Jurnal Ilmiah Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Jakarta
Not a member yet
220 research outputs found
Sort by
SATU INJIL BAGI SEGALA BUDAYA
This article explains the need the development of Reformed theology so that it can attract the attention of different cultured people with Guilt Culture. It turns out the gospel applies to all cultures, but theology of Reformed raises Luther's question that is looking for an answer about the basis of salvation. Even though it strongly agreed that the Bible was teaching that it was dismissed by justification through faith, but the recognition of 'Sola Fide' did not contain the overall gospel. Therefore, the meaning and impact of the gospel should be presented to a shame culture and a fear culture (Fear Culture) in more suitable to the questions and struggle that contexts. if characteristic every culture is more regularly understood, it can also read the Bible and the teachings of the gospel with 'lens' which are more in line with those cultural needs. With this the good news of the Gospel will get stronger to convince the listeners of the gospel.Artikel ini menjelaskan perlunya mengembangkan teologi reformed supaya dapat menarik perhatian orang yang berbudaya berbeda dengan budaya bersalah (guilt culture). Ternyata Injil berlaku untuk segala budaya, akan tetapi teologi reformed menimbulkan pertanyaan Luther yang mencari jawab tentang dasar keselamatan. Sekalipun sangat setuju bahwa Alkitab mengajar bahwa diselamatkan oleh pembenaran melalui iman, namun pengakuan ‘Sola Fide’ itu tidak mengandung keseluruhan Injil. Sebab itu arti dan dampak Injil seharusnya dipresentasikan ke budaya malu (shame culture) dan budaya takut (fear culture) secara yang lebih sesuai kepada pertanyaan dan kekhawatiran yang berlaku di dalam budaya itu. Kalau ciri khas setiap budaya dipahami dengan lebih teratur, maka juga dapat membaca Alkitab dan ajaran Injil dengan ‘kacamata’ atau ‘lensa’ yang lebih sesuai dengan kebutuhan budaya itu. Dengan cara ini berita keselamatan Injil Kristus akan bertambah kuat untuk meyakinkan para pendengar pekabaran Injil itu
METODE PENGENALAN ALLAH MELALUI ALAM SEKITAR KEPADA ANAK-ANAK DI DUSUN SAKATETANG-PUTUSSIBAU
Metode pengenalan Allah melalui alam sekitar kepada anak-anak merupakan sebuah kegiatan penting dalam menumbuhkan kembali iman serta kepercayaan anak kepada Allah. Secara umum, kehidupan iman masyarakat Dusun Sakatetang baik yang Agama Katholik maupun yang beragama Kristen Protestan sangat miris dimana hampir saja melupakan Tuhan dan percaya penuh kepada tradisi yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Ritual-ritual dan penyembahan kepada berhala masih saja dipegang erat. Agama hanyalah simbol kepercayaan tetapi dalam kehidupan sehari-hari mereka masih berpegang penuh pada tradisi. Dengan demikian metode pengenalan Allah melalui alam sekitar kepada anak-anak di Dusun Sakatetang bertujuan antara lain: untuk menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak kepada Tuhan dan segala ciptaan-Nya, untuk menyadarkan bahwa penyembahan kepada berhala dan melakukan ritual-ritual adalah kekejian bagi Tuhan, serta menyadarkan bahwa sumber dari segala sesuatu yang ada di dunia berasal dari Tuhan. Salah satu penyebab mengapa daerah tersebut tidak mengenal dan percaya kepada Tuhan adalah karena maraknya pemahaman-pemahaman asing tentang Tuhan dan tradisi. Mereka percaya bahwa dengan melaksakan ritual-ritual akan memperoleh keselamatan. Akibatnya mereka diperbudak oleh tradisi dan ritual yang dianggap menjanjikan perlindungan dan rezeki. Dengan metode pengenalan Allah melalui alam sekitar tersebut dapat menyadarkan, membangkitkan dan mengembalikan iman anak-anak ke jalan yang benar yaitu hanya percaya kepada Tuhan Sumber kehidupan.The method of knowing God through the natural surroundings to children is an important activity in regrowing children's faith