Murhum - Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini
Not a member yet
641 research outputs found
Sort by
Model Pendekatan Taman Indria Ki Hadjar Dewantara dan Implementasinya dalam Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan anak usia dini merupakan fase kritis dalam pembentukan pengembangan anak. Salah satu individu yang sangat berperan dalam pengembangan pendidikan ini adalah Ki Hadjar Dewantara, pencetus Taman Siswa yang gigih memperjuangkan akses pendidikan bagi semua anak, termasuk dari kalangan pribumi. Konstribusi beliau telah membawa perubahan besar dalam tata cara pendidikan di Indonesia. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, pendekatan Taman Indria menjadi fokus utama. Implementasi pendekatan Taman Indria menawarkan metode pembelajaran menarik dan menyenangkan bagi anak-anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui model pendekatan Taman Indria Ki Hadjar Dewantara dan implementasinya dalam pendidikan anak usia dini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan kajian kepustakaan (Library Research), pengumpulan data yang dilakukan dengan cara meninjau dan menganalisis berbagai sumber pustaka yang sudah dipublikasikan, termasuk buku dan artikel ilmiah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pendekatan Taman Indria Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya pembelajaran berbasis alam, pengembangan keterampilan holistik, pendidikan karakter, dan integrasi lintas mata pelajaran. Dengan memanfaatkan alam sebagai sumber pembelajaran, anak-anak dapat memperoleh pemahaman mendalam tentang lingkungan mereka. Model ini memberikan inspirasi bagi pendidikan anak usia dini dengan fokus pada pengembangan karakter, integrasi kurikulum, dan pengalaman belajar yang berarti di alam terbuka
Peran Guru Penggerak : Motivasi Guru Kelas Mengikuti Program Guru Penggerak
Salah satu program mengembangkan potensi guru adalah program guru penggerak. Pemerintah membuat program guru penggerak agar menjadi agen perubahan di sekolah. Kedudukan program guru penggerak dilingkungan sekolah tidak sebatas mencerdaskan siswa melainkan membentuk perilaku serta sikap yang baik didalam diri mereka. Penelitian ini tujuannya agar memahami dan mendeskripsikan peranan guru penggerak didalam memotivasi guru kelas agar ikut program guru penggerak. Peneliti ini menerapkan penelitian kualitatif dengan memakai metode fenomenologi. Meskipun jenis penelitian ini bersifat deskriptif dan tujuannya agar peneliti agar mudah untuk mendeskripsikan perang guru penggerak dalam memotivasi guru Kelas untuk mengikuti program guru penggerak di SDN 018 Sorek Satu. Pada penelitian ini, wawancara, observasi, serta dokumentasi yakni teknik pengumpulan data. Instrumen penelitian dipakai yakni lembar angket, lembar pedoman wawancara serta dokumentasi. Hasil penelitian memperlihatkan jika ada beberapa peran seorang guru penggerak didalam memotivasi guru kelas agar ikut program guru penggerak yaitu : guru penggerak memberikan motivasi kepada teman sejawat, menjadi teladan dengan memberikan contoh yang baik sebagai agen perubahan pembelajaran, menjadi pelatih, dan pemberi informasi terkait program guru penggerak
Pelatihan Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam Penyusunan Modul Ajar Kurikulum Merdeka bagi Guru Pendidikan Anak Usia Dini
Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru PAUD dalam memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk menyusun modul ajar yang sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka. Dilaksanakan di Gugus II Aster Surakarta dengan menggunakan metode Participatory Action Research (PAR). Pelatihan ini melibatkan guru-guru PAUD dari Gugus I Teratai dan Gugus II Aster Surakarta dalam rangkaian kegiatan pelatihan serta pendampingan intensif. Melalui metode PAR, para peserta secara aktif berpartisipasi dalam setiap tahap kegiatan, mulai dari identifikasi kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Hal ini bertujuan agar guru tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan AI dalam konteks pembelajaran yang konkret khususnya dalam penyusunan modul ajar kurikulum merdeka. Hasil dari kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas modul ajar yang disusun oleh guru PAUD, sehingga dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih kreatif, inovatif, dan adaptif bagi anak-anak. Selain itu, diharapkan kegiatan ini dapat mendorong guru untuk terus mengembangkan kompetensi mereka dalam memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran
Peran Media Permainan “MERIYAH” terhadap Pengenalan Huruf Hijaiyyah pada Anak Usia Dini
