JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Not a member yet
    583 research outputs found

    Hubungan Tingkat Pendidikan Terhadap Kejadian Tuberkulosis Paru

    Get PDF
    Tuberculosis is a disease caused by Mycobacterium Tuberculosis. This bacterium attacks the lungs but does not rule out attacking other body parts. This disease can be transmitted through coughs containing Mycobacterium Tuberculosis and spread into the air. Indonesia is one of the countries in the world that has a high prevalence of tuberculosis and is still increasing in the number of cases each year. Education level is one of the factors that influence the incidence of tuberculosis. The higher the level of one's education, the lower the incidence of tuberculosis. This is because someone who has a high level of education can obtain and absorb information better about tuberculosis, so it is easy to take precautions to avoid getting tuberculosis. In addition, the higher level of education of a person will indirectly affect the level of health.Tuberkulosis merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Bakteri ini menyerang paru paru, namun tidak menutup kemungkinan menyerang bagian tubuh lainnya. Penyakit ini dapat ditularkan melalui batuk yang mengandung Mycobacterium Tuberculosis dan menyebar ke udara. Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki tingkat prevalensi penyakit tuberkulosis yang tinggi dan masih meningkat jumlah kasus setiap tahunnya. Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit tuberkulosis. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin rendah pula kejadian tuberkulosis. Hal ini disebabkan karena seseorang yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dapat memperoleh dan menyerap informasi lebih baik mengenai penyakit tuberkulosis, sehingga mudah untuk melakukan pencegahan agar tidak terkena penyakit tuberkulosis. Selain itu, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang secara tidak langsung akan mempengaruhi tingkat kesehatannya

    HUBUNGAN ANTARA SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA LANJUT USIA

    Get PDF
    Latar belakang indikator keberhasilan pembangunan nasional adalah meningkatnya derajat kesehatan. Derajat kesehatan suatu negara dapat diukur dengan melihat tingkat kesakitan dan tingkat kematian yang disebabkan oleh umur dan usia harapan hidup. Tujuan penelitian mengetahui hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada lansia. Metode jenis penelitian yang dilakukan adalah survey analitik dengan menggunakan rancangan cross sectional study. Penelitian cross sectional adalah suatu penelitian dimana variable yang termasuk factor resiko dan variable yang termasuk efek diobservasi pada waktu yang sama. Hasil melalui uji statistik dengan menggunakan uji Chi Square dibuktikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan air bersih, jamban keluarga, pengelolaan sampah keluarga dan SPAL dengan kejadian diare pada lanjut usia. Kesimpulan kepada lanjut usia agar menggunakan air dari sumber yang memenuhi syarat kesehatan dan sebaiknya air yang hendak dikonsumsi dimasak terlebih dahulu serta menyediakan wadah khusus yang memiliki penutup sebagai tempat untuk menyimpan air agar air tidak terkontaminsai. Kepada lanjut usia agar menggunakan jamban keluarga yang memenuhi syarat kesehatan serta memperhatikan letak jamban agar tidak mengkontaminasi makanan, air dan tanah disekitarnya

    Efek Antimikroba Capsaicin

    Get PDF
    Capsaicin (8-methyl-N-vanillyl-6-nonenamide) is an active component of the Capsicum plant (chili), which is grown as food and for medicinal purposes since ancient times, and is responsible for the spiciness of the fruit. Capsaicin and related compounds (called capsaicinoids) are secondary metabolites of chili which play an important role in plant defense, possibly as an antidote to animals. In addition, there are several pharmacological and physiological properties (pain relief, cancer prevention, beneficial cardiovascular effects, and digestive effects. Capsaicin is an organic compound with a group of alkaloids available in large quantities in fruits from various chilies. Capsaicin has an impact on thermoregulation and metabolism. adipose tissue and is characterized by antioxidant, hypotensive and anticancer effects In general, capsaicinoids inhibit bacterial growth and metabolism, so this compound is also indicated to inhibit the process of biogas production at certain concentrations through the mechanism of bacterial membrane destructionCapsaicin (8-metil-N-vanillyl-6-nonenamide) adalah komponen aktif tanaman Capsicum (cabai), yang ditanam sebagai makanan dan untuk keperluan pengobatan sejak zaman dahulu, dan bertanggung jawab atas kepedasan buahnya. Capsaicin dan senyawa terkait (disebut capsaicinoids) adalah metabolit sekunder dari cabai yang memainkan peran penting dalam pertahanan tanaman, mungkin sebagai penolak terhadap hewan. Selain itu beberapa sifat farmakologis dan fisiologis (penghilang rasa sakit, pencegahan kanker, efek kardiovaskular yang menguntungkan, dan efek pencernaan. Capsaicin adalah senyawa organik dengan sekelompok alkaloid yang tersedia dalam jumlah besar dalam buah-buahan dari berbagai cabai. Capsaicin berdampak pada termoregulasi dan metabolisme jaringan adiposa dan ditandai oleh efek antioksidan, hipotensi dan antikanker. Secara umum, capsaicinoids bersifat menghambat proses pertumbuhan dan metabolisme bakteri. Sehingga senyawa ini juga diindikasikan akan menghambat proses produksi biogas pada konsentrasi tertentu melalui mekanisme perusakan membrane bakter