and trust in God. In general, the faith life of the people of Sakatetang Hamlet, both Catholics and Protestants, is very sad because they almost forget God and fully believe in the traditions passed down by their ancestors. The rituals and worship of idols were still held tight. Religion is only a symbol of belief but in everyday life it still fully adheres to tradition. Thus the method of knowing God through the natural surroundings to children in Sakatetang Hamlet aims, among other things: to regenerate children's love for God and all of His creation, to make them aware that worshiping idols and performing rituals is an abomination to God, and realize that the source of everything in the world comes from God. One of the reasons why the region does not know and believe in God is due to the rise of foreign understandings about God and traditions. They believe that performing the rituals will gain salvation. As a result, they are enslaved by traditions and rituals that are considered to promise protection and good fortune. With this method of knowing Allah, it can awaken, awaken and return children's faith to the right path, namely only believing in God, the Source of life
BELASKASIHAN MEMBEBASKAN DARI PENGHAKIMAN MENURUT YAKOBUS 2:13 DAN IMPLIKASINYA BAGI KEHIDUPAN ORANG PERCAYA MASA KINI
Banyak orang percaya yang beranggapan bahwa belas kasihan hanyalah bagi mereka yang membutuhkan atau semua orang percaya. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk memberi penjelasan tentang belas kasihan yang dibutuhkan oleh setiap orang percaya yang membebaskan seseorang dari penghakiman menurut Yakobus 2:13. Metode yang digunakan yaitu pendekatan analisis teks yaitu fokus pada teks itu sendiri dan dikomparasikan dengan teks kitab lainnya. Hasil penelitian menyatakan bahwa berdasarkan Yakobus 2:13, belas kasihan adalah kunci untuk menang atas penghakiman dari Allah, menyalurkan belas kasihan adalah sesuatu yang terus menerus dikerjakan tanpa henti. Sebagai orang yang telah menerima pengampunan dan belas kasihan Tuhan seharusnya dapat mengampuni sesama tanpa batas. Karena ini bukanlah hukum beban melainkan hukum kasih yang harus dihormati dan dilaksanakan oleh setiap orang percaya sebab bukti dari belas kasihan adalah melakukan hukum Allah, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri, karena pada waktu penghakiman orang itu akan dikasihi oleh Allah dan bebas dari penghakiman.Many believers think that mercy is only for those in need or all believers. For this reason, this study aims to provide an explanation of the mercy needed by every believer to free someone from judgment according to James 2:13. The method used is a text analysis approach, which focuses on the text itself and is compared with other book texts. The results of the study stated that based on James 2:13, mercy is the key to victory over judgment from God, channeling mercy is something that is continuously done without stopping. As a person who has received God's forgiveness and mercy, he should be able to forgive others without limits. Because this is not the law of burden but the law of love that every believer must respect and implement because the proof of mercy is to do God's law, which is to love God and love your neighbor as yourself, because at the time of judgment that person will be loved by God and free from judgment
MEMBACA KONSEP KASIH DALAM INJIL YOHANES MENGGUNAKAN LENSA HERMENEUTIK MISIONAL
