Jurnal Ilmiah Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Jakarta
Not a member yet
    220 research outputs found

    MEMBANGUN MULTI KOMPETENSI PENDETA GBI (STUDI PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA PENDETA DI ERA POSTMODERN)

    Full text link
    This research is motivated by the fundamental need to manage tasks and responsibilities in church ministry in the postmodern era, ensuring the availability of human resources with above-average multi-competencies. The rapid development of science and technology significantly impacts human life in various aspects. Specifically, we are currently facing the issue of Artificial Intelligence (AI). The method employed in this research is descriptive qualitative research. Findings from this research indicate that the postmodern era demands church leaders to possess multi-competencies. The presence of the postmodern era has altered the dynamics of social, cultural, and spiritual aspects of society. The biblical foundation is crucial in developing efforts for the Multi-Competence of Pastors in the Church of Bethel Indonesia to enhance the quality of resources as fitting leaders in the postmodern era. The conditions of society in the postmodern era are sporadic and dynamic, characterized by idealistic and individualistic traits, along with social life trending towards advancement, rationality, and even skepticism. Pastoral leadership also has a sustainability dimension, considering the holistic needs of individuals within the church and nation's communities. This research aims to build the multi-competence of Bethel Indonesia church pastors to have multi-competencies in this postmodern era.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan fundamental dalam mengelola tugas dan tanggung jawab pelayanan gerejawi di era postmodern, agar tersedia sumber daya manusia yang memiliki multi kompetensi di atas rata-rata. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat memberikan dampak bagi kehidupan manusia dalam segala aspeknya. Secara khusus, kita saat ini dihadapkan pada isu kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa era postmodern  menuntut pemimpin gereja memiliki multi kompetensi. Kehadiran era postmodern  telah mengubah dinamika sosial, budaya, dan spiritualitas dalam masyarakat. Pentingnya landasan Alkitab untuk mengembangkan upaya Multi Kompetensi Pendeta Gereja Bethel Indonesia guna meningkatkan kualitas sumber daya sebagai pemimpin yang sesuai di era postmodern . Kondisi masyarakat di era postmodern  sangatlah sporadis dan dinamis, dengan ciri-ciri yang idealis dan individualis, serta kehidupan sosial yang cenderung maju, rasional, dan bahkan skeptis. Kepemimpinan pendeta juga memiliki dimensi keberlanjutan, mengingat kebutuhan manusia yang tergabung dalam komunitas gereja dan bangsa bersifat holistik.  Tujuan dari penelitian ini yaitu membangun multi kompetensi pendeta gereja bethel indonesia  untuk memiliki multi kompetensi  di era postmodern ini

    TO REACH THE UNREACHED PEOPLE: MENGKAJI MISI DAN PELAYANAN MATHEUS MANGENTANG

    Full text link
    One of Indonesia's most critical mission figures is Matheus Mangentang (MM). His project was carried out across nearly all of Indonesia through SETIA and GKSI. Nevertheless, there is a paucity of literature and studies analyzing the missions that MM has completed. Researchers discovered numerous findings through qualitative approaches, particularly literature or literature studies. First, MM's compassion for oppressed souls—the bulk of whom lived in isolated or rural areas—was the catalyst for the birth of his mission. Therefore, that inspired him to reach out to them, uplift them, and share the good news of redemption with them to ultimately free them from spiritual, educational, and even economic weakness.Di Indonesia, salah satu tokoh misi penting adalah Matheus Mangentang (MM). Misinya dilaksanakan hampir di seluruh Indonesia melalui SETIA dan GKSI. Namun demikian, terdapat kekurangan literatur dan studi yang menganalisis misi yang telah diselesaikan MM. Banyak temuan yang ditemukan peneliti melalui penggunaan pendekatan kualitatif, khususnya studi pustaka atau literatur. Pertama, belas kasih MM terhadap jiwa-jiwa tertindas—yang sebagian besar tinggal di daerah terpencil atau pedesaan—adalah katalis lahirnya misinya. Oleh karena itu, hal itu mengilhami dia untuk menjangkau mereka, mengangkat semangat mereka, dan membagikan kabar baik tentang penebusan kepada mereka agar pada akhirnya membebaskan mereka dari kelemahan rohani, pendidikan, dan bahkan ekonomi