Pada tahun 2018, masyarakat Indonesia masuk kedalam kategori buta huruf Al-Qur’an dengan persentase sebesar 65 % . Selama proses pembelajaran membaca huruf hijaiyyah metode yang digunakan guru tidak sesuai dengan karakteristik anak, dan guru hanya menggunakan media pembelajaran yang masih monoton dan kurang kreatif, akibatnya anak-anak memiliki masalah dengan kurangnya kemampuan mengenal huruf hijaiyyah. Tujuan penelitian ini adalah melihat efektifitas penggunaan media permainan “MERIYAH” dalam meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal huruf hijaiyyah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif model preexperimental one group pretest posttest dengan uji-t satu arah pada hasil pretest dan posttest. Populasi pada penelitian ini adalah anak-anak berusia 5-6 tahun, yang duduk dikelompok TK/RA B, adapun sampel penelitian adalah 2 lembaga TK/RA yaitu RA Ziyadatul Hasanah dan RA Qurotal Ain. Hasil t-test menunjukkan nilai sebesar -35.608 dengan hasil signifikasi (2-tailed) sebesar 0.000 sehingga 0.000 < 0.005 , artinya hasil signifikasi (2-tailed) sebesar 0.000 lebih kecil dari 0.005 dapat disimpulkan bahwa media permainan MERIYAH efektif digunakan untuk meningkatkan pengenalan huruf hijaiyyah pada anak usia dini
Analisis Perencanaan Pembelajaran dalam Pengembangan Kreativitas untuk Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui rencana pelaksanaan pembelajaran dalam merangsang kreativitas yang diterapkan melalui kegiatan-kegiatan dengan memadukan nilai-nilai Pancasila untuk mewujudkan profil pelajar pancasila. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis rencana pelaksanaan pembelajaran dalam pengembangan kreativitas. Perencanaan yang dianalisis terdiri dari empat perencanaan yaitu; RPP minggu 8 sub topik Makanan Khas Nusantara, minggu 9 sub topik Pakaian Adat, minggu 10 sub topik Jamu, minggu 11 sub topik Kreasiku. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dari 1 guru kelas kelompok A. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi. Dokumentasi berupa empat perencanaan pelaksanaan pembelajaran. Validasi data menggunakan triangulasi teknik. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis konten. Disini peneliti mengurai setiap kegiatan dalam dukungannya mengembangkan kreativitas anak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 50% kegiatan yang dapat mengembangkan kreativitas. Adapun macam kegiatannya yang semuanya termasuk jenis main pembangunan yaitu; membangun warung makan nusantara/membangun pabrik jamu, masakan nusantara apa yang akan kamu buat, menggambar bebas, kreasi apa yang akan kamu buat dengan bahan-bahan ini, asyiknya bermain eksperimen sederhana, kreativitas apa yang akan kamu buat hari ini. Kesimpulannya untuk mengembangkan kreativitas dilakukan dengan main pembangunan. Main pembangunan adalah main yang ide-ide anak disajikan melalui media
Penerapan Pendekatan Play-Based Learning dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa
Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis guru dalam menerapkan pendekatan Play-Based Learning dalam meningkatkan minat belajar siswa PAUD dan TK. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengambilan data wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan di kelas Kindergarten-2 dengan jumlah 2 guru sebagai subjek penelitian. Teknik analisis data menggunakan Teknik analisis data dengan proses pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, varifikasi yang disajikan secara deskriptif kualitatif kepada guru kelas, Eksekutif Kepala Sekolah, dan Konselor Sekolah. Hasil penelitian ditemukan bahwa, 1) Siswa terlihat sangat fokus, antusias dan menikmati proses belajar dengan metode belajar tersebut; 2) Siswa dengan mudah dapat menyerap materi yang dijelaskan oleh guru; 3) Secara tidak langsung, siswa juga berkembang secara sosial dan emosional; dan 4) Aktifitas yang dilakukan dengan metode belajar tersebut juga berintegrasi dengan aspek pembelajaran lainnya. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa penerapan guru dalam metode Play-Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar anak karena metode belajar tersebut berintegrasi dengan aspek lainnya untuk memfasilitasi pengalaman pendidikan yang produktif dan efisien, tujuannya adalah untuk membangun proses belajar mengajar yang efisien dan efektif
Implementasi Pembelajaran Akhlak dengan Pencuplikan Video Animasi
Penelitian ini mendalami implementasi pembelajaran akhlak dengan memanfaatkan video animasi di Posko KKN Mas Kelurahan Tanjung Mentok, Bangka Barat. Tujuan utama penelitian adalah untuk meningkatkan pemahaman etika dan moral peserta KKN melalui pendekatan inovatif ini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) dengan melibatkan sejumlah 29 peserta anak-anak sebagai kelompok eksperimen yang menerima pembelajaran dengan video animasi, sementara 10 peserta kelompok kontrol yang mendapatkan pembelajaran konvensional.Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner. Analisis data dilakukan untuk mengukur perbedaan pemahaman akhlak antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan video animasi sebagai alat bantu pembelajaran mampu memenuhi nilai KKM yang telah ditentukan sekolah dengan menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam hal pemahaman etika dan moral anak-anak. Secara keseluruhan, implementasi pembelajaran akhlak dengan menggunakan video animasi di Posko KKN Mas Kelurahan Tanjung Mentok, Bangka Barat, merupakan langkah progresif menuju peningkatan kesadaran moral dan etika di masyarakat. Dengan melibatkan masyarakat secara langsung melalui medium ini, diharapkan terbentuk pola pikir dan perilaku yang lebih positif dalam menjalani kehidupan sehari-hari
