Jurnal Ilmiah Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Jakarta
Not a member yet
220 research outputs found
Sort by
KEBEBASAN KRISTEN DI ERA DIGITAL: PRINSIP ETIS-TEOLOGIS BERDASARKAN 1 KORINTUS 6:12
The development of technology has a positive impact, making it easier for humans to do their work. However, in addition to having a positive impact, technology also hurts its users. The rise of cybersex on social media is very dangerous because it is detrimental to many people including Christians. Cybersex can cause sexual urges because of sex offerings on the internet. There are several cybersex practices, including prostitution, harassment, and pornography that show declining moral behaviour in this generation in the digital era. Efforts are needed to tackle the spread of cybersex and its negative impact on Christian life. That freedom does not negate the responsibility of being a believer. This article will conduct a biblical study of 1 Corinthians 6:12 and relate it to "Christian freedom in the Digital Age. The method used is an exegesis approach. The results of the biblical study of 1 Corinthians 6:12 present an ethical-theological principle: First, everything that is allowed is not necessarily all useful. Second, All is permissible, but do not forget God's authority and His will.Perkembangan teknologi memberikan dampak positif yaitu memudahkan manusia dalam melakukan pekerjaannya. Akan tetapi selain memberikan dampak positif, teknologi juga memberikan dampak negatif bagi penggunanya. Maraknya cybersex di media sosial sangat berbahaya karena memberikan kerugian bagi banyak orang termasuk orang Kristen. Cybersex mampu menimbulkan dorongan seksual karena sajian-sajian seks di internet. Adapun beberapa praktik cybersex, antara lain prostitusi, sex bebas, pelecehan, dan pornografi yang menunjukkan perilaku moral yang semakin merosot dalam diri generasi di era digital ini. Untuk itu diperlukan upaya dalam menanggulangi penyebaran cybersex dan dampak negatifnya terhadap kehidupan orang Kristen. Bahwa kebebasan bukan menegasikan tanggung jawab sebagai orang percaya. Artikel ini akan melakukan kajian biblika terhadap 1 Korintus 6:12 dan direlasikan dengan “kebebasan Kristen di Era Digital.” Metode yang dipakai adalah pendekatan eksegesis. Hasil kajian Biblika terhadap 1 Korintus 6: 12 menghadirkan prinsip etis-teologis: Pertama, semua yang diperbolehkan belum tentu semua itu berguna. Kedua, Semua diperbolehkan, namun jangan melupakan otoritas Tuhan dan kehendak-Nya
JAMINAN TUHAN KEPADA GIDEON SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP ORANG PERCAYA: STUDI HERMENEUTIK BERDASARKAN HAKIM-HAKIM 6:23
The Lord's word of assurance to Gideon in Judges 6:23 contains three things, namely, "be sure," "do not be afraid," and "you will not die. The two main problems with this verse are, first, that these words of the Lord are in stark contrast to the reality that Gideon faced, which was fearful and desperate, so he doubted the promise. For this reason, it is necessary to investigate God's ultimate motive in giving this assurance. Secondly, the phrase "you shall not die" contradicts the narrative that explains Gideon's death, so it must be described in detail. This problem is precisely and comprehensively explored and researched to explain this verse adequately. Thus, based on the descriptive qualitative research method with a hermeneutic study with a micro-analytical exegesis approach, this study found several things, namely, first, God's guarantee of salvation; second, God's guarantee of not being afraid; and third, God's guarantee of preserving and protecting the life of every believer. This article contributes to scholars, servants of God, and theological activists to better understand the story of Gideon in Judges.Perkataan jaminan Tuhan kepada Gideon dalam Hakim-Hakim 6:23 berisi tiga hal, yakni “selamatlah engkau,” “jangan takut,” dan “engkau tidak akan mati.” Dua permasalahan utama dalam ayat ini yakni, pertama, perkataan Tuhan ini sangat berlawanan dengan realita yang sementara dihadapi