Jurnal Ilmiah Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Jakarta
Not a member yet
220 research outputs found
Sort by
PERANAN KEMITRAAN GEREJA DENGAN LEMBAGA KRISTEN DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN JEMAAT
Poverty in Indonesia is still evident in areas with a large population of Christians. According to the data from the Central Bureau of Statistics in 2020, the provinces of Papua, Maluku and NTT are areas with a high percentage of population poverty rates. Even though in these areas the church has been serving the people for a long time. The existence of the church in the midst of society wherever it is is expected to be able to answer the problem of poverty that plagues church congregants and society in general. Churches that serve in poor community face challenges in playing an active role in increasing congregational income. The limited resources owned by the church and the limited financial support of congregational make the church unable to serve the congregation maximally in terms of supporting the increase in the income of the congregation who are still living in poverty. Unlike the case with churches that have good resources such as human resources and strong financial resources. Realizing the limited resources owned by the church, it is necessary to involve third parties from outside the church and the congregation to equip and provide support to the church in developing the economic potential of the congregation. Keeping Christ-centered Christian values from being degraded, the church builds partnership with institutions that have the same service values as the church and have the same goal of increasing the income of congregation. Cooporation can be carried out through partnerships to achieve common goals to increase income of congregation. Each party has rights and obligations that support each other in the partnership that is built.Kemiskinan secara ekonomi di Indonesia masih tampak dengan jelas berada di wilayah-wilayah dengan populasi penduduk yang banyak beragama Kristen. Menurut data Bada Pusat Statistik tahun 2020 provinsi Papua, Maluku dan NTT merupakan wilayah dengan persentasi tingkat kemiskinan penduduk yang tinggi. Padahal di wilayah-wilayah ini gereja sudah melayani umat sejak lama. Keberadaan gereja ditengah-tengah masyarakat dimanapun berada diharapkan dapat menjawab permasalahan kemiskinan yang mendera jemaat gereja secara khusus dan masyarakat pada umumnya. Gereja yang melayani di lingkungan masyarakat miskin mengahadapi tantangan dalam berperan aktif untuk meningkatkan penghasilan jemaat. Keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh gereja dan dukungan jemaat dalam keuangan yang terbatas membuat gereja tidak dapat melayani jemaat dengan maksimal dalam hal mendukung peningkatan penghasilan jemaat yang masih hidup dalam kemiskinan. Berbeda halnya dengan gereja yang memiliki sumber-sumber daya yang baik seperti sumber daya manusia dan sumber daya keuangan yang kuat. Menyadari keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh gereja, maka perlu melibatkan pihak ketiga dari luar gereja dan jemaat untuk memperlengkapi dan memberi dukungan kepada gereja dalam mengembangkan potensi ekonomi jemaat. Menjaga nilai-nilai kekristenan yang berpusat pada Kristus agar tidak terdegradasi, maka gereja membangun kerjasama dengan lembaga yang memiliki nilai-nilai pelayanan yang sama dengan gereja dan tujuan yang sama meningkatkan pendapatan jemaat. Kerjasama dapat dilakukan melalui kemitraan untuk mencapai tujuan bersama yaitu meningkatkan pendapatan jemaat. Masing-masing pihak memiliki hak dan kewajiban yang saling mendukung dalam kemitraan yang dibangu
ANAK MANUSIA DAN HAMBA YANG MENDERITA: KEMESIASAN YESUS DALAM TEOLOGI BIBLIKA DAN IMPLIKASINYA BAGI ORANG KRISTEN DI INDONESIA PADA MASA KINI