Pengaruh Metode Kamishibai dalam Kegiatan Bercerita terhadap Kemampuan Bahasa Reseptif Anak Usia 5-6 Tahun
Metode kamishibai merupakan salah satu metode yang tepat dalam mengemas literasi menjadi kegiatan menyenangkan bagi AUD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode kamishibai dalam kegiatan bercerita terhadap kemampuan bahasa reseptif anak usia 5-6 tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu quasi experimental design dengan nonequivalent control group design yang dilaksanakan di tiga lembaga Taman Kanak-kanak, yakni TK Khadijah Ahmad Yani Surabaya, TK Aisyiyah 16 Surabaya, dan RA Baitul Karim. Hasil uji hipotesis menggunakan uji Mann-Whitney U yang menghasilkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 dengan taraf signifikansi sebesar 0,05. Analisis uji hipotesis tersebut memperoleh kesimpulan bahwa hipotesis alternatif (Ha) diterima atau terdapat pengaruh metode kamishibai dalam kegiatan bercerita terhadap kemampuan bahasa reseptif anak usia 5-6 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode kamishibai dalam kegiatan bercerita memberikan impak yang positif terhadap kemampuan bahasa reseptif anak. Anak mampu menyatakan komentar dan pertanyaan, mampu menanggapi bacaan secara aktif seperti menceritakan pengalaman terkait topik cerita, menjawab pertanyaan tentang kosakata baru, dan menyimpulkan cerita yang dibacakan, mampu mengenali beberapa unsur cerita dengan baik, mulai dari karakter, seting, hingga masalah yang sedang dihadapi tokoh tersebut, serta mampu melanjutkan sebagian cerita dan menceritakannya kembali
Analisis Penggunaan Gadget terhadap Kemampuan Berbahasa pada Anak Usia Dini
Gadget merupakan salah satu produk hasil teknologi modern yang banyak digunakan oleh manusia, mulai kalangan anak-anak, remaja sampai dewasa. Banyak sekali manfaat yang dapat dirasakan dari gadget itu sendiri, akan tetapi jika penggunaannya berlebihan tanpa adanya kontrol. Hal ini dapat memberikan efek negatif terhadap penggunanya terlebih jika penggunanya merupakan anak usia dini yang dimasa itu merupakan usia penting dalam kehidupan manusia. Perkembangan bahasa sangatlah penting dikembangkan karena bahasa alat penghubung atau komunikasi antar anggota masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang menyatakan pikiran, perasaan, dan keiinginannya. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk menganalisis penggunaan gadget terhadap kemampuan berbahasa pada anak usia dini. Metode penelitian ini yaitu kajian pustaka. Sumber data penelitian yaitu sumber data sekunder yaitu dari buku dan artikel jurnal . Hasil dari penelitian diketahui bahwa Penggunaan gadget pada anak usia dini memiliki dua sisi pengaruh: mendukung pembelajaran bahasa melalui konten edukatif, namun berisiko menurunkan interaksi sosial jika berlebihan. Pendampingan orang tua dan pengaturan waktu penggunaan diperlukan untuk memaksimalkan manfaatnya, memastikan perkembangan bahasa yang sehat dan seimbang
Kebutuhan Manajemen Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Kearifan Lokal Budaya Buton
Kurikulum kontekstual adalah kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi sosial, budaya, dan lingkungan tempat anak-anak tinggal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan pendidik dalam pengintegrasian budaya Buton ke dalam kurikulum. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomologi. Responden dalam penelitian ini adalah guru PAUD berjumlah 35 orang dari 5 satuan PAUD yang berbasis budaya Buton karena telah menggunakan kurikulum merdeka, mayoritas peserta didiknya berlatar belakang budaya Buton, dan kurikulum operasionalnya belum mengintegrasikan budaya Buton yang merupakan konteks lokal peserta didiknya. Teknik pengambilan data yang dilakukan menggunakan wawancara. Hasil penelitian mengungkap terdapat hambatan dan kesenjangan dalam manajemen kurikulum PAUD berbasis budaya Buton yang berimplikasi pada kebutuhan pendidik dalam pengintegrasian budaya Buton ke dalam kurikulum PAUD berupa : 1) kebijakan daerah yang mendukung pengembangan muatan lokal; 2) pemahaman yang lebih mendalam tentang prinsip-prinsip kurikulum Merdeka terkait fleksibilitas penyesuaian kearifan lokal; 3) pemahaman tentang elemen-elemen budaya lokal yang dapat dijadikan sumber belajar bagi anak usia dini, seperti cerita rakyat, tarian, permainan tradisional, dan nilai-nilai sosial budaya Buton; 4) pemahaman tentang cara efektif untuk mengintegrasikan kearifan lokal Buton dalam kurikulum PAUD; 5) panduan khusus untuk mengelola kurikulum PAUD berbasis budaya Buton