evangelizers or churches can utilize technology effectively to get new souls into evangelism. In this research, the author uses a qualitative approach, which cannot be separated from observation methods and literature studies, to support comprehensive and valid data. To make good use of the potential of digital technology, this article invites churches and Christian missionaries to continue learning, adapting, and using digital tools in ways that support evangelists' vision. By holistically understanding and using digital technology's impact wisely, churches can strengthen their evangelisation efforts and present the Christian message to an increasingly digitally connected generation.Perkembangan teknologi digital telah memberikan peluang baru dan tantangan dalam upaya pewartaan Injil. Melalui media sosial, situs web, dan platform online lainnya, pewarta Injil dapat mencapai audiens yang lebih luas dan berkomunikasi secara langsung dengan individu atau kelompok. Namun, pada kenyataannya tidak semua pewarta Injil atau gereja memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi dengan efektif untuk mendapatkan jiwa-jiwa baru dalam penginjilan. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif serta tidak lepas dari metode observasi dan studi kepustakaan untuk mendukung data secara komprehensif dan valid. Dalam rangka memanfaatkan potensi teknologi digital dengan baik, artikel ini mengajak gereja dan misionaris Kristen untuk terus belajar, beradaptasi, dan menggunakan alat-alat digital dengan cara yang mendukung visi pewarta Injil. Dengan memahami dampak teknologi digital secara holistik dan menggunakannya dengan bijaksana, gereja dapat memperkuat upaya pewarta Injil dan menghadirkan pesan-pesan kristiani kepada generasi yang semakin terhubung secara digital

    KUALIFIKASI PENGAJAR ALKITAB MELAWAN AJARAN SESAT ANTI- TRITUNGGAL BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:1-16

    Full text link
    Heresy teachings that reject the doctrine of the Triune God (anti-Trinity) have emerged since the beginning of Christianity in the world. The form exists in various variants, in principle, denying God's divinity and personal equality existing in the Trinity. New variants, such as Oneness Pentecostalism and Dwitunggal teachings, are still emerging in the current global era. Anti-Trinity teachings are a threat to lead the church astray. A Bible teacher needs to have special qualifications to combat anti-Trinitarian teachings. What qualifications are needed for a Bible teacher against anti-Trinitarian teachings as stated in 1 Tim? 4:1-16 is the research question asked. For this reason, this scientific article was written to explain these qualifications. By using exegesis and literature study methods, it was found that the qualifications that a Bible teacher should have against Anti-Trinitarian teachings are living out the teachings of the apostles by adhering to them and faithfully teaching them, having biblical spiritual-theological competence by understanding the basic principles of the Christian faith (Basic Beliefs), has Pneumatic Inspirational Hermeneutics, and can monitor himself and his teachings.Ajaran sesat yang menolak doktrin Allah Tritunggal (Anti-Tritunggal) sudah muncul sejak awal kekristenan lahir di dunia. Bentuknya ada dalam berbagai varian yang pada prinsipnya menolak keallahan dan kesetaraan pribadi Allah yang eksis dalam Tritunggal. Bahkan di era global saat ini, masih bermunculan varian baru seperti ajaran Oneness Pentacostalism dan Dwitunggal. Ajaran Anti-Tritunggal menjadi ancaman yang menyesatkan gereja. Seorang pengajar Alkitab perlu memiliki kualifikasi khusus untuk melawan ajaran Anti-Tritunggal. Kualifikasi apa yang diperlukan seorang pengajar Alkitab melawan ajaran Anti-Tritunggal seperti yang tertuang dalam 1 Timotius 4:1-16, merupakan pertanyaan penelitian yang diajukan. Untuk itu, artikel ilmiah ini ditulis dengan tujuan memaparkan kualifikasi tersebut. Dengan memakai metode eksegesis dan studi literatur, ditemukan kualifikasi yang patut dimiliki seorang pengajar Alkitab melawan ajaran Anti-Tritunggal yaitu menghidupi ajaran para rasul dengan cara berpegang teguh padanya dan setia mengajarkannya, memiliki kompetensi spiritual-teologis alkitabiah dengan cara memahami pokok-pokok iman Kristen (Basic Beliefs), memiliki Hermeneutika Inspirational Pneumatik, dan mampu mengawasi diri juga ajarannya

