JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Not a member yet
583 research outputs found
Sort by
Olahraga dan Depresi pada Wanita Hamil
Pregnancy is a time of social, psychological, behavioral and biological change thus, it has been identified as a factor that contributes to the decline in sports behavior among women. Inactivity during pregnancy has a devastating effect on both women and the fetus, in the prenatal phase women who do not exercise neglect many health benefits. Health behavior carried out by pregnant women in the form of exercise. Sports activities are a form of behavior carried out by pregnant women in maintaining and improving the health of their pregnancies as well as preventive measures for labor diseases or complications. For example, exercise during pregnancy is associated with a reduced risk of preeclampsia, depression and gestational diabetes. Research conducted concluded that exercise has the effect of reducing depression in pregnant women. Adequate exercise is very important for pregnant women, because it has proven beneficial for the health of the mother and fetus. Therefore, the implementation of interventions aimed at increasing the level of physical activity is highly recommended. physical activity interventions, useful for weight loss during pregnancy, and reduction in pregnancy-related symptoms, such as depression and pregnancyrelated pain. Exercise has the potential to help overcome obstacles to increasing the level of physical activity among pregnant women.Kehamilan adalah masa perubahan sosial, psikologis, perilaku dan biologis dengan demikian, telah diidentifikasi sebagai faktor yang berkontribusi terhadap penurunan perilaku olahraga di kalangan wanita. Ketidakaktifan selama kehamilan memiliki dampak buruk baik terhadap wanita maupun janin, pada fase prenatal wanita yang tidak melakukan olahraga mengabaikan banyak manfaat kesehatan. Perilaku kesehatan yang dilakukan ibu hamil yaitu berupa olahraga. Kegiatan olahraga merupakan salah satu bentuk perilaku yang dilakukan ibu hamil dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan kehamilannya serta tindakan pencegahan penyakit atau penyulit persalinan. Sebagai contoh, olahraga selama kehamilan dikaitkan dengan penurunan risiko preeklampsia, depresi dan diabetes gestasional. Penelitian yang dilakukan menyimpulkan bahwa olahraga memiliki efek mengurangi depresi pada ibu hamil. Olahraga yang memadai sangat penting bagi wanita hamil, karena telah terbukti bermanfaat bagi kesehatan ibu dan janin. Oleh karena itu, implementasi intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan tingkat aktivitas fisik sangat dianjurkan. intervensi aktivitas fisik, berguna untuk penurunan berat badan saat kehamilan, dan pengurangan gejala yang berhubungan dengan kehamilan, seperti depresi dan nyeri terkait kehamilan. Olahraga berpotensi membantu mengatasi hambatan untuk meningkatkan tingkat aktivitas fisik di antara wanita hami
Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Obat Analgesik Pada Swamedikasi Untuk Mengatasi Nyeri Akut
Analgesic drugs or painkillers are one of the drugs that are often used independently by the community without a doctor's prescription, this causes the emergence of several side effects of analgesi drugs. Analgesic drugs commonly used by the public are nonopioid analgesic drugs such as aspirin, mefenamic acid and paracetamol because nonopioid analgesic drugs are not as addictive as opioid analgesic drugs. Analgesic drugs have side effects including hypersensitivity reactions, stomach and intestinal disorders, damage to the kidneys, and can cause liver damage if consumed in excessive doses. Several studies have shown that the level of public knowledge is closely related to the rational use of pain medications or analgesics. The higher the level of knowledge, the better and more appropriate in using analgesic drugs and vice versa, so that the more rational the community uses analgesic drugs, the fewer side effects that can arise. Self-medication or self-medication is a community effort to deal with pain that occurs mainly acutely or suddenly. Self medication can be a source of medication errors due to the limited knowledge of the community about drugs and their use. If self-medication can be carried out correctly by the community, then self-medication can have a large positive impact on both the community itself and the government in terms of national health careObat analgesik atau obat antinyeri merupakan salah satu obat yang sering digunakan oleh masyarakat secara mandiri tanpa resep dokter, hal