JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Not a member yet
583 research outputs found
Sort by
Gambaran Nutrisi Lansia Di Desa Banua Baru
The elderly is the last phase in human life, where every aged person will definitely pass through this phase. As we age, all organ functions have reached their maximum peak so what is happening now is a decline in organ function. There are many elderly people in Indonesia who experience nutritional fulfillment disorders who experience malnutrition (BMI 16.5-18.49%) as much as 31% and more nutrition 1.8%. Nutrition is less often caused by social and economic problems and also due to disease disorders, if the consumption of calories is too low than needed then the body weight is less than normal. The purpose of this study, to determine the amount of BMI and the type of nutritional intake in the elderly. The research design is quantitative descriptive. The study was conducted by measurements and observations made in one time with the inclusion criteria are the elderly who can be invited to communicate, using a design on the variable Screening Mini Nutritional Assessment (MNA). The results of the study were obtained from 18 samples experiencing malnutrition and 20 samples of risk of experiencing malnutrition, while for the measurement of BMI from the elderly obtained values ​​of 0 = BMI <19; 19 people, value 1 = BMI 19-21; 9 people, value 2 = BMI 21- 23; 6 people, value 3 = BMI> 23; 4 people.Lansia yaitu fase terakhir dalam kehidupan manusia, dimana setiap insan yang berumur pasti akan melewati fase ini. Semakin bertambahnya usia maka seluruh fungsi organ telah mencapai puncak maksimal sehingga yang terjadi sekarang adalah penurunan fungsi organ. lansia di Indonesia banyak yang mengalami gangguan pemenuhan gizi yang mengalami gizi kurang (IMT 16,5-18,49%) sebanyak 31% dan gizi lebih banyak 1,8%. Gizi kurang sering di sebabkan oleh masalah social dan ekonomi dan juga karena gangguan penyakit, bila konsumsi kalori yang terlalu rendah dari yang dibutuhkan maka berat badan kurang dari normal. Tujuan dilakukannya penelitian ini,untuk mengetahui jumlah nilai IMT dan jenis asupan nutrisi pada lansia. Desain penelitian merupakan deskriptif kuantitatif. Penelitian dilakukan dengan pengukuran dan pengamatan yang dilakukan dalam satu waktu saja dengan kritetria inklusinya adalah lansia yang dapat diajak berkomunikasi, dengan menggunakan rancangan pada variable Skcreening Mini Nurtitional Asessment (MNA). Hasil penelitian didapat yaitu dari 18 sampel mengalami malnutrisi dan 20 sampel resiko mengalami malnutrisi, sedangkan untuk pengukuran IMT dari lansia didapatkan hasil nilai 0=IMT <19;19 orang, nilai 1=IMT 19-21;9orang, nilai 2=IMT 21-23;6 orang, nilai 3=IMT >23;4 orang
Hubungan Merokok Dan Riwayat Keturunan Dengan Kejadian Hipertensi
Background: Smoking is an overt behavior in which smokers inhale tobacco rolls. In this case, it means that smoking is inhaling a roll of tobacco that wrapped in a paper. History of descent is if both parents have a history of the disease, then their descent will be at risk for getting the disease because of the genetics influence. Hypertension is a condition when the systolic blood pressure ≥ 140 mmHg and diastolic ≥ 90 mmHg on two blood pressure measurement examinations within 5 minutes and in a relaxed state. Methodology: The type of research that is used is patients that are suspected of having hypertension in the working area of Community Health Center (PUSKESMAS observational analytic method with cross-sectional approach by using a questionnaire. The population of this study was all) Simbarwaringin in Trimurjo district of Central Lampung in 2019. As well as sampling using purposive sampling method, with a total of 88 samples. The data were analyzed by Chi-Square test. Result: In this study, out of 42 respondents who have a smoking habit, most experienced hypertension as many as 36 people (85.7%). Similarly of the 59 respondents who have hereditary factors, most experienced hypertension as many as 48 people (81.4%). By using the