    GAMBARAN TENTANG KEJADIAN DIARE DI SD INP BIRU KABUPATEN BONE

    No full text
    Terjadinya penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan yang masih merupakan masalah kesehatan terbesar di indonesia baik dikarenakan masih buruknya kondisi sanitasi dasar, lingkungan fisik maupun rendahnya perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Tentang Kejadian Diare di SD Mis Darul Istiqamah,Metode penelitian adalah deskriptif kuantitatif. Dengan menggunakan tehnik random sampling. Besar sampel menggunakan rumus 20% dari jumlah populasi yaitu 20% x  102 = 36,6 atau 30 orang. Dan penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 24 juni-29 juni 2013.Hasil penelitian ini adalah untuk menggambarkan kejadian diare di SD Mis Darul Istiqamah Puce’e kebanyakan responden memiliki pengetahuan dengan kategori Ya. Saran tingkatkan motivasi kepada anak agar menggunakan air dari sumber yang memenuhi syarat kesehatan dan sebaiknya air yang hendak di komsumsi dimasak terlebih dahulu serta menyediakan wadah khusus yang memiliki penutup sebagai tempat untuk menyimpan air agar air tidak terkontaminasi.Kesimpulan, Kepada anak agar menggunakan air dari sumber yang memenuhi syarat kesehatan dan sebaiknya air yang hendak dikonsumsi dimasak terlebih dahulu serta menyediakan wadah khusus yang memiliki penutup sebagai tempat untuk menyimpan air agar air tidak terkontaminsai. Kepada murid agar menggunakan jamban keluarga yang memenuhi syarat kesehatan serta memperhatikan letak jamban agar tidak mengkontaminasi makanan, air dan tanah disekitarnya. Kepada murid agar menjaga personal higyennya secara baik dan benar yakni dengan mencuci tangan sebelum makan, mandi dua kali sehari dan memakai alas kaki kekamar mandi atau kejamban. Untuk pemerintah setempat agar membuat kebijakan dalam mengatasi kejadian diare sebagai bentuk stimulan bagi masyarakat guna membangun atau memperbaiki sarana kesehatan lingkungan dan memberikan penyuluhan yang berkaitan dengan  kesehatan lingkungan

    GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN LANSIA TERHADAP HIPERTENSI DI PUSKESMAS KAMPALA SINJAI

    Get PDF
    Pendahuluan,Indonesia merupakan negara yang memiliki wilayah yang luasdengan jumlah penduduk yang sangat besar. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi tercapainya tujuan pembangunan kesejahteraan melalui Indonesia sehat 2013, yaitu untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku kesehatan yang optimal.Tujuan penelitian, memperoleh gambaran secara umum tentang tingkat pengetahuan lansia terhadap hipertensi di Puskesmas kampala sinjai.Metode penelitian, Desain penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif karena berujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena. Dalam hal ini peneliti hanya ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan keadaan sesuatu. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif yang akan mengukur/menilai pengetahuan dan sikap lansia terhadap hipertensi di puskesmas kampala sinjai.Hasil, Diperolehnya gambaran tentang pengetahuan lanjut usia terhadap hipertensi di wilayah  kerja puskesmas kampala sebanyak 25 responden didapatkan pengetahuan baik sebanyak 2 orang (8%), pengetahuan cukup 21 orang (84%), pengetahuan kurang 2 orang (8%).Diperolehnya gambaran sikap lanjut usia diwilayah kerja puskesmas kampala sebanyak 25 reponden didapatkan tingkat bersikap  baik sebanyak 11 orang ( 44 % ), bersikap buruk sebanyak 13 orang ( 52%).Kesimpulan, meningkatkan keilmuan dan mutu asuhan keperawatan yang di berikan,di harapkan di perhatikan pengembangan informasi khususnya tentang pengetahuan dan sikap yang erat hubungannya terhadap hipertensi.Sehingga baik masyarakat khususnya lansia dan perawat atau pekerja sosial sebagai pemberi pelayanan mendapat kepuasan masing-masing. Pihak Puskesmas agar meningkatkan kemampuan petugas kesehatan, baik itu dokter maupun perawat serta perawat-perawat desa agar kiranya memberikan penyuluhan atau health education  tentang pengetahuan dan sikap lansia terhadap hipertensi

    Depresi Pada Penderita Cedera Kepala

    Get PDF
    Head injury (trauma capitis) is a mechanical injury that directly or indirectly affects the head resulting in injuries to the scalp, skull fracture, tearing of the lining of the brain and damage to the brain tissue itself, as well as resulting in neurological disorders. Psychiatric disorders, including mood, anxiety, and substance use disorders, are common after brain injuries, especially when injuries are moderate to severe, and interfere with health, social participation, and quality of life. Depression is the most common psychiatric condition after brain injury. Depression is a serious mental disorder characterized by feelings of sadness and anxiety. This disorder will usually disappear within a few days but can also be ongoing which can affect daily activities According to WHO, depression is a mental disorder characterized by the appearance of symptoms of decreased mood, loss of interest in something, feelings of guilt, sleep disturbance or appetite, loss of energy , and decreased concentrationCedera kepala (trauma capitis) adalah cedera mekanik yang secara langsung atau tidak langsung mengenai kepala yang mengakibatkan luka di kulit kepala, fraktur tulang tengkorak, robekan selaput otak dan kerusakan jaringan otak itu sendiri, serta mengakibatkan gangguan neurologis. Gangguan kejiwaan, termasuk suasana hati, kecemasan, dan gangguan penggunaan zat, lazim setelah cedera otak, terutama ketika cedera sedang sampai parah, dan menggangu bagi kesehatan, partisipasi social , dan kualitas hidup. Depresi adalah kondisi kejiwaan yang paling umum terjadi setelah cedera otak. Depresi merupakangangguan mental yang serius yang ditandai dengan perasaan sedih dan cemas. Gangguan ini biasanya akan menghilang dalam beberapa hari tetapi dapat juga berkelanjutan yang dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari Menurut WHO, depresi merupakan gangguan mental yang ditandai dengan munculnya gejala penurunan mood, kehilangan minat terhadap sesuatu, perasaan bersalah, gangguan tidur atau nafsu makan, kehilangan energi, dan penurunan konsentras

    Rokok dan Kejadian Konversi Sputum Pasien Tuberkulosis

    Get PDF
    Tuberculosis is an infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium Tubrculosa which attacks a person's lungs.  Tuberculosis in Indonesia is one of the leading causes of death.  One indicator needed to determine the success and evaluation of patients is positive sputum culture containing negative Mycobacterium Tuberculosa bacteria, commonly called sputum conversion.  However, several factors and things can cause these indicators of success to fail because patients are still exposed to substances, other diseases that might worsen the condition or failure of treatment.  One of them is smoking.  The number of cigarette consumption in Indonesia is quite high, so it is a concern for many researchers to review how the influence of smoking on the sputum conversion of TB patients.  Cigarettes have active ingredients that can damage the lung's defenses so that TB germs can easily infect a patient's lungs.Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan karena bakteri Mycobacterium Tubrculosa yang menyerang paru-paru seseorang. Tuberkulosis di indonesia menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak. Salah satu indikator yang dibutuhkan untuk menentukan keberhasilan dan evaluasi penderita adalah kultur sputum (dahak) positif menjadi negatif mengandung bakteri Mycobacterium Tuberculosa yang biasa disebut dengan konversi sputum. Namun, beberapa faktor dan hal bisa menyebababkan indikator keberhasilan tersebut gagal dikarenakan penderita masih terpapar oleh bahan, zat, penyakit yang mungkin bisa memperburuk keadaan atau gagalnya pengobatan. Salah satunya yaitu merokok. Angka konsumsi rokok di indonesia cukup tinggi, sehingga hal ini menjadi perhatian bagi banyak peneliti untuk meninjau bagaimana pengaruh rokok terhadap konversi sputum pasien TB. Sudah banyak penelitian yang menunjukan bahwa rokok dapat memperlama waktu penyembuhan dan konversi sputum pada pasien Tuberkulosis. Rokok memiliki bahan aktif yang dapat merusak pertahanan paru sehingga kuman TB dapat dengan mudah menginfeksi paru-paru penderita

