Jurnal Ilmiah Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Jakarta
Not a member yet
220 research outputs found
Sort by
TRANSFORMASI SPIRITUALITAS: DISKURSUS TEOLOGI TENTANG KONSEP MANUSIA BARU DALAM KOLOSE 3:5-17
The research addressed the gap between the theological concept of the new man in Christ and its implementation in everyday Christian life, highlighting the need for a deeper understanding of this concept to address uncertainties and misconceptions among believers. Through a qualitative theological approach, the study explored the subjective meaning of religious beliefs, religious practices, and biblical texts. Findings indicated that the concept of the new man emphasized the importance of spiritual transformation and the embodiment of values of love and truth in Christian life practices. Implications included shifts in self-perception and perceptions of others, conflict resolution, and understanding of true life purposes. The novelty of thought lay in the comprehensive application of the concept of the new man in the text of Colossians 3:5-17, aiming to bring positive impacts to individuals and communities. Thus, understanding and embodying this concept called believers to live in freedom, sanctity, and authentic love.Kesenjangan antara konsep teologis manusia baru dalam Kristus dan implementasinya dalam praktik kehidupan Kristen sehari-hari, serta perlunya pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep tersebut untuk mengatasi ketidakpastian dan kesalahpahaman di kalangan umat percaya. Studi ini mengeksplorasi konsep manusia baru dalam teks Kolose 3:5-17 dan dampaknya dalam kehidupan spiritual orang percaya. Melalui pendekatan kualitatif teologi, penelitian ini menggali makna subjektif dari keyakinan agama, praktik keagamaan, dan teks Alkitab. Temuan menunjukkan bahwa konsep manusia baru menekankan pentingnya transformasi batiniah dan penghayatan nilai-nilai kasih dan kebenaran dalam praksis kehidupan Kristen. Implikasinya meliputi perubahan pandangan terhadap diri sendiri dan orang lain, penanganan konflik, serta pemahaman tentang tujuan hidup yang sejati. Kebaharuan pemikiran terletak pada aplikasi yang komprehensif dari konsep manusia baru dalam teks Kolose 3:5-17, yang bertujuan untuk membawa dampak positif bagi individu dan komunitas. Dengan demikian, pemahaman dan penghayatan akan konsep ini memanggil orang percaya untuk hidup dalam kebebasan, kesucian, dan kasih yang autentik
PAKAIAN ADAT: SUATU TINJAUAN ETIKA KRISTEN TERHADAP NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL ULOS BATAK
Certain church groups or denominations have recently given rise to movements that oppose or are even hostile to custom or tradition, such as those that oppose ulos giving. Arguments opposing the rejection of Batak ulos are frequently illogical and lack a thorough understanding of this culture. Therefore, the goal of this article is to educate the Batak community by presenting the Christian ethical perspective of the Batak ulos' local wisdom values. This will help to prevent the widespread rejection of the Batak people's usage of ulos as their identity. The research methodology employed in this qualitative study is library research and interviews with several sources. The study's findings demonstrate that, when viewed through the lens of Christian ethics, the local wisdom values found in Batak ulos are not in conflict with one another but rather align with God's word. As a result, this essay can significantly aid in educating Batak people from different religious backgrounds on the importance of local wisdom and how the Bible views these values.Belakangan ini muncul gerakan-gerakan dari kelompok atau denominasi gereja tertentu yang menolak bahkan anti terhadap adat istiadat atau anti terhadap tradisi termasuk di dalamnya anti terhadap pemberian ulos. Seringkali argumentasi yang disampaikan atas penolakan ulos Batak itu irasional tanpa didasarkan pada pengetahuan yang baik dan mendalam terhadap tradisi tersebut. Oleh karena itu, tujuan dari penulisan artikel ini adalah sebagai bagian mencerdaskan kehidupan orang Batak dengan menyampaikan pandangan etika Kristen terhadap nilai-nilai kearifan lokal ulos Batak sehingga penolakan terhadap pemberian ulos sebagai identitas orang Batak tidak meluas. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode penelitian yang diterapkan adalah library research atau penelitian kepustakaan dan interview terhadap beberapa narasumber. Hasilnya menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalam pemberian ulos Batak dilihat dari perspektif etika Kristen tidak bertentangan bahkan justru selaras dengan firman Tuhan. Oleh karena itu, artikel ini bisa memberikan kontribusi penting untuk memberikan pemahaman bagi orang Batak dari berbagai denominasi gereja tentang nilai-nilai kearifan lokal dan pandangan Alkitab terhadap nilai-nilai tersebut
MEMAHAMI PEMELIHARAAN ALLAH DALAM BENCANA GAGAL PANEN DI DAERAH SA’DAN TIROALLO BERDASARKAN MODEL BERTEOLOGI KOSUKE KOYAMA
Recognition of God's love and care is not enough through fellowship but also through disasters in life, one of which is crop failure. This research aims to discover and understand the form of God's providence through crop failure disasters based on God's will, which is present in human life. Several theories used by the author include disaster theory, Kosuke Koyama's theology, and theories about God, which several authors have summarized. The research method used by the author is qualitative with a descriptive approach. Qualitative was developed through a literature study sourced from relevant book literature, articles and internet sources. To complete this article, the author used an analysis method in the form of interviews. The research results from this article show that the disaster of crop failure did not occur because of God's hatred but rather as a form of care so that humanity turns to Him and lives in a movement of ecumenical love for others. Based on Kosuke Koyama's theory, it can be concluded that God's intention for the crop failure disaster that occurred in the Sa'dan Tiroallo area was as a form of invitation so that humans have concern in terms of love for their neighbours, as well as a form of warning so that people can spend time communing with God and to repent and turn to God.Pengenalan terhadap kasih dan pemeliharaan Allah tidak cukup dengan persekutuan, tetapi juga lewat bencana dalam hidup, salah satunya lewat gagal panen. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan memahami bentuk pemeliharaan Allah lewat bencana gagal panen berdasarkan kehendak Allah yang hadir di tengah-tengah kehidupan manusia. Beberapa teori yang digunakan oleh penulis seperti teori bencana, teologi Kosuke Koyama, dan teori tentang Allah yang dirangkumkan dari beberapa penulis. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Kualitatif dikembangkan lewat studi kepustakaan yang bersumber dari literatur-literatur buku, artikel dan sumber internet yang relevan, untuk melengkapi tulisan tersebut, penulis menggunakan metode analisis dalam bentuk wawancara. Hasil penelitian dari tulisan tersebut adalah bahwa bencana gagal panen bukan terjadi karena kebencian Allah melainkan sebagai bentuk pemeliharaan supaya umat manusia berbalik kepada-Nya, dan hidup dalam gerakan kasih oikumene bagi sesama. Berdasar terhadap teori Kosuke Koyama maka disimpulkan bahwa maksud Allah terhadap bencana gagal panen yang terjadi di daerah Sa’dan Tiroallo adalah sebagai bentuk ajakan supaya manusia memiliki kepedulian dalam hal kasih kepada sesama mereka, juga sebagai bentuk teguran supaya umat dapat meluangkan waktu bersekutu bersama Allah serta untuk bertobat dan berbalik kepada Allah
MOTIVASI YANG BENAR DALAM PERTUMBUHAN DAN PENGEMBANGAN GEREJA MODERN: REFLEKSI 1 PETRUS 2:1
