Jurnal Ilmiah Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Jakarta
Not a member yet
220 research outputs found
Sort by
PELATIHAN WORSHIP LEADER UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN DI BETHANY CHURCH MALAYSIA KUCHING, MALAYSIA
Praise and worship have a reasonably large portion in worship. Therefore, praise and worship leaders must have proficiency in everything. Based on observations made by the Bethany Church Malaysia Kuching team, the problem was that the worship leader servants could still not provide worship leadership service. Therefore, this ecclesiastical Community Service aims to improve the quality of worship leader servants in carrying out their duties and responsibilities in ministry. The research method used is qualitative with data collection techniques: observation, interviews, and documentation. Meanwhile, the implementation method is through seminars, discussions, pastoral counseling, and performances such as talent search events. The result of this community service is that worship leader servants experience improvements in leadership skills, spirituality, and psychology. They are increasingly responsible for their duties as a servant worship leader.Pujian dan penyembahan memiliki porsi yang cukup besar dalam ibadah. Oleh karena itu, sebagai seorang pemimpin pujian dan penyembahan harus memiliki kecakapan dalam segala hal. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh tim di Bethany Church Malaysia Kuching, masalah yang ditemukan adalah para pelayan worship leader belum mampu dalam pelayanan worship leader. Oleh sebab itu, tujuan dari Pengabdian kepada Masyarakat gerejawi ini adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan worship leader dalam melakukan tugas dan tanggung jawab dalam pelayanan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data yakni observasi, wawancara, dokumentasi. Sedangkan metode pelaksanaan melalui seminar, diskusi, konseling pastoral, dan penampilan seperti ajang pencarian bakat. Hasil dari pengabdian masyarakat ini bahwa para pelayan worship leader mengalami peningkatan dari aspek kecakapan memimpin, spiritualitas, dan psikologi. Hal itu ditunjukkan dari sikap mereka yang semakin bertanggung jawab atas tugas mereka sebagai seorang pelayan worship leader
MENGATASI TANTANGAN ERA DISRUPSI: PELATIHAN KEPEMIMPINAN KRISTEN YANG BERKARAKTER DI GPDI JEMAAT EFATA KAMPUNG AYAPO
Character is a complex attribute influenced by nature, behavior, and personality. The rapid globalization and technological advancements can quickly reshape an individual's character. This phenomenon also applies to the youth of GPDI Ayapo Congregation, who tend to be influenced by external cultures and are highly dependent on technology in various aspects of their lives. A Service Team from STAKPN-Sentani conducted Christian leadership training and character education in GPDI Efata Congregation, Ayapo Village, Sentani-Jayapura, aiming to enhance resilience in the face of disruptive eras, foster competence and instill good character through Christian teachings. The activity involved youth and adolescents from GPDI Ayapo Congregation. The methods employed in this training included observation and interviews, lectures and seminars, reflection and conclusion, documentation, and report compilation. The program spanned over two days and featured several speakers addressing various aspects, such as challenges faced by youth in the era of disruption, Christian character development, and the importance of good behavior. The results of this activity encompassed improved attitudes and understanding among the youth regarding contemporary challenges, as well as motivation to build a solid Christian character that positively impacts their ability to cope with the pressures of the times and shapes them into individuals who contribute positively to society.Karakter merupakan atribut yang kompleks yang dipengaruhi oleh sifat, perilaku, serta kepribadian seseorang. Globalisasi dan kemajuan teknologi yang pesat dapat dengan mudah mengubah karakter seseorang. Hal ini juga berlaku pada pemuda GPDI Jemaat Ayapo yang cenderung dipengaruhi oleh budaya luar dan tingkat ketergantungan pada teknologi dalam aspek kehidupan mereka. Tim Pengabdian dari STAKPN-Sentani melaksanakan pelatihan kepemimpinan Kristen dan pendidikan karakter di GPDI Jemaat Efata Kampung Ayapo, Sentani-Jayapura yang bertujuan meningkatkan sikap ketahanan diri terhadap era disrupsi, menjadi kompeten, dan memiliki karakter baik sesuai dengan ajaran Kristen. Kegiatan ini melibatkan pemuda dan (remaja) dari GPDI Jemaat Ayapo. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini mencakup observasi dan wawancara, ceramah dan seminar, refleksi dan penutupan, serta dokumentasi dan penyusunan laporan. Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari dan melibatkan sejumlah pembicara yang membahas berbagai aspek seperti tantangan yang dihadapi pemuda dalam menghadapi era disrupsi, pengembangan karakter Kristen, serta pentingnya berperilaku baik. Hasil dari kegiatan ini mencakup sikap dan pemahaman yang lebih baik bagi pemuda terkait tantangan zaman, serta motivasi untuk membangun karakter Kristen yang kokoh yang berdampak positif dalam mengatasi tekanan zaman dan membentuk mereka menjadi calon pemimpin yang berintegritas dalam konteks iman Kristen