    Hubungan Penggunaan Kontrasepsi Oral dengan Kanker Payudara Wanita Premenopause

    Get PDF
    Kanker payudara adalah kanker yang paling sering terjadi pada wanita, berdampak pada 2,1 juta wanita setiap tahun, dan juga menyebabkan kematian terkait kanker pada wanita. Diperkirakan 627.000 wanita meninggal karena kanker payudara yaitu sekitar 15% dari semua kematian akibat kanker di kalangan wanita. Kejadian ini cenderung melibatkan jalur yang berhubungan pada hormone. Hormon eksogen memiliki risiko lebih tinggi untuk kanker payudara salah satunya penggunaan kontrasepsi oral. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan riwayat penggunaan kontrasepsi oral dengan kejadian wanita premenopause di Rumah Sakit Khusus Bedah Ropanasuri Kota Padang Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan metode pendekatan cross sectional comparative yang dilakukan pada 18 wanita premenopause kanker payudara dan 18 wanita premenopause tidak kanker payudara yang diambil di Rumah Sakit Khusus Bedah Ropanasuri Kota Padang Tahun 2019. Pengumpulan data menggunakan kuisioner dengan pertanyaan tentang riwayat penggunaan kontrasepsi oral. Uji Bivariat dilakukan dengan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan Ibu yang menggunakan kontrasepsi oral lebih banyak ditemukan pada ibu premenopause yang kanker payudara (58, 8%) dibandingkan ibu yang tidak kanker payudara (41,2%). Tidak terdapat hubungan antara riwayat penggunaan kontrasepsi oral dengan kejadian kanker payudara (p=0,1)Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan riwayat penggunaan kontrasepsi oral dengan kejadian kanker payudara pada wanita premenopause

    Perbandingan Efek Antara Mobilization of the Nervous as System Active Exercise Terhadap Perubahan Nyeri dan Fleksibilitas Penderita Low Back Pain

