JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Not a member yet
    583 research outputs found

    Gaya Hidup dan Pola Makan Terhadap Kejadian Hipertensi

    Get PDF
    Hypertension or high blood pressure is a type of non-communicable disease that is chronic and can cause complications in body organs such as the heart, kidney, brain, and eyes. Hypertension can cause blood pressure to rise beyond normal limits. In systolic blood pressure hypertension it can reach ≥ 140 mmHg and diastolic blood pressure ≥ 90 mmHg. The purpose of this study is to know the lifestyle and diet that can be used to prevent hypertension. The analytical method used is through a literature review that contains a description of the theory, the results of previous studies with the focus of the appropriate and relevant topics. Library studies used are 20 articles from 2015 to 2020 with search using 1 database, namely Google Scholar. Keywords used include lifestyle, diet and hypertension. The results of previous studies showed a relationship between the lifestyles and diet of the incidence of hypertensionHipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan jenis penyakit tidak menular yang bersifat kronis dan dapat menyebabkan komplikasi pada organ tubuh seperti jantung, ginjal, otak dan mata. Hipertensi dapat menimbulkan tekanan darah naik melebihi batas normal. Pada hipertensi tekanan darah sistolik dapat mencapai ≥ 140 mmHg dan tekanan diastolic ≥ mmHg. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui gaya hidup dan pola makan yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hipertensi. Metode analisis yang digunakan yaitu melalui literature review yang berisi uraian mengenai teori, dan hasil penelitian sebelumnya dengan fokus topic yang sesuai dan relevan. Kajian pustaka yang digunakan berjumlah 20 artikel dari tahun 2015 – 2020 dengan pencarian menggunakan 1 database yaitu google scholar. Kata kunci yang digunakan antara lain gaya hidup, pola makan dan hipertensi. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan antara gaya hidup dan pola makan terhadap kejadian hipertensi

    Identifikasi Efek Protektif Berupa Antioksidan Terhadap Antioksidan

    No full text
    Background: Garlic is a type of vegetable from Allium sativum L. Garlic has been used as an herbal medicine for thousands of years because of the active compounds in it. Active compounds as antioxidants contained in garliv play a very important role in preventing damage to cells and organs from the oxidation process caused by the increase in free radicals by cigarette smoke. Purpose: To identify the protective effect of grlic in the form of antioxidants against free radicals. Methods: Using literature studies from national and international research journals by summarizing the discussion topics and comparing the results presented in the articles. Results: Garlic has been widely studied as a natural antioxidant because it has an active organosulfur compound which has properties as a therapeutic ingredient in the form of antibacterial, antiviral, antifungal, antithrombotic, antibiotic, anticancer, antioxidant, immunomodulatory, anti-inflammatory, and hypoglycaemic effects. These organosulfur substances are in the form of flavonoids, adenosine, phone, and alliin. Allyl thiosulfate, which derived from alliin through the alliinase process, is responsible for reducing lipids, anticancer, and antioxidants. The results of various studies have shown that local single clove garlic contains more antioxidants than other types. Previous research has also shown that with the DPPH method, aged garlic with ethanol solvent has higher antioxidants than fresh garlic and with water solvents. Conclusion: Of the various kinds of garlic that exist, it has been proven that one that has more antioxidant properties is single clove garlic and aged garlic with ethanol than fresh garlic with allyl thiosulfate as its most active compoundLatar Belakang: Bawang putih adalah jenis tanaman sayuran umbi dari Allium sativum L. Bawang putih telah digunakan sebagai pengobatan herbal selama ribuan tahun karena senyawa aktif di dalamnya. Senyawa aktif sebagai antioksidan yang terdapat dalam kandungan bawang putih memegang peranan sangat penting untuk mencegah kerusakan sel dan organ dari proses oksidasi yang diakibatkan karena peningkatan radikal bebas oleh asap rokok. Tujuan: Mengidentifikasi efek protektif dari bawang putih berupa antioksidan terhadap radikal bebas. Metode: Menggunakan studi literature dari jurnal penelitian nasional maupun internasional dengan cara meringkas topik pembahasan dan membandingkan hasil yang disajikan daam artikel. Hasil: Bawang putih banyak diteliti sebagai antioksidan alami karena memiliki senyawa aktif organosulfur yang memiliki khasiat sebagai bahan terapeutik berupa antibakteri, antivirus, anti jamur, anti thrombotik, antibiotik, antikanker, antioksidan, immunomodulator, antiinflamasi, dan efek hipoglikemik. Zat organosulfur tersebut berupa flavonoid, adenosin, ahoene, dan alliin. Allyl tiosulfat, yang berasal dari alliin melalui proses alliinase bertanggung jawab dalam proses penurunan lipid, antikanker, dan antioksidan. Hasil dari berbagai macam penelitian, telah terbukti bahwa bawang putih local siung tunggal memiliki kandungan antioksidan yang lebih dibandingkan jenis lainnya. Penelitian terdahulu juga membuktikan bahwa dengan metode DPPH, aged garlic dengan pelarut etanol memiliki antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan fresh garlic dan dengan pelarut air. Kesimpulan: Dari berbagai macam bawang putih yang ada, telah terbukti bahwa yang memiliki khasiat antioksidan lebih adalah bawang putih local siung tunggal dan aged garlic dengan pelarut ethanol dibandingkan fresh garlic serta senyawa aktif yang paling penting berupa allyl thiosulfat

    Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Bedak Tabur Ekstrak Etanol Daun Ciplukan (Physalis angulata L.) Sebagai Anti Fungi di Desa Tammatto Kabupaten Bulukumba

    No full text
    Ciplukan (Physalis angulata L.) is a seasonal herbaceous plant from the Solanaceae family which has many benefits, one of which is as an antifungal. Research has been carried out on the formulation and physical stability test of the ethanol extract of the leaves of Ciplukan (Physalis angulata L.) as anti-fungi. The goal is to find out that ciplukan leaves contain chemical substances that can inhibit the growth of fungi on the skin and can be formulated into powder preparations. This research is a laboratory experimental research. This research includes identification tests for alkaloids, flavonoids, saponins, steroids, and tannins. The powder formulations were FI (without extract), FII (extract 10%), and FIII (extract 20%). The stability test of the preparation includes the organoleptic test, homogeneity, fine degree, pH, adhesion, and hedonic test. The results of the research identified positive compounds containing alkaloids, flavonoids, saponins, and tannins. In the stability test, all formulations showed the results according to the literature, the hedonic test was not irritating and formula FII was preferred. The conclusion is that the ethanol extract of ciplukan leaves contains antifungal compounds and can be formulated into powder with good stabilityCiplukan (Physalis angulata L.) adalah tanaman semusim berupa herba dari famili Solanacea yang memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai antijamur. Telah dilakukan penelitian mengenai Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Bedak Tabur Ekstrak Etanol Daun Ciplukan (Physalis angulata L.) sebagai Anti Fungi. Tujuan mengetahui daun ciplukan memiliki kandungan kimia yang dapat menghambat pertumbuhan jamur pada kulit dan dapat diformulasikan menjadi sediaan bedak tabur. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen laboratorium. Penelitian ini meliputi uji identifikasi senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, dan tanin. Formulasi bedak tabur yaitu FI (tanpa ekstrak), FII (ekstrak 10%) dan FIII (ekstrak 20%). Uji stabilitas sediaan meliputi uji organoleptis, homogenitas, derajat halus, pH, daya lekat, dan uji hedonik. Hasil dari penelitian identifikasi senyawa positif mengandung alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Pada uji stabilitas semua formulasi menunjukkan hasil sesuai literatur, uji hedoniknya tidak mengiritasi dan formula FII yang lebih disukai. Kesimpulannya bahwa ekstrak etanol daun ciplukan mengandung senyawa antijamur dan dapat diformulasikan menjadi bedak tabur dengan kestabilan yang bai