oleh Gideon, yang ketakutan dan putus asa, sehingga ia sendiri meragukan janji itu. Untuk itu perlu diselidiki tentang apa motif utama dari Tuhan dalam mengucapkan jaminan ini? Kedua ada frasa “engkau tidak akan mati” yang berkontradiksi dengan narasi yang menjelaskan kematian Gideon, sehingga perlu dijelaskan secara detail. Hal inilah yang dieksplorasi dan diteliti secara spesifik dan komprehensif, untuk memberikan penjelasan yang tepat terhadap ayat ini. Jadi, berdasarkan metode penelitian kualitatif deskriptif berdasarkan studi hermeneutik dengan pendekatan micro analysis exegesis, maka penelitian ini menemukan beberapa hal, yakni pertama, jaminan Tuhan tentang keselamatan; kedua, jaminan Tuhan agar jangan takut; dan ketiga, jaminan Tuhan atas pemeliharaan dan perlindungan hidup setiap orang percaya. Artikel ini menjadi masukan bagi para sarjana dan Hamba Tuhan serta pegiat Teologi untuk semakin memahami narasi Gideon dalam kitab Hakim-Hakim
PEMBINAAN WARGA JEMAAT GKSI SMIRNA PADUDARA MENYADARI PENTINGNYA MEMBERITAKAN INJIL
The Christian Church of Setia Indonesia (GKSI) Smirna Congregation, located in Denduka Village, South Wewewa Subdistrict, Southwest Sumba Regency, East Nusa Tenggara (NTT), is where the community service program (PkM) is conducted. Based on the results of observations made on the congregation members of GKSI Smirna, it was found that the congregation is not fully aware of their duties and responsibilities in actualizing the Great Commission. This situation arises due to the lack of human resources and an insufficient understanding of the duties and responsibilities as believers in the context of the Great Commission (Matthew 28:19-20). Therefore, the solution taken by the service provider was to provide training to the GKSI Smirna congregation in order to address these challenges. The purpose of this PkM is to help the congregation understand the intent and purpose of the Great Commission, as well as to realize that all of God's people must fulfill this mandate. In this writing, the methods used include observation, literature study, discussions, and surveys. The results obtained from this training showed that the GKSI Smirna congregation participated in the actualization of the Great Commission.Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Jemaat Smirna yang berada di Desa Denduka, Kecamatan Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, tempat di mana PkM dilaksanakan. Berdasarkan dari hasil observasi yang dilakukan kepada warga jemaat GKSI Smirna, pengabdi melihat jemaat kurang menyadari tugas dan tanggung jawab dalam mengaktualisasikan Amanat Agung. Situasi ini disebabkan karena kurangnya sumber daya manusia, serta belum memahami tugas dan tanggung jawab sebagai orang percaya dalam teks Amanat Agung (Matius 28:19-20). Oleh karena itu pengabdi mengambil langkah sebagai solusi yaitu melakukan pembinaan warga jemaat GKSI Smirna guna menjawab tantangan tersebut. Adapun tujuan dilakukannya PkM ini adalah agar jemaat memahami maksud dan tujuan Amanat Agung disampaikan, serta menyadari bahwa semua umat Allah harus menjadi pelaksana mandat tersebut. Dalam penulisan ini, pengabdi menggunakan metode observasi, studi kepustakaan, diskusi, dan disertakan dengan melakukan survei. Hasil yang diperoleh dari pembinaan ini yaitu Jemaat GKSI Smirna turut dalam mengaktualisasikan Amanat Agung
IBADAH RUMAH TANGGA: KELUARGA SEBAGAI KUNCI PEMULIHAN GENERASI KECANDUAN GADGET DI GKSI EL-SHADDAI
