Jurnal Pusdikra Publishing (E-Journals)
Not a member yet
2217 research outputs found
Sort by
Psikoedukasi Islami Bagi Orangtua dalam Meningkatkan Kemandirian Belajar Anak di Era Digital
Era digital membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk pada pola belajar anak yang kini semakin bergantung pada teknologi informasi. Kondisi ini menuntut peran aktif orang tua sebagai pendidik utama di rumah untuk membimbing anak-anak dalam memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran psikoedukasi Islami bagi orang tua dalam meningkatkan kemandirian belajar anak di era digital. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menelaah literatur berupa Al-Qur’an, hadis, buku, dan jurnal ilmiah terkait pendidikan Islam, psikoedukasi, serta perkembangan anak. Hasil kajian menunjukkan bahwa psikoedukasi Islami, sebagai pendekatan yang mengintegrasikan prinsip-prinsip psikologi dengan nilai-nilai Islam, mampu membantu orang tua memahami dan melaksanakan perannya dalam mendampingi anak menghadapi tantangan teknologi. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pengawasan penggunaan teknologi, tetapi juga menekankan pembinaan spiritual, penguatan karakter Islami, serta pengembangan motivasi belajar anak. Dengan pendampingan yang tepat, orang tua dapat menumbuhkan kemandirian belajar, meningkatkan resiliensi, dan membangun pola pikir yang adaptif pada anak. Penelitian ini menegaskan bahwa psikoedukasi Islami merupakan solusi strategis untuk mencetak generasi yang cerdas, mandiri, dan berakhlak mulia di tengah kompleksitas era digital. Implikasi praktis dari penelitian ini mendorong orang tua untuk meningkatkan literasi digital, memperkuat komunikasi efektif dengan anak, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif di rumah
Kedudukan Pancasila dan Fungsi Pancasila Menuju Indonesia Emas 2045: (Study Kasus Desa Durin Jangak di Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang)
Indonesia menghadapi peluang besar sekaligus tantangan sebelum mencapai Indonesia Emas pada tahun 2045, saat negara genap berusia 100 tahun. Salah satu tantangan utama adalah munculnya paham radikalisme dan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Tantangan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan peran aktif seluruh elemen masyarakat. Dalam menyongsong bonus demografi, setiap warga Indonesia perlu menyadari pentingnya memperkuat nilai-nilai Pancasila agar menjadi ideologi yang terus relevan. Upaya penguatan ini, khususnya bagi generasi muda, harus dilakukan dengan cara yang inovatif, relevan dengan konteks zaman, namun tetap berpijak pada budaya asli Indonesia
Etika Menggunakan Bahasa
Etika penggunaan bahasa merupakan aspek penting dalam komunikasi yang efektif dan bertanggung jawab. Dalam era digital saat ini, penggunaan bahasa tidak hanya terbatas pada komunikasi lisan maupun tulisan secara langsung, tetapi juga meliputi platform daring seperti media sosial dan pesan instan. Kesadaran akan etika berbahasa sangat diperlukan untuk menjaga hubungan harmonis dan menghormati hak orang lain. Etika berbahasa mencakup prinsip-prinsip seperti penggunaan bahasa yang sopan, tidak menyinggung perasaan orang lain, serta menghindari penyebaran ini yang menyesatkan atau berisi ujaran kebencian. Penggunaan bahasa yang tidak etis dapat menimbulkan konflik, memperuncing ketegangan sosial, dan merusak reputasi individu maupun institusi Oleh karena itu, pemahaman mengenai etika berbahasa harus ditanamkan sejak dini dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek-aspek etika dalam penggunaan bahasa serta memberikan panduan praktis untuk menerapkannya dalam berbagai situasi komunikasi. Kesadaran terhadap pentingnya etika berbahasa dapat meningkatkan kualitas komunikasi dan membangun budaya saling menghormati di masyarakat. Dengan demikian, penerapan etika berbahasa merupakan tanggung jawab bersama untuk menciptakan lingkungan komunikasi yang sehat, sopan, dan penuh penghormatan
Perspektif Nilai Kekeluargaan dalam Pengasuhan Alternatif pada Film 1 Kakak 7 Ponakan
Keluarga merupakan institusi sosial dasar yang berperan penting dalam membentuk nilai, norma, dan identitas individu. Nilai kekeluargaan, seperti tanggung jawab, kasih sayang, solidaritas, dan pengorbanan, menjadi pondasi utama dalam menjaga kesejahteraan anggota keluarga, khususnya anak-anak. Namun, tidak semua anak dapat tumbuh di bawah asuhan orang tua kandung, sehingga pengasuhan alternatif atau kinship care menjadi bentuk praktik yang sering ditemui, terutama dalam keluarga besar di Indonesia. Kondisi ini menuntut keterlibatan penuh dari anggota keluarga lain yang mengambil alih peran pengasuhan dengan menghadirkan dukungan emosional, sosial, maupun ekonomi. Media populer, khususnya film, dapat menjadi sarana representasi sosial yang memperlihatkan bagaimana praktik pengasuhan alternatif sekaligus nilai kekeluargaan dijalankan dalam keseharian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi nilai kekeluargaan dalam pengasuhan alternatif melalui kajian terhadap film “1 Kakak 7 Ponakan”. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi, di mana data primer bersumber dari adegan-adegan film, sementara data sekunder diperoleh dari literatur relevan mengenai keluarga dan pengasuhan alternatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini menekankan empat nilai kekeluargaan utama, yaitu tanggung jawab, kasih sayang dan kepedulian, pengorbanan, serta gotong royong dan solidaritas. Keempat nilai tersebut membentuk gambaran utuh tentang bagaimana keluarga besar menjaga keberlangsungan pengasuhan anak meski dalam keterbatasan. Temuan ini memperlihatkan bahwa film sebagai media populer bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana refleksi sosial yang menegaskan pentingnya nilai kekeluargaan bagi ketahanan keluarga dan keberlanjutan generasi
Membangun Keharmonisan Sosial Melalui Silaturrahmi pada Penggajian Hajjah dan Haji di Kabupaten Asahan
Silaturahmi dalam ajaran Islam, yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW, memiliki makna luas yang tidak hanya mencakup hubungan antar individu, tetapi juga dengan seluruh makhluk. Tujuan silaturahmi adalah menumbuhkan kedamaian, kemaslahatan, dan mencegah kemudaratan. Di Kabupaten Asahan, partisipasi masyarakat dalam program haji dan umrah semakin meningkat berkat pengelolaan yang efektif melalui media massa dan platform daring oleh Auliya Tour & Travel. Pengajian haji yang dilakukan di daerah ini bukan hanya memperdalam pemahaman tentang ibadah haji, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan memperkuat keharmonisan antarwarga. Penelitian ini juga menyoroti penggunaan media sosial dalam bersilaturahmi, yang sejalan dengan perubahan gaya hidup masyarakat modern. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Service Learning (SL), yang mengintegrasikan pembelajaran dengan kegiatan pengabdian masyarakat, bertujuan untuk membangun keharmonisan sosial melalui pengajian haji. Hasilnya menunjukkan bahwa kegiatan pengajian haji di Kabupaten Asahan berperan penting dalam memperkuat persaudaraan sosial dan membangun keharmonisan di masyarakat yang multikultural, serta menunjukkan potensi metode SL dalam menciptakan perubahan sosial yang positif
Tari Sandar di Pura Luhur Ulun Swi Desa Adat Seseh, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung
Tari Sandar merupakan salah satu tari upacara yang dipentaskan dalam rangkaian upacara Dewa Yadnya di Pura Luhur Ulun Swi, Desa Adat Seseh, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Penelitian ini bertujuan untuk memahami Tari Sandar yang ada di Pura Luhur Ulun Swi, Desa Adat Seseh, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi: (1) Awal mula Tari Sandar; (2) Bentuk pertunjukan Tari Sandar; (3) Makna yang terkandung dalam pertunjukan Tari Sandar. Teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi teori religi, teori estetika Hindu serta teori semiotika. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kemunculan Tari Sandar ditandai dengan peristiwa tapel Barong Ket dihanyutkan dari wilayah Jimbaran karena dianggap tidak layak, lalu terdampar di pesisir Desa Adat Seseh. Peristiwa tersebut diyakini sebagai pawisik, kemudian tapel itu diabadikan sebagai benda suci di Pura Luhur Ulun Swi, peristiwa tersebut kemudian diyakini sebagai cikal bakal lahirnya Tari Sandar. (2) Bentuk pertunjukan Tari Sandar dapat dikategorikan sebagai dramatari, yang melibatkan beberapa lakon yaitu penari Sandar, Jauk Kembar, Topeng Tua, dan Topeng Telek. (3) Makna yang terkandung dalam Tari Sandar terepresentasi melalui alur pertunjukan tersusun atas dasar penanda dan petanda yang dapat dibaca secara denotatif, konotatif, maupun dalam bentuk mitos. Sebagai kesenian sakral, Tari Sandar menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Desa Adat Seseh dan terus dijaga keberlanjutannya melalui siklus upacara dan keterlibatan kolektif warga setempat
Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Game Tournament (TGT) Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas 5 SD N 3 Puyoh Pada Mata Pelajaran PPKn
Penelitian ini memiliki tujuan mengidentifikasi dampak penggunaan metode belajar kooperatif jenis Teams Games Tournament (TGT) pada pencapaian belajar murid kelas V di SD Negeri 3 Puyoh dalam pelajaran PPKn, khususnya mengenai topik Mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika dalam Keberagaman Sosial. Metode yang diterapkan adalah pre-eksperimental melalui rancangan pretest dan postest satu kelompok. Subjek dalam kajian ini ada 14 murid kelas V yang dipilih sebagai sampel tanpa adanya kelompok pembanding. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pengumpulan dokumen, serta ujian tertulis menggunakan 10 soal uraian pada saat pretest dan posttest. Hasil pengujian normalitas menyatakan bahwa data mempunyai distribusi normal. Analisis data menggunakan uji paired sample t-test membuktikan selisih sebesar 0,001 (p < 0,05), dapat diartikan ada perbedaan signifikan antara hasil pretest dan posttest. Rerata nilai murid naik dari 75,43 menjadi 79,21 setelah diterapkan model TGT. Kajian ini menyimpulkan penggunaan model TGT membawa dampak yang baik dan signifikan kepada pertumbuhan prestasi belajar siswa. Selain itu, model ini membuat kondisi belajar yang dinamis, aktif, menyenangkan serta memotivasi siswa terlibat saat pembelajaran. Dengan demikian, model TGT efektif digunakan pengajaran materi PPKn di SD Negeri 3 Puyoh
