Jurnal Ilmiah Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Jakarta
Not a member yet
220 research outputs found
Sort by
PEMBINAAN KAUM PEREMPUAN GMIT SION OEPURA KUPANG SEBAGAI UPAYA MENCEGAH DAN MENGURANGI KEKERASAN PEREMPUAN
Violence against women is inevitable in today’s society. This violence cannot be rejected because the apparent fact is that women cannot resist or reduce it. One of the factors causing it is the stigma about women who should be in second place in society so that they must obey and not argue, which is still rooted very firmly. On this basis, the activities of Dedication to the Society through seminars are carried out. This activity aims to shape and change the paradigm of thinking about the identity and existence of women in stigmatization so that they are capable and influential in the struggle to end violence. The methods used in this activity are lectures, discussions, opinions, and presentations. As for the outcome of this activity, the women at GMIT Jemaat Sion Oepura Kupang have a new paradigm of thinking about women, specifically their identity and their position in a patriarchal society, to reduce and break the chain of violence against women.Kekerasan terhadap perempuan, merupakan hal yang pasti terjadi dalam hidup bermasyarakat saat ini. Kekerasan ini tidak bisa ditolak karena fakta yang terlihat adalah perempuan seperti tidak memiliki kemampuan (kuasa) untuk melawan ataupun menguranginya. Salah satu faktor penyebabnya adalah stigmatisasi tentang perempuan yang harus berada di posisi kedua dalam masyarakat sehingga harus patuh dan tidak boleh berargumen masih mengakar sangat kuat. Berdasarkan hal inilah kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat melalui seminar ini dilakukan. Tujuan dari kegiatan ini adalah membentuk dan mengubah paradigma berpikir tentang identitas dan keberadaan kaum perempuan di tengah stigmatisasi sehingga mampu dan berdaya dalam upaya perjuangan penghentian tindakan kekerasan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini berupa ceramah, diskusi dan curah pendapat dan presentasi. Adapun hasil kegiatan ini yaitu para perempuan di GMIT Jemaat Sion Oepura memiliki paradigma berpikir yang baru tentang perempuan secara khusus identitas dan posisinya dalam masyarakat patriarki dalam upaya mengurangi dan memutus rantai kekerasan terhadap Perempuan
PEMBEKALAN DOKTRIN SOTERIOLOGI DAN ANTROPOLOGI GUNA PEMBENTUKAN JATI DIRI SISWA KELAS VIII SMP KRISTEN YSKI, SEMARANG, JAWA TENGAH
Teenage life is a life of searching for one's identity. In these times, it is essential to be able to lay the foundations of Christianity in their lives so that teenagers do not make the wrong choices. Two fundamental doctrines teenagers need to know are Christian soteriology and Christian anthropology. Soteriology discusses how God's plan of salvation works in the lives of teenagers. Anthropology examines the self-image of teenagers whom the blood of Christ has redeemed. Understanding these two fundamental doctrines is very important in the lives of today's teenagers. Based on this need, SMP Kristen YSKI held Community Service activities as a Refreshing Course, which was held for class VIII SMP. This activity was carried out because class VIII students had never been provided with the fundamental doctrines of Christianity, especially those of soteriology and Biblical anthropology. This activity will be held on January 11-12, 2024, at Wisma Elika Bandungan, Central Java. The resource person used interactive lectures and question-and-answer methods to guide students. Students have received the necessary provision so that they understand this central doctrine of Christianity. In the end, a correct understanding of salvation and a Biblical self-image will determine their future steps in life by the teachings of the Bible.Kehidupan remaja disebut sebagai kehidupan yang sedang mencari jati diri. Dalam masa-masa ini, sangatlah penting untuk dapat meletakkan dasar-dasar kekristenan di dalam hidup mereka sehingga para remaja tidak jatuh dalam pilihan-pilihan yang keliru. Dua doktrin dasar yang perlu untuk diketahui oleh remaja adalah soteriologi Kristen dan antropologi Kristen. Soteriologi membahas tentang bagaimana rancangan keselamatan dari Allah bekerja dalam kehidupan para remaja. antropologi membahas tentang gambar diri remaja yang sudah ditebus oleh darah Kristus. Pemahaman kedua doktrin dasar ini sangatlah penting dalam kehidupan remaja saat ini. Berdasarkan kebutuhan ini, SMP Kristen YSKI mengadakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dalam bentuk Refreshing Course yang diselenggarakan bagi kelas VIII SMP. Kegiatan ini dilaksanakan karena siswa kelas VIII belum pernah mendapatkan pembekalan doktrin dasar kekristenan terutama doktrin soteriologi dan antropologi alkitabiah. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 11-12 januari 2024 di Wisma Elika Bandungan, Jawa tengah. Narasumber menggunakan metode ceramah interaktif dan tanya jawab dalam melakukan pembekalan bagi siswa. Siswa telah mendapatkan pembekalan yang diperlukan sehingga mereka paham tentang doktrin utama kekristenan ini. Pada akhirnya, pemahaman yang benar akan keselamatan dan gambar diri yang alkitabiah akan menentukan langkah hidup mereka kelak sesuai dengan ajaran Alkitab
SABTU CERIA: MERESPONS KEBUTUHAN PENDIDIKAN ROHANI INTERAKTIF BAGI ANAK-ANAK DI LINGKUNGAN GKSI EFRATA
Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Jemaat Efrata, located in the East Jakarta area, Jln. Kalimantan No. 18. This is where the implementation of this Community Service activity was held. Based on observations of the results and surveys conducted, spiritual activities for children, especially in the Ephrata congregation GKSI environment, still have not been carried out because children prefer to play games and lack of concern from parents or teachers to take part in children's spiritual life interactively. As a form of responsibility and concern, the implementer of this Community Service is present as an answer to these needs. The goal is that children in the GKSI Jemaat Efrata environment live in a better spiritual life, understand the truth of God's word based on application through media, and children become a generation that fears God and has noble character. The implementation of this Community Service uses the methods of observation, survey, discussion, and is supported by literature study. The results obtained from this effort are that the children in the GKSI Jemaat Efrata environment already have an understanding and knowledge of how to be a responsible person and live in fear of God.Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Jemaat Efrata, berlokasi di daerah Jakarta Timur, Jln. Kalimantan No. 18. Di sinilah tempat kegiatan pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat ini diselenggarakan. Berdasarkan pengamatan hasil dan survei yang dilakukan, kegiatan rohani untuk anak-anak khususnya di lingkungan GKSI Efrata masih belum ada yang terlaksana karena anak-anak lebih memilih bermain game dan kurangnya kepedulian orang tua atau guru untuk mengambil bagian dalam kehidupan rohani anak secara interaktif. Sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian, pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Tujuannya adalah supaya anak-anak di lingkungan GKSI Efrata hidup di dalam kehidupan rohani yang lebih baik, mengerti kebenaran firman Tuhan berdasarkan pengaplikasian melalui media, dan anak-anak menjadi generasi yang takut akan Tuhan serta berakhlak mulia. Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat ini menggunakan metode observasi, survei, diskusi, dan didukung oleh studi kepustakaan. Adapun hasil yang diperoleh dari upaya ini adalah, anak-anak dilingkungan GKSI Jemaat Efrata sudah memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang bagaimana menjadi pribadi yang bertanggung jawab serta hidup takut akan Tuhan
ANALISIS TEOLOGIS MISI BIROKRAT KRISTEN DALAM PEMERINTAHAN
