Murhum - Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini
Not a member yet
641 research outputs found
Sort by
Exploring Mood and Pedagogical Implications of The Student’s Descriptive Text: A Systemic Functional Linguistic (SFL) Analysis
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki sistem mood dalam penulisan teks deskriptif, khususnya pada karya siswa kelas 3 Temuan ini menyoroti kesenjangan penting dalam literatur yang ada, menekankan kelangkaan penelitian yang menerapkan SFL untuk mengeksplorasi sistem mood dalam konteks penulisan teks deskriptif siswa sekolah dasar. Penelitian ini memeriksa bagaimana pelajar muda menggunakan mood dan kemudian memberikan wawasan berharga untuk instruksi menulis yang disesuaikan. Bagian metodologi menguraikan pendekatan kualitatif dan analisis tekstual, menggunakan SFL untuk mengkategorikan elemen linguistik untuk memahami pilihan mood secara komprehensif. Hasilnya mengungkapkan penggunaan mood indikatif yang dominan, khususnya subtipe deklaratif, dan variasi bentuk kata strategis yang berkontribusi pada koherensi keseluruhan dan nuansa temporal. Memahami tata bahasa interpersonal terbukti sangat penting untuk pengajaran bahasa, memperkaya ekspresi bahasa, dan memberdayakan siswa untuk mengartikulasikan posisi, menavigasi dinamika kekuasaan, dan menyusun tanggapan kritis. Sebagai kesimpulan, penelitian ini merekomendasikan agar pendidik memanfaatkan kecenderungan siswa terhadap pernyataan deklaratif dan secara strategis menggunakan bentuk kata kerja untuk meningkatkan narasi temporal, yang memperkaya pengajaran bahasa di sekolah dasar
Pengaruh Eksperiensial Learning Berbasis Alam terhadap Fokus Anak dalam Pembelajaran
Konsentrasi belajar memiliki dampak besar terhadap hasil pembelajaran, ketika anak tidak dapat sepenuhnya fokus belajar, dapat dipastikan mempengaruhi perkembangan belajar anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh eksperiensial learning berbasis alah terhadap fokus pembelajaran anak usia dini di TK Alam Surya Mentari, Surakarta. Penelitian merupakan jenis kuantitatif dengan post test only control group design dengan sampel jenuh sebanyak 16 siswa TK kelompok A. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah catatan ceklis dilapangan dan kuesioner yang berupa daftar pertanyaan yang diberikan kepada responden (orangtua) serta daftar cek atau checklist dengan menggunakan skala Guttman, skala pengukuran ini ada 1-5 yakni “sangat tidak baik, tidak baik, cukup baik, baik, sangat baik”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran eksperiensial berbasis alam mampu mempengaruhi fokus anak dalam pembelajaran. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil penilaian fokus pembelajaran anak yang dilakukan beberapa kali dan pengujian analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa experiencial learning dalam proses pembelajaran berbasis project (PBL) dapat diintegrasikan dalam sistem pembelajaran berbasis alam, dimana anak dapat belajar yang didampingi guru maupun orang tua untuk melihat alam lingkungan sekitar dalam suasana di luar kelas.
Pemahaman Guru terhadap Perencanaan Pembelajaran Modul Ajar
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemahaman guru terhadap perencanaan pembelajaran menggunakan modul ajar di TK Aisyiyah Cabang Kartasura. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif sederhana, dengan subjek penelitian delapan guru yang bertugas di TK tersebut. Instrumen yang digunakan merupakan kuesioner skala Likert, wawancara, dan dokumentasi terkait perencanaan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru memiliki pemahaman yang baik mengenai penyusunan modul ajar. Berdasarkan hasil wawancara, guru memahami modul ajar sebagai perangkat pembelajaran yang lebih komprehensif dibandingkan dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH). Penyusunan modul ajar dilaksanakan secara kolaboratif antara guru dan kepala sekolah, namun tidak semua guru terlibat langsung dalam proses tersebut. Hasil kuesioner mengindikasikan bahwa skor rata-rata pemahaman guru terhadap perencanaan pembelajaran menggunakan modul ajar adalah 3,44, yang tergolong dalam kategori baik. Meski demikian, masih terdapat beberapa guru yang pemahamannya berada dalam kategori cukup baik, yang menunjukkan perlunya pelatihan dan pendampingan lebih lanjut. Guru menghadapi beberapa kendala dalam memilih kegiatan pembelajaran yang menarik serta sesuai dengan ciri khas anak, tetapi pelatihan yang diikuti mampu mengurangi hambatan tersebut. Kesimpulannya, pemahaman guru tentang perencanaan pembelajaran dengan modul ajar sudah cukup baik, namun perlu adanya penguatan melalui pelatihan lanjutan untuk mencapai pemahaman yang lebih optimal
Pencegahan Stunting melalui Pendekatan Sosial Budaya dan Upaya Kolaboratif di Sulawesi Tenggara