This research attempt to show values from the concept of love in John's theology, especially in the Gospel, using a missional approach as a hermeneutic. This approach shows that the source of love is in the middle of the world because of God's mission to save humanity. Love is essential that unites the relationship between man and God. In addition, God can be known in the world because demonstrated by Christ in the cross. The church as a community of believers become a source of love because Her lives in the true love and fruitful. Love as one of the main teaching in the Gospel of John becomes a special theme in understanding God's mission from beginning to the end. Mainly in the modern context of religiousity and commitment in relationships between people around the church.Penelitian berusaha membukti nilai-nilai ajaran tentang kasih dalam teologi Yohanes khususnya dalam kitab Injil dengan menggunakan pendekatan misional sebagai sebuah hermeneutik. Dengan pendekatan ini menunjukkan bahwa sumber kasih ada di tengah dunia karena misi Allah dalam menyelematkan manusia. Kasih menjadi esensi yang menyatukan hubungan manusia dan Allah. Selain itu Allah bisa dikenal di dunia karena kasih yang didemonstrasikan oleh Kristus. Gereja sebagai komunitas orang percaya merupakan sumber-sumber kasih karena ia hidup didalam kasih sejati dan berbuah. Kasih sebagai salah satu pesan utama dalam Injil Yohanes menjadi sebuah tema yang spesial dalam memahami misi Allah dari awal sampai akhir. Utamanya dalam konteks keberagamaan dan komitmen dalam relasi antara sesama di sekitar gereja
RESISTENSI TERHADAP NASIONALISME JEPANG:: TANGGAPAN KRISTEN TERHADAP GERAKAN AMANDEMEN DI JEPANG
This article explores several responses of Japanese Evangelical Christians to Japanese nationalism, which tends to be fascist as appeared in the issue of constitutional revision. While commending their fights with this complicated issue, by using the critical contextualization approach from the discipline of intercultural theology, this article also shows their limitations in producing solutions to the deadlock between the camp fighting for the constitutional revision and those who resist the proposed amendments. The evangelical figure who uses Kuyperian principles such as the Christian worldview, common grace, and sphere sovereignty yields a response that is arguably more comprehensive and has prospects to be accepted by non-Christians, including the revisionist camp. To Japanese evangelicals who tend to withdraw from socio-political engagements, I argue for utilizing the ecclesiological suggestions of Abraham Kuyper. Particularly, his assertion to keep the church free from the state and Kuyper's distinction of the church's aspects between organism and institution, are beneficial to continue and develop participation in responding to the amendments and other inter-connected nationalism issues.Artikel ini membahas beberapa tanggapan orang-orang Kristen Injili di Jepang terhadap bahaya nasionalisme Jepang yang cenderung bersifat fasis dan terlihat dari gerakan amandemen. Sementara mengapresiasi mereka yang berjuang dalam meresponi masalah yang rumit ini, dengan menggunakan metode pendekatan kontekstualisasi kritis dari disiplin teologi interkultural, artikel ini juga menunjukkan keterbatasan mereka dalam menghasilkan solusi bagi kebuntuan yang terjadi antara kubu yang memperjuangkan revisi konstitusi dan kubu yang menolak amandemen yang diusulkan. Tokoh Injili yang menggunakan prinsip-prinsip Kuyperian seperti wawasan dunia Kristen, anugerah umum, dan kedaulatan ruang lingkup menghasilkan respons yang lebih komprehensif dan berpotensi diterima juga di kalangan orang bukan Kristen, termasuk kubu revisionis. Kepada kaum Injili Jepang yang cenderung menarik diri dari partisipasi dalam masalah sosial politik, penulis mendorong penggunaan saran-saran eklesiologis dari Abraham Kuyper. Khususnya, penekanannya terhadap penjagaan independensi gereja terhadap negara dan pembedaan Kuyper terhadap aspek gereja sebagai organisme dan institutusi, bermanfaat untuk melanjutkan dan mengembangkan partisipasi dalam meresponi masalah amandemen beserta isu-isu terkait nasionalisme yang lainnya
SIMBOL-SIMBOL DALAM DANIEL:: Suatu Upaya Penafsiran Sederhana
Salah satu kesulitan dalam memahami kitab Daniel adalah karena banyaknya pemakaian symbol. Tulisan ini mengusulkan salah satu upaya keluar dari kekang warisan kesulitan tesrsebut