    Permasalahan Stunting dan Pencegahannya

    No full text
    The problem of short children (stunting) is one of the nutritional problems that are the focus of the Government of Indonesia, Stunting is nutritional status based on the PB / U or TB / U index wherein anthropometric standards for assessing children's nutritional status, the measurement results are at the threshold (Z -Score) <-2 SD to -3 SD (short) and <-3 SD (very short). Stunting that has occurred if not balanced with catch-up growth results in decreased growth, stunting problems are a public health problem associated with increased risk of morbidity, death, and obstacles to the motor and mental growth. Seeing the dangers posed by stunting, the Government of Indonesia is committed to addressing and reducing stunting prevalence, which was discussed through a limited meeting on stunting interventions held with the head of the National Team for the Acceleration of Poverty Reduction in 2017, that at the meeting discussed the need to strengthen coordination and expand coverage programs carried out by the relevant Ministries / Institutions (K / L), to improve the quality of the program in order to reduce the stunting rate in each region that has entered the priority village. And also to study the policy focus of the nutrition improvement movement aimed at the first 1000 days of life in a global order called Scaling Up Nutrition (SUN)Masalah anak pendek (stunting) adalah salah satu permasalahan gizi yang menjadi fokus Pemerintah Indonesia, Stunting adalah status gizi yang didasarkan pada indeks PB/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian status gizi anak, hasil pengukuran tersebut berada pada ambang batas (Z-Score) <-2 SD sampai dengan -3 SD (pendek) dan <-3 SD (sangat pendek). Stunting yang telah tejadi bila tidak diimbangi dengan catch-up growth (tumbuh kejar) mengakibatkan menurunnya pertumbuhan, masalah stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan meningkatnya risiko kesakitan, kematian dan hambatan pada pertumbuhan baik motorik maupun mental. Melihat akan bahaya yang ditimbulkan akibat stunting, Pemerintah Indonesia berkomitmen menangani dan menurunkan Prevalensi stunting yang dibahas melalui rapat terbatas tentang Intervensi stunting yang di selenggarakan bersama ketua Tim Nasional Percepatan Penaggulangan Kemiskinan pada tahun 2017, bahwa pada rapat tersebut membahas tentang perlunya memperkuat koordinasi dan memperluas cakupan program yang dilakukan oleh Kementerian/Lembaga (K/L) terkait, untuk memperbaiki kualitas program guna menurunkan angka stunting disetiap wilayah yang sudah masuk kedalam desa prioritas. Dan juga untuk mengkaji kebijakan Fokus Gerakan perbaikan gizi ditujukan kepada kelompok 1000 hari pertama kehidupan, pada tatanan global disebut Scaling Up Nutrition (SUN

    Karakteristik Ulkus Diabetikum Pada Penderita Diabetes Melitus

    Get PDF
    Diabetes mellitus has a variety of chronic complications and the most frequently encountered is a diabetic ulcer. The incidence of diabetic ulcers annually is 2% among all patients with diabetes and 5-7.5% among diabetic patients with peripheral neuropathy. Objective: To understand the characteristics of diabetic ulcers in diabetes mellitus patients in RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung in 2018. Research Method: This research is a type of descriptive research. The sampling technique used in this research is a total sampling. Result: From the 119 patients, the majority of diabetic ulcer patients is in the late elderly ages which about 55 peoples, based on gender are female with a total of 71 peoples, based on their family history of the disease, there is a family history of the disease as many as 101 peoples, based on length of hospitalization, it is at most 0-5 days with a total of 94 peoples, based on therapy, the most is with surgical procedures with a total of 98 peoples. Conclusion: The characteristics of diabetic ulcers are dominated by women in late elderly ages and the average ulcer patient has a family history of diabetes mellitus, they are treated at 0-5 days, and the therapy is used with surgeryDiabetes melitus memiliki berbagai macam komplikasi kronik dan yang paling sering ditemui adalah ulkus diabetikum. Insiden ulkus diabetikum setiap tahunnya adalah 2% di antara semua pasien dengan diabetes dan 5 – 7,5% di antara pasien diabetes dengan neuropati perifer. Tujuan : Mengetahui karakteristik ulkus diabetikum pada penderita diabetes melitus pada penderita Diabetes Melitus di RSUD dr.H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung tahun 2018. Metode : Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah total sampling. Hasil : Dari 119 pasien, pasien ulkus diabetikum paling banyak pada usia lansia akhir sebanyak 55 sampel, berdasarkan jenis kelamin adalah perempuan dengan total 71 sampel, berdasarkan riwayat penyakit keluarga adanya riwayat penyakit keluarga sebanyak 101 sampel, berdasarkan lama rawat inap paling banyak pada 0-5 hari dengan total 94 sampel, berdasarkan terapi paling banyak dengan tindakan bedah dengan total 98 sampel. Simpulan : Karakterisitik ulkus diabetikum didominasi oleh perempuan berusia lansia dan rata-rata pasien ulkus memiliki riwayat keluarga yg memiliki penyakit diabetes melitus, dirawat pada 0-5 hari dan terapi yang digunakan dengan tindakan bedah

    Hubungan Kadar Serum Feritin Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Talasemia β Mayor