The purpose of this study is to theologically analyze the mission of Christian bureaucrats in the Office of the Ministry of Religious Affairs of North Toraja Regency. Through qualitative research methods with observation and interview techniques, it was found that the mission of the church in the government bureaucracy has not been visible, not because of the tendency of Christian bureaucrats to see the relationship between church and government in the framework of the third relationship (total separation), but there are still Christian bureaucrats who see it in the framework of the first relationship (state supremacy over the church). In addition, another influencing factor is that their understanding of mission is still traditional and inherits colonial understanding. However, in general, Christian bureaucrats understand that the relationship between church and government should be seen in terms of partnership, but it is not enough to reach the stage of understanding. Therefore, building a critical-prophetic, positive, creative, and realistic partnership between the church and the government through the mission of Christian bureaucrats is one of the church's mission strategies that needs serious attention and focus. It is important that every Christian who is hypostatized into Christ through the church wherever they are, should act in an eucharistic and sacramental way. Thus, the public sphere and the ecclesiastical sphere are intertwined.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis secara teologis misi birokrat Kristen di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Toraja Utara. Melalui metode penelitian kualitatif dengan teknik observasi dan wawancara, ditemukan bahwa misi gereja dalam birokrasi pemerintahan belum nampak, bukan karena kecenderungan birokrat Kristen melihat hubungan antara gereja dan pemerintah dalam kerangka hubungan ketiga (pemisahan total), melainkan masih adanya birokrat Kristen yang melihatnya dalam kerangka hubungan pertama (supremasi negara terhadap gereja). Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi adalah pemahaman mereka tentang misi masih bersifat tradisional dan mewarisi pemahaman kolonial. Meski demikian, secara umum birokrat Kristen memahami bahwa hubungan antara gereja dan pemerintah seharusnya dilihat dalam kerangka kemitraan, tetapi tidaklah cukup hanya sampai pada tahap pemahaman. Karena itu, pembangunan kemitraan yang kritis-profetis, positif, kreatif, dan realistis antara gereja dan pemerintah melalui misi birokrat Kristen merupakan salah satu strategi misi gereja yang perlu mendapat perhatian dan fokus serius. Ini penting bahwa setiap orang Kristen yang terhipostasiskan ke dalam Kristus melalui gereja dimanapun mereka berada, harus bertindak dengan cara yang ekaristik dan sakramental. Dengan demikian, berkelindanlah ruang publik dan ruang gerejawi
MENINGKATKAN PUBLIKASI JURNAL TEOLOGI MELALUI PENGUASAAN BERAGAM METODE PENELITIAN TEOLOGI
The problem in this article highlights the importance of increasing the quantity and quality of publication of theological scientific journal articles. The increase is highly determined by researchers who master various scientific research methods in the field of theological studies. The purpose of this article is to discuss mastery of research methods that can support the improvement of the quality and quantity of publication of theological journal articles. The method used is Bible Research. As a result, every researcher in the field of theology must master various methods or approaches in researching biblical texts; adapting the scientific method to research the biblical text; using important points that can support the discovery of principles or teachings that respect the authority of the Bible is the word of God. In conclusion, theological research is very dynamic by adapting scientific methods to increase the publication of theological journals.Problem dalam artikel ini mengetengahkan pentingnya meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi artikel jurnal ilmiah teologi. Peningkatan itu sangat ditentukan oleh peneliti yang menguasai beragam metode penelitian ilmiah dalam bidang kajian teologi. Tujuan artikel ini membahas penguasaan metode penelitian yang dapat meningkatkan mutu dan kuantitas publikasi artikel jurnal teologi. Metode yang digunakan adalah Bible Research. Hasilnya, setiap peneliti dalam bidang teologi mesti menguasai beragam metode atau pendekatan dalam meneliti teks Alkitab; mengadaptasi metode ilmiah itu untuk meneliti teks Alkitab; menggunakan point-point penting yang dapat menunjang penemuan prinsip atau ajaran yang menghormati otoritas Alkitab adalah firman Allah. Kesimpulannya, penelitian teologi itu sangat dinamis dengan mengadaptasi metode ilmiah guna meningkatkan publikasi jurnal teologi
“DUTA BACA MAKEDONIA” UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL, MORAL DAN SPIRITUAL SISWA KELAS 3-6 DI DUSUN MUNGGU LUMUT, KALIMANTAN BARAT
