JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Not a member yet
    583 research outputs found

    Pengaruh Kehamilan Usia Remaja terhadap Kejadian Anemia dan KEK pada Ibu Hamil

    Get PDF
    Background : Adolescent pregnancy is a pregnancy that occurs at the age of 15-19 years old. Adolescent Pregnancy causes many complications, such as anemia and chronic energy deficiency. Objective : To find out more about the effect of adolescent pregnancy on the incidence of anemia and KEK in pregnant women. Methods : Using literature studies from both national and international journals by summarizing the topic of discussion and comparing the results presented in the article. Results : adolescence pregnancy causing anemia and KEK because of the ahe is still in its infancy which requires sufficient energy and high use of iron in the body. Conclusion : there is an influence of teenage pregnancy of the incidence of anemia and KEK in pregnant womenLatar Belakang : Kehamilan usia remaja merupakan kehamilan yang terjadi pada umur 15 – 19 tahun. Kehamilan usia remaja menimbulkan banyak komplikasi yaitu anemia dan KEK .. Tujuan : mengetahui lebih lanjut tentang pengaruh kehamilan usia remaja terhadap kejadian anemia dan KEK pada ibu hamil. Metode : Menggunakan studi literatur dari jurnal baik nasional maupun internasioanl dengan cara meringkas topik pembahasan dan membandingkan hasil yang disajikan didalam artikel. Hasil : kehamilan usia remaja masih dalam masa pertumbuhan yang memerlukan energi yang cukup dan penggunaan zat besi dalam tubuh yang tinggi. Kesimpulan : Terdapat pengaruh kehamilan usia remaja terhadap kejadian anemia dan KEK pada ibu hamil

    Kompetensi Perawat dan Tingkat Keterlaksanaan Kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat

    Get PDF
    Background: health development is a way to increase awareness, willingness, and ability to live healthy for everyone in order to realize an optimal degree of public health. Method: This type of research is non-experimental with a quantitative approach, and correlation analytics. The population of all nurses who work at the puskesmas in Makassar is 118 people who meet the inclusion criteria in their selection. Results: there was no relationship between knowledge and the level of implementation of the social security activities. Conversely, there is a relationship between attitudes, skills, and competencies with the level of implementation of public health activities and that there is an interaction between competence and training so that the two variables affect each other. Conclusion: that there is a relationship between attitudes, skills and knowledge in the implementation of community health activities. Most dominant with the implementation of the social security program is the interaction between competence and trainingLatar belakang: pembangunan kesehatan merupakan cara dalam meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Metode: Jenis penelitian ini adalah non- eksperimental dengan pendekatan kuantitatif, dan analitik korelasi. Populasi seluruh perawat yang bekerja di puskesmas di Kota Makassar sebanyak 118 orang perawa yang memenuhi kriteria inklusi dalam pemilihannya. Hasil: tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan tingkat keterlaksanaan kegiatan perkesmas. Sebaliknya, ada hubungan antara sikap, keterampilan, dan kompetensi dengan tingkat keterlaksanaan kegiatan perkesmas dan bahwa terdapat interaksi antara kompetensi dan pelatihan sehingga kedua variabel tersebut saling mempengaruhi. Kesimpulan: bahwa ada hubungan antara sikap, keterampilan dan pengetahuan dalam keterlaksanaan kegiatan perkesmas. Paling dominan dengan keterlaksanaan perkesmas adalah adanya interaksi antara kompetensi dan pelatiha