KAJIAN TEOLOGIS-PRAKTIS TENTANG DOA PUASA MENURUT KITAB ESTER 4:1-17 DAN IMPLIKASINYA BAGI ORANG PERCAYA
The fasting prayer in the Book of Esther has not been studied seriously in Indonesia. On the one hand, prayer and fasting are central practices for every believer. On the other hand, some churches seem to be increasingly ignoring the teaching of fasting prayer to believers. This study wants to respond to theological and practical problems in the Indonesian context, although the book of Esther is not the only book that records people praying and fasting. However, this research highlights the implications it could have for modern believers. This research applies literature study using qualitative methods. This research shows that God acted appropriately following Esther's faith, which removed doubts and worries. Fasting prayer became a means for Esther to strengthen her faith in facing the problems.Kajian tentang doa puasa dalam kitab Ester belum dikaji dengan serius di Indonesia. Satu sisi sekalipun doa dan puasa merupakan praxis yang sentral bagi setiap orang percaya. Di sisi lain sebagian gereja nampaknya semakin mengabaikan pengajaran doa puasa kepada orang percaya. Kajian ini ingin merespon masalah teologis dan praktis dalam konteks Indonesia, walaupun kitab Ester bukan satu-satunya kitab yang mencatat tentang umat yang berdoa dan puasa. Tetapi penelitian ini menyoroti implikasi yang bisa diberikan kepada orang percaya modern. Penelitian ini menerapkan studi kepustakaan dengan menggunakan metode kualitatif. Hasilnya penelitian ini menunjukkan jika Allah bertindak dengan tepat sesuai dengan iman Ester yang menghapus keraguan dan kekhawatiran. Doa puasa menjadi sarana bagi Ester menguatkan imannya dalam menghadapi masalah saat itu
EDUKASI TENTANG PENTINGNYA KECERDASAN SPIRITUAL BAGI ANAK USIA 5-13 TAHUN DI DESA JANJANG
This PkM activity was carried out in Janjang Village, Tayan Hulu District, West Kalimantan. The approaches used are field surveys and literature research. The PkM activities held were an effort to provide training to children aged 5-13 years in Janjang Village about the urgency of spiritual intelligence. The implementation of the service activities was motivated by the fact that some children in Janjang Village were experiencing degradation in their spiritual intelligence, so this had a significant impact on their spiritual life and morality which was not in accordance with the truth of God's Word. Looking at this problem, the PkM Service offered an idea as an alternative solution to the problem, namely: Providing education to children aged 5-13 years in Janjang Village about the meaning, benefits and indicators of spiritual intelligence that must be known, understood and manifested. The results obtained from this PkM activity are that children aged 5-13 years in Janjang Village already understand and comprehend the meaning, benefits and indicators of spiritual intelligence, as well as how to apply them in their lives.Kegiatan PkM ini dilaksanakan di Desa Janjang, Kecamatan Tayan Hulu, Kalimantan Barat. Pendekatan yang dipakai yaitu, survei lapangan dan literature research. Kegiatan PkM yang diselenggarakan merupakan upaya untuk memberikan pembekalan kepada anak usia 5-13 tahun di Desa Janjang tentang urgensi kecerdasan spiritual. Pelaksanaan kegiatan pengabdian dilatarbelakangi karena sebagian anak di Desa Janjang sedang mengalami degradasi kecerdasan spiritual, sehingga hal ini secara signifikan berdampak pada kehidupan kerohanian dan moralitas mereka yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Menilik dari masalah tersebut, Pengabdi PkM menawarkan gagasan sebagai alternatif penyelesaian masalah, yakni: Memberikan edukasi kepada anak usia 5-13 tahun di Desa Janjang tentang pengertian, manfaat, dan indikator kecerdasan spiritual yang mesti diketahuai, dipahami, dan diejawantahkan. Hasil yang diperoleh dari kegiatan PkM ini adalah, anak usia 5-13 tahun di Desa Janjang sudah memahami dan mengerti tentang pengertian, manfaat, dan indikator kecerdasan spiritual, serta cara menerapkannya dalam kehidupan mereka
