Jurnal Ilmiah Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Jakarta
Not a member yet
220 research outputs found
Sort by
STRATEGI MANAJEMEN KONFLIK YANG DITERAPKAN PAULUS DI JEMAAT KORINTUS BERDASARKAN TEKS 1 KORINTUS 3:1-17
This research focuses on finding Paul's conflict management strategies to resolve conflicts in the Corinthian Church. For this reason, this study analyzes the text of 1 Corinthians 3:1-17. Moreover, by using the exegesis study of the passage above, the researcher found several conflict management strategies that were applied by Paul there. Such as accommodative strategies (Paul gives advice and warnings), avoiding (Paul explains the substance of a servant), collaboration (the Church puts aside the ego and explanations that Paul and Apollos are just servants), and compromise (prioritizes common interests and sees the Church as a building of God that must unite).Abstrak: Penelitian ini tentang fokus untuk mencari tahu atau menemukan strategi manajemen konflik yang diterapkan oleh Paulus untuk menyelesaikan konflik di jemaat Korintus. Untuk itu, dalam penelitian ini menganalisis teks 1 Korintus 3:1-17. Dan dengan menggunakan kajian eksegesis terhadap perikop di atas, maka peneliti menemukan beberapa strategi manajemen konflik yang diterapkan oleh Paulus di sana. Seperti: strategi akomodatif (Paulus memberikan nasihat dan peringatan), avoiding (Paulus menjelaskan substansi seorang pelayan), kolaborasi (gereja mengesampingkan ego dan penjelasan Paulus dan Apolos hanyalah hamba) dan kompromi (lebih mengutamakan kepentingan bersama dan melihat Gereja sebagai bangunan Allah yang harus bersatu).
SINERGI DI TENGAH PERGUMULAN INSTITUSI BERDASARKAN ANALISIS STRUKTUR SASTRA MAZMUR 20
Any institution in the world certainly experiences challenges, including service institutions. When this happens, the synergy between leaders and followers is needed to find a way out. Nevertheless, often synergy does not occur because followers are passive in participating in the crisis that hit. Follower support has a positive impact on leaders. Psalm 20 can provide a biblical basis for synergy between leaders and followers during institutional struggles. The approach used is the hermeneutics of poetry, especially the analysis of its structure and themes. The structure and coherence of the theme can help find the concept of synergism in Psalm 20. The results show that Psalm 20 contains a chiasm structure. With an assessment of the group of persons, repetition of keywords, and types of parallelism, the chiasmus is composed as follows: A (v. 2), B (vv. 3-6), C (v. 7), B' (v. 8 - 9), A' (v. 10). Part C is action while part AA' is inclusion, and both of these parts contain the word 'answer' as a guide to the theme. Part B parallels part B' and supports the theme. The theme of Psalm 20 is waiting for an answer, namely protecting the king's life and victory. The findings show the synergy between leaders and followers. First, evidenced by cooperative behaviour in the action and inclusive sections; second, evidenced by the supportive followers in verses 3-6; and third, by the inspirational leader in verses 7-9.Institusi apapun di dunia tentu mengalami tantangan, termasuk institusi pelayanan sekalipun. Ketika hal ini terjadi, sinergi antara pemimpin dan pengikut diperlukan dalam menemukan jalan keluar. Namun seringkali sinergi tidak terjadi karena pengikut pasif untuk berperan serta dalam krisis yang melanda. Padahal, dukungan pengikut memiliki dampak positif bagi pemimpin. Mazmur 20 dapat memberi dasar biblika mengenai konsep sinergi antara pemimpin dan pengikut di tengah pergumulan insitusional. Pendekatan yang dipakai adalah hermeneutika kitab puisi, terutama analisi struktur dan temanya. Struktur dan koherensi tema dapat membantu menemukan konsep sinergisme di dalam Mazmur 20. Hasilnya menunjukkan, Mazmur 20 mengandung struktur kiasmus. Dengan pengamatan terhadap kelompok persona, repetisi kata kunci, dan jenis paralelisme, maka struktur kiasmus tersusun dengan komposisi: A (ay. 2), B (ay. 3-6), C (ay. 7), B’ (ay. 8-9), A’ (ay. 10). Bagian C merupakan aksis sedangkan bagian AA’ merupakan inklusio, dan kedua bagian ini memuat kata ‘jawaban’ sebagai petunjuk tema. Bagian B sejajar dengan bagian B’ dan bersifat sebagai pendukung tema. Tema Mazmur 20 adalah penantian jawaban, yakni perlindungan terhadap nyawa raja dan kemenangan. Dalam temuan tersebut terlihat sinergi pemimpin dan pengikut. Pertama, dibuktikan dengan perilaku yang kooperatif dalam bagian aksis dan inklusio; kedua, dibuktikan dengan pengikut yang suportif di ayat 3-6; ketiga, dibuktikan dengan pemimpin yang inspiratif di ayat 7-9