The growth of digital technology has changed many aspects of life, including the way children and young people connect and learn. The excessive use of gadgets among the younger generation has raised concerns about the negative effects on their physical, mental and spiritual health. In GKSI El-Shaddai Bojo, gadget addiction among children has started to affect their family life and their position in worship activities. This post aims to examine the position of household worship as a recovery facility for the gadget-addicted generation. This research was attempted using participatory observation and training procedures carried out at GKSI El-Shaddai Bojo, West Sulawesi. The results of this PkM activity show that household worship can be an efficient medium in reducing gadget dependence and strengthening spiritual values in the family. Through togetherness in prayer, praise, and dialogue of God's Word, the family is expected to produce an area conducive to the spiritual growth of children, while building their personalities to be able to experience the challenges of the digital age.Pertumbuhan teknologi digital sudah mengganti banyak aspek kehidupan, tercantum metode kanak-kanak serta anak muda berhubungan serta belajar. Pemakaian gadget yang kelewatan di golongan generasi muda memunculkan kekhawatiran tentang akibat negatif pada kesehatan raga, mental, serta spiritual mereka. Di GKSI El-Shaddai Bojo kecanduan gadget dikalangan kanak-kanak mulai memengaruhi kehidupan keluarga serta kedudukan mereka dalam aktivitas ibadah. Postingan ini bertujuan buat mengkaji kedudukan ibadah rumah tangga selaku fasilitas pemulihan untuk generasi yang kecanduan gadget. Riset ini dicoba memakai tata cara observasi serta pelatihan partisipatif yang dilaksanakan di GKSI El-Shaddai Bojo, Sulawesi Barat. Hasil dari aktivitas PkM ini menunjukkan bahwa ibadah rumah tangga bisa jadi media yang efisien dalam mengurangi ketergantungan pada gadget dan menguatkan nilai-nilai rohani dalam keluarga. Lewat kebersamaan dalam doa, pujian, serta dialog Firman Tuhan, keluarga diharapkan bisa menghasilkan area yang kondusif buat pertumbuhan spiritual kanak- kanak, sekalian membangun kepribadian mereka supaya sanggup mengalami tantangan masa digital
KARYA ROH KUDUS YANG BERDAMPAK TERHADAP PEMBARUAN GEREJA MENGHADAPI PERUBAHAN BUDAYA
Church renewal has become an urgent necessity in the contemporary era, marked by cultural challenges. This article examines the significant role of the Holy Spirit in the process of church renewal amidst declining congregational participation and changing societal demands. Through a qualitative literature review approach, this research identifies that the Holy Spirit serves not only as a source of spiritual strength but also as a Teacher, Comforter, and Spiritual Guide for believers. Amidst cultural dynamics, the Holy Spirit provides wisdom and impetus to maintain the church's relevance. The study highlights the Holy Spirit's influence in shaping church leadership and empowering individuals with spiritual gifts. The findings indicate that a profound understanding of the Holy Spirit's work can lead to significant renewal in church practices, strengthening ministries and honouring God. This article makes a vital contribution to understanding and practising church responses to contemporary challenges, emphasizing the importance of the Holy Spirit's role in sustaining church vitality amidst cultural shifts.Pembaruan gereja menjadi kebutuhan mendesak di era kontemporer yang dipenuhi dengan tantangan budaya. Artikel ini mengulas peran penting Roh Kudus dalam proses pembaruan gereja di tengah penurunan partisipasi jemaat dan perubahan tuntutan zaman. Melalui pendekatan studi pustaka kualitatif, penelitian ini mengidentifikasi bahwa Roh Kudus bukan hanya sumber kekuatan spiritual, tetapi juga Pengajar, Penghibur, dan Pembimbing Rohani bagi umat-Nya. Dalam dinamika budaya, Roh Kudus memberikan kebijaksanaan dan dorongan untuk menjaga relevansi gereja. Penelitian menyoroti pengaruh Roh Kudus dalam pembentukan pemimpin gereja dan pemberdayaan individu dengan karunia-karunia rohani. Hasilnya menunjukkan bahwa pemahaman yang mendalam tentang karya Roh Kudus dapat mengarah pada pembaruan yang signifikan dalam praktik gereja, memperkuat pelayanan dan menghormati Tuhan. Artikel ini memberikan kontribusi penting bagi pemahaman dan praktik gereja dalam menghadapi tantangan kontemporer, menyoroti pentingnya peran Roh Kudus dalam menjaga vitalitas gereja dalam menghadapi perubahan budaya
KASIHANILAH AKU YA TUHAN: KRITIK NARATIF MENGENAI KASIH IBU MENURUT MATIUS 15:21-28
