JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Not a member yet
583 research outputs found
Sort by
Kompres Jahe Hangat dapat Menurunkan Intensitas Nyeri pada Pasien Gout Artritis
Background: Arthritis gout is an inflammation process due to inflammation on cristal sour tendon in tissue around the joint.. Non pharmacology action for the patients of Arthritis Gout is warm ginger compress. The effects of heat from a warm ginger compress will cause vasodilation of blood vessels and increases blood flow to the body with pain resulting in a decrease in pain Objective : To know that warm ginger compress can decrease pain intensity in patients with arthritis gout Methods : Using literature studies from national and international journals by summarizing the topic of discussion and comparing the results presented in the article. Results : Warm ginger compresses can reduce pain of arthritis Gout. It is a traditional treatment or alternative therapy to reduce pain Gout Arthritis. It contains cyclo-oxygenation enzymes which can reduce inflammation in patients with Arthritis Gout, besides ginger also has a pharmacological effect of burning sensation and spicy, where this heat can relieve pain, stiffness and muscle spasm or the occurrence of vascular vasodilation, maximum benefits will be achieved within 20 minutes after heat application. Conclusion: Warm compresses of ginger can reduce arthritis gout pain. Ginger compress is a traditional treatment or alternative therapy to reduce gouty arthritis pain. Warm ginger compresses contain cyclo oxygenation enzymes which can reduce inflammation in gouty arthritis of sufferers.Latar Belakang: Gout artritis adalah suata proses peradangan karena terjadinya peradangan di sekitar sendi. Salah satu terapi non-farmakologi pada pasien gout artritis adalah dengan memberikan kompres jahe hangat. Efek panas dari kompres jahe hangat akan menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah dan meningkatkan aliran darah ke tubuh dengan rasa sakit yang mengakibatkan penurunan rasa sakit Tujuan : mengetahui lebih lanjut tentang kompres jahe hangat yang dapat menurunkan intensitas nyeri pada pasien gout artritis. Metode : Menggunakan studi literatur dari jurnal baik nasional maupun internasional dengan cara meringkas topic pembahasan dan membandingkan hasil yang disajikan dalam artikel. Hasil : Kompres jahe hangat dapat mengurangi nyeri pada gout artritis. Kompres jahe hangat adalah pengobatan tradisional atau terapi alternatif untuk mengurangi nyeri gout artritis. Jahe mengandung enzim siklo-oksigenasi yang dapat mengurangi peradangan pada pasien dengan gout artritis , selain itu jahe juga memiliki efek farmakologis berupa sensasi panas dan pedas, di mana panas ini dapat meredakan rasa sakit, kekakuan dan kejang otot atau terjadinya vasodilatasi pembuluh darah, manfaat maksimal akan dicapai dalam waktu 20 menit setelah aplikasi kompres jahe hangat di lokasi nyeri. Kesimpulan : Kompres jahe hangat dapat mengurangi nyeri radang pada pasien gout artritis. Kompres jahe adalah pengobatan tradisional atau terapi alternatif untuk mengurangi nyeri radang sendi gout. Kompres jahe hangat mengandung enzim siklooksigenase yang dapat mengurangi peradangan dan nyeri pada penderita gout artriti
Identifikasi Escherichia coli Penyebab Waterborne Disease pada Air Mimun Kemasan dan Air Mimunm Isi Ulang
Abstract. Background : Refilled water drinking store and packaged water drinking often can be found in cities with a high demand of water by the community, whether it’s drinking water or for daily basis. Contaminated water if being consumed, will cause a disease. Purpose : To know contamination of Escherichia coli bacteria cause of waterborne disease on refilled drinking water and packaged drinking water in Kelurahan Kemiling Raya by filtering method and isolate and identified on differential selective media. Method : Descriptive research design with experimental qualitative approach. Sample of refilled drinking water sample and packaged water drinking are filtered with a membrane