The concept of the Messiah is a complex and often problematic concept for both Christians and Jews to understand. Christian often accept the concept too simplistically to the point of losing sight of the continuity of the concept with the Messianic prophecies in the Old Testament. In contrast to the Christians, the Jwes reject the concept mainly because their Messianic concept is very strong. Related to glory and power but they do not understand theat the Messiah must die even to the point of being crucified to atone for the sins of His people. Using a biblical theology approach. This article argues that the concept of the Messiah in the Bible must be fully understood in terms of the glory and suffering of the Messiah in the Bible. Bear the sin. Two the important biblical concepts for understanding both are the concept of The Son of Man and the concept of the Suffering Servant. In the deen of Jesus Christ, the glory and power of the Son of Man and the role of the Suffering Servant were simultaneously fulfilled through His humiliation on the cross and His exaltation through His resurrection from the dead. For this purpose this article first discusses concerning the Messiah in the Old Testament, the second: the Messiah and the Son of Man, the third: Son of Man and the Suffering Servan, and then concludes with a conclusion.Konsep Mesias merupakan konsep yang kompleks dan seringkali problematik untuk dipahami baik di kalangan Kristen maupun oleh orang-orang Yahudi. Orang-orang Kristen seringkali menerima konsep tersebut secara terlalu simplistik sampai-sampai kehilangan pandangan atas kontinuitas dari konsep tersebut dengan nubuat-nubuat Mesianis di dalam Perjanjian Lama. Berbeda dengan orang-orang Kristen, orang-orang Yahudi menolak konsep tersebut utamanya sebab konsep Mesianis mereka sangat berkaitan dengan kemuliaan dan kuasa namun mereka tidak memahami bahwa Mesias harus mati bahkan sampai disalib untuk menebus dosa umat-Nya. Menggunakan pendekatan teologi biblika, artikel ini berargumen bahwa konsep Mesias di dalam Alkitab harus dipahami secara utuh dalam kaitannya dengan kemuliaan dan penderitaan Sang Mesias dalam menanggung dosa. untuk memahami penderitaan dan kemuliaan dalam sebutan konsep Anak Manusia dan konsep Hamba Yang Menderita. Di dalam diri Yesus Kristus, kemuliaan dan kekuasaan sang Anak Manusia dan peran sang Hamba Yang Menderita digenapi secara bersamaan melalui perendahan diri-Nya di kayu salib dan peninggian-Nya melalui kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Untuk tujuan tersebut artikel ini pertama-tama membahas mengenai pengharapan Mesianik di dalam Perjanjian Lama; kedua, Mesias dan Anak Manusia; ketiga, Anak Manusia dan Hamba Yang Menderita; dan kemudian ditutup dengan sebuah kesimpulan
PENTINGNYA KONTEKSTUALISASI PADA PENDIDIKAN KRISTEN
Penelitian ini meneliti tentang pendidikan Kristen. Secara khusus mencoba meneliti pentingnya pendidikan kristen didesain secara kontekstual. Supaya lebih efektif bagi tercapainya tujuan pendidikan Kristen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan spesifik kepada kajian pustaka. Melalui pendekatan tersebut, peneliti memperoleh beberapa kesimpulan. Pertama, pendidikan kristen harus didesain secara kontekstual guna memudahkan peserta didik memahami dan mengerti setiap konten yang diajarkan di dalamnya. Kedua, Yesus adalah sang guru yang Agung yang juga mengajar secara kontekstual. Ketiga, pendidikan kristen yang kontekstual dipahami dalam beberapa prinsip penting, yakni: (1) pendidikan Kristen harus diterapkan sesuai dengan gaya dan strategi mengajar mengajar Yesus, (2) pendidikan Kristen harus disesuaikan dengan situasi era industri 4.0, (3) pendidikan Kristen harus dapat diterima oleh setiap lapisan usia, (4) pendidikan Kristen tidak boleh kaku namun harus dinamis, implementatif, dan aplikatif, dan (5) pendidikan Kristen harus memberikan transformasi atau perubahan yang radikal.This study examines Christian education. In particular, trying to examine the importance of Christian education is designed in a contextual manner. In order to be more effective in achieving the goals of Christian education. This research uses qualitative methods specifically for literature review. Through this approach, the researcher obtained several conclusions. First, Christian education must be designed in a contextual manner to make it easier for students to understand and understand any content taught in it. Second, Jesus is the great teacher who also taught contextually. Third, contextual Christian education is understood in several important principles, namely: (1) Christian education must be applied in accordance with the teaching style and strategy of teaching Jesus, (2) Christian education must be adapted to the situation of the industrial era 4.0, (3) Christian education must be able to accepted by every age layer, (4) Christian education must not be rigid but must be dynamic, implementative, and applicable, and (5) Christian education must provide radical transformation or change