The role of a mother is very important in shaping the character and personality of children. The narrative in Matthew 15:21-28 depicts the dedication of a Canaanite mother who humbles herself for the healing of her daughter. This story serves as a powerful representation of the essence of motherhood and an antithesis to the increasingly common phenomenon of being motherless in today's society. This research aims to explore the contribution of the Canaanite woman's narrative in understanding issues related to motherhood and the condition of being motherless. The methodology used is qualitative, with an in-depth analysis of the biblical text and its relevance to family complexities. The results indicate that this story offers a model of motherhood that emphasizes total dedication, humility, and persistence in seeking help. These values can be implemented through community support, parenting education programs that integrate spiritual values, and psychological support for mothers facing challenges in fulfilling their maternal roles. Furthermore, this narrative teaches that true motherhood has a strong spiritual dimension, reflecting responsibilities that go beyond the physical and emotional needs of children. Thus, this story not only functions as a historical narrative but also provides a comprehensive paradigm of motherhood that can address the crisis of being motherless in contemporary society.Peran seorang ibu sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Narasi dalam Matius 15:21-28 menggambarkan dedikasi seorang ibu Kanaan yang merendahkan diri demi kesembuhan putrinya. Kisah ini menjadi representasi esensi motherhood dan antitesis fenomena motherless yang semakin umum di masyarakat saat ini. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi kontribusi narasi perempuan Kanaan dalam memahami isu-isu terkait motherhood dan kondisi motherless. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis mendalam terhadap teks Alkitab dan relevansinya dengan kompleksitas keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisah ini menawarkan model motherhood yang menekankan dedikasi, kerendahan hati, dan persistensi. Nilai-nilai ini dapat diimplementasikan melalui dukungan komunitas, program edukasi parenting, dan pendampingan psikologis bagi ibu-ibu. Narasi ini juga mengajarkan bahwa motherhood memiliki dimensi spiritual yang kuat, mencerminkan tanggung jawab yang melampaui kebutuhan fisik dan emosional anak. Dengan demikian, kisah ini tidak hanya berfungsi sebagai narasi historis tetapi juga sebagai paradigma komprehensif tentang motherhood yang dapat mengatasi krisis motherless dalam masyarakat modern
PEMBINAAN REMAJA GKPM BETAET KECAMATAN SIBERUT BARAT MEMAHAMI DAN MELAKUKAN PESAN KITAB SUCI
The Bible is a series of writings that God has given to man. In the Christian faith, the Bible is the Word of God and through it, the people can know what is in God's heart. However, to understand the Bible, we must use various ways to make the writings in it easy to understand. One village that faces directly from the Indian Ocean Betaet needs to be considered in the development of faith and spirituality. In Betaet village, the composition of the Christian and Muslim populations has gone hand in hand in the last five years. The PkM team took the segment of the youth and youth categories to become a coaching community. Coaching activities are given after first observing what is needed for coaching in Betaet. With the lecture and semi-workshop method, the PkM Team guides teenagers and youth at the GKPM Betaet Church After participating in the coaching, adolescents and young men have a practical, simple, and easy method of understanding the Bible that encourages them to regularly read the Bible in their respective homes. Thirty-six participants who took part in the training felt a change in their lives and were determined to live in faith in Christ Jesus alone. It is hoped that similar activities will be given in Betaet for the category of Mother, Father, and children so that they have a fresh, strong, and agile spiritual life in Christ Jesus every day.Kitab Suci adalah satu rangkaian tulisan yang diberikan Allah kepada manusia. Dalam iman Kristen Alkitab adalah Firman Allah dan melaluinya umat dapat mengetahui apa yang menjadi isi hati Allah. Namun untuk memahami Alkitab harus menggunakan berbagai cara agar tulisan di dalamnya dengan mudah dimengerti. Satu desa yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia Betaet salah satu yang perlu diperhatikan dalam Pembangunan iman dan kehidupan spiritualitas. Di desa Betaet komposisi penduduk beragama Kristen dan Islam kian beriringan dalam lima tahun terakhir. Tim PkM mengambil segmen kategori remaja dan pemuda untuk menjadi komunitas pembinaan. Kegiatan pembinaan diberikan setelah observasi terlebih dahulu apa yang menjadi kebutuhan pembinaan di Betaet. Dengan metode ceramah dan semi workshop Tim PkM memberikan pembinaan kepada remaja dan pemuda di Gereja GKPM Betaet. Setelah mengikuti pembinaan, remaja dan pemuda memiliki metode yang praktis, sederhana dan mudah memahami Alkitab sehingga mendorong mereka secara rutin membaca Alkitab di rumah masing-masing. Tiga puluh enam peserta yang mengikuti pelatihan merasakan perubahan dalam kehidupannya dan bertekad untuk hidup dalam iman kepada Kristus Yesus saja. Diharapkan agar kegiatan serupa diberikan di Betaet untuk kategori Ibu, Bapak dan anak-anak agar mereka memiliki kehidupan Rohani yang segar, kuat dan sigap di dalam Kristus Yesus setiap hari
PENGUSULAN PEMBANGUNAN ‘RUMAH SUSUN SEDERHANA’ DI UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA TORAJA
This article is the result of a proposal for the construction of Simple Apartments at the Indonesian Christian University of Toraja as a solution to address the issue of limited housing for students and staff. This proposal is motivated by the high demand for affordable and nearby housing, as well as the limited land around the university. The Simple Apartments are expected to provide adequate, safe, and comfortable living facilities at an affordable cost. This development is also designed to support academic and non-academic activities and improve the quality of life for its residents. Through this approach, the Indonesian Christian University of Toraja can make a positive contribution to the well-being of the campus and surrounding community. This study outlines the planning, design, and feasibility analysis of the construction project, as well as identifies potential challenges and solutions that can be implemented. It is hoped that this proposal can serve as a model for other educational institutions in providing quality housing facilities for students and staff.Artikel ini merupakan hasil dari pengusulan pembangunan Rumah Susun Sederhana di Universitas Kristen Indonesia Toraja sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan keterbatasan tempat tinggal bagi mahasiswa dan staf. Pengusulan ini dilatarbelakangi oleh tingginya kebutuhan akan hunian yang terjangkau dan dekat dengan kampus, selain itu, terdapat keterbatasan ruang di sekitar universitas. Rumah Susun Sederhana diharapkan mampu menyediakan hunian yang layak, aman, dan nyaman dengan biaya yang terjangkau. Pembangunan ini juga dirancang untuk mendukung kegiatan akademik dan non-akademik, serta meningkatkan kualitas hidup penghuninya. Melalui pendekatan ini, Universitas Kristen Indonesia Toraja dapat memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan komunitas kampus dan sekitarnya. Studi ini menguraikan perencanaan, desain, dan analisis kelayakan proyek pembangunan, serta mengidentifikasi potensi tantangan dan solusi yang dapat diimplementasikan. Diharapkan usulan ini dapat menjadi model bagi institusi pendidikan lainnya dalam menyediakan fasilitas hunian yang berkualitas bagi mahasiswa dan staf
APLIKATIF PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MENGATASI DEGRADASI MORAL DI SMPTK SOLA GRACIA ARASTAMAR RANTEBALLA
