Jurnal Online Fakultas Syariah dan Hukum (UIN Sunan Ampel Surabaya)
Not a member yet
974 research outputs found
Sort by
Implikasi Kedudukan KPK Sebagai Rumpun Kekuasaan Eksekutif Berdasarkan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2019
The development of modern state administration constitutes new branches of power outside the Legislative, Executive and Judicial power, as well-known in the concept of “trias politica”. This branch of power is an Independent power with the emergence of a number of independent State commissions. In Indonesia, one such institution is the Corruption Eradication Commission (KPK). However, Law Number 19 of 2019 changed the KPK to become part of the executive power. So that, in this paper will discuss about the position of independent state institutions in a constitutional perspective and the implications of establishing the KPK as an executive body. This research is a normative research with the type of doctrinal research. The approach uses statutory approach and a conceptual approach. The results show that independent power does exist in the modern constitutional perspective. However, the establishment of the KPK as an independent institution in the executive clump has several implications, including the transfer of KPK's responsibility to the President, the executive forming the Supervisory Board which regulates the work procedures of the KPK and the KPK becomes the object of the DPR's inquiry rights
Kepastian Hukum, Kemanfaatan dan Keadilan Pemidanaan Kejahatan Asal Usul Perkawinan (Analisis Putusan No. 387/Pid.B/2021/PN.Jmb)
Abstract: The essence of the purpose of law to realize certainty, expediency, and justice. The rule of law is created not only of juridical value, but also of philosophical and sociological value. This study examines the decision of the Jambi Disterict Court No. 387/Pid.B/2021/PN.Jmb which imposes imprisonment on polygamous perpetrators without the wife's and court's permission. The typology of research is in the form of normative legal research on the object of the study of legal principles with a case approach. This decision implies a conflict of legal certainty with the principle of justice and the usefulness of the law in relation to the position of the convict. Ideally, the punishment of the accused is accompanied by restitution by considering restorative justice, which is not only concerned with punishment and deterrence but also considers the protection of the victim’s family.
Keywords: Legal Principles, Court Decisions, Marriage Crime, Illegal Polygamy
Buku Pedoman Praktis Menuju Keluarga Sakinah sebagai Acuan Pembentukan Keluarga Sakinah
This paper aims to examine the book "Practical Guidelines Towards Sakinah Families" and "Guidelines Towards Islamic Households", which are guidelines for premarital courses regarding importance and effectiveness of marriage. The results of this study explain that the book "Practical Guide to a Sakinah Family" and "Guidelines to an Islamic Household" contain various marriage concepts complemented by verses from the Qur'an, hadith and multiple invocations. This content has observed fiqh because it summarises the books of Fath al-Izar, Fath al-Bari and Fath al-Mu'in. However, the content of both of them differs from the Compilation of Islamic Law in several respects, for example, related to balancing the husband and wife’s position. This is because the Compilation of Islamic Law is not a reference source in two guidelines. Even so, both lead to the same aim, which is forming a sakinah family. Therefore, there is a need for further studies related to the adequacy and appropriateness of the material presented and its sources, as well as the synergy between premarital activities tutors and KUA in implementing premarital guidance to obtain maximum results.
Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dari buku “Pedoman Praktis Menuju Keluarga Sakinah” dan buku “Tuntunan Menuju Rumah Tangga Islami” yang menjadi panduan dalam kegiatan mengaji pranikah, bak dari segi substansi ataupun efektifitasnya. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa buku “Pedoman Praktis Menuju Keluarga Sakinah” dan buku “Tuntunan Menuju Rumah Tangga Islami” memuat berbagai konsep mengenai pernikahan yang dilengkapi dengan ayat Alqur’an, hadis dan berbagai do’a. Muatan tersebut sudah sesuai dengan fikih karena merupakan rangkuman dari kitab Fath} al-Iza>r, Fath} al-Ba>ri> dan Fath} al-Mu’i>n. Akan tetapi, muatan keduanya tidak sesuai dengan Kompilasi Hukum Islam dalam beberapa hal, misalnya terkait konsep keseimbangan kedudukan suami dan istri. Hal ini tidak lain karena Kompilasi Hukum Islam bukan merupakan sumber rujukan penyusunan kedua panduan tersebut. Meskipun begitu, keduanya sama-sama bermuara pada pembentukan keluarga sakinah. Oleh karena itu, perlu adanya kajian lebih lanjut terkait kecukupan dan kesesuaian materi yang disampaikan beserta sumbernya serta adanya sinergitas antara guru pembimbing mengaji pranikah dengan pihak KUA dalam pelaksanaan bimbingan pranikah agar mendapatkan hasil yang lebih maksimal.