    PRINSIP PEMIMPIN KRISTEN: ANALISA TEOLOGIS 1 PETRUS 5:1-11

    Full text link
    Spiritual leaders play a very important role in the development and growth of the church. They are not only responsible for leading and teaching the congregation, but must also be concerned for the spiritual and emotional well-being of its members. Being competent is not an easy job. A spiritual leader in the context of the New Testament can be seen from the lives of Jesus' disciples. They were also competent pastors who had the leadership skills and qualities required of the day. They lead the congregation and guide according to the purpose that God calls leaders in every context.Pemimpin rohani memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan dan pertumbuhan gereja. Mereka tidak hanya bertanggung jawab untuk memimpin dan mengajarkan jemaat, tetapi juga harus memperhatikan kesejahteraan spiritual dan emosional dari para anggotanya. yang kompeten bukanlah pekerjaan yang mudah. Seorang pemimpin rohani dalam konteks Perjanjian Baru terlihat dari kehidupan murid Yesus. Mereka adalah juga gembala jemaat yang kompeten yang memiliki keterampilan dan kualitas kepemimpinan yang diperlukan saat itu. Mereka memimpin jemaat dan membimbing sesuai dengan tujuan daripada Allah memanggil pemimpin di setiap konteks

    SEMINAR BAGI WANITA AGAR MEMILIKI KEROHANIAN YANG BERKUALITAS DI KOTA PADANG

    Full text link
    A woman must understand the meaning of the helping words and prayer pillars. The facts show that there are still too many women in small towns and big cities who do not understand the function of a helper and prayer pillar in every household. The method used is to hold seminars about women so that many have quality spirituality. Because by having spiritual qualities, they will understand the function of being a helper and prayer pillar. The seminar implementation was delivered to various interdenominational churches; the participants were women pastors and the seminar lecture method. This is done with the hope that all participants can convey. This was done with the hope that all participants would be able to convey the material they got in the seminar to their respective congregations in their local church. Due to the covid 19 pandemic, many events are being held via zoom. This is also used to follow up on the teaching that has been delivered so that they remain in the community who want to learn.Seorang wanita penting untuk memahami arti dari kalimat penolong dan tiang doa. Fakta menunjukkan bahwa masih terlalu banyak wanita, bukan hanya dikota kecil tetapi juga banyak terdapat dikota besar yang belum memahami fungsi penolong dan tiang doa dalam setiap rumah tangga. Metode yang digunakan adalah melaksanakan seminar tentang wanita agar banyak wanita memiliki kerohanian yang berkualitas. Sebab dengan memiliki kerohanian yang berkualitas mereka akan memahami fungsi sebagai penolong dan tiang doa. Pelaksanaan seminar ini dilakukan dengan metode penelitian kepustakaan dari buku-buku yang terkait dan dilaksanakan dengan metode ceramah diskusi bersama dengan satu organisasi yang melayani wanita keberbagai kota di Indonesia. Seminar tersebut disampaikan keberbagai interdenominasi gereja dengan para peserta ibu-ibu gembala. Hal ini dilakukan dengan harapan semua peserta dapat menyampaikan materi yang mereka dapatkan dalam seminar kepada masing-masing jemaatnya di gereja lokal mereka.  Akibat pandemik covid 19, banyak acara-acara dilakukan melalui zoom.  Hal ini juga dimaanfaatkan untuk menindaklanjutkan pengajaran yang sudah disampaikan agar mereka tetap ada dalam komunitas yang mau belajar