This service activity was held at SMPTK Sola Gracia Arastamar in Ranta Bella Village, Latimojong District, Luwu Regency, South Sulawesi. The PkM was held because many students at SMPTK Sola Gracia were experiencing moral degradation, such as being impolite, liking to curse, stealing and neglecting spiritual activities. This activity answers this problem by conducting education on applicable character education topics based on Christian religious values. The methods used are observation, two-way discussion, and library research. The results showed that SMPTK students who experienced problems after participating in PkM activities showed a behavioural transformation following moral values and Biblical principles. This activity will continue in the advanced monitoring stage, where the PkM team will control the students so that the activities carried out provide satisfactory and sustainable results.Kegiatan pengabdian ini diselenggarakan di SMPTK Sola Gracia Arastamar yang bertempat di Desa Rante Balla, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. PkM yang diselenggarakan dilatarbelakangi karena sebagian banyak siswa di SMPTK Sola Gracia sedang mengalami degradasi moral, seperti kurang sopan, suka memaki, mencuri, dan mengabaikan kegiatan-kegiatan kerohanian. Mengacu dari problem tersebut, kegiatan ini hadir sebagai jawaban atas isu tersebut; dengan melakukan edukasi bertopik aplikatif pendidikan karakter berbasis nilai agama Kristen. Metode yang digunakan adalah pengamatan, diskusi dua arah, dan riset pustaka. Hasil yang diperoleh adalah siswa SMPTK yang mengalami masalah, setelah mengikuti kegiatan PkM telah menunjukkan transformasi perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral dan prinsip Alkitab. Kegiatan ini akan berlanjut pada tahap pemantauan lanjutan; dimana tim PkM akan mengontrol para peserta didik supaya kegiatan yang diselenggarakan benar-benar memberikan hasil yang memuaskan dan berkelanjutan
EDUKASI PERAN ORANG TUA DALAM PEMBENTUKKAN INNER CHILD MELALUI REGULASI EMOSI ANAK DI GEREJA BACB
The inner child is a part of someone's life that is formed from the time of conception until the age of 12. Therefore, parents play a crucial role in shaping the inner child. If someone has a wounded inner child, it will manifest unconsciously throughout adulthood, both in actions and feelings. One thing a parent can do is regulate their child's emotions. An educational class for parents held at the Bandung City Blessing City Square Church aims to raise awareness regarding the importance of understanding the inner child and emotional regulation in children. The research method used is descriptive qualitative, where the author conducted a literature study to present the material for this educational class. Doing this activity resulted in participants giving positive responses, indicating that the class provided knowledge and skills that can be directly applied. Participants also suggested that educational courses should be conducted regularly and counselling should be available for parents to enhance their parenting abilities further.Inner child merupakan bagian dari kehidupan seseorang yang terbentuk dari sejak dalam kandungan hingga usia 12 tahun, oleh karena itu orang tua memegang peranan penting dalam pembentukan inner child. Jika seseorang memiliki inner child yang terluka maka itu akan muncul pada saat usia dewasa secara tidak sadar baik dalam bentuk tindakan maupun perasaan. Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah melakukan regulasi emosi pada anak. Kelas edukasi terhadap orang tua yang dilakukan di gereja Bandung City Blessing City Square, bertujuan untuk memberikan kesadaran akan pentingnya inner child dan regulasi emosi pada anak. Metode penelitian yang dilakukan adalah kualitatif deskriptif, dimana penulis melakukan studi literatur dalam penyajian materi kelas edukasi ini. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini adalah para peserta memberikan respon positif di mana kelas ini memberikan pengetahuan dan keterampilan yang bisa langsung dipraktekkan. Peserta juga menyarankan agar kelas edukasi dapat dilakukan secara berkala serta adanya konseling bagi orang tua untuk semakin meningkatkan kemampuan sebagai orang tua