ini menyebabkan timbulnya beberapa efek samping dari obat analgesik, Obat-obat analgesik yang biasa digunakan oleh masyarakat adalah golongan obat analgesik nonopioid seperti aspirin, asam mefenamat, serta parasetamol karena obat analgesik golongan nonopioid tidak bersifat adiktif seperti obat analgesik golongan opioid. Obat-obat analgesik memiliki efek samping antara lain reaksi hipersensitivitas, gangguan lambung dan usus, kerusakan pada ginjal, dan dapat menyebabkan kerusakan hati apabila dikonsumsi dengan dosis yang berlebihan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat sangat berhubungan dengan penggunaan obat antinyeri atau analgesik secara rasional. Semakin tinggi tingkat pengetahuan, maka semakin baik dan tepat dalam menggunakan obat analgesik dan sebaliknya, sehingga semakin rasional masyarakat menggunakan obat analgesik maka semakin sedikit efek samping yang dapat timbul. Swamedikasi atau pengobatan sendiri merupakan upaya masyarakat untuk mengatasi nyeri yang terjadi terutama secara akut atau mendadak. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Badan Peneliti dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2013 menunjukkan bahwa sebanyak 35,2% rumah tangga di Indonesia menyimpan obat untuk swamedikasi dan di Provinsi Lampung sebesar 72,97%. Pengobatan sendiri dapat menjadi sumber terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan penggunaannya. Apabila swamedikasi dapat dilakukan dengan benar oleh masyarakat, maka pengobatan sendiri dapat memberikan dampak positif yang besar baik bagi masyarakat itu sendiri maupun pemerintah dalam hal pemeliharaan kesehatan nasional. Namun, apabila masyarakat tidak melakukannya dengan benar, maka pengobatan sendiri dapat menyebabkan gejala baru yang diakibatkan dari efek samping obat dan bahkan dapat menimbulkan penyakit baru, serta secara nasional dapat memberikan kerugian kepada negara terutama dalam hal kesehatan
Potensi Buah Pare (Momordhica Charantia) Sebagai Agen Pengobatan Ulkus Peptikum
Peptic ulcer is a condition of damage to the mucosal tissue, submucosa to the muscular layer of the digestive tract and is in direct contact with stomach acid / pepsin. The cause of peptic ulcers is related to H pylori and Non-steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDs). H pylori infection accounts for 90% of duodenal ulcer and 70% -90% of gastric ulcer. A systematic eview in 2018 found Spain to have the highest annual incidence of 141.8 / 100,000 people, while Britain had the lowest of 23.9 / 100,000 people and the prevalence of peptic ulcer in Indonesia is 6-15% especially at the age of 20-50 years with a peak age of 50-60 years. Herbal plants are traditional medicines that have been used all over the world because they are easy to get, cheap, and can provide their own lessons. Currently being used the use of Pare (Momordhica charantia) as a Peptic Ulcer Treatment Agent.Topical injury initiates erosion of initiation by disrupting the defense of the gastric epithelial mucosa. Studies in mitochondria and various cells show the accumulation of 'ion trapping' or ions trapped in gastric epithelial cells with mitochondrial oxidative phosphorylation and the inhibition of the work of the electron transport chain. This results in no formation of intracellular ATP, cellular Ca ++ toxicity and buildup of Reactive Oxygen Species (ROS) as free radicals.Momordica charantia is a family plant of Cucurbitaceae which has leaves, flowers and fruit. This plant shows considerable activity in reducing oxidative stress caused by reactive oxygen species that can treat peptic ulcers.Ulkus peptikum atau tukak peptikum adalah kondisi rusaknya jaringan mukosa, submukosa hingga lapisan otot dari saluran cerna dan berhubungan langsung (kontak) dengan cairan lambung asam/pepsin. Penyebab ulkus peptikum di seluruh negara dihubungan dengan H pylori dan Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS). Infeksi H pylori menyumbang 90% tukak duodenum dan 70% -90% tukak lambung. Sebuah tinjauan sistematis tahun 2018 menemukan Spanyol memiliki insiden tahunan tertinggi yaitu 141,8/100.000 orang, sedangkan Inggris memiliki yang terendah 23,9/100.000 orang. Prevalensi ulkus peptikum di Indonesia sebesar 6-15% terutama pada usia 20-50 tahun dengan usia puncak 50-60 tahun. Tanaman herbal merupakan pengobatan tradisional yang telah digunakan di seluruh dunia karena mudah didapatkan, murah, dan dapat memberikan pelajaran tersendiri. Saat ini sedang dikembangkan penggunaan Pare (Momordhica charantia) Sebagai Agen Pengobatan Ulkus Peptikum. Cedera topikal menginisiasi