This research explores true motivation in the context of the growth and development of the modern church by detailing the role of Judas Iscariot as a case study. Through a qualitative and expositional approach, the author analyzes 1 Peter 2:1 to highlight the threats to true motivation and presents the story of Judas as a concrete illustration. The study emphasizes the urgency of maintaining the integrity of motivation in church ministry and provides insights into the risks and implications of incorrect motivation. Findings indicate that aligning motivation with Christian values is crucial to avoid potential risks and threats to church growth. This research details the concepts and implications of incorrect motivation, reminding church ministers to update strategies to address misguided motivations continually. Preserving the purity of heart and behavior is critical to ensuring true motivation in serving God and others.Penelitian ini mengeksplorasi motivasi yang benar dalam konteks pertumbuhan dan pengembangan gereja modern dengan merinci peran Yudas Iskariot sebagai studi kasus. Melalui pendekatan kualitatif dan eksposisi, penulis menganalisis 1 Petrus 2:1 untuk menyoroti ancaman terhadap motivasi yang benar dan memaparkan kisah Yudas sebagai ilustrasi konkrit. Penelitian ini menegaskan urgensi menjaga integritas motivasi dalam pelayanan gereja dan memberikan wawasan tentang risiko dan implikasi motivasi yang tidak benar. Temuan menunjukkan bahwa keselarasan motivasi dengan nilai-nilai kekristenan krusial untuk menghindari potensi risiko dan ancaman terhadap pertumbuhan gereja. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan memperinci konsep dan implikasi dari motivasi yang tidak benar, mengingatkan para pelayan gereja untuk terus memperbarui strategi mengatasi motivasi yang salah. Dengan menjaga kebersihan hati dan perilaku merupakan langkah kunci dalam memastikan motivasi yang benar dalam melayani Tuhan dan sesama
PEMBEKALAN PELAYANAN BAGI CALON PELAYAN DAN PELAYAN DI GEREJA GBI GOSYEN BLESSING SURABAYA
The form of maturation of God's people is through service, and the Church needs God's servants to carry out Church service tasks. The younger generation needs to be involved because they need to be equipped and prepared for the continuity of the Church in the future. If they are not engaged, developed, and prepared for Christ, the world's ungodliness will attract them, and the Church has no future. Therefore, the aim of the Ecclesiastical Community Service in this research is to provide service provision for prospective ministers at GBI Gosyen Blessing. It is done so that those who have served do not fall into the wrong motivation for service and are competent in carrying out their Church service responsibilities. Those who have not yet served should start to be prepared and given an overview so that they will be stronger when serving. The qualitative research method uses data collection techniques such as observation, interview, literature study, and documentation. The implementation method is through seminars and simulations. The result of this activity was excellent because it practically increased the knowledge and skills that participants could put into practice directly. Church leaders also need to know the strategies for the movement of the Church in the future.Bentuk pendewasaan dari umat Tuhan adalah melalui pelayanan, dan gereja memerlukan pelayan Tuhan untuk mengerjakan tugas pelayanan Gereja. Generasi muda perlu dilibatkan karena mereka perlu dibekali dan disiapkan untuk keberlangsungan Gereja di masa yang akan datang.
Jika mereka tidak dilibatkan, tidak dikembangkan, dan tidak dipersiapkan untuk Kristus, kefasikan dunialah yang menarik hati mereka dan Gereja tidak memiliki masa depan. Oleh sebab itu, tujuan dari Pengabdian kepada Masyarakat gerejawi di penelitian ini adalah untuk memberikan pembekalan pelayanan bagi calon pelayan dan pelayan yang ada di GBI Gosyen Blessing. Hal ini dilaksanakan agar yang sudah melayani pun tidak terjatuh di motivasi pelayanan yang salah dan cakap dalam mengerjakan tanggung jawab pelayanan Gereja. Untuk yang belum melayani pun agar mereka sudah mulai disiapkan dan diberikan gambaran agar mereka semakin kokoh ketika melayani. Metode penelitian berupa kualitatif dengan teknik pengumpulan data yakni observasi, wawancara, studi literatur, dan dokumentasi. Metode pelaksanaan adalah melalui seminar dan simulasi. Hasil dari kegiatan ini sangat baik karena praktis menambah pengetahuan dan keterampilan yang bisa secara langsung dipraktikkan peserta. Pemimpin gereja pun semakin tahu strategi langkah-langkah kegerakan Gereja ke depan