PEMBERITAAN KABAR BAIK MELALUI RADIO KHARISMA BANDUNG
The call to preach the good news is an urgent matter so that mankind's biggest problem, namely sin, can be resolved. The Bible begins by describing the tragic human condition, a situation only the Bible can answer. Through the gospel, human sins can be resolved and humans can return to peace with God. The preaching of the gospel must be done because it is God's desire that all sinful humans can be saved from eternal punishment. STT Kharisma to meet these goals in collaboration with radio kharisma. And committed to preaching the good news every week to Kharisma 828 AM radio listeners. The method used in delivering this good news is by means of lectures, and interactive discussions both with charisma radio listeners and with other sources. Of course the target is so that charismatic radio listeners can grow spiritually. The procedure for preaching the good news is planned in such a way as to be structured and systematic so that it is easy to understand and understand. And finally the message recipients (charisma radio listeners) can get to know the Lord Jesus and grow spiritually.Panggilan pemberitaan kabar baik merupakan hal yang mendesak supaya masalah terbesar manusia yaitu dosa dapat teratasi. Alkitab mulai dengan menjelaskan keadaan manusia yang tragis, suatu keadaan yang hanya dapat terjawab oleh Injil. Melalui Injil dosa manusia dapat terselesaikan dan manusia dapat kembali berdamai dengan Allah. Pemberitaan Injil harus dilakukan karena merupakan keinginan Allah agar semua manusia berdosa dapat diselamatkan dari hukuman kekal. STT Kharisma untuk memenuhi tujuan tersebut bekerja sama dengan radio kharisma. Dan berkomitmen untuk memberitakan kabar baik setiap minggunya kepada para pendengar radio Kharisma 828 AM. Metode yang digunakan dalam penyampaikan berita kabar baik ini dengan cara ceramah, dan diskusi interaktif baik dengan pendengar radio kharisma maupun dengan nara sumber lain. Tentu sasarannya adalah agar para pendengar radio kharisma dapat bertumbuh secara rohani. Tata laksana pemberitaan kabar baik direncanakan sedemikian rupa supaya terstruktur dan sistematis sehingga mudah dimengerti dan dipahami. Dan akhirnya para penerima pesan (pendengar radio kharisma) dapat mengenal Tuhan Yesus dan bertumbuh secara rohani
PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN PAAIKES UNTUK MENINGKATKAN ANTUSIASME ANAK SEKOLAH MINGGU DALAM BERIBADAH ONLINE DI GBI PAPUA RESTORATION FOR CHRIST
During the Covid-19 pandemic, Sunday School Teachers are required to be able to carry out Sunday school worship properly with the essence and the right way. This is so that children do not experience boredom and can understand the material presented correctly and experience growth in faith according to their age. Therefore, the team carried out Community Service at GBI Papua Restoration For Christ by applying the PAAIKES teaching method to Sunday school children. The implementation method is carried out by teaching and mentoring. The results of PkM stated that the response was enthusiastic and enthusiastic from Sunday School children when worshiping and listening to God's word. Enthusiastic Sunday School children can be owned by the church if they apply the right teaching methods and give full attention such as providing the right mentoring and direction.Pada masa pandemi Covid-19, Guru Sekolah Minggu dituntut untuk mampu menjalankan ibadah sekolah minggu sebagaimana mestinya dengan esensi dan cara yang tepat. Hal ini supaya anak-anak tidak mengalami kebosanan dan dapat memahami materi yang disampaikan dengan benar dan mengalami pertumbuhan iman sesuai dengan usianya. Karena itu, tim melakukan Pengabdian kepada Masyarakat di GBI Papua Restoration For Christ dengan menerapkan metode mngajar PAAIKES kepada anak-anak sekolah minggu. Metode pelaksanaan dilakukan dengan pengajaran dan pendampingan. Hasil PkM menyatakan bahwa respons antusias dan semangat dari anak Sekolah Minggu ketika ibadah dan mendengarkan firman Tuhan. Anak Sekolah Minggu yang antusias dapat dimiliki oleh gereja jika menerapkan metode mengajar yang tepat dan memberikan perhatian penuh seperti melakukan pendampingan serta arahan yang tepat.