Analisis Maqasid al-Shariah Terhadap Pendapat Nasir Abdullah al-Maiman tentang Pernikahan Craniopagus
Craniopagus marriage (conjoined twins attached to the head) provokes a problem in marriage and household relations. It is where two siblings should be in a relationship with each partner, with their respective rights and obligations limited by the conjoined twins. Nasir 'Abdullah al-Maiman examines this in his profound judgment on marriage law. From his thought came out the statement that this Craniopagus marriage could still be carried out provided that all the conditions and pillars of the marriage were perfected because as long as both were fulfilled, the marriage remained valid. Even though they are physically limited (in this case, when conjoined twins carry out their obligations as husband and wife, for example, when providing sexual services). But Nasir still gave additional special conditions, namely maintaining aurot and things that were not permissible for his conjoined twins if another sibling had a conjugal relationship with the husband/wife. The study of maqasid al-shari'ah also supports this opinion that humans have the right to protect their offspring by applying hifz al-nasl (Protecting offspring).
Abstrak: Pernikahan Craniopagus (kembar siam dempet di kepala) merupakan sebuah permasalahan dalam jalinan pernikahan dan ke-rumahtangga-an, bagaimana tidak, dua orang saudara yang seharusnya menjalin hubungan dengan masing-masing pasangan dengan hak dan kewajiban masing-masing dibatasi dengan dempetnya kembar siam, hal inilah yang dikaji oleh Nasir ‘Abdullah al-Maiman dalam menghukumi lebih dalam tetang hukum pernikahannya. Dari sebuah pemikirannya keluarlah statemen bahwa pernikahan Craniopagus ini tetap boleh dilaksanakan dengan catatan semua syarat dan rukun pernikahannya tetap disempurnakan, karena selama keduanya terpenuhi maka nikah tetap sah. Walaupun dengan fisik terbatas (dalam hal ini ketika kembar siam melaksanakan kewajibannya sebagai suami maupun istri, misal ketika memberi pelayanan seksualitas). Tetapi Nasir tetap memberi tambahan syarat khusus yakni tetap menjaga aurot dan hal yang tidak diperbolehkan bagi si saudara kembar siamnya apabila saudara yang lainnya melakukan hubungan suami istri dengan sang suami/istrinya. Pendapat ini juga didukung dengan kajian maqasid al-shari’ah bahwa manusia mempunyai hak untuk dijaga kelangsungan keturunannya sebagai aplikasi dari hifz al-nasl (Menjaga keturunan).
Politik Uang: (Reunderstanding Inflasi dan Kurs dalam Ekonomi Islam)
Money is the blood of economic life, and its circulation requires financial institutions in the form of a monetary system for monetary control. One of the things that are feared by the modern monetary system is inflation, which is a symptom of a general and continuous increase in the price of goods, which can be caused by natural things such as supply and demand or caused by human error or caused by fluctuations domestic currency exchange rate. In Islamic Economics, the role of money as a medium of exchange has made it a tool for balancing a commodity, which in turn can impact inflation. Therefore, as recommended by the Prophet Muhammad, money cannot be used as a fair and honest exchange rate in anticipation of avoiding financial instability. Steps are required: spot exchange of money; expedited wages; zakat, infaq and alms; prohibition of monopoly on the distribution of wealth; usury prohibition; and prohibition of price fixing.
Abstrak: Uang merupakan darah dalam kehidupan berekonomi, di mana peredarannya membutuhkan keberadaan lembaga keuangan berupa sistem moneter guna pengendalian moneter. Salah satu hal yang ditakuti oleh sistem moneter modern adalah inflasi, yaitu sebuah gejala kenaikan harga barang yang bersifat umum dan terus-menerus, yang bisa diakibatkan oleh hal-hal bersifat alamiyah seperti supply and demand, atau disebabkan human error, atau disebabkan oleh naik turunnya kurs mata uang domestic. Dalam konsep Ekonomi Islam, peran uang sebagai medium of exchange telah menjadikannya mengambil alih sebagai timbangan bagi suatu komoditas, yang pada ujungnya bisa berdampak pada inflasi. Oleh karena itu, uang tidak dapat digunakan sebagai nilai tukar yang adil dan jujur. Sebagai antisipasi guna menghindari instabilitas keuangan, sebagaimana anjuran Rasulullah saw. diperlukan langkah-langkah: tukar-menukar uang secara spot; menyegerakan upah; zakat, infak dan sedekah; larangan monopoli peredaran kekayaan; larangan riba; dan larangan penentuan harga.