PENTINGNYA MEMBACA ALKITAB BERDASARKAN 2 TIMOTIUS 3:16 TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER DAN PERTUMBUHAN IMAN PESERTA DIDIK DI SMP HARVARD SCHOOL: Indonesia
Jenis Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang memiliki tujuan agar menemukan pemahaman tentang pentingnya membaca Alkitab terhadap pembentukan karakter dan pertumbuhan iman Peserta didik. Alkitab adalah Firman Tuhan yang tak pernah salah dan berkuasa yang diilhamkan Allah langsung kepada penulisnya. Pembentukan karakter sangat diperlukan bagi peserta didik agar meneladani Kristus. Orang percaya yang memiliki persekutuan Pribadi dengan Allah mengenal Allah melalui membaca dan merenungkan Firman Tuhan serta melakukannya di dalam kehidupan sehari-hari. Memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan serta mengenal Tuhan dapat membuat iman semakin bertumbuh. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menyebarkan angket untuk menghimpun data. Hasilnya penelitian menunjukkan adanya pengaruh pemahaman tentang pentingnya membaca Alkitab terhadap pembentukan karakter dan pertumbuhan iman peserta didik diterima. Karena itu, diperlukan adanya sinergi antara guru PAK, gereja, dan orang tua untuk pembentukan karakter dan pertumbuhan iman siswa.This type of research is a quantitative research that aims to find an understanding of the importance of reading the Bible on the character building and faith growth of students. The Bible is the infallible and powerful Word of God which was inspired by God directly to the author. Character formation is very necessary for students so that students have characters like the character of Christ as believers and personal fellowship with God and have a good introduction to God through reading and meditating on God's Word and doing it in daily life and by having intimate relationships. with God and having a good knowledge of God can make faith grow even more. The data collection technique used in this study was to distribute questionnaires to collect data. The results of the study indicate that there is an influence on understanding the importance of reading the Bible on the character formation and faith growth of students. Therefore, in this case, it is also necessary to have a synergy between PAK teachers, the church, and parents for the formation of character and the growth of students' faith
STRATEGI PENDEKATAN PASTORAL TERHADAP PERKAWINAN KEDUA
The main problems of writing this article are; first, some couples want to marry for the second time but do not show legal evidence of divorce from the first marriage. Second, they are not preparing for a second marriage through premarital counseling. Third, they are dishonest and open to the failure of the first marriage, so they choose to marry secretly, and certain pastors or churches can accept this. The author would like to explain the pastoral strategy a church pastor carried out in preparing for a second marriage so that it can be accepted in terms of Christian faith, law and culture. The research method used is qualitative research. So it can be concluded that there needs to be a strategy carried out by a pastor in carrying out pastoral care for second marriages so that marriages that will run for a lifetime or are expected to avoid divorce again are guided by a pastoral approach to second marriages. This is necessary to reflect to the world that the church or His people are salt and light so that the name of Jesus Christ is glorified.Masalah utama dari penulisan artikel ini yaitu pertama, ada pasangan yang mau menikah untuk kedua kalinya namun tidak menunjukkan bukti secara legal mengenai perceraian perkawinan yang pertama; kedua, tidak mempersiapkan perkawinan kedua melalui konseling pranikah; ketiga, tidak jujur dan terbuka terhadap gagalnya perkawinan ke satu sehingga memilih untuk secara diam-diam menikah dan ini dapat diterima oleh pendeta atau gereja tertentu. Penulis ingin menjelaskan tentang strategi pastoral yang dilakukan oleh seorang gembala jemaat dalam mempersiapkan perkawinan kedua sehingga dapat diterima dari segi iman Kristen, hukum dan budaya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Jadi dapat disimpulkan bahwa perlu ada strategi yang dilakukan oleh seorang gembala jemaat dalam melakukan pastoral terhadap perkawinan kedua agar pernikahan yang akan dijalankan sampai seumur hidup atau diharapkan tidak terjadi perceraian lagi dengan berpedoman pada pendekatan pastoral terhadap perkawinan kedua. Hal ini perlu sebagai cerminan bagi dunia bahwa gereja atau umat-Nya menjadi garam dan terang sehingga nama Yesus Kristus dimuliakan