Chi-Square test, shows that a p-value = 0.016 which is less than the value of significance of 5%. It shows a significant relationship between smoking habit with the incidence of hypertension and also a relationship of hereditary with the incidence of hypertension by using Chi-Square showed a p-value = 0.023 which is less than the value of significance of 5% (0.05). Conclusion: There is a relationship between smoking and the history of descent with hypertension events in the working area of Community Health Center (PUSKESMAS) Simbarwaringin in Trimurjo district of Central Lampung in 2019.Latar Belakang: Merokok merupakan overt behavior dimana perokok menghisap gulungan tembakau. Dalam hal ini dimaksud bahwa merokok adalah menghisap gulungan tembakau yang dibungkus dengan kertas. Riwayat keturunan adalah apabila kedua orang tua memiliki riwayat penyakit maka keturunannya akan beresiko terkena penyakit tersebut karena pengaruh genetika. Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan diastolik ≥ 90 mmHg pada dua kali pemeriksaan pengukuran tekanan darah dalam jangka waktu 5 menit dalam keadaan rileks. Metodologi: Jenis penelitian yang digunakan adalah metode analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional menggunakan kuisioner. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien yang di curigai hipertensi di wilayah kerja puskesmas simbarwaringin kecamatan trimurjo lampung tengah tahun 2019, serta pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, dengan jumlah sample sebanyak 88. Data dianalisis dengan Uji Chi-Square. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan dari 42 responden yang memiliki kebiasaan merokok, sebagian besar mengalami kejadian hipertensi sebanyak 36 orang (85.7%). Sama halnya juga dari 59 responden yang memiliki faktor keturunan, sebagian besar mengalami kejadian hipertensi sebanyak 48 orang (81.4%). Dengan menggunakan uji Chi Square menunjukkan p-value = 0.016 dimana kurang dari nilai kemaknaan yaitu 5% (0.05), hal tersebut menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi dan juga terdapat hubungan faktor keturunan dengan kejadian hipertensi Dengan menggunakan uji Chi Square menunjukkan p-value = 0.023 dimana kurang dari nilai kemaknaan yaitu 5% (0.05). Kesimpulan : Ada hubungan antara merokok dan riwayat keturunan terhadap kejadian hipertensi di wilayah kerja puskesmas simbarwaringin kecamatan trimurjo lampung tengah tahun 2019
Dukungan Sosial dengan Tingkat Kecemasan Siswa dalam Menghadapi Ujian Akhir Nasional
Background: Anxiety often happens when will face the test, because the success of students in achieving established criteria also the graduation of students becomes a benchmark in taking the education process to the next level. Anxiety is influenced by several factors, one of them is social support. Social support is very effective in reducing psychological distress, such as depression or anxiety. Purpose: To determine the correlation between social support and the level of anxiety in dealing with national examination for XII grade students at SMA 1 North Raman East Lampung. Method: Using an observational analytical design with a cross-sectional approach. The samples were collected using a purposive sampling technique. Data collection was collected by using the questionnaire and then analyzed them using the Spearman test. Results: There were 78 samples of students class XII, 45 respondents (57.7%) with moderate social support category, and 48 respondents (61.5%) with moderate anxiety level category, Spearman statistical test results obtained p = 0.008 (p <0.05), which means there is a significant relationship between social support and level of anxiety. Conclusion: The final result shows that there is a significant relationship between social support and the level of anxiety.Kecemasan seringkali terjadi ketika akan menghadapi ujian hal ini dikarenakan keberhasilan peserta didik dalam mencapai kriteria yang telah ditetapkan atau kelulusan siswa menjadi tolak ukur dalam menempuh proses pendidikan ke jenjang selanjutnya. Kecemasan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah dukungan sosial. Dukungan sosial sangat efektif dalam mengurangi tekanan psikologis, seperti depresi atau kecemasan. Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan tingkat kecemasan dalam menghadapi ujian akhir nasional pada siswa-siswi kelas XII SMA Negeri 1 Raman Utara, Lampung Timur Tahun 2019. Metode Penelitian : Menggunakan rancangan analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner selanjutnya dianalisis menggunakan uji Spearman. Hasil Penelitian : Didapatkan dari 78 sampel siswa-siswi kelas XII, sebanyak 45 responden (57,7%) dengan kategori dukungan sosial sedang,dan 48 responden (61,5%) dengan kategori tingkat kecemasan sedang. Hasil uji statistik Spearmen test diperoleh p- value =0,008 (p<0,05) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dan tingkat kecemasan. Kesimpulan : Hasil akhir menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dan tingkat kecemasan dalam menghadapi ujian akhir nasional
Korelasi Nilai HbA1c dengan Kadar Kolesterol Total pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2
Background of the study: Diabetes mellitus (DM) is a chronic metabolic disease due to pancreatic β cells that having decreased insulin production, or when insulin in the body experiencing ineffectiveness. Based on IDF data, in 2015 the number of DM sufferers in Indonesia is 9.1 million, and it expected will continue to increase in 2035 with a total of 14.1 million. With these data, Indonesia ranked 5th of DM sufferers in the world. Purpose: To determine the correlation between the HbA1c value and total cholesterol levels in type 2 DM patients at Pertamina Bintang Amin Hospital in Bandar Lampung in 2019. Research Method: This research design is correlative analytic with the cross-sectional method using purposive sampling as many as 48 samples of type 2 DM patients who match with the inclusion criteria. Data collecting begins in January-February 2020. The data on this research used secondary data in the form of medical records. After the data collected, data will be evaluated by the Spearman test. Research Results: In this study, the sample obtained 48 patients with type 2 DM with a HbA1c value of ≥9%, as many as 30 patients (62.5%), for a HbA1c value <9% ie as many as 18 patients (37.5% ) and total cholesterol level ≥200mg / dl as many as 29 patients (60.4%), for total cholesterol levels <200mg / dl as many as 19 patients (39.6%). Spearman correlation results obtained p-value = 0.030 and r = + 0.314, because of the value of p = 0.030 <0.05 so that it can be declared Ha accepted and Ho declared rejected or there is a significant correlation, with r = 0.314 it can be interpreted that the strength of the correlation is positive between HbA1c value with total cholesterol level in type 2 DM patients. Conclusion: This study concludes there is a significant correlation between HbA1c value and total cholesterol level in type 2 DM patients with p-value = 0.030.Latar Belakang: Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronik akibat sel β pankreas mengalami penurunan produksi insulin, atau tubuh mengalami inefektifitas insulin. Berdasarkan data IDF jumlah penderita DM di Indonesia dari 9,1 juta jiwa pada tahun 2014 diperkirakan akan terus meningkat pada tahun 2035 dengan jumlah 14,1 juta jiwa. Dengan data tersebut peringkat ke-5 penderita DM di dunia diduduki oleh Indonesia. Tujuan: Untuk mengetahui korelasi antara nilai HbA1c dengan kadar kolesterol total pada pasien DM tipe 2 di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung tahun 2019. Metode Penelitian: Jenis Penelitian ini adalah analitik korelatif dengan metode cross sectional menggunakan purposive sampling sebanyak 48 sampel pasien DM tipe 2 yang memenuhi kriteria inkulsi. Pengambilan data dimulai pada bulan Januari-Februari 2020. Data yang digunakan yaitu data sekunder berupa rekam medik. Data dievaluasi dengan uji Spearman. Hasil Penelitian: Didapatkan sampel penelitian berjumlah 48 pasien DM tipe 2 dengan nilai HbA1c ≥9% yaitu sebanyak 30 