Jurnal Online Fakultas Syariah dan Hukum (UIN Sunan Ampel Surabaya)
Not a member yet
    974 research outputs found

    Peranan Pembiayaan Mudha>rabah dalam Pengembangan Usaha Mikro Kecil pada KJKS Manfaat

    Get PDF
    The purpose of this paper is: (1) to find out how to finance mud}a>rabah in KFKS Manfat, and (2) to find out how the role of financing in the development of micro and small businesses in KJKS Benefits. At the end of the paper concludes with two conclusions. First, mud financing} a rabah in KJKS Benefit is financing which has the role of cooperation in business between the two parties, namely the first party as the owner of capital, KJKS and the second party manager, the KJKS member and the profits are divided according to the agreement between the two sides. Secondly, the role of mud}a>rabah financing in micro small businesses is as a venture capital with a profit sharing system, using a contract that is in accordance with Islamic sharia or cooperation between s}a>hib al-ma>l and mud}a>rib, where mud} arib is limited by restrictions on the type of business, time and place of business and Determination of the amount of profit sharing is made at the time of the contract and by referring to the profit and loss

    Konsep Rukhsah bagi Tenaga Medis dengan Alat Pelindung Diri saat Menangani Pasien COVID-19

    Get PDF
    Many scholars have discussed the principle of freedom on Islamic law, Particularly the topic related to qawa'id fiqhiyyah and one of which is the principle of al-mashaqqah tajlibu al-taysir (Difficulty calls for facilitation). This research is a qualitative study in which the method used is a descriptive and qualitative one to analyze or describe facts or problems that arise in the medical team with personal protective equipment (APD) relating to MUI fatwa number 17 of 2020 through direct or indirect approach and its relevance to the concept of rukhsah in the rules of al-mashaqqah tajlib al-taysir (Difficulty calls for facilitation). This article concludes that a rukhsah relating to the principle of al-mashaqqah tajlib al-taysir which give rise to the difficulty relating to the massive spread of Covid-19 is not because of negligence but the use of APD while it is not possible to perform wudu' or use dust (tayammum), so the medical team falls under the category of faqid al-tahurain. Thus, the medical personnel who wears APD are permissible to perform prayer without performing wudhu' or tayammum

    Perlindungan Hukum terhadap Anak dalam Nikah Siri

    Get PDF
    Married couples must meet religious and state law. In Islamic law, marriages must be fulfilled, the harmony of the marriage, the bride and groom, prospective guardians, marriage, two people, consent and Kabul, while state law, needs to be added validity, marriage, must be in accordance with applicable law. However, not a few marriages in areas that carry out their marriages are only based on religious law and customary law, without involving Marriage Registrar to improve this marriage by considering siri marriages that increase returns to desired husbands and children. Civil rights are not guaranteed at the time of marriage to a siri marriage because the child will not obtain citizenship status, and the child only has a civil relationship with the mother and related family, which basically requires the cost of child care

    Nalar Integrasi Fikih dan Psikologi Keluarga dalam Pandangan Hakim Agama Jawa Timur Tentang Hak Asuh Anak Pasangan Murtad

    Get PDF
    One of the causes of divorce which was decided by a Religious Court judge was because of the apostasy of one of the spouses. Divorce due to apostasy leaves problems in parenting. To whom the child custody will be given must be considered by the judge. This research is empirical research (field study) with fiqh and family psychology approach to get an understanding of the basic considerations of judges in establishing child custody in the case of an apostate partner. Through interviews and documentation, the study found, that the consideration of judges based on three things: first, normative basis, which is based on the consideration of Constitution No. 1 of 1974, Compilation of Islamic Law, Constitution No. 7 of 1989 Jo. Constitution Number 30 of 2006 concerning Childcare, and Number 23 of 2002, Supreme Court jurisprudence Number 210 / K / AG / 1990. Second, fiqh basis, which refers to the requirements of the Hadhanah which are in line with fiqh and the provisions of the Hadhanah based on Syafii's Madzab. Third, the psychological basis, which considers all psychological problems related to children. By using this integrative analysis the judge considers that the requirements for Muslims to care for children are in line with psychological values, that the family must provide Islamic education to shape the child's mental spirit

    Desain Pengembangan Kurikulum Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya Berbasis Integrated Twin Towers