EDUKASI DINI TENTANG PORNOGRAFI BAGI USIA REMAJA AWAL BAGI SISWA/I SMA PRESTASI PRIMA JAKARTA
Adolescence is a period of searching for identity and a high desire to know many things, including sexuality and pornography. Advances in technology make it easy for teenagers to access and watch pornographic content so that they become addicted. This condition hurts adolescents' brain systems and behavior, so it is necessary to provide an early understanding of viewing pornographic content wisely. The purpose of this article is to describe educational efforts for teenagers at Prestasi Prima Jakarta High School. The research method used is descriptive qualitative. Community Service activities are carried out through webinars using a google meet with the Prestasi Prima Jakarta High School students who are members of a Christian spiritual fellowship as participants. The results of this webinar provide enlightenment and understanding to teenagers, especially about the importance of knowing the effects of pornography addiction, which can damage their self-confidence, and how to deal with it when they are addicted to pornography.Masa remaja adalah masa pencarian jati diri dan keinginan rasa tahu yang tinggi terhadap banyak hal, termasuk tentang seksualitas dan pornografi. Kemajuan teknologi membuat remaja mudah mengakses dan menonton konten pornografi sehingga menjadi kecanduan. Kondisi ini berakibat buruk pada sistem otak dan perilaku remaja sehingga perlu diberikan pemahaman sejak dini tentang bijak melihat konten pornografi. Tujuan artikel ini untuk mendeskripsikan upaya edukasi kepada remaja di SMA Prestasi Prima Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilakukan melalui webinar dengan sarana google meet dengan siswa SMA Prestasi Prima Jakarta yang tergabung dalam persekutuan rohani Kristen menjadi peserta. Hasil webinar ini memberikan pencerahan dan pemahaman kepada remaja khususnya tentang pentingnya mengetahui dampak kecanduan pornografi yang dapat merusak kepercayaan diri mereka dan cara penanganannya apabila sudah kecanduan pornografi
MEMPERSIAPKAN PENATUA SEBAGAI PENDUKUNG PELAYANAN DI GEREJA KRISTEN SETIA INDONESIA JEMAAT ISA ALMASIH TAMAN MINI
Some of the main issues that will be discussed in this paper include: 1) there is an assumption from the congregation that the ministry is only the pastor's job because he has attended special lessons in theological colleges; 2) the role of elders is not optimal because the pastor of the church does not prepare them through coaching; 3) elders do not carry out their duties to the fullest because they do not understand. The purpose of the research is to provide an understanding that the ministry's task is not only carried out by the pastor of the church, that's why it is necessary to prepare coaching for prospective elders to provide support for the ministry. Involving elders needs to start with coaching to understand God's Word and their ministry role. The method used is lectures and training with the hope that it can provide an understanding to the prospective assemblies that service is also their responsibility.Beberapa isu pokok yang akan dibahas dalam tulisan ini antara lain: 1) Adanya anggapan dari jemaat bahwa pelayanan itu hanya tugas gembala jemaat karena telah mengikuti pembelajaran khusus di sekolah tinggi teologi. 2) Peranan penatua kurang maksimal karena gembala jemaat tidak mempersiapkannya melalui pembinaan. 3) Penatua tidak menjalankan tugas dengan maksimal karena tidak mengerti. Tujuan penelitian yaitu untuk memberikan pemahaman bahwa tugas pelayanan itu bukan hanya dilakukan oleh gembala jemaat, itu sebabnya perlu mempersiapkan pembinaan bagi calon penatua agar memberikan dukungan terhadap pelayanan. Mengikutsertakan penatua perlu dimulai dengan pembinaan agar mengerti Firman Tuhan dan mengerti perannya dalam pelayanan. Metode yang digunakan adalah ceramah dan pelatihan dengan harapan dapat memberi pemahaman kepada para calon majelis bahwa pelayanan juga menjadi tanggung jawabnya
PEMBIMBINGAN JEMAAT DI GKSI IMANUEL SANTULANGAN DALAM MENGATASI KEMALASAN BERIBADAH