ASAS MONOGAMI TERBUKA DALAM PERUNDANG-UNDANGAN PERKAWINAN ISLAM DI INDONESIA
Abstract: The existence of the effort of the Islamic family law reform in a number of Muslim countries in the 20th century has resulted a number of Islamic law, which has been conceived and began to change, though many of the changes are not so radical. One of the changes is the emergence of the open principle of monogamous as manifested in Undang-Undang No. 1 year 1974 about marital contract. It is mentioned that the original principle of marriage is monogamous. However, in the next article, Undang-Undang about marital contract is likely to open a way for husband to do polygamy which is then called an open principle of monogamous. In fact, there is a similarity between understanding of classical jurisprudence and Undang-Undang of marital contract, it is allowing conducting polygamy. However, Undang-Undang of marital contract initiates that every husband who wants to be polygamous must gain the permission from religion court. This permission is the intersection between both since it is a manifestation of one of the conditions that must be met by a husband when he is about polygamy, which is fair to all wives. The purpose of all above considerations is indeed to minimize the chance of conducting polygamy that is in line with the purpose of the renewal of Islamic law itself, namely the improvement of the woman’s status.Abstrak: Adanya usaha pembaharuan Hukum Keluarga Islam di sejumlah negara Muslim pada abad ke-20 ini mengakibatkan sejumlah pokok-pokok Hukum Islam yang selama ini dipahami, mulai mengalami perubahan, meskipun banyak dari perubahan tersebut tidak begitu radikal (mendasar). Salah satu perubahannya adalah munculnya asas monogami terbuka dalam perundang-undangan perkawinan di Indonesia. Undang-undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menyebutkan, bahwa asas perkawinan itu monogami. Akan tetapi, pada pasal selanjutnya, UU Perkawinan tersebut masih membuka jalan bagi para suami yang ingin berpoligami. Inilah yang dinamakan asas monogami terbuka. Pada dasarnya, pemahaman dalam fikih klasik dan pemahaman dalam UU Perkawinan tidaklah berbeda, yakni sama-sama membolehkan poligami. Hanya saja, UU Perkawinan berinisiatif agar setiap suami yang hendak berpoligami, harus melalui izin pengadilan. Izin pengadilan inilah yang menjadi titik temu antara UU perkawinan dan fikih klasik, karena dalam izin pengadilan mangandung manifestasi salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh suami tatkala hendak berpoligami, yakni adil terhadap semua istri. Tujuan daripada semua ketentuan tersebut adalah mempersempit peluang terjadinya poligami sehingga berbanding lurus dengan tujuan pembaharuan Hukum Islam itu sendiri, yakni peningkatan status wanita di abad ini.Kata Kunci : Asas Monogami, Perundang-undangan, Fikih Klasi
Tinjauan Yuridis terhadap Penyalahgunaan Kegiatan Perbankan dalam Penghimpunan Dana Masyarakat oleh Koperasi: Studi Putusan Nomor 271/Pid.Sus/2018/PN.Pti
The existence of irregularities in banking activities carried out by non-bank institutions, in addition to violating applicable norms also results in losses for many people when there is embezzlement of funds. The juridical study of this literature research reveals that the implementation of criminal acts against violations of banking authority which in the judge's decision imposes criminal sanctions on cooperative leaders in the form of imprisonment for eleven years and an additional punishment in the form of a fine of ten billion provided that if not paid is replaced by imprisonment for six months economic offenses The judge's verdict which is more than the crimes committed by the perpetrator in harming society can be justified as stated in article 46 of the banking law. Non-bank institutions in the form of cooperatives in collecting public funds must obtain permission from the Minister of Cooperatives whose storage and use of funds is limited to their members, but if they carry out their services not from their members, it violates article 16 of the banking law. In addition, Article 59 of the Criminal Code also emphasizes that the leadership or management of a corporation that has a legal entity who commits a criminal act must bear the sanctions decided by the judge