pasien (62,5%), untuk nilai HbA1c <9% yaitu sebanyak 18 pasien (37,5%) dan kadar kolesterol total ≥200mg/dl yaitu sebanyak 29 pasien (60,4%), untuk kadar kolesterol total <200mg/dl yaitu sebanyak 19 pasien (39,6%). Hasil korelasi Spearman didapatkan nilai p=0,030 dan nilai r=+0,314, karena nilai p=0,030 <0,05 sehingga dapat dinyatakan Ha diterima dan Ho dinyatakan ditolak atau terdapat korelasi yang bermakna, dengan r=0,314 dapat diartikan kekuatan korelasi sedang positif antara nilai HbA1c dengan kadar kolesterol total pada pasien DM tipe 2.Kesimpulan: Terdapat korelasi yang bermakna antara Nilai HbA1c dengan kadar kolesterol total pada pasien DM tipe 2 dengan p-value= 0,030
Pengetahuan Pasangan Usia Subur Tentang Suntik Depo Progestin
Fertile age couples are very easy to get offspring and therefore need to regulate fertility by having good knowledge in choosing contraception. The purpose of this study was to determine the study of the level of knowledge of fertile age couples about the injection method of progestin depo in the working area of ​​the Ulaweng Community Health Center. This research was conducted by a cross-sectional study, which was carried out in pus using injections of Depo progestin as many as 30 people. Data collection using a questionnaire with progestin depo injection questions. In this study, a univariate test was conducted. The results of the study where based on knowledge about the benefits of contraception Depo Progestin good knowledge 24 people (80%) and less knowledge 6 people (20%), knowledge about the schedule of good knowledge giving 20 people (67%) and less knowledge 10 people (33%) knowledge about the side effects of good knowledge 25 people (83%) and less knowledge 5 people (17%) knowledge about the indications of contraceptive use Depo progestin good knowledge still less 14 people (46%) and less knowledge as many as 16 people (54%) regarding contraindications to the knowledge of both 17 people (57%) and knowledge of less 13 people (43%). The conclusion in this study is that good EFA knowledge about benefits, schedule of side effects and contraindications regarding contraceptive injection of depo progestin, and lack of knowledge about the indications for Depo progestin injection.Pasangan Usia Subur sangat mudah memperoleh keturunan maka dari itu perlu mengatur kesuburan dengan memiliki pengetahuan yang baik dalam memilih Alat kontrasepsi. Tujuan penelitian adalah Untuk mengetahui Studi tingkat Pengetahuan pasangan usia subur tentang metode suntik Depo progestin di wilayah kerja Puskesmas Ulaweng. Penelitian ini dilakukan dengan cross sectional, yang dilakukan pada pus yang menggunakan suntikan Depo progestin sebanyak 30 orang. Pengumpulan data menggunakan kuisioner dengan pertanyaan suntikan depo progestin. Dalam penelitian ini dilakukan uji univariat. Hasil penelitian dimana berdasarkan pengetahuan mengenai Manfaat alat kontrasepsi Depo Progestin pengetahuan baik 24 orang (80%) dan pengetahuan kurang 6 orang (20%), pengetahuan mengenai Jadwal pemberian pengetahuan baik 20 orang (67%) dan pengetahuan kurang 10 orang ( 33%) pengetahuan pus mengenai efek samping pengetahuan baik 25 orang (83%) dan pengetahuan kurang 5 orang (17%) pengetahuan mengenai indikasi penggunaan alat kontrasepsi Depo progestin pengetahuan baik masih kurang 14 orang ( 46%) dan pengetahuan kurang sebanyak 16 orang ( 54%) mengenai kontraindiksi pengetahuan baik 17 orang ( 57%) dan pengetahuan kurang 13 orang (43%). Kesimpulan dalam penelitian ini dimana pengetahuan PUS yang baik mengenai Manfaat, Jadwal pemberian efek samping dan kontraindikasi mengenai alat kontrasepsi suntik depo progestin dan pengetahuan yang kurang mengenai indikasi suntikan Depo progestin
Studi Kasus Pasien dengan Diare Rumah Sakit di Kota Makassar