This Community Service is conducted at GKSI Imanuel Santulangan, in Lamoanak Village, West Kalimantan. The methods used are observation, investigation, and literature review. The implementation of the activity aims to form understanding and guide the congregation at GKSI Imanuel regarding the importance of worship fellowship. The background to implementing PkM was that the congregation at GKSI Imanuel did not care much about worship fellowship. This can be seen in the small number of congregants who attend every Sunday service, which only a few people often attend. The congregation at GKSI Immanuel numbers more than thirty people. Referring to this problem, this service is presented as an alternative form of problem-solving. The ideas offered are to motivate and encourage each other in love, be diligent and diligent in worship, advise each other, and be active in worship. The solution offered is based on Hebrews 10:24-25. The results are that the congregation at GKSI Immanuel truly understands the importance of worship fellowship and has actualized it.Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan di GKSI Imanuel Santulangan, yang berlokasi di Desa Lamoanak, Kalimantan Barat. Metode yang digunakan adalah observasi, investigasi, dan kajian pustaka. Pelaksanaan kegiatan bertujuan membentuk pemahaman sekaligus membimbing jemaat di GKSI Imanuel akan pentingnya persekutuan ibadah. Pelaksanaan PkM dilatarbelakangi karena jemaat di GKSI Imanuel kurang peduli dengan persekutuan ibadah. Hal ini tampak pada sedikitnya jemaat yang hadir setiap ibadah Minggu, bahkan kerap kali kebaktian berlangsung hanya diikuti oleh beberapa orang. Padahal, jemaat di GKSI Imanuel berjumlah tiga puluh orang lebih. Mengacu pada masalah tersebut, pengabdian ini hadir sebagai bentuk alternatif penyelesaian masalah. Adapun gagasan yang ditawarkan yakni; 1) Saling memotivasi dan mendorong dalam kasih, 2) Rajin dan tekun beribadah, 3) Saling menasihati dan giat beribadah; Solusi yang ditawarkan berbasis pada Ibrani 10:24-25. Hasil yang diperoleh adalah, jemaat di GKSI Imanuel sudah benar-benar mengerti akan pentingnya persekutuan ibadah, dan telah mengaktualisasikannya
URGENSI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS DAN PENDIDIKAN KRISTEN BAGI ANAK-ANAK DI DESA BATU TUKAN
English education must be taught in every school at every level because English is currently a unifying language between countries or an international language. Not much different from English education, Christian religious education is also a mandatory lesson that must be held at every level of education because it is the basis and principles of the Christian faith, focusing on biblical principles, character, etc. Including English language education and Christian religious education as mandatory subjects at the primary school level has a terrible impact on children, resulting in village children falling behind cognitively and being unable to compete with students who receive education in cities. Therefore, the author took the initiative to dedicate himself to improving village children by holding English lessons that were open to the public and holding a Sunday School for Christian children. The approach method that the author used was quite effective, as evidenced by the increasing enthusiasm of the children in participating in the existing program. Even though there are many pros and cons from various parties, the author is grateful that the program that the author has implemented has produced satisfactory results, as proven by the children's starting to understand the basics of learning that the author shares.Pendidikan bahasa Inggris merupakan pembelajaran yang wajib diselenggarakan di setiap sekolah pada setiap jenjang pendidikan karena bahasa Inggris saat ini menjadi bahasa pemersatu antar negara atau bahasa internasional. Tidak jauh berbeda dengan pendidikan bahasa Inggris, pendidikan agama Kristen juga merupakan pelajaran wajib yang harus diselenggarakan pada setiap jenjang pendidikan karena merupakan dasar dan asas iman Kristen yang menitikberatkan pada prinsip alkitabiah, budi pekerti, dll. Termasuk pendidikan bahasa Inggris dan Pendidikan agama Kristen sebagai mata pelajaran wajib pada tingkat sekolah dasar membawa dampak yang sangat buruk bagi anak, sehingga mengakibatkan anak desa tertinggal secara kognitif dan kalah bersaing dengan siswa yang mengenyam pendidikan di kota. Di desa BATU TUKAN masih kurang atau terbengkalai mengenai Pendidikan agama Kristen dan Pelajaran Bahasa Inggris, oleh karena itu, penulis berinisiatif mengabdikan dirinya untuk memajukan anak-anak desa dengan mengadakan pelajaran bahasa Inggris yang terbuka untuk umum dan mengadakan Sekolah Minggu untuk anak-anak Kristiani. Metode pendekatan yang penulis gunakan ternyata cukup efektif, terbukti dengan semakin antusiasnya anak-anak mengikuti program yang ada. Meski banyak menuai pro dan kontra dari berbagai pihak, namun penulis bersyukur program yang penulis laksanakan membuahkan hasil yang memuaskan terbukti dengan anak-anak mulai memahami dasar-dasar pembelajaran yang penulis bagikan