 
KOMSEL PEMURIDAN KREATIF PEMUDA GBI BUKIT SION
The outbreak of the pandemic has reduced many activities, including discipleship programs in the Christian community. Of course, GBI Bukit Sion also faces this problem. Discipleship of the younger generation in this church is no longer even running since the beginning of the pandemic. And even though it is run, there are characters from young people who get bored easily to attend events related to spirituality that must be considered. then after analyzing the needs of the church, the author's group carried out the implementation of online cell groups with sharing, mentoring, and games methods that were able to be a solution to the discipleship problem in the pandemic era.Merebaknya pandemi membuat banyak kegiatan-kegiatan dikurangi, termasuk program pemuridan di komunitas Kristen. Tentunya masalah ini juga dihadapai GBI Bukit Sion. Pemuridan generasi muda di gereja ini bahkan tidak lagi berjalan sejak awal mula pandemi. Meskipun dijalankan, terdapat karakter dari pemuda yang mudah bosan untuk mengikuti acara yang berkaitan dengan spiritualitas yang harus diperhatikan. maka setelah melakukan analisis kebutuhan gereja kelompok penulis mengusung implementasi kelompok sel daring dengan metode sharing, mentoring, dan games yang mampu menjadi solusi untuk masalah pemuridan era pandemi
MISI GEREJA:: MENJANGKAU YANG TIDAK TERJANGKAU DI ERA DAN PASCA PANDEMI COVID-19
The spread of the Corona virus has an impact on the implementation of the church's mission. The church, which has been carrying out various religious activities physically, is forced to use various digital media so that Christians can still get services. Even so, the virtual church services have not yet reached out to community groups such as Generation Z and those who do not have the capacity to access them. The purpose of this research is to find solutions that churches can do to reach communities that have not been reached by digital church services. Based on the study using the descriptive-analysis method, the authors conclude that church stewardship in social media should not only focus on the aspect of worship but also on discipleship which will mature the faith of believers and in the end, both young and old church members can be involved to help the church develop the ministry during the period of physical distancing even after this period.Penyebaran virus Corona berdampak pada pelaksanaan misi gereja. Gereja yang selama ini melakukan berbagai aktivitas keagamaan secara fisik terpaksa harus menggunakan berbagai media digital agar orang Kristen tetap dapat mendapatkan pelayanan. Meskipun begitu, pelayanan-pelayanan gereja yang bersifat virtual tersebut belumlah maksimal menjangkau kelompok-kelompok masyarakat seperti Generasi Z dan mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk mengaksesnya. Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan solusi yang dapat gereja lakukan untuk menjangkau komunitas yang belum terjangkau oleh pelayanan gereja secara digital. Berdasarkan kajian dengan menggunakan metode deskriptif-analisis, penulis berkesimpulan bahwa penatalayanan gereja di sosial media janganlah hanya berfokus pada aspek ibadah tetapi juga pada pemuridan yang akan mendewasakan iman orang percaya dan pada akhirnya anggota jemaat baik yang tua maupun muda dapat dilibatkan untuk membantu gereja dalam mengembangkan pelayanan di masa pemberlakuan jarak fisik bahkan setelahnya
IMPLEMENTASI POLA PELAYANAN YESUS SEBAGAI PELAYAN MENURUT INJIL MATIUS 4:23