    Peran Leptin Terhadap Tes Toleransi Glukosa Oral pada Penderita DM Tipe 2

    Get PDF
    Latar Belakang : DM merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Gejala yang dikeluhkan pada penderita Diabetes Melitus yaitu polidipsi, poliuri, polifagia, penurunan berat badan, dan kesemutan. Tes toleransi glukosa oral merupakan tes yang digunakan untuk menegakkan diagnosis DM saat level glukosa darah kurang tegas, saat kehamilan, atau untuk skrining DM maupun TGT. Leptin merupakan hormon yang diproduksi oleh sel lemak yang meregulasi penimbunan lemak di tubuh dan menyesuaikan antara rasa lapar dengan pengeluaran energi.  Tujuan : Mengetahui lebih lanjut tentang peran leptin terhadap TTGO pada penderita DM Tipe 2 Metode : Menggunakan studi literatur dari jurnal baik nasional maupun internasional untuk menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai topik yang dibahas dengan cara meringkas topik pembahasan dan membandingkan hasil yang disajikan dalam artikel. Hasil : Leptin terhadap pemeriksaan TTGO pada individu dengan toleransi glukosa terganggu berpeluang lebih besar menjadi diabetes melitus apabila tidak ada intervensi pada gaya hidupnya. Kesimpulan : Leptin berperan terhadap pemeriksan TTGO pada penderita DM Tipe 2.Background: DM is a group of metabolic diseases characterized by hyperglycemia that occurs due to abnormal insulin secretion, insulin action, or both. Symptoms that are complained of in diabetes mellitus sufferers are polydipsia, polyuria, polyphagia, weight loss, and tingling sensation. The oral glucose tolerance test is a test used to diagnose DM when the blood glucose level is less firm, during pregnancy, or to screen for DM or TGT. Leptin is a hormone produced by fat cells that regulate fat storage in the body and adjusts hunger to energy expenditure. Objective: to find out more about the role of leptin on TTGO in people with Type 2 diabetes. Methods: using literature studies from both national and international journals to increase knowledge and understanding of the topics discussed by summarizing the discussion topics and comparing the results presented in the article. Results: Leptin on TTGO examination in individuals with impaired glucose tolerance had a greater chance of becoming diabetes mellitus if there was no intervention in their lifestyle. Conclusion: Leptin plays a role in checking TTGO in people with Type 2 diabete

    Buah Plum Sebagai Pencegah Kejadian Preeklampsia Pada Kehamilan

    Get PDF
    Every year there are 10 million pregnant women who experience preeclampsia with the number of pregnant babies dying with preeclampsia reaching 500,000 babies year. Approximately 76,000 pregnant women died from preeclampsia and hypertension-related diseases. Preeclampsia is a blood pressure of at least 140 mmHg systolic or 90 mmHg diastolic at two tests corresponding to 15 minutes using the same with urine protein increased 300 mg in 24 hours or urine dipstick test> positive 1 and liver, neurological dysfunction. neurological, uteroplacental circulation, pulmonary edema, thrombocytopenia after 20 weeks of gestation. Preeclampsia is a pregnancy syndrome in the form of a lack of organ perfusion due to vasospasm and endothelial dysfunction. Increased capillary permeability, increased coagulation factors, increased vasopressor substances and decreased levels of vasodilators such as a nitric oxide (NO). One of the compounds that can increase NO levels is flavonoids which are found in plums. NO deficiency in pregnant women has an important role in the incidence of preeclampsia. Increased NO in pregnant women is being carried out to prevent preeclampsia. The content in plums has the function of increasing endothelial function and decreasing systolic and diastolic pressure. So that by eating plums can prevent the occurrence of preeclampsia in pregnancy.Setiap tahun terdapat 10 juta wanita hamil mengalami preeklampsia dengan jumlah kematian bayi akibat kehamilan dengan preeklampsia mencapai 500.000 bayi per tahun. Terdapat kira-kira 76.000 wanita hamil meninggal akibat preeklampsia dan penyakit terkait hipertensi. Preeklampsia merupakan sindrom spesifik kehamilan berupa berkurangnya perfusiorgan akibat vasospasme dan disfungsi endotel. Peningkatan permeabilitas kapiler, peningkatan faktor koagulasi, peningkatan bahan vasopressor dan penurunan kadar vasodilator seperti nitrit oksida (NO). Salahsatu senyawa yang dapat meningkatkan kadar NO adalah Flavonoid yang banyak ditemukan dalam buah plum. Defisiensi NO pada ibu hamil memiliki peran penting dalam terjadinya preeklampsia. Peningkatan NO pada ibu hamil sedang gencar dilakukan untuk mencegah terjadinya preeclampsia. Kandungan dalam buah plum ini memiliki fungsi berupa peningkatan fungsi endotel dan penurunan tekanan sistolik dan diastolik. Sehingga dengan mengonsumsi buah plumdapat mencegah terjadinya preekslampsia pada kehamila