ROH KUDUS DALAM TEOLOGI PERJANJIAN BARU 3:: ROH KUDUS, AGEN MISI ALLAH YANG KEDUA DALAM TULISAN YOHANES & SURAT-SURAT UMUM
Kekristenan memiliki teologi yang kaya. Hal ini dikarenakan secara restrospektif kitab Suci umat kristen ditulis, diterima oleh pribadi yang berbeda (individual dan komunal) dan dalam kondisi yang multi konteks. Namun demikian semua karya yang ada dapat disatukan dalam satu tema besar yaitu karya penyelamatan Allah bagi manusia dan dunia. Untuk melaksanakan visi ini adalah bermisi dengan mengunkan dua agen misi utma: Yesus Kristus dan Roh Kudus. Roh Kudus sebagai agen kedua diprestasikan secara kaya oleh penulis kitab, khususnya Perjanjian Baru. Kekayaan ini juga bisa dapat menghasilkan pemahaman yang berbeda bagi para penafsir. Hasil dari pemahaman yang berberda akhirnya mengasilakan ajaran dan bahkan sikap yang berbeda pula di dalam perilaku kehidupan ini. Esai ini merupakan lanjutan dari reset pertama dan kedua dalam memahami kiprah Roh Kudus dalam teologi Perjanjian Baru. Kali ini merupakan bagian terakhir yang akan fokus pada karya Yohanes dan surat-surat umum. Yohanes dalam karyanya mempersentasikan Roh Kudus sebagai Allah yang berperan sebagai konselor yang melanjutkan karya Yesus. Roh kudus mengudusan meneguhkan dan sang pemberi hidup. Dalam surat-surat umum Roh Kudus berperan sebagai agen transformasi yang merealisasikan karya keselamatan dalam Yesus dalam rangka pengudusan umat melalui hadirnya kitab Suci sebagai Firman Allah yang harus ditaati sehingga keselamatan dapat dinikmati secara penuh
KETELADANAN TANGGUNG JAWAB YESUS SEBAGAI GEMBALA MENJADI DASAR PELAYANAN HAMBA TUHAN MASA KINI
Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan akan pentingnya sebuah keteladanan dalam melayani Tuhan. Keteladanan adalah dasar dari seseorang yang terlibat dalam pelayanan. Baik di keluarga, gereja, sekolah, masyarakat dan negara. Yesus telah meninggalkan sebuah keteladanan ketaataan, kesetiaan, ketulusan, rela berkorban, peduli dan kebajikan lainnya. Ia menuntut umat-Nya khusus hamba-Nya mengikuti teladan-Nya dalam mengembalakan umat-Nya. Pekerjaan yang tidak mengenal batas dan waktu adalah menggembalakan domba. Selain waktu yang dikorbankan, juga tenaga dan dana. Keseriusan dan kesungguhan serta tanggungjawab sebagai gembala, tidak banyak orang yang bersedia atau rela melakukannya. Namun, meskipun demikian Tuhanlah yang memilih, menetapkan dan mengutus seorang gembala untuk memberi makan, merawat, melindungi dari bahaya, dan memelihara dombanya. Tulisan ini bertujuan: 1) memberi pemahaman dan penekanan bahwa seorang gembala perlu menjadi teladan dalam menggembalakan domba Tuhan. 2) Menggembalakan dengan tulus dan kasih. Seorang gembala harus mempertanggungjawabkan semua penyelesaian tugasnya kepada Tuhan Pemberi hidu
DINAMIKA PERTUMBUHAN GEREJA BAGI PELAYANAN HAMBA TUHAN GKSI SEKTOR KARAMA SULAWESI BARAT
ABSTRACT
The effort to manifest the growing church in the ministry of every servant of God is a calling as well as a demand for every servant of God in their ministry. However, not a few have failed in this case due to several factors. Some of these factors come from outside the church, but some come from within the church itself. To deal with this, good management is needed to handle it. The purpose of this study was to determine the dynamics of church growth for the ministry of the Servant of the Gereja Kristen Setia Indonesia in the Karama Sector, Kalumpang sub-district, Mamuju district, West Sulawesi. The approach used is observation with the interview method and providing outreach to the authorities then providing guidance to God's servants. As a result, there is a need for guidance for God's servants to uphold the dynamics of church growth both in quality and quantity towards the growth of congregational faith.