    No full text
    Thalassemia is hemolytic anemia characterized by abnormalities in globin chain synthesis. Hemochromatosis and tissue hypoxia due to anemia are hormonal factors due to the accumulation of iron in the endocrine glands. Problems with endocrine glands and anemia can interfere with growth such as short posture. This study was to determine the correlation of serum ferritin levels with the incidence of stunting in beta-thalassemia major children in Abdul Moeloek Hospital in Lampung in 2019. This research uses an observational analytic method with a cross-sectional approach. The subjects in the study were 60 patients. The instrument used was medical record data. Statistical analysis using the Chi-Square test showed an association between ferritin levels and the incidence of Stunting in Thalassemia patients β Major children at Abdul Moeloek Hospital in Bandar Lampung in 2019 (p-value 0.018. OR 4.67). There is a relationship between ferritin levels with the incidence of Stunting in Thalassemia patients β Major children at Abdul Moeloek Hospital, Bandar Lampung in 2019.Thalasemia adalah penyakit anemia hemolitik yang ditandai dengan adanya kelainan sintesis rantai globin. Terjadi hemakromatosis dan hipoksia jaringan akibat anemia itu merupakan faktor hormonal akibat menumpuknya zat besi pada kelenjar endokrin. Masalah dikelenjar endokrin dan kondisi anemia dapat mengganggu pertumbuhan seperti postur tubuh yang pendek. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan kadar serum feritin dengan kejadian stunting pada anak thalasemia beta mayor di rumah sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung Tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek dalam penelitian berjumlah 60 pasien. Instrumen yang digunakan adalah Data rekam medis. Hasil analisis statistik menggunakan uji Chi-Square menunjukkan ada hubungan antara kadar feritin dengan kejadian Stunting pada pasien Thalasemia β Mayor anak di Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung tahun 2019 (p value 0,018. OR 4,67). Terdapat hubungan antara kadar feritin dengan kejadian Stunting pada pasien Thalasemia β Mayor anak di Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung tahun 2019

    Ct-Scan Non Kontras Pada Pasien Batu Saluran Kemih

    Get PDF
    Background: Urinary stones are a disease where hard times are obtained along the urinary tract, urinary stones can be found in the upper urinary system and lower urinary tract, which can cause pain, blockage of the urinary tract and can cause bleeding. Purpose: To determine the results and characteristics of CT SCAN images in patients with urinary tract stones without using contrast in Abdul Moeloek Hospital in Bandar Lampung in 2018-2019. Method: this type of research is a retrospective descriptive research design using a cross-sectional study by taking secondary data. Results: From 40 research samples showing urinary tract stones in women, 19 patients (47.5%), in men 21 patients (52.5%), for the highest age, namely in the early elderly (46-55 years) ) as many as 17 patients and the lowest age group, namely the age of toddlers (0-5 years) 1 patient (2.5%), while for the location is in the Kidney that is 24 (60%), found in the ureter 22 (55%), and in the bladder was found 1 (2.5%). Conclusion: Based on the results of CT-Scan without contrast in patients with urinary tract stones the highest incidence of urinary stones in men and the age group 46-55 years with the most frequent location in the kidney areaLatar Belakang: Batu saluran kemih merupakan penyakit dimana didapatkan masa keras di sepanjang daerah saluran kemih, batu saluran kemih dapat ditemukan pada sistem saluran kemih bagian atas dan saluran kemih bagian bawah, yang dapat menimbulkan rasa nyeri, penyumbatan saluran kemih dan dapat menyebabkan perdarahan. Tujuan : Untuk mengetahui hasil dan karakteristik  gambaran CT SCAN pada paseien batu saluran kemih tanpa menggunakan kontras di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung tahun 2018-2019. Metode : jenis penelitian ini adalah Deskriptif retrospektif dengan desain penelitian menggunakan studi cross sectional dengan mengambil data sekunder. Hasil : Dari 40 sampel penelitian memperlihatkan batu saluran kemih pada perempuan yaitu 19 pasien (47,5%),pada laki-laki 21 pasien (52,5%),untuk usia yang paling tinggi yaitu pada masa lansia awal (46-55 tahun) sebanyak 17 pasien dan kelompok usia paling rendah yaitu umur balita (0-5 tahun) 1 pasien (2,5%), sedangkan untuk letak  terdapat di Ginjal yaitu  24 (60%), pada ureter di temukan 22 (55%) , dan di buli buli di temukan 1 (2,5%). Simpulan: Berdasarkan hasil pemeriksaan CT-Scan tanpa kontras pada pasien batu saluran kemih angka kejadian batu saluran kemih paling banyak pada laki-laki dan kelompok usia 46-55 tahun dengan lokasi tersering di daerah ginjal