This research is motivated by the fact that third to sixth-grade elementary school students in Munggu Lumut village struggle with illiteracy and numeracy, coupled with low spiritual quality manifested in behaviors such as theft, lying, and mockery. The Duta Baca Makedonias program emerges as a potential educational partner for Munggu Lumut village and local schools, aiming to empower students with reading, writing, and arithmetic skills while fostering a Christian character rooted in the Bible. Through intellectual, moral, and spiritual education, the aspiration is to cultivate a generation capable of contributing to the progress of the nation and the state. Key educational activities, including tutoring sessions in reading, writing, and arithmetic, as well as spiritual guidance through Bible-based sermons, prayers, and Christian counseling, are integral to achieving these objectives. The research employs a qualitative methodology with a field case study, utilizing observation, interviews, and documentation as data collection techniques. The analysis reveals that the Duta Baca Makedonias program has successfully enabled third to sixth-grade students in Munggu Lumut village to acquire essential literacy and numeracy skills, as well as to abandon undesirable behaviorsPenelitian ini dilatarbelakangi murid kelas 3-6 Sekolah Dasar yang tidak atau belum bisa membaca, menulis dan berhitung serta kualitas spiritual yang rendah seperti mencuri, berbohong dan mengejek teman dan orang lain. Duta Baca Makedonia dapat menjadi mitra (partnership) pendidikan bagi dusun Munggu Lumut bahkan sekolah setempat agar murid dapat membaca, menulis dan berhitung serta memiliki karakter kristiani yang Alkitabiah. Dengan Pendidikan intelektual, moral dan spiritual akan menghasilkan generasi yang cerdas yang dapat memajukan kehidupan bangsa dan negara. Kegiatan seperti Bimbingan Belajar: Membaca, menulis dan berhitung, Bimbingan Rohani: cerita (khotbah) yang Alkitabiah, doa dan konseling Kristen. Melalui metode kualitatif dengan studi kasus lapangan dan pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa melalui Duta Baca Makedonia murid SD kelas 3-6 di Dusun Munggu Lumut bisa membaca, menulis, berhitung serta meninggalkan perbuatan tercela
MODEL KEPEMIMPINAN GEREJA YANG KONTEKSTUAL BERDASARKAN STRUKTUR BUDAYA BATAK MENGGUNAKAN MODEL ANTROPOLOGIS STEPHEN B. BEVANS
This research proposes a contextualized church leadership model based on Batak cultural structures. The main problem studied is that Western leadership styles still dominate current Batak church leadership and church leadership models that are often considered less responsive (adaptive or contextual) to local culture and socio-cultural values, so they are not entirely contextual and relevant to Batak cultural values. This research uses the anthropological model approach of Stephen B. Bevans anthropological model approach to understand Batak culture deeply and formulate a contextualized church leadership model. This research aims to develop a model of Batak church leadership contextual and relevant to the Batak cultural structure. The research method used is qualitative, with a literature study approach. The results showed that the integration of Batak cultural values such as sahala (authority), Dalihan Na Tolu (DNT), Habonaron Do Bona (HdB), and clan philosophy needs to be the basis for a contextualized Batak church leadership model. The Batak church leadership model should prioritize nurturing, service, respect, and togetherness (solidarity) through these cultural values. Integrating Batak cultural values is essential to forming Batak church leadership that remains rooted in local culture but faithful to the heritage of the Christian faith.Penelitian ini berfokus pada perumusan model kepemimpinan gereja yang kontekstual berdasarkan struktur budaya Batak. Masalah utama yang dikaji adalah kepemimpinan gereja Batak saat ini masih didominasi oleh gaya kepemimpinan Barat dan juga model kepemimpinan gereja yang seringkali dianggap kurang responsif (adaptif atau kontekstual) terhadap budaya dan nilai-nilai sosial-budaya setempat sehingga belum sepenuhnya kontekstual dan relevan dengan nilai-nilai budaya Batak. Penelitian ini menggunakan pendekatan model antropologis Stephen B. Bevans untuk memahami budaya Batak secara mendalam dan merumuskan model kepemimpinan gereja yang kontekstual. Tujuan penelitian ini adalah untuk merumuskan model kepemimpinan gereja Batak yang kontekstual dan relevan dengan struktur budaya Batak. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai budaya Batak seperti sahala (wibawa), Dalihan Na Tolu (DNT), Habonaron Do Bona (HdB), dan falsafah marga perlu dijadikan basis bagi model kepemimpinan gereja Batak yang kontekstual. Model kepemimpinan gereja Batak sebaiknya mengedepankan sifat pengayom, pelayanan, menghargai, dan kebersamaan (solidaritas) sesuai dengan nilai-nilai budaya tersebut. Integrasi nilai-nilai budaya Batak penting dilakukan untuk membentuk kepemimpinan gereja Batak yang tetap berakar pada budaya lokal namun setia pada warisan iman Kristen
PELATIHAN MENGHAFAL AYAT ALKITAB MELALUI LAGU BAGI MAHASISWA SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI ARASTAMAR (SETIA) JAKARTA
This article aims to apply to learning the Bible/The Word of God by using methods through songs to make the students quickly memorise verses they like in the Bible. The goal of The word of God is to fulfil and direct our way through God. (2 Timothy 3:15-17). The Bible told us that the songs had authority and significantly impacted Christianity'sChristianity's lives. The music chord will impact a hearer'shearer's soul. The method used is training students to memorise the Bible through songs by involving them in choosing the verses they like, and then they will sing those verses to help them quickly memorise verses. After that, the students will be invited to repeat that verses until they truly memorise verses. Bible songs are helping the students to upgrade their brains to memorise the verses of the Bible. Through this method, the students desire to know the Bible more and more. Tujuan penulisan ini adalah menerapkan metode pembelajaran Alkitab/Firman Allah melalui lagu untuk mempermudah mahasiswa menghafal ayat-ayat yang mereka sukai, Firman Allah bertujuan untuk melengkapi dan menuntun kita, orang-orang Kristen dalam perbuatan baik yaitu hidup yang berkenan kepada Allah (2 Tim. 3:15-17). Alkitab mencontohkan bahwa lagu memiliki kekuatan dan pengaruh besar dalam kehidupan manusia, maka dapat dibayangkan jika syair musik tersebut merupakan mazmur-mazmur yang berasal dari Alkitab. Lagu yang berisi syair-syair itu akan memengaruhi jiwa seseorang yang mendengarnya. Metode yang dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan menghafal Alkitab melalui lagu dengan memilih ayat-ayat yang mereka sukai, penulis juga menyediakan buku ayat emas untuk mereka pilih, setelah mememilih ayat kemudian akan dinyanyikan untuk mempermudah mereka menghafal ayat-ayat tersebut, dan setelah itu mahasiswa akan diajak untuk mengulang kembali ayat tersebut hingga ia benar-benar menghafalnya. Lagu Alkitab sangatlah membantu mahasiswa untuk meningkatkan daya ingat dalam menghafal ayat-ayat Alkitab, sehingga dengan adanya metode menghafal Alkitab lewat lagu, mahasiswa memiliki minat untuk mengenal Alkitab lebih dalam lagi
IMPLEMENTASI AJARAN KASIH DALAM MEWUJUDKAN SILA PERSATUAN INDONESIA DI TENGAH-TENGAH KEMAJEMUKAN
Indonesia is a country of diverse ethnicities, races, cultures and religions. Diversity often triggers conflicts, one of which is religion. The number of religious conflicts shows the discrepancy between the teachings of love and the facts that exist. Inter-religious conflicts require the realisation of the Precepts of Indonesian Unity with the foundation of love. The realisation of the precepts of Indonesian Unity is related to the precepts. It is a concrete manifestation of the teachings of love that religions teach so that conflict can be prevented and not repeated. The research method used is a descriptive qualitative method, and the approach used is a literature study describing the teachings of love and the precepts of Indonesian Unity. The purpose of this research is so that conflicts in the name of religion that are very detrimental to the Unity of Indonesia can be resolved and can be a preventive measure before the conflict occurs. The findings in the research are that the realisation of the precepts of Indonesian Unity is related to the precepts and is a concrete manifestation