PENINGKATAN LITERASI ALKITABIAH MELALUI PROGRAM GEMAR BACA ALKITAB DI GEREJA REFORMASI INDONESIA NGABANG
The "Gemar Baca Alkitab" program at Gereja Reformasi Indonesia Plasma V Ngabang aims to enhance biblical literacy among children through interactive, creative, and contextual approaches. The program involves collaboration between church leadership and theology students from STT Makedonia, who act as facilitators. By utilizing multisensory methods such as Bible reading, interactive discussions, and creative activities, the program strives to strengthen the children’s understanding of biblical teachings, while helping them apply Christian values in their daily lives. This initiative addresses the challenge of declining interest in biblical learning due to the pervasive influence of digital technology. It successfully engages children by integrating elements of technology and fostering an environment of active participation. The results show significant improvements in biblical literacy, moral character development, and children’s motivation to engage with biblical texts. The program's success offers potential for replication in other church communities.Program "Gemar Baca Alkitab" di Gereja Reformasi Indonesia Plasma V Ngabang bertujuan untuk meningkatkan literasi alkitabiah pada anak-anak melalui pendekatan interaktif, kreatif, dan kontekstual. Program ini melibatkan kerjasama antara pengurus gereja dan mahasiswa STT Makedonia yang bertindak sebagai fasilitator. Dengan menggunakan metode multisensori seperti pembacaan Alkitab, diskusi interaktif, dan aktivitas kreatif, program ini berupaya memperkuat pemahaman anak-anak terhadap ajaran Alkitab, serta membantu mereka menerapkan nilai-nilai kristiani dalam kehidupan sehari-hari. Inisiatif ini menanggapi tantangan menurunnya minat belajar Alkitab di tengah dominasi teknologi digital. Program ini berhasil melibatkan anak-anak dengan mengintegrasikan elemen teknologi dan menciptakan suasana belajar yang aktif. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam literasi Alkitab, pengembangan karakter moral, dan motivasi anak-anak untuk berinteraksi dengan teks Alkitab. Keberhasilan program ini juga menawarkan potensi untuk diterapkan di komunitas gereja lainnya
YUNUS DAN BELAS KASIHAN ALLAH: ANALISIS NARATIF YUNUS 4
This study aims to investigate and analyze aspects of mercy reflected in the narrative of Jonah 4, with a particular focus on the comparison between God's mercy and Jonah's mercy. Using a narrative literary approach, this study explores the deeper meanings in the text and details Jonah's response to God's mercy as presented in chapter 4. The research method involves literary analysis and identifying narrative elements that reflect the theme of mercy. The center of attention of this study lies at the beginning of the narrative in Jonah 4, where Jonah shows an upset reaction to God's decision to spare Nineveh. Understanding God's mercy and Jonah's response to it is the main focus of the analysis. The findings show a significant difference between God's mercy, which involves His universal love for all nations, and the lack of mercy shown by Jonah towards the Ninevites. The contribution of the findings lies in a deeper understanding of Jonah's character, the dynamics of the relationship between humanity and divinity, and the theological implications contained in the text of Jonah 4.Penelitian ini memiliki tujuan untuk menyelidiki serta menganalisis aspek-aspek belas kasihan yang tercermin dalam narasi Yunus 4, dengan fokus khusus pada perbandingan antara belas kasihan Allah dan belas kasihan Yunus. Dengan menggunakan pendekatan sastra naratif, penelitian ini menggali makna yang lebih mendalam dalam teks, serta memerinci tanggapan Yunus terhadap belas kasihan Allah yang dipresentasikan dalam pasal 4. Metode penelitian ini melibatkan analisis sastra dan mengidentifikasi unsur-unsur naratif yang mencerminkan tema belas kasihan. Pusat perhatian penelitian ini terletak pada awal narasi di Yunus 4, di mana Yunus menunjukkan reaksi kesal terhadap keputusan Allah untuk mengampuni Niniwe. Pemahaman terhadap belas kasihan Allah dan respons Yunus terhadapnya menjadi fokus utama analisis. Temuan penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan antara belas kasihan Allah, yang melibatkan cinta-Nya yang universal terhadap semua bangsa, dengan kurangnya belas kasihan yang ditunjukkan oleh Yunus terhadap bangsa Niniwe. Kontribusi temuan ini terletak pada pemahaman yang lebih mendalam tentang karakter Yunus, dinamika hubungan antara manusia dan keilahian, serta implikasi teologis yang terkandung dalam teks Yunus 4
MODEL KEPEMIMPINAN GEREJA YANG PARTNERSHIP DAN INOVATIF DALAM PENGEMBANGAN ORGANISASI PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA PAPUA DI PAPUA BARAT
The movement of an organization cannot be separated from the role of a leader. Still, an important question is what kind of leadership model is suitable to be applied in an oikoum Church organization, in this case, the Papuan Churches Association in West Papua Province. Indeed, what kind of leadership model or style is suitable for developing a complex and pluralistic religious organization such as PGGP West Papua? Can the current leadership model answer the various fundamental problems the West Papua PGGP organization faces? FGD activities get input from participants who are very enthusiastic about participating in this activity. These inputs benefit the future development of West Papua PGGP by considering the strengths, weaknesses, opportunities, and threats. The results of these inputs will provide input for the West Papua PGGP management to carry out appropriate strategies to develop the West Papua PGGP organization in the future in entering the current era of globalization.Bergeraknya sebuah roda organisasi tidak lepas dari peran seorang pemimpin, namun pertanyaan pentingnya adalah model kepemimpinan seperti apa yang cocok diterapkan dalam suatu organisasi Gereja secara oikumene dalam hal ini organisasi Persekutuan Gereja-Gereja Papua di Provinsi Papua Barat. Sesungguhnya model atau gaya kepemimpinan seperti apakah yang cocok dalam pengembangan sebuah organisasi keagamaan yang kompleks dan majemuk seperti PGGP Papua Barat? Apakah model Kepemimpinan yang sudah ada dapat menjawab berbagai persoalan mendasar yang dihadapi oleh organisasi PGGP Papua Barat. Kegiatan FGD mendapatkan masukan-masukan dari para peserta yang sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Masukan-masukan tersebut sangat bermanfaatan dalam pengembangan PGGP Papua Barat kedepan. Faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan ancaman, yang disampaikan peserta FGD akan memberi masukan bagi pengurus PGGP Papua Barat. Sehingga PGGP Papua Barat dapat melakukan strategi-strategi yang tepat dalam rangka mengembangkan organisasi dan memasuki era globalisasi yang sedang berlangsung saat ini
IMPLEMENTASI AJARAN KASIH KRISTUS: PELATIHAN ALTRUISME UNTUK MEMBANGUN CARING BEHAVIOR REMAJA DI SMA SWASTA X JAKARTA
The main problem of Generation Z is their indifference to the social environment, because they have been spoiled by advances in information and communication technology, so they have no concern for the interests of other people. This community service activity takes the form of altruism training which aims to develop caring behavior in generation z teenagers at X Private High School in Jakarta. The number of participants was 95 students (56 women and 49 men). The implementation method is carried out in pre-activity, activity and post-activity stages. Pre-activity issues were deepened through interviews with school principals, guidance and counseling teachers and lesson teachers. The activity period is providing altruism training. After the activity, namely interviewing the school principal, guidance and counseling teachers, lesson teachers and training participants. Data collection techniques through interviews, observation and documentation studies. Analysis technique with a qualitative approach. The results of the activity concluded that cognitively, altruism training can provide knowledge of helping behavior based on empathy for other people's conditions, so that they can develop caring behavior to show helping (prosocial) behavior towards other people.