filter and incubated on differential selective media Chromogenic Coliform Agar to know whether there is a contamination of Escherichia coli cause of waterborne disease. Result : There are Escherichia coli bacteria cause waterborne disease colonies in refilled drinking water on sample X, Y, and Z with each having 2,4 x 102 cfu/100ml, 6,8 x 102 cfu/100ml and sample Z having categorized by TBUD because of too much colonies, but on sample W there isn’t any. On packaged drinking water sample A and B both have the same number of colonies Escherichia coli which 2,0 x 100 cfu/250ml. Conclusion : The number of Escherichia coli bacteria on refilled drinking water is greater than packaged drinking water. There isn’t any Escherichia coli bacteria cause of waterborne disease in refilled drinking water whom uses reserved osmosis technology.Abstrak. Latar Belakang : Depot air minum isi ulang dan air minum kemasan banyak didapati pada daerah perkotaan yang didorong oleh tingginya kebutuhan masyarakat akan air, baik untuk minum maupun dalam kebutuhan sehari-hari lainnya. Air yang terkontaminasi jika dikonsumsi akan menimbulkan suatu penyakit. Tujuan : Mengetahui cemaran bakteri Escherichia coli penyebab waterborne disease pada air minum isi ulang dan air minum kemasan di Kelurahan Kemiling Raya dengan cara peyaringan kemudian mengisolasi dan mengidentifikasi pada media selektif diferensial. Metode : Desain penelitian deskriptif dengan pendekatan kulitatif eksperimetal. Sampel air minum isi ulang dan air minum kemasan disaring dengan penyarig membran kemudia diinkubasi pada media selektif deferensial Chromogenic Coliform Agar untuk mengetahui adanya cemaran bakteri Escherichia coli penyebab waterborne disease. Hasil : Terdapat koloni bakteri Escherichia coli penyebab waterborne disease pada air minum isi ulang pada sampel X, Y, dan Z dengan masing-masing memiliki jumlah 2,4 x 102 cfu/100ml, 6,8 x102 cfu/100ml dan sampel Z memiliki jumlah koloni yang sangat banyak sehingga dikategorikan TBUD, sedangkan untuk sampel W tidak terdapat koloni bakteri. Pada sampel air minum kemasan A dan B memiliki jumlah koloni bakteri Escherichia coli yang sama yaitu sebanyak 2,0 x 100 cfu/250ml. Kesimpulan : Jumlah koloni bakteri Escherichia coli pada sampel air minum isi ulang lebih besar dari pada air minum kemasan. Tidak terdapat bakteri Escherichia coli penyebab waterborne disease pada air minum isi ulang yang menggunakan teknologi reserved osmosis
Perbedaan Jumlah Eritrosit Antara Darah Segar dan Darah Simpan
At the time of collection of blood, donor erythrocytes will experience damaged, every day the viability of erythrocytes continues to decrease due to decreased levels of ATP (Adenosine Triphosphate), so that when ATP levels decrease then there is the loss of membrane lipids, the membrane becomes rigid every day, and the shape of the disc becomes spherical (without central polar and small size), this causes potassium to exit and sodium to enter the cell. Then this will affect erythrocytes amount to be transfused. This study aimed to determine the differences in erythrocytes amount between fresh blood and save blood (30 days. The type of research used is Quantitative Observational with Non-probability Sampling technique. The sample used in this study were research subject who were willing to donate blood. Analysis of data using the Wilcoxon formula. Based on the results of the examination, the mean reduction in erythrocyte amount for 30 days at men was 4.624 million/mm3 (9.3%) and at women 3.88 million/mm3 (8.2%), where the decrease was still within the normal limit. Obtained p-value > 0,05 which means there is no significant difference in erythrocytes amount between fresh blood and save blood (30 days).ada saat pengambilan darah donor eritrosit akan mengalami kerusakan, setiap hari viabilitas eritrosit menjadi terus menurun akibat dari penurunan kadar ATP (Adenosin Trifosfat), sehingga apabila kadar ATP menurun maka terjadi kehilangan lipid membran, membran menjadi kaku, dan bentuk dari cakram menjadi sferis (tanpa sentral polar dan ukuran kecil), hal ini menyebabkan kalium keluar dan natrium masuk ke sel. Maka hal ini akan berpengaruh terhadap jumlah eritrosit yang akan ditransfusikan. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui perbedaan jumlah eritrosit antara darah segar dan darah simpan (30 hari). Jenis penelitian yang digunakan adalah Kuantitatif Observasional dengan teknik Non probability sampling. Sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu subjek penelitian yang bersedia mendonorkan darahnya. Analisa data menggunakan rumus Wilcoxon. Berdasarkan hasil pemeriksaan, rerata penurunan jumlah eritrosit selama 30 hari pada laki-laki yaitu 4,624 juta/mm3 (9,3%) dan pada perempuan 3,88 juta/mm3 (8,2%), dimana penurunan tersebut masih dalam batas nilai normal. Diperoleh p-value > 0,05 yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada jumlah eritrosit antara darah segar dan darah simpan (30 hari)
Pengaruh Pemberian Alkohol Terhadap Sistem Rangka
Background: Alcohol is an organic compound that has a hydroxyl group and consumed globally by the majority of the world's population. Alcohol consumption results in various adverse health effects, such as cirrhosis of the liver, hepatitis, cognitive and behavioral changes, and alteration of bone. Objective: To determine the effect of alcohol administration on the skeletal system of rats. Methods: Using literature studies from both national and international journals by summarizing the topic of discussion and comparing the results presented in the article. Results: Administration of alcohol to rats resulted various alterations of the rat’s bone. Conclusion: Excessive intake of alcohol causes bone formation alteration, less bone mineral density and bone mineral content, also increases bone loss and fracture risk.Latar Belakang: Alkohol merupakan senyawa organik yang memiliki gugus hidroksil dan dikonsumsi secara global oleh mayoritas penduduk dunia. Konsumsi alkohol mengakibatkan berbagai efek yang merugikan terhadap kesehatan, seperti sirosis hati, hepatitis, perubahan kognitif dan perilaku, serta perubahan pada tulang. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian alkohol terhadap sistem rangka tikus. Metode: Menggunakan studi literatur dari jurnal baik nasional maupun internasional dengan cara meringkas topik pembahasan dan membandingkan hasil yang disajikan dalam artikel. Hasil: Pemberian alkohol pada hewan coba tikus terbukti menyebabkan berbagai perubahan pada tulang tikus. Kesimpulan: Konsumsi alkohol yang berlebihan mengakibatkan perubahan pada pembentukan tulang, berkurangnya bone mineral density dan bone mineral content, serta meningkatkan pengeroposan tulang dan risiko patah tulang
Analisis Angka Kejadian Penyakit Infeksi Menular Seksual
Background; Sexually transmitted diseases are the most common infectious diseases and health problems that are currently getting a lot of attention because the incidence of STDs tends to continue to increase.
Method; quantitative research used a descriptive-analytical method with cross-sectional study design. Data analysis used univariate and bivariate analysis using the chi-square statistical test.
Results: statistical test of knowledge (p = 0.009), behavior (p = 0.009), and socioeconomic (p = 0.169) with the incidence of sexually transmitted infections.
Conclusion; there is a relationship between knowledge and behavior and there is no socio-economic relationship with the incidence of sexually transmitted diseases.Latar Belakang; Penyakit menular seksual merupakan penyakit yang menular paling umum dan masalah kesehatan yang saat ini banyak menyita perhatian karena angka kejadian PMS cenderung terus meningkat.
Metode; Penelitian kuantitatif menggunakan metode deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional studi. Analisis data dengan menggunakan analisis univariat dan bivariate dengan menggunakan uji statistic chi-square.
Hasil: uji statistik pengetahuan (p = 0,009), perilaku (p = 0,009), dan social ekonomi (p = 0,169) dengan kejadian infeksi menular seksual.
