OJS Untika Luwuk (Universitas Tompotika)
Not a member yet
161 research outputs found
Sort by
PRINSIP KETERBUKAAN (DISCLOSURE) PADA PERUSAHAAN GO PUBLIC DI INDONESIA
Masalah pokok penelitian ini adalah bagaimana Prinsip Keterbukaan (Disclosure) wajib diterapkan di dunia Pasar Modal, khususnya sebelum perusahaan melakukan go public dan setelah saham didaftarkan di Pasar Modal sesuai dengan UU No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal ? Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yuridis normatif, temuan penelitian mengungkapkan bahwa : Pertama, adanya perusahaan go public perlu untuk menaati kewajibannya untuk menerapkan Prinsip Keterbukaan sebelum melakukan go public. Kedua, Prinsip Keterbukaan wajib selalu diterapkan setelah saham didaftarkan di dunia Pasar Modal. Bahkan kewajiban perusahaan go public (emiten) dilarang melakukan tindakan yang berupa transaksi yang melibatkan orang dalam perusahaan (Insider Trading). Berdasarkan temuan penelitian, ada tiga hal yang disarankan penulis. Pertama agar perusahaan go public untuk selalu mentaati kewajibannya dalam menerapkan Prinsip Keterbukaan (Disclosure). Kedua,perlunya pihak calon investor atau investor memperhatikan resiko bisnis yang berkaitan dengan investasi mereka dalam dunia pasar modal. Ketiga, perlunya profesi penunjang pasar modal untuk meningkatkan kualitas, integritas dan mematuhi kode etik profesi masing-masing guna mengoptimalkan pasar modal sebagai sarana investasi yang tertib dan aman.
The main problem of this research is how the Principle of Openness (Disclosure) must be applied in the world of the Capital Market, especially before companies go public and after shares are registered in the Capital Market in accordance with Law no. 8 of 1995 About the Capital Market? Using normative juridical qualitative research methods, the findings of the study reveal that: First, the existence of a publicly traded company is necessary to comply with its obligation to apply the Principle of Openness before going public. Second, the Principle of Disclosure must always be applied after shares are registered in the Capital Market world. Even the obligation of a go public company (issuer) is prohibited from taking action in the form of transactions that involve insiders in the company (Insider Trading). Based on the research findings, there are three things suggested by the author. First, for companies to go public to always comply with their obligations in implementing the Principle of Openness (Disclosure). Second, the need for potential investors or investors to pay attention to the business risks associated with their investment in the world of capital markets. Third, the need for capital market supporting professions to improve quality, integrity and comply with the respective professional code of ethics in order to optimize the capital market as an orderly and safe investment vehicl
KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA CYBER CRIME DI BIDANG KESUSILAAN
Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis teknologi informasi bagi masyarakat memiliki dampak positif sekaligus memiliki dampak negatif. Dampak negatif teknologi informasi adalah munculnya kejahatan bersaranakan teknologi informasi, yaitu cyber crime. Cyber crime yang memiliki dampak negatif bagi proses pendidikan moral, nilai, budi pekerti, watak dan pendidikan agama adalah cyber crime di bidang kesusilaan yaitu cyber sex dan cyber (child) pornography. Sebabnya adalah cyber sex dan cyber (child) pornography memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap pengguna teknologi. Oleh karena itu cyber sex dan cyber (child) pornography harus ditanggulangi dengan cara rasional. Salah satu usaha yang rasional trsebut adalah dengan menggunakan pendekatan kebijakan hukum pidana. Hasil tulisan ini menunjukkan bahwa perangkat hukum saat ini memiliki kelemahan yuridis, yakni KUHP dan UU Nomor 8 Tahun 2011, yaitu terbatasnya berlakunya hukum pidana hanya di wilayah Indonesia sebagai konsekuensi asas teritorial. Undang-undang khusus juga tidak terlepas dari kelemahan seperti tidak adanya ketentuan pemidanaan yang pada akhirnya mempersulit dan menghambat penegakan hukum terhadap cyber crime bidang kesusilaa