erosi inisiasi awal dengan mengganggu pertahanan mukosa epitel lambung. Studi pada mitokondria dan berbagai sel menunjukkan adanya akumulasi ‘ion trapping’ atau ion yang terjebak pada sel epitel lambung dengan fosforilasi oksidatif mitokondria yang tidak berpasangan dan inhibisi kerja rantai transpor elektron. Hal ini mengakibatkan tidak terjadinya pembentukan ATP intrasel, toksisitas Ca++ selular dan penumpukan Reactive Oxygen Species (ROS) sebagai radikal bebas. Buah Ppare atau Momordica charantiamerupakan tanaman famili Cucurbitaceae yang memiliki daun, bunga dan buah. Tanaman ini menunjukkan aktivitas yang cukup besar dalam mengurangi stres oksidatif yang disebabkan oleh spesies oksigen Reaktif yang dapat mengobati ulkus peptikum
RTS,S/AS01 sebagai Vaksin Malaria Generasi Pertama
Malaria is an infectius disease caused by Plasmodium sp. The treatment for malaria with Artemisinin-based Combination Therapy (ACT) can cause resistance so a new effort is needed to reduce the morbidity of malaria. A better prevention method for preventing malaria is to use vaccines. The RTS,S/AS01 vaccine is the first generation malaria vaccine that has been applied in Ghana, Kenya and Malawi since early 2018. The vaccine consists of circumsporozoite protein antigen and hepatitis B. This vaccine has been shown to provide partial protection to children and has reach efficacy by 80%.Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium sp. Pengobatan penyakit malaria menggunakan Artemisinin-based Combination Therapy (ACT) dapat menyebabkan resistensi sehingga diperlukan upaya baru untuk menurunkan angka kesakitan malaria. Sebuah metode pencegahan yang lebih baik untuk mencegah kejadian malaria adalah menggunakan vaksin. Vaksin RTS,S/AS01 merupakan vaksin malaria generasi pertama yang telah diterapkan di Ghana, Kenya dan Malawi sejak awaltahun 2018. Vaksin tersebut terdiri dari komponen antigen circumsporozoite protein dan hepatitis B. Vaksin ini telah terbukti memberikan perlindungan parsial kepada anak-anak dan memiliki efikasi sebesar 80%
Indeks Massa Tubuh Sebagai Faktor Risiko Pada Gangguan Muskuloskeletal
Body mass index (BMI) has proven as one of the risk factors for musculoskeletal disorders. overweight and obesity cause in several musculoskeletal disorders. Rheumatoid Arthritis (RA) is a chronic autoimmune disease and obesity is a risk factor of it. Regarding osteoarthritis (OA), overweight accelerates damage to the structure of the joint cartilage. overweight causes inflammation of the plantar fascia, called plantar fasciitis. Obesity causes lower back pain due to mechanical and inflammatory factors. Underweight causes bone mineral density disturbance so it is more susceptible to osteoporosis.Indeks massa tubuh (IMT) terbukti sebagai salah satu faktor risiko pada gangguan muskuloskeletal. Kelebihan berat badan dan obesitas mengakibatkan beberapa gangguan muskuloskeletal. Artritis reumatoid (AR) adalah penyakit autoimun kronis dan obesitas merupakan faktor risiko dari penyakit ini. Pada osteoartritis (OA) berat badan berlebih mempercepat kerusakan struktur tulang rawan sendi. Berat badan berlebih menyebabkan peradangan pada plantar fascia, yang disebut dengan plantar fasciitis. Obesitas merupakan penyebab dari terjadi nya nyeri punggung bawah akibat mekanis dan faktor inflamasi. Underweight menyebabkan terjadinya gangguan kepadatan mineral tulang sehingga lebih rentan terkena osteoporosis
Bone Marrow-Derived Mesenchymal Stem Cell (BM-MSC) Sebagai Sumber Alternatif Sel Blastema Terhadap Regenerasi Anggota Tubuh
Limb regeneration is initiated by blastema cells (BC) and related genes that are only present in mammals confined to the distal fingertips of the phalangeal terminals and neonates. If amputated to proximal phalangeal, regeneration will fail due to lack of blastema cells (BC) in adults and difficulty in isolating and using blastema cells (BC) from neonates. BM-MSC has succeeded in increasing its ability to regenerate various wound tissue and its healing properties, because of this BM-MSC is used as an alternative cell source that produces blastema cells (BC). The original blastema cells (BC) that isolated from neontus and blastema cells (BC) in BM-MSC were compared to the ability of colony formation, cell proliferation, alkaline phosphatase activity (ALP), calcium supply, and osteogenic gene expression. The ability to form colonies was significantly higher in BM-MSC compared to original BC (P <0.05). Alizarin red stain (ARS), calcium and ALP tests show higher levels of mineral deposition in BM-MSCs. The qRT-PCR