    ANALISIS TERANG AMORIS LAETITIA DAN ECCLESIA DOMESTICA PADA KONTEN YOUTUBE DESAHAN FOKUS MINOMARTANI

    Full text link
    The rapid development of technology changes the warmth and intimacy between family members. Technology has succeeded in keeping everyone busy with their gadgets and the convenience of surfing virtual media. This situation results in a lack of warmth in the family. This study uses a qualitative method with a case study approach. This study aims to explore youtube content DESAHAN Minomartani Parish to proclaim the faith in the light of Amoris Laetitia and Ecclesia Domestica. This evangelization is also an effort to make Christian families feel increasingly warm in the family amid increasingly rapid technological developments. The research subject is the content of DESAHAN at Fokus Minomartani, which talks about family. This research is qualitative by applying a case study approach. The research subject is the content of DESAHAN in Minomartani Focus which raises about family. This research uses the theoretical framework of Pope Francis' thought in the documents of Amoris Laetitia and Ecclesia Domestica. The results showed three essential points. First, content with a family theme is always discussed every month. Second, a meditation on the family theme discusses messages relevant to the documents of Amoris Laetitia and Ecclesia Domestica. Third, content with a family theme is delivered to help families stay faithful to their marriage vows.Pesatnya perkembangan teknologi membawa perubahan pada kehangatan dan keintiman antar anggota keluarga. Teknologi berhasil membuat setiap orang sibuk dengan gadget dan kenyamanannya dalam berselancar di media maya. Keadaan ini berakibat pada renggangnya kehangatan di tengah keluarga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini mempunyai tujuan hendak mengeksplorasi Konten Youtube DESAHAN Paroki Minomartani sebagai upaya untuk pewartaan iman dalam terang Amoris Laetitia dan Ecclesia Domestica. Pewartaan ini juga sebagai upaya agar keluarga kristiani semakin menghayati kehangatan dalam keluarga di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. Subjek Penelitian adalah konten DESAHAN di Fokus Minomartani yang berbicara tentang keluarga. Penulis akan menggunakkan kerangka teori pemikiran Paus Fransiskus dalam dokumen Amoris Laetitia dan Salam Rasul Paulus kepada Priska dan Akwila yang disebut dengan Ecclesia Domestica (Gereja Rumah Tangga). Penelitian menghasilkan data yakni konten tentang keluarga selalu diwartakan tiap bulan. Renungan tentang keluarga berisi poin-poin yang relevan dan sebagai usaha untuk membantu keluarga agar tetap setia dengan janji perkawinan

    PERSEKUTUAN DEWASA MUDA KONTEKSTUAL YANG PEDULI ISU KESEHATAN MENTAL DI GEREJA KRISTEN INDONESIA (GKI) BROMO

    Full text link
    Koinonia is one of the vocations of the church. As a good fellowship of believers, each individual in the congregation should be seen as a holistic human with four main aspects: physical, mental, social, and spiritual. This research examines mental health issues, specifically the Quarter Life Crisis experienced by the young adult congregation of GKI Bromo. By conducting field research using community-based action research (CBAR), the method found that the young adults of GKI Bromo were struggling with mental health issues in the context of building the congregation. It was necessary to design a fellowship involving the human mental aspect. The fellowship needs to concern and accommodate young adults to share their real experiences and give them space to do individual reflection. The follow-up action needed to be based on the findings of this research is that GKI Bromo needs to create a forum that facilitates contextualized peer support groups of young adults.Salah satu tugas panggilan gereja adalah koinonia atau persekutuan umat percaya. Persekutuan yang baik harus melihat manusia sebagai pribadi yang holistik yang mempunyai 4 aspek utama:  fisik, mental, sosial dan spiritual. Penelitian ini mencoba untuk melihat fenomena kesehatan mental (Quarter Life Crisis) yang dialami oleh jemaat dewasa muda GKI Bromo. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Dengan melakukan penelitian lapangan menggunakan metode community-based action research (CBAR), ditemukan bahwa dewasa muda GKI Bromo bergumul dengan persoalan kesehatan mental dan dalam rangka pembangunan jemaat maka perlu untuk mendesain persekutuan yang juga melibatkan aspek mental manusia. Persekutuan yang dimaksud tidak hanya mementingkan aspek ritual tetapi persekutuan yang reflektif dan mengakomodir pengalaman jemaat secara jujur. Aksi tindak lanjut yang dibutuhkan berdasarkan temuan penelitian ini adalah GKI Bromo perlu menciptakan forum yang memfasilitasi peer support group jemaat dewasa muda yang kontekstual