    Kualitas Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Padongko

    Get PDF
    Background; Increasing public awareness of their rights to obtain services, including health services, is a positive indicator of increasing awareness of the importance of health. This study aims to determine the quality of health services at Puskesmas Padongko, Barru District, Barru Regency. Methods: This research type used is descriptive qualitative. The data used are primary data and secondary data. Primary data as informants are Puskesmas Padongko staff, patients, and community leaders. Meanwhile, secondary data is carried out through literature searches, journals, and other scientific works. Data collection techniques are interviews, observation, and documentation. Then the data analysis techniques, namely; data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that although there was still a lack of facilities and facilities, in general, it could be concluded that Puskesmas Padongko had shown a fairly good quality of health services. Conclusion: Although there is still a lack of facilities and infrastructure, in general, it can be concluded that Puskesmas Padongko has shown a fairly good quality of health services.Abstrak. Latar belakang; semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan haknya dalam memeperoleh pelayanan termasuk pelayanan kesehatan merupakan salah satu indikator positif meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas pelayanan kesehatan di Puskesmas Padongko Kecamatan Barru Kabupaten Barru. Metode: penelitian ini tipe penelitian yang digunakan adalah dekriftif kualitatif. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Untuk data primer sebagai informan adalah: pegawai Puskesmas Padongko, pasien dan tokoh masyarakat.  Sementara data skunder dilakukan melalui penelusuran kepustakaan, jurnal dan karya ilmiah lainnya. Teknik pengumpulan data adalah: wawancara, observasi dan dokumentasi. Kemudian teknik analisis data yaitu; reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun masih kekurangan sarna dan prasarana, namun secara umum dapat disimpulkan bahwa Puskesmas Padongko sudah menunjukkan kualitas pelayanan kesehatan yang cukup baik. Kesimpulan: meskipun masih kekurangan sarana dan prasarana, namun secara umum dapat disimpulkan bahwa Puskesmas Padongko sudah menunjukkan kualitas pelayanan kesehatan yang cukup bai

    Potensi Manfaat Kardioprotektif dari Minyak Zaitun

    Get PDF
    Cardiovascular disease is the leading cause of death in the world and the two main risk factors for its development are aging and diet. Diet plays a decisive role in health maintenance and disease prevention. Meanwhile, olive oil is known to provide beneficial effects on hypertension and the prevention of cardiovascular disease with various important components in it. There are two types of olive oil depending on the production mechanism, namely extra virgin olive oil (EVOO) and refined olive oil (ROO). This literature study aimed to assess the association between olive oil intake and the risk of cardiovascular disease and the potential cardioprotective benefits of olive oil. Method. This research is a literature review involving 18 literature sources from 1 national journal and 17 international journals. Result. Several studies have significantly demonstrated the cardioprotective, antithrombotic, and anti-inflammatory properties of olive oil from both the major and minor components of olive oil. Conclusion. Consistent food intake with olive oil can provide a cardioprotective effect from various important components in it, as a prevention of cardiovascular disease.Penyakit kardiovaskular menjadi penyebab kematian terbanyak di dunia dan dua faktor risiko utama perkembangannya adalah penuaan dan pola makan. Diet memainkan peran penentu dalam pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit. Sementara itu, minyak zaitun diketahui dapat memberikan efek menguntungkan pada keadaan hipertensi dan pencegahan penyakit kardiovaskular dengan berbagai komponen penting didalamnya. Terdapat dua jenis minyak zaitun tergantung pada mekanisme produksinya, yaitu minyak zaitun extra virgin (extra virgin olive oil / EVOO) dan minyak zaitun murni (refined olive oil/ ROO). Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk menilai hubungan antara asupan minyak zaitun dan risiko penyakit kardiovaskular serta potensi mafaat kardioprotektif dari minyak zaitun. Metode; penelitian ini merupakan literature review yang melibatkan sumber pustaka sebanyak 18 pustaka yang berasal dari 1 jurnal nasional dan 17 jurnal internasional. Hasil. Beberapa penelitian secara signifikan menunjukkan sifat kardioprotektif, antitrombotik dan antiinflamasi dari minyak zaitun baik dari komponen mayor maupun minor minyak zaitun. Kesimpulan. Asupan makanan dengan minyak zaitun secara konsisten dapat memberikan efek kardioprotektif dari berbagai komponen penting didalamnya, sebagai pencegahan penyakit kardiovaskular

    Hubungan Antara Rhinitis Alergi Dengan Sinusitis Pada Pemeriksaan Foto Sinus Paranasal di RSUD DR. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung Tahun 2019

    No full text
    Background: Sinusitis and rhinitis are closely related diseases, especially chronic rhinitis. Allergic rhinitis is an allergic reaction to the nose that exposed to allergens. Sinusitis is an inflammatory disease that occurs in the sinus mucosa caused by inflammation of the nose with symptoms in the form of nasal congestion and pressure in the infected sinus area. Purpose: This study aims to determine whether there is a relationship between Allergic Rhinitis and Sinusitis on Paranasal Sinus Photo Examination at RSUD DR. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung in 2019. Research Method: The research method used in this study is a descriptive analytic study with a cross sectional approach because it intends to analyze the influence or relationship in the study. The research design is cross sectional, which is a type of research conducted by collecting data only once at a time. The result: By using the Chi Square test, it shows a p-value = 0.000 which is less than the significance value of 5% (0.05), this shows that there is a significant relationship between allergic rhinitis and sinusitis. From the above analysis, it was found that the OR value = 17.28, which states that patients who experience allergic rhinitis have 17.28 times to experience sinusitis. By using the Chi Square test, it shows a p-value = 0.000 which is less than the significance value of 5% (0.05), this shows that there is a significant relationship between allergic rhinitis and sinusitis. Conclusion: There is a significant relationship between allergic rhinitis and sinusitis on the paranasal sinus photo examination at RSUD DR. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung in 2019