Diarrhea is the most common cause of death in infants and toddlers. Diarrhea causes poor nutritional status and poor nutritional status and causes growth failure, even permanent weight loss caused by fluid loss and dehydration. The perceived problem is defecation with a soft or liquid consistency, it can even be in the form of water only and the frequency is more often usually three times or more in one day. This case study aims to look at nursing care provided to clients suffering from diarrhea. The research design uses case studies, which aim to describe the nursing care that is carried out. The number of samples 2 people were observed for 3 days in the hospital. The results of observations in the case of patients 1 age 2.5 years with complaints of diarrhea, vomiting and heat with a temperature of 38.3ºC. In the case of 2 patients aged 3 years with complaints of diarrhea and vomiting. Nursing diagnoses in both cases namely diarrhea are associated with intestinal inflammation. Planned interventions are managing diarrhea, monitoring vital signs, managing drug therapy. The implication of this research is to optimize the management of diarrhea in nursing care in Toodler children with acute liquid diarrhea with mild to moderate dehydration.Diare merupakan penyebab kematian terbanyak pada bayi dan balita. Diare menyebabkan status gizi buruk dan status gizi buruk serta menyebabkan kegagalan dalam pertumbuhan, bahkan kehilangan berat badan yang menetap yang disebabkan oleh kehilangan cairan dan dehidrasi. Masalah yang dirasakan yaitu buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering biasanya tiga kali atau lebih dalam satu hari. Studi kasus ini bertujuan untuk melihat asuhan keperawatan yang diberikan pada klien yang menderita Diare. Desain penelitian menggunakan studi kasus, yang bertujuan untuk menggambarkan asuhan keperawatan yang dilaksanakan. Jumlah sampel 2 orang yang observasi selama 3 hari di Rumah sakit. Hasil observasi pada kasus pasien 1 usia 2,5 tahun dengan keluhan diare, muntah dan panas dengan suhu 38,3ºC. Pada kasus pasien 2 usia 3 tahun dengan keluhan diare dan muntah. Diagnosa keperawatan dari kedua kasus yaitu diare berhubungan dengan inflamasi usus. Intervensi yang direncanakan yaitu memanagement diare, memonitor tanda tanda vital, kelola terapi obat. Impikasi dari penelitian dari penelitian ini adalah optimalisasi manajemen diare dalam asuhan keperawatan pada anak usia Toodler dengan diare cair akut dengan dehidrasi ringan sampai sedang
Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Hb-A1c pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II
Backgrounds :Excess weight is a situation that is almost close to obesity, where a person can be declared overweight if the person has a BMI ≥ 23. Excessive fat deposits in the body of patients with excess weight or obesity can lead to insulin resistance which affects the patient's blood sugar and have a risk of1,71 times developing levels diabetes melitus. Without weight loss and lifestyle modification, people with metabolic syndrome have a significant risk of becoming type 2 diabetes melitus. Purpose:To find out the relationship between body mass index with Hb-A1c in patients FKTP diabetes melitus type 2 in independent practice doctor K. Hakikiyah Central Lampung. Methods:This study is an analytical study and used Cross Sectional Approach, the population in this study is the patients FKTP diabetes melitus type 2 in independent practice doctor K. Hakikiyah Central Lampung. Sampling methods used the total sampling with a total of 56 people. Data analysis was done by univariate and bivariate analysis with spearman test. Results:Result showed that the most BMI Body Mass Index was in overweight category with total of 30 people (53,6%). The highest frequency distribution of Hb-A1c levels is the highest category of 40 people (71,4%). It was found that there was a relations between Body Mass Index (BMI) with Hb-A1c in patients FKTP diabetes mellitus type 2 in independent practice doctor K. Hakikiyah Central Lampung, with p-value = 0.000, r = 0,600. Conclusion:It is known that there is a relationship between Body Mass Index (BMI) with Hb-A1c in patients FKTP diabetes melitus type 2 in independent practice doctor K. Hakikiyah Central Lampung August 2019. Keyword : body mass index (BMI), Hb-A1c, diabetes melitus