analysis revealed cells from both sources were ready to differentiate into mesodermal lineages. The rate of expression of osteblastic markers shows the capasity of bone differences is higher at BM-MSC at all time points.Regenerasi anggota tubuh dimulai oleh sel-sel blastema (BC) dan gen-gen yang terkait yang hanya ada pada mamalia terbatas pada ujung jari distal phalangeal terminal dan neonatus. Jika diamputasi hingga phalangeal proksimal maka regenerasi akan gagal karena kurangnya sel-sel blastema (BC) pada orang dewasa dan kesulitan dalam mengisolasi dan memperluas sel blastema (BC) dari neonatus. BM-MSCs telah diakui kemampuannya untuk meregenerasi berbagai jaringan luka dan sifat penyembuhannya, karena hal ini BM-MSCs dijadikan sebagai sumber sel alternatif yang menghasilkan sel blastema (BC). Sel blastema (BC) asli yang diisolasi dari neontus dan sel blastema (BC) pada BM-MSC dibandingkan berdasarkan kemampuan pembentukan koloni, proliferasi, aktivitas alkaline phosphatase (ALP), kandungan kalsium, dan ekspresi gen osteogenik. Kemampuan pembentukan koloni secara signifikan lebih tinggi pada BM-MSC dibandingkan dengan BC asli (P <0,05). Alizarin red stain (ARS), kalsium dan uji ALP menunjukkan tingkat deposisi mineral yang lebih tinggi pada BM-MSCs. Analisis qRT-PCR mengungkapkan bahwa sel-sel dari kedua sumber siap berdiferensiasi menjadi garis keturunan mesodermal. Tingkat ekspresi gen marker osteblastik menunjukkan kapasitas diferensiasi tulang yang lebih tinggi pada BM-MSC pada semua titik waktu
Aktivitas Antibakteri Plum (Prunus domestica L.)
Infectious diseases are a major health problem because the main causes are higher morbidity and mortality rates dominant in developing countries. Management of infectious diseases by giving antibiotics. If it was given irrationally, it can lead to resistance, Therefore an alternative treatment is needed by using plants that have antimicrobial composition reserves. One of the plants that can be antibacterial is a plum fruit. The fruit contains secondary metabolites containing flavonoids, saponins, alkaloids. Flavonoid compounds which are able to denature bacteria can cause cell wall damage. And the composition of saponins can increase cell wall permeability. Plum showed a zone of inhibition against some pathogenic bacteria including Staphylococcus epidermidis followed by Staphylococcus aureus and Proteus mirabilis.Penyakit infeksi menjadi masalah utama kesehatan, karena merupakan penyebab utama lebih tinggi angka kesakitan dan kematian dominan dinegara berkembang.Penatalaksaan yang dilakukan berupa pemberian antibiotik. Namun, apabila pemberian antibiotic tidak rasional maka dapat menimbulkan terjadinya resistensi. Oleh karena itu dibutuhkan pengobatan alternatif dengan menggunakan tanaman yang memili kandungan senyawa antimikroba. Salah satu tanaman yang mampu berperan menjadi antibakteri adalah buah plum. Di dalam buah plum terdapat senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid, saponin, alkaloid. Senyawa flavonoid yang mampu mendenaturasi bakteri sehingga dapat menyebabkan terjadinya kerusakan dinding sel. Serta senyawa saponin mampu meningkatkan permeabilitas dinding sel. Plum menunjukkan zona hambat terhadap bebebrapa bakteri pathogen diantaranya Staphylococcus epidermidis diikuti Staphylococcus aureus dan Proteus mirabili
Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Atas Pada Balita
The purpose of this study was to determine factors related to the incidence of upper respiratory tract infections in infants. The research method, this research is a descriptive study using cross sectional study design. A cross sectional study is a study in which variables included in risk factors and variables included in effects are observed at the same time. The results of the study, there is a relationship between nutritional status, smoking habits, density of occupants, maternal education and immunization status on the incidence of upper respiratory tract infections in infants. Conclusion, the dissemination of information about upper respiratory infections so that the community always does not allow their children to be exposed to risk factors for upper respiratory infections, awareness of parents, especially those who like to smoke so as not to smoke in the home environment because it will affect the health of the respiratory tract, especially in infants so it must be done socialization of the dangers of smoking to the community by local health workers. Immunization is one of the factors affecting the incidence of upper respiratory tract infections in