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF PESERTA DIDIK MELALUI METODE PEMBELAJARAN TIME TOKEN MATERI SEGITIGA DI KELAS VII A3 SMP NEGERI 2 LUWUK
Masalah utama pada penelitian ini adalah rendahnya kemampuan berpikir kreatif Peserta Didik Kelas VII A3 di SMP Negeri 2 Luwuk pada materi segitiga. Ada beberapa hal yang menyebabkan permasalahan tersebut diantaranya pada pada dasarnya Peserta Didik kurang perhatian pada proses pembelajaran, malu bertanya pada guru serta kurangnya latihan dalam menyelesaikan soal sehingga peserta didik kesulitan dalam menyelesaikan soal yang berkaitan dengan materi segitiga. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, peneliti melakukan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian tindak kelas ini mengacu pada model pembelajaran Spiral Kemmis dan Taggrat menurut Suharsimi Arikunto yang dilakukan dua siklus dan setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi. Penelitian ini dilakukan Kelas VII A3 di SMP Negeri 2 Luwuk pada Tahun Ajaran 2016/2017. Berdasarkan hasil tes tindakan, terjadi peningkatan kemampuan berpikir kreatif Peserta Didik. Mulai dari tes awal sampai tes akhir tindakan siklus II. Peningkatannya dapat dilihat dari 67,16% pada siklus I menjadi 90,44% pada siklus II. Untuk hasil observasi peserta didik dan guru terjadi peningkatan dari sikus I sampai sikus II. Peningkatan hasil observasi peserta didik dapat diihat dari 75% pada sikus I menjadi 96,36% pada siklus II,dan peningkatan hasil observasi guru dapat dilihat dari 70,83% dari sikus I menjadi 97,72% pada siklus II. Hal ini menunjukan bahwa penerapan metode Times token pada materi segitiga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematika Peserta Didik Kelas VII A3 di SMP Negeri 2 Luwuk Kabupaten Banggai
ANALISIS PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN KEPALA SEKOLAH MENENGAH NEGERI SEKECAMATAN LUWUK KABUPATEN BANGGAI SULAWESI TENGAH
Penelitian ini menggunakan deskripsi eksplanatori. Teknik penggumpulan datanya dilakukan secara kuantitafi dan kualitati, dengan pengambilan Sampel Purposive serta pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan angket, Hasil penelitian yaitu (1) identifikasi masalah Kepala Sekolah Menengah Atas berkategori baik dengan persentase 85,77% Artinya identifikasi masalah pada proses pengambilan Keputusan selalu dilakukan Kepala Sekolah (2) Menentukan Kriteria Pemecahan Masalah Kepala Sekolah Menengah Atas berkategori baik dengan persentase 83,87%. Artinya Menentukan Kriteria Pemecahan Masalah pada proses pengambilan Keputusan sering dilakukan Kepala Sekolah, (3) Mengidentifikasi Alternatif Masalah Kepala Sekolah Menengah Atas berkategori baik dengan persentase 85,53% , Artinya Mengidentifikasi Alternatif Masalah pada proses pengambilan Keputusan sering dilakukan Kepala Sekolah, (4)Mengadakan Penilaian terhadap alternatif Kepala Sekolah Menengah Atas berkategori sangat baik dengan persentase penilaian terhadap alternatif 87,75%. Artinya penilaian terhadap alternative selalu dilakukan Kepala Sekolah, (5) Penilaian terhadap alternatif terbaik Kepala Sekolah Menengah Atas baik dengan persentase 85,53% Artinya Menentukan Kriteria Pemecahan Masalah pada proses pengambilan Keputusan selalu dilakukan Kepala Sekolah, (6) mengimplementasikan alternatif Kepala Sekolah Menengah Atas berkategori baik baik dengan persentase 85,77%.artinya mengimplementasikan altertenatif telah dilakukan oleh Kepala Sekolah Sehingga proses pengambilan keputusan Kepala SMA Negeri Sekecamatan Luwuk tergolong sangat baik. Saran 1)Bagi sekolah bahwa hendaknya memberdayakan Sumber daya yang ada dalam pengambilan keputusan, 2) Bagi kepala sekolah hendaknya lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan memperhatikan dampak yang terjadi jika keputusan dikeluarkan, 3) Bagi peneliti, dapat memperluas wawasan yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan di sekolah sehingga menjadi acuan dalam meningkatkan peran prestasi sebagai guru dalam memajukan sekolah, 4)Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk terus proses pengambilankeputusan dengan menitik beratkan pada proses penyampaian oleh keputusan kepala sekola