PENCIPTAAN MANUSIA SEBAGAI REPRESENTATIF ALLAH UNTUK MEWUJUDKAN MANDAT BUDAYA MENURUT KEJADIAN 1:26-28
The understanding of human origins according to philosophical anthropology greatly elevates humans to become equal or even higher than God. On the other hand, there is also a view that tends to reduce the position of humans to be equal like the concept of Homo Sapiens, or lower with other creations which is certainly contrary to the text of the Bible. And ironically, today there are some Christians who are confused about the purpose of God's creation in His Image and Likeness. This study uses a qualitative method with literature study as a data collection technique that is correlated with observation and theological interpretation. Therefore, it is emphasized that humans are creatures created by God in His Image and likeness as men and women who are commensurate with representing themselves as micro theos and microcosms because they are endowed with a unique potential to realize the imperative cultural mandate, namely “to multiply, to multiply. and fill the earth and rule over it according to God's purpose according to Genesis 1:26-28.”Abstrak
Pemahaman mengenai asal-usul manusia menurut antropologi filsafat sangat meninggikan manusia hingga menjadi sejajar atau bahkan lebih tinggi dari Allah. Dan, ada juga pandangan yang cenderung menurunkan posisi manusia menjadi sejajar atau lebih rendah dengan ciptaan lainnya seperti konsep Homo sapiens yang tentunya bertentangan dengan teks Kitab Suci. Ironisnya, saat ini ada sebagian orang Kristen yang kebingungan tentang maksud penciptaan Allah menurut Gambar dan Rupa-Nya. Penelilitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kepustakaan sebagai teknik pengumpulan data. Maka ditegaskan bahwa manusia adalah mahkluk yang diciptakan Allah menurut Gambar dan Rupa-Nya untuk merepresentasikan dirinya sebagai mikrotheos dan mikrokosmos karena dianugerahi potensi yang unik untuk mewujudkan mandat budaya yang bersifat imperatif yakni “beranakcucu, bertambah banyak dan penuhi bumi serta menguasainya sesuai dengan maksud Allah menurut Kejadian 1:26-28”. Dan, mandat ini harus diwujudkan melalui keterlibatan laki-laki dan perempuan sebagai ciptaan yang sepadan dalam koteks memuliakan Allah
PERSAMAAN STATUS LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM PANDANGAN ALLAH MENURUT 1 KORINTUS 11:7-11: Indonesia
In ancient near eastern times, the phenomenon of status differences or degrees between men and women was considered normal. Even at the time of Jesus, this phenomenon was still powerful. In the religious community, this difference can still be seen by referring to one of the texts of 1 Corinthians 11:7-12. In the text, it can be seen that there is an emphasis on the different positions of men and women who are considered wildly different when they enter into a fellowship. However, theologically all humans are equal before God. Can it be said that it is just and right if this phenomenon continues to be maintained without a more robust and biblical reason? For a reason, analysis verses 7-12, the meaning of the text and context does not emphasize the differences in the degrees of men and women. Instead, it emphasizes the equality of status in the sight of God. Even if women had to cover their heads when entering the worship room at the time, that only referred to the customs or culture of that era which emphasized the element of politeness in the community so that women would not become a stumbling block in the fellowship.Pada zaman timur dekat kuno, fenomena perbedaan status atau derajat antara laki-laki dan perempuan sudah dianggap biasa. Pada zaman Yesus pun fenomena ini masih sangat kental. Sampai pada masa kini di lingkungan persekutuan gerejawi masih terlihat adanya perbedaan ini dengan berpedoman pada salah satu teks 1 Korintus 11:7-12. Di dalam teks terlihat adanya penekanan perbedaan posisi laki-laki dan perempuan yang dianggap sangat berbeda ketika masuk dalam persekutuan. Padahal secara teologis semua manusia itu sama di hadapan Allah. Apakah dapat dikatakan adil dan benar apabila fenomena ini terus dipertahankan tanpa adanya alasan yang lebih kuat dan alkitabiah? Untuk itu, melalui analisis terhadap teks ayat 7-12 ini memberi jawaban yang bersifat klarifikasi bahwa maksud teks dan konteks di atas tidak memberi penekanan pada hal perbedaan derajat laki-laki dan perempuan tetapi justru memberi penekanan pada persamaan status di dalam pandangan Allah. Kalaupun pada zaman itu perempuan harus menudungi kepalanya ketika masuk dalam ruang ibadah pada zaman itu, semua itu hanya mengacu kepada kebiasaan atau budaya pada zaman itu yang menekankan unsur kesopanan dalam persekutuan supaya perempuan tidak menjadi batu sandungan dalam persekutuan