    PEMBERDAYAAN WANITA KRISTEN INDONESIA BERSAMA ORGANISASI FLOURISH INTERNATIONAL

    Full text link
    Women's empowerment has become essential for developing the whole people in Indonesia. With women's many roles as mothers, career women, educators and church servants, it is often difficult for women to develop their potential to the fullest. Flourish International, a Christian nonprofit organization since 1968 that dedicated itself to empowering women in developing countries, began giving training seminars in Indonesia in 2009. The growth of women in terms of physical and mental health, self-esteem, and opportunities to develop potential has become the main focus of Flourish International. Several training classes and seminars have been held focusing on small 20-person women's communities and training for facilitators who can later create training classes for their communities. The training methods are covered in 9 seminar sessions and activities that help participants deepen the training modules based on the word of God. This training class is accompanied by sharing and counselling sessions led by the facilitator. The class also aims for participants to experience the love of Christ and the truth of God's word through the restoration of the heart, soul and mind. It is hoped that the Flourish class will help participants find relief and transformation for their families, the surrounding environment and the church.Pemberdayaan wanita telah menjadi hal yang essensial bagi pengembangan manusia seutuhnya di Indonesia. Dengan banyaknya peran yang dimiliki wanita sebagai ibu, wanita karir, pendidik dan pelayan gereja membuat wanita seringkali tidak mudah mengembangkan potensinya secara maksimal. Flourish International, suatu organisasi non-profit Kristen sejak tahun 1968 mendedikasikan dirinya untuk pemberdayaan wanita di negara-negara berkembang di dunia, mulai memberikan seminar pelatihan di Indonesia sejak tahun 2009. Pertumbuhan wanita dalam hal kesehatan jasmani dan mental, keberhargaan diri, kesempatan mengembangkan potensi, telah menjadi fokus utama dari Flourish International. Beberapa kelas pelatihan dan seminar telah diadakan dengan fokus kepada komunitas-komunitas kecil berskala 20 orang wanita beserta pelatihan untuk para fasilitator yang nantinya dapat membuat kelas-kelas pelatihan bagi komunitasnya. Metode pelatihan tercakup pada 9 sesi seminar beserta aktivitas-aktivitas yang membantu peserta mendalami modul pelatihan berlandaskan firman Tuhan. Kelas pelatihan ini disertai sesi sharing dan konseling dipimpin oleh fasilitator. Kelas juga bertujuan agar peserta mengalami kasih Kristus dan kebenaran firman Tuhan lewat pemulihan hati, jiwa dan pikiran.  Pengadaan kelas Flourish diharapkan dapat membantu peserta mendapat kelegaan dan bertransformasi bagi keluarga, lingkungan sekitar dan gereja

    SIKAP HKBP TERHADAP OKULTISME DAN EKSORSISME DALAM MASYARAKAT BATAK TOBA: KAJIAN ATAS PRAKTIK OKULTISME DI HKBP NAULI DANOHORBO

    Full text link
    The Church's encounter with culture makes it possible for the Church to accept or reject cultures. HKBP Church is one of the tribal churches in Indonesia that accepts and takes care of the Toba Batak tradition. The HKBP Church's acceptance of culture has been accompanied by prohibitions and teachings in the Confession Book and Ruhut Parmahanion Paminsangon (RPP) books. However, there are still congregations that carry out occult practices. This article aims to discuss the current and future manners of the HKBP Church towards occult practices and exorcism in the Toba Batak community. The author will use a qualitative method with literature studies, namely contextualization efforts based on Stephen B. Bevans' theory, especially the synthesis model and based on Richard Niebuhr's views on Christ and Culture, Edgar H. Schein on the cultural structure and Martin Luther on Exorcism. This study finds that the Toba Batak tradition contains positive and negative values. Therefore, this study suggests that the Church needs to conduct a cultural review to find the correct tradition, and the Church must take part in the practice of exorcism.Perjumpaan Gereja dengan budaya memungkinkan terjadinya penerimaan atau penolakan gereja terhadap budaya. Gereja HKBP salah satu gereja kesukuan di Indonesia yang menerima dan menjaga tradisi Batak Toba.  Penerimaan Gereja HKBP terhadap budaya telah disertai dengan larangan dan pengajaran yang tertuang dalam buku Konfessi dan Ruhut Parmahanion Paminsangon (RPP), namun masih ada jemaat yang melaksanakan praktik okultisme. Tulisan ini bertujuan mempercakapkan sikap Gereja HKBP saat ini dan di waktu yang akan datang terhadap praktik okultisme dan eksorsisme dalam masyarakat Batak Toba. Penulis akan menggunakan metode kualitatif dengan studi kepustakaan, yaitu upaya kontekstualisasi berbasis teori Stephen B. Bevans khususnya model sintesis dan berdasarkan pandangan Richard Niebuhr tentang Kristus dan Kebudayaan, Edgar H. Schein tentang struktur kebudayaan dan Martin Luther tentang Eksorsisme. Kajian ini menemukan bahwa tradisi Batak Toba mengandung nilai positif dan juga nilai negatif, oleh karena itu kajian ini menawarkan bahwa Gereja perlu melakukan kajian ulang terhadap budaya sehingga ditemukan tradisi yang benar, dan Gereja harus ambil bagian dalam praktik Eksorsisme