Kesimpulan; terdapat hubungan pengetahuan dan perilaku dan tidak terdapat hubungan social ekonomi dengan kejadian penyakit menular seksua
Pola Kepekaan Bakteri Terhadap Antibiotik pada Pasien Rhinosinusitis
Background: Rhinosinusitis is an inflammation affecting the nose and paranasal sinuses. One of the medical treatments is with antibiotics. The irrational use of antibiotics creates problems, namely bacterial resistance and complications. Objective: To determine the pattern of bacterial sensitivity to antibiotivs in rhinosinusitis patient. Methods: Using literature studies by examining various national and international journals, comparing and combining the findings of the research presented in the article. Result: The determination of antibiotics as medical treatment in rhinosinusitis must be appropriate and provide maximum effectiveness for healing. Conclusion: There are several result of the pattern of bacterial sensitivity to antibiotics according to the bacteria that cause rhinosinusitis.Latar Belakanng: Rhinosinusitis adalah peradangan yang mengenai hidung dan sinus paranasal. Salah satu pengobatan secara medikamentosa yaitu dengan antibiotic. Penggunaan antibiotic tidak rasional menimbulkan permasalahan yang berkembang yaitu resistensi bakteri dan komplikasi. Tujuan: Mengetahui pola kepekaan bakteri terhadap antibiotic pada pasien rhinosinusitis. Metode: Menggunakan studi literatur dengan menelaah berbagai jurnal nasional maupun internasional, membandingkan dan menyatukan hasil temuan dari penelitian yang disajikan dalam artikel. Hasil: Penentuan antibiotic sebagai penatalaksanaan medikamentosa pada rhinosinusitis harus sesuai dan memberikan efektifitas yang maksimal untuk kesembuhan. Kesimpulan: Terdapat beberapa hasil pola kepekaan bakteri terhadap antibiotic sesuai bakteri penyebab rhinosinusitis
Konsumsi Kopi untuk Mencegah Penyakit Alzheimer
Coffee is one of the most consumed beverages in the world and most adults drink coffee every day. Coffee contains hundreds of bioactive compounds, including caffeine, chlorogenic acid, polyphenols, and small amounts of minerals and vitamins, which are known to have positive effects on brain health. Alzheimer's disease is a degenerative disease of the brain and the most common cause of dementia characterized by decreased memory, language, problem-solving, and other cognitive skills that affect a person's ability to perform daily activities. The purpose of this literature study is to determine the benefits of coffee consumption in preventing Alzheimer's disease. Method. This research is a literature study and library sources used involving 15 libraries from 1 national journal and 14 international journals. Result. Several studies have shown the preventive effects of coffee on Alzheimer's disease and cognitive decline through various mechanisms such as a role in lowering plasma Aβ levels, as well as an antioxidant that can reduce inflammation and protect against dementia. Conclusion. Coffee can have a protective effect on Alzheimer's disease and is safe to consume if it does not exceed the recommended dosageAbstract. Coffee is one of the most consumed beverages in the world and most adults drink coffee every day. Coffee contains hundreds of bioactive compounds, including caffeine, chlorogenic acid, polyphenols, and small amounts of minerals and vitamins, which are known to have positive effects on brain health. Alzheimer's disease is a degenerative disease of the brain and the most common cause of dementia characterized by decreased memory, language, problem solving and other cognitive skills that affect a person's ability to perform daily activities. The purpose of this literature study is to determine the benefits of coffee consumption in preventing Alzheimer's disease. Method. This research is a literature study and library sources used involving 15 libraries from 1 national journal and 14 international journals. Result. Several studies have shown the preventive effects of coffee on Alzheimer's disease and cognitive decline through various mechanisms such as a role in lowering plasma Aβ levels, as well as an antioxidant that can reduce inflammation and protect against dementia. Conclusion. Coffee can have a protective effect on Alzheimer's disease and is safe to consume if it does not exceed the recommended dosage.