    No full text
    Abstrak:         Artikel ini dimaksudkan untuk mengetahui integrasi antara Ilmu Falak dan astronomi dalam kurikulum Ilmu Falak, dan mendesain pengembangan kurikulum Ilmu Falak di UIN Sunan Ampel Surabaya yang berbasis integrated twin towers. Integrasi ilmu falak dan astronomi pada prodi studi ilmu falak sudah tampak pada level materi. Sebaran mata kuliah yang diberikan dalam pembelajaran di prodi ilmu falak memasukkan rumpun ulmu ilmu falak dan ilmu astronomi. Rumpun ilmu falak seperti Pengantar Ilmu Falak, Fiqh Mawaqit, Tafsir Ayat Hukum Falak, Hadis Hukum Falak, Sistem Penanggalan, Hisab Arah Kiblat & Waktu Shalat, Hisab Awal Bulan Qamariyah, Hisab Gerhana Bulan, Hisab Gerhana Matahari, Perangkat Rukyat Non-Optik, Perangkat Rukyat Optik, Kajian Teks Kitab Ilmu Falak, Praktikum Falak, dan Praktik Hisab dan Rukyah. Adapun rumpun ilmu astronomi meliputi; Dasar-Dasar Astronomi, Astronomi, Dasar-Dasar Astronomi Bola, Astronomi Bola, Dasar-Dasar Astrofisika, Astrofisika, Matematika, Studi Hisab dan Rukyat di Pelbagai Negara, Astronomi dan Kebudayaan. Adapun pada level filosofis dan strategi pembelajaran, integrasi keilmuan tidak terlalu tampak. Kedua, Desain kurikulum prodi ilmu falak dalam paradigma integrated twin towers diupayakan pada level materi dan metode pembelajaran. Level materi dan pembelajaran berjalan secara beriring. Kata Kunci:   Ilmu Falak, Astronomi, Kurikulum Berbasis Integrated Twin Towers   Abstract:        This article was intended to determine the integration between Falak Science and astronomy in the Falak Science curriculum, and design the development of the Falak Science curriculum at UIN Sunan Ampel Surabaya based on integrated twin towers. The integration of falak and astronomy in astronomy study programs appeared at the material level. The distribution of courses given in learning at the astronomy study program includes the ul clump of astronomy and astronomy. Falak clusters such as Introduction to Falak Science, Mawaqit Fiqh, Falaf Law Interpretation, Falak Law Hadith, Calendar System, Reckoning of Qibla Direction & Prayer Times, Preliminary Reckoning of Qamariyah, Reckoning of Moon Eclipse, Reckoning of Sun Eclipse, Non-Optic Ruling Hadith, Calendar System, Reckoning of Qibla Direction & Prayer Times, Preliminary Reckoning of Qamariyah, Reckoning of Moon Eclipse, Reckoning of Solar Eclipse, Non-Optic Ruling Hadith, Devices Rukyat Optik, Text Study of the Book of Falak Science, Falak Practicum, and Hisab and Rukyah Practices. The astronomy family includes; Basics of Astronomy, Astronomy, Basics of Ball Astronomy, Ball Astronomy, Basics of Astrophysics, Astrophysics, Mathematics, Hisab and Rukyat Studies in Various Countries, Astronomy and Culture. As for the philosophical and learning strategy levels, scientific integration is not very visible. Second, the curriculum design of the celestial study program in the integrated twin towers paradigm is pursued at the level of material and learning methods. Material and learning levels go hand in hand. Keywords:     Falak Science, Astronomy, Integrated Twin Towers Curriculu