    SEMINAR PENINGKATAN EKONOMI JEMAAT MELALUI BISNIS ONLINE DI PARSAHUTAON PGRI CISAUK, TANGERANG

    Full text link
    This article is a report on community service through a Seminar about increasing congregations’ economic through online business. The seminar was conducted for the members of Pasahutoan Gotorong Imanuel at Cisauk as the action of sharing ideas for the goodness of each member.  The community service was conducted through a seminar with discourse and discussion methods. The media was PowerPoint and TV Screens.  The purpose of this report is reference for increasing the congregation’s economy through online business. The method is qualitative research with a literature study. It started by collecting literature such as a recent journal. The analytic method is content analysis. Analytic results display descriptive. The result is the seminar has impacted the member to start and continue their online business.Artikel ini merupakan laporan pengabdian masyarakat tentang peningkat ekonomi jemaat melalui binsis online melalui seminar. Seminar ini diselenggarakan untuk peningkatan ekonomi anggota Parsahutaon Gotong Royong Imanuel di Casauk sebagai wujud berbagi ide-ide untuk kebaikan setiap anggota.  Penyelanggaran pengabdian masyarakat ini melalui seminar dengan metode ceramah dan diskusi. Adapun medianya powerpoint dan TV sebagai penganti layar. Adapun tujuan pelaporan ini untuk menjadi refrensi peningkatan ekonomi jemaat melalui bisnis online. Metode penulisan laporan ini penelitian kualitatif dengan model studi pustakan. Adapun langkahnya mulai mengumpulkan literarur berupa jurnal terkini. Metode analisisnya analisis konten. Hasil analisis disajikan secara deskriptif. Hasilnya seminar yang dilakukan berdampak terhadap minat dan semangat anggota untuk memulai dan meneruskan bisnis online

    EDUKASI PEDAGOGI TENTANG URGENSI PENDIDIKAN KELUARGA BAGI ORANG TUA DI DESA TANJUNG BERINGIN

    Full text link
    Tanjung Beringin Village is one of the villages in Sungai Laur District, Ketapang Regency, West Kalimantan. Here is where the community service implementation activities are held. Based on the results of observations and surveys conducted, parents in Tanjung Beringin Village still lack understanding and knowledge that instilling Christian values and shaping their children's spirituality is a responsibility that must be prioritized. As a result of the problem, the parents take a less favourable stance and action for the child, namely transferring this noble responsibility to the church (Sunday school) and school (religious teacher). As a form of responsibility and concern, implementing Community Service is present as an answer to these needs. The goal is that parents in Tanjung Beringin Village can become responsible individuals in shaping their family members into a generation that fears God and has noble morals. Implementing this Community Service uses observation, survey, and discussion methods and is supported by literature studies. As for the results obtained from this effort, parents in Tanjung Beringin Village already understand and know how to be responsible individuals in educating their children in truth through family education.Desa Tanjung Beringin salah satu kampung yang terletak di Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Di sinilah tempat kegiatan pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat ini diselenggarakan. Berdasarkan hasil pengamatan dan survei yang dilakukan, ternyata orang tua di Desa Tanjung Beringin masih kekurangan pemahaman dan pengetahuan bahwa menanamkan nilai-nilai kristiani dan membentuk kerohanian anak-anaknya merupakan tanggung jawab yang mesti diprioritaskan. Akibat dari masalah tersebut, orang tua mengambil sikap dan tindakan yang kurang menguntungkan bagi anak, yaitu mengalihkan tanggung jawab mulia ini kepada gereja (sekolah minggu) dan sekolah (guru agama). Sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian, pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Tujuannya adalah supaya orang tua di Desa Tanjung Beringin dapat menjadi pribadi yang bertanggung jawab dalam membentuk anggota keluarganya menjadi generasi yang takut akan Tuhan dan berakhlak mulia. Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat ini menggunakan metode observasi, survei, diskusi, dan didukung oleh studi kepustakaan. Adapun hasil yang diperoleh dari upaya ini adalah, orang tua di Desa Tanjung Beringin sudah memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang bagaimana menjadi pribadi yang bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya dalam kebenaran melalui pendidikan keluarga