Masalah utama generasi z adalah ketidakpedulian mereka terhadap lingkungan sosial, karena mereka sudah dimanjakan dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga mereka tidak memiliki kepedulian terhadap kepentingan orang lain. Kegiatan pengabdian masyakarat ini berupa pelatihan altruisme yang bertujuan untuk menumbuh-kembangkan caring behavior pada remaja generasi z di SMA Swasta X di Jakarta. Jumlah peserta 95 orang siswa (56 perempuan dan 49 laki-laki). Metode pelaksanaan dilakukan dengan tahapan pra-kegiatan, kegiatan dan pasca kegiatan. Pra-kegiatan dilakukan pendalaman masalah melalui wawancara dari kepala sekolah, guru bimbingan dan konseling dan guru Pelajaran. Masa kegiatan yaitu pemberian pelatihan altruism. Pasca kegiatan yaitu mewancarai kepala sekolah, guru bimbingan dan konseling, guru Pelajaran dan peserta pelatihan. Teknik pengambilan data melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisis dengan pendekatan kualitatif. Hasil kegiatan disimpulkan bahwa secara kognitif, pelatihan altruisme dapat memberikan pengetahuan perilaku menolong yang didasari empati terhadap kondisi orang lain, sehingga mereka dapat mengembangkan caring behavior untuk menunjukkan perilaku menolong (prososial) terhadap orang lain
PENDEKATAN DYNAMIC EQUIVALENCE DALAM PENGGUNAAN CHANT HOHO SUKU NIAS: SEBUAH UPAYA KONTEKSTUALISASI IBADAH
Over the centuries, churches in the East and West have integrated various cultural elements into liturgy, a process known as inculturation or contextualization. In Indonesia, this is evident in ethnic worship practices. However, churches in Indonesia face challenges in this process due to historical and theological factors. The first challenge is related to the influence of Western mission institutions, making it difficult to break away from Western liturgical forms. The second challenge pertains to the issue of syncretism, leading to the rejection of local cultural elements in worship. Although it is recognized that the Gospel and worship are related to the cultural context, the process of inculturation in Indonesia remains spontaneous and experimental. Cultural elements often appear as mere ornaments, without being integrated into worship. The main issue lies in how to contextualize liturgical elements, rooted in the problem of dichotomous thinking, which makes it difficult to strengthen congregational identity while preserving local culture. To address this, the author proposes analyzing the contextualization of worship with a focus on the practice of singing. Using the dynamic equivalence method, this study aims to provide a framework for incorporating the Nias chant hoho into Christian worship in a thoughtful manner. This method can offer valuable insights for other churches that wish to effectively integrate local culture into their worship practices. The author focuses this article on the specific aspect of the chant hoho, which is a Nias oral tradition that can be manifested in Christian worship as congregational singing.Selama berabad-abad, gereja di belahan Timur dan Barat telah mengintegrasikan beragam elemen budaya ke dalam liturgi dan proses ini dikenal sebagai inkulturasi atau kontekstualisasi. Di Indonesia wujudnya terlihat dalam ibadah etnis. Namun, gereja-gereja di Indonesia menghadapi tantangan dalam prosesnya karena faktor sejarah dan teologis. Tantangan pertama terkait dengan pengaruhi lembaga misi Barat, sehingga sulit untuk melepaskan diri dari bentuk liturgi Barat. Tantangan kedua terkait isu sinkretisme, sehingga mengarah pada penolakan unsur budaya lokal dalam ibadah. Meskipun diakui bahwa Injil dan ibadah terkait dengan konteks budaya, proses inkulturasi di Indonesia terus bersifat spontan dan eksperimental. Elemen budaya seringkali muncul sebatas ornamental tanpa terintegrasi dengan ibadah. Masalah utamanya terletak pada cara pengkontekstualisasian elemen liturgi yang mengakar pada isu pola pikir dikotomi yang berakibat pada sulitnya memperkuat identitas jemaat sambil melestarikan budaya lokal. Untuk mengatasi hal ini, penulis mengusulkan untuk menganalisis kontekstualisasi ibadah dengan fokus pada praktik bernyanyi. Dengan menggunakan metode dynamic equivalence, studi ini bertujuan menyediakan kerangka penerapan bagi penggabungan elemen budaya Nias chant hoho ke dalam ibadah Kristen secara bijaksana. Metode ini dapat memberikan wawasan berharga bagi gereja-gereja lain yang ingin mengintegrasikan budaya lokal ke dalam praktik ibadah mereka secara efektif. Penulis memfokuskan artikel ini pada aspek spesifik budaya chant hoho yang merupakan tradisi lisan masyarakat Nias yang dapat diwujudnyatakan dalam peribadatan Kristen sebagai nyanyian jemaat