Mewujudkan Keluarga Harmonis Peran Hukum Perkawinan Islam dalam Membangun Keluarga Ideal
This article examines the significance of Islamic marriage law in fostering harmonious families, which are essential for a healthy society. Through a scientific approach, it highlights how Islamic marriage law establishes clear rights and obligations between spouses, emphasizing principles such as justice, effective communication, and shared responsibilities in child-rearing. These guidelines aim to create a loving and respectful family environment. However, the implementation of these laws faces challenges, including differing interpretations, cultural influences, and insufficient legal education. To overcome these hurdles, collaborative efforts are necessary to promote harmonious family dynamics. Practical steps suggested include nurturing the spirit of sakinah (tranquility), reviving mawaddah (love), and providing religious education to children. The article also addresses the protection of family members' rights through legal guarantees and educational services. By understanding and applying Islamic principles in daily life, families can achieve their ideal state as foundational units of a happy and prosperous society. Ultimately, the study aims to inspire Muslims to strive for families characterized by sakinah, mawaddah, and rahmah (compassion), making the dream of a harmonious family a tangible reality through consistent adherence to Islamic marriage law
Batasan Pergaulan Bagi Calon Pengantin Pasca Peminangan di Tinjau dari Hukum Islam: (Studi Kasus Desa Buntu Pane Kecamatan Buntu Pane)
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji batasan pergaulan bagi calon pengantin pasca peminangan di Desa Buntu Pane, Kecamatan Buntu Pane, dengan perspektif hukum Islam. Rumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah masyarakat Desa Buntu Pane memahami ketentuan syariat Islam mengenai batasan pergaulan pasca peminangan? (2) Bagaimana praktik pergaulan calon pengantin di desa tersebut? (3) Faktor-faktor apa saja yang memengaruhi pelaksanaan batasan pergaulan ini. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, di mana data dikumpulkan melalui wawancara dengan calon pengantin, tokoh agama, dan masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun adat lokal mempengaruhi aturan pergaulan, hukum Islam tetap menjadi landasan utama dalam mengatur interaksi antara calon pengantin sebelum pernikahan, dengan larangan untuk melakukan khalwat dan pergaulan fisik yang dapat menimbulkan fitnah. Penelitian ini juga mengungkapkan pentingnya integrasi antara ajaran agama dan adat dalam membentuk pola pergaulan yang sesuai dengan norma-norma Islam. Faktor-faktor yang memengaruhi pelaksanaan batasan pergaulan ini antara lain tingkat pemahaman agama masyarakat, peran tokoh agama, serta norma sosial yang berlaku di desa tersebut
Analisis Kesiapan Guru terhadap Pembelajaran Berbasis Artificial Intelligence dalam Perspektif Pendidikan Islam di MAS YPI Batang Kuis
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan guru terhadap pembelajaran berbasis Artificial Intelligence (AI) dalam perspektif Pendidikan Islam di MAS YPI Batang Kuis. Latar belakang penelitian ini adalah meningkatnya penggunaan teknologi AI dalam dunia pendidikan, yang menuntut guru memiliki kompetensi digital, kesiapan pedagogik, serta pemahaman etika teknologi sesuai nilai-nilai Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Informan penelitian dipilih melalui purposive sampling yang melibatkan guru PAI dan guru mata pelajaran umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan guru berada pada kategori sedang. Guru telah memiliki ketertarikan dan pemahaman dasar tentang teknologi digital, namun masih terbatas dalam memanfaatkan AI secara lebih aplikatif, seperti dalam perencanaan pembelajaran, asesmen, dan analitik pembelajaran. Hambatan utama meliputi kurangnya pelatihan AI, kekhawatiran terhadap peran guru, serta belum tersedianya pedoman etika dan kebijakan penggunaan AI di madrasah. Dalam perspektif Pendidikan Islam, guru menilai bahwa AI harus dimanfaatkan secara bijak, etis, dan tetap dalam kerangka adab serta akhlak Islami. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan literasi AI guru, penyusunan kebijakan madrasah, dan integrasi nilai-nilai Islam dalam pemanfaatan teknologi untuk mendukung kualitas pembelajaran di masa depan