In this article, the writer narrates the story of Jesus implementing a mission in Galilee, namely teaching true teaching, preaching the Good News of God's Kingdom, healing the sick, and serving people with physical weaknesses. The mission of Jesus in all regions located in Galilee aims so that long lost mankind can hear the true teachings being taught and the Good News being proclaimed, so that those who believe in and accept Jesus can be healed of every disease and physical weakness they have suffered for a long time. To find out the mission of Jesus according to the text of Matthew 4:23, the method used in this study is a qualitative research method, with an exegetical study approach. The analysis process carried out by the author is exegesis of the biblical text and analyzing reliable secondary sources to produce accountable studies. The results of this study found that the servants of Jesus Christ must teach the correct teaching, preach the Good News of the Kingdom of God / Heaven, heal the sick, and serve people who suffer from physical weaknesses in His will. So through exegetical studies to get the author's intent from the original language text, so that the text can be understood by today's readers so that it can be implemented by the servants of Jesus Christ continuously at all places of service, whether in church, school, or in the community.Di dalam artikel ini, penulis menarasikan tentang Yesus mengimplementasikan misi di Galilea yakni mengajar pengajaran yang benar, mengkhotbahkan Kabar Baik Kerajaan Allah, menyembuhkan orang-orang sakit, dan melayani orang-orang yang mengalami kelemahan fisik. Misi Yesus di seluruh daerah yang terletak di Galilea bertujuan agar umat manusia yang telah lama terhilang dapat mendengarkan pengajaran benar yang diajarkan dan Kabar Baik yang diproklamirkan, sehingga bagi mereka yang percaya dan menerima Yesus dapat disembuhkan setiap penyakit dan kelemahan fisik yang telah lama mereka derita. Untuk mengetahui misi Yesus menurut teks Matius 4:23, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan kajian eksegesis. Proses analisis yang dilakukan penulis adalah mengeksegesis teks Alkitab dan menganalisis sumber-sumber sekunder yang terpercaya untuk menghasilkan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan. Hasil dari kajian ini menemukan bahwa para pelayan Yesus Kristus harus mengajarkan pengajaran yang benar, memberitakan Kabar Baik Kerajaan Allah/Surga, menyembuhkan orang-orang sakit, dan melayani orang-orang yang menderita kelemahan fisik dalam kehendak-Nya. Jadi melalui kajian eksegesis untuk memperoleh maksud penulis dari teks bahasa aslinya, sehingga teks tersebut dapat dimengerti pembaca masa kini supaya dapat diimplementasikan oleh para pelayan Yesus Kristus secara terus-menerus pada semua tempat pelayanan, baik di gereja, sekolah, maupun di lingkungan masyarakat
KAJIAN BIBLIKA 2 KORINTUS 6:4-10: MAKNA PENDERITAAN BAGI HAMBA TUHAN DALAM PELAYANAN
Seorang pelayan Tuhan yang ideal harus siap memikul salib dan menyangkal segala sesuatu, sama seperti Paulus yang begitu banyak menanggung banyak penderitaan dalam pelayanannya. Namun Saat ini banyak para pelayan takut mengalami penderitaan yang menjadi masalahnya adalah tidak mau menderita, takut, khawatir, itulah yang menyebabkan pelayan Kristus atau hamba Tuhan tidak melakukan pemberitaan injil. Maka dengan itu, penulis termotivasi meneliti 2 Korintus 6:4-10, yang menguraikan penderitaan Paulus untuk menjawab persoalan pelayan Tuhan yang sedang terjadi di lapangan. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode deskriptif-Bibliologis. Untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan masalah hamba Tuhan yang takut mengalami penderitaan dalam pelayanannya. Penulis juga menggunakan studi pustaka untuk mendapatkan informasi-informasi mengenai pekabaran Injil yang dilakukan oleh rasul Paulus, namun peneliti terlebih dahulu mengkaji 2 Korintus 6:4-10. Hasil tafsir 2 Korintus 6:4-10 adalah: seorang pelayan yang mampu menunjukkan dirinya sebagai pelayan yang siap menderita, sebagai pelayan yang baik harus memiliki ketekunan dalam menghadapi penderitaan, sebagai pelayan yang mampu bertahan dan tetap melayani di tengah penderitaan yang terjadi dalam hidupnya.An ideal minister of God should be prepared to take up the cross and deny everything, just as Paul suffered so much in his ministry. However, nowadays many servants are afraid to experience suffering, the problem is they do not want to suffer, are afraid, worry, that is what causes Christ's servants or God's servants not to preach the gospel. So with that, the author is motivated to examine 2 Corinthians 6: 4-10, which describes Paul's suffering to answer the problem of God's servant that is happening in the field. In this study, the authors used a qualitative and descriptive-Bibliological approach. To get data related to the problem of servants of God who are afraid to experience suffering in their ministry. The author also uses literature study to obtain information about the evangelism carried out by the apostle Paul, but the researcher first examines 2 Corinthians 6: 4-10. The results of the interpretation of 2 Corinthians 6: 4-10 are: a servant who is able to show himself as a servant who is ready to suffer, as a good servant must have perseverance in facing suffering, as a servant who is able to endure and continue to serve in the midst of the suffering that occurs in his life
PENDAMPINGAN DAN PELATIHAN TIM MUSIK SONG LEADER GEREJA DI KECAMATAN MEDAN AMPLAS: Indonesia
In one Worship in the Church, determining the Leader of Praise is a position in itself that gets serious attention for the Shepherds. Because if you make the wrong choice, worship will lose the opportunity to prepare the congregation to enjoy the Word of the Lord. On the other hand, the Church Music Team that accompanies the resounding songs of praise is also a part that gives color and flavor to a worship. Denominationally it can be said that the music’s team of the Charismatic, Pentacostal-pantecostal, and Pentecostal church denominations of Bethel has its place for the congregation in each worship. The Community Service Team took the opportunity to provide theoretical and practical training to the Song Leader and the Music’s Team to several Churches in Medan. Methods are selected by combining onsite activities for practice and online for the delivery of theories. The results were satisfactory from the participants. This activity is important because it is given to 37 participants from four church denominations who claim to feel the need for similar training.Dalam satu Ibadah di Gereja, menentukan Pemimpin Pujian merupakan satu posisi tersendiri yang mendapat perhatian serius bagi kalangan Gembala. Sebab jika salah menentukan pilihan maka ibadah akan kehilangan kesempatan untuk mempersiapkan jemaat dalam menikmati Firman TUHAN. Di sisi lain Tim Musik Gereja yang mengiringi berkumandangnya lagu-lagu pujian juga merupakan bagian yang memberi warna dan rasa dalam satu ibadah. Secara denominasi dapat dikatakan bahwa tim musik denominasi gereja Kharismatik, Pentakosta-Pantekosta dan aliran Bethel mempunyai tempat tersendiri bagi jemaat di tiap ibadah. Tim Pengabdian Masyarakat mengambil kesempatan untuk memberi pelatihan secara teoritis dan praktek terhadap Pemimpin Pujian (Song Leader) dan Tim Musik terhadap beberapa Gereja di Medan. Metode dipilih dengan menggabungkan kegiatan onsite untuk praktek dan daring untuk penyampaian teori-teori. Hasil giat dirasa memuaskan dari peserta. Adapun kegiatan ini menjadi penting karena diberikan kepada 37 peserta dari empat denominasi gereja yang mengaku merasakan perlunya pelatihan serupa