Nolle Prosequi sebagai Inovasi Baru di Bidang Hukum Acara Pidana
Inovasi penyelesaian perkara di luar persidangan telah banyak dilakukan di Indonesia dari mulai mediasi, diversi, hingga yang terbaru adalah restorative justice. Jika kita cermati inovasi tersebut baru membebankan kesadaran menghentikan perkara hukum kepada para pihak. Maka rasanya perlu dilakukan perkembangan inovasi untuk turut serta memberikan peran bagi aparat penegak hukum dalam rangka mengkoreksi kekeliruan yang mungkin dilakukannya. Penelitian ini dilakukan dengan metode yuridis normatif. Pendekatan yang dipergunakan adalah pendekatan konseptual. Inovasi yang perlu dilakukan adalah memasukan nolle prosequi dalam sistem hukum di Indonesia. Nolle prosequi ini berasal dari perkembangan penegakan hukum di abad keenam belas. Nolle prosequi merupakan suatu wewenang atau perangkat prosedural yang dimiliki oleh Jaksa Agung Inggris untuk menghentikan penuntutan pidana. Beberapa negara di dunia seperti Malaysia, Hongkong, dan Nigeria memasukan nolle prosequi di dalam sistem hukum mereka
Peran Pusat Studi Gender dan Anak Dalam Mencegah Kekerasan Seksual di Kampus Perspektif Hukum Pidana Islam
Kekerasan seksual masih banyak terjadi di kampus, karena itu perlu ada pencegahan kekerasan seksual di perguruan tinggi. Di UIN Sunan Ampel Surabaya, salah satu lembaga yang berperan penting dalam mencegah kekerasan seksual di kampus adalah pusat studi gender dan anak (PSGA). Artikel ini membahas tentang peran PSGA UIN Sunan Ampel Surabaya dalam mencegah kekerasan seksual di kampus dalam prespektif hukum pidana Islam. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dan kualitatif. Penelitian dilakukan di UIN Sunan Ampel Surabaya. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Data yang terkumpul dideskripsikan untuk dianalisis secara deduktif dengan menggunakan perspektif hukum pidana Islam (fiqh al-jinayah). Hasil penelitian menyebutkan bahwa PSGA UIN Sunan Ampel Surabaya berperan penting dalam mencegah kekerasan seksual di kampus. PSGA UINSA berupaya mencegah kekerasan seksual di kampus dengan menerapkan asas kampus responsive gender, membentuk SATGAS PPKS, dan aktif mensosialisasikan anti kekerasan seksual di kampus kepada stake holder. Jika ada laporan kekerasan seksual di kampus, maka PSGA berkoordinasi dengan pihak terkait dalam menyelesaikan kasus tersebut dengan memberikan hukuman kepada pelaku dan melindungi korban sesuai dengan prosedur yang ada. Dalam perspektif hukum pidana Islam, peran PSGA tersebut telah sesuai dengan teori zawajir (pencegahan) dan jawabir (paksaan)
Konsekuensi Legal Kegagalan Upaya Diversi Terhadap Anak yang Berhadapan dengan Hukum dalam Tindak Pidana Narkotika
Fenomena pelaku tindak pidana narkotika di tengah kehidupan masyarakat dewasa ini, tidak hanya berasal dari orang dewasa namun, tidak sedikit anak terjerumus dalam tindak pidana narkotika. Penegakan hukum terhadap segala bentuk kejahatan harus ditegakkan, tidak terkecuali sanksi hukum dijatuhkan kepada anak yang berhadapan dengan hukum. Namun, cara penanganan kepada anak diperlakukan secara berbeda dibandingkan penanganan tindak pidana orang dewasa, saat ini upaya diversi dianggap pilihan terbaik bagi anak yang berhadapan dengan hukum namun dalam penerapannya kegagalan upaya diversi selalu ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mencoba melakukan kajian lebih lanjut pada konstruksi diversi dan akibat hukumnya dalam hal diversi gagal dilaksanakan. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif melalui pendakatan undang-undang. Sumber data ialah data sekunder meliputi, bahan hukum primer juga sekunder yang dianalisis dengan kualitatif. Kesimpulan dari penelitian, pertama, bahwa diversi terhadap anak dengan pendekatan restorative justice telah dikontruksikan oleh UU SPPA berikut peraturan-peraturan sebagai pelaksanaannya. Kedua, diversi kepada anak yang terlibat tindak pidana narkotika yang tidak dilaksanakan atau gagal dilaksanakan berakibat hukum proses penyelesaiannya dilakukan melalui pengadilan yang dapat berujung pemidanaan terhadap anak