    Hubungan Sikap, Pola Asuh Keluarga, Peran Orang Tua, Peran Guru dan Ketersediaan Sarana Dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

    No full text
    Background: Clean and Healthy Living Behavior (CHLB) is a collection of behaviors carried out by a person on self-awareness, obtained from the results of learning, to make a person, family, group, or society independent of health and play an active role in realizing health. Various diseases often appear and attack in school-age children related to CHLB. The implementation of CHLB indicators in schools can be influenced by many factors, including student knowledge, attitude, teacher role, parent role, media exposure, availability of infrastructure facilities, and other factors. The purpose of this study is to find out the factors related to clean and healthy living behavior (CHLB) in students of SD N Baturan II Sub-District Gamping Sleman District. Methods: This study uses cross-sectional studies. The population of this study is graded V and VI students at SD N Baturan II. The sampling technique was conducted with total sampling (39 respondents). The research instrument is a questionnaire. Analyze data with univariate analysis and bivariate analysis using the Chi-square test. Result: The results of the bivariate analysis showed that there was no relationship between attitudes and students' CHLB  p=0.151, there was a relationship between family parenting and students' CHLB p=0.001, there was a relationship between the role of parents and students' CHLB p=0.018, there was no relationship between the role of teachers and CHLB students p =0.250, and there is no relationship between the availability of facilities and student CHLB p =0.501. Conclusion: There is no relationship between attitudes, the role of teachers, and the availability of facilities with CHLB and there is a relationship between family parenting and the role of parents with students' CHLB.Latar Belakang: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah kumpulan dari perilaku yang dilaksanakan oleh seseorang atas kesadaran diri sendiri, didapatkan dari hasil pembelajaran, sehingga menjadikan seseorang tersebut dapat mandiri terhadap kesehatannya. Berbagai penyakit sering muncul dan menyerang pada anak usia sekolah yang berkaitan dengan PHBS. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada siswa SD N Baturan II Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan studi cross sectional. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas V dan VI di SD N Baturan II. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan total sampling (39 responden). Instrumen pepenelitian yaitu kuesioner. Analisis data dengan analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji Chi square. Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan antara sikap dengan PHBS siswa p=0,151, ada hubungan antara pola asuh keluarga dengan PHBS siswa p=0,001, ada hubungan antara peran orang tua dengan PHBS siswa p=0,018, tidak ada hubungan antara peran guru dengan PHBS siswa p=0,250, dan tidak ada hubungan antara ketersediaan sarana dengan PHBS siswa p=0,501.Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara sikap, peran guru dan ketersediaan sarana dengan PHBS dan ada hubungan antara pola asuh keluarga dan peran orang tua dengan PHBS siswa