of the teachings of love that religions teach so that conflict can be prevented and not repeated. The Indonesian people can realise the spirit and values of Unity and integrity of the founders of this nation.Indonesia merupakan Negara yang beraneka ragam suku, ras, budaya dan agama. Keberagaman sering memicu terjadinya konflik salah satunya adalah agama. Banyaknya konflik agama memperlihatkan ketidaksesuaian antara ajaran kasih dengan fakta yang ada. Konflik antar agama yang terjadi memerlukan perwujudan Sila Persatuan Indonesia dengan landasan kasih. Perwujudan sila Persatuan Indonesia ada keterkaitannya dengan sila-sila yang dan itu merupakan wujud nyata dari ajaran kasih yang agama-agama ajarkan, sehingga konflik dapat dicegah serta tidak terulang kembali. Adapun metode penelitian yang digunakan yaitu menggunakan metode kualitatif deskriptif, serta pendekatan yang digunakan yaitu studi literatur dalam memaparkan ajaran kasih serta sila Persatuan Indonesia. Tujuan dari peneliti ini adalah supaya konflik yang mengatasnamakan agama yang sangat merugikan bagi kesatuan Indonesia dapat terselesaikan dan dapat menjadi suatu tindakan preventif sebelum konflik itu terjadi. Temuan dalam penelitian yaitu Perwujudan sila Persatuan Indonesia ada keterkaitannya dengan sila-sila yang dan itu merupakan wujud nyata dari ajaran kasih yang agama-agama ajarkan, sehingga konflik dapat dicegah serta tidak terulang kembali. Bangsa Indonesia dapat mewujudkan kembali marwah dan nilai-nilai kesatuan dan persatuan para pendiri bangsa ini
PEMAKNAAN DAN IMPLEMENTASI BAHASA LIDAH DARI PERSPEKTIF MAHASISWA TEOLOGI SEKOLAH TINGGI TEOLOGI BETHEL INDONESIA
The term Tongues originates from the event of Pentecost. Even though there are differences in the context and concept of Tongues in Acts 2:1-13 and 1 Corinthians 12-14, it cannot be denied that both of them were events of the power of the Holy Spirit, which, in terminology, according to Luke and Paul used the word Tongues. The problem of speaking in tongues today often refers to 1 Corinthians 12-14, where this phenomenon is seen as something abnormal. This study aimed to measure the suitability between the understanding of Tongues and the implementation of Tongues. This is a descriptive qualitative research and text analysis with an exegesis approach. The research subjects in this study were 6 (six) Postgraduate students from Bethel Indonesia Theological College, where data collection was carried out using primary data by conducting in-depth interviews. At the same time, data analysis consists of data reduction, data display, and conclusion. Through research that has been done, it was found that the meaning of Tongues is a gift from God to carry out duties and functions for the body of Christ, the implementation of Tongues in worship is still carried out but is not an obligation, and Tongues is still relevant and valuable in congregational life.Istilah Bahasa Lidah berawal dari peristiwa Pentakosta. Sekalipun terdapat perbedaan konteks dan konsep Bahasa Lidah dalam Kisah Para Rasul 2:1-13 dengan 1 Korintus 12-14, tidak dapat disangkal bahwa sejatinya, keduanya merupakan peristiwa dari kuasa Roh Kudus yang secara terminologi menurut Lukas maupun Paulus menggunakan kata Bahasa Lidah. Permasalahan Bahasa Lidah dewasa ini sering merujuk pada 1 Korintus 12-14, yang mana fenomena tersebut banyak dipandang sebagai hal yang abnormal. Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur kesesuaian antara pemahaman Bahasa Lidah dengan implementasi Bahasa Lidah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dan analisis teks dengan pendekatan eksegesis. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah 6 (enam) orang mahasiswa Pascasarjana dari Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia, yang mana pengumpulan data dilakukan dengan memakai data primer dengan melakukan wawancara mendalam. Sedangkan analisis data terdiri atas reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Melalui penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa pemaknaan Bahasa Lidah adalah karunia dari Tuhan untuk menjalankan tugas dan fungsi bagi tubuh Kristus, implementasi Bahasa Lidah dalam ibadah masih dilakukan tetapi bukan sudah kewajiban, dan Bahasa Lidah masih relevan dan bermanfaat dalam kehidupan berjemaat