    HUBUNGAN ANTARA TUAN DAN HAMBA DALAM DUNIA KERJA BERDASARKAN KOLOSE 3:22-4:1

    Full text link
    In Indonesia, the relationship between workers and employers is regulated in a legal regulation that aims to balance interests and justice. However, many disputes between workers and employers are caused by unequal interests and injustice. A more appropriate relationship is needed to ensure fairness and, at the same time, be able to encourage workers and employers to give their best in their relationships. This paper seeks to provide an alternative relationship between workers and employers to ensure justice and provide the best for workers and employers who depart from the spirit of serving and are centred on Christ. This paper is qualitative research that offers a model of servant relations obtained through the excavation of Colossians 3: 22 – 4:1 with the exegesis method. This paper concludes that the servant relationship between workers and employers centred on Christ, with the motive of serving each other based on the values ​​given by Colossians 3: 22 – 4: 1. This awareness will undoubtedly encourage workers and employers to give their best.Di Indonesia, hubungan pekerja dan pemberi kerja diatur dalam suatu aturan legal yang bertujuan untuk menjamin keseimbangan kepentingan dan keadilan. Namun pada kenyataannya banyak terjadi perselisihan antara pekerja dan pemberi kerja yang diakibatkan oleh ketimpangan kepentingan dan ketidakadilan. Diperlukan relasi yang lebih tepat untuk menjamin keadilan dan pada saat yang sama mampu mendorong pekerja dan pemberi kerja untuk memberikan yang terbaik di dalam relasi mereka. Tulisan ini berusaha untuk memberikan alternatif relasi pekerja dan pemberi kerja yang bertujuan untuk memastikan keadilan dan memberikan yang terbaik bagi pekerja dan pemberi kerja yang berangkat dari semangat melayani dan berpusat pada Kristus. Tulisan ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk menawarakan model relasi pelayan yang didapatkan melalui penggalian Kolose 3:22–4:1 dengan metode eksegesis. Tulisan ini menyimpulkan bahwa relasi pelayan adalah suatu relasi antara pekerja dan pemberi kerja yang berpusat pada Kristus, dengan motif saling melayani yang didasarkan atas nilai-nilai yang diberikan oleh Kolose 3:22–4:1. Kesadaran ini tentu saja akan mendorong pekerja dan pemberi kerja memberikan yang terbaik

    PERDUKUNAN, SIHIR, DAN RAGAMNYA: SEBUAH UPAYA UNTUK MEMAHAMI PRAKTIK RAHASIA DALAM NARASI-NARASI KISAH PARA RASUL

    Full text link
    This article will discuss shamanic practices still preserved today by people in Indonesia. In general, this paper will examine the variety of definitions that existed long before the practice of shamanism. Specifically, it will discuss the sources of knowledge, their functions and uses in shamanic practice. It will then show the critical theological attitude that is a significant part of today's Christians by using some of the narratives in Acts 8, 13, and 19. The characters in the narrative of Acts 8, 13, and 19 will be dissected using Andy Reimer's theory of the perspective embodied in the definition of magic. This paper uses qualitative research methods from books, scientific journal articles, and internet articles to obtain helpful knowledge. This method gives birth to several main points: 1) God has absolute power, while man is only a finite being; 2) The powers of darkness cannot compete with God's miracles; 3) God's consecration and protection are bestowed upon man through the celebration of the Lord's Supper as a form of miracles that can be used for all time; 4) Holy Communion is a healing process that man can use to ward off magical powers.Artikel ini akan membahas praktik perdukunan yang masih dilestarikan hingga kini oleh masyarakat di Indonesia. Secara umum, tulisan ini akan mengkaji tentang ragam definisi yang telah ada jauh sebelum praktik perdukunan. Secara spesifik, akan membahas tentang sumber ilmu, fungsi dan penggunaannya dalam praktik perdukunan. Kemudian akan memperlihatkan sikap teologis kritis yang menjadi bagian utama dari orang Kristen masa kini dengan menggunakan beberapa narasi dalam kitab Kisah Para Rasul 8, 13, dan 19. Tokoh dan karakter dalam narasi Kisah Para Rasul 8, 13, 19 akan dibedah menggunakan teori Andy Reimer tentang perspektif yang terkandung dalam definisi sihir. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersumber dari buku, artikel jurnal ilmiah, artikel internet guna memperoleh khazanah pengetahuan yang bermanfaat. Dengan demikian, melahirkan beberapa poin utama: 1) Tuhan memiliki kekuatan yang bersifat mutlak, sedangkan manusia hanyalah makhluk yang terbatas; 2) Kuasa-kuasa kegelapan tidak dapat bersaing dengan mukjizat Tuhan; 3) Penyertaan dan perlindungan Tuhan dianugerahkan kepada manusia melalui perayaan Perjamuan Kudus sebagai wujud mukjizat yang dapat digunakan sepanjang masa; 4) Perjamuan Kudus merupakan sebuah proses penyembuhan yang dapat dipakai manusia untuk menangkal kuasa magis