Stunting tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang kritis di Sulawesi Tenggara, dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial budaya yang membutuhkan strategi kolaboratif yang efektif untuk pencegahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor sosial budaya dan strategi kolaboratif dalam pencegahan stunting di Sulawesi Tenggara. Dengan desain penelitian kualitatif menggunakan pendekatan fenomenologi, data diperoleh melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terfokus (FGD) dengan informan kunci, termasuk tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, dan kader kesehatan di Buton Utara, Sulawesi Tenggara. Analisis data mengidentifikasi faktor sosial budaya seperti rendahnya tingkat pendidikan, minimnya kesadaran gizi, serta praktik tradisional yang memprioritaskan pendapatan di atas asupan gizi anak. Banyak keluarga memilih menjual makanan berkualitas daripada mengonsumsinya, mengakibatkan kurangnya keberagaman makanan. Kepercayaan budaya juga mendorong pemberian makanan pendamping ASI secara dini, meskipun bertentangan dengan pedoman kesehatan. Komunikasi antara tenaga kesehatan dan masyarakat sering terhambat oleh resistensi terhadap perubahan dan praktik tradisional. Namun, kolaborasi antara pusat kesehatan dan masyarakat melalui komunikasi berbasis budaya, pendekatan personal seperti program "sweeping stunting," serta keterlibatan tokoh lokal terbukti penting meskipun partisipasinya masih belum konsisten. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pencegahan stunting memerlukan pendekatan menyeluruh yang mengintegrasikan sensitivitas budaya dengan kolaborasi yang berkelanjutan
Pola Asuh Orang Tua terhadap Anak Speech Delay
Keterlambatan bicara (speech delay) pada anak merupakan gangguan perkembangan bahasa yang menghambat kemampuan komunikasi dan interaksi sosial. Pola asuh orang tua menjadi faktor penting dalam perkembangan bahasa anak. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pola asuh terhadap perkembangan komunikasi anak dengan speech delay. Metode deskriptif kualitatif dengan studi kasus digunakan melalui wawancara dan observasi orang tua anak dengan speech delay. Penelitian dilaksanakan di Eka Fisioterapi, lokasi ini dipilih karena merupakan salah satu pusat layanan terapi wicara aktif di daerah tersebut, yang menangani berbagai kasus anak dengan hambatan perkembangan bahasa. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman meliputi reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan/verifikasi data. Hasil menunjukkan pola asuh demokratis, ditandai dengan komunikasi dua arah, penguatan positif, pengulangan kata benar, serta stimulasi visual dan auditif konsisten, berkontribusi pada peningkatan kemampuan bicara anak. Sebaliknya, pola asuh otoriter dan permisif kurang mendukung bahkan memperburuk keterlambatan bahasa. Keterlibatan aktif orang tua dan akses terapi wicara juga penting dalam perkembangan bahasa anak. Temuan ini diharapkan menjadi referensi bagi orang tua dan praktisi dalam mendukung anak dengan keterlambatan bicara
Analisis Peran Kurikulum Merdeka tehadap Perkembangan Berbahasa Anak Usia Dini
Kurikulum ini juga mendukung pembelajaran intrakurikuler yang dirancang untuk memaksimalkan potensi anak, serta memperkuat pemahaman dan kompetensi mereka. Rendahnya perkembangan bahasa anak usia dini menyebabkan keterlambatan dalam berbahasa anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kurikulum merdeka dalam perkembangan bahasa anak usia dini. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Tahapan penelitian meliputi perancangan, pelaksanaan, pengumpulan data dan analisis data. Objek penelitian mencakup wali kelas dan seluruh siswa di PAUD tersebut. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kurikulum yang diterapkan disebut sebagai kurikulum yang dilaksanakan, sementara yang belum dapat dilaksanakan masih berupa gagasan. Kurikulum Merdeka Belajar menyesuaikan pembelajaran dengan bakat dan minat anak, serta tahap perkembangan bahasa seperti mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Hasil penelitian menunjukkan 85% anak mengalami peningkatan berbicara aktif, 80% merespons verbal, dan 75% tertarik pada huruf. Temuan ini mengindikasikan efektivitas Kurikulum Merdeka dalam meningkatkan keterampilan berbahasa anak dan mendukung literasi selanjutnya. Implikasi praktisnya, penerapan Kurikulum Merdeka dapat menjadi strategi pembelajaran yang efektif dalam mempercepat perkembangan bahasa anak usia dini di PAUD
Literasi Multimodal pada Keterampilan Menyimak dan Berbicara Anak Usia Dini