    Efek Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Pada Diabetes Tipe 2

    No full text
    Background: Type 2 diabetes mellitus is the most common diabetes in the community, usually occurs at the age of 30 years and over. In type 2 diabetes the pancreas is still able to produce insulin but the insulin produced is poor and cannot function properly to enter glucose into cells, so that it can cause glucose in the blood to increase. Traditional medicine is widely used with the aim of treating and preventing disease, one of which is the red dragon fruit (Hylocereus Polyrhizus). Dragon fruit is rich in antioxidants and contains many substances such as calcium, beta-carotene, vitamin B1, vitamin B2, vitamin C, phosphorus and flavonoids so that it can be used as a therapy to reduce blood glucose levels by preventing apoptosis due to oxidative reactions. Objective : find out more about the effects of red dragon fruit on reducing blood glucose levels in type 2 diabetes. Methods : Use literature studies from both national and international journals by summarizing the topic of discussion and comparing the results presented in the article. Results : Type 2 diabetes mellitus is the most common form of diabetes in the world, about 90% of global cases. Traditional medicine that is commonly used is red dragon fruit. Red dragon fruit is believed to have the effect of reducing blood glucose levels because dragon fruit contains antioxidant compounds in the form of flavonoids which are protective against damage to Beta cells as a producer of insulin and can increase insulin sensitivity. Dragon fruit with a higher dose has a tendency to decrease blood glucose more to people with type 2 diabetes mellitus. Conclusion: dragon fruit has the effect of lowering blood glucose levels in people with type 2 diabetes mellitus because it contains fiber that is able to bind water in the intestine, and contains antioxidants and bioactive compounds and is able to inhibit free radical compounds.Latar Belakang : Diabetes Melitus tipe 2 merupakan DM yang paling umum di jumpai di masyarakat, biasanya terjadi pada usia 30 tahun ke atas. Pada DM tipe 2 pankreas masih mampu untuk memproduksi insulin namun insulin yang dihasilkan buruk dan tidak dapat berfungsi dengan baik untuk memasukkan glukosa ke dalam sel, sehingga dapat mengakibatkan glukosa di dalam darah meningkat. pengobatan tradisional banyak digunakan dengan tujuan untuk mengobati dan mencegah penyakit, salah satunya ialah buah naga merah (Hylocereus Polyrhizus). Buah naga kaya akan antioksidan dan banyak mengandung zat seperti kalsium, betakaroten, vitamin B1, vitamin B2, vitamin C, fosfor dan zat flavonoid sehingga dapat di manfaatkan sebagai terapi menurunkan kadar glukosa darah dengan mencegah terjadinya apoptosis akibat reaksi oksidatif.  Tujuan : mengetahui lebih lanjut tentang efek buah naga merah terhadap penurunan kadar glukosa darah pada diabetes tipe 2. Metode :  Menggunakan studi literature dari jurnal baik nasional maupun jurnal internasional dengan cara meringkas topic pembahasan dan membandingkan hasil yang disajikan dalam artikel. Hasil : Diabetes melitus tipe 2 merupakan bentuk yang paling banyak terjadi dari diabetes di seluruh dunia, sekitar 90% dari kasus global. Pengobatan tradisional yang umum digunakan ialah buah naga merah.  Buah naga merah diyakini memiliki efek menurunkan kadar glukosa darah karena buah naga mengandung senyawa antioksidan berupa flavonoid yang bersifat protektif terhadap kerusakan sel Beta sebagai penghasil insulin serta dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Buah naga dengan dosis yang lebih tinggi memiliki kecenderungan penurunan glukosa darah lebih besar terhadap penderita diabetes melitus tipe 2. Kesimpulan : buah naga memiliki efek menurunkan kadar glukosa dalam darah pada penderita diabetes melitus tipe 2 karena mengandung serat yang mampu mengikat air di dalam usus, serta mengandung zat antioksidan dan senyawa bioaktif serta mampu menghambat senyawa radikal bebas

    Efek Buah Kiwi (Actinidia Deliciosa) Sebagai Pengobatan Luka Bakar Derajat II

    Get PDF
    Burns are injuries with the highest morbidity and disability in the hospital. Extensive and deep burn injuries are still the main cause of death. Children and parents are at risk for deeper burns because their dermis is thinner. Burns can be caused by touches of heat, electrical current or chemicals that affect the skin, mucosa, and tissues. Prevalence from 1997-2002 there were 17,237 children under 5 years received emergency treatment at 100 hospitals in America. The prevalence of burns in Indonesia is 2.2%. Burns can give fatal complications including shock conditions, infections, electrolyte fluid imbalances and respiratory distress. In addition to physical complications, burns can also cause severe emotional (trauma) and psychological distress due to disability and scars. Effective drugs for treating burns that have been widely known so far, such as silver sulfadiazine, bacitracin and mafenide acetate are anti-microbial agents. Kiwi (Actinidia deliciosa) is a plant that contains many phytochemical compounds such as flavonoids, triterpenoids, and quinone. In addition, kiwifruit has high levels of antioxidants and nutritional value, rich in vitamin C, fiber, calcium, iron, phosphorus and potassium and a higher phenolic content than strawberries, guava, papaya and starfruit which can treat wounds to second degree burns