    Sumpah Pocong dalam Perspektif Hukum Islam

    No full text
              Penyebab dan proses pelaksanaan terjadinya sumpah pocong di Masjid Madegan Desa Polagan Sampang Madura bahwa sumpah pocong ini merupakan tradisi penyelesaian sengketa secara turun temurun sampai saat ini khusunya dalam studi kasus sengketa tanah milik ahli waris Siti Romlah dimana siti Romlah sebagai penggugat dan paman Nasiruddin sebagai tergugat, dalam kasus ini tidak cukup bukti dan saksi jika diproses melalui jalur peradilan. Proses proses pelaksanaan terjadinya sumpah pocong terdapat beberapa cara antara lain berbalut dengan kain dengan beberapa cara. Cara membuktikan sumpah pocong yaitu konsekuensi dari orang yang bersalah akan mendapatkan hukuman dari Tuhan berupa kematian atau tidak mempunyai rasa hidup serta lebih berkaitan dengan harga diri, harkat dan martabat dan perasaan malu dengan adanya sumpah pocong tersebut.        Peran kiai dan hakim dalam penyelesaian sengketa tanah tersebut semua masyarakat ikut berperan dalam sumpah pocong di masjid Madegan Sampang dimana Kepala Desa setempat membuat surat pernyataan pelaksanaan sumpah pocong untuk diajukkan kepada kepala desa Polagan. Surat pernyataan tersebut juga harus diketahui oleh Kapolsek dan Danramil setempat. Menurut Kapolsek dan Danramil kalau surat pernyataan tidak segera dilaksanakan sumpah pocong, dikhawatirkan terjadi carok, setelah semuanya ditanda tangani maka praktik tersebut dilakukan oleh penggungat dan tergugat dengan disertai Kyai, serta para hakim yang terlibat dalam penelitian ini.        Tinjauanhukum Islam tentang sumpah pocong dalam kasus penyelesaian sengketa tanah di Desa Polagan Sampang Madurasumpah ada dua macam yaitu sumpah suppletoir dan sumpah decisoir. Dalam keadaan tanpa bukti sama sekali, hakim akan memberikan sumpah decisoir atau sumpah pemutus yang sifatnya tuntas, menyelesaikan perkara. Dengan menggunakan alat sumpah decisoir, putusan hakim akan semata-mata tergantung kepada bunyi sumpah dan keberanian pengucap sumpah. Sumpah itu dikaitkan dengan sumpah pocong.Berdasarkan praktik tersebut maka sumpah pocong dalam hukum Islam diperbolehkan dimana dari sumpah tersebut untuk menguatkan dari pembuktian yang dinyatakan oleh pihak tertuduh

    Penegakan Hukum Pidana Lingkungan di Indonesia

    Get PDF
    The definition of environmental crime is to pollute and damage the environment, as stipulated in 98-115 UUPPLH. In UUPPLH there are two principles in the use of criminal law facilities, namely as ulmitimum remedium and remedium premium. Whereas in its formulation, there are formal criminal and material criminal acts, even formal and material ones, namely Article 98 paragraph (2), (3) and article 99 paragraph (2), (3) UUPPLH. Criminal Law Subjects in UUPPLH are individuals, legal entities and environmental officials. Enforcement of criminal law in the field of environment in Indonesia is currently not in line with community expectations. Judging from the legal structure, because (1) judicial products are not sensitive to environmental crisis and sense of justice, (2) weakness in terms of law enforcement infrastructure, (3) environmental officials who commit environmental crimes in various forms, and (4) failure of government bureaucracy because it is insensitive to ecological premises. As for the substance of the law, because horizontally there are many policies that overlap and do not take sides with the interests of the environment, both in formulation and in its application. For legal culture, because (1) there are perceptions from law enforcement officials that environmental cases are ordinary cases, (2) still poor legal culture, (3) lack of socialization to the public regarding environmental law, and (4) economic downturnPengertian tindak pidana lingkungan adalah mencemarkan dan merusak lingkungan, sebagaimana diatur dalam 98-115 UUPPLH. Dalam UUPPLH terdapat dua asas dalam penggunaan sarana hukum pidana, yaitu sebagai ulmitimum remedium dan premium remedium. Sedangkan dalam perumusannya, terdapat pidana formil dan tindak pidana materiil, bahkan ada yang formil sekaligus materiil, yaitu Pasal 98 ayat (2), (3) dan pasal 99 ayat (2), (3) UUPPLH. Subyek Hukum Pidana dalam UUPPLH adalah individu, badan hukum  dan pejabat lingkungan. Penegakan hukum pidana di bidang lingkungan hidup di Indoensia saat ini belum sesuai harapan masyarakat. Dilihat dari struktur hukumnya, karena (1) produk peradilan tidak sensitif terhadap krisis lingkungan dan rasa keadilan masyarakat, (2) kelemahan dalam hal infrastuktur penegak hukum, (3) oknum pejabat lingkungan yang melakukan tindak pidana lingkungan dalam berbagai fariannya, dan (4) kegagalan birokrasi pemerintah karena tidak sensitif terhadap premis-premis ekologis. Sedangan dari substansi hukum, karena secara horizontal banyak kebijakan yang tumpang tindik dan tidak berpihak pada kepentingan lingkungan, baik dalam perumusan maupun dalam penerapannya. Untuk kultur hukum, karena (1) adanya persepsi dari aparat penegak hukum bahwa kasus lingkungan merupakan kasus biasa, (2) masih buruknya budaya hukum, (3) kurangnya sosialiasi kepada masyarakat terkait hukum lingkungan, dan (4) kondisi keterpurukan ekonomi. Kata kunci: Hukum pidana lingkungan, Indonesia, Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