infants, so there is a need for counseling about the importance of immunization in infants by local health workers.Tujuan penelitian, mengetahui faktor yang berhubungan dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Atas pada Balita. Metode penelitian, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan rancangan studi cross sectional. Penelitian cross sectional adalah suatu penelitian dimana variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel yang termasuk efek diobservasi pada waktu yang sama. Hasil penelitian, ada hubungan antara status gizi, kebiasan merokok, kepadatan penghuni rumah, pendidikan ibu dan status imunisasi terhadap kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Atas pada balita. Kesimpulan, penyebarluasan informasi tentang ISPA agar masyarakat senantiasa tidak membiarkan anaknya terpapar dengan faktor risiko Infeksi Saluran Pernafasan Atas, kesadaran dari orang tua terutama yang suka merokok agar tidak merokok dalam lingkungan rumah karena akan mempengaruhi kesehatan saluran pernapasan terutama pada balita sehingga harus dilakukan sosialisasi bahaya merokok pada masyarakat oleh petugas kesehatan setempat. Imunisasi merupakan salah faktor yang mempengaruhi kejadian ISPA pada balita sehingga perlu adanya penyuluhan tentang pentingnya imunisasi pada balita oleh petugas kesehatan setempat
Ekstrak Kunyit (Curcuma longa) sebagai Tatalaksana Sindrom Polikistik Ovarium
Polycystic ovary syndrome (PCOS) is a disease that often occurs in women and is a heterogeneous endocrine disease. PCOS often causes infertility in women. The major criteria for this syndrome are hyperandrogenism, hyperinsulinemia, chronic anovulation and polycystic ovaries. The causes of PCOS are multifactorial include insulin resistance, hyperlipidemia, obesity, genetics and the environment. Turmeric or Curcuma longa is a well-known plant in the treatment of inflammation of the liver. In its development it turns out that turmeric is not only useful in the treatment of liver disease, but also on PCOS. Turmeric contains curcuminoid which has anti-cancer effects because it is rich in antioxidants, anti-inflammatory, hypoglycemic, antibacterial and anti-hyperlipidemia agents. Turmeric is very well absorbed in the digestive tract, so it is very good to use orally. Therefore turmeric is best used to reduce the symptoms of PCOS.Sindrome polikistik ovarium / polycystic ovary syndorme (PCOS) adalah penyakit yang banyak terjadi pada wanita dan merupakan penyakit endokrin yang heterogen. PCOS sering menyebabkan infertilitas pada wanita. Kriteria mayor dari sindrom ini adalah hiperandrogenisme, hiperinsulinemia, anovulasi kronik dan polikistik ovarium. Penyebab PCOS multifaktorial, diantaranya resistensi insulin, hiperlipidemia, obesitas, genetik dan lingkungan. Kunyit atau Curcuma longa adalah tanaman yang terkenal dalam pengobatan inflamasi pada hepar. Dalam perkembangannya ternyata kunyit tidak hanya berguna dalam pengobatan penyakit pada hepar saja namun juga pada PCOS. Kunyit mengandung curcuminoid yang memiliki efek anti kanker karena kaya akan antioksidan, agen anti-inflamasi, hipoglikemik, antibakterial dan antihiperlipidemia. Kunyit sangat baik di absorbsi di saluran cerna, sehingga sangat baik digunakan peroral. Oleh karena itu kunyit sangat baik digunakan untuk menurunkan gejala PCOS
Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Picky Eating Pada Anak
Picky eating is included in the feeding difficulties spectrum, where the children refuse newly introduced food, or only want to eat a certain type of food. Picky eating can impact the nutritional status of the children because a picky eater tends to have a lower nutrition intake originated from the food they refuse, especially micronutrients such as magnesium (Mg), iron (Fe), dan the other micronutrients. The factors influencing the picky eating occurrence in children are genetic factors, prenatal factors, postnatal food intake, and family environment.Picky eating termasuk kedalam spekrum kesulitan makan (feeding difficulties) dimana anak menolak untuk mencoba makanan baru, atau hanya mau makan makanan tertentu. Picky eating dapat mempengaruhi status gizi seorang anak dikarenakan seorang anak yang picky eating akan cenderung kekurangan zat gizi yang terkandung dalam makanan yang ia tolak, terutama zat gizi mikro seperti magnesium (Mg), zat besi (Fe), dan zat gizi mikro lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian picky eating antara lain genetik, pengaruh prenatal, pemberian makanan dini postnatal, pola makan orangtua, dan lingkungan keluarga