POLA PENDIDIKAN ANAK PADA KELUARGA KURANG MAMPU DI DESA ONDO-ONDOLU KECAMATAN BATUI KABUPATEN BANGGAI
Fakta di Desa Ondo-OndoluKecamatan Batui menunjukkan suatu kondisi dimana masih ada orang tua warga masyarakat yang kehidupan ekonominya berkecukupan dan lebih mapan, akan tetapi anak-anak dari orang tua mapan tersebut tidak satupun yang berpendidikan hingga ke jenjang pendidikan tinggi, dan berdasarkan pandangan masyarakat gagal dalam mendidik/mengasuh anaknya. Sementara orang tua yang serba kekurangan, justru berhasil mendidik anak-anaknya hingga ada yang sampai keperguruan tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola pendidikan anak pada keluarga kurang mampu di Desa Ondo-Ondolu. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi,wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian tentang pola pendidikan anak pada keluarga kurang mampu di Desa Ondo-Ondolu bahwa para orang tua menerapkan: (1). Pola Otoriter. (2). Pola Demokratis. (3). Pola Pengawasan. (4). Pola Keteladanan. (5). Pola Pembiasaan. Pola pendidikan anak yang diterapkan oleh keluarga kurang mampu di Desa Ondo-Ondolu Kecamatan Batui, hanya menerapkan pola otoriter dan pola demokratis yang diikuti dengan tiga pola pendidikan sebagai pola pendukung yaitu pola pengawasan, pola keteladanan dan pola pembiasaan. Sedangkan pola permisif tidak diterapkan oleh orang tua kurang mampu di Desa Ondo-Ondol
IMPLEMENTASI PENGGUNAAN DAFTAR CEK MASALAH OLEH GURU BIMBINGAN DAN KONSELING
Hambatan atau rintangan akan senantiasa muncul setiap waktu baik itu kesulitan mengajar guru, kesulitan belajar peserta didik dan sebagainya. Sehingga dengan beberapa hambatan tersebut diharapkan guru dan peserta didik yang bersangkutan akan lebih dinamis dan inovatif. Upaya memberi bantuan kepada peserta didik yang dilakukan oleh Guru Bimbingan dan Konseling dilakukan dengan berbagai macam cara, antara lain dengan memberikan layanan Daftar Cek Masalah. Permasalahan yang dibahas dalam Penelitian ini adalah Bagaimana Implementasi Pengungkapan Masalah oleh Guru Bimbingan dan Konseling Melalui Penggunaan Daftar Cek Masalah pada Peserta Didik di SMP Negeri 2 Luwuk Kecamatan Luwuk Kabupaten Banggai. Berdasarkan analisis data yang telah di kemukakan, maka penelitian ini dapat di simpulkan bahwa kegiatan Penyebaran Daftar cek Masalah di SMP Negeri 2 Luwuk dilaksanakan secara terprogram dan terencana dengan baik. Karena kegiatan ini tercantum dalam Program Layanan Bimbingan Konseling. Implementasi Kegiatan Penyebaran Daftar Cek Masalah berjalan dengan baik, karena seluruh proses berjalan sesuai dengan tahapan dan prosedur yang ditetapakan, mulai dari penyusunan instrumen sampai pengolahan dan analisis data
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE BERBASIS OPEN ENDED PROBLEM UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF
Pentingnya siswa memiliki kemampuan berpikir kreatif dalam menyelesaikan soal-soal matematika yang beragam. Namun, kebanyakan siswa belum memiliki kemampuan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share berbasis Open-Ended-Problem pada materi persegi dan persegipanjang di Kelas VII SMP Negeri 1 Walea Besar. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa dengan indicator: 1) berpikir lancar (Fluency), 2) berpikir luwes (Flexibility), 3) berpikir asli (Originality), dan 4) berpikir menguraikan (Elaboration). Peningkatan ini dapat dilihat dari nilai rata-rata tes matematika berdasarkan kemampuan berpikir kreatif siswa pada siklus I mencapai 80.6 dan pada siklus II meningkat menjadi 88.0. Dengan demikian penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share berbasis Open-Ended-Problem pada materi persegi dan persegipanjang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kretaif siswa
MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIKA PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS KOOPERATIF TIPE NHT (NUMBERED HEADS TOGETHER) PADA MATERI LOGIKA KELAS XD SMA NEGRI 1 BUNTA