    Tindak Pidana Pencurian Menurut Muhammad Syahrur dan Relevansinya di Era Modern

    Get PDF
    Artikel ini adalah hasil penelitian kepustakaan tentang “Studi Analisis Teori H}udud dalam Aspek Tindak Pidana Pencurian menurut Pemikiran Muhammad Syahrur dan relevansinya di Era Modern†penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimanakah pemikiran Muhammad Syahrur tentang teori h}udud dalam aspek tindak pidana pencurian dan bagaimana pula relevansi teori tersebut di era modern saat ini. Penelitian bersifat bibliographic research, yaitu penelitian yang memfokuskan pada penelitian kepustakaan dengan cara mengumpulkan, membaca, dan menelaah literatur-literatur tentang pemikiran Muhammad Syahrur dalam aspek tindak pidana pencurian dan relenvansinya di era modern. sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis, yakni memaparkan atau menggambarkan pemikiran Syahrur tentang teori h}udu<d dalam aspek tindak pidana pencurian dan relevansinya di era modern kemudian dianalisa secara mendalam dengan menggunakan pola pikir deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut pandangan Muhammad Syahrur kata-kata qat}a‘a dalam konteks pencurian bisa diartikan sebagai pemotongan secara fisik maupun non fisik. Syahrur menilai bahwa pemotongan secara fisik pada ayat tersebut merupakan hukuman maksimal (batas atas) yang bisa diterapkan sedangkan pemotongan non fisik dengan pemotongan kekuasaan atau kemampuan tangan pencuri agar tidak bisa mencuri dengan memasukkannya ke dalam penjara merupakan hukuman yang bisa diterapkan di bawah batas atas tersebut itu berarti ruang ijtihad manusia berada di bawah batas  atas tersebut. Adapun relevansi pemikiran Muhammad Syahrur dengan konteks hukum di era modern adalah sangat sesuai jika dilihat dari sifat dan jenis hukumannya jika disejajarkan dengan hukum di era modern yang mempunyai sifat dinamis dan berkembang sesuai dengan konteks ruang dan waktu. Dengan hukuman dimasukkan ke dalam penjara bagi pelaku tindak pidana pencurian, maka sesuai dengan salah satu unsur hukum modern yakni penegakan HAM. Dengan dihukum penjara maka dia tidak akan bisa untuk mengulangi perbuatannya kembali dan sebagai tempat introspeksi agar dia mau bertobat

    Tinjauan Filsafat Hukum Islam terhadap Sanksi Pidana Delik Kondermoord Pasal 342 KUHP