Key words: growth; Church; Coaching; Congregation
ABSTRAK
Upaya perwujudan gereja yang bertumbuh dalam pelayanan setiap hamba Tuhan merupakan panggilan sekaligus tuntutan bagi setiap hamba Tuhand alam pelayanan mereka. Namun tidak sedikit yang menemui kegagalan dalam hal ini karena disebabkan oleh beberapa faktor. Beberapa faktor itu ada yang datang dari luar gereja, namun ada juga yang bersasal dari dalam gereja itu sendiri. Untuk menghadapi hal ini maka perlu manajemen yang baik untuk menanganinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana dinamika pertumbuhan gereja bagi pelayanan hamba Tuhan Gereja Kristen Setia Indonesia di Sektor Karama, kecamatan Kalumpang kabupaten Mamuju Sulawesi Barat. Adapun pendekatan yang digunakan adalah observasi dengan metode wawancara dan memberikan sosialisasi kepada pihak yang berwewenang kemudian mengadakan pembinaan kepada para hamba Tuhan. Sebagai hasil bahwa sangat diperlukan pembinaan bagi para hamba Tuhan untuk menunjung dinamika pertumbuhan gereja baik secara kualitas maupun secara kuantitas menuju pertumbuhan iman jemaat.
Kata kunci: Pertumbuhan; Gereja; Pembinaan; Jemaa
PROGRAM SMK (SAYA MURID KRISTUS) SEBAGAI PENDEKATAN YANG MENGUATKAN PANGGILAN DALAM AMANAT AGUNG DI GBI BETHEL BANDUNG
Abstract
In the realization of the implementation of the Great Commission of Christ, the church, apart from preaching or evangelizing, the church also performs discipleship or is often referred to as teaching new souls and their congregations. A church that has experienced the benefits of the discipleship process will surely grow in the spiritual quality of its congregation. The effect of the benefits that can be seen is that someone who has followed the process of discipleship, that person will certainly grow his spiritual life towards spiritual maturity. Spiritual maturity is very important for believers so that their lives truly reflect the character of Christ. Christians who have reached the spiritual maturity stage will have a strong and solid faith amidst the onslaught of the influence of misleading teachings (false gospels) and amidst the challenges of the storms of life during the Covid-19 pandemic and have a heart's desire to serve God with love faithful so that many new souls are brought to Christ. Through this paper, the author will invite readers to find out what effective steps for discipleship will be during the Covid-19 pandemic? Abstrak
Dalam perwujudan pelaksanaan Amanat Agung Kristus gereja selain melakukan pewartaan atau penginjilan, gereja juga melakukan pemuridan atau sering disebut dengan pengajaran kepada jiwa-jiwa baru dan jemaatnya. Gereja yang sudah mengalami manfaat dari proses pemuridan pasti gereja tersebut bertumbuh secara kualitas kerohanian jemaatnya. Dampak manfaat yang dapat dilihat adalah bahwa seseorang yang telah mengikuti proses pemuridan, orang tersebut pasti bertumbuh kehidupan rohaninya menuju kepada kedewasaan rohani. Kedewasaan rohani sangat penting bagi orang percaya agar kehidupan mereka sungguh nyata mencerminkan karakter Kristus. Orang Kristen yang sudah mencapai tahap dewasa rohani akan memiliki iman yang kuat dan kokoh di tengah gencarnya serangan pengaruh pengajaran yang menyesatkan (injil palsu) dan di tengah berbagai tantangan badai kehidupan di masa pandemi Covid-19 ini dan memiliki kerinduan hati untuk melayani Tuhan dengan kasih setia sehingga banyak jiwa-jiwa baru yang dibawa kepada Kristus. Lewat tulisan ini penulis akan mengajak pembaca untuk mengetahui langkah efektif pemuridan yang seperti apa di masa pandemi Covid-19 ini?