    Karakteristik Pasien Demam Tifoid pada Anak dan Remaja

    No full text
    Background: Typhoid fever is an acute bowel disease caused by the bacterial salmonella typhi or Salmonella paratyphi A, B and C. characteristics of the sufferer of typhoid fever in children and adolescents often founded various kinds are age, gender, duration with a fever, degree of fever, results of the most numerous Widal test, Giving antibiotic drug. And the characteristics will be explained in this research. Aim: To know the characteristics of the patients with typhoid fever in children aged (4-11) years and Adolescents age (12-25) years in the hospital Pertamina Bintang Amin in 2018. Methods: This research is a descriptive study with a qualitative approach. The Sources of user research data were used secondary data obtained based on the medical record data of patients who diagnosed with typhoid fever in children and adolescents at Pertamina Bintang Amin Hospital. The population was 1539. A sample of 317 patients diagnosed of typhoid fever. Data collection in January 2020, data analysis process of univariate analysis. Results: Characteristics of the sufferers of typhoid fever in children and adolescents at Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung Hospital in 2018 with the most age were 5-11 years (57.1%). Most genders were women (57.7%). The most degree of fever is febrile fever (93.4%). The most fever duration with a fever of ≤ 1 week (77.0%). The results of the most numerous Widal test were patients with positive results (84.2%). The most history of another test was yes they did (100%). Giving antibiotic drugs was giving antibiotic drugs Line 2 (99.1%). Conclusion: Based on these results, characteristics of the sufferer of typhoid fever in children and adolescents at Pertamina Bintang Amin Hospital in 2018 which is aged 5-11 years, with female gender, degree of febrile fever, old fever of ≤ 1 week, test results Positive, the history of conducting other checks is yes, giving antibiotics drugs is antibiotic drugs line 2 which is ceftriaxone and cefiximeLatar Belakang : Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi A, B dan C. Karakteristik pasien demam tifoid pada anak dan remaja sering ditemukan berbagai macam yaitu usia, jenis kelamin, lama demam, derajat demam, hasil uji tes widal, dan pemberian antibiotik pada pasien. Dan karakteristik diatas ini yang akan dipaparkan pada penelitian ini. Tujuan : Untuk mengetahui karakteristik pasien demam tifoid pada anak usia (4-11) tahun dan remaja usia (12-25) tahun di Rumah Sakit Peratamina Bintang Amin pada tahun 2018. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif pendekatan kualitatif. Sumber data penelitian data sekunder yang diperoleh dari data catatan medis pasien yang terdiagnosis demam tifoid pada anak dan remaja di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin. Populasi 1539 pasien. Sampel 317 pasien dengan diagnosis demam tifoid. Pengumpulan data pada bulan januari tahun 2020. Analisa melalui analisa univariat. Hasil : Karakteristik penderita demam tifoid pada anak dan remaja di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung tahun 2018 yaitu umur paling banyak 5-11  tahun (57.1%). Jenis kelamin paling banyak pada perempuan (57.7%). Derajat demam paling banyak demam febris (93.4%). Lama demam paling banyak demam pada waktu ≤ 1 minggu (77.0%). Hasil uji tes widal paling banyak hasil uji tes widal positif (84.2%). Riwayat melakukan pemeriksaan lain paling banyak ya melaukan (100%). Pemberian obat antibiotik pemberian obat antibiotik lini 2 (99.1%). Kesimpulan : Berdasarkan hasil tersebut, karakteristik penderita demam tifoid pada anak dan remaja di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin tahun 2018 yaitu berumur 5-11 tahun, dengan jenis kelamin perempuan, derajat demam febris, lama demam ≤ 1 minggu, hasil uji test widal positif, riwayat melakukan pemeriksaan lainnya ya melakukan, pemberian obat antibiotik diberikan obat antibiotik lini 2 yaitu seftriaksone dan sefixim

    435

    full texts

    583

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