    Get PDF
    The article discusses a review of Islamic legal philosophy towards offense sanctions in the form of the Article 342 of the Criminal Code ". Kindermoord criminal sanctions Article 342 of the Criminal Code, namely murder carried out by a mother intentionally planning her intentions for a child / baby who will or not be born soon because of fear of being found out by another person, imprisoned for a maximum of nine years. In Islamic law the criminal sanctions of deliberate murder are qisas. However, in the offense of the victims' kind is the biological child of the offender, the sanctions imposed depend on the fulfillment of the conditions. In Islamic criminal law, qi??? punishment can be erased if the one who kills the victim's parents. If the basic sentence cannot be dropped, then instead it includes the ta'zir sentence whose form of punishment is fully handed over to Ulul ul Amri or the ruler with a record in the interest of the community. In the philosophy of Islamic law, the sanctions for the kindermoord offense include jar?mah ta'zir. Where the sentence is relevant to the legal objectives, namely the attainment of the benefit of the people, as a punishment that can give a deterrent effect to the perpetrators, so as to bring goodness to the community as a whole and preventive functioning of the possibility of repetition of the same type of crime, and repressively educating the perpetrators the good and realize the mistake. So that a judge in taking policy in punishment is adjusted to the benefit of the people based on the value of justiceArtikel membahas tentang tinjauan filsafat hukum Islam terhadap sanksi delik kindermoord pasal 342 KUHP”. Sanksi pidana delik Kindermoord  Pasal 342 KUHP, yaitu pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu dengan sengaja merencanakan niatnya terhadap anak/bayi yang akan atau tidak lama setelah dilahirkan karena takut ketahuan orang lain, mendapat sanksi hukuman penjara paling lama sembilan tahun.               Dalam hukum Islam sanksi pidana pembunuhan sengaja adalah qi???. Akan tetapi dalam delik kindermoord korban adalah anak kandung pelaku, maka sanksi yang dijatuhkan tergantung kepada pemenuhan syarat-syaratnya. Dalam hukum pidana Islam, hukuman qi??? dapat terhapus apabila yang membunuh orang tua korban. Jika hukuman pokok tidak dapat dijatuhkan maka sebagai gantinya termasuk hukuman ta’zir yang bentuk hukumannya diserahkan sepenuhnya kepada Ulul ‘Amri atau penguasa dengan catatan demi kepentingan masyarakat. Dalam filsafat hukum Islam memandang sanksi delik kindermoord termasuk jar?mah ta’zir. Dimana hukuman tersebut sudah relevan dengan tujuan hukum yaitu tercapainya kemaslahatan umat, sebagai hukuman yang dapat memberikan akibat jera kepada pelaku, sehingga mewujudkan kebaikan bagi masyarakat secara menyeluruh serta berfungsi preventif terhadap kemungkinan terjadinya pengulangan jenis kejahatan yang sama, dan represif mendidik pelaku agar ia menjadi orang yang baik dan menyadari kesalahan. Sehingga seorang hakim dalam mengambil kebijakan dalam hukuman disesuaikan dengan kemaslahatan umat yang berdasarkan pada nilai keadilan. Kata Kunci: Filsafat hukum Islam, kindermoord, KUHP

    Mahkamah Syar'iyah dalam Perspektif Politik Hukum Indonesia

    Get PDF
    The Law of Judicial Power, applies equally to all citizens in the Judicial process, but for the Province of Aceh it is treated differently. The indication is the existence of the Syar'iyah Court (Special Court for Muslims) based on Law Number 18 Year 2001, whereas in Aceh Province there are very many citizens who are Catholic, Protestant and Other, so that it seems disharmony in the judicial power system in Indonesia. The results showed that the establishment of the Syar'iyah Court was part of a strategy in special autonomy in Aceh Province, so that most of the people in the Province of Aceh turned out to support and not contradict the existence of the Syar'iyah Court Institute, since it was established and formalized on March 3, 2003 by the Chief Justice Supreme Republic of Indonesia. The Syar'iyah Court stands in existence, side by side with the General (State) Judiciary, the State Administrative and Military Courts which apply equally to all Acehnese citizens. Granting special autonomy to the Province of Aceh in line with the Decree of the Prime Minister of the Republic of Indonesia number; 1 / Mission / 1959 signed by Mr. Hardi as Deputy Prime Minister / Chairperson of the Central Government (Jakarta) delegation to Aceh Province.   Abstrak: Undang-undang tentang Kekuaasaan Kehakiman memberlakukan sama semua warga Negara dalam proses Peradilan, akan tetapi untuk Provinsi Aceh diberlakukan berbeda. Indikasinya adanya Mahkamah Syar’iyah (Peradilan khusus bagi orang Islam) berdasarkan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2001. Padahal di Provinsi Aceh sangat banyak warga negara yang beragama Khatolik, Protesten dan beragama Lain, sehingga terkesan disharmoni dalam system kekuasaan kehakiman di Indonesia. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendirian Mahkamah Syar’iyah ini adalah sebagian strategi dalam otonomi khusus di Provinsi Aceh, sehingga sebagian besar masyarakat di Provinsi Aceh ternyata mendukung dan tidak mempertentangkan keberadaan Lembaga Mahkamah Syar’iyah, sejak didirikan dan diresmikan tanggal 03 Maret 2003 oleh Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia. Mahkamah Syar’iyah berdiri eksis, berdampingan dengan Lembaga Peradilan Umum (Negeri), Peradilan Tata Usaha Negara dan Peradilan Militer yang berlaku sama bagi semua warga masyarakat Aceh. Pemberian otonomi khusus kepada Provinsi Aceh sejalan dengan Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia Nomor: 1/Missi/1959 yang ditandatangani oleh Mr. Hardi selaku Wakil Perdana Menteri / Ketua utusan Pemerintah Pusat (Jakarta) ke   Provinsi Aceh

    830

    full texts

    974

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Fakultas Syariah dan Hukum (UIN Sunan Ampel Surabaya)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