    Enzim Transferase dengan Bilirubin Total Penderita Ikterus Obstruktif

    No full text
    Post-hepatic obstructive jaundice is jaundice that caused by an obstruction in the bile ducts that leads to disruption of bile flow between the liver and duodenum. The function of the liver can be measured by examining the activity of serum aminotransferase, known as Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase and Serum Glutamic Pyruvic Transaminase. SGOT, SGPT, and bilirubin is one of the liver productions in which if liver damage occurs, there will be abnormalities in the results. The purpose of this study was to determine the relationship between transferase enzymes and total bilirubin in obstructive jaundice patients. This study was an Observational analytic approach with a cross-sectional design, and the sampling technique was purposive sampling and obtained a sample of 40 people. Patients data were obtained from secondary data with medical records. The bivariate test is done by Spearman’s correlation test. The result showed that there is a good correlation between SGOT levels and total bilirubin levels (p-value = 0.001), with a correlation value of 0.498, also SGPT levels and total bilirubin levels (p-value = 0.011), with a correlation value of 0.397. The conclusion is an increase of total bilirubin levels in obstructive jaundice patients will be accompanied by an increase of SGOT and SGPT levelsIkterus obstruktif post-hepatik merupakan ikterus yang terjadi akibat adanya suatu sumbatan  pada saluran empedu yang mengakibatkan terjadinya gangguan aliran empedu antara organ hati dengan duodenum. Fungsi hati dapat diukur dengan cara memeriksa aktivitas enzim serum, salah satunya serum aminotransferase yaitu Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) dan Serum Glutamic Piruvic Transaminase (SGPT). SGOT, SGPT dan bilirubin merupakan salah satu produksi dari hati yang dimana jika terjadi kerusakan hati maka akan terjadi kelainan pada hasil enzim hati dan bilirubin total. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan  antara enzim transferase dengan bilirubin total pada penderita ikterus obstruktif di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung tahun 2019. Penelitian ini merupakan penelitian analatik observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan didapatkan sampel sebanyak 40 orang. Data pasien diperoleh dari data sekunder dengan hasil rekam medik. Uji bivariat menggunakan uji korelasi Spearman’s. Hasil penelitian menunjukkan ada korelasi yang baik antara kadar SGOT dengan kadar bilirubin total (p-value =0.001), dengan nilai korelasi yaitu 0.498.Ada korelasi yang baik antara kadar SGPT dengan kadar bilirubin total (p-value =0.011), dengan nilai korelasi yaitu 0.397. Kesimpulannya, peningkatan kadar bilirubin total pada pasien ikterus obstruktif akan diiringi  dengan peningkatan kadar SGOT dan SGP

    Studi Faktor Risiko Kelainan Miopia Di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin

    Get PDF
    Background: Vision is a very important sense in determining the quality of human life. In the vision, the eye has a variety of refractive disorders, one of which is myopia. Myopia or nearsightedness is a condition where light entering the eye is focused in front of the retina, making distant objects appear blurred. Many factors cause myopia or nearsightedness, namely age, gender, heredity, and short distance activity. Research Purpose: To determine the risk factors of myopia in Pertamina Bintang Amin Hospital in Lampung Province in 2020. Research Method: This type of research is descriptive quantitative design. The sample in this study were 65 people with a total sampling technique. Data collection using questionnaire sheets and interviews. Data analysis techniques used univariate analysis to determine the frequency distribution of myopia risk factors. Research Result: The results of this study showed that the most common frequency of mild myopia was 39 people (60.0%). The frequency factor of young adult age was 42 respondents (64.6%). The frequency of female gender factors was 37 respondents (56.9%). The frequency of historical factors father/mother's descendants alone were 28 respondents (43.1%). Frequency factors of close-range activity playing computer, cellphone for 1-2 hours as many as 28 people (43.1%), reading books for 1-2 hours as many as 39 people (60.0%), and watching TV for 1-2 hours as much 50 people (76.9%). Conclusion: there is a risk factor of myopia including age, sex, heredity, and close-range activity.Latar belakang: Penglihatan merupakan indera yang sangat penting dalam menentukan kualitas hidup manusia. Dalam penglihatan, mata mempunyai berbagai macam kelainan refraksi salah satunya miopia. Miopia atau rabun jauh merupakan keadaan dimana cahaya yang memasuki mata terfokus di depan retina sehingga membuat objek yang jauh terlihat kabur. Banyak faktor yang menyebabkan miopia atau rabun jauh yaitu usia, jenis kelamin, keturunan, dan aktivitas jarak dekat.Tujuan penelitian: Untuk mengetahui faktor risiko kelainan miopia di rumah sakit pertamina bintang amin provinsi lampung tahun 2020.Metode penelitian: Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan desain kuantitatif. Sampel pada penelitian ini sebanyak 65 orang dengan teknik total sampling.pengambilan data menggunakan lembar kuesioner dan wawancara. teknik analisa data menggunakan analisis univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi faktor risiko miopia. Hasil penelitian: Hasil penelitian ini menunjukan bahwa paling banyak dijumpai pada frekuensi miopia ringan sebanyak 39 orang (60,0%). Frekuensi faktor usia dewasa muda sebanyak 42 responden (64,6%). Frekuensi faktor jenis kelamin perempuann sebanyak 37 responden (56,9%). Frekuensi faktor riwayat keturunan ayah/ibu saja sebanyak 28 responden (43,1%). Frekuensi faktor aktivitas jarak dekat bermain komputer, Hp selama 1-2 jam sebanyak 28 orang (43,1%), membaca buku selama 1-2 jam sebanyak 39 orang (60,0%), dan menonton Tv selama 1-2 jam sebanyak 50 orang (76,9%). Kesimpulan: Terdapat faktor risiko miopia antara lain usia, jenis kelamin, keturunan, dan aktivitas jarak deka

    435

    full texts

    583

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