KAJIAN TEOLOGIS YOHANES 10:1-18 MEMBENTUK ULANG KONSEP GEMBALA SEBAGAI TELADAN
The call to be a pastor in the post-truth era has resulted in the birth of church leaders who lack competence. This problem is challenging for the church to rethink what a true shepherd looks like. This research examines a very famous metaphor from John chapter 10:1-18. It describes how a good shepherd is a characteristic every church leader must have. This research provides three profiles of a good shepherd: content, character, and competence. These three values make a pastor an impactful leader. Here, pastors need to be seen as others who are present as role models, not just leaders with various functions and characters. By studying theology, it is necessary to understand pastors in the current context.Panggilan menjadi seorang gembala di zaman pasca kebenaran menyebabkan lahirnya pemimpin-pemimpin gereja yang tidak memiliki kompetensi. Masalah itu menjadi tantangan bagi gereja untuk memikirkan ulang seperti apa gembala yang sejati. Penelitian ini mengkaji satu metafora yang sangat terkenal dari Yohanes pasal 10:1-18. Digambarkan bagaimana gembala yang baik menjadi ciri yang harus ada pada setiap pemimpin gereja. Hasil dari penelitian ini menyodorkan tiga profil gembala yang baik yaitu konten, karakter dan kompetensi. 3 nilai tersebut menjadikan seorang gembala pemimpin yang berdampak. Di sini gembala perlu dilihat sebagai sesama yang hadir menjadi teladan bukan sekadar pemimpin dengan berbagai fungsi dan karakternya saja. Dengan mengkaji secara teologi maka perlu memahami gembala dalam konteks masa kini
PEMBINAAN MENTAL SPIRITUAL KRISTEN WARGA BINAAN DI LAPAS KELAS IIA CIKARANG
This paper departs from the problem of the role of God's servant/church servant in fostering the spiritual mentality of God's congregation, in this case, the inmates of Lapas IIA Cikarang. The biggest fear of inmates while serving their sentence is being away from their families. Servants of God who devote themselves to fostering inmates should also equip themselves to serve the mental recovery of inmates. Spirituality impacts the good and bad of individual behaviour in interacting with God and others, influenced by the environment, experience and knowledge. New thoughts and enthusiasm and facing the realities and challenges of life more religiously. Dare to reject negative thoughts that tempt them to return to his dark life of committing crimes. Christian Spirituality Mentality also helps His congregation find wholeness and balance in their relationship with God, others, and nature. Encouraging motivation, solidarity, dialogue and cooperation in building a just, peaceful and dignified life. Mental Spiritual Guidance is an effort to improve and renew the actions and behaviour of inmates through mental guidance of their souls and spirituality so that they become inmates who have a solid spiritual faith and healthy personality, reflect the character of Christ and are responsible for living their lives while in prison, furthermore, later, after being free and returning to society.Pelayan Tuhan yang memberi diri untuk membina warga binaan sebaiknya juga memperlengkapi diri untuk melayani pemulihan mental warga binaan. Spiritualitas berdampak terhadap baik buruknya perilaku individu dalam berinterkasi dengan Tuhan dan sesama yang dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman dan pengetahuan. Pemikiran dan semangat baru serta menghadapi kenyataan dan tantangan hidup dengan cara yang lebih religius. Berani menolak pikiran negatif yang menggoda untuk kembali ke kehidupan kelamnya melakukan kejahatan. Mental Spiritualitas Kristen juga membantu jemaatNya menemukan keutuhan dan keseimbangan dalam hubungan mereka dengan Tuhan, sesama, dan alam. Mendorong motivasi, solidaritas, dialog dan kerjasama dalam membangun kehidupan yang adil, damai dan bermartabat. Pembinaan Mental Spiritual merupakan usaha untuk memperbaiki dan memperbarui tindakan dan tingkah laku warga binaan melalui bimbingan mental atau jiwanya dan spiritualnya sehingga menjadi seorang warga binaan yang memiliki kerohanian iman yang kuat dan kepribadian yang sehat, mencerminkan karakter Kristus dan bertanggung jawab dalam menjalani kehidupannya selama di lapas dan nanti setelah bebas dan kembali ke masyarakat. Artikel ini disusun menggunakan metodologi Kualitatif, dengan kajian mendalam dengan mempelajari latar belakang dari fenomena yang terjadi dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, hubungan masyarakat dengan warga binaan serta perilaku warga binaan terhadap hukum dengan memperhatikan perkembangan mental warga binaan