Di era digital, anak usia dini mengalami kesulitan menyimak dan berbicara, ditandai ketidakmampuan memahami perintah, kurangnya fokus, keterbatasan kosakata, dan kesulitan mengekspresikan diri. Literasi multimodal mengintegrasikan stimulus visual, auditori, dan kinestetik melalui bercerita interaktif, role play, gerak-lagu, dan video. Penelitian ini bertujuan untuk Mengkaji dan menganalisis efektivitas literasi multimodal dalam meningkatkan keterampilan menyimak dan berbicara untuk mengoptimalkan perkembangan bahasa anak usia dini secara holistik. Penelitian ini mengkaji efektivitas literasi multimodal menggunakan metode Action Research Kemmis dan Mc Taggart dengan dua siklus (perencanaan, tindakan, observasi, refleksi) bertema kebersihan diri. Dari 11 anak usia 4-5 tahun di RA Rahmah El Yunusiyyah, 90,9% mencapai perkembangan sangat baik dalam menyimak dan memahami cerita, sementara minimal 72,7% berkembang sesuai harapan dalam keterampilan berbahasa lainnya. Literasi multimodal terbukti efektif mengoptimalkan perkembangan bahasa anak usia dini secara holistik. Penerapan literasi multimodal melalui media audio storytelling merupakan strategi yang efektif untuk mengembangkan keterampilan bahasa anak usia dini. Implementasi pendekatan ini, dengan memperhatikan rekomendasi yang diberikan, berpotensi memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan bahasa pada jenjang PAUD
Strategi Guru dalam Membentuk Karakter Disiplin Peserta Didik
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai strategi yang diterapkan guru dalam membentuk karakter disiplin peserta didik kelas 1 di SDN 66 Payakumbuh. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan subjek guru dan peserta didik. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Wawancara dilakukan secara tatap muka dengan narasumber, observasi melibatkan pengamatan langsung aktivitas di kelas, dan analisis dokumen mencakup pengumpulan dokumen-dokumen relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran guru sangat esensial dalam membentuk karakter disiplin peserta didik. Guru aktif membentuk sikap dan perilaku disiplin peserta didik melalui program pendidikan karakter dan kegiatan sehari-hari. Berbagai strategi yang efektif meliputi: pembiasaan, keterampilan guru dalam menyampaikan materi intrakurikuler, serta penciptaan kondisi belajar yang kondusif di sekolah maupun di rumah melalui kerja sama dengan orang tua. Temuan ini menegaskan bahwa disiplin tidak hanya diajarkan, tetapi juga dibentuk secara konsisten melalui lingkungan dan interaksi. Secara ilmiah, penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam mengenai efektivitas berbagai strategi pedagogis dalam pembentukan karakter disiplin di tingkat sekolah dasar. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi guru dan institusi pendidikan dalam merancang dan mengimplementasikan program pembentukan karakter disiplin yang lebih efektif
Implementasi Program Kader Posyandu dalam Pencegahan Stunting
Stunting merupakan isu kesehatan yang dapat berdampak pada kapasitas sumber daya manusia. Beberapa aspek yang memiliki peranan utama dalam menangani stunting yaitu kader posyandu. Peran kader posyandu sebagai penggerak masyarakat sangat diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan melalui aspek kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji program kader posyandu dalam menurunkan dan mencegah prevalensi stunting di Desa Jenarsari, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancar dan pengumpulan dokumen. Dari hasil observasi dan wawancara dengan ketua kader posyandu, anggota kader posyandu dan orang tua balita penulis mendapatkan hasil penelitian bahwa kader posyandu telah menjalankan perannya dalam usaha menurunkan angka stunting. Hal ini terlihat dari program pemberian makanan tambahan yang dilakukan oleh kader posyandu kepada anak yang terkena stunting. Dari pelaksanaan program tersebut, membuktikan bahwa kasus anak stunting di Desa Jenarsari turun yang semula tahun 2024 tercatat 26 kasus anak stunting dan turun menjadi 21 kasus stunting pada awal tahun 2025. Dari data tersebut menunjukan program pemberian makanan tambahan efektif dalam pencegahan stunting di Desa Jenarsari
Implementasi Supervisi Model Ilmiah Berbasis Google Form oleh Kepala Sekolah di PAUD
Implementasi supervisi model ilmiah berbasis teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengajaran secara keseluruhan dan berdampak positif pada prestasi siswa di KB Al Hikmah. Transformasi supervisi dengan teknologi digital dapat secara signifikan meningkatkan kompetensi guru, di mana proses supervisi menjadi lebih terstruktur. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan implementasi model supervisi ilmiah berbasis Google Form oleh kepala sekolah di KB Al Hikmah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan profesionalisme guru PAUD. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melalui observasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan Google Form membuat supervisi lebih terstruktur, transparan, dan berbasis data, sehingga mempermudah proses pra-supervisi, pelaksanaan, hingga tindak lanjut serta pemberian umpan balik konstruktif. Kesimpulan penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi teknologi digital dalam supervisi pendidikan. Secara teoritik, penelitian ini memperkuat konsep supervisi berbasis data dalam pendidikan anak usia dini. Secara praktis, hasil penelitian memberikan acuan bagi lembaga PAUD dalam mengoptimalkan supervisi melalui pemanfaatan teknologi untuk mendukung pengembangan profesionalisme guru dan peningkatan mutu pembelajaran