tipe 2.Latar Belakang :Berat badan berlebih adalah keadaan yang hampir mendekati obesitas, di mana seseorang dapat dinyatakan berat badan berlebih apabila orang tersebut memiliki IMT ≥ 23. Timbunan lemak yang berlebihan di dalam tubuh penderita berat badan berlebih atau obesitas dapat mengakibatkan resistensi insulin yang berpengaruh terhadap kadar gula darah dan mempunyai risiko 1,71 kali terkena diabetes melitus. Tanpa adanya penurunan berat badan dan modifikasi gaya hidup, orang dengan sindrom metabolik memiliki resiko bermakna untuk menjadi diabetes melitus tipe 2.Tujuan penelitian : Untuk mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh dengan kadar Hb-A1c pada pasien FKTP diabetes melitus tipe 2 di praktik mandiri dokter K. Hakikiyah Lampung Tengah. Metode penelitian :Penelitian ini adalah analitik dengan menggunakan Desain penelitian Cross Sectional, populasi adalah seluruh pasien FKTP diabetes melitus tipe 2 di praktik mandiri dokter K. Hakikiyah Lampung Tengah. Penarikan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 56 orang. Analisa data yang dilakukan adalah univariat dan bivariat dengan uji spearman. Hasil :Distribusi frekuensi Indeks Massa Tubuh IMT terbanyak yaitu kategori berlebih sebanyak 30 orang (53,6 %). Distribusi frekuensi kadar Hb-A1c terbanyak yaitu kategori berlebih sebanyak 43 orang (76,8 %). Di ketahui ada hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan kadar Hb-A1c pada pasien FKTP diabetes melitus tipe 2 di praktik mandiri dokter K. Hakikiyah Lampung Tengah dengan nilai p-value = 0,000, r = 0,600. Kesimpulan:Ada hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan kadar Hb-A1c pada pasien FKTP diabetes melitus tipe 2 di praktik mandiri dokter K. Hakikiyah Lampung Tengah. Kata Kunci : Indeks Masa Tubuh, Kadar Hb-A1c, DMT2
Pola Penderita Karsinoma Pankreas
Pancreatic carcinomas are the cells that develop into abnormal cells, which is why it is not that it is not controlled and develops in the pancreas. Pancreatic carcinoma is one of the deadliest cancers in the world, there are 330,000 deaths due to pancreatic carcinoma in 2012, and because of its very high mortality rate, pancreatic carcinoma is the leading cause of the seventh most common cancer death in the world, with a 5-year survival rate of 5%. This study aims to determine the pattern in patients with pancreatic carcinoma in the hospital Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung period January-December year 2019. The type of research used in this study is descriptive retrospective using a total sampling method and obtained a sample of 38 people. Patient data is obtained with secondary data of medical records. Based on the results of the study obtained the highest frequency distribution based on the age group of 51-60 years with a percentage of 36.8%, based on the gender of the male with a percentage of 76.3%, based on the procedure of operatives with a percentage of 68.4%, based on jaundice or non- jaundice, which is jaundice with the percentage of 71.1% And based on the predilection of the pancreas caput with a percentage of 71.1%. The conclusion is a pattern in patients with pancreatic carcinoma based on age, gender, procedure, jaundice, or non-jaundice and predilection.Karsinoma pankreas merupakan sel yang mengalami perkembangan menjadi abnormal sehingga tidak terkontrol dan berkembang di bagian pankreas. Karsinoma pankreas adalah salah satu kanker yang mematikan di dunia, ada 330.000 kematian akibat karsinoma pankreas pada tahun 2012, dan karena angka kematiannya yang sangat tinggi, karsinoma pankreas merupakan penyebab kematian ketujuh kanker yang paling umum di dunia, dengan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun sebesar 5%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pada penderita karsinoma pankreas di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung Periode Januari-Desember Tahun 2019. Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif retrospektif dengan menggunakan metode total sampling dan didapatkan sampel sebanyak 38 orang. Data pasien didapat dengan data sekunder rekam medis. Hasil penelitian didapatkan distribusi frekuensi tertinggi berdasarkan usia yaitu kelompok usia 51-60 tahun dengan presentase 36,8%, berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki dengan presentase 76,3%, berdasarkan tata laksana yaitu operatif dengan presentase 68,4%, berdasarkan ikterus atau non ikterus yaitu ikterus dengan presentase 71,1% dan berdasarkan predileksi yaitu caput pankreas dengan presentase 71,1%. Kesimpulannya, didapatkan pola penderita karsinoma pankreas berdasarkan umur, jenis kelamin, tata laksana, ikterus atau non ikterus dan predileksi pada penderita karsinoma pankrea
Daya Guna Buah Bit (Beta vulgaris L) Sebagai Terapi Antihipertensi
Background: Hypertension is still a global problem today, this is because hypertension can be the precursor to other non-communicable diseases. The use of medicines derived from plants is an alternative in the way of treating a disease. Apart from being easy to reach, the price is relatively cheaper, the use of ingredients from plants has fewer side effects than modern medicines. One of the uses is the use of beets (Beta vulgaris L.) in lowering blood pressure. Purpose: to find out more about the effects of beets on lowering blood pressure. Method: collecting scientific articles from previous research and conducting literature reviews on these sources. Result: Nitrate and potassium content in beets play a role in the process of regulating the relaxation of vascular smooth muscle and plasma volume in the body. Conclusion: Based on the literature review that has been done, it can be concluded that the nutritional content in beets has factors that can help lower blood pressure.Latar Belakang: Hipertensi masih menjadi permasalahan global saat ini, hal tersebut dikarenakan hipertensi dapat menjadi cikal bakal penyakit tidak menular lainnya. Penggunaan obat-obatan yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan merupakan suatu alternatif dalam langkah mengobati suatu penyakit. Selain karena mudah dijangkau, harga relatif lebih murah, penggunaan bahan-bahan dari tumbuhan memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan obat-obatan modern. Salah satu pemanfaatannya adalah penggunaan buah bit (Beta vulgaris L.) dalam menurunkan tekanan darah. Tujuan: untuk mengetahui lebih lanjut mengenai efek buah bit terhadap penurunan tekanan darah. Metode: mengumpulkan artikel ilmiah dari penelitian terdahulu dan melakukan tinjauan literatur pada sumber tersebut. Hasil: Kandungan nitrat dan kalium yang terdapat di dalam buah bit berperan dalam proses pengaturan relaksasi otot polos pembuluh darah dan volume plasma di dalam tubuh. Kesimpulan: berdasarkan tinjauan literatur yang sudah dilakukan, didapatkan kesimpulan bahwa kandungan gizi di dalam buah bit memiliki faktor-faktor yang dapat membantu menurunkan tekanan dara
Hubungan Hipertensi Terhadap Kejadian Stroke
Background: Stroke is defined as a disruption in the blood supply to the brain. Many factors can affect the incidence of stroke. Hypertension is the main triggering factor of stroke, both hemorrhagic and ischemic strokes. Objective: To find out more about the relationship of hypertension to the incidence of stroke. Methods: The method used is a literature study taken from various national and international journals, this method always tries to meet the latest conditions on a topic.Conclusion: There is a relationship of hypertension with the incidence of strokeLatar belakang: Stroke didefinisikan sebagai gangguan suplai darah ke otak.Banyak faktor yang dapat memengaruhi kejadian stroke. Hipertensi merupakan faktor pencetus utama terjadinya kejadian stroke,baik stroke hemoragik ataupun iskemik.Tujuan : Mengetahui lebih lanjut mengenai hubungan hipertensi terhadap kejadian stroke. Metode : Metode yang digunakan adalah studi literatur yang diambil dari berbagai jurnal nasional dan internasional, metode ini berupaya meringkas kondisi pemahaman terkini mengenai suatu topik. Kesimpulan :Terdapat hubungan hipertensi terhadap kejadian strok