PEMAHAMAN PENGAJARAN MENGENAI PASKAH DALAM PENGUATAN IMAN DI GEREJA KRISTEN SETIA INDONESIA (GKSI) KECAMATAN KUALA BEHE
An understanding of the Work of Christ for believers has great significance. Theologically the work of Christ in death, resurrection and ascension is a series that influences many doctrines in Christianity. But for the Indonesian Faithful Christian Church members, it is still an interesting topic for them. most do not understand it well, and other things that seem ordinary. The results of this community service show how enthusiastic they are about intensive teaching deepening. It is hoped that there will be an increase in understanding that can impact the congregation's spiritual life, which is expressed in daily life.Pemahaman tentang Karya Kristus bagi orang percaya memiliki signifikasi yang sentral. Secara teologis karya Kristus dalam kematian, kebangkitan dan kenaikan adalah rangkaian yang memengaruhi banyak doktrin dalam kekristenan. Tetapi masih banyak jemaat Gereja Kristen Setia Indonesia yang belum memiliki pemahaman yang luas dan benar. Sebagian besar belum memahaminya dengan baik, dan yang lain terkesan biasa saja. Masalah lain jemaat belum pernah menerima penjelasan secara komprehensif mengenai makna Paskah dari sudut pandang selain dari 1 Korintus. Setelah materi dipersiapkan secara kualitatif maka materi disajikan dalam bentuk ceramah dan diskusi langsung kepada jemaat. Hasil dari Pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bagaimana antusias mereka tentang pendalaman pengajaran yang intensif. Diharapkan terjadi peningkatan pemahaman yang bisa berdampak kepada kehidupan spiritualitas jemaat yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari
SOSIALISASI DAMPAK NEGATIF GADGET TERHADAP KEHIDUPAN ROHANI ANAK DUSUN PAYOK DESA LAMOANAK KECAMATAN MENJALIN
Technological developments cannot be avoided by humans but must be followed. One that is very familiar in society is gadgets. A gadget is an object that anyone in carrying out their activities needs. It is not only adults who use gadgets; children also know how to operate gadgets well. Gadgets are very useful for anyone who use them, but they will have a good impact if users can be controlled properly, especially in the spiritual development of children. Payok Hamlet, Lamoanak Village, Menjalin District, Landak District, and West Kalimantan were the research locus. The method used in this research is a survey method, in which researchers go directly to the field to make observations. After making new observations, communication and outreach to the community were carried out. The negative impact of gadgets on children’s spiritual growth has begun to be felt by children in this hamlet. Oneway parents can so that their children are not too dependent on gadgets is that parents must have much time with their children so that time to use gadgets for the children will be reduced the negative impact of gadgets can be avoided as much as possible.Perkembangan teknologi tidak bisa manusia hindari, melainkan harus bisa dikuti. Salah satu yang sangat familiar dalam masyarakat adalah gadget. Gadget merupakan suatu benda yang sangat diperlukan oleh siapapun dalam melakukan aktivitasnya. Bukan hanya orang dewasa yang menggunakan gadget, anak-anak juga telah mengenal bahkan bisa mengoperasikan gadget dengan baik. Gadget sangat bermanfaat bagi siapapun yang menggunakannya, akan tetapi akan berdampak buruk jika tidak bisa dikontrol pemakaiannya dengan baik. Terutama dalam perkembangan rohani anak. Lokus penelitian adalah Dusun Payok, Desa Lamoanak, Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei yaitu peneliti terjun langsung untuk melakukan pengamatan. Setelah melakukan pengamatan baru dilakukan komunikasi serta sosialisasi kepada masyarakat. Dampak negatif gadget bagi pertumbuhan rohani anak mulai dirasakan oleh anak-anak dalam dusun ini, sehingga salah satu cara yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah harus memiliki waktu yang banyak dengan anak, sehingga penggunaan gadget akan berkurang, maka dampak negatif dari gadget sebisa mungkin dapat dihindari
PARADIGMA BARU MEMAHAMI TEOLOGI DAN PENDIDIKAN KRISTEN KORELASI TEKS KOLOSE 3:2 DENGAN ERA DISRUPSI