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan penalaran matematika peserta didik kelas XD SMA Negeri 1 Bunta Kecamatan Bunta Kabupaten Banggai melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) pada materi Logika. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah peserta didik kelas XD SMA Negeri 1 Bunta yang berjumlah 29 peserta didik. Penelitian ini dilaksanakan dua siklus. Data penelitian diperoleh dari hasil observasi aktivitas guru dan peserta didik melalui pembelajaran model Numbered Heads Together dan tes kemampuan penalaran matematika. Berdasarkan hasil analisis data menunjukan bahwa terjadi peningkatan terhadap aktivitas pembelajaran peserta didik dan guru serta kemampuan penalaran matematika terhadap tiga indikator yaitu, (1) kemampuan mengajukan dugaan, (2) melakukan manipulasi, dan (3) menarik kesimpulan dari pernyataan. Dengan demikian, pembelajaran melalui model Numbered heads Together dapat digunakan dalam membelajarkan materi Logika karena mampu meningkatkan kemampuan penalaran matematika pada peserta didik
PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL SNOWBALL THROWING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF PESERTA DIDIK PADA MATERI LINGKARAN KELAS VIIIDI MTs. ALHASANAH
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Penerapan pembelajaran kooperatif model snowball trowing dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar pada materi lingkaran kelas VIIIB di MTs. Al-Hasanah Desa Bantayan Kecamatan Luwuk Timur. Waktu pelaksanaan penelitiannya, dilaksanakan pada bulan Maret sampai April 2017. Dalam penelitian ini, variabel yang akan diteliti terdiri dari 2 variabel yaitu variabel X dan variabel Y, dimana variabel x merupakan perlakuan yaitu pembelajaran kooperatif model snowball trowing dan kemampuan berpikir kreatif peserta didik ditempatkan pada variabel Y. yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah 31 peserta didik di MTs. Al-Hasanah Desa Bantayan Kecamatan Luwuk Timur Kelas VIIIB. Jenis penelitian yang adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif dan partisipatif. Pengumpulan data menggunakan observasi dan tes. Berdasarkan Hasil observasi kegiatan dan aktivitas peserta didik dari seluruh aspek yang dinilai dalam lembar pengamatan siklus I mencapai aktifitas guru 76,38 %, keaktifan peserta didik selama proses pembelajaran 72,36 % dan mengalami peningkatan pada siklus II mencapai aktifitas guru 98,61 % dan aktifitas peserta didik selama proses pembelajaran mencapai 96,25 % setelah mengikuti pembelajaran dengan penerapan model snowball trowing dalam pembelajaran. Rata–rata hasil tes kemampuan berpikir kreatif peserta didik yang dikenai tindakan mencapai 66,26% pada siklus I dan 81,47% pada siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model snowball trowing dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematika peserta didik kelas VIII B di MTs. Al-Hasanah Desa Bantayan Kecamatan Luwuk Timur
TINJAUAN YURIDIS BENTUK PERSELISIHAN PARTAI POLITIK DAN MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA PARTAI POLITIK MENURUT UNDANG- UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2011
Partai politik menjadi salah satu instrument demokrasi di Indonesia,olehnya itu perlu adanya rambu-rambu yang jelas dalam menjalankannya maka melalui undang-undang nomor 2 tahun 2011 semua kebutuhan partai politik, baik dari hak dan kewajiban serta terkait dengan perselisihan partai politik melalui mekanisme penyelesaian internal yakni AD/ art. Penelitian ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah antara sesama partai politik berdasarkan undang-undang partai politik.Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dimana data yang diambil oleh penulis berasal dari para responden yang diwawancara secara langsung oleh penulis. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, untuk menyelesaikan suatu perselisihan antara sesama partai politik harus mealui mahkamah partai politik dan apabila penyelesaian melalui mahkamah partai politik belum memuaskan salah satu pihak, maka penyelesaiannya dapat dilakukan selanjutnya melalui Gugatan Perdata di Pengadilan negeri. Ketentuan Tersebut diatur dalam Pasal 32 dan Pasal 33 Undang-Undang Partai Politik dan pula ditegaskan dalam SEMA Nomor 4 Tahun 2003 Perihal Perkara Perdata yang berkaitan dengan Pemilu