Abstract. Kopi adalah salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia dan sebagian besar or ang dewasa minum kopi setiap hari. Kopi mengandung ratusan senyawa bioaktif, termasuk kafein, asam klorogenat, polifenol, dan sejumlah kecil mineral dan vitamin yang di antaranya diketahui memiliki efek positif bagi kesehatan otak. Penyakit Alzheimer adalah penyakit degeneratif pada otak dan penyebab paling umum dari demensia yang ditandai dengan penurunan daya ingat, bahasa, pemecahan masalah, dan keterampilan kognitif lain yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk mengetahui manfaat konsumsi kopi untuk mencegah penyakit Alzheimer. Metode. Penelitian ini merupakan studi literatur dan sumber pustaka yang digunakan melibatkan 15 pustaka yang berasal dari 1 jurnal nasional dan 14 jurnal internasional. Hasil. Beberapa studi menunjukkan efek pencegahan dari kopi pada penyakit Alzheimer dan penurunan kognitif melalui berbagai mekanisme misalnya berperan dalam penurunan kadar Aβ plasma,serta sebagai antioksidan yang dapat mengurangi peradangan dan melindungi dari demensia. Kesimpulan. Kopi dapat memberikan efek protektif pada penyakit alzheimer serta aman dikonsumsi apabila tidak melebihi dosis yang dianjurka
Hubungan Anatar pengetahuan dan Sikap Ibu Terhadap Pemilihan Metode Alat Kontrasepsi Dalam Rahim Di Puskesmas Kayamanya Tahun 2019
One of the rational contraceptives is intrauterine contraception. Contraceptives that have high reversibility and effectiveness are 0.6–0.8 / 100 family planning acceptors. Descriptive research with a cross-sectional approach. The sampling technique used was total sampling with a sample of 94 KB acceptors. The population in this study were all mothers who used family planning acceptors. There is a relationship between knowledge and the choice of contraceptive use with p-value = 0.000, while the relationship between attitudes and the choice of IUD contraceptive method is p = 0.001 That there is a relationship between knowledge and attitudes of mothers towards the choice of intrauterine contraceptive methodSalah satu alat kontrasepsi yang rasional adalah alat kontrasepsi dalam rahim. Alat kontrasepsi yang mempunyai reversibilitas dan efektifitas yang tinggi yaitu 0,6–0,8/100 akseptor KB. Penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Teknik Pengambilan sampel yang diguanakan adalah total sampling dengan Sampel akseptor KB berjumlah 94. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang menggunakan akseptor KB. Terdapat hubungan pengetahuan dengan pemilihan pemakaian alat kontrasepsi nilai p=0,000 sedangnkan hubungan sikap dengan pemilihan alat kontrasepsi AKDR dengan nilai p=0,001. Bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu terhadap pemilihan Metode alat kontrasepsi dalam Rahi
Hubungan Jumlah Kadar Limfosit dan Neutrofil Segmen Pada Apendisitis Akut
Appendicitis is one of the most common cases in the field of abdominal surgery which causes acute abdominal pain and requires immediate surgery to prevent complications that are generally dangerous, such as gangrenous, perforation, and even generalized peritonitis. Appendicitis can be found in both men and women with a risk of suffering from appendicitis in their lifetime reaching 7-8%. The highest incidence is reported in the age range of 20 to 30 years. Methodology: The type of research used in this study is an observational analytic study with a cross-sectional study design using medical records as data. The population in this study were all patients with appendicitis recorded in medical records. The data were analyzed using the Spearman test. Results: In this study, 26 people with a percentage of 65% had abnormal lymphocyte counts. as many as 31 people with a percentage of 77.5% who had abnormal neutrophils. For the neutrophil variable with the incidence of appendicitis using the Spearman test, the p-value = 0.005 (p <0.05). In the lymphocyte variable with the incidence of appendicitis using the Spearman test, the p-value = 0.058 (p <0.05) was obtained. Conclusion: There is a significant relationship between neutrophil and appendicitis. Meanwhile, the lymphocyte variable with the incidence of appendicitis had no significant