The fact that the era of disruption creates many changes and shifts in various fields, urges certain parties in the educational environment to quickly adapt and even create breakthroughs in maintaining the substance of Christian theology and education through online application-based media. Changes in the learning process from face-to-face to online result in a variety of benefits as well as prudence. On the one hand online learning is not limited to space and time, and on the other hand forces certain parties to meet the demands of such learning. In the church environment also experienced the same thing. The process of personalization became online. Thus, the paradigm shift in Christian theology and education is an inescapable fact. Efforts to think of spiritual matters become a continuing responsibility, no matter what the situation. Disruption era shows the rise of online-based social media. Nevertheless, believers are encouraged to use it as a place to preach the gospel of Jesus Christ as a confirmation of the attitude of believers who think about the above. This article uses a library study method with an exegetic-correlational approach that explains the meaning of text in the frame of correlation with disruption era.Fakta bahwa era disrupsi menciptakan banyak perubahan dan pergeseran di berbagai bidang, mendesak pihak-pihak tertentu dalam lingkungan pendidikan untuk segera beradaptasi bahkan menciptakan terobosan dalam mempertahankan substansi teologi dan pendidikan Kristen melalui media-media berbasis aplikasi online. Perubahan proses pembelajaran dari tatap muka menjadi online menghasilkan berbagai manfaat sekaligus sikap kehati-hatian. Di satu sisi pembelajaran online tidak dibatasi pada ruang dan waktu, dan di sisi lain memaksa pihak-pihak tertentu untuk memenuhi tuntutan pembelajaran tersebut. Di lingkungan gereja juga mengalami hal yang sama. Proses peribadahan menjadi online. Dengan demikian, pergeseran paradigma teologi dan pendidikan Kristen adalah fakta yang tidak terhindarkan. Upaya memikirkan perkara rohani menjadi tanggung jawab yang berkelanjutkan, apa pun situasinya. Era disrupsi mempertunjukkan maraknya media sosial berbasis online. Meskipun demikian, orang percaya didorong untuk menggunakannya sebagai wadah memberitakan Injil Yesus Kristus sebagai konfirmasi sikap hidup orang percaya yang memikirkan perkara yang di atas. Tulisan ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan eksegetis-korelasional yang menjelaskan makna teks dalam bingkai korelasi dengan era disrupsi
SOSIALISASI PASTORAL TENTANG PEMULIHAN PELAYANAN BAGI JEMAAT PONDOK NATAI KECAMATAN TUMBANG TITI
The patternal abstrity is an attempt made by the church service has the development and the problems faced well be based on the Bible. With the devotion to the society (PKM) facilitate for the resolitation of issues that have occurred, in realizing the congregation participating in the service. The beginning of a stirring house in the lodge is lodging with congregation and shepherds and with the aim of ": building church for our comfort together in worship". But the reality that exists after the church stands sturdy and can be used, there are some unbelievers and there are even some families who move religion. The time is getting the passage of the congregation and the participation in the service has been reduced, the congregation that comes to worship every week only one or two others choose to busy themselves and no matter the worship of the car. The Pastoral Socialist of Recovery for the Service in Pondok Natai to be made an effort to congregation and worships the participation of the service.Sosialisasi pastoral adalah suatu upaya yang dilakukan agar pelayanan gereja memiliki perkembangan dan masalah yang dihadapi dapat terselesaikan dengan baik berdasarkan Alkitab. Dengan adanya Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) memudahkan untuk penyelesaikan masalah yang telah terjadi, Dalam mewujudkan jemaat yang berpartisipasi dalam pelayanan kembali. Awal berdirinya suatu rumah ibadah yang terletak di Pondok Natai merupakan pemikiran bersama jemaat dan gembala serta dengan tujuan yaitu: “membangun gereja untuk kenyamanan kita bersama dalam beribadah”. Tetapi kenyataan yang ada setelah gereja berdiri kokoh dan dapat digunakan, ada beberapa jemaat yang tidak ibadah dan bahkan ada beberapa keluarga yang pindah agama. Waktu semakin berlalu keadaan jemaat semakin terpuruk dan partisipasi dalam pelayanan sudah berkurang, jemaat yang datang untuk ibadah setiap minggunya hanya satu atau dua orang yang lain memilih sibuk sendiri dan tidak peduli akan ibadah-ibadah yang dilaksanakan. Sosialisai pastoral tentang pemulihan bagi pelayanan di Pondok Natai yang akan dilakukan merupakan suatu upaya agar jemaat dapat ibadah serta berpartisipasi dalam kemajuan pelayanan kembali