    PEMBERSIHAN RITUAL DAN SPIRITUALITAS: ANALISIS LUKAS 11:39 DALAM KONTEKS PERIBADATAN

    Full text link
    This article analyzes ritual and spiritual cleansing in the context of worship according to Luke 11:39. According to the Pharisees' point of view, religious traditions or rituals must be carried out to maintain holiness because the Pharisees are religious leaders, who have the power to teach other people in worship and determine the regulations for carrying out worship. One of them is washing your hands before eating. The act is considered a necessity to show purity. In reality, the religious rituals of the Pharisees were only to justify themselves, while their hearts were far from God. Christians perform ritual cleansing in worship. This tradition is not wrong; it can only result in a shift in the focus of worship. The desire to appear spiritual is a ritual cleansing many people can see. Spiritual cleansing is the most important thing to do. The method used in this research is a qualitative analytical-theological approach using a literature study method. This research concludes that Jesus' words to the Pharisees about cleaning the cup and plate contain a figurative meaning: the human body, namely the heart. The heart needs to be cleansed from all evil and hypocrisy.Artikel ini menganalisis pembersihan ritual dan spiritual dalam konteks peribadatan menurut Lukas 11:39. Menurut sudut pandang orang Farisi, tradisi atau ritual agama harus dilakukan untuk menjaga kekudusan, karena orang Farisi merupakan pemimpin agama, yang memiliki kekuasaan untuk mengajar orang lain dalam beribadah dan menentukan ketetapan-ketetapan dalam menjalankan ibadah. Salah satunya mencuci tangan sebelum makan. Tindakan tersebut dianggap suatu keharusan untuk menunjukkan kesucian. Kenyataannya, ritual agama orang Farisi hanya untuk membenarkan diri sedangkan hati mereka jauh dari Tuhan. Orang Kristen melakukan pembersihan ritual dalam peribadatan. Tradisi ini tidaklah salah, hanya dapat mengakibatkan pergeseran fokus peribadatan. Keinginan untuk terlihat rohani merupakan pembersihan ritual yang dapat dilihat orang banyak. Pembersihan spiritual merupakan hal yang paling utama dikerjakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif analisis-teologis dengan metode studi kepustakaan. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa perkataan Yesus terhadap orang Farisi tentang membersihkan cawan dan pinggan mengandung makna kiasan yang artinya tubuh manusia, yakni hati. Hati perlu dibersihkan dari segala kejahatan dan kemunafikan

    SOSIALISASI PEMAHAMAN KEPADA ORANG TUA DI GKSI El-SHADDAI BOJO TENTANG PENTINGNYA PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

    Full text link
    This Community Service Implementation was held at GKSI El-Shaddai which is located in Bojo Village, Budong-budong District, Central Mamuju Regency, West Sulawesi. The methods used were field surveys, interviews, discussions, and supported by literature research. Parents at GKSI El-Shaddai are people who are in need of understanding and provision of the importance of Christian religious education in the family. Why? Referring to the results of the PkM that was carried out, the cause was the lack of understanding of parents about the use and function of PAK in the family. As a result, the children at GKSI El-Shaddai experience spiritual, character and moral decline. As a form of responsibility, the servant took the initiative to organize outreach to parents and children at GKSI El-Shaddai in order to provide them with an understanding of the nature, function and role of PAK in the family. As for the contribution of thought from the servant, namely: first, providing enlightenment to parents that PAK is an effective and powerful educational figure in educating children in truth. Second, educate parents that implementing PAK in the family is a noble responsibility from God which is given to them so that it is taught to their children.Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat ini diselenggarakan di GKSI El-Shaddai yang bertempat di Desa Bojo, Kecamatan Budong-budong, Kabupaten Mamuju tengah, Sulawesi Barat. Adapun metode yang digunakan yaitu, survei lapangan, wawancara, diskusi, serta didukung oleh research pustaka. Orang tua di GKSI El-Shaddai merupakan masyarakat yang sedang membutuhkan pemahaman dan pembekalan tentang pentingnya pendidikan agama Kristen dalam keluarga. Mengapa? Mengacu dari hasil PkM yang dilakukan, maka penyebabnya adalah kurangnya pemahaman orang tua tentang kegunaan dan fungsi PAK dalam keluarga. Akibatnya anak-anak di GKSI El-Shaddai mengalami kemerosotan spiritual, karakter, dan moral. Sebagai bentuk tanggung jawab, pengabdi berinisiatif menyelenggarakan sosialisasi kepada orang tua dan anak-anak di GKSI El-Shaddai guna memberikan pemahaman kepada mereka tentang hakikat, fungsi, dan peran PAK dalam keluarga. Adapun sumbangsih pemikiran dari pengabdi yakni: pertama, memberikan pencerahan kepada orang tua bahwa PAK merupakan figur edukasi yang efektif dan ampuh dalam mendidik anak dalam kebenaran. Kedua, mengedukasi orang tua bahwa penerapan PAK dalam keluarga merupakan tanggung jawab mulia dari Tuhan yang diberikan kepada mereka supaya diajarkan kepada anak

    192

    full texts

    220

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Jakarta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