    KEMAJEMUKAN GEREJA DALAM BINGKAI PROMISSIO YANG MEMAKNAI MISSIO DAN COMPROMISSIO

    Full text link
    The church is a visible fellowship of people from different cultures and plural societies in the name of Jesus. This is what is called the real church. Believing in the church means believing in the Lord Jesus' promise that when two or three people gather in His name, that is where He will be in the midst of them (Matthew 18:20). Believing in the church is believing that the church is a "sign" and "foretaste" of the fellowship between humans and God from His kingdom to come. This view of the church implies that the church has the characteristics of the presence of Jesus and the destiny of eschatology, as waiting for the kingdom to come, the church remains part of this world. It is marked by sin, unbelief, and division. For a structured approach, the author will use qualitative research to describe the situation and phenomenon of today's church pluralism which implies hidden problems and tensions between denominations within diversity. I will also use descriptive, correlational, and exploratory methods. This article closes with a church that must unite and understand that the church cannot alone but compromise in mission based on God's promises.Gereja adalah sebuah visible fellowship dari orang yang datang dari perbedaan dan kemajemukan secara bersama di dalam nama Yesus. Inilah yang disebut gereja yang sesungguhnya. Percaya di dalam gereja berarti percaya kepada janji Tuhan Yesus yang mengatakan bahwa ketika dua tiga orang berkumpul di dalam namaNya, di situlah Ia akan ada di tengah-tengah mereka (Mat. 18:20). Percaya kepada gereja adalah percaya bahwa gereja adalah sebuah “sign” dan “foretaste” dari persekutuan antara manusia dengan Allah dari kerajaanNya yang akan datang. Pandangan gereja ini mengimplikasikan bahwa gereja mempunyai ciri khas tentang kehadiran Yesus dan takdir dari eskatologi, sebagai yang menantikan kerajaan yang akan datang, gereja tetap menjadi bagian dari dunia ini dan ditandai dengan dosa, ketidakpercayaan, dan perpecahan. Untuk pendekatan terstruktur, penulis akan menggunakan penelitian kualitatif untuk menggambarkan situasi dan fenomena kemajemukan gereja dewasa ini yang menyiratkan permasalahan dan ketegangan terselubung antar denominasi di dalam keberagaman. Saya juga akan menggunakan metode deskriptif, korelasional, dan eksploratif. Artikel ini ditutup dengan gereja harus bersatu, dan memahami bahwa ia tidak bisa sendiri tanpa bersama dengan gereja lain tetapi gereja perlu berkompromi dalam menjalankan misi di atas dasar janji Allah

    MISIONAL EKLESIOLOGI BUDAYA DIGITAL: MENGURAI TANTANGAN GEJALA TRANSHUMANIS DAN CYBORG

    Full text link
    Not only philosophy, ethics, and other fields but also ecclesiological life are facing severe challenges from the impact of digital culture, which continues to develop endlessly. This context encourages the church to think further about something new to predict what will happen and how it should take its role. This article offers a diachronic mission approach examining current and future contexts. The church is a missionary whose identity is to present the values of the Kingdom of God for His glory. This research indicates that the development of digital culture will be contrary to the Christian faith. This digital world is a context that God allows to occur to prepare for life in the church; every believer understands the challenges of transhumanists and cyborgs around them.Tidak hanya filsafat, etika dan bidang lainnya tetapi juga kehidupan eklesiologi sedang berhadapan serius dengan tantangan dari dampak budaya digital yang terus berkembang tanpa henti. Konteks ini mendorong gereja untuk memikirkan lebih jauh sesuatu yang baru untuk memprediksi apa yang akan terjadi dan harus bagaimana gereja mengambil perannya. Artikel ini menawarkan pendekatan misi diakronik yang melihat konteks sekarang dan waktu yang akan datang seperti apa. Secara dasar gereja adalah misionaris yang tujuan jati dirinya untuk menghadirkan nilai Kerajaan Allah demi kemuliaan-Nya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan budaya digital akan bertolak belakang dengan iman kristen. Dunia digital ini menjadi konteks yang Allah ijinkan terjadi untuk menyiapkan hidup menggereja setiap orang percaya paham tentang tantangan dari kaum transhumanis maupun cyborg yang ada di sekitarnya

    192

    full texts

    220

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Jakarta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