relationship.Appendisitis merupakan salah satu kasus tersering dalam bidang bedah abdomen yang menyebabkan nyeri abdomen akut dan memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya seperti gangrenosa, perforasi bahkan dapat terjadi peritonitis generalisata. Apendisitis dapat ditemukan pada laki-laki maupun perempuan dengan risiko menderita apendisitis selama hidupnya mencapai 7-8%. Insiden tertinggi dilaporkan pada rentang usia 20-30 tahun. Metodologi: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain studi cross sectional menggunakan rekam medik sebagai data Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penderita Apendisitis yang tercatat dalam rekam medis. Data analisis menggunakan uji spearman. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 26 orang dengan presentase 65% yang memiliki angka limfosit yang abnormal. sebanyak 31 orang dengan presentase 77,5% yang memiliki angka netrofil yang abnormal. Pada variabel netrofil dengan kejadian appendisitis dengan mengunakan uji Spearman diperoleh nilai p value = 0,005 (p < 0,05). Pada variabel limfosit dengan kejadian appendisitis dengan menggunakan uji spearman diperoleh nilai p value = 0,058 (p < 0,05). Kesimpulan: Pada variabel netrofil dengan appendisitis terdapat hubungan yang signifikan. Sedangkan pada variabel limfosit dengan kejadian apppendisitis tidak terdapat hubungan yang signifikan
Kelainan Ventrikel Tunggal Pada Anak
Single ventricle or univentricular heart is a congenital heart disease which is complex, it is characterized by in which one ventricle is severely unwell developed or hypoplastic. Single ventricle is classified into classes depends on the morphology with the most common form is the Hypoplastic Left Heart Syndrome (HLHS) which happen in 2-3 neonates per 10.000 live births. The method used in this article is literature review from various national and international journals. There is no specific etiology for this defect, but it is suggested that environmental factors and genetics has a role and for this reason, it is necessary to do the prenatal diagnosis that affects neonatal morbidity and mortality. This condition results the tempering of oxygenated blood with deoxygenated blood. Single ventricle is universally fatal if it’s untreated, palliative surgery might be the best option to increase survival of the patients into adulthood. This palliative surgery contents three stages with the end result maximizing systemic blood oxygenation by changing blood flow from parallel to serial circuits and to maintain ventricular systemic functionality. Fontan procedure has shown the increase of the survival rate until 70%.Single ventricle atau univentricular heart merupakan kelainan jantung kongenital yang akan mengakibatkan penderitanya memiliki masalah klinis yang kompleks dan defek dikarakteristikan dengan perkembangan tidak sempurna pada salah satu ventrikel, malformasi dapat berupa perkembangan yang tidak sempurna maupun hipoplastik. Single ventricle memiliki beberapa bentuk yang kemudian diklasifikasi tergantung dengan morfologinya. Bentuk single ventricle yang paling umum ditemukan pada pasien adalah Hypoplastic Left Heart Syndrome (HLHS) yang terjadi pada 2-3 neonatus per 10.000 kelahiran hidup. Metode yang digunakan dalam artikel ini yaitu metode tinjauan literatur dari berbagai jurnal nasional maupun internasional. Tidak ada etiologi spesifik terhadap defek ini, tetapi diketahui bahwa faktor lingkungan dan genetik memiliki peran dalam keadaan single ventricle, dengan alasan ini makan dibutuhkan diagnosis prenatal untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pasien. Keadaan ini dapat mengakibatkan tercampurnya darah yang teroksigenasi dan darah deoksigenasi. Single ventricle merupakan kondisi yang sangat fatal apabila tidak segera ditangani maka operasi paliatif dapat menjadi pilihan terbaik untuk meningkatkan survival hingga usia dewasa. Terapi paliatif ini mengandung tiga tahap dengan hasil akhir memaksimalkan aliran darah sistemik dengan cara merubah aliran darah yang parallel menjadi serial dan untuk mempertahankan fungsi dari alirah darah sistemik tersebut. Prosedur Fontan sudah menunjukan peningkatan survival rate pasien hingga 70%