    Get PDF
    Low Back Pain (LBP) is a disturbance attacked the lower area of the back due to various either musculoskeletal problems or incorrect mobilization. LBP  can produce pain sensation and diminishing lumbal flexibility so that it disturbs patient’s activity. Mobilization of the Nervous as System (MONAS) and Active Exercise are training methods used to decrease pain and increase flexibility in LPB patients. This research aimed to identify The Comparison between MONAS and Active Exercise on Changes of Pain and Flexibility in Patients Suffering from Low Back Pain (LBP). The recent study was an experimental study with pre test-post test two group design. The sampling was conducted by using purposive sampling method. The number of samples was 22 samples divided into 2 groups namely groups of MONAS and Active Exercise. Each group consisted of 11 respondents. The measurement tools used were Visual Analogue Scale (VAS) to measure the pain level and Modified Schober Test (MST) to assess the flexibility. This research used paired t-test as test of effect while independent sample t-test was used as comparative test. Analysis of paired sample t-test showed that there was changes in pain and flexibility levels in LBP patients after administration of either MONAS (p value = 0.000) or Active Exercise (p value = 0.000). Independent sample t-test gave p value = 0.658 and 0.729 for pain and flexibility, respectively. As conclusion, there was no significant difference between MONAS and Active Exercise either on pain or flexibility levelsLow Back Pain merupakan gangguan yang dirasakan di punggung bagian bawah yang disebabkan oleh berbagai gangguan musculoskeletal maupun mobilisasi yang salah. LBP dapat menyebabkan timbulnya nyeri dan penurunan fleksibilitas lumbal sehingga mengganggu aktivitas penderitanya. Mobilization of the Nervous as System (MONAS) dan Active Exercise merupakan latihan yang dapat digunakan untuk menurunkan nyeri dan meningkatkan fleksibilitas pada penderita LBP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara Mobilization of the Nervous as System dan Active Exercise Terhadap Perubahan Nyeri dan Fleksibilitas pada Penderita Low Back Pain (LBP). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain penelitian pre test-post test two group design. Teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 22 orang dibagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok MONAS dan Active Exercise. Masing-masing kelompok beranggotakan 11 responden. Alat ukur yang digunakan adalah Visual Analogue Scale (VAS) untuk mengukur nyeri dan Modified Schober Test (MST) untuk fleksibilitas. Penelitian ini menggunakan uji paired sampel T test sebagai uji pengaruh  dan uji perbandingan menggunakan uji Independent sampel T test. Hasil penelitan dengan uji paired sample t-test menunjukkan terdapat perubahan nyeri dan fleksibilitas pada penderita LBP setelah pemberian MONAS dengan nilai p=0,000 dan Active Exercise dengan nilai p=0,000. Sedangkan hasil uji independent sample t-test pada nyeri diperoleh nilai p=0,658 sedangkan fleksibilitas  p=0,729 yang artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara MONAS dan Active Exercise baik terhadap nyeri maupun fleksibilitas

    Suplementasi Vitamin D pada Wanita dengan Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)

    No full text
    Polycyctic Ovarian Syndrome (PCOS) is the most common cause of anovulation and anovulation infertility. PCOS can be said to be endocrinopathy that often occurs in women of childbearing age and is associated with metabolic disorders and reproductive dysfunction. If no therapeutic management is performed in women with PCOS, complications can occur. Several pilot studies assess the therapeutic efficacy of vitamin D in metabolic parameters related to PCOS. Vitamin D is an essential steroid hormone that plays a role in maintaining calcium and phosphate hemostasis. Serum vitamin D concentrations are stated to be deficient if the 25 (OH) D level is 21-29 ng / mL and vitamin D deficiency is stated if the 25(OH)D level is <20 ng / mL.The effect of vitamin D deficiency are menstrual and fertility disfunction and also negative effect in cardiovascular system. Vitamin D has a direct effect on the process of folliculogenesis and oocyte maturation. Steroidogenesis in the ovaries that produce progesterone, estradiol and estron assisted calcitriol (vitamin D). Supplementation of vitamin D shows an increase in the action of granulosa cells ie progesterone secretion increases.Polycyctic Ovarian Syndrome (PCOS) adalah penyebab paling sering terjadinya anovulasi dan infertilitas anovulasi. PCOS dapat dikatakan endokrinopati yang sering terjadi pada wanita dengan usia subur dan berkaitan dengan kelainan metabolik dan disfungsi reproduksi. Apabila tidak dilakukan manajemen terapi pada wanita dengan PCOS dapat terjadi komplikasi. Beberapa studi percontohan menilai efikasi terapeutik vitamin D dalam parameter metabolik terkait PCOS. Vitamin D adalah hormon steroid esensial yang berperan dalam menjaga hemostasis kalsium dan fosfat.  Konsentrasi vitamin D dalam serum dinyatakan kurang jika kadar 25(OH)D 21-29 ng/mL dan dinyatakan defisiensi vitamin D jika  kadar 25(OH)D <20 ng/mL. Efek defisiensi vitamin D yang dapat terjadi gangguan fertilitas dan menstruasi serta efek negatif pada sistem kardiovaskuler. Vitamin D memiliki efek langsung pada proses folikulogenesis dan maturasi oosit. Steroidogenesis dalam ovarium yang menghasilkan  progesteron, estradiol dan estron dibantu calcitriol (vitamin D). Suplementasi vitamin D pada wanita dengan PCOS menunjukkan peningkatan kerja sel granulosa yakni sekresi